
Nia mencoba membuka matanya yang tertutup. Ia melihat sedikit remang-remang. Dan ia mencoba mendengar-dengar apa saja yang ia lewati di sekitar.
CIIIIIIIITTTTTTT
BRAAAAAKKKKKKK
Suara mobil berhenti, dan pintu terbuka. Nia pun di tarik dan di bopong ke dalam ruangan. Dan dilempar ke sebuah kasur.
BRUUUKKK
" UKHHHHHH HUUUHH HUUUHHHH. "
Tiba-tiba ada yang membuka ikatan tangannya. Dengan segera ia pun melepas ikatan matanya dan ikatan mulutnya.
Ia lihat ke sekeliling ruangan. Itu adalah kamar yang mempunyai jendela dengan teralis besi, pintu kamar pun mempunyai teralis besi. Pintu sudah terkunci, ada satu kasur dan satu toilet.
Nia pun mencoba menengok di jendela, namun hanya semak belukar dan rumput yang membumbung tinggi. Sunyi senyap tidak ada suara manusia hanya suara burung.
" TOLOONGGGG ... TOLOOONGGGGGG... TOLONGGGGG..... TOLONGGG!!!! "
Sampai lelah Nia berteriak, namun tidak ada jawaban siapa pun.
" HEEH, PERCUMA KAU TERIAK. INI DI DALAM HUTAN. TIDAK ADA YANG BAKAL MENDENGAR MU. "
Suara pria membentak dari balik pintu.
Nia pun menangis, Ia teringat akan tasnya. Di ambil tasnya. Dan dibuka nya. Ia mencari handphonenya.
Namun setelah di bukanya, dan ingin menelpon suaminya. Ternyata tidak ada sinyal.
" Huuuuuuu hiks hiks... Apa salah ku. Apa mau mu. Kenapa kau mengurung ku disini, " Raung Nia sambil memukul pintu.
" Keluarkan Aku... "
Seberapa sering dan kerasnya Nia berusaha meminta tolong. Tapi tidak ada yang mendengar.
Nia menguping di balik pintu.
" Sebentar lagi Bos akan datang. Kita bakal dapat bonus. "
" Hahaha... "
...****************...
" Yaa Aku mengingat plat mobilnya. Telpon Polisi. "
" Aku sudah menghubungi Polisi mengabari plat yang kau berikan Khalid. "
" Aku harus mencari Dony, ini pasti ulahnya. " Khalid melepas jarum infus. Dan berdiri untuk pergi.
"Sabar dulu, " Ucap Herman dengan memegang tangan Khalid takut ia jatuh. Karena jelas kondisinya saja masih belum memungkinkan untuk bangun.
" Ayo Herman, bantu aku bertemu Dony. "
" Baik lah. "
Tak dapat mencegah Khalid, akhirnya Herman pun mengikuti kemauan Khalid untuk bertemu Dony. Mereka mencari-cari Dony baik itu ke rumah sakit, ke rumahnya. Namun tidak di temukan.
" Sudah ku duga, ini pasti ulah Dony. Buktinya ia menghilang. Huuuuu Nia Istri ku. Sungguh malang nasib mu. Maafkan aku tak bisa menjaga mu, " ratap Khalid. Ia benar-benar frustasi. Ia bingung kemana mencari pertolongan.
Bip...
Bip....
[ Hallo. Pak Herman, orang yang anda cari berada di Hotel *** kamar ***]
[Terimakasih informasinya]
"Khalid, nanti saja kau meratap. Ayo kita cari keberadaan Dony. Menurut detektif yang kau sewa Pak Agus. Dia berada di hotel. Ayo kita cari dia sampai dapat. "
" Ayo cepat. "
Dengan segera Herman pun mengemudi dekat secepat kilat menuju tempat yang telah diberi tahu. Sesampainya disana.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
" Siapa? " sahut suara perempuan.
"Room Service. "
" Aku tidak memesan, apa ini kejutan, " Batinnya.
Kreeeeekkkkk . Suara pintu dibuka.
Braakkkk. Suara pintu dibuka paksa.
" Heeyyy siapa kalian? "
" Mana Dony? "
"Dony, Dony siapa? "
" Kau jangan pura-pura tidak tahu, dia ada disini kan! "
Herman pun menggeledah kamar. Sedangkan Khalid berada di hadapan perempuan itu.
" Jawab yang jujur, mana Dony? "
" Ia sudah pergi, baru saja, " sahut perempuan itu dengan gemetar. Ia sangat terkejut.
" Ayo kita pergi! "
Lalu mereka meninggalkan perempuan itu tanpa permisi. Mereka benar-benar kalap mencari Dony.
Ketika ingin keluar, mereka berpapasan dengan pria yang sedang membawa bungkusan.
Herman pun mengedipkan mata. Ia ragu-ragu apakah benar pria itu Dony. Karena Khalid maupun Herman tidak begitu familiar wajah Dony. Khalid pun haja bertemu satu kali saat di rumah mertuanya, itu pun ia tidak terlalu memperhatikan karena terfokus hanya pada Nia.
" Dony! " Sapa Khalid.
" Ya ," Sahut pria itu sambil menolehkan kepalanya.
"Siapa kau? " tanya Dony dengan gelagapan, ia terkejut hanya sekedar lewat ia mau di babat habis.
" Aku suami nya Nia. Dimana kau sembunyikan Nia?"
"Aku tidak mengerti apa maksud mu! "
" Jangan pura-pura! "
BUUUGGHHH
Sebuah tinjuan mengenai wajah Dony.
" Uuggghhhh... Aku tidak mengerti maksud mu! "
Herman langsung menangkap Khalid agar tidak mengulanginya.
" Tunggu Khalid ... Tunggu. Sepertinya ia menjawab dengan jujur. "
Setelah mendengar itu,, Khalid terduduk di lantai hotel tersebut. Lalu Khalid menangis.
Melihat itu semua, Dony tersadar.
" Jadi Nia menghilang atau bagaimana? "
" Dia diculik Don, bukan kah kau menginginkan kehancuran rumah tangga ku. "
" Ya aku menginginkannya, tapi tidak sampai tega menyakiti Nia. Karena aku mencintai Nia. "
" Mencintai katamu!!!, " sahut Khalid kembali beringas saat mendengar kata cinta di mulut Dony.
"Kapan kejadiannya? " Mendengar itu Dony mulai merasa panik.
" Sudah 2 hari, tapi kepolisian belum mempunyai tanda-tanda kemajuan dalam pencariannya. Aku tidak mau kalau... "
" Jika kau bukan otak semua ini, buktikan dengan bantu kami mencarinya. "
__ADS_1
" Seandainya ketemu mau kah kau menyerahkan Nia kepada ku. "
" Kaaaaauuuuu.... " Khalid pun bersiap ingin menghantam Dony kembali. Terasa belum puas meninjunya.
" Sudah, Sudah Khalid. Tidak ada gunanyaa. Ayo kita kembali mencari istri mu. " Herman mencegat Khalid.
Di tariknya khalid dengan paksa. Dan membawa nya meninggalkan Dony yang masih terduduk di lantai. Ia seolah memikirkan sesuatu.
" Aku tidak yakin, dia pasti pura-pura! "
" Sudah Khalid. biar kan saja dulu, kita belum ada bukti untuk menuduhnya. "
" Hanya dia yang ingin menghancurkan rumah tangga ku. "
Khalid dan Herman pun pergi dari hotel.
Dony yang masih terduduk kembali berfikir, dengan segera ia pun berdiri dan masuk ke dalam kamar hotel.
" Tadi ada orang .... "
" Iya aku tahu, "
" Trus kamu mau kemana sayang ... "
" Aaaaakhhhh, jangan ganggu aku. " Tepis Dony kepada perempuan yang ia tiduri malam tadi.
" Tapi kan... "
...****************...
" Kemana kita mencariii Herman. " Khalid masih gusar dan meratap tak karuan di dalam mobil.
" Ke mesjid Herman. "
Dengan segera Herman pun menepikan mobilnya ke halaman mesjid.
Khalid pun turun dan menuju ke dalam mesjid dan mengambil air wudhu.
Khalid pun sholat sunat dua rakaat dan ia pun khusyu berdoa meminta petunjuk kepada Allah swt. Ia curahkan permohonannya, agar dapat menemukan istrinya Nia.
Ia pun menangis sejadi-jadinya, meraung sampai seisi mesjid penuh dengan raungan tangisnya. Ia benar-benar tidak dapat mengandalkan siapa-siapa lagi, ia benar-benar putus asa dan sebenar-benarnya putus asa. Dia menangis dalam sujud.
Bip...
Bipp....
Bunyi nada dering dan getar handphone Khalid di kantong saku celananya.
Ia pun bangkit dan langsung mengangkatnya.
[Hallo, Ya]
[Kami akan kesana, kami kesana]
Dengan segera Khalid mematikan Handphonenya.
" Herman, ayo kita ke Kantor Polisi. "
Dengan segera Herman pun menyetir kembali ke arah kantor polisi dengan cepat.
" Ada apa? Polisi menemukannya? "
"Belum, tapi mereka ingin aku memastikan mobilnya. Mereka menemukan rekaman cctv yang memuat plat mobil yang aku ingat. "
" Syukur lah ada kemajuan, coba tanya Orang tua mu dan Nia apakah mendapat panggilan meminta tebusa? "
" Tidak ada Her, sudah dua hari. Tidak ada yang menelpon meminta tebusan seperti layaknya orang menculik. "
" Apakah ini bermotif tentang uang atau tentang dendam bisnis mu?"
" Aku tidak dapat menilainya. Aku tidak mengerti, tapi aku pernah mendapatkan pesan dari Tuan Guru Muin untuk berhati-hati. Apakah ini yang beliau maksud! "
" Kau telpon Ayah Nia untuk pergi ke Tuan Guru, " ucap Herman.
...****************...
__ADS_1