
Leon dan Lismos pergi mengikuti arahan pada kertas yang menempel pada gerbang. Saat mereka mengikuti arahan untuk mencari air, mereka mendapatkan sebuah masalah. Mereka sama sekali tidak dapat menemukan setetes air, bahkan pada sungai yang sebelumnya terdapat air yang sangat banyak sudah. Sungai tersebut sudah menjadi kering, mereka pun kebingungan karena tidak tahu kemana tempat mereka harus mencari air.
“Kemana kita harus pergi selanjutnya, Lismos? Kita sudah mencari ke berbagai tempat, tetapi kita belum mendapatkan setetes air. Dan sungai yang sebelumnya terdapat banyak air, sungai tersebut sudah menjadi kering” ucap Leon.
“Mengapa kamu bertanya kepadaku? Aku pun tidak mengetahui kemana kita harus pergi” ucap Lismos.
“Bukankah kamu lebih mengetahui tempat ini dibandingkan denganku? Kamu mengatakan jika kamu sudah lama memata-matai tempat ini” ucap Leon.
“Aku hanya memata-matai Nea saja, aku tidak mengetahui keseluruhan tempat ini. Seluruh tempat yang aku ketahui sudah tidak mempunyai air, seharusnya tempat-tempat itu memiliki air yang berlimpah” ucap Lismos.
“Sepertinya ada satu tempat yang belum kita kunjungi. Lebih tepatnya, belum kita periksa apakah tempat itu masih menyimpan air atau tidak” ucap Leon.
“Di mana tempat tersebut? Ayo kita segera ke sana!” ucap Lismos.
“Coba kamu tebak, aku ingin menguji kepintaranmu” ucap Leon.
“Dasar kamu! Apakah di atas gunung? Biasanya air terdapat pada pegunungan, dan mengalir pada sungai lalu menciptakan air terjun” ucap Lismos.
“Memangnya ada tempat seperti itu di alam ini?! Tidak akan ada tempat seperti itu di alam afton ini” ucap Leon.
“Memang tidak ada… Lalu di mana kita harus mencarinya? Aku hanya terpikirkan pegunungan yang merupakan area sumber mata air” ucap Lismos.
“Tebakanmu hampir benar, tetapi sumber mata air tidaklah hanya berada di pegunungan. Sumber mata air bisa saja berada di dalam tanah, kamu harus mengingat itu” ucap Leon.
“Cerdas sekali kamu, Leon! Tetapi, aku jarang sekali membutuhkan air untuk minum. Hal itu mungkin akan kurang berguna untukku” ucap Lismos.
“Kamu pasti akan membutuhkan air, walaupun bukan untuk diminum. Misalnya saja seperti saat ini, kita membutuhkan air untuk memenuhi arahan kertas tersebut. Selain itu, air dapat digunakan untuk membersihkan wajah dan bagian-bagian lain yang kotor” ucap Leon.
__ADS_1
“Jika seperti itu, kita harus segera menemukan sumber air tersebut! Kita harus membersihkan mulutmu yang kotor itu, Leon!” ucap Lismos.
“Jika begitu, aku akan membersihkan tanganmu yang kotor!” ucap Leon.
“Hahaha… Senang sekali rasanya bekerja sama denganmu, kamu selalu membuatku terhibur. Selain itu, kemana kita harus pergi?” ucap Lismos.
“Aku bukanlah badut yang bisa menghiburmu! Kamu bertanya kepadaku mengenai arah yang harus kita tuju?! Mengapa kamu sangatlah bodoh, Lismos?! Aku pun tidak tahu kemana kita harus pergi! Seharusnya kamu yang lebih mengerti hal ini dibandingkan aku” ucap Leon.
“Baiklah, aku mengerti. Aku sudah tahu tempat tujuan yang harus kita kunjungi, ikuti aku!” ucap Lismos.
Leon pun pergi mengikuti Lismos, mereka berjalan cukup jauh. Tak lama kemudian, mereka tiba pada tempat yang dipenuhi dengan pepohonan. Pepohonan tersebut dipenuhi dengan buah-buahan yang beragam warnanya. Saat Leon berjalan mendekati salah satu pohon yang memiliki buah berwarna hijau, ia menginjak sebuah jebakan yang berada di dalam tanah. Beruntungnya, Leon sempat melakukan teleportasi menuju lokasi di dekatnya sehingga ia tidak terkena jebakan tersebut.
“Kamu sangat ceroboh, Leon! Tempat ini dipenuhi dengan jebakan!” ucap Lismos.
“Mengapa kamu tidak memberitahuku terlebih dahulu?!” ucap Leon.
“Aku tidak menyangka jika sesekali kamu bisa menjadi sangat pintar” ucap Leon.
“Aku memang pintar, pada kali ini aku akan menguji kecerdasanmu. Di area mana kita harus menggali agar kita bisa menemukan sumber mata air?” ucap Lismos.
“Tentu saja pada area di dekat pepohonan” ucap Leon dengan percaya diri,
“Kamu cukup cerdas, tetapi kamu tidak menjawabnya dengan lengkap. Sebuah jawaban yang tidak lengkap bisa saja diartikan dengan kekalahan. Saat ini aku sudah mengalahkanmu, Leon! Jawaban yang seharusnya kamu jawab, yaitu pada area di dekat pepohonan yang memiliki buah berwarna keemasan! Karena hanya pada buah itulah yang terdapat air paling banyak” ucap Lismos.
“Baiklah, cepat kamu menggali di dekat sana. Dengan kekuatanmu, kamu pasti akan dengan mudah menggali tanah tersebut” ucap Leon.
“Jangan menyuruhku seakan-akan kamu bosku, Leon!” ucap Lismos.
__ADS_1
“Sudah jangan banyak bicara, cepat kamu lakukan saja penggalian itu” ucap Leon.
Tak lama setelah itu, Lismos mulai menggali pada tanah di dekat pohon yang memiliki buah berwarna keemasan. Lismos menggunakan persenjataan yang dibawa dirinya, bahkan hingga menggunakan bahan peledak. Beberapa saat kemudian, air yang sangat banyak mulai muncul pada galian tersebut.
“Sudah selesai aku gali, sangat mudah bagiku!” ucap Lismos dengan bangga.
“Kamu saja terlihat sangat kesulitan, Lismos. Dan pada saat inilah bagian yang lebih sulit dimulai” ucap Leon.
“Apa maksudmu, Leon?” ucap Lismos.
“Bagaimana cara kita membawa air-air ini?” ucap Leon.
“Hanya itu saja? Kamu mengatakan jika itu merupakan hal yang sulit? Lemah sekali kamu, Leon! Hal itu merupakan hal mudah bagiku” ucap Lismos.
“Baiklah, jika kamu memang bisa membawanya. Ayo cepat kita segera kembali” ucap Leon.
Lismos pun mulai membawa air menggunakan peralatan yang dibawanya. Alat tersebut memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, sehingga mereka hanya bisa membawa beberapa liter air saja. Tak lama setelah itu, mereka pun kembali menuju ke lokasi mesin udara yang sebelumnya mereka temui. Saat mereka sampai di tempat tersebut, mereka melihat sebuah kertas yang sama seperti sebelumnya menempel pada sebuah pohon. Pada kertas tersebut, tertulis tulisan “Sebuah air” dengan ukuran yang cukup besar. Mereka pun tidak menghiraukan arahan kertas tersebut, karena mereka mengira jika mereka sudah mendapatkan apa yang dimaksud pada kertas tersebut. Saat mereka ingin memasuki mesin udara tersebut, mereka tidak menemukan lokasi untuk masuk ke mesin itu.
“Bagaimana cara untuk masuknya? Sepertinya kertas itu menipu kita, sudah aku katakan jika seharusnya kita tidak percaya kepada kertas tersebut” ucap Lismos.
“Tetapi aku yakin jika kertas itu merupakan sebuah petunjuk agar kita bisa mencapai tujuan kita dengan cepat. Sepertinya kita salah mengartikan arahan tersebut” ucap Leon.
“Tetapi kita sudah mengikuti arahan pada kertas tersebut, kita telah membawa sebuah air” ucap Lismos.
“Buah?!” ucap Leon dengan keras.
Leon pun menyadari jika mereka salah mengartikan arahan pada kertas tersebut, mereka seharusnya membawa sebuah air dan bukanlah beberapa liter air. Mereka pun segera kembali menuju area mereka menemukan sumber mata air tersebut. Saat mereka tiba di sana, kejadian yang sangat buruk dan tidak terduga pun menimpa mereka.
__ADS_1