Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 1


__ADS_3

“Sambil nunggu, nonton aja yuk!”


“Oh iya, ayok! Nonton apa, nih?”


“Ada ini video konspirasi. Seru loh!”


Seorang siswa mengeluarkan telepon genggam dari dalam tasnya. Berdua,


mereka duduk bersama mengisi waktu luang untuk menonton video konspirasi. Video


tersebut menjelaskan teori tentang keberadaan makhluk hidup selain manusia yang


hidup saling berdampingan bersama kita, namun tidak pernah diketahui oleh


masyarakat luas.


“Masuk akal, kan? Udah aku bilang kita hidup pasti tidak sendirian!” siswa


pertama berusaha menegaskan pendapatnya.


Awalnya, mereka menonton video dengan tenang. Tapi, tidak lama


setelahnya banyak siswa lain juga mulai berdatangan. Mereka penasaran


teman-temannya sedang menonton apa. Suaranya terdengar sangat antusias saat sedang


menonton, membuat yang lain juga ingin ikutan, tidak ingin tertinggal topik


pembicaraan.


Semuanya terpukau, tecengang, dan terkesima terhadap video yang sedang


diputar itu. Meskipun bahasa yang digunakan di dalam video tidak bisa mereka


mengerti sepenuhnya, mereka tetap ikutan merasa takjub saja.


“Jadi makhluk-makhluk aneh, monster, atau alien itu betulan nyata, ya?”


“Katanya sih sebenarnya keberadaan mereka disembunyikan oleh pemerintah.


Mereka takut masyarakat panik. Padahal tidak ada hubungannya, kan?”


Seiring video berjalan, para siswa berdiskusi antara satu dengan yang


lain. Siswa yang setuju dengan teori-teori tersebut, berdebat dengan siswa lain


yang tidak setuju. Namanya juga teori konspirasi. Tidak semuanya bisa


dipercaya, kan?


“Tapi, hati-hati saja dengan manusia yang matanya seperti berlian atau


kristal atau yang seperti itu,” seseorang mengingatkan kepada yang lain.


“Eh? Memangnya kenapa?”


“Itu berarti monster-monster itu sedang menyamar menjadi manusia! Lihat,


nih! Ada penjelasannya,” siswa tadi memajukan videonya. “Mereka sudah berada di


sekitar kita katanya. Banyak bukti dan saksi mata,” dia lanjut menjelaskan isi


video.


Dan setelahnya, grup tersebut semakin besar dan semakin ramai oleh


perbincangan tentang konspirasi-konspirasi. Apakah sebenarnya ada makhluk hidup


selain manusia? Apa yang sedang disembunyikan pemerintah? Apa para monster


benar ada di sekitar kita?


Topik ini sangat menarik, bukan? Kita menjadi penasaran dengan apa yang


sebenarnya terjadi di dalam kehidupan kita, khususnya lingkungan sekitar. Tapi


antusiasme para siswa langsung diganggu dan dirusak oleh guru olahraga yang menerobos


masuk dengan suara peluitnya, berusaha membubarkan gerombolan.


Dia menganggap kita hanya buang-buang waktu saja karena menonton video


yang tidak jelas dan tidak ada maknanya.


Masalahnya, itu bukan suara peluit untuk memberikan aba-aba kepada tim


basket yang sedang latihan. Itu peluit yang sengaja ditiup untuk mengganggu


seluruh siswa-siswi di gedung ini. Suaranya sangat bising, berisik, memekakkan


telinga, pokoknya tidak nyaman!


“Apa sih, Pak? Lagi asyik-asyiknya juga,” seorang siswa mengeluh.


“Iya nih!” Lanjut yang lain.


Priiit!


Peluit ditiup sekali lagi. Guru olahraga itu seperti belum puas mengganggu


para siswa hanya sekali saja. “AYO! LAGI NONTON APA KALIAN!? BUBAR-BUBAR!! WAKTU


ISTIRAHAT HABIS!!!! SEKARANG KEMBALI LATIHAN!!!!” Teriaknya sambil membawa bola


basket di pinggang, sambil berjalan kesana kemari mengusir siswa yang masih bergerombol


beristirahat.


“Untuk apa sih kita ikut latihan kalau sudah ada Laju?” Seorang siswa protes.


“Nah, betul! Dia sendirian cukup, kan? Oh, Laju kamu hebat! Kamu selalu bisa diandalkan!” Seseorang meniru


suara guru yang memuji Laju.


“Hahahaha!” Siswa-siswa di sekitarnya tertawa puas terhadap ejekan itu.


Para siswa yang hanya mengikuti ekstrakulikuler basket untuk


bersenang-senang saja kebingungan. Kenapa mereka harus latihan keras seperti


siswa yang akan mengikuti pertandingan? Lagipula keberadaan mereka tidak


dibutuhkan, kan? Tidak bisakkah mereka menikmati waktunya untuk


bersenang-senang bermain basket?


Di sisi lain, beberapa siswa ada juga yang tidak peduli terhadap


peringatan dari guru olahraga tadi. Mereka justru keluar dari gedung olahraga dan


mencari tempat yang lebih aman untuk kembali menonton video teori konspirasi.


Toh, ini lebih bisa menghibur mereka daripada bosan di dalam gedung olahraga


yang sebagian digunakan dan dikuasai oleh Laju dan timnya ‘sibuk’ latihan untuk


pertandingan.


Shoot!


Sementara itu, idola sekolah kita Laju Pratama, baru saja mencetak tiga


angka yang mulus dengan mudah. Suasana hati guru olahraga yang menyebalkan tadi


langsung membaik melihat siswa kebanggannya tetap dapat diandalkan untuk


mengangkat nama sekolah.

__ADS_1


Begitu juga dengan para siswi yang sedang berteriak histeris di tribun –


yang katanya ingin mendukung tim basket sekolah untuk pertandingan yang akan


datang.


Padahal siswa-siswa lain juga tahu. Mereka datang hanya untuk Laju.


“Bagus, Ju! Tembakan yang manis!” Ucap guru olahraga dengan gestur yes-nya.


“Hahahah! Mudah saja, pak!” Laju tertawa menanggapinya. Setelahnya, dia berlari


mundur mencari posisi. Tapi bukannya menyiapkan kuda-kuda, fokus Laju malah tertuju


pada gerombolan siswa yang masih sibuk membubarkan diri karena asik menonton. “Heh!


Masih percaya saja dengan yang seperti itu?” Laju mendeham.


“JU! LAJU!! AWAS!!!” tiba-tiba ada teriakan dari belakangnya.


Ternyata, ada lemparan bola basket yang melaju dengan sangat cepat ke


arahnya.


Semuanya khawatir dan panik. Harusnya, kepala Laju bisa cedera parah


karena terbentur oleh bola basket yang datang secepat itu. Tapi sebenarnya itu


bukan masalah baginya. Bola tersebut bisa ditangkap dengan baik olehnya. Bahkan,


permainan pun tetap dilanjutkan seperti sedia kala.


Ada alasan mengapa Laju menjadi pemain andalan di tim basket. Refleks


yang dimilikinya sangat baik. Bahkan, mungkin melebihi orang-orang normal pada


umumnya.


“Operan yang bagus, Ju! Hup!” Setelahnya, bola dioper kepada teman yang


lain  yang menghasilkan satu poin lagi untuk


tim Laju dengan mudah. “Mantap!” Seru temannya.


Minggu depan ada pertandingan basket dengan SMA Unggul Harapan. Sebenarnya,


ini bukan pertandingan resmi yang diadakan oleh penyelenggara besar. Ini hanya


pertandingan pertemanan dan persahabatan saja.


Atau ya, mungkin lebih tepatnya ini merupakan latihan sparring. Beberapa bulan kedepan akan


ada olimpiade olahraga untuk SMA atau sederajat. Seluruh sekolah dan calon


atlet tentunya akan berjuang keras di ajang yang megah dan meriah tersebut.


Tapi, Laju santai saja menanggapinya.


Dia sebenarnya tidak serius di tim basket ini. Tujuannya bukan menjadi


atlet, melainkan masuk ke universitas terbaik di seluruh negeri, yakni Akademi


Keinsinyuran Negeri. Tapi, jika dia bisa tetap berprestasi dengan memenangkan


pertandingan, kenapa tidak? Satu prestasi yang mudah tidak merugikannya selagi


itu bisa membujuk Akademi agar tidak bisa menolaknya, siswa yang memiliki


segudang prestasi.


Meskipun sebenarnya langkahnya menuju masa depannya pun sudah


diamankannya denan mudah, seperti mencetak angka barusan.


Bagi Laju, hidup memang terlalu mudah.


“Yang mana? Ketika mencetak skor?” Tanya siswi lainnya.


“Bukan! Ketika dia sedang tidak fokus, tapi langsung bisa refleks


menangkap operan bola dengan santai! Dia tidak kaget, loh!!!” Siswi pertama


antusias membahas betapa hebatnya Laju. “Maksudku, dia sedang melihat ke arah


lain. Lalu, bola datang dari arah yang berlawanan, loh! Refleks Laju betul-betul


luar biasa!”


“Oh iya aku lihat! Lalu setelahnya dia dengan mudah mengecoh musuh! Gerakannya


sangat lincah! Syiu-Syiu!!!” Seru siswi lain dari di atasnya, ikut perbincangan


tentang kejadian barusan.


“Ya! Dia memang hebat, ya!”


“Iya, kan!!!”


“Tidak hanya pintar, Laju juga punya bakat yang hebat! Aku takjub


banget. Padahal baru kelas 11, loh!?”


Dan perbincangan terus dilanjutkan.


“Haahh…, sepertinya hidup Laju mudah, ya. Nilai sempurna, tubuh yang bagus,


banyak prestasi, orang tuanya juga kaya, kan? Masa depannya sudah pasti terjamin!”


“Ingin ya menjadi seperti Laju.”


Para siswi di tribun terus memuji dan memuja Laju, juga berandai-andai


bagaimana kehidupan yang dialami oleh Laju. Betapa kerennya ini, betapa


hebatnya itu. Baru ini, bisa begitu. Bisa seperti ini, bisa seperti itu. Seperti


tidak ada habisnya.


Mereka sudah seperti penggemar sejati bagi Laju sang Idola.


Tapi, tentu saja tidak semua orang menyukai Laju.


Dari lantai dua di gedung utama sebelah, dengan gorden yang sedikit


tertutup, seorang pria berkumis melihat gedung olahraga dengan tatapan sinis.


“Dia masih asyik latihan basket?” Seorang pria dengan label kepala


sekolah di tangannya bertanya di dalam ruangan yang pengap.


“Iya, Pak.”


“Anak itu memang tidak lelah pamer karisma, ya. Cih!” Dia mendengus.


Lalu menutup gorden dan menjatuhkan diri di atas kursi empuknya. “Apalagi tidak


ada yang bisa melihat warna aslinya. Ini merepotkan,” lanjutnya dengan suara


yang berat.


Di dalam ruangan ini sebenarnya ada pendingin yang berjalan dengan normal.


Tapi, mungkin karena diisi oleh orang-orang yang sedang super serius, juga yang


super takut, atau bahkan juga yang kebingungan, membuat atmosfirnya seakan berat


dan panas.

__ADS_1


Tuk Tuk!


Pria tadi mengetuk jarinya di atas meja. Membuat suasana lebih mencekam


bagi orang di sekitarnya. Suasana hatinya sedang buruk. Jangan salah ambil


langkah atau kau akan menjadi target kemarahannya.


“Jadi bagaimana? Apakah urusan yang saya berikan sudah kalian


selesaikan?” Dan dengan begitu, tujuan pertemuan kali ini untuk membongkar tingkah-tingkah


mencurigakan yang Laju sembunyikan pun dimulai.


Pak Kepala Sekolah sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa Laju bukanlah anak


yang beprestasi yang memiliki masa depan cerah dan terjamin, seperti yang


dikatakan orang-orang. Dia anak yang bermasalah dan harus disingkirkan sekarang


juga sebelum terlambat, atau sekolah juga yang akan kena imbasnya. Tapi apa


buktinya?


“Dia memang sedikit menyebalkan. Tapi, apakah semua ini penting untuk


dilakukan, pak?” Tanya seorang guru yang kebingungan.


“Justru untuk itulah saya memberikan tugas kepada kalian. Kalau memang


diselesaikan dengan baik kamu pasti akan tutup mulut juga.” Jawab sang kepala


sekolah yang terkesan lebih pada ancaman.


Dengan memberikan tugas-tugas kepada para petugas dan guru sekolah


lainnya, kepala sekolah bekerja sama berusaha menyelidiki gerak-gerik Laju yang


mencurigakan yang dapat membatalkan surat undangan Akademi dan mengagalkan


semua popularitasnya. Bahkan kalau perlu sampai mengeluarkannya dari sekolahan.


“Tapi yang jadi permasalahan sekarang adalah surat undangan itu. Ini


penting juga untuk reputasi sekolah kita. Kita tidak bisa seenaknya membatalkan


kepada pihak Akademi. Laju harus digantikan dengan siswa lain. Tapi katanya Pak


Ahmad sudah punya solusinya. Bagaimana, Pak?” Tanya sang Kepala Sekolah.


“Tentunya sulit sekali mendapatkan siswa yang luar biasa seperti Laju,


Pak. Dia bukan manusia biasa. Tapi, setidaknya saya mendapatkan seorang yang bisa


menyaingi kemampuan akademis Laju,” Pak Ahmad menjawab kepala sekolah sembari


memperkenalkan seorang siswa di sebelahnya. “Ini Fadli. Dia murid kelas 11-A,”


lanjut Pak Ahmad.


“Selamat siang Fadli. Maaf ya sudah merpotkan kamu sampai seperti ini,” ucap


Kepala Sekolah dengan manis.


“Eh, Um… iya, Pak. Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih telah memilih saya,


Pak.”


“Terima kasihnya nanti saja. Justru mungkin saya harus lebih banyak meminta


maaf kepada kamu. Tapi sebelumnya, apakah kamu mengenal Laju?” tanya Kepala Sekolah.


“Lu-lumayan kenal, Pak. Kami tidak satu kelas, tapi teman-teman memang


sering membicarakannya. Saya ser-… pernah berbicara dengan Laju beberapa kali.


Di-dia sebenar-… Tapi kita bukan teman dekat, Pak. Saya ***- Apakah saya juga


boleh…, Saya tertarik dengan rencana bapak untuk menyelidiki tingkah


men-mencurigakan Laju. Apakah saya boleh ikut, Pak?” Jawab Fadli terbata-bata.


“Kita semua masih mencari bukti. Tapi kamu tidak perlu merepotkan hal


itu, Biarkan kami saja yang mengurusnya,” Kepala Sekolah mengambil surat


undangan Akademi dari laci. “Menjadi Laju memang tidak mudah. Dia memang


manusia spesial. Tapi setidaknya, kamu harus menjadi Fadli yang pantas


mendapatkan dan mempertahankan surat undangan ini, ya!” Surat undangan


diberikan kepada Fadli. “Katanya kamu juga berencana masuk ke Akademi


Keinsinyuran Negeri?”


“Be-betul, Pak!” jawab Fadli antusias.


“Bagus. Kalau begitu kita satu tujuan, kan? Saya harap Fadli bisa


belajar lebih giat untuk mempertahankan nilai, ya,” ucap Kepala Sekolah sembari


tersenyum. “Sekarang Fadli boleh keluar. Terima kasih.”


“Baik, pak!” Surat undangan pun dipegang oleh Fadli. Dia bersemangat.


Dia keluar dari ruangan dan kembali ke kelas dengan antusias. Meskipun masih


banyak hal yang ingin disampaikannya namun tidak sempat, itu tidak masalah.


Dengan ini, dia bisa lebih fokus kepada hidupnya, daripada mengurusi tentang


perkara balas dendam.


“Baiklah, satu masalah setidaknya sudah diurus. Aku harap Fadli bisa diharapkan


ya, Pak Ahmad?” tanya Kepala Sekolah dengan serius lagi.


“Tenang, Pak. Akan saya awasi 24 jam untuk membuat anak itu tetap bisa


mempertahankan surat undangan,” jawab Pak Ahmad saat kembali duduk dengan


tegap.


“Baik. Selanjutnya, bagaimana kita membuat pihak Akademi tidak curiga


bahwa Laju telah digantikan dengan siswa lain? Tapi apakah mereka peduli dengan


nama Laju?”


“Setidaknya, Pak. Untuk permasalahan Laju dalam mengusirnya, kita bisa


memanipulasi bahwa dia telah berbuat curang saat mengisi identitas untuk


akademi,” usul seorang guru. “Dia tidak bisa berbuat apa-apa, tidak ada bukti untuk


melawan. Kita pun tidak perlu membantunya.”


Pak Kepala Sekolah diam memikirkan sesuatu.


Dia melirik guru dan petugas lain di sekitarnya, seakan meminta pendapat


terhadap usulan tersebut. Tapi, tidak ada yang merespon kepada tanggapan kepala


sekolah. Entahlah mereka setuju, atau tidak ingin merepotkan dirinya sendiri.


“Baik. Kita gunakan saja ide tersebut,” ucap Kepala Sekolah dengan

__ADS_1


sigap.


__ADS_2