Pelet Cinta

Pelet Cinta
8. Cinta dan Amarah


__ADS_3

Dibimbingnya aku agar menuruni tumpukan karang. Karena aku takut karena terlalu tinggi untuk menuruninya, aku terduduk dikarang.


Lalu dony memegang pinggang ku dan aku bertumpu kebahunya.


Lalu aku digendongnya dalam pelukan sambil kaki ku perlahan turun ke pasir. Wajah Kami saling berhadapan dan pelukan dony belum dilepasnya.


"Aku harus memilikimu, aku tahu kita berbeda keyakinan" Ucap dia menatapku dengan mata yang sayu.


Aku hanya terdiam memandangnya, dadaku berdetak lebih laju. Mungkin dia mendengarnya karena memang kita dalam posisi berpelukan. Dada ku masih menempel di dadanya, kakinya masih terjinjing belum sepenuhnya menapak dipasir berair.


Lalu dia menyandarkan ku ke tebing karang, dan menciumku lagi dengan pelan dan ******* nya, seolah tadi belum puas ciumiku.


Ku balas ciumannya dengan pelan, tanda ku setuju, tangannya memeluk erat dan meremas pantat ku dan mengelus nya, Tangan ku pun tersilang kebahu nya dan mencengkram rambut nya.


Cukup lama kami berciuman dan bercumbu. Setelah itu dia melepas ciumannya. Diusapnya bibir imut ku.


"Aku akan cari cara agar kita dapat bersama" kata dokter dony menarik ku.


Tapi ku tarik dia kembali, dan mengusap bibirnya dengan tangan ku. Karena masih ada bekas lipstik ku dibibirnya.


Lalu aku pun berlari kecil meninggalkannya.


Dikejarnya aku, ku balikkan badan sambil ku cipratkan air laut kepadanya.


Disitu kami bersenda gurau terbawa suasana pantai dan aku dipeluk nya dan diputarnya badan ku dengan riang. Cipratakan air dan ombak membasahi separuh celana nya dan rok span ku.


...****************...


Disepanjang jalan aku hanya teringat akan ciuman dony, dan ucapan dia akan mencari jalan agar bisa bersama.


Jalan apa yang akan dia tempuh untuk memilikku.


Tak terasa, akupun sampai di depan rumah dinas ku.


"Tunggu don" kata ku . Segera ku berlari dan membuka pintu rumah dinas ku, dan ku ambil jaketnya dan mengembalikannya.


"Terimakasih don" kata ku kepadanya.


"Nanti kamu tidak perlu 1 x seminggu kepuskesmas untuk mengirim laporan, aku yang akan mengunjungi mu. Telpon aku kalo butuh sesuatu dan perlu apapun! " perintah dony kepada ku.


"iya don" kata ku pelan.


Setelah itu dia berbelok dengan sepeda motornya dan melambaikan tangannya kepada ku.


Aku tersenyum malu dan memasuki rumah dinas.


...****************...


Nia tak sadar pada saat itu ada sepasang mata mengawasi mereka, dan meremas tangannya dan meninju pohon menandakan ada amarah terpendam melihat sepasang dua insan dimabuk cinta.


Malam hari....

__ADS_1


Guntur bersahutan, ku singkap tirai hijau. Ku pandang langit malam. Tidak ada bintang yang sudi muncul menerangi.


Ku pandangi rumah pak mitro diseberang. Sudah sunyi, mungkin sudah tidur fikirku. Kadang dihari lain biasanya andre ku lihat masih memainkan gitar di teras dan pak mitro sambil menghisap batang rokoknya.


Lalu kembali ku tutup tirai. Aku kembali meninggikan volume tv agar memecah keheningan malam.


Jam 4 subuh.


Bruukkk ....


Bunyi sejenis batu melempar ke dinding belakang rumah ku.


Aku terkejut dalam tidur ku. Ternyata tv masih menyala, rupanya aku tertidur.


Aku sengaja meletakkan tv di dalam kamar ku, tepat didepan kasur. Agar dapat menemani kesunyian dan rasa takut ku tidur sendirian.


Bruukkk...


Bunyi yang ke dua, jelas ini bukan hewan atau dahan yang jatuh menimpa dinding rumah dinas ini.


Ini pasti ada orang jahil. Aku hanya diam dalam jaga ku, pisau belati yang di berikan ayah ku. Selalu ku bawa saat tidur dan disimpan dibawah bantal segera ku ambil.


Aku duduk bersandar ke dinding, dan berselimut sambil memegang erat belati yang masih dengan sarung pelindungnya.


"Ya Tuhan, lindungi aku. Suara apa itu" Batin ku berdoa.


Ku raih remote tv dan hape ku. Ku besarkan volume tv. Ku ubah ubah chanel nya menandakan bahwa aku bangun dan terjaga.


Aku dalam mode waspada dan bertarung. Jujur aku sangat takut.


Lalu ku kecilkan volume tv,.. Sengaja mendengarkan dengan seksama untuk mencari lagi suara seperti timpukan itu.


Tapi tak terdengar.


Sunyi.... Senyap...


Ku lirik Jam ternyata sudah menunjukkan pukul 5 subuh.


Ku beranikan diri menyingkap tirai sedikit dan menengok keluar melalui kaca yang berembun.


Sunyi, tidak ada apa-apa.


" Haaaaaaaaahhhh.... " Aku menghela nafas dengan panjang untuk menenangkan jantung ku yang berdetak seperti orang habis berlari jauh, tangan ku gemetar, nafas ku tidak beraturan.


Sungguh pengalaman yang sangat membuat ku berkeringat dingin ketakutan. Seumur hidup baru ini kurasakan seperti ini.


Azan subuh berkumandang. Ku singkap lagi tirai, ku lihat pak mitro dan andre keluar dari rumah dengan memakai baju muslim untuk sembahyang kemesjid.


Aku sudah benar-benar lega, tapi masih tidak berani beranjak dari tempat tidur ku. Karena ku fikir ini masih gelap.


...****************...

__ADS_1


Pagi hari,...


Cahaya sudah terang dan memasuki celah tirai kamarku. Baru ku berani bangun dari kasur untuk mengambil air wudhu untuk sholat subuh.


Sesudah sholat aku pun mandi dan bersiap-siap untuk membuat sarapan secara praktis saja. Yaitu roti tawar dengan selai coklat, dan tidak lupa teh hangat.


Aku happy dan mencoba melupakan kejadian malam tadi.


Setelah selesai aku pun membuka pintu depan, dan pada saat terbuka ada secarik kertas terselip dibawah pintu.


Ku ambil dan ku baca.


" KAU DALAM PENGAWASANKU !!! "


Gemetar tangan ku, aku takut. Ku remas kertas itu dan ku lempar ke bak sampah. Langsung ku berlari ke rumah pak mitro.


Ku peluk bu painah yang lagi menyapu


" Bu aku mau pulang, boleh aku izin dengan bapak untuk pulang ke kampung halaman 2 atau 3 hari bu" peluk ku dengan gemetar.


Ibu painah dapat merasakan kejanggalan itu, lalu dia memeluk ku dan membawa ku masuk ke dalam rumah.


"Pak , Pak,.. Paaakkk" teriak bu painah memanggil suaminya.


"Iya bu... " Pak mitro keluar dari ruang tengah.


"Kenapa nduk? " kata pak mitro.


"Saya mau izin pak pulang kerumah 3 hari" kata ku pelan.


"Ooiya boleh. Nanti andre yang nganter ke luar desa ya sambil memesankan bis antar kabupaten... " kata pak mitro dengan memperhatikan ku, tapi beliau tidak ingin menanyakan lebih.


Pak mitro berlalu, dan duduk di depan sambil meminum kopi dan sesekali mengisap rokok nya.


Mungkin pak mitro ingin ibu yang menjadi pendengar dan menenangkan ku .


Aku ceritakan kejadian malam tadi dan apa yang ku temukan di depan pintu. Bu painah pun menyetujui untuk memulangkan aku dulu untuk menenangkan keadaan ku.


Ku peluk erat bu painah, beliau sudah seperti ibu ku sendiri yang teramat baik di tempat perantauan ini. Aku tidak punya siapa-siapa selain mereka disini.


Aku tidak berani ke rumah, tika adik andre yang mengepak pakaian ku dan membawakan tas ke rumah pak mitro. Lalu aku pamit dengan mereka dan diantar oleh andre.


Andre bingung dengan diriku. Dia pun bertanya tanya sepanjang jalan.


Aku hanya menjawabnya seperlu nya.


"Nanti kamu bakal tau jika bu de cerita" kata ku kepada andre.


Aku pulang kerumah orang tua ku.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2