
Leo dan Ropan melakukan perjalanan menuju ke atas tanah. Saat di perjalanan, mereka terkena masalah yang tak terduga. Ropan tidak bisa melubangi tanah yang ada di depannya, seakan-akan ia mencoba untuk melubangi sesuatu yang sangat keras. Ropan segera mengeluarkan benda yang berada di dalam mulutnya, dan ia segera memberitahu dan meminta maaf kepada Leo tentang masalah yang mereka hadapi.
“Leo, sepertinya kita tidak bisa meneruskan perjalanan melalui arah yang sebelumnya kita lalui, kita harus memutar jalan cukup jauh. Maafkan aku, Leo. Aku tidak memperhitungkan jika akan terjadi suatu masalah” ucap Ropan.
“Masalah apa yang kamu maksud? Kamu tidak bisa melubangi jalan di depanmu? Apa kejadian yang sama seperti sebelumnya akan terulang?” ucap Leo.
“Iya, aku tidak bisa melubanginya. Aku pun tidak mengetahui apa yang berada di depanku. Tetapi, sepertinya itu bukan Tama. Jika itu Tama, ia akan segera mengangkat kakinya seperti kejadian sebelumnya. Dan saat ini, kamu tidak perlu khawatir kejadian itu akan terulang kembali” ucap Ropan.
“Semoga saja memang seperti itu” ucap Leo.
“Lalu, apa yang akan kita lakukan untuk saat ini? Apa kita akan memutar saja? Bagaimana dengan waktu yang kamu miliki? Apa masih banyak? Atau lebih baik jika aku terus mencoba melubanginya saja?” tanya Ropan.
“Aku pun tidak mengetahui berapa banyak waktu yang aku punya. Aku tidak bisa memastikannya… Jika kita memutarinya, berapa lama waktu yang akan kita butuhkan? Dan jika kamu melubanginya, berapa lama waktu yang diperlukan?” ucap Leo.
“Menurut perkiraanku, jika kita memutarinya akan membutuhkan waktu sekitar empat jam lebih banyak jika dibandingkan dengan lama waktu saat kita ke tempat ini. Namun, aku tidak bisa memperkirakan dengan tepat jika aku melubanginya. Menurutku, akan membutuhkan waktu sekitar dua jam dan bahkan bisa kurang ataupun lebih jika melubanginya. Pilihan mana yang akan kamu pilih, Leo?” ucap Ropan.
“Sepertinya, lebih baik kamu mencoba untuk melubanginya. Perbedaan waktu diantara kedua pilihan itu cukup besar, aku harus mengambil pilihan dengan waktu yang tercepat. Tunggu… Mengapa kamu menyerahkan pilihan itu kepadaku?” ucap Leo.
“Aku tidak ingin salah menentukan pilihan, lebih baik kamu yang memilih. Lagipula, aku tidak keberatan dengan pilihan-pilihan yang ada. Memutar arah ataupun melubanginya bukan merupakan masalah yang besar bagiku, satu-satunya masalah yang kita punya saat ini adalah waktu yang kamu punya tidaklah banyak. Sebab itu aku menyerahkan pilihan yang ada kepadamu” ucap Ropan.
“Baiklah, lubangi saja sesuatu yang ada di depanmu itu. Tunjukkan betapa kuatnya dirimu dalam menghadapi masalah ini, Ropan! Hahaha” ucap Leo.
__ADS_1
“Tenang saja, aku akan mengeluarkan seluruh tenagaku” ucap Ropan.
“Baiklah… Aku akan membantumu menyimpan benda yang tadi kamu keluarkan dari mulutmu” ucap Leo.
“Tidak, kamu tidak boleh menyentuhnya. Lebih baik aku yang menyimpannya saja” ucap Ropan.
“Baiklah jika kamu memang menginginkan benda itu, bisakah kamu memulai proses pelubangannya?” ucap Leo.
“Tentu saja bisa, asalkan kamu tidak banyak bertanya ataupun mengajakku berbicara” ucap Ropan.
Leo pun hanya terdiam diri dan Ropan segera memulai proses pelubangan sesuatu yang berada di depannya. Proses tersebut berjalan cukup lama, dan bahkan sudah melebihi waktu yang diperkirakan oleh Ropan. Leo ingin bertanya mengenai proses tersebut, tetapi ia tidak ingin mengganggu Ropan yang sedang fokus. Beberapa lama setelah itu, Leo memutuskan untuk bertanya kepada Ropan mengenai proses yang terjadi dan bahkan ia menyarankan untuk memilih pilihan memutarinya saja.
“Ropan, apakah masih lama untuk melubanginya? Jika benda itu tidak bisa dilubangi, lebih baik kita memilih jalan memutar saja… Bukannya aku bermaksud meremehkanmu, tetapi mungkin memang ada beberapa benda yang tidak akan pernah bisa untuk dilubangi… Dan aku tidak bermaksud untuk menyuruhmu menyerah, tetapi waktu yang aku punya saat ini tidaklah banyak… Aku ingin kamu mengerti me-” ucap Leo.
“Apa yang tadi kamu katakan? Aku tidak mendengarnya” ucap Ropan.
“Tidak, aku tidak berkata apapun. Mungkin hanya perasaanmu saja” ucap Leo yang membohongi Ropan.
“Apa benar seperti itu? Sudahlah, lebih baik kita masuk ke dalam area yang telah aku lubangi ini terlebih dahulu” ucap Ropan.
Mereka pun segera memasuki sebuah tempat yang berada tepat setelah lubang yang telah di buat oleh Ropan. Tempat tersebut terlihat sangat asing bagi mereka, terdapat banyak sekali tombol-tombol yang memiliki bentuk sangat aneh. Dan juga terdapat beberapa pakaian dan persenjataan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
__ADS_1
“Tempat apa ini?” tanya Leo.
“Aku pun tidak mengetahuinya, ini merupakan pertama kalinya aku menemukan tempat seindah ini” ucap Ropan.
“Indah? Bukankah tempat ini menyeramkan? Banyak sekali peralatan yang belum pernah aku lihat” ucap Leo.
“Tetapi, aku merasa jika tempat ini sangatlah indah… Dan juga sangat tenang, lebih baik aku tinggal di tempat seperti ini daripada harus berada di tempat yang panas itu” ucap Ropan.
“Kamu tidak boleh seperti itu, alam Afton merupakan tempat asalmu kan? Tempat kamu diciptakan, dan kamu harus menjaga tempat itu. Jika kamu kehilangan tempat asalmu, pasti kamu akan merasa sedih. Percayalah padaku” ucap Leo.
“Aku tahu jika memang akan terjadi seperti itu… Tetapi… Leo, aku sudah tidak kuat… Apalagi jika aku harus melubangi bagian dinding yang lain” ucap Ropan.
“Oh iya, aku baru menyadari jika tanah yang kamu lubangi merupakan dinding tempat ini… Kamu tidak perlu memaksakan dirimu, kita bisa beristirahat sejenak” ucap Leo.
“Tidak, Leo… Bukan itu yang aku maksudkan… Sisanya aku serahkan kepadamu” ucap Ropan.
Tak lama setelah itu, Ropan kehilangan kesadarannya dan menjatuhkan benda misterius yang sebelumnya ingin dilihat oleh Leo. Leo pun terlihat sangat panik untuk menghadapi masalah tersebut.
“Ropan!!! Apa yang terjadi padamu?! Seharusnya kamu tidak perlu memaksakan dirimu! Aku akan mencoba untuk mencari alat pengobatan pada tempat ini agar kamu bisa kembali sadar” ucap Leo.
Leo pun segera mencari peralatan-peralatan yang berada di sekitarnya, tetapi ia tidak melihat adanya satu pun alat yang dapat menyembuhkan Ropan. Leo pun segera mencari beberapa air dan segera kembali menuju ke tempat Ropan berada. Tak lama setelah itu, Leo menyiramkan air tersebut ke badan Ropan dengan berharap ia akan sadar. Tetapi, Ropan belum sadar juga. Tak lama kemudian, Leo melihat benda misterius yang dijatuhkan Ropan pada lantai.
__ADS_1
“apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini karena ia terlalu lama melubangi dinding yang ada? Atau karena ia menyimpan benda misterius ini? Ropan bahkan tidak membiarkanku untuk menyentuhnya, tetapi aku sangat penasaran… Sudahlah lebih baik aku mencari cara untuk menyadarkan Ropan” ucap Leo.
Leo pun kembali mencari beberapa benda yang dikiranya bisa membuat Ropan tersadar kembali, tapi usahanya sia-sia. Tak lama kemudian, Leo mencari dan mengambil sebuah pakaian yang dikiranya cocok untuk menjaga Ropan agar ia tidak kedinginan. Leo pun kembali menuju ke tempat Ropan berada. Saat ia kembali dan berada cukup dekat dengan Ropan, ia seperti tersandung karena sebuah benda yang tak terlihat. Leo pun terjatuh dan ia dengan tidak sengaja menyentuh benda misterius yang berada di lantai yang menyebabkan dirinya juga tidak sadarkan diri.