
Laju hanya bisa mendapatkan istirahat paling lama sekitar dua jam saja.
Ketika dia akrhinya bisa beristirahat dan bersandar pada pohon setelah mengira
teriakan monyet bersayap semalam sudah usai. Ternyata, binatang buas yang
menjadi alasan ratusan monyet berlarian datang perlahan menggetarkan tanah,
membuat gempa yang sangat mengganggu.
Laju dan Delphia yang terbangun, tidak sengaja melihat binatang buas
yang ternyata seekor monster yang sangat besar itu sedang berjalan sekaligus
menghancurkan apapun yang berada di depannya.
Tinggi monster tersebut kurang lebih 15 meter!
Meskipun sebenarnya tinggi hutan masihlah lebih tinggi darinya, jika
mebandingkan seonggok manusia biasa yang tingginya kurang dari dua meter untuk
menghadapi monster 15 meter itu, sudah pasti bisa ditebak siapa yang akan
memenangkan duel, kan?
Jika memori Laju benar, dia menyerupai makhluk mistis ogre dengan kulit
biru tua. Tapi, mungkin kulit tersebut hadir akibat pantulan dari sinar bulan
dan bukanlah warna kulit asli dari sang monster.
Ogre tersebut sedang berteriak tak karuan, sangat mengganggu. Awalnya,
Laju berpikir begitu. Tapi, semakin lama mendengar dan memperhatikan teriakan
tersebut, Laju menyadari bahwa teriakan itu bukan teriakan tanpa alasan untuk memamerkan
eksistensinya saja. Teriakan tersebut, menyerupai teriakan permintaan tolong,
putus asa, juga kesedihan.
Dikelilingi oleh banyak serangga yang menyerupai kunang-kunang besarnya
lima kali lebih besar dari kunang-kunang biasa, dia berjalan tanpa arah sambil
menyeret batang pohon.
Awalnya, Laju sempat penasaran apa yang ditangisi oleh ogre ini. Tapi,
dia tidak ada waktu untuk menyelidiki, juga untuk peduli. Waktu tidurnya yang diganggu
membuat emosinya melunjak. Dia lebih baik berlari mencari tempat aman, untuk
meneruskan waktu istirahatnya.
Tapi, tetap saja. Sepertinya, beristirahat di hutan ini tidak akan
mudah.
Ketika mereka sudah sampai di sebuah gua yang dipenuhi banyak bebatuan
yang menyerupai stalaktit yang besar untuk mengistirahatkan diri, ternyata gua
ini merupakan makhluk hidup. Karena sejak awal, ini memang bukanlah gua. Bebatuan
yang dikira stalaktit ternyata taring ular raksasa, dan gua ini adalah
mulutnya. Beruntung, dengan gesit Laju langsung pergi keluar menarik Delphia
mencari tempat yang aman.
Tapi, apakah ada tempat yang aman di hutan ini?
Kalau memang aman, apakah dia bisa beristirahat dengan tenang?
Jawabannya adalah tidak.
Laju dan Delphia masih berlari dengan lelah kesana-kemari mencari tempat
untuk beristirahat dengan tenang. Tapi, ada saja binatang atau monster yang
mengganggu mereka baik itu secara langsung seperti ular tersebut dan beberapa
binatang lain yang menyerang Laju karena terganggu dengan kehadirannya. Ataupun
yang secara tidak langsung seperti para monyet bersayap tersebut yang berteriak
nyaring karena dikejar oleh ogre raksasa.
Sebelum bisa Laju pedulikan, ternyata matahari sudah lebih dahulu
menyingsing dan menyerbakkan sinarnya tanda pagi sudah datang. Dengan kokokkan
ayam yang sangat kasar dan kencang – yang ternyata besar ayam tersebut hampir lima
meter. Laju memulai kembali hari kedua di hutan yang mistis, berisik, dan penuh
mara bahaya ini.
“Nih,” seru Laju.
Matanya sekarang memiliki kantung hitam. Dia sebenarnya butuh lebih
banyak waktu istirahat. Tapi, jika hanya untuk beraktifitas secukupnya, dia
masih bisa mengusahakannya. Atau lebih tepatnya, Laju lebih memilih untuk
memaksakan diri untuk membangunkan diri, beraktifitas seperlunya, dan kembali
mencari petunjuk mengenai reruntuhan sebagai tiketnya untuk pulang. Dia tidak
bisa menghabiskan waktu lebih lama di hutan merepotkan ini.
“Ng!” Delphia membalas.
Mereka sedang berada di pinggir sungai lagi.
Beruntung, sungai yang ini tampak sangat normal seperti sungai pada
umumnya yang Laju ketahui. Air yang bersih dan transparan, ikan yang tidak
memiliki dua ekor, bebatuan basah di sampingnya, dan semak belukar yang hijau
Dengan mudah, Laju dirikan lagi api unggun untuk membakar ikan.
Meskipun masih belum menemukan sesuatu yang bisa mengisi kedudukan yang
berfungsi sebagai rasa seperti garam, Laju tetap harus mengisi perutnya.
__ADS_1
Setelah membakar satu dan memberikan kepada Delphia, Laju bakar lagi yang lain
untuk dirinya sendiri.
Kurang lebih satu jam sudah berlalu untuk mereka.
Satu jam ini sangatlah berharga karena mereka tidak lagi diganggu oleh
monster atau binatang buas lainnya secara acak dan tiba-tiba.
Membakar ikan yang sedang digenggamnya, Laju menatap dalam tanpa
memikirkan apapun. Dia hanya sedang menikmati keheningan yang bisa
didapatkannya ini. Bahkan, ketika tangannya sedikit terbakar karena posisinya
yang terlalu dekat dengan api, Laju tidak begitu menyadarinya.
Apakah karena tubuhnya yang sudah lelah untuk merespon?
Atau memang Laju tidak terlalu peduli lagi?
Baru setelahnya, Laju angkat ikan yang ditusuk oleh ranting tersebut
untuk dilahapnya. Meskipun masih tidak memiliki rasa dan dagingnya yang sedikit
lembek, Laju tidak protes selain memakannya sampai habis.
Barulah setelah tiga jam berlalu dengan sangat tenang dan damai sampai
Laju sudah mengisi kembali persediannya dan istirahat sejenak, ada suara aneh
dari balik air terjun.
Awalnya, suara-suara tersebut hanya gemercik air biasa saja.
Tapi, semakin lama gemercik tersebut semakin aneh dan tidak natural.
Ternyata, di depan mereka ada seekor ular sebesar buaya yang sedang
melata di tengah air sungai. Sebenarnya, jika dibandingkan dengan keanehan
banyak monster dan binatang buas yang mereka temui kemarin, ular ini tidak ada
apa-apanya. Namun, tetap saja ular tersebu binatang buas yang dapat
menumbangkan mereka dalam hitungan detik.
Delphia yang berada di belakang Laju pun sedikit terperanjat.
Pertama, karena suara ular yang merusak ketenangan mereka. Kedua, karena
kecepatan Laju yang langsung memberikan aba-aba untuk segera pindah tempat.
Dan yang ketiga, adalah bagaimana tangan Laju yang secara tidak sadar
terlentang seakan sedang memberikan perlindungan kepadanya. Delphia tersenyum
canggung. Dia sedikit bingung bagaimana menanggapi perlakuan tersebut. Tapi,
sebenarnya Delphia tidak perlu pusing untuk memikirkannya.
Karena, sebelum dia bisa memikirkan apa yang sebenarnya Laju pikirkan, tangannya
sudah lebih dulu ditarik untuk kembali berlari bersama.
Dan dengan begitu, mereka kembali memasuki hutan.
Berlari tanpa arah, kecuali insting yang memandu mereka.
Delphia tidak memiliki solusi terhadap permasalahan ini. Kekuatannya
untuk melihat masa depan sedang tidak bisa digunakannya di waktu yang krusial
ini. Pada dasarnya, dia hanya membuat pekerjaan Laju menjadi semakin sulit. Dia
sedikit menyesal datang ke hutan bersama Laju.
Tapi, dia langsung menyangkalnya lagi.
Insting dan perasannya untuk menemani Laju saat ini serupa seperti
perasaan ketika dia ingin memperlihatkan masa depan untuknya demi menyelamatkannya.
Perasaan ini hadir bukan tanpa alasan, kan? Tenang saja. Mungkin, ada jawaban
yang akan datang seiring hari yang berlalu di dalam hutan ini.
“Tangkap!” Ucap suara yang datang dari atas.
Sebelum Delphia bisa kembali sadar sepenuhnya, perhatiannya sudah
dialihkan oleh seruan Laju dari atas pohon. Dia sedang memetik buah dan
langsung melemparkannya kepada Delphia. Karena tidak ada seruan lain mengenai
apa yang harus dia lakukan terhadap buahnya, dia simpan saja di kantung
persediaan yang terbuat dari balutan daun.
“Hup!” Setelah beberapa lama, Laju pun melompat turun. “Tidak akan
makan? Rasanya sih aneh, tapi mungkin lebih baik daripada ikan tadi. Tapi
karena bukan protein, jangan harap bakal kenyang sih,” Laju menambahkan
Dia langsung mengambil kantung persediaan, balik badan, dan kembali
berjalan melihat kesana-kemari mencari arah.
Delphia melihat buah yang sedang dipegang di atas tangannya.
Buah ini menyerupai pepaya, namun dengan warna merah muda yang mencolok.
Selain warnanya, tidak ada yang aneh dari bentuk buah tersebut. Kecuali, ketika
dia mulai menggigitnya, ada rasa menggelitik seperti baru saja tersengat oleh
arus listrik dari daging buah ini.
Meskipun tidak menyakitkan, ini memang rasa yang unik.
Delphia pun lanjut mengikuti Laju sembari memakan buah tersebut.
“Oh tidak! Sana sana! Ganti jalan! Jangan lewat sini!” Tunjuk Laju
sambil berlari.
Dengan tidak banyak protes, Delphia mengikuti Laju berlari balik arah.
__ADS_1
Setelah melirik apa gerangan yang membuat Laju tidak jadi pergi ke tempat
pertama, ternyata kehadiran monyet bersayap lagi yang sekarang malah hendak
menyerang Laju.
“Hihi,” Delphia tertawa kecil.
Kondisinya memang tidak membaik barang sedikitpun. Mereka masih dalam
keadaan yang terjepit antara perseturuan para binatang atau monster yang pasti
selalu mengakibatkan kerusakan bagi hutan.
Entahlah tanah yang berlubang, pohon yang tercakar, hingga pohon yang
tumbang dengan jumlah yang tidak sedikit.
Tapi, Delphia yang sedang berada dalam kondisi ini, dengan tangan Laju yang
membawanya kesana kemari melindunginya, menggelitik hatinya. Apakah impiannya
yang sedikit tercapai atau karena Delphia mulai menikmati momen-momen ini,
Delphia sendiri tidak tahu jawabannya.
Kurang lebih, begitulah hari-hari yang harus dilewati oleh Laju dan
Delphia.
Mengitari hutan mistis tanpa tujuan dan arah yang jelas, yang dipenuhi
oleh mara bahaya dari para binatang buas ataupun monster, dengan tujuan berusaha
mencari reruntuhan puing-puing yang dihuni oleh manusia.
Sebenarnya, petunjuk dalam misi ini sangatlah mudah.
Cari saja kehadiran manusia di hutan ini, maka reruntuhan tersebut
kurang lebih bisa ditemukan. Karena, selain sebagai pengunjung hutan,
keberadaan manusia lainnya tentunya merupakan antek-antek yang sedang diburu
oleh Parker.
Tapi, mencari manusia di tengah keanehan hutan ini juga tidaklah mudah.
Bahkan, setelah hari ke-tiga, hari ke-empat, atau hari ke-tujuh pun, Laju tetap
tidak menemukan sisa-sisa keberadaan manusia. Baik itu dari jejak kaki, sisa
makanan, suara, atau apapun itu.
Yang Laju temukan lagi-lagi binatang yang berisik di malam hari yang
membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak, monster yang agresif tanpa alasan
menyerang sana-sini, makanan dan minuman seadanya yang sama sekali tidak
nikmat, dan kehadiran vegetasi itu sendiri yang tidak masuk di akal.
Dimulai dari kristal yang membeku pada setangkai bunga yang membuat
keadaan sekitarnya ikut membeku, sebuah daerah yang gelap yang tidak bisa
mendapatkan sinar matahari yang dihuni oleh hantu dan suara aneh, sebuah patung
yang hancur tapi tetap bersuara seperti makhluk hidup, pohon yang bersinar dari
dalam batangnya, juga sebuah gua yang bersinar tapi tidak ditemukan sumber
cahayanya.
Jangan lupakan juga fenomena aneh kelopak bunga atau pohon yang
melayang, sebuah daerah yang dipenuhi banyak jamur, juga daerah yang dipenuhi
oleh asap dan kabut tebal, atau juga sebuah monster yang menyatu dengan
tumbuhan yang menjaga sebuah danau.
Semakin Laju dan Delphia memasuki hutan, banyak kejanggalan dan keanehan
yang sangat mistis, yang hanya bisa dijelaskan bahwa mereka sudah berpindah ke
dunia lain, dunia fiksi dan fantasi. Meskipun sebenarnya, secara harfiah Laju
memang sudah bukan berada di dunia manusia lagi, mengingat banyaknya penghuni
kota Kannaris yang dihuni oleh banyak monster aneh.
Baru setelah mereka mengitari hutan lebih dalam, di hari ke-12, mereka
menemukan jejak-jejak peradaban yang sangat mencurigakan. Terutama, karena Laju
akhirnya mendengar suatu bahasa yang sangat dirindukannya.
“Waktu jagamu sudah dimulai, kan? Cepatlah gantian!” seru seseorang di
kejauhan. “Aku juga ingin tidur!”
Laju dan Delphia sedang bersembunyi di balik semak-semak.
Akhirnya, mereka menemukan sebuah kehidupan lain selain binatang, monster
aneh yang tidak karuan bentuknya, juga tumbuhan yang tidak masuk akal. Di depan
mereka, sudah terlihat kumpulan manusia, yang menandakan tiket pulang mereka
sudah dekat.
Mereka terkekeh kecil, dilanjut senyum bahagia yang besar.
“Cubit aku, Del!” ucap Laju.
Laju masih tidak bisa mempercayainya. Karena waktu tidur yang tidak
pernah stabil, akhir-akhir ini dia sering berhalusinasi akan banyak hal.
Tapi, setelah pembuktian tersebut, mereka bisa yakin bahwa mereka akhirnya
sampai di tujuan mereka, alasan pertama mereka masuk ke dalam hutan ini. Yakni
reruntuhan, atau mungkin lebih tepatnya sebuah desa dan perkampungan yang
ditinggalkan, yang sedang dihuni manusia yang memang terlihat mencurigakan,
terlihat jahat, terlihat sebagai musuh.
__ADS_1