Pelet Cinta

Pelet Cinta
43. Keputusan Tegas


__ADS_3

Khalid pun selesai menceritakan kejadian yang terjadi kepada Nia sehingga Bi Munah tertangkap.


"Jadi Tuan apakah Ibu ku bisa bebas? " Tanya Yana khawatir.


"Aku tidak tahu! dan asal kau tahu. Aku tahu kau memfitnah ku atas dasar perintah ibu mu kan! Dan ayah yang dikandungan mu itu adalah anak Paijo. Kalian terekam cctv, aku melihat Paijo masuk kamar mu."


"maaf tuan, maaf, maaf...," ucap Yana , hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya.


"Mulai detik ini Kau Yana dan Paijo. Kalian di pecat, dan ku harap mulai saat ini juga angkat kaki dari rumah ini! "


Mendengar Tuan menyatakan seperti itu, Yana pun menangis dan paijo pun memohon.


"Tolong tuan bantu kami. Jangan usir kami! "


"Aku sudah tidak bisa, lebih baik kalian ku pecat dan pergi dari sini. Ini pesangon kalian. Jika kalian tidak ingin pergi juga dari sini, kalian bakal ku laporkan atas pencemaran nama baik karena telah memfitnah ku.! "


Nia melihat ketegasan Suaminya hanya terdiam. ia tidak mau mengganggu gugat keputusannya.


"Nyonya tolong! " ucap Yana.


Namun Nia tidak menggubrisnya, ia masih marah lantaran fitnahan dia, dan sampai menyebabkan terancamnya bayi dalam kandungannya.


"Setelah kau sakiti aku, baru kau ingin minta tolong, tak sudi Yana. "


Paijo pun mengambil pesangon mereka yang tergeletak di meja ruanga tamu. Di tariknya tangan Yana. Lalu mereka pun merapikan baju mereka untuk pergi dari rumah Khalis dan Yana.


"Huuuuu.... Huuuuu. Kemana aku akan pergi. Mas Paijo. Kau harus membawa aku. Ini anak mu! "


"Jangan menangis lagi, ayo cepat bereskan baju mu. Masa pulang kampung. Aku bakal di amuk istri ku. "


"Apa?! Istri, jadi kamu sudah punya istri dikampung? Huuuu.. " Yana terkejut mengetahui bahwa Paijo mempunyai istri di kampung. Ia pun sadar, Ia hanya dijadikan pelampiasan nafsu belaka disini karena ia jauh dari istrinya. Yana menangisi nasib nya sendiri.


"Kau sendiri tidak tanya, ayo bereskan. Masih untung aku mau membawa kamu. Kamu mau terlantar di kota ini! atau begini saja. Kita bakal sewa kontrakan berdua. " tawar Paijo.


"Tapi nikahi aku dulu! "

__ADS_1


"Iya, iya. Kita nikah. Kau jadi istri kedua ku disini. "


Yana pun mengangguk. Dia bingung harus bahagia atau sedih. Bahagia karena Paijo mau bertanggung jawab. Sedih karena Ibunya masuk bui.


Yana tidak banyak komentar lagi dengan Paijo. Ada yang menampung atau melindungi dan menjadi ayah anaknya pun ia sudaj bersyukur.


Yana dan Paijo pun melangkah pelan dan berpamitan dengan Khalid dan Nia.


"Kami pamit Tuan, Nyonya. Maaf kan Yana dan Paijo, terimakasih banyak atas semuanya selama ini, " ucap Yana lirih.


Khalid hanya diam begitu pula Nia. Yana dan Paijo pun keluar pagar dan pergi, mereka selalu memandang rumah bekas tuan dan nyonya nya. Sampai mereka menghilang dari pandangan Khalid dan Nia.


"Apa kamu terlalu tegas Mas? Apa ga papa, aku takutnya mereka dendam."


"Tidak, harusnya aku yang dendam. Buat apa kita memelihara mereka di rumah ini. Diberi hati minta jantung. " Khalid penuh geram.


Rupanya Khalid sangat mendendam, ia tidak terima orang yang telah memfitnahnya berada dekat pandangannya.


"tenang saja sayang, nanti kamu bakal aku cari kan pembantu baru dan sopir baru. "


Nia pun hanya tersenyum. Lalu Nia bangkit dari duduknya dan langsung mencium tangan suami nya dengan takzim dan setelah itu ia pun memeluk suaminya.


"Semoga mulai saat ini kita selalu bahagia ya sayang, tidak ada lagi yang merusak kebahagian kita. "


Nia pun mengangguk pelan dan tersenyum dalam pelukan Khalid.


...****************...


"Ibu Maimunah, ibu ada tamu! jam kunjungan hanya 15 menit." ucap penjaga sipir kepada Munah.


Mendengar itu, seketika raut wajah Munah pun menjadi berseri - seri.


"Ini pasti Yana menjenguk ku, selama aku disini dia tidak pernah menjenguk ku kembali,dasar anak kurang ajar. "


Setelah masuk ruang kunjungan, betapa terkejutnya yang berada di sana untuk menjenguknya adalah Nia dan Khalid.

__ADS_1


Melihat Mantan majikannya, ia pun langsung terdiam tertunduk malu.


"Bagaimana kabar mu Bi Munah? Sehat? " tanya Nia kepada Bi Munah untuk memulai percakapan.


"Sehat Nyonya, " jawabnya singkat. Ia merasa canggung dan adapun malu juga. Karena orang yang ia sakiti malah mengunjunginya.


"Oiya, ini aku buat kan makanan buat Bi Munah, Pasti makan disini tidak bisa seenaknya kan. " Nia menyodorkan plastik hitam, isinya adalah makanan kesukaan Bi Munah yaitu rendang, di dalamnya juga ada abon dan kerupuk. Nia fikir itu akan bermanfaat untuk menambah nafsu makan.


"Terimakasih Nyonya, anu... Anu..." kalimat Bi Munah terhenti. Ia merasa tidak pantas untuk bertanya.


"Kenapa Bi?. Ooh Yana ya. Yana ikut Paijo. Karena Paijo menikahi Yana. Ternyata anak dalam kandungan Yana adalah anak Paijo Bi, " ucap Nia menerangkan. Nia berpura-pura lupa bahwa Yana di suruh Bi munah untuk memfitnah suaminya.


Khalid hanya berdiam di samping Nia, dia merasa tidak sudi untuk berbicara dengan Bi Munah. Itu pun untuk mengunjungi Bi Munah dia sangat terpaksa. Tapi demi permintaan Nia saja ia mengabulkan keinginan Nia.


Seketika air mata mengalir dari mata Bi Munah. Badan nya bergetar menahan tangis.


"Maaf kan Bibi ya Nyonya, tuan Khalid. Bibi gelap mata. " tangis Bi Munah mengharu biru.


Nia pun memeluk Bi Munah, dia sadar. Bagaimana pun Bi Munah hanya lah seorang istri yang cemburu dan menyimpan amarah. Dia bingung melampiaskan amarahnya, karena suaminya Sutris sudah meninggal dengan memberinya banyak masalah.


"Iya Bi, " ucap Nia. Nia tidak mahu ada perasaan dendam yang lain muncul kepada dirinya. Nia ingin Bi Munah merasa ini semua murni kesalahan dia. Nia takut jikalau hubungan yang awalnya baik menjadi sebuah pertikaian. Apalagi yang membuat pertikaian orangnya pun sudah tidak ada di dunia ini.


"Maaf , waktu kunjungan anda sudah habis. " Petugas itu pun menarik Bi Munah untuk kembali ke dalam untuk meninggalkan ruang kunjungan.


Nia melambaikan tangannya tanda perpisahan. Sedangkan Khalid hanya diam seribu bahasa.


"Bagaimana sekarang? sudah lega?" tanya Khalid kepada Istrinya.


Nia pun memandang Khalid , dan tersenyum. Pertanyaan Khalid tidak ia jawab.


"Kita kerumah Mama ya, sekalian jemput Niko dan ajak Niko Jalan-jalan ya Mas. " Nia menggandeng tangan Khalid.


Khalid balas tersenyum sambil mengusap tangan istrinya yang menggandeng tangannya.


Hembusan angin di halaman lapas menerpa mereka, mengibarkan Jilbab Nia. Langkah Nia terhenti , dia terdiam dan ia memejamkan matanya seraya menghela nafas lalu membuka matanya perlahan serta menatap langit biru yang cerah.

__ADS_1


"Alhamdulillah, " Ucap syukur Nia.


...****************...


__ADS_2