Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 16


__ADS_3

Kondisi kereta sangatlah mengenaskan.


Gerbong tiga, empat, lima, tujuh, delapan, dan sembilan tidak perlu ditanya


lagi. Mereka hancur tak bersisa bersamaan dengan pusat ledakan yang terjadi di


gerbong enam. Meskipun begitu, ada berita baik dimana gerbong dua dan sepuluh


yang terpotong separuh masih mengindikasikan titik-titik kehidupan. Tapi,


kehidupan yang dimaksud pun para korban selamat yang sekarat. Jika mereka tidak


diberikan pertolongan pertama dengan cepat, mereka tidak bisa terselamatkan.


Untuk para korban selamat yang sudah sadar, nampaknya mereka belum siap


untuk keluar dan memastikan apa yang baru saja menimpa mereka, selain menyadari


dirinya terperangkap di dalam kereta yang tidak akan berfungsi lagi. Mereka


masih berdiam berlindung, takut akan adanya serangan susulan yang tidak bisa diperkirakan.


Masing-masing dari mereka berharap kepada korban selamat lain, untuk


segera meminta bantuan. Tentu saja itu hanya harapan dari suara hati mereka. Karena,


tidak ada yang bisa dan berani bersuara. Tubuh mereka tertimbun puing kereta!


Meskipun demikian, di reruntuhan gerbong dua, di bawah reruntuhan dan


puing kereta, terlihat gerakan-gerakan yang tidak normal.


Sepertinya, seorang korban selamat sedang berusaha menyelamatkan diri,


berusaha keluar dari puing-puing kereta yang menimbunnya. Apakah dia akan


segera memanggil bala bantuan dan tim evakuasi? Nyatanya tidak. Karena yang


baru saja keluar dari puing-puing itu, korban selamat itu, ternyata si kakak.


Seorang pria yang dipanggil kakak pada saat mereka berkunjung pada


gerbong kosong, gerbong sepuluh, tempat Laju dan Delphia disekap.


“Ugh!” Keluhnya ketika memindah-mindahkan puing-puing kereta yang


mengganggunya. “Dek!?” Teriaknya memanggil adiknya yang belum terlihat


keberadaannya.


Puing-puing kereta yang berbahan besi itu, yang tidak mungkin ringan


karena beratnya yang ratusan kilo itu, ternyata diangkatnya dengan mudah. Ada


apa dengan orang-orang disini!? Perawakan sang kakak sebenarnya masih menyerupai


manusia normal pada umumnya, meskipun terdapat perubahan fisik ketika terakhir


kali sang kakak mengunjungi gerbong sepuluh.


Beberapa jam lalu, perawakannya masih normal, seperti pria biasa berumur


30-an yang tidak kurus maupun tidak gemuk dengan tinggi sekitar 180 senti.


Namun, perawakannya sekarang sudah berubah menjadi sangat besar dengan tinggi sekitar


tiga meter yang juga diisi oleh otot-otot yang sangat gagah.


Mungkin inilah alasan mengapa dia bisa menenteng puing kereta yang berat


itu dengan mudah, seperti beratnya hanya puluhan kilo saja.


Setelah beberapa lama puing dipindahkan, akhirnya sang kakak melihat sebuah


kehidupan di bawah sebuah puing. Bukan lagi piringan besi, metal, atau bahkan


kaca dari jendela yang berwarna abu-abu. Ada sesuatu yang berwarna coklat muda


seperti kulit manusia, yang ternyata memang terdapat korban di bawah puing


tersebut.


Itu adiknya.


Sayangnya, dia tidak sadarkan diri.


“Haah,” keluh sang kakak melihat adiknya yang tidak sadarkan diri


setelah memindahkan puluhan puing di sekitarnya. “Tidak hanya rencana yang amburadul,


hasil yang harus dibayar pun tidak main-main,” lanjut sang kakak.


Serupa dengan puing, sang adik pun dipindahkan terlebih dahulu di suatu


tempat khusus, di luar puing kereta, untuk mengamankannya. Setelahnya, barulah sang

__ADS_1


kakak kembali mengangkat puing untuk mencari korban selamat lainnya.


Tapi, yang dicari sang kakak bukanlah korban sembarangan.


Karena, ketika dia baru saja mendapati korban selamat lainnya yang


ternyata hanya masyarakat umum yang tidak ia kenali, atau bahkan makhluk aneh


yang bukanlah manusia, sang kakak malah mengeluh dan tidak lanjut menyelamatkan


korban tersebut.


Mungkin sang kakak hanya mencari rekan-rekannya saja.


Sembari sang kakak sibuk dengan urusannya, dari horizon tempat tujuan


kereta berada, muncul siluet burung yang sedang terbang mendekati kereta dengan


diam.


Padahal, dia adalah gagak. Kenapa dia bisa mengepakkan sayapnya dengan


sunyi tanpa suara seperti burung hantu?


Yang penting, setelahnya dia malah bertengger pada salah satu pohon


untuk mengawasi sang kakak yang terus mengevakuasi dan memindahkan banyak


puing-puing besi dari kereta yang baru saja meledak.


Dengan mata ungu dan pupil tajamnya yang berwarna biru, bertengger


ratusan meter dari sang kakak tidak menyulitkannya untuk mengamatinya dengan


jelas.


Itu ternyata Iris.


Iris Ravenson.


Setelah beberapa saat mengamati perawakan dan tingkah sang kakak, dia


dapat menilai dan menyimpulkan bahwa sang kakak hanyalah seorang bandit biasa


yang tidak ada urusannya sama sekali dengan politik di kotanya, dengan kelompok Venom Snake itu.


Apakah Parker hanya paranoid?


Tapi ketakutan Parker patut dipertanyakan. Dia tidak mungkin paranoid


untuk hal yang tidak penting. Maka dari itu, Iris pun menyaksikan lebih seksama


membuang puing-puing besi.


“Haah…,” keluh sang kakak setelah lebih dari dua jam memindahkan


puing-puing besi tersebut. Karena memang sifat dasar manusia untuk merasa


lelah, sang kakak pun merasa tidak kuat untuk mengangkat puing besi lainnya.


Tapi, dia belum menemukan sisa kawannya yang lain. Dia mengalihkan


pandangannya pada barisan korban selamat yang merupakan kawannya – yang juga terdapat


adiknya di dalam barisan tersebut. Lalu, dia pindahkan lagi pandangannya kepada


gerbong kereta di depannya. “Satu lagi, ya,” ucapnya mengusap peluh.


Bukannya lanjut menyingkirkan puing, dia malah menghentikkan


pencariannya untuk pergi ke barisan kawannya yang masih pingsan untuk mengambil


sebuah tas.


Tas tersebut kemudian dibukanya untuk mengambil sebuah kotak penyimpanan.


Ternyata, kotak penyimpanan tersebut menyimpan tujuh suntikan yang sudah kosong


dan dua yang masih terisi penuh.


Iris yang masih mengawasi lumayan terkejut terhadap keberadaan suntikan


tersebut.


Masalahnya, setelah salah satu suntikan tersebut diinjeksikan kepada


sang kakak, fisik sang kakak berubah menjadi lebih drastis lagi.


Otot-ototnya lebih mengeras, tubuhnya membesar hingga mencapai tinggi


tiga meter lebih, bulu-bulu perlahan timbul di sekitar tubuhnya, muncul tanduk


di kepalanya, merubah tubuhnya menjadi bentuk yang bukan manusia lagi.


Iris terperanjat melihat perubahan yang terjadi pada tubuh sang kakak.

__ADS_1


Meskipun sang kakak masih berdiri dengan dua kakinya, perwujudan dan


fisik sang kakak kali ini seperti penggabungan antara banteng dan manusia yang


menjadi satu.


Ketika Iris perhatikan lebih jeli lagi, bentuk kaki dari sang kakak berubah


total menjadi kaki banteng dengan sendi-sendi uniknya, dengan telapak kaki yang


besar, dan dua kuku di depannya.


Setelah perubahan tubuh selesai, sang kakak kembali memindahkan


puing-puing besi lainnya. Sekarang, bukan lagi masalah beban puing yang berkurang


menjadi puluhan kilo, puing kereta ini sudah seperti mengangkat kertas saking


mudahnya!


Beberapa waktu setelahnya, akhirnya sang kakak berhasil menemukan penampakan


manusia terakhir yang merupakan kawannya yang pingsan. Sang kakak pun tersenyum


lega. Setelahnya, dia mulai menggotong kawannya yang tak sadarkan diri


tersebut, bersamaan dengan semua komplotannya, termasuk adiknya juga.


Dengan total membawa enam pria dengan jenjang umur 20-30 tahun. Sang


kakak menggotong mereka sekaligus di bahunya seperti tidak ada masalah.


Memang, dengan perawakannya yang sangat besar, tinggi, dan lebar itu


memberikan banyak keuntungan untuknya di beberapa hal. Tapi, menggotong pria dewasa


berjumlah enam orang sekaligus bukanlah hal yang main-main.


Iris harus tahu tempat persembunyian bandit-bandit ini, ******* ini,


penjahat ini, atau apapun kalian ingin menyebutnya. Suntikan dan serum tersebut


yang merubah fisik sang kakak merupakan suatu hal yang patut dicurigai.


Dan dengan begitu, Iris perlahan mengepakkan sayapnya, melayang, terbang


di antara pohon yang tinggi, mengikuti langkah sang kakak yang pergi berlawanan


dari arah datangnya.


Ada satu hal lagi yang menarik perhatian Iris. Perawakannya yang besar, juga


beban beratnya yang diangkutnya tidak sedikitpun membuat langkahnya menjadi


lemah dan lambat. Untuk seseorang dengan besar seperti ukurannya, untuk seorang


yang mengangkat beban yang tidak main-main, sang kakak ini sangat cepat!


Sampai pada suatu titik, sang kakak memutuskan untuk berdiri diam dan menghentikkan


jalannya.


Ada apa?


Apa mereka sudah sampai di markasnya?


Tidak mungkin. Ini terlalu cepat.


Hanya orang bodoh yang dengan mudah menunjukkan rahasia besarnya ke publik,


yakni markasnya, apalagi seorang tersebut adalah seorang penjahat yang mungkin


terlibat dalam ledakan kereta dahsyat pagi ini yang menghancurkan tujuh gerbong


sekaligus.


Menurut Iris, harusnya sang kakak ini sedikit lebih pintar dalam memilih


lokasi markasnya. Dan memang itulah yang terjadi. Karena sang kakak bukannya


berhenti karena sudah sampai di markasnya. Tapi, mereka berhenti karena bertemu


dengan Laju dan Delphia yang sedang berjalan santai.


Iris penasaran.


Siapa mereka? Apakah mereka saling berhubungan? Apakah keduanya


komplotan yang sama? Tapi kehadiran kedua bocah itu terlalu janggal. Mereka


seperti bocah hilang yang tidak tahu jalan pulang. Jadi, mereka hanya bertemu


karena ketebulan saja?


Entahlah apa jawabannya, itu akan terjawab satu detik lagi.

__ADS_1


Iris lebih baik menikmati pertemuan yang aneh ini, dengan senyum usil


khasnya.


__ADS_2