
“Sambil nunggu, nonton aja yuk!”
“Oh iya, ayok! Nonton apa, nih?”
“Ada ini video konspirasi. Seru loh!”
Seorang siswa mengeluarkan telepon genggam dari dalam tasnya. Berdua,
mereka duduk bersama mengisi waktu luang untuk menonton video konspirasi. Video
tersebut menjelaskan teori tentang keberadaan makhluk hidup selain manusia yang
hidup saling berdampingan bersama kita, namun tidak pernah diketahui oleh
masyarakat luas.
“Masuk akal, kan? Udah aku bilang kita hidup pasti tidak sendirian!” siswa
pertama berusaha menegaskan pendapatnya.
Awalnya, mereka menonton video dengan tenang. Tapi, tidak lama
setelahnya banyak siswa lain juga mulai berdatangan. Mereka penasaran
teman-temannya sedang menonton apa. Suaranya terdengar sangat antusias saat sedang
menonton, membuat yang lain juga ingin ikutan, tidak ingin tertinggal topik
pembicaraan.
Semuanya terpukau, tecengang, dan terkesima terhadap video yang sedang
diputar itu. Meskipun bahasa yang digunakan di dalam video tidak bisa mereka
mengerti sepenuhnya, mereka tetap ikutan merasa takjub saja.
“Jadi makhluk-makhluk aneh, monster, atau alien itu betulan nyata, ya?”
“Katanya sih sebenarnya keberadaan mereka disembunyikan oleh pemerintah.
Mereka takut masyarakat panik. Padahal tidak ada hubungannya, kan?”
Seiring video berjalan, para siswa berdiskusi antara satu dengan yang
lain. Siswa yang setuju dengan teori-teori tersebut, berdebat dengan siswa lain
yang tidak setuju. Namanya juga teori konspirasi. Tidak semuanya bisa
dipercaya, kan?
“Tapi, hati-hati saja dengan manusia yang matanya seperti berlian atau
kristal atau yang seperti itu,” seseorang mengingatkan kepada yang lain.
“Eh? Memangnya kenapa?”
“Itu berarti monster-monster itu sedang menyamar menjadi manusia! Lihat,
nih! Ada penjelasannya,” siswa tadi memajukan videonya. “Mereka sudah berada di
sekitar kita katanya. Banyak bukti dan saksi mata,” dia lanjut menjelaskan isi
video.
Dan setelahnya, grup tersebut semakin besar dan semakin ramai oleh
perbincangan tentang konspirasi-konspirasi. Apakah sebenarnya ada makhluk hidup
selain manusia? Apa yang sedang disembunyikan pemerintah? Apa para monster
benar ada di sekitar kita?
Topik ini sangat menarik, bukan? Kita menjadi penasaran dengan apa yang
sebenarnya terjadi di dalam kehidupan kita, khususnya lingkungan sekitar. Tapi
antusiasme para siswa langsung diganggu dan dirusak oleh guru olahraga yang menerobos
masuk dengan suara peluitnya, berusaha membubarkan gerombolan.
Dia menganggap kita hanya buang-buang waktu saja karena menonton video
yang tidak jelas dan tidak ada maknanya.
Masalahnya, itu bukan suara peluit untuk memberikan aba-aba kepada tim
basket yang sedang latihan. Itu peluit yang sengaja ditiup untuk mengganggu
seluruh siswa-siswi di gedung ini. Suaranya sangat bising, berisik, memekakkan
telinga, pokoknya tidak nyaman!
“Apa sih, Pak? Lagi asyik-asyiknya juga,” seorang siswa mengeluh.
“Iya nih!” Lanjut yang lain.
Priiit!
Peluit ditiup sekali lagi. Guru olahraga itu seperti belum puas mengganggu
para siswa hanya sekali saja. “AYO! LAGI NONTON APA KALIAN!? BUBAR-BUBAR!! WAKTU
ISTIRAHAT HABIS!!!! SEKARANG KEMBALI LATIHAN!!!!” Teriaknya sambil membawa bola
basket di pinggang, sambil berjalan kesana kemari mengusir siswa yang masih bergerombol
beristirahat.
“Untuk apa sih kita ikut latihan kalau sudah ada Laju?” Seorang siswa protes.
“Nah, betul! Dia sendirian cukup, kan? Oh, Laju kamu hebat! Kamu selalu bisa diandalkan!” Seseorang meniru
suara guru yang memuji Laju.
“Hahahaha!” Siswa-siswa di sekitarnya tertawa puas terhadap ejekan itu.
Para siswa yang hanya mengikuti ekstrakulikuler basket untuk
bersenang-senang saja kebingungan. Kenapa mereka harus latihan keras seperti
siswa yang akan mengikuti pertandingan? Lagipula keberadaan mereka tidak
dibutuhkan, kan? Tidak bisakkah mereka menikmati waktunya untuk
bersenang-senang bermain basket?
Di sisi lain, beberapa siswa ada juga yang tidak peduli terhadap
peringatan dari guru olahraga tadi. Mereka justru keluar dari gedung olahraga dan
mencari tempat yang lebih aman untuk kembali menonton video teori konspirasi.
Toh, ini lebih bisa menghibur mereka daripada bosan di dalam gedung olahraga
yang sebagian digunakan dan dikuasai oleh Laju dan timnya ‘sibuk’ latihan untuk
pertandingan.
Shoot!
Sementara itu, idola sekolah kita Laju Pratama, baru saja mencetak tiga
angka yang mulus dengan mudah. Suasana hati guru olahraga yang menyebalkan tadi
langsung membaik melihat siswa kebanggannya tetap dapat diandalkan untuk
mengangkat nama sekolah.
__ADS_1
Begitu juga dengan para siswi yang sedang berteriak histeris di tribun –
yang katanya ingin mendukung tim basket sekolah untuk pertandingan yang akan
datang.
Padahal siswa-siswa lain juga tahu. Mereka datang hanya untuk Laju.
“Bagus, Ju! Tembakan yang manis!” Ucap guru olahraga dengan gestur yes-nya.
“Hahahah! Mudah saja, pak!” Laju tertawa menanggapinya. Setelahnya, dia berlari
mundur mencari posisi. Tapi bukannya menyiapkan kuda-kuda, fokus Laju malah tertuju
pada gerombolan siswa yang masih sibuk membubarkan diri karena asik menonton. “Heh!
Masih percaya saja dengan yang seperti itu?” Laju mendeham.
“JU! LAJU!! AWAS!!!” tiba-tiba ada teriakan dari belakangnya.
Ternyata, ada lemparan bola basket yang melaju dengan sangat cepat ke
arahnya.
Semuanya khawatir dan panik. Harusnya, kepala Laju bisa cedera parah
karena terbentur oleh bola basket yang datang secepat itu. Tapi sebenarnya itu
bukan masalah baginya. Bola tersebut bisa ditangkap dengan baik olehnya. Bahkan,
permainan pun tetap dilanjutkan seperti sedia kala.
Ada alasan mengapa Laju menjadi pemain andalan di tim basket. Refleks
yang dimilikinya sangat baik. Bahkan, mungkin melebihi orang-orang normal pada
umumnya.
“Operan yang bagus, Ju! Hup!” Setelahnya, bola dioper kepada teman yang
lain yang menghasilkan satu poin lagi untuk
tim Laju dengan mudah. “Mantap!” Seru temannya.
Minggu depan ada pertandingan basket dengan SMA Unggul Harapan. Sebenarnya,
ini bukan pertandingan resmi yang diadakan oleh penyelenggara besar. Ini hanya
pertandingan pertemanan dan persahabatan saja.
Atau ya, mungkin lebih tepatnya ini merupakan latihan sparring. Beberapa bulan kedepan akan
ada olimpiade olahraga untuk SMA atau sederajat. Seluruh sekolah dan calon
atlet tentunya akan berjuang keras di ajang yang megah dan meriah tersebut.
Tapi, Laju santai saja menanggapinya.
Dia sebenarnya tidak serius di tim basket ini. Tujuannya bukan menjadi
atlet, melainkan masuk ke universitas terbaik di seluruh negeri, yakni Akademi
Keinsinyuran Negeri. Tapi, jika dia bisa tetap berprestasi dengan memenangkan
pertandingan, kenapa tidak? Satu prestasi yang mudah tidak merugikannya selagi
itu bisa membujuk Akademi agar tidak bisa menolaknya, siswa yang memiliki
segudang prestasi.
Meskipun sebenarnya langkahnya menuju masa depannya pun sudah
diamankannya denan mudah, seperti mencetak angka barusan.
Bagi Laju, hidup memang terlalu mudah.
“Yang mana? Ketika mencetak skor?” Tanya siswi lainnya.
“Bukan! Ketika dia sedang tidak fokus, tapi langsung bisa refleks
menangkap operan bola dengan santai! Dia tidak kaget, loh!!!” Siswi pertama
antusias membahas betapa hebatnya Laju. “Maksudku, dia sedang melihat ke arah
lain. Lalu, bola datang dari arah yang berlawanan, loh! Refleks Laju betul-betul
luar biasa!”
“Oh iya aku lihat! Lalu setelahnya dia dengan mudah mengecoh musuh! Gerakannya
sangat lincah! Syiu-Syiu!!!” Seru siswi lain dari di atasnya, ikut perbincangan
tentang kejadian barusan.
“Ya! Dia memang hebat, ya!”
“Iya, kan!!!”
“Tidak hanya pintar, Laju juga punya bakat yang hebat! Aku takjub
banget. Padahal baru kelas 11, loh!?”
Dan perbincangan terus dilanjutkan.
“Haahh…, sepertinya hidup Laju mudah, ya. Nilai sempurna, tubuh yang bagus,
banyak prestasi, orang tuanya juga kaya, kan? Masa depannya sudah pasti terjamin!”
“Ingin ya menjadi seperti Laju.”
Para siswi di tribun terus memuji dan memuja Laju, juga berandai-andai
bagaimana kehidupan yang dialami oleh Laju. Betapa kerennya ini, betapa
hebatnya itu. Baru ini, bisa begitu. Bisa seperti ini, bisa seperti itu. Seperti
tidak ada habisnya.
Mereka sudah seperti penggemar sejati bagi Laju sang Idola.
Tapi, tentu saja tidak semua orang menyukai Laju.
Dari lantai dua di gedung utama sebelah, dengan gorden yang sedikit
tertutup, seorang pria berkumis melihat gedung olahraga dengan tatapan sinis.
“Dia masih asyik latihan basket?” Seorang pria dengan label kepala
sekolah di tangannya bertanya di dalam ruangan yang pengap.
“Iya, Pak.”
“Anak itu memang tidak lelah pamer karisma, ya. Cih!” Dia mendengus.
Lalu menutup gorden dan menjatuhkan diri di atas kursi empuknya. “Apalagi tidak
ada yang bisa melihat warna aslinya. Ini merepotkan,” lanjutnya dengan suara
yang berat.
Di dalam ruangan ini sebenarnya ada pendingin yang berjalan dengan normal.
Tapi, mungkin karena diisi oleh orang-orang yang sedang super serius, juga yang
super takut, atau bahkan juga yang kebingungan, membuat atmosfirnya seakan berat
dan panas.
__ADS_1
Tuk Tuk!
Pria tadi mengetuk jarinya di atas meja. Membuat suasana lebih mencekam
bagi orang di sekitarnya. Suasana hatinya sedang buruk. Jangan salah ambil
langkah atau kau akan menjadi target kemarahannya.
“Jadi bagaimana? Apakah urusan yang saya berikan sudah kalian
selesaikan?” Dan dengan begitu, tujuan pertemuan kali ini untuk membongkar tingkah-tingkah
mencurigakan yang Laju sembunyikan pun dimulai.
Pak Kepala Sekolah sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa Laju bukanlah anak
yang beprestasi yang memiliki masa depan cerah dan terjamin, seperti yang
dikatakan orang-orang. Dia anak yang bermasalah dan harus disingkirkan sekarang
juga sebelum terlambat, atau sekolah juga yang akan kena imbasnya. Tapi apa
buktinya?
“Dia memang sedikit menyebalkan. Tapi, apakah semua ini penting untuk
dilakukan, pak?” Tanya seorang guru yang kebingungan.
“Justru untuk itulah saya memberikan tugas kepada kalian. Kalau memang
diselesaikan dengan baik kamu pasti akan tutup mulut juga.” Jawab sang kepala
sekolah yang terkesan lebih pada ancaman.
Dengan memberikan tugas-tugas kepada para petugas dan guru sekolah
lainnya, kepala sekolah bekerja sama berusaha menyelidiki gerak-gerik Laju yang
mencurigakan yang dapat membatalkan surat undangan Akademi dan mengagalkan
semua popularitasnya. Bahkan kalau perlu sampai mengeluarkannya dari sekolahan.
“Tapi yang jadi permasalahan sekarang adalah surat undangan itu. Ini
penting juga untuk reputasi sekolah kita. Kita tidak bisa seenaknya membatalkan
kepada pihak Akademi. Laju harus digantikan dengan siswa lain. Tapi katanya Pak
Ahmad sudah punya solusinya. Bagaimana, Pak?” Tanya sang Kepala Sekolah.
“Tentunya sulit sekali mendapatkan siswa yang luar biasa seperti Laju,
Pak. Dia bukan manusia biasa. Tapi, setidaknya saya mendapatkan seorang yang bisa
menyaingi kemampuan akademis Laju,” Pak Ahmad menjawab kepala sekolah sembari
memperkenalkan seorang siswa di sebelahnya. “Ini Fadli. Dia murid kelas 11-A,”
lanjut Pak Ahmad.
“Selamat siang Fadli. Maaf ya sudah merpotkan kamu sampai seperti ini,” ucap
Kepala Sekolah dengan manis.
“Eh, Um… iya, Pak. Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih telah memilih saya,
Pak.”
“Terima kasihnya nanti saja. Justru mungkin saya harus lebih banyak meminta
maaf kepada kamu. Tapi sebelumnya, apakah kamu mengenal Laju?” tanya Kepala Sekolah.
“Lu-lumayan kenal, Pak. Kami tidak satu kelas, tapi teman-teman memang
sering membicarakannya. Saya ser-… pernah berbicara dengan Laju beberapa kali.
Di-dia sebenar-… Tapi kita bukan teman dekat, Pak. Saya ***- Apakah saya juga
boleh…, Saya tertarik dengan rencana bapak untuk menyelidiki tingkah
men-mencurigakan Laju. Apakah saya boleh ikut, Pak?” Jawab Fadli terbata-bata.
“Kita semua masih mencari bukti. Tapi kamu tidak perlu merepotkan hal
itu, Biarkan kami saja yang mengurusnya,” Kepala Sekolah mengambil surat
undangan Akademi dari laci. “Menjadi Laju memang tidak mudah. Dia memang
manusia spesial. Tapi setidaknya, kamu harus menjadi Fadli yang pantas
mendapatkan dan mempertahankan surat undangan ini, ya!” Surat undangan
diberikan kepada Fadli. “Katanya kamu juga berencana masuk ke Akademi
Keinsinyuran Negeri?”
“Be-betul, Pak!” jawab Fadli antusias.
“Bagus. Kalau begitu kita satu tujuan, kan? Saya harap Fadli bisa
belajar lebih giat untuk mempertahankan nilai, ya,” ucap Kepala Sekolah sembari
tersenyum. “Sekarang Fadli boleh keluar. Terima kasih.”
“Baik, pak!” Surat undangan pun dipegang oleh Fadli. Dia bersemangat.
Dia keluar dari ruangan dan kembali ke kelas dengan antusias. Meskipun masih
banyak hal yang ingin disampaikannya namun tidak sempat, itu tidak masalah.
Dengan ini, dia bisa lebih fokus kepada hidupnya, daripada mengurusi tentang
perkara balas dendam.
“Baiklah, satu masalah setidaknya sudah diurus. Aku harap Fadli bisa diharapkan
ya, Pak Ahmad?” tanya Kepala Sekolah dengan serius lagi.
“Tenang, Pak. Akan saya awasi 24 jam untuk membuat anak itu tetap bisa
mempertahankan surat undangan,” jawab Pak Ahmad saat kembali duduk dengan
tegap.
“Baik. Selanjutnya, bagaimana kita membuat pihak Akademi tidak curiga
bahwa Laju telah digantikan dengan siswa lain? Tapi apakah mereka peduli dengan
nama Laju?”
“Setidaknya, Pak. Untuk permasalahan Laju dalam mengusirnya, kita bisa
memanipulasi bahwa dia telah berbuat curang saat mengisi identitas untuk
akademi,” usul seorang guru. “Dia tidak bisa berbuat apa-apa, tidak ada bukti untuk
melawan. Kita pun tidak perlu membantunya.”
Pak Kepala Sekolah diam memikirkan sesuatu.
Dia melirik guru dan petugas lain di sekitarnya, seakan meminta pendapat
terhadap usulan tersebut. Tapi, tidak ada yang merespon kepada tanggapan kepala
sekolah. Entahlah mereka setuju, atau tidak ingin merepotkan dirinya sendiri.
“Baik. Kita gunakan saja ide tersebut,” ucap Kepala Sekolah dengan
__ADS_1
sigap.