Pemberantas Sindikat Kekuatan Terlarang

Pemberantas Sindikat Kekuatan Terlarang
Keadaan yang Rumit Mulai Perlahan Membaik


__ADS_3

Saat berada di dalam perjalanan, tubuh Leo terlihat bergemetar. Bahkan, Leo tidak berani menatap ataupun memperhatikan Leon sedikit pun. Oleh karena itu, Leon kembali menanyakan beberapa pertanyaan kepada Leo.


“Leo, mengapa tubuhmu sangat bergemetar?” tanya Leon.


“Tidak, aku tidak bergemetar” jawab Leo.


“Masih tidak mau mengakuinya? Sudah terlihat jelas jika tubuhmu sangat bergemetar” ucap Leon.


“Sudahku bilang aku tidak bergemetar!” teriak Leo.


“Leo… Mengapa kamu berteriak? Ini adalah pertama kalinya aku mendengar suara teriakanmu dengan nada gemetar. Kamu sedang ada masalah?” ucap Leon.


“Maaf… Aku tidak sengaja berteriak… Lagipula sudah aku bilang jika aku tidak apa-apa” ucap Leo.


“Semenjak kita berbicara, kamu bahkan tidak menatapku, Leo. Ini juga pertama kalinya kamu berbuat seperti ini” ucap Leon.


“Tidak…” ucap Leo.


“Kamu masih tidak mau memperhatikanku?” tanya Leon.


Leo masih tidak menatap ataupun memperhatikan Leon saat berbicara dengannya. Leon kemudian mengarahkan wajah Leo dengan kedua tangannya untuk menatap dirinya. Leo dengan terpaksa menatap wajah Leon. Meskipun setelah beberapa saat, ia kembali mengalihkan pandangan dan bahkan memejamkan matanya. Ketika Leo memejamkan mata, Leon mencoba memaksa Leo untuk membuka matanya. Leon menarik kelopak mata Leo ke arah atas. Tak lama setelah itu, air mata keluar dari mata Leo.


“Leo, maaf aku tidak sengaja. Bagian matamu terkena sentuhan jariku ya… Pasti sakit..” ucap Leon.


“Tidak, aku tidak apa-apa” ucap Leo.


Semakin lama, air mata Leo mengalir semakin banyak. Dan bahkan, Leo menjadi mengeluarkan suara tangisan.


“Huaaaaaaaaaa” tangis Leo.


“Sudah aku duga, kamu tidak sedang baik-baik saja kan,Leo. Ada masalah apa kamu? Coba sini cerita sama aku” ucap Leon.


“Sebenarnya, terjadi suatu kejadian mengerikan saat aku menyelesaikan ujian tadi” ucap Leo.


Saat mereka ingin melanjutkan pembicaraan, kendaraan yang mereka naiki sudah tiba ditujuan. Mereka sudah sampai di penginapan yang jaraknya cukup jauh dengan lokasi sekolah dan juga sangat jauh dengan rumah Leo. Leo dan Leon kemudian turun dari kendaraan. Leo melihat penginapan tersebut dengan tatapan yang terheran-heran.

__ADS_1


Penginapan yang berada di depan mata Leo terlihat sangat mewah meskipun terletak sangat jauh dari pusat kota. Penginapan itu juga sangat berbeda dengan penginapan-penginapan yang ada di pusat kota.


Mereka pun masuk ke dalam penginapan tersebut dan segera menuju kamar tempat Leon tinggal. Saat sesampainya mereka di kamar, Leo pun dibuatnya terkejut lagi karena ukuran dan model kamar yang ditempati Leo sangatlah mewah. Kamar tersebut memiliki tipe model yang sama seperti kamar yang berada pada rumah Leon di Kota A3. Leo kemudian bertanya dan melanjutkan percakapan dengan Leon.


“Tempat ini… Mengapa modelnya sama seperti model kamarmu yang berada di Kota A3, pak Leon?” tanya Leo.


“Ini kan memang penginapan yang dibuat khusus olehku. Aku mempunyai setiap penginapan dengan model yang sama pada setiap kota” jawab Leon.


“Oh, pantas saja modelnya sama. Namun, mengapa kamu mempunyai penginapan di setiap kota dan lokasinya sangat jauh dari pusat kota?” tanya Leo.


“Lokasi ini tidak terlalu jauh kok, padahal di kota ini merupakan lokasi penginapan dengan jarak terdekat dengan pusat kota jika dibandingkan dengan kota-kota yang lain. Aku kan sangat sering berpergian tugas menuju luar kota, maka karena itu setiap kota memperbolehkan aku untuk membangun sebuah penginapan untuk aku tempati saat aku mengunjungi kota-kota tersebut” ucap Leon.


“Wah hebat sekali pak Leon” ucap Leo.


“Leo, apa yang kamu maksud mengenai kejadian yang mengerikan saat kamu ujian?” ucap Leon.


“Oh itu… Sebenarnya saat ujian setelah menelusuri jalan yang gelap, ada sekelompok mafia yang datang kepadaku dan mengejek diriku” ucap Leo.


“Itu kan termasuk salah satu dari ujian” ucap Leon yang memotong pembicaraan Leo.


“Penembakan? Apa yang kamu maksud?” ucap Leon.


“Aku ditembak oleh salah satu anggota mafia” ucap Leo.


“Kamu ditembak?” tanya Leon.


“Iya, namun sebenarnya aku tidak yakin jika yang menembak itu merupakan salah satu dari anggota tersebut atau bukan. Aku tidak melihatnya terlalu jelas. Keadaan di sekitar sangat gelap. Bolehkah aku bertanya suatu pertanyaan kepadamu, pak Leon?” ucap Leo.


“Bagaimana dengan lukamu?! Ayo segera ke rumah sakit untuk diobati” ucap Leon yang sedang panik.


“Aku tidak apa-apa. Sebelum itu, aku ingin bertanya. Boleh aku bertanya dahulu?” ucap Leo.


“Kamu sejak tadi selalu mengatakan tidak apa-apa. Padahal, keadaan kamu yang sebenarnya tuh sedang tidak baik-baik saja. Selain itu, mengapa kamu membutuhkan izin untuk bertanya? Padahal, biasanya kamu selalu bertanya tanpa membutuhkan izin” ucap Leo.


“Pada saat ini yang aku bilang tidak apa-apa memang benar seperti itu keadaannya. Saat aku sedang melaksanakan ujian, pak Leon sedang berada dimana? Bisa ceritakan dengan lengkap?” ucap Leo.

__ADS_1


“Saat kamu ujian? Mungkin aku sedang berada di pusat kota, melaksanakan tugasku sebagai pengamat keamanan kota ini” ucap Leon.


“Mungkin?! Mengapa kamu tidak bisa memastikan lokasi kamu berada pada saat itu?!” ucap Leo yang memotong pembicaraan Leon dengan marah.


“Karena aku tidak mengetahui waktu kamu melakukan ujian” jawab Leon.


“Jika memang seperti itu, lalu mengapa kamu bisa berada di sekolah khusus itu?!” ucap Leo.


“Hal itu karena aku telah melihat sebuah pengumuman di televisi besar yang berada di sebuah gedung. Pengumuman tersebut berisi informasi jika akan diumumkannya peserta-peserta yang lolos ujian di sekolah khusus kepemimpinan saat sore hari” ucap Leon.


“Baiklah jika begitu, aku akan percaya kepadamu” ucap Leo.


“Oh iya, tadi kamu sempat mengatakan jika pakaian kamu tersobek? Letakkan saja pakaian yang tersobek itu ke dalam mesin yang ada di sana. Nanti akan diperbaiki secara otomatis” ucap Leon sambil menunjuk ke arah sebuah mesin.


“Mesin itu juga bisa memperbaiki lubang bekas tembakan?” tanya Leo.


“Badan kamu berlubang karena terkena tembakan?! Kejadian penembakan yang kamu maksud tadi merupakan tembakan kepada kamu?!” ucap Leo.


“Tidak… Iya…. Eh, bukan begitu maksudku. Kejadian penembakan itu memang ditujukan pada diriku. Badanku, lebih tepatnya di bagian perutku terkena tembakan itu. Namun, tidak sampai berlubang. Aku pun tidak mengetahui kemana perginya peluru tembakannya. Sesaat setelah tembakan mengenai tubuhku dan membuatku terjatuh, aku meraba bagian perutku dan tidak menemukan peluru itu” ucap Leo.


“Kamu sudah pergi ke rumah sakit untuk diperiksa keadaan tubuhmu?” tanya Leon.


“Belum, bukannya tadi kamu yang ingin membawaku ke rumah sakit? Aku bahkan sudah masuk ke dalam kendaraanmu” ucap Leo.


“Kapan? Hari ini aku hanya bertemu denganmu saat di sekolah itu saja, Leo.” Ucap Leon.


Leo seketika teringat dengan kejadian yang terjadi dan mulai berpikir serta mengurutkan kejadian yang ada.


“Jika memang aku hanya bertemu pak Leon di sekolah, lalu siapa yang menghampiriku di dalam kegelapan? Orang itu juga sangat terlihat seperti pak Leon, namun dengan sikap dan aroma yang berbeda. Mengingat pak Leon merupakan orang yang sangat hebat, pasti banyak yang akan menjelekkan namanya dan menirunya. Mungkin orang itu salah satunya” pikir Leo.


Melihat Leo yang sedang berpikir sementara waktu, Leon segera melanjutkan pembicaraannya.


“Apa jangan-jangan kamu bertemu orang dengan kekuatan?!” ucap Leo dengan suara yang cukup besar.


Leo sangat kebingungan dan penasaran, lalu ia menanyakan tentang hal itu lebih lanjut.

__ADS_1


__ADS_2