Pelet Cinta

Pelet Cinta
7. Semilir Angin Pantai.


__ADS_3

Hari ini rencana aku akan pergi ke puskesmas. Aku menunggu angkutan desa didepan jalan utama desa. Angkutan desa ini tidak seperti dikota yang dari bus mini.


Tapi ini dari mobil pick up yang dimodifikasi menjadi ada 2 tempat duduk secara berhadapan dan diberi terpal sebagai pelindung dari terik matahari.


Dan ada tombol bel tepat diatas langit-langit terpal untuk memberitahukan kepada sopir untuk berhenti.


Hari ini aku sendirian pergi kepuskesmas, karena bidan yuli tidak bisa ikut. Karena ada pelayanan kelas ibu hamil di desa.


Aku masih dengan baju dinas pemda ku dengan rok span sampai lutut dan rambut di ikat dan setengah digeraikan.


Setelah seperempat jam menunggu, akhirnya angkutan desa itu datang. Tapi di depan sudah penuh akhirnya aku ikut yang dibelakang.


Dan pas aku lihat, hanya tersisa satu tempat disamping bapak-bapak. Dan ku ingat beliau adalah yang pernah berobat kepada ku. Pak sutris.


Sambil ku naik dengan menyamping, aku takut rok ku tersingkap, lalu aku duduk disamping beliau.


" Permisi pak" kata ku sambil duduk agar beliau lebih memberikan space untuk ku duduk. Karena aku rasa itu terlalu sempit.


"Kemana mba" sapa beliau


"Ke puskesmas pak"kata ku singkat, ku condongkan kaki ku kearah keluar. Tangan ku angkat untuk berpegangan pada besi agar tidak jatuh. Otomatis badan ku agak mencong sehingga aku setengah membelakangi beliau.


" Hati-hati mba kakinya ya" kata pak sopir sambil menarik keatas pintu pick up untuk ditutup dan dikunci.


Ketika mobil berjalan perlahan dan tergoyang karena menjalani jalanan yang memang terdiri dari tanah merah dan bebatuan. Otomatis badan ku tergoyang dan menyentuh bahu bapak.


" Maaf pak" kata ku.


" Maklum mba, namanya juga jalan rusak" kata beliau.


Sepanjang jalan aku hanya menyaksikan jalanan dan memperkuat pegangan ku dibesi pick up. Karena memang sedikit menakutkan bagi ku.


30 menit diperjalanan karena memang jalanan yang rusak berat. Akhirnya aku pun sampai di puskesmas jam 11 pagi.


...****************...


Aku masuk ke Puskesmas dan menyapa para senior ku, dan mencari dokter dony.


Ternyata beliau ada diruang poli umum.


Aku tengok beliau tidak ada pasien.


Tok tok


Ku ketuk pelan pintu yang sudah setengah terbuka.


"Masuk" kata dokter dony.


"Permisi dok, saya mau mengantar laporan yang mingguan dokter minta." sambil memasuki ruang dokter dony dan menaruh berkas laporan dimeja nya .


"Duduk! Kenapa kamu telat datangnya" dia sambil memerintahkan aku dan protes karena keterlambatan ku datang.

__ADS_1


"Anu dok, tadi bantuin bidan yuli dulu mempersiapkan kelas ibu hamil dan lama nunggu angkutan umumnya juga" jelas ku kepadanya. Berharap alasan ini dapat dia terima.


"Oya, ya sudah. Pulang nya kamu pakai apa ke desa? " tanya dokter dony.


"Nunggu angkutan desa lagi dok kalo ada" kata ku sekena nya, karena memang angkutan desa tidak ada jadwal angkutannya. Tidak seperti bis di kota.


"Oh ya udah, 1 jam lagi habis pelayanan. Kamu jadi asisten aku. Pulangnya aku antar, sekalian aku mau lihat gimana kamu melayani pasien disini! " Atur dokter dony tegas. Ini lah yang aku malas dari dia, dia kadang bisa bercanda tapi kadang bisa tegas dengan muka sangar.


"Iya dok" Angguk ku pelan.


Lalu kami pun melayani pasien yang selanjutnya yang sudah menunggu.


Karena memang Puskesmas ini di desa yang tidak terlalu banyak penduduknya, jadi pasiennya pun tidak banyak.


Rata-rata pasien dalam sehari kata teman-teman sekitar 20 pasien saja.


...****************...


Pulang nya pun aku diantar oleh dokter dony memakai sepeda motornya.


Ketika melewati pantai lalu dia menghentikan sepeda motornya.


"Kita mampir dulu ya, Aku haus katanya." Ucapnya sambil menurunkan standar sepeda motor. Dan menunggu ku turun.


Aku pun perlahan turun dan langsung disuguhi pemandangan yang indah dari lautan lepas dan irama ombak yang menderu deru.


Rambut ku terkibas kibas.


"Hah, apa dok? " aku tidak mendengar suara nya karena debur ombak sambil menyisihkan rambut ketelinga yang menghalangi pandanganku.


"Aku keseberang, kamu tunggu disini! " ucap dony membisikkan ke telinga ku sambil menghalangi dengan telapak tangannya agar meredam suara ombak. Agar suara nya terdengar ditelinga ku.


"Ooo iya dok" ucap ku setelah mendengar katanya.


Lalu aku duduk dibebatuan besar dan dinaungi pohon yang rindang.


Sangat nyaman sekali. Ku lepas sepatu ku pantopel ku. Ku gesek gesekkan kaki ku ke pasir putih.


"Ambil... " dokter dony menyodorkan piring isi gado-gado dan es nyiur.


Setelah ku sambut, dia kembali lagi ke seberang. Tak ku sangka dia akan membelikan ku. Sekelas dokter dia tidak seperti dokter lain, di kantor dia tegas. Tapi saat hanya berdua dengan ku dia penuh perhatian. Bahkan low profile.


Dia datang lagi sambil membawa piring gado-gadonya nya dan duduk disamping ku.


"Ayo makan!, aku lapar. " sambil menyendok gado-gado dan memasukkan kemulutnya.


"Aku suka gado-gadonya. Aku sering ke sini" jelas dokter dony.


Rupanya ini adalah tempat favorit dia melepas lelah. Karena ini pantai yang didalam desa Jadi orang-orang tidak terlalu banyak berkunjung.


" Habis makan, aku ajak kamu kesana" ucap dony.

__ADS_1


Ku lihat arah tangannya menunjuk keujung pantai , terlihat batu karang yang bertumpuk-tumpuk dan menyentuh air laut.


Aku pun mengangguk bahagia, kapan lagi aku akan bermain air laut. Jika kembali ke desa aku hanya akan disuguhi pemandangan pohon karet atau pohon sawit.


Setelah makan, piring ditumpuk. Lalu ku berjalan meninggalkan dan mendahului dokter dony tanpa alas kaki. Aku berlari lari kecil menuju tempat yang ditunjuk dokter dony.


" Tunggu " kata dony, dikejarnya aku dan aku pun berhenti menunggunya.


Seketika dony pun menggenggam tangan ku dan menarik ku untuk berlari ke sana. Ku ikuti langkahnya.


Lalu kami berjalan beriringan ditepi pantai, sambil sesekali kaki kami diterpa ombak.


" Nah itu tempatnya. " Ucap dony.


Sangat indah.


Hanya itu yang dapat ku simpulkan. Aku menaiki karang itu dibantu dony dan kami pun duduk menikmati semilir angin.


"Oiya dok, jaket yang dulu masih di rumah" aku teringat jaketnya yang belum ku kembalikan.


"Hey, aku kan sudah bilang jangan panggil dok bila hanya berdua" kata dony sambil memilin rumput alang-alang kering yang dipungutnya dipasir.


" Iya don, asyik ya disini ada pantai. Baru kali ini aku bisa duduk santai seperti ini dipantai" Sambil menyingkap rambut ku.


Tanpa menjawab ku, selang beberapa lama kami terdiam menikmati suasana.


"Nia... Aku ingin berkata jujur pada mu. Aku cinta kamu nia" dony sambil membantu ku menyisir rambut yang menghalangi wajah ku.


"Hah" kata ku sambil ingin dia mengulang katanya. Aku tahu dia memang ada rasa, tapi ku fikir itu rasanya tidak mungkin. Aku terkejut dengan pernyataanya, Ku padang dia dengan dengan wajah terkejut ku.


Tiba-tiba dia mencium bibir ku, ********** dengan lembut. Ku coba melepas dan mendorong bahu nya. Tapi ku kalah, dia tetap menciumku. Dan aku terhanyut dalam ciumannya di temani dengan debur dan semilir angin.


Terumbu karang yang kami duduki ini agak terhalang oleh pepohonan sehingga tidak terlihat oleh penduduk yang melintasi jalan.


" Mmmm... dooon " ku coba menepis bibirnya.


Sempat terlepas bibirku dari bibirnya, sepersekian detik dilumatnya lagi bibir bu dengan nafsu. Setelah dia puas aku tak tahu berapa lama, baru dia melepaskan bibirnya dari bibir ku. Bibirnya penuh dengan bekas lipstik ku.


"Aku tidak peduli kamu suka atau tidak, yang jelas aku cinta dengan mu dari sejak pertama bertemu" jelas dony kepada ku sambil mengusap bibirnya.


"Sebenarnya aku juga suka dengan mu don, tapi bukan begini kamu memperlakukan ku" ku akui rasa ku dan tetap ku protes dia karena dengan seenaknya menciumku dengan paksa.


Dia tersenyum lega.


"Aaah syukur lah, kamu menerima ku" dipegangnya tangan ku dan menggenggamnya dan mendekapnya ke dada nya.


"Bukan begitu don, aku suka, aku cinta kamu tapi kita berbeda" jelas ku.


"iya aku tahu" dokter dony sambil menarik ku.


" Yuk kita balik, nanti kamu ke sorean" ajak dony kepada ku.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2