Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 24


__ADS_3

Laju hanya bisa mendapatkan istirahat paling lama sekitar dua jam saja.


Ketika dia akrhinya bisa beristirahat dan bersandar pada pohon setelah mengira


teriakan monyet bersayap semalam sudah usai. Ternyata, binatang buas yang


menjadi alasan ratusan monyet berlarian datang perlahan menggetarkan tanah,


membuat gempa yang sangat mengganggu.


Laju dan Delphia yang terbangun, tidak sengaja melihat binatang buas


yang ternyata seekor monster yang sangat besar itu sedang berjalan sekaligus


menghancurkan apapun yang berada di depannya.


Tinggi monster tersebut kurang lebih 15 meter!


Meskipun sebenarnya tinggi hutan masihlah lebih tinggi darinya, jika


mebandingkan seonggok manusia biasa yang tingginya kurang dari dua meter untuk


menghadapi monster 15 meter itu, sudah pasti bisa ditebak siapa yang akan


memenangkan duel, kan?


Jika memori Laju benar, dia menyerupai makhluk mistis ogre dengan kulit


biru tua. Tapi, mungkin kulit tersebut hadir akibat pantulan dari sinar bulan


dan bukanlah warna kulit asli dari sang monster.


Ogre tersebut sedang berteriak tak karuan, sangat mengganggu. Awalnya,


Laju berpikir begitu. Tapi, semakin lama mendengar dan memperhatikan teriakan


tersebut, Laju menyadari bahwa teriakan itu bukan teriakan tanpa alasan untuk memamerkan


eksistensinya saja. Teriakan tersebut, menyerupai teriakan permintaan tolong,


putus asa, juga kesedihan.


Dikelilingi oleh banyak serangga yang menyerupai kunang-kunang besarnya


lima kali lebih besar dari kunang-kunang biasa, dia berjalan tanpa arah sambil


menyeret batang pohon.


Awalnya, Laju sempat penasaran apa yang ditangisi oleh ogre ini. Tapi,


dia tidak ada waktu untuk menyelidiki, juga untuk peduli. Waktu tidurnya yang diganggu


membuat emosinya melunjak. Dia lebih baik berlari mencari tempat aman, untuk


meneruskan waktu istirahatnya.


Tapi, tetap saja. Sepertinya, beristirahat di hutan ini tidak akan


mudah.


Ketika mereka sudah sampai di sebuah gua yang dipenuhi banyak bebatuan


yang menyerupai stalaktit yang besar untuk mengistirahatkan diri, ternyata gua


ini merupakan makhluk hidup. Karena sejak awal, ini memang bukanlah gua. Bebatuan


yang dikira stalaktit ternyata taring ular raksasa, dan gua ini adalah


mulutnya. Beruntung, dengan gesit Laju langsung pergi keluar menarik Delphia


mencari tempat yang aman.


Tapi, apakah ada tempat yang aman di hutan ini?


Kalau memang aman, apakah dia bisa beristirahat dengan tenang?


Jawabannya adalah tidak.


Laju dan Delphia masih berlari dengan lelah kesana-kemari mencari tempat


untuk beristirahat dengan tenang. Tapi, ada saja binatang atau monster yang


mengganggu mereka baik itu secara langsung seperti ular tersebut dan beberapa


binatang lain yang menyerang Laju karena terganggu dengan kehadirannya. Ataupun


yang secara tidak langsung seperti para monyet bersayap tersebut yang berteriak


nyaring karena dikejar oleh ogre raksasa.


Sebelum bisa Laju pedulikan, ternyata matahari sudah lebih dahulu


menyingsing dan menyerbakkan sinarnya tanda pagi sudah datang. Dengan kokokkan


ayam yang sangat kasar dan kencang – yang ternyata besar ayam tersebut hampir lima


meter. Laju memulai kembali hari kedua di hutan yang mistis, berisik, dan penuh


mara bahaya ini.


“Nih,” seru Laju.


Matanya sekarang memiliki kantung hitam. Dia sebenarnya butuh lebih


banyak waktu istirahat. Tapi, jika hanya untuk beraktifitas secukupnya, dia


masih bisa mengusahakannya. Atau lebih tepatnya, Laju lebih memilih untuk


memaksakan diri untuk membangunkan diri, beraktifitas seperlunya, dan kembali


mencari petunjuk mengenai reruntuhan sebagai tiketnya untuk pulang. Dia tidak


bisa menghabiskan waktu lebih lama di hutan merepotkan ini.


“Ng!” Delphia membalas.


Mereka sedang berada di pinggir sungai lagi.


Beruntung, sungai yang ini tampak sangat normal seperti sungai pada


umumnya yang Laju ketahui. Air yang bersih dan transparan, ikan yang tidak


memiliki dua ekor, bebatuan basah di sampingnya, dan semak belukar yang hijau


Dengan mudah, Laju dirikan lagi api unggun untuk membakar ikan.


Meskipun masih belum menemukan sesuatu yang bisa mengisi kedudukan yang


berfungsi sebagai rasa seperti garam, Laju tetap harus mengisi perutnya.

__ADS_1


Setelah membakar satu dan memberikan kepada Delphia, Laju bakar lagi yang lain


untuk dirinya sendiri.


Kurang lebih satu jam sudah berlalu untuk mereka.


Satu jam ini sangatlah berharga karena mereka tidak lagi diganggu oleh


monster atau binatang buas lainnya secara acak dan tiba-tiba.


Membakar ikan yang sedang digenggamnya, Laju menatap dalam tanpa


memikirkan apapun. Dia hanya sedang menikmati keheningan yang bisa


didapatkannya ini. Bahkan, ketika tangannya sedikit terbakar karena posisinya


yang terlalu dekat dengan api, Laju tidak begitu menyadarinya.


Apakah karena tubuhnya yang sudah lelah untuk merespon?


Atau memang Laju tidak terlalu peduli lagi?


Baru setelahnya, Laju angkat ikan yang ditusuk oleh ranting tersebut


untuk dilahapnya. Meskipun masih tidak memiliki rasa dan dagingnya yang sedikit


lembek, Laju tidak protes selain memakannya sampai habis.


Barulah setelah tiga jam berlalu dengan sangat tenang dan damai sampai


Laju sudah mengisi kembali persediannya dan istirahat sejenak, ada suara aneh


dari balik air terjun.


Awalnya, suara-suara tersebut hanya gemercik air biasa saja.


Tapi, semakin lama gemercik tersebut semakin aneh dan tidak natural.


Ternyata, di depan mereka ada seekor ular sebesar buaya yang sedang


melata di tengah air sungai. Sebenarnya, jika dibandingkan dengan keanehan


banyak monster dan binatang buas yang mereka temui kemarin, ular ini tidak ada


apa-apanya. Namun, tetap saja ular tersebu binatang buas yang dapat


menumbangkan mereka dalam hitungan detik.


Delphia yang berada di belakang Laju pun sedikit terperanjat.


Pertama, karena suara ular yang merusak ketenangan mereka. Kedua, karena


kecepatan Laju yang langsung memberikan aba-aba untuk segera pindah tempat.


Dan yang ketiga, adalah bagaimana tangan Laju yang secara tidak sadar


terlentang seakan sedang memberikan perlindungan kepadanya. Delphia tersenyum


canggung. Dia sedikit bingung bagaimana menanggapi perlakuan tersebut. Tapi,


sebenarnya Delphia tidak perlu pusing untuk memikirkannya.


Karena, sebelum dia bisa memikirkan apa yang sebenarnya Laju pikirkan, tangannya


sudah lebih dulu ditarik untuk kembali berlari bersama.


Dan dengan begitu, mereka kembali memasuki hutan.


Berlari tanpa arah, kecuali insting yang memandu mereka.


Delphia tidak memiliki solusi terhadap permasalahan ini. Kekuatannya


untuk melihat masa depan sedang tidak bisa digunakannya di waktu yang krusial


ini. Pada dasarnya, dia hanya membuat pekerjaan Laju menjadi semakin sulit. Dia


sedikit menyesal datang ke hutan bersama Laju.


Tapi, dia langsung menyangkalnya lagi.


Insting dan perasannya untuk menemani Laju saat ini serupa seperti


perasaan ketika dia ingin memperlihatkan masa depan untuknya demi menyelamatkannya.


Perasaan ini hadir bukan tanpa alasan, kan? Tenang saja. Mungkin, ada jawaban


yang akan datang seiring hari yang berlalu di dalam hutan ini.


“Tangkap!” Ucap suara yang datang dari atas.


Sebelum Delphia bisa kembali sadar sepenuhnya, perhatiannya sudah


dialihkan oleh seruan Laju dari atas pohon. Dia sedang memetik buah dan


langsung melemparkannya kepada Delphia. Karena tidak ada seruan lain mengenai


apa yang harus dia lakukan terhadap buahnya, dia simpan saja di kantung


persediaan yang terbuat dari balutan daun.


“Hup!” Setelah beberapa lama, Laju pun melompat turun. “Tidak akan


makan? Rasanya sih aneh, tapi mungkin lebih baik daripada ikan tadi. Tapi


karena bukan protein, jangan harap bakal kenyang sih,” Laju menambahkan


Dia langsung mengambil kantung persediaan, balik badan, dan kembali


berjalan melihat kesana-kemari mencari arah.


Delphia melihat buah yang sedang dipegang di atas tangannya.


Buah ini menyerupai pepaya, namun dengan warna merah muda yang mencolok.


Selain warnanya, tidak ada yang aneh dari bentuk buah tersebut. Kecuali, ketika


dia mulai menggigitnya, ada rasa menggelitik seperti baru saja tersengat oleh


arus listrik dari daging buah ini.


Meskipun tidak menyakitkan, ini memang rasa yang unik.


Delphia pun lanjut mengikuti Laju sembari memakan buah tersebut.


“Oh tidak! Sana sana! Ganti jalan! Jangan lewat sini!” Tunjuk Laju


sambil berlari.


Dengan tidak banyak protes, Delphia mengikuti Laju berlari balik arah.

__ADS_1


Setelah melirik apa gerangan yang membuat Laju tidak jadi pergi ke tempat


pertama, ternyata kehadiran monyet bersayap lagi yang sekarang malah hendak


menyerang Laju.


“Hihi,” Delphia tertawa kecil.


Kondisinya memang tidak membaik barang sedikitpun. Mereka masih dalam


keadaan yang terjepit antara perseturuan para binatang atau monster yang pasti


selalu mengakibatkan kerusakan bagi hutan.


Entahlah tanah yang berlubang, pohon yang tercakar, hingga pohon yang


tumbang dengan jumlah yang tidak sedikit.


Tapi, Delphia yang sedang berada dalam kondisi ini, dengan tangan Laju yang


membawanya kesana kemari melindunginya, menggelitik hatinya. Apakah impiannya


yang sedikit tercapai atau karena Delphia mulai menikmati momen-momen ini,


Delphia sendiri tidak tahu jawabannya.


Kurang lebih, begitulah hari-hari yang harus dilewati oleh Laju dan


Delphia.


Mengitari hutan mistis tanpa tujuan dan arah yang jelas, yang dipenuhi


oleh mara bahaya dari para binatang buas ataupun monster, dengan tujuan berusaha


mencari reruntuhan puing-puing yang dihuni oleh manusia.


Sebenarnya, petunjuk dalam misi ini sangatlah mudah.


Cari saja kehadiran manusia di hutan ini, maka reruntuhan tersebut


kurang lebih bisa ditemukan. Karena, selain sebagai pengunjung hutan,


keberadaan manusia lainnya tentunya merupakan antek-antek yang sedang diburu


oleh Parker.


Tapi, mencari manusia di tengah keanehan hutan ini juga tidaklah mudah.


Bahkan, setelah hari ke-tiga, hari ke-empat, atau hari ke-tujuh pun, Laju tetap


tidak menemukan sisa-sisa keberadaan manusia. Baik itu dari jejak kaki, sisa


makanan, suara, atau apapun itu.


Yang Laju temukan lagi-lagi binatang yang berisik di malam hari yang


membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak, monster yang agresif tanpa alasan


menyerang sana-sini, makanan dan minuman seadanya yang sama sekali tidak


nikmat, dan kehadiran vegetasi itu sendiri yang tidak masuk di akal.


Dimulai dari kristal yang membeku pada setangkai bunga yang membuat


keadaan sekitarnya ikut membeku, sebuah daerah yang gelap yang tidak bisa


mendapatkan sinar matahari yang dihuni oleh hantu dan suara aneh, sebuah patung


yang hancur tapi tetap bersuara seperti makhluk hidup, pohon yang bersinar dari


dalam batangnya, juga sebuah gua yang bersinar tapi tidak ditemukan sumber


cahayanya.


Jangan lupakan juga fenomena aneh kelopak bunga atau pohon yang


melayang, sebuah daerah yang dipenuhi banyak jamur, juga daerah yang dipenuhi


oleh asap dan kabut tebal, atau juga sebuah monster yang menyatu dengan


tumbuhan yang menjaga sebuah danau.


Semakin Laju dan Delphia memasuki hutan, banyak kejanggalan dan keanehan


yang sangat mistis, yang hanya bisa dijelaskan bahwa mereka sudah berpindah ke


dunia lain, dunia fiksi dan fantasi. Meskipun sebenarnya, secara harfiah Laju


memang sudah bukan berada di dunia manusia lagi, mengingat banyaknya penghuni


kota Kannaris yang dihuni oleh banyak monster aneh.


Baru setelah mereka mengitari hutan lebih dalam, di hari ke-12, mereka


menemukan jejak-jejak peradaban yang sangat mencurigakan. Terutama, karena Laju


akhirnya mendengar suatu bahasa yang sangat dirindukannya.


“Waktu jagamu sudah dimulai, kan? Cepatlah gantian!” seru seseorang di


kejauhan. “Aku juga ingin tidur!”


Laju dan Delphia sedang bersembunyi di balik semak-semak.


Akhirnya, mereka menemukan sebuah kehidupan lain selain binatang, monster


aneh yang tidak karuan bentuknya, juga tumbuhan yang tidak masuk akal. Di depan


mereka, sudah terlihat kumpulan manusia, yang menandakan tiket pulang mereka


sudah dekat.


Mereka terkekeh kecil, dilanjut senyum bahagia yang besar.


“Cubit aku, Del!” ucap Laju.


Laju masih tidak bisa mempercayainya. Karena waktu tidur yang tidak


pernah stabil, akhir-akhir ini dia sering berhalusinasi akan banyak hal.


Tapi, setelah pembuktian tersebut, mereka bisa yakin bahwa mereka akhirnya


sampai di tujuan mereka, alasan pertama mereka masuk ke dalam hutan ini. Yakni


reruntuhan, atau mungkin lebih tepatnya sebuah desa dan perkampungan yang


ditinggalkan, yang sedang dihuni manusia yang memang terlihat mencurigakan,


terlihat jahat, terlihat sebagai musuh.

__ADS_1


__ADS_2