
Di sisi lain, Leo sedang menuju ke dekat gerbang alam Paton. Sesampainya di sana, ia melihat sebuah robot yang pernah ia temui sebelumnya. Robot tersebut merupakan robot yang menyelematkan dirinya saat ia terjebak di bawah tanah. Leo segera menghampiri robot tersebut.
“Halo, kita bertemu lagi. Seingatku, robot besar bernama Tama memanggilmu dengan sebutan Bhorus. Boleh aku memanggilmu seperti itu juga?” ucap Leo.
“Kamu mengenal Tama?!” ucap robot tersebut.
Tak lama setelah itu, robot tersebut ingin pergi melarikan diri. Beruntungnya, Leo berhasil menangkapnya.
“Mengapa kamu melarikan diri? Kamu takut denganku?” ucap Leo.
“Tentu saja! Apalagi kamu merupakan kenalan dari Tama!” ucap robot tersebut.
“Tidak, aku bukan kenalannya. Lebih tepatnya aku hanya mengetahuinya, walaupun aku pernah berpetualang dengannya” ucap Leo.
“Kamu orang yang berbahaya, aku akan segera pergi” ucap robot tersebut.
“Tidak, mungkin kamu salah paham kepadaku. Petualangan yang aku maksud hanyalah berjalan sebentar saja. Aku mengantarkannya kepada bu Nea, pemimpin alam ini. Aku tidak terlalu mengenalnya” ucap Leo.
“Apa kamu mengatakan yang sebenarnya? Jika memang begitu, kamu bisa memanggilku dengan sebutan Ropan. Dan jangan pernah memanggilku Bhorus, aku membenci sebutan itu” ucap robot tersebut.
“Mengapa?” tanya Leo.
“Bhorus merupakan sebutan ejekan untukku, Tama dan teman-teman lainnya yang jahat memanggilku seperti itu” ucap Ropan.
“Mereka orang jahat? Padahal, mereka tidak terlihat seperti itu olehku” ucap Leo.
“Kamu tidak merasakannya, aku sudah sangat lama sekali dimanfaatkan oleh dia. Aku menyarankanmu untuk mencari teman yang baik, jangan mau dimanfaatkan oleh orang lain” ucap Ropan.
__ADS_1
“Baiklah, Ropan. Aku akan mengingat saranmu” ucap Leo.
“Sepertinya aku melupakan suatu hal… Kamu mengetahui namaku, tetapi aku tidak mengetahuimu. Bukankah seharusnya kamu memperkenalkan diri terlebih dahulu saat ingin berkenalan dengan orang lain? Atau kamu memiliki ajaran sopan santun yang berbeda?” ucap Ropan.
“Maafkan aku, aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Leo… Apalagi yang harus aku kenalkan? Aku bingung” ucap Leo.
“Sudah cukup, kamu tidak perlu memperkenalkan dirimu lebih jauh lagi. Aku hanya membutuhkan namamu untuk memanggilmu saja. Selain itu, apa yang kamu lakukan di tempat ini?” ucap Ropan.
“Aku sempat dikejar oleh robot yang menyeramkan, mungkin robot tersebut adalah musuh. Dan saat ini, seseorang yang bersamaku sedang mengalihkan perhatiannya. Bagaimana denganmu? Apa yang kamu lakukan di tempat ini?” ucap Leo.
“Aku memang selalu berkeliaran di berbagai tempat pada lokasi ini. Namun, aku menemukan suatu benda aneh di dekat sini” ucap Ropan.
“Benda aneh? Benda apa itu? Bisa aku melihatnya?” ucap Leo.
“Bisa, tetapi akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menuju ke tempat itu” ucap Ropan.
“Bukankah kamu berkata jika benda itu berada di dekat tempat ini? Mengapa membutuhkan waktu yang cukup lama?” ucap Leo.
“Betul juga yang kamu katakan, Ropan. Aku sangat penasaran dengan benda itu, tetapi aku tidak mempunyai waktu yang banyak. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?” ucap Leo.
“Jika kamu penasaran, aku bisa membawamu ke tempat itu. Tetapi karena waktu yang kamu punya tidak banyak, aku tidak bisa membawamu untuk ke sana. Sebab, aku tidak mengetahui banyaknya waktu yang kamu maksud. Namun jika kamu sangat bersikeras untuk pergi ke sana, kamu bisa melupakan waktu yang ada… Anggap saja kamu tersesat, tetapi aku tidak menyarankan cara ini” ucap Ropan.
“Baiklah, aku sudah memutuskannya. Aku akan pergi ke sana, dengan memikirkan waktu yang aku punya dan mempertimbangkan untuk tidak menganggapnya tersesat. Bagaimana jika aku benar-benar tersesat saat aku hanya berpura-pura tersesat? Sangat tidak lucu kan?” ucap Leo.
“Menurutku jika hal itu terjadi, itu cukup pantas untuk ditertawakan” ucap Ropan.
“Jangan mengejekku” ucap Leo.
__ADS_1
“Hahaha, maaf. Ini mungkin pertama kalinya aku mengejek seseorang, biasanya aku yang selalu diejek” ucap Ropan.
“Sudah, jangan membahas hal seperti ini. Jika kita terus membahasnya, kita tidak akan pernah pergi menuju lokasi benda tersebut berada” ucap Leo.
“Kita akan segera ke sana, bisakah kamu untuk mundur beberapa langkah? Aku harus melakukan persiapan terlebih dahulu” ucap Ropan.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Leo.
“Sudah jangan banyak tanya, kita tidak akan pernah berangkat jika kamu selalu bertanya” ucap Ropan.
Leo pun mundur beberapa langkah ke arah belakang. Tak lama setelah itu , Ropan segera melakukan persiapan. Ropan menyalakan alat bhoru yang dimilikinya dan ia mulai melubangi tanah yang berada sedikit di depan serta dibawahnya. Leo berada di belakang Ropan, ia berjalan ke arah terowongan yang dibuat oleh Ropan. Perjalanan berjalan cukup jauh dan memakan waktu yang lumayan lama, Leo segera bertanya kepada Ropan mengenai keadaan yang ada.
“Mengapa kita belum sampai? Bukannya kamu bilang benda itu berada di tempat yang dekat?” ucap Leo.
“Betul sekali, tetapi aku sudah berkata jika perjalanan ini akan membutuhkan waktu yang lama. Dekat yang aku maksud adalah dekat dalam jarak hitungan langkah saat berada di atas tanah, lokasi tempat kita berada saat ini merupakan lokasi dengan jarak 3 langkah jika kita bergerak di atas tanah” ucap Ropan.
“Mengapa kamu tidak mengatakannya lebih awal?! Jika ingin kembali pun juga akan membutuhkan waktu yang cukup lama, lebih baik kita meneruskannya saja” ucap Leo.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju area yang lebih dalam, yaitu tempat benda tersebut berada. Beberapa lama kemudian, mereka sampai pada area tersebut.
“Kita sudah sampai, bisakah kamu melihat benda itu?” ucap Ropan.
“Bisa, namun tidak begitu jelas. Mengapa benda itu berada di tempat seperti ini? Tidak bisakah kita membawanya ke atas tanah?” ucap Leo.
“Bisa, kita bisa membawanya. Namun sepertinya kamu tidak mempunyai peralatan untuk menyimpan benda tersebut, aku tidak menyarankan makhluk sepertimu memegang benda tersebut secara langsung” ucap Ropan.
“Mengapa? Dan bagaimana caramu membawanya?” tanya Leo.
__ADS_1
“Aku akan menyimpannya di dalam mulutku, aku tidak bisa berbicara saat menyimpannya. Untuk alasan yang kamu pertanyakan, aku akan menjelaskannya saat kita berada di atas tanah. Aku akan segera menyimpan benda ini, jangan marah kepadaku jika kamu berbicara dan aku tidak menjawab perkataanmu” ucap Ropan.
Ropan segera mengambil benda tersebut. Saat Ropan menyentuhnya, ia merasakan keadaan tubuhnya menjadi lemas. Meski begitu, ia tetap memaksakan dirinya untuk membawa benda tersebut demi Leo bisa melihat benda tersebut. Ropan pun segera melakukan tugasnya, yaitu melubangi tanah yang ada. Mereka pun melakukan perjalanan menuju ke atas permukaan tanah.