
Pandangannya menjadi hitam gelap gulita. Seperti perangkap di lorong rumah kemarin, semuanya seperti ditelan oleh kegelapan, ditelan oleh kehampaan.
Laju sedang berada di dalam ruangan tanpa batas, mengambang, dikelilingi oleh kegelapan tanpa sedikit pun cahaya
Kecuali, suara yang berangsur mulai terdengar dari belakangnya.
“Loh, Mas? Ke-kenapa tiba-tiba? Bu-buk-bukannya kita sudah berjanji?”
“Tiba-tiba? Apanya yang tiba-tiba? Bukankah masalah ini sudah aku jelaskan bahkan jauh-jauh hari? Sejak kejadian setelah di dokter itu?”
“Tapi? Bukankah Laju bisa memperbaiki semuanya? Bukankah kita akan kembali normal, lagi? Mas sendiri yang berjanji, kan?”
Suaranya masih samar. Tapi, dengan jelas Laju bisa mengenali siapa yang sedang berbicara di dalam cahaya yang separuh tertutup oleh pintu tersebut. Tanpa banyak berpikir, Laju pun mulai mendatangi cahaya itu. Dan ternyata, yang ada di dalam cahaya di balik pintu tersebut merupakan lorong rumahnya.
Ketika dia berbalik, bukan lagi ruangan gelap tanpa batas, melainkan dia sudah terteleportasi ke kamarnya.
“Bukan aku yang berjanji. Anak itu yang berjanji. Jika memang dia bisa membantuku untuk mendapatkan promosi di pekerjaan, semuanya bukan masalah. Tapi, bukannya promosi atau kenaikan pangkat, bisa-bisa aku dipecat jika semuanya terbongkar.”
“Apa yang terjadi? Bukankah selama ini Laju masih menjadi anak penurut?”
“Sia-sia. Semuanya akan sia-sia. Tidak ada satupun yang berhasil anak itu lakukan. Aku mendapatkan kabar bahwa bahkan anak itu tidak berhasil masuk ke universitas dengan sempurna. Belum lagi kabar burung lain bahwa dia bercengkerama dengan preman-preman rendahan. Dia mulai berlagak lagi dan malah mengacaukan semuanya. Teman-teman di kantor mulai berbicara aneh-aneh tentangku.”
“Ta-tapi aku kan selalu membantumu, mas? Aku selalu memberikan yang terbaik untuk mas juga.”
“Heh? Sejak kapan? Kalau bisa, aku sudah menceraikanmu sejak lama!”
“Ta-ta-tapi kita sudah bersama selama belasan tahun, mas? Maafkan aku! Kalau memang anak itu salah biarkan saja. Kita masih bisa mengulangnya, kan? Kita masih bisa memulai baru lagi, kan? Aku yakin aku sudah membersihkan semuanya sekarang, mas!”
“Jadi kamu mengusulkan kepadaku untuk jatuh kepada lubang yang sama? Tidak terima kasih, perempuan.”
Laju kenal betul arah pembicaraan ini.
Pembicaraan ini seperti sebelumnya, seperti masa lalu. Namun, tidak seperti sebelumnya ketika Laju kecil hanya kebingungan tidak paham apa yang sebenarnya orang tuanya katakan, sekarang Laju benar-benar paham apa yang sebenarnya mereka ributkan.
Kenapa? Apa yang terjadi? Apakah ini hanya masa lalunya? Bukankah ini hanya masa lalunya? Laju berlari melihat cermin. Dan yang ada di dalam sana tidak lain Laju yang sedang menggunakan seragam SMA, Laju yang remaja, bukannya Laju kecil yang masih berada di sekolah dasar.
Kenapa? Kenapa orang tuanya bertengkar lagi?
Apakah mereka sudah mendengar kabar dari sekolah mengenai surat undangan yang ditarik? Darimana? Darimana mereka mendapatkannya?
Tunggu.
Tunggu Sebentar.
Surat undangan?
Betul juga. Laju memang sudah harus pulang. Beruntung, dia sempat berbicara tentang hal itu dengan Adrian dan Radit. Jalan pulangnya sudah aman. Dia bisa mencegah pertengkaran orang tuanya dengan segera. Semuanya baik-baik saja.
Semuanya baik-baik saja.
Dengan jelas, dia bisa lihat dirinya di dalam cermin sedang bermandikan keringat dingin. Dengan jantungnya yang berdegup kencang dan tangannya yang gemetar, Laju bisa melihat dirinya yang sangat menyedihkan.
“Aku harus pulang sekarang juga!” Ucapnya kemudian pada cermin.
Melihat Laju yang gemetaran rentan siap untuk meledakkan dirinya sendiri karena kecemasan dan keputusasaan, Delphia sekali lagi berusaha untuk membantunya. Perlahan, di dalam dunia mimpi yang dia buat sendiri, Delphia berusaha menggapai dan berencana untuk mendekap, memberikan kehangatan bagi Laju agar lelaki ini bisa sedikit tenang.
Tapi, begitu tangan Delphia hendak menyentuh Laju, bukannya kehangatan yang bisa Delphia berikan, malah muncul percikan krisatal es yang menggelitik. Dengan refleksnya, Laju labrak dan tampar lagi kehadiran Delphia yang mengganggunya.
Sedetik, Laju langsung kembali sadar kepada dunia nyata dimana dia sedang berada dalam ruangan kantor Parker. Menyadari semuanya kembali normal, dia langsung membuang dan menepis pegangan tangan Delphia dengan kasar.
“Jangan sesekali lagi kamu menyentuhku dengan tangan menjijikkan dan rasa dingin yang merepotkan itu, bisu! Tidakkah kamu pikir kamu hanya hidup untuk merepotkan orang lain? Ayo bicara! Coba sekali saja ucapkan apa yang sebenarnya ingin kamu katakan!”
__ADS_1
“…!? Nnngg….?”
“Masa depan apanya? Kamu pikir kamu bisa membantu orang-orang dengan itu? Yang ada semuanya malah lebih berantakan dan tidak karuan! Lagipula rasa dingin apa ini? Menggelikan sekali. Sejak awal memang aku tidak perlu percaya pada orang yang tidak bisa berbicara ya, kan?”
Laju lanjutkan lagi untuk balik badan dan pergi dari ruangan.
Tanpa rasa bersalah dan dosa, Laju serius berencana untuk meninggalkan hidupnya di dalam kantor ini, di kota ini, berusaha untuk pulang. Kembali pada dunia normalnya, kepada orang tuanya, kepada masa depannya.
Tidak perlu lagi dia urusi semua yang terjadi disini.
Anggap saja semuanya mimpi belaka.
Semuanya tidak penting, kecuali urusan universitas keinsinyuran yang harus dia masuki demi mengembalikan keharmonisan keluarganya.
Lagipula, Laju juga sedikit bingung kenapa dia betah hidup diantara monster-monster yang aneh ini. Dia berpikir keras mengulang kembali memorinya sembari berjalan keluar dari gedung. Betul juga. Sebenarnya apa yang membuatnya betah? Laju kebingungan.
“…!” Seketika, Laju merasakan kehadiran Parker yang siap menerjangnya dari belakang.
Dengan cepat, Laju langsung balik badan untuk berlindung bukan pada siapapun. Laju hanya berhalusinasi? Harusnya di belakangnya ada Parker!
Tapi, nyatanya tidak ada siapapun kecuali angin lalu.
“Yasudahlah, lupakan saja!” ucap Laju dalam hati sambil mengelus kepalanya.
***
Begitu sampai di gedung tempat komunitas Adrian bernaung, Laju sedikit keheranan karena banyak kehadiran yang tidak dikenalinya. Sebenarnya, Laju bisa memilih untuk tidak peduli pada siapapun yang masuk berkunjung.
Karena, pada akhirnya mereka pasti hanya manusia yang sedang membutuhkan pertolongan atau yang lainnya. Tapi, yang sekarang berkunjung adalah monster-monster dengan pakaian formal rapi dengan penjagaan penuh oleh masing-masing pengawalnya dengan postur tubuh yang besar seperti Parker.
“Wah, Laju? Kamu sudah datang rupanya. Cepat sekali? Baru kemarin kita berbicara tentang benda naga itu?” Adrian yang menyadari kehadiran Laju langsung keluar dari kerumunan dan menyambut kedatangannya.
“Adrian? Ada apa ini? Kenapa kalian memiliki tamu musuh kalian sendiri?”
“Tapi, bukankah kalian memusuhi monster-monster di kota ini!?”
“Sebagian, iya. Tapi untuk para tuan-tuan ini, mereka bukanlah musuh. Mereka teman, kerabat dekat, sahabat, dan sekutu dari para manusia!”
“…maksudnya bagaimana? Aku tidak mengerti?”
“Tenang saja. Tidak perlu ambil pusing. Ada beberapa hal yang memang lebih baik tidak perlu dimengerti untuk kebaikan kita sendiri, kan?”
“Mungkin…?”
“Hahaha. Sudah-sudah. Ayo ke bawah tanah!” Ajak Adrian yang langsung merangkul Laju untuk membawanya turun ke bawah tanah, ke tempat terakhir mereka berdiskusi tentang teknik teleportasi yang akan membawanya pulang.
Ternyata, begitu turun masuk ke ruangan, ada banyak perubahan yang terjadi – meskipun dengan rentan waktu yang sebentar. Meskipun sebenarnya perubahan yang terjadi bukanlah hal yang besar dan krusial, melainkan penerangan yang diperbanyak sehingga seluruh ruangan bisa terlihat dengan jelas – yang ternyata sangat luas, namun juga sangat sempit karena dipenuhi banyak pintu teleportasi.
Padahal, kemarin pintu teleportasi hanya mereka miliki satu buah?
Darimana datangnya belasan pintu ini?
Lalu mengapa banyak monster berjas yang sedang duduk seperti sedang menonton pertunjukkan?
“Seperti yang saudara-saudara lihat bahwa produk yang kita tawarkan bisa bekerja dengan sangat mulus tanpa ada gangguan sama sekali. Meskipun harus saya katakan bahwa kualitas yang kami miliki masih sedikit dibawah yang dimiliki pemerintah. Tapi, apa yang kami tawarkan ini bisa dijual secara massal, loh! Maka dari itu saya menawarkan proyek ini sekaligus pembagian persentase kepemilikan perusahaan, berharap saudara sekalian bersedia membantu pendanaan yang kita butuhkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut!” Seru Radit dengan lantang pada monster-monster berjas yang menyimak ini.
“Dit!” Adrian menyela, memberikan sinyal kepadanya.
“Ah, VS! Sebentar.”
“Laju, kamu membawa bendanya?”
__ADS_1
“Eh? Iya… tapi apakah ini memang bisa bekerja?” Tanya Laju sambil memberikan patung super kecil berbentuk naga yang pernah diberikan oleh Parker.
“Tidak apa. Santai saja.”
Dan setelahnya, Adrian langsung memberikan patung tersebut kepada Radit untuk lebih lanjut dipresentasikan kepada para monster berjas tersebut dengan lebih intens. Awalnya, Laju ingin mendengar dan menyimak apa yang sebenarnya Radit tawarkan kepada monster-monster ini. Tapi, entah mengapa dia tidak bisa memfokuskan perhatiannya untuk menyimak ucapan dan penjelasan Radit.
Ada rasa bingung yang membuat hatinya tidak nyaman.
Bahkan, pria bertelanjang dada yang kemarin menjadi teman latihannya hanya memberikan senyum besar melayani monster-monster berjas ini.
Bukankah mereka memiliki dendam terselubung dengan para monster?
“Kamu sudah siap, Ju?” tanya Adrian mengusik perhatian Laju.
“Siap apanya?”
“Pulang? Kamu sudah siap untuk pulang?”
“Pulang? Sekarang? Sekarang juga?”
“Iya. Pulang sekarang. Berkat patung nagamu itu, Radit bisa mulai bereksperimen untuk membuka portal ke dunia manusia. Selagi kamu ingin pulang, sekalian kita ujicoba keefektifan portal ini.”
“Kamu membuatku sebagai kelinci percobaan?”
“Aku tidak akan menyebutnya sekasar itu. Tapi, kita sama-sama diuntungkan, kan? Tapi, maksudku sekalian saja mengantarmu pulang. Kalau kamu memang tidak bersedia, kita bisa bertanya kepada orang lain. Tapi, itu artinya kamu harus pulang dengan cara konvenisonal yang memiliki lebih banyak prosedur merepotkan yang harus dijalani, kan? Energi yang digunakan untuk membuka portal tidaklah mudah dan murah. Tapi, semuanya terserah kamu juga, Ju. Aku hanya menawarkan saja,” Adrian mengangkat bahunya.
Laju dibiarkan untuk berpikir dan merenung memikirkan apa yang Adrian tawarkan.
Jika dipikir, memang tawaran Adrian seperti terlalu cepat dan mendadak. Tapi, dari awal memang itulah tujuan Laju sebenarnya. Untuk cepat pulang dan mengurusi masa depannya. Tempat ini bukanlah rumahnya, bukanlah lingkungannya.
Ditambah ultimatumnya kepada Parker, dia memang sudah harus untuk–
Tidak.
Laju tidak ingin memikirkan tentang hal itu.
“Baiklah. Tidak ada salahnya. Tapi alat itu aman, kan?”
“Aman. Tenang saja. Kamu tidak melihat presentasi sebelumnya? Radit menjelaskan tingkat keamanan portal itu, kan?”
“Hm… baiklah.”
“Kamu sudah siap? Tidak ada apapun yang ingin kamu bawa?”
“Sejak awal aku tidak membawa apapun dari rumah. Jadi, aku tidak merasa harus membawa oleh-oleh atau semacamnya untuk pulang. Aku hanya membawa diriku sendiri saja. Aku sudah siap.”
“Baiklah. Dit, Laju siap!” Seru Adrian yang memotong penjelasan Radit yang sedang melakukan presentasi dengan intens kepada para monster berjas ini.
Setelah menunggu kurang lebih lima menit untuk menunggu Radit menjelaskan, pada akhirnya Laju siap untuk dibawa ke atas panggung untuk memasuki pintu portal yang mendesing.
“Dan saudara-saudara, untuk pertunjukkan klimaksnya silahkan perhatikan yang satu ini!” Sebut Radit kepada para hadirin yang masih menyimak, masih penasaran, lebih tertarik pada penawaran yang Radit tawarkan.
“Seperti yang saudara ketahui, untuk saling berpindah antara satu dimensi dan satu dunia, kita harus melewati proses yang panjang dan merepotkan karena harus mengunjungi dimensi antara. Belum lagi, banyak protokol yang berbeda-beda dari setiap negara, protokol di dimensi antara terkadang yang paling banyak memakan waktu. Terutama, dengan kota perbatasan yang dimiliki oleh manusia, semuanya sangat merepotkan, bukan? Dan bisa kita lihat dari layar pemantau ini, kita akan saksikan bocah ini bisa melewati dimensi antara itu, kota perbatasan itu, dan berpindah langsung dari kota ini, pergi langsung menuju dunia manusia,” Lanjut Radit menjelaskan. “Silahkan masuk, Ju!”
Radit memberikan gestur jempol kepada Laju tanda semuanya sudah siap. Meninggalkan keputusan Laju pada dirinya sendiri untuk melangkah kepada desingan pintu yang seperti berpusar itu.
Laju sebenarnya masih gugup. Apakah ini benar-benar terjadi? Apakah dia akan pulang? Dia menoleh kirinya. Dia menatap Adrian untuk terakhir kali.
“Tenang saja, aku akan menyusulmu mungkin satu sampai dua minggu kedepan!”
“…” Laju hanya tertawa kecil. “Baiklah. Aku akan menunggumu, Adrian!”
__ADS_1
Dan setelahnya, Laju dengan tegap melangkahkan kakinya masuk ke dalam desingan portal yang berpusar itu. Dia memegang perutnya, siap untuk merasakan mual yang tidak menyenangkan seperti yang sudah-sudah.