
Secara perlahan aku memperbaiki diri dengan mengganti semua pakaian ku yang terbuka menjadi lebih tertutup. Ya meskipun masih belum pakai jilbab, tapi aku sudah membeli jilbab atau kerudung kami sebutnya. Ada 3 buah kerudung aku beli.
Ku coba berkali-kali, ku lipat kanan, ku lipat kiri. Mencong sana, Mencong sini.
"Huuuuhhh susahnya yaaa, " Ucap ku kesal. Ketika aku mencoba kerudung di depan kaca.
Susah sekali, karena aku tidak terbiasa. Dan terlebih aku kesulitan saat memakai jilbab dengan peniti.
Akhirnya pilihan jatuh pada kerudung yang langsung, dan tidak memakai peniti.
Maya mendukung ku agar memakai kerudung. Aku pun sering pergi ke pengajian meskipun masih level tingkat Mesjid di Desa ini.
...****************...
Setelah 2 minggu pemulihan. Akhirnya dokter dony masuk bekerja, aku pun sudah memberitahunya bahwa aku sudah pindah ke puskesmas.
Kami bekerja selayaknya, rekan kerja tidak mengetahui bahwa ada rasa diantara kami. Sebaik mungkin aku tutup rapat, kecuali maya.
Saat dony masuk kerja, dia terkejut melihat ku yang merubah penampilan. Yaitu pakaian yang menutup seluruh tubuh dan memakai kerudung. Tidak ada lagi rok mini dan rambut yang tergerai.
Dony duduk di meja dokternya, sedangkan aku menemani dia di ruang jaga poli umum.
"Kamu cantik memakai kerudung. " Dony memecah keheningan saat tidak ada pasien.
Aku hanya tersenyum. Tidak mengucapkan kata apapun.
"Nia, habis kerja aku jemput ya nanti. " ajak dony kepada ku.
"Kemana?, " tanya ku kepada nya.
"Ada aja, " ucapnya penuh rahasia. Membuat ku penasaran saja.
"Baiklah," kata ku singkat.
...****************...
Sore hari.
Dony menjemput ku dengan sepeda motornya, dia memakai jaket jeans biru dipadukan dengan kaos putih. Celana jeans dengan ikat pinggang hitamnya.
Masyaallah tampannya, hatiku seolah berteriak.
"Ayo naik. " dia menyadarkan ku.
Lalu aku pun naik ke sepeda motornya.
"Maaf ya nia, mobil ku dipakai ayah. Jadi pakai sepeda motor saja kita. Biar kamu bisa meluk aku. Haha, " ucap dony sambil tertawa.
"Bisa saja. Mau nya kamu tuh!" balasku sambil tertawa.
__ADS_1
Ternyata tujuannya adalah ke kafe mini. Dia memesan makan dan minuman.
"Nia,.. Terkait aku yang dirampok kemaren. Polisi sudah menyelidikinya. Dan katanya sudah menangkap 1 orang. Dan kasus nya semakin berkembang," ucap dony menerangkan.
"Maksudnya don? " tanya ku yang masih tidak memahami.
"Kasus kemaren tersangkanya sudah tertangkap, tapi kasusnya berkembang lagi karena tersangka yang ada sekarang hanyalah tangan kanan nya saja. Si dalang nya belum tertangkap, " ungkap dony serius.
"Wah syukurlah kalo begitu. " , aku malas berspikulasi menautkan beberapa kejadian dengan kejadian yang terdahulu.
Lalu tiba-tiba dony berlutut dan memberikan sebuah kotak perhiasan dengan warna merah. Dan dibukanya tepat di depan ku. Sebuah kalung emas dengan liontin berinisial huruf D.
"Aku ingin kamu menerimanya, tanda bukti aku cinta kepadamu. " Dia ambil kalung itu.
Mata ku berbinar, baru kali ini aku diperlakukan istimewa. Dan diberi hadiah begitu berharga, aku pun menunduk dan mengangkat kerudung ku untuk dipasangkannya di leher ku.
Inisial D terlihat di leher ku, yang akan menemani ku setiap hari.
"Terimakasih don, ini cantik! " ucap ku sambil mengucap liontinnya.
"Kamu suka kan? " tanya dony sambil memandang ku.
"Iya don, aku suka! " dengan malu.
"Don, menurut mu bagaimana hubungan kita ini? " ku coba mencari jawaban tentang status hubungan ini.
"Ya kita pacaran. Aku sayang kamu " ucap dony.
"Bukan, bukan seperti itu maksud ku. Apakah hubungan ini akan berakhir dipernikahan? " kata ku kepada nya.
"Kenapa? Jelas aku ingin menikahi mu nia!" ucap dony.
"Bukan kah sekarang banyak artis yang menikah beda agama! , aku mau kita seperti itu. Jika orang tua kita tidak menyetujui. Kita kawin lari saja. " ucap dony dengan penuh banyak andai-andai.
"Bodoh kamu don, konyol sekali kamu. " aku kaget dengan pemikirannya. Ku cubit tangannya, sambil menertawakan fikiran gilanya.
"Aku ingin kamu jadi milikku. Jujur nia aku benar-benar cinta dengan mu. " Mata dony berbinar dan menggenggam tangan ku erat.
" Mana bisa kawin lari seperti itu!. " bantah ku.
"Kalo di negara kita tidak melegalkan, kita bisa pergi ke luar negeri. " kata dia menambahkan.
"Waaahhh ternyata kau gila sekali yaaa! " ucap ku sambil tertawa.
Lalu aku pun menghadap ke arahnya. Memegang tanganya.
" Tapi bukan seperti itu mau ku. Yang aku pastikan aku tidak akan bisa pindah agama, meskipun aku masih kacau dalam urusan ibadah ku". Ucap ku pelan. Aku pun tidak bisa juga memaksa dia. Hanya harapku saja dia yang akan mengikutiku.
Dony diam... Dia tidak bergeming.
"Ya sudah, jalani saja dulu. Aku akan bicara dengan orang tua ku. " janjinya kepada ku.
__ADS_1
Aku pun mengangguk saja. Kami pun kembali asyik dengan hidangan di depan meja. Lalu kami jalan-jalan sebentar di alun-alun kota. Melupakan pembicaraan tadi. Kami pun menikmati saat yang ada, suasana yang mesra dengan bergandengan tangan.
...****************...
Sesampainya di rumah, ternyata andre menunggu di depan rumah.
Aku pun turun dari sepeda motor dan menghampirinya.
"Kamu sudah lama menunggu, kenapa tidak kasih kabar. " aku khwatir di sudah lama menunggu.
"Ada apa ndre? " tanya ku lagi.
"Ini aku mau ngasih titipan ibu buat ka nia. " sambil mengangkat susunan rantang.
"Kaka dekat sama itu orang? " tanya nya ketus.
"Sudah jadi pacar! " tanya nya lagi.
"Itu dokter dony. " tanpa ku jawab pertanyaan ander dan sambil ku lambaikan tangan ku. Lalu dokter dony datang menghampiri kami.
"Perkenalkan dok, ini andre. Anak pak mitro kades meranti. " mereka saling berpandangan.
"Oiya... Salam kenal . " ucap dony kepada andre.
"Iya, Ya udah ka. Kata mama rantangnya disimpan aja dulu. Gampang lah itu. Aku pulang dulu. " ucap andre, dan hanya berlalu dihadapan dony.
Dony pun geleng-geleng.
"Kenapa dia?," sambil memperhatikan andre.
"Lagaknya marah dengan ku, " ucapnya lagi.
"Entahlah, biasaa ABG don.... " aku malas menimpali.
"Ya sudah Nia, aku langsung pulang saja. " dony pun pamit. Dan sepeda motornya pun menghilang dari pandangan ku.
"Kak, aku balik lagi!!! " ucap andre mengagetkan ku.
"Laah tadi katanya pulang! nanti kemalaman, gelap, kamu jauh lo. " nasehat ku kepadanya.
"Baru juga setengah lima, setengah jam lagi. Aku mau ngobrol dulu dengan Ka Nia, kangeeennn..." Tanpa rasa malu dia ungkapkan rasa nya.
Aku hanya tertawa melihat tingkah bocilnya keluar.
" Uuuuuu... Dasar kauuu. " Ku acak-acak rambutnya.
" Iiihhh jangan rambut dong, ini kan sudah pakai minyak rambut. Tertata rapi...!! " ucapnya sambil merapikan lagi rambutnya. Lalu di memakai hoodie jaket nya agar aku tidak mengacak-acak rambutnya lagi.
Setelah itu dia ambil gitar. Dan menemani ku lagi dengan suara merdunya...
Indahnya ndre...
__ADS_1
πΆπ΅πΆπ΅πΆπ΅