
Malam hari nya aku pun menelpon Dokter Dony. Dan mengabarkan bahwa aku telah dilamar seseorang. Aku ingin kepastian dia dalam 3 hari. Jika ia dapat memastikan untuk masa depan hubungan kami.
Memang, kabar yang mengejutkan ini sangat sulit ku beritahu. Dia hanya diam tak bergeming.
Ku sms, bahkan ku telpon kembali. Dia tidak mengangkatnya. Mungkin hati nya lagi terguncang atau marah padaku.
Aku pun membiarkannya. Karna 3 hari aku akan sibuk dengan jadwal dengan Kak Herman. Aku harus berfikir kedepan, karena ayah ku sedang sakit.
Hari pertama *
Kak Herman mengajak ku ke sebuah tempat, seperti villa. Dan ternyata disana semua keluarga dia sudah ada disana.
Mereka menyambutku dengan baik. Mereka melakukan barbeque bersama. Sedangkan anak-anak ada yang bermain dan berenang.
Dia perkenalkan satu persatu. Ada Nenek, Ibu nya, Ayahnya, Kakak dan Ipar nya, Adiknya dan Adik Iparnya beserta keponakan-keponakannya.
Rupanya hanya dia yang masih bujangan. Kakak dan adiknya sudah menikah semua.
Lalu kami masuk ke dapur dan dia memperlihatkan keahlian memasaknya. Sangat cool sekali.
" Aku tidak bisa masak kak herman, pasti kamu menyukai istri yang bisa menyiapkan makanan atau bekal, " ucap ku kepadanya, sengaja ku pancing dia. Aku ingin tahu tanggapannya. Sehingga aku bisa menilainya.
" Emmm aku rasa istri bisa masak atau tidak. Itu bukan masalah. Aku bisa masak, biar aku yang memasak. Jika sibuk, bisa makan di luar. Sekarang zaman sudah enak, fleksibel saja. " Dengan asyik dia mengucapkannya sambil menyiapkan makanan dan menyajikannya di meja yang hanya untuk kita berdua.
Dia pun kembali memasak menu ke dua.
" Nia, kemari ... Buka mulutmu! " Perintahnya sambil memberikan suapan kecil dimulutku.
Aku pun mengunyahnya,
" Bagaimana? " tanyanya kepadaku dan sambil menunggu hasil icip-icip ku.
" Mmmm ... Enak kak. "
" Kau mau belajar mengaduknya? " tawar nya kepadaku.
" Boleh. " Aku pun beranjak dari depan menuju kompor tempat wajan yang memanas. Aku memegang ganggangnya. Dan dia pun memegang tangan ku dan dia mengajari ku bagaimana menggoyangkan wajan bak seorang chef terkenal di tv-tv.
Kami pun bersenda gurau dengan riang.
"Jika kamu pintar memasak, pasti aku akan gemuk. " pancing ku kembali.
__ADS_1
" Tidak masalah, seandainya kita menikah. Kamu punya anak berapa? " tanya nya kepada ku.
Aku pun melepas pegangan ku pada wajan, aku pun tersenyum mendengar pertanyaannya.
" Emm bagaimana 11 anak? " Candanya kepada ku
" Anggota sepak bola itu ! " Aku pun tertawa.
" Kalo 6 orang ? " tanya nya lagi sambil melihat ku.
" Itu tim volly itu kak herman." Sambil ku colek tepuk dan mengoleskannya ke pipinya. Dan aku pun berlari.
" Eeiiitttsss nakal kamu! " dia pun mengejar ku untuk membalas.
" Jika banyak anak. Pasti tubuhku berubah menjadi gemuk. Pria pasti suka cewek yang body nya bagus. Setelah itu pasti akan dibuangnya. " Dengan masih menghindarinya mengelilingi dapur.
"Semua pria seperti itu kan!? " ucapku sambil menjulurkan lidah.
Tapi sayangnya dia menangkap tangan ku dan menarik nya. Dan kami pun berhadapan dan saling bertatap mata.
" Jika itu yang kamu khawatirkan, bagaimana kalau kita menggemuk bersama. Kan impas! " dia sambil mengambil tepung dalam genggamannya dan mengusap wajah ku dengan tepung itu.
" Lagi pula, kita harus menilai orang bukan dari fisik tapi dari keindahan kepribadiannya. "
Dia tersadar, masakan diwajannya sudah masak.
" Emm Maaf. Sepertinya sudah masak. Ayo kita makan. " dia kembali ke wajannya dan menata nya ke dalam piring.
Kami pun makan berdua. Sedangkan keluarga yang lain masih asyik barbeque an di halaman belakang.
Hari ke dua*
Hari ini dia mengajak ku ke pinggir kota tempat banyak anak-anak nongkrong dan orang-orang berjualan berbagai macam masakan kuliner jajanan. Sangat riuh sekali dan panas.
" Kenapa harus kesini sih Kak Herman, disini kan panas, gerah. " Sambil ku kibas-kibas kan ujung kerudung ku. Apalagi aku baru bisa memakai kerudung, suasana ini benar-benar menyiksa ku.
" Ayo duduk disini, " Ucapnya sambil menyodorkan bangku untuk duduk dipinggir jalan di samping gerobak ketoprak.
Lalu Kak Herman pun memberikan piring dengan isian ketoprak penuh dengan kerupuk. Tidak lupa Teh Es nya.
" Coba kamu perhatikan sekitar mu Nia," Ucap Kak Herman dengan sambil mengaduk ketopraknya.
__ADS_1
Aku pun memperhatikan di sekitar ku. Aku hanya melihat tukang ojek yang menyeka peluh nya dengan handuk, tukang becak, ibu-ibu jualan mainan dan berbagai macam pernak-pernik yang digelar di terpal.
" Kamu lihat ibu-ibu yang berjualan es itu, atau bapak yang jualan gula-gula kapas, semua nya yang berada disini adalah pejuang bagi keluarganya masing-masing. Mereka dan kita mempunyai ujiannya masing-masing, " ucapnya kepada ku.
Aku pun hanya mendengarkan penjelasannya.
" Setidaknya, jika kita mendapatkan penghasilan lebih. Ringankan penderitaan mereka. Dengan membeli jualan mereka ataupun dengan bersedekah. "
Aku hanya terdiam sambil menyerap pemikirannya. Jujur aku tidak pernah terfikirkan hal seperti itu. Bahkan aku tidak pernah memperhatikan sekitar ku.
Bahkan aku lihat, ibu-ibu yang berjualan diterik matahari masih dengan kerudungnya. Dia tidak mengeluh sedikit pun. Dan ada anak disampingnya mungkin umurnya sekitar 3 tahunan yang asyik bermain sendirian.
Ternyata banyak yang pembelajaran dari mengamati orang di sekitar kita.
" Intinya, jika kamu tertimpa suatu musibah. Maka lihatlah yang dibawah agar tidak merasa paling menderita. Karena masih banyak yang lebih menderita dari pada kita. Apalagi jika kau melihag di rumah sakit. Ketika nikmat sehat dicabut Allah. Kita tidak bisa apa-apa, bahkan banyak nya uang belum bisa mengembalikan nikmat sehat. "
Setelah selesai memakan ketoprak. Kami pun berjalan-jalan disepanjang jalanan kota.
" Kamu mau rujak? " tanya nya Kak Herman.
Aku pun mengangguk. Aku tidak banyak berkata-kata. Aku hanya tersenyum dan kadang tertawa melihat kak Herman.
Karena kadang pembawaannya lucu dan kadang menjadi bijaksana.
Setelah memakan rujak kami pun berkeliling lagi mengitari pemandangan kota indah ini.
Lalu Kak Herman membawa ku ke sebuah toko. Toko busana muslim dan muslimah. Dia pun masuk, meminta aku memilihkan kopiah atau peci.
Dari berbagai macam peci, akhirnya jatuh pada peci berwarna putih.
Ternyata dia pun sudah memilih Jilbab untuk ku, Jilbab berwarna pink dengan butiran manik-manik dan sulam. Cantik !
" Ini buat mu Nia, Besok hari terakhir perkenalan kita. Besok aku ingin kamu memakai Jilbab ini. Tunggu aku di rumah mu. "
Kak Herman sambil memandangku dan memberika paper bag yang berisikan jilbab itu kepada ku.
Akun mengangguk pelan.
" Terimakasih Kak. "
Lalu kami pun pulang, dan aku pun memikirkan baju apa yang akan ku pakai untuk memadukan jilbab ini.
__ADS_1
Besok tepat 3 hari. Hari terakhir, dan hari dimana aku harus memutuskan. Dan sampai sekarang ini pun Dony masih tidak ada kabarnya.