
Trrriiiinggggg
Trriiiiinggggg
Handphone ku berbunyi.
Ternyata ibu yang menelpon. Aku pun mengangkatnya.
" kamu sudah sampai? Sampai malam kamu tidak memberi kabar. " ibu ku khawatir karena aku lupa memberi kabar bahwa sudah sampai rumah.
"Sudah ma, Maaf ... tadi ada tamu makanya lupa kasih kabar. " Ku beri alasan kepada ibu ku. Kenyataannya memang ada tamu.
" Syukurlah jikalau begitu. Istirahat ya Nak! " ucap ibu ku. Setelah itu telpon terputus.
...****************...
Keesokan paginya. Aku berangkat kerja. Tapi ternyata aku tidak melihat Dokter Dony. Akupun bertanya-tanya ada apa gerangan. Dan ternyata Dokter Dony sudah tidak masuk bekerja selama 3 hari.
Jadi ketika aku mengabari hal itu, dari hari itu juga dia tidak masuk bekerja. Lalu kemana dia pergi.
Rupanya semalam dia khusus menunggu kedatangan ku di depan rumahku. Apakah dia masih tidak menerima kenyataan yang ada. Aku pun sebenarnya tidak bisa menerima, tapi aku terasa akan memakan buah simalakama.
Pikiran ku berkecamuk. Apa Dony baik-baik saja. Wajahnya kemaren sangat suram. Aku harap dia tidak bertindak konyol.
Ku coba telpon dia, ternyata handphone nya tidak aktif.
Oohh Tuhan, apa yang harus ku lakukan dengan Dony. Kau hadirkan cinta di antara kami. Tapi tidak bisa bersatu. Kenapa??
Batin ku terasa penuh dengan pertanyaan yang tak kunjung dapat jawabannya.
Aku pun meminta izin pulang cepat. Dan pergi untuk mencari maya
Aku menelpon Maya, aku bercerita dengan Maya dan mencari nomor telpon lain Dony. Sayangnya dia juga tidak mempunyai kontak lain dari Dokter Dony.
Aku pun mencari-cari nya. Bahkan pergi ke pantai tempat kenangan pertama dengan Dony. Dia pun tidak ada disana. Bahkan bertanya pada langganan Gado-gado. Beliau tidak tahu juga.
Aku pergi ke Kafe tempat biasa kita selalu nongkrong, ia juga tidak ada disana.
Dan tujuan akhir ku, ku beranikan pergi ke rumah orang tua Dony. Dan ternyata kata ibu nya Dony, Dony tidak ada di rumah. Dia pamit mau pergi ke rumah temannya. Aku pun meminta nomor telpon temannya.
Ku telpon temannya yang menjadi alasan kemana ia pergi, ternyata dari hasil ku telpon pun. Dony tidak berada di rumah temannya. Kemana Dony??, Aku mencintai nya Tuhan, Bukan karena cinta pula aku menjadi alasan dia bertindak konyol atau bunuh diri. Cinta tidak harus merenggut nyawa.
Aku tidak dapat berfikir lagi kemana harus mencari Dony, aku pun pulang ke rumah dengan gontai.
Cukup lama aku duduk di teras rumah, siapa tahu Dony lewat depan rumah ku. Tapi kenyataanya tidak.
__ADS_1
Dony Seperti hilang ditelan bumi.
Ku Ambil air wudhu, ku gelar Sajadah dan ku tunaikan Sholat sunat. Dan aku berdoa, demi kebaikan ku dan kebaikan Dony dan Herman. Jikalau akau memilih dari salah satu mereka. Semoga salah satunya dapat menerima dengan berlapang hati.
Dan aku juga berdoa agar Dony maupun Herman sehat dan tidak kurang 1 apapun.
Aku pun mengirim SMS kepada Kak Herman untuk memberikan hasil keputusan ku. Dan juga memberi kabar kepada orang tua ku.
Aku berserah kepada Allah.
Semoga keputusan ini benar.
...****************...
5 tahun kemudian...
"Niko ... Niko ... Ayo kesini, makan dulu ! " Nia memanggil-manggil seorang bocah laki-laki yang sedang berlarian bermain bola di teras depan rumah Nia.
BRUUGHHHH ...
" Upsss hati-hati Niko .! " Ucapnya.
Nia pun keluar dan menatap seorang pria yang gagah dan tampan.
"Ayo Nak Salaman dulu, Niiikooo ... Ayo. Minta maaf sama Paman Herman.! " Ucap Nia dengan mata melototnya kepada Niko, anak semata wayang Nia.
Nico pun bersalaman dengan Herman.
" Paman sendirian? " tanya Niko kepada Herman.
" Engga Niko, tu Aya ada disana sama Tante. " sambil menunjuk ke arah mobil biru yang terparkir di depan rumah.
Dan turun lah Aya dan Istri Herman.
" Horeee ada Ayaaa. Kita main yuk ! " ucap Niko sambil menghampiri Aya.
Aku pun menghampiri Istri Herman, Sulis namanya. Dia cantik dan anggun.
" Apa kabar Kak Sulis? Bagaimana perjalanannya ke Turki? , Asyikk dong, honey moon ke 2 ! " Tanya Nia kepada Sulis.
" Aah Nia, kamu ini bisa saja menggoda ku! " ucap Sulis malu- malu.
" Oiya, ini oleh-oleh buat Niko, buat kamu dan suami mu Nia, ini buat Ibu dan Bapak. " sambil mengeluarkan oleh-oleh mereka umroh dan jalan-jalan ke Turki di ruang tamu.
__ADS_1
" Wah banyak sekali oleh-olehnya, ayo Niko bilang apa sama tante! " Nia pun menarik Niko agar salaman dan mengucapkan terimakasih kepada Tante Sulis.
" Nanti oleh-oleh untuk bapak ibu aku sampaikan ya Kak Sulis. Bapak Ibu tidak ada dirumah. Mereka pergi ke acara Arisan keluarga Bapak! " Ucap ku sambil menyuguhkan minuman.
" Suami mu mana Nia, tidak ada di rumah? " tanya Kak Herman.
"Oh dia lagi Dinas Luar Daerah Kak, ke Surabaya. Sudah 4 hari. Dia baru pulang besok Kak, siapa tahu Kak Herman mau ketemu. Sudah lama kan tidak bertemu, " Ucap Nia menjelaskan perjalanan dinas suaminya.
" Ooh iya kalo begitu, semoga besok bisa bertemu. Aku ada bisnis baru dengannya. "
"Ayo di minum teh hangat nya Kak Sulis, Kak Herman. Lama ya kita tidak bertemu, " ucap Nia sambil menyodorkan piring berisi kue kering ke tengah meja.
"Gimana kabar Bapak dan Ibu? " Herman menanyakan kabar mereka kepada Nia.
" Baik Kak, Bapak sudah bisa jalan meski masih pakai tongkat. Sudah sangat baik. Dan ibu sehat," terang Nia bahagia karena orang tuanya sehat. Tidak seperti 5 tahun yang lalu dimana awal terjadi serangan stroke kepada ayahnya.
" Alhamdulillah. Kangen aku bercanda dengan Bapak dan Ibu mu Nia , Hahaha. Oiya Berapa tahun kamu sudah tinggal disini?, syukur ya sudah bisa pindah dari Puskesmas pertama kali kamu ditempatkan. " Tanya Herman.
" Kurang lebih 5 tahun Kak, iya. Banyak pengalaman disana yang terjadi, " Ucap Nia sambil mengenang Kejadian.
" Memangnya kejadian apa Nia? " Tanya Sulis penasaran.
" Waah Kak Sulis, kalo di ceritakan panjang Ka, Intinya aku mau dipelet, di santet. Bahkan aku kesurupan, " terang ku dengan geram, masih tersisa kengerian dahulu.
" Iih kurang ajar sekali orang itu, kamu tahu siapa orangnya? Bagaimana dia sekarang!? " Tanya Sulis tambah penasaran.
" Entahlah Kak, apa dia masih hidup. Terakhir ku dengar dia di tangkap polisi. Dia menjadi gembong Narkoba di desa itu dan Dalang perampokan yang sering terjadi di desa itu. " Dengan antusias aku bercerita karena memang terasa masih sakit dihati mengingat kejadian itu, ternyata aku bisa melewati itu semua dan masih sehat sampai sekarang.
"Syukurlah, kamu sekarang bisa pindah dari sana ya Nia. Memang itu desa sangat terpencil ya, " tanya Sulis.
" Iya kak, Memang sangat sangat terpencil, " Ucap Nia menerangkan kepada Sulis. Sulis pun bergidik mendengar cerita Nia.
Trrriinggg.
Trringgggg
Trriiinggggg
" Mama, mama Papa Nelpon, " Ucap Niko sambil membawa handphone, dan ternyata itu adalah Video Call dari suami Nia.
Lalu Nia mengangkat Video Call dari suaminya.
" Hallo Mas ... "
...****************...
__ADS_1