
Kondisi kereta sangatlah mengenaskan.
Gerbong tiga, empat, lima, tujuh, delapan, dan sembilan tidak perlu ditanya
lagi. Mereka hancur tak bersisa bersamaan dengan pusat ledakan yang terjadi di
gerbong enam. Meskipun begitu, ada berita baik dimana gerbong dua dan sepuluh
yang terpotong separuh masih mengindikasikan titik-titik kehidupan. Tapi,
kehidupan yang dimaksud pun para korban selamat yang sekarat. Jika mereka tidak
diberikan pertolongan pertama dengan cepat, mereka tidak bisa terselamatkan.
Untuk para korban selamat yang sudah sadar, nampaknya mereka belum siap
untuk keluar dan memastikan apa yang baru saja menimpa mereka, selain menyadari
dirinya terperangkap di dalam kereta yang tidak akan berfungsi lagi. Mereka
masih berdiam berlindung, takut akan adanya serangan susulan yang tidak bisa diperkirakan.
Masing-masing dari mereka berharap kepada korban selamat lain, untuk
segera meminta bantuan. Tentu saja itu hanya harapan dari suara hati mereka. Karena,
tidak ada yang bisa dan berani bersuara. Tubuh mereka tertimbun puing kereta!
Meskipun demikian, di reruntuhan gerbong dua, di bawah reruntuhan dan
puing kereta, terlihat gerakan-gerakan yang tidak normal.
Sepertinya, seorang korban selamat sedang berusaha menyelamatkan diri,
berusaha keluar dari puing-puing kereta yang menimbunnya. Apakah dia akan
segera memanggil bala bantuan dan tim evakuasi? Nyatanya tidak. Karena yang
baru saja keluar dari puing-puing itu, korban selamat itu, ternyata si kakak.
Seorang pria yang dipanggil kakak pada saat mereka berkunjung pada
gerbong kosong, gerbong sepuluh, tempat Laju dan Delphia disekap.
“Ugh!” Keluhnya ketika memindah-mindahkan puing-puing kereta yang
mengganggunya. “Dek!?” Teriaknya memanggil adiknya yang belum terlihat
keberadaannya.
Puing-puing kereta yang berbahan besi itu, yang tidak mungkin ringan
karena beratnya yang ratusan kilo itu, ternyata diangkatnya dengan mudah. Ada
apa dengan orang-orang disini!? Perawakan sang kakak sebenarnya masih menyerupai
manusia normal pada umumnya, meskipun terdapat perubahan fisik ketika terakhir
kali sang kakak mengunjungi gerbong sepuluh.
Beberapa jam lalu, perawakannya masih normal, seperti pria biasa berumur
30-an yang tidak kurus maupun tidak gemuk dengan tinggi sekitar 180 senti.
Namun, perawakannya sekarang sudah berubah menjadi sangat besar dengan tinggi sekitar
tiga meter yang juga diisi oleh otot-otot yang sangat gagah.
Mungkin inilah alasan mengapa dia bisa menenteng puing kereta yang berat
itu dengan mudah, seperti beratnya hanya puluhan kilo saja.
Setelah beberapa lama puing dipindahkan, akhirnya sang kakak melihat sebuah
kehidupan di bawah sebuah puing. Bukan lagi piringan besi, metal, atau bahkan
kaca dari jendela yang berwarna abu-abu. Ada sesuatu yang berwarna coklat muda
seperti kulit manusia, yang ternyata memang terdapat korban di bawah puing
tersebut.
Itu adiknya.
Sayangnya, dia tidak sadarkan diri.
“Haah,” keluh sang kakak melihat adiknya yang tidak sadarkan diri
setelah memindahkan puluhan puing di sekitarnya. “Tidak hanya rencana yang amburadul,
hasil yang harus dibayar pun tidak main-main,” lanjut sang kakak.
Serupa dengan puing, sang adik pun dipindahkan terlebih dahulu di suatu
tempat khusus, di luar puing kereta, untuk mengamankannya. Setelahnya, barulah sang
__ADS_1
kakak kembali mengangkat puing untuk mencari korban selamat lainnya.
Tapi, yang dicari sang kakak bukanlah korban sembarangan.
Karena, ketika dia baru saja mendapati korban selamat lainnya yang
ternyata hanya masyarakat umum yang tidak ia kenali, atau bahkan makhluk aneh
yang bukanlah manusia, sang kakak malah mengeluh dan tidak lanjut menyelamatkan
korban tersebut.
Mungkin sang kakak hanya mencari rekan-rekannya saja.
Sembari sang kakak sibuk dengan urusannya, dari horizon tempat tujuan
kereta berada, muncul siluet burung yang sedang terbang mendekati kereta dengan
diam.
Padahal, dia adalah gagak. Kenapa dia bisa mengepakkan sayapnya dengan
sunyi tanpa suara seperti burung hantu?
Yang penting, setelahnya dia malah bertengger pada salah satu pohon
untuk mengawasi sang kakak yang terus mengevakuasi dan memindahkan banyak
puing-puing besi dari kereta yang baru saja meledak.
Dengan mata ungu dan pupil tajamnya yang berwarna biru, bertengger
ratusan meter dari sang kakak tidak menyulitkannya untuk mengamatinya dengan
jelas.
Itu ternyata Iris.
Iris Ravenson.
Setelah beberapa saat mengamati perawakan dan tingkah sang kakak, dia
dapat menilai dan menyimpulkan bahwa sang kakak hanyalah seorang bandit biasa
yang tidak ada urusannya sama sekali dengan politik di kotanya, dengan kelompok Venom Snake itu.
Apakah Parker hanya paranoid?
Tapi ketakutan Parker patut dipertanyakan. Dia tidak mungkin paranoid
untuk hal yang tidak penting. Maka dari itu, Iris pun menyaksikan lebih seksama
membuang puing-puing besi.
“Haah…,” keluh sang kakak setelah lebih dari dua jam memindahkan
puing-puing besi tersebut. Karena memang sifat dasar manusia untuk merasa
lelah, sang kakak pun merasa tidak kuat untuk mengangkat puing besi lainnya.
Tapi, dia belum menemukan sisa kawannya yang lain. Dia mengalihkan
pandangannya pada barisan korban selamat yang merupakan kawannya – yang juga terdapat
adiknya di dalam barisan tersebut. Lalu, dia pindahkan lagi pandangannya kepada
gerbong kereta di depannya. “Satu lagi, ya,” ucapnya mengusap peluh.
Bukannya lanjut menyingkirkan puing, dia malah menghentikkan
pencariannya untuk pergi ke barisan kawannya yang masih pingsan untuk mengambil
sebuah tas.
Tas tersebut kemudian dibukanya untuk mengambil sebuah kotak penyimpanan.
Ternyata, kotak penyimpanan tersebut menyimpan tujuh suntikan yang sudah kosong
dan dua yang masih terisi penuh.
Iris yang masih mengawasi lumayan terkejut terhadap keberadaan suntikan
tersebut.
Masalahnya, setelah salah satu suntikan tersebut diinjeksikan kepada
sang kakak, fisik sang kakak berubah menjadi lebih drastis lagi.
Otot-ototnya lebih mengeras, tubuhnya membesar hingga mencapai tinggi
tiga meter lebih, bulu-bulu perlahan timbul di sekitar tubuhnya, muncul tanduk
di kepalanya, merubah tubuhnya menjadi bentuk yang bukan manusia lagi.
Iris terperanjat melihat perubahan yang terjadi pada tubuh sang kakak.
__ADS_1
Meskipun sang kakak masih berdiri dengan dua kakinya, perwujudan dan
fisik sang kakak kali ini seperti penggabungan antara banteng dan manusia yang
menjadi satu.
Ketika Iris perhatikan lebih jeli lagi, bentuk kaki dari sang kakak berubah
total menjadi kaki banteng dengan sendi-sendi uniknya, dengan telapak kaki yang
besar, dan dua kuku di depannya.
Setelah perubahan tubuh selesai, sang kakak kembali memindahkan
puing-puing besi lainnya. Sekarang, bukan lagi masalah beban puing yang berkurang
menjadi puluhan kilo, puing kereta ini sudah seperti mengangkat kertas saking
mudahnya!
Beberapa waktu setelahnya, akhirnya sang kakak berhasil menemukan penampakan
manusia terakhir yang merupakan kawannya yang pingsan. Sang kakak pun tersenyum
lega. Setelahnya, dia mulai menggotong kawannya yang tak sadarkan diri
tersebut, bersamaan dengan semua komplotannya, termasuk adiknya juga.
Dengan total membawa enam pria dengan jenjang umur 20-30 tahun. Sang
kakak menggotong mereka sekaligus di bahunya seperti tidak ada masalah.
Memang, dengan perawakannya yang sangat besar, tinggi, dan lebar itu
memberikan banyak keuntungan untuknya di beberapa hal. Tapi, menggotong pria dewasa
berjumlah enam orang sekaligus bukanlah hal yang main-main.
Iris harus tahu tempat persembunyian bandit-bandit ini, ******* ini,
penjahat ini, atau apapun kalian ingin menyebutnya. Suntikan dan serum tersebut
yang merubah fisik sang kakak merupakan suatu hal yang patut dicurigai.
Dan dengan begitu, Iris perlahan mengepakkan sayapnya, melayang, terbang
di antara pohon yang tinggi, mengikuti langkah sang kakak yang pergi berlawanan
dari arah datangnya.
Ada satu hal lagi yang menarik perhatian Iris. Perawakannya yang besar, juga
beban beratnya yang diangkutnya tidak sedikitpun membuat langkahnya menjadi
lemah dan lambat. Untuk seseorang dengan besar seperti ukurannya, untuk seorang
yang mengangkat beban yang tidak main-main, sang kakak ini sangat cepat!
Sampai pada suatu titik, sang kakak memutuskan untuk berdiri diam dan menghentikkan
jalannya.
Ada apa?
Apa mereka sudah sampai di markasnya?
Tidak mungkin. Ini terlalu cepat.
Hanya orang bodoh yang dengan mudah menunjukkan rahasia besarnya ke publik,
yakni markasnya, apalagi seorang tersebut adalah seorang penjahat yang mungkin
terlibat dalam ledakan kereta dahsyat pagi ini yang menghancurkan tujuh gerbong
sekaligus.
Menurut Iris, harusnya sang kakak ini sedikit lebih pintar dalam memilih
lokasi markasnya. Dan memang itulah yang terjadi. Karena sang kakak bukannya
berhenti karena sudah sampai di markasnya. Tapi, mereka berhenti karena bertemu
dengan Laju dan Delphia yang sedang berjalan santai.
Iris penasaran.
Siapa mereka? Apakah mereka saling berhubungan? Apakah keduanya
komplotan yang sama? Tapi kehadiran kedua bocah itu terlalu janggal. Mereka
seperti bocah hilang yang tidak tahu jalan pulang. Jadi, mereka hanya bertemu
karena ketebulan saja?
Entahlah apa jawabannya, itu akan terjawab satu detik lagi.
__ADS_1
Iris lebih baik menikmati pertemuan yang aneh ini, dengan senyum usil
khasnya.