
Buk!
Pintu taksi ditutup. Laju sudah sampai di tempat tujuan.
Dia balik badan, melihat sebuah gedung yang menjulang tinggi,
Di atasnya terpampang papan yang bertuliskan ‘Panca Dharma’ yang sangat besar, yang merupakan nama dari tempat
bimbingan yang diberitahukan oleh Pak Ahmad.
Jika dilihat dari penampakan gedungnya, tempat bimbingan ini terlihat
serius dalam menjalankan bisnisnya. Dengan desain yang modern, mungkin pemilik
tempat bimbingan ingin menjual bisnisnya dengan memamerkan keindahan gedungnya
terlebih dahulu, baru setelahnya mereka baru menjual jasa yang ditawarkan.
Dengan penampakan yang terlihat sangat professional, kecurigaan Laju
berkurang drastis. Dia tidak disuruh untuk pergi ke tempat yang aneh dan
mencurigakan, seperti kekhawatirannya atas kejadian kemarin dengan kepala
sekolah. Rasa percayanya kepada Pak Ahmad pun bertambah. Dia menghembuskan
napas syukur, menjadikan Pak Ahmad sekutu ternyata tidak seburuk yang Laju
kira.
Laju melihat sekeliling. Dia sering bepergian jalan-jalan dengan teman-temannya
sehingga setiap jalan dan daerah di kota ini bisa dkenali dengan baik. Daerah
panas yang menjadi pusat kota, dipenuhi dengan banyak kendaraan yang lalu
lalang, dan juga dengan kepadatan yang tidak masuk akal.
Salah satu yang menjadi alasan mengapa orang-orang gemar mengunjungi
daerah ini adalah karena kehadiran mal besar yang terkenal menjadi pelarian
orang-orang untuk menghibur diri. Laju pun menjadi salah satu masyarakat yang
membutuhkan pelarian tersebut, dan menemukan solusinya di gedung itu. Tapi,
yang tidak Laju ingat adalah kehadiran tempat bimbingan yang begitu menjulang tinggi
ini.
Apakah tempat ini baru dibangun?
Kenapa Laju tidak memiliki memori tentang tempat bimbingan ini?
Laju lihat lagi bangunan tempat bimbingan dengan nama ‘Panca Dharma’ tersebut. Sebenarnya, pintar
juga sang pemilik tempat yang memilih untuk membangun tempat bimbingannya
disini. Setelah belajar menguras otak dan segala macam, mereka bisa menghibur
diri mendinginkan pikiran dengan pergi ke mal.
Satu lagi yang tidak Laju ingat adalah bagaimana banyaknya kehadiran
gelandangan yang tidur di trotoar jalan. Dia sudah sering melihat gelandangan
di kawasan Bos Alex sehinga ini tidak mengganggunya. Hanya saja, tidakkah pihak
kepolisian atau pemerintah harusnya bertindak untuk mengurusi ini?
Lihat saja banyak orang berlalu lalang yang sibuk dengan urusannya
masing-masing terlihat terganggu dengan kehadiran gelandangan ini. Meskipun
memang ada beberapa yang memberi simpati dengan menyisihkan dan memberikan
mereka receh. Tapi, Laju tidak bisa belajar untuk peduli terhadap mereka,
kecuali kekesalan karena mengganggu jalan.
Kenapa harus?
Pekerjaan mereka hanya meminta belas kasihan.
Tidak lebih, tidak kurang. Tidak ada usaha yang patut diapresiasi.
Dia merasa jijik, juga risi.
“Ck,” decak Laju mengekspresikan kekesalannya.
Dan decakan tersebut menyudahi selingannya untuk melihat sekeliling,
melihat lingkungan, dan segala macam sebelum kembali fokus ke gedung bimbingan
belajar ini. Laju yang sudah merasa yakin bahwa ini semua aman mulai
melangkahkan kakinya memasuki teras dari tempat bimbingan.
Di depan pintu utama, terlihat sebuah papan yang menunjukkan lagi nama
dari tempat ini, yaitu Panca Dharma, dan lima poin aturan yang diselingin sebuah karakter yang sedang tersenyum
untuk memberikan visual yang menarik.
Papan tersebut menjelaskan aturan-aturan yang nampaknya ditujukan untuk
setiap murid yang mendapatkan bimbingan di tempat ini. Tapi, setelah Laju baca
lagi aturan-aturan tersebut lebih bersifat ucapan motivasi dan pengingat yang
bisa diaplikasikan kepada masyarakat umum juga.
Dimulai dari pernyataan untuk selalu bangga terhadap perbuatan jujur dan
menghardik siapapun yang berbuat curang demi tujuan apapun, hingga fokus untuk
selalu mengejar tujuan hidup dan mengabaikan setiap apapun yang tidak ada
hubungannya dengan tujuan, termasuk ucapan orang-orang. Laju berdeham. Dia
tersenyum kecil melihat lima aturan tersebut.
Sesuai nama tempatnya, Panca
Dharma berarti lima dasar aturan yang mulia. Sudah Laju kira sebenarnya.
Akan ada sesuatu yang lima apapun itu. Namanya yang unik langsung menarik rasa
perhatian Laju. Ditambah dengan aturan yang dipasang di depan pintu, Laju
mendapatkan kesan positif hanya dengan berada di depan gedung. Laju mulai
menyukai tempat ini.
Jika pencetus tempat ini bisa Laju temui, akan dia ajak berbincang dan
makan siang membahas banyak hal. Laju rasa, mereka akan bisa menjadi teman yang
sangat akrab.
Laju melangkah lagi mendekati pintu utama, ternyata tertempel sebuah
kertas pengumuman yang menjelaskan tentang tanggal-tanggal penting yang sudah
dikeluarkan oleh akademi. Laju panik seketika. Dia cek situs resmi dari Akademi
Keinsinyuran Negeri di telepon genggamnya untuk mencari informasi yang dia
butuhkan, tapi nihil. Dia tidak mendapatkan apa-apa.
Setelahnya, dia teringat sesuatu. Memang ada beberapa pengumuman yang
hanya ditujukan kepada murid eksklusif. Itu berarti, sudah keluar pengumuman tentang
pertemuan orang tua kepada mereka yang diundang. Pengumuman hanya akan
diberikan lewat surat dan diberikan secara fisik, secara manual, melewati pos.
Dia sudah bukan lagi murid undangan.
Dia tidak mungkin mendapatkan tanggal itu.
__ADS_1
Tapi ayahnya membutuhkan berita tersebut.
Tunggu. Apakah petugas dari tempat bimbingan ini megnetahui sesuatu?
Mungkin bilang saja rumah jauh, sedang tidak bisa menghubungi, dan butuh
tanggalnya segera karena akan memesan tiket? Laju berpikir barang sebentar.
Mungkin cara itu bisa ia gunakan. Dia bisa mengakali banyak hal, atau bila
perlu hingga membayar sang petugas demi informasi berharga tersebut.
Tidak. Tidak ada yang melakukan kecurangan, tidak ada yang dicurangi,
kecuali Laju seorang oleh kepala sekolah
Laju hanya ingin mendapatkan haknya kembali.
Laju buka pintu utama dan rasa dingin langsung menusuk memberikan rasa
nyaman kepada tubuhnya setelah berpanas-panas di luar sana.
“Selamat datang di Panca Dharma. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya
seorang petugas wanita dengan baju formal sedang membungkuk tersenyum menyambut
Laju yang memasuki gedung.
Saatnya Laju melakukan negosiasi.
Dengan tidak mengikutsertakan atau memasukkan Delphia kedalam daftar,
Laju selalu bisa melakukan negosiasi dengan lancar kepada siapapun. Baik itu
lelaki atau wanita, mereka pasti bisa dibeli oleh Laju baik dengan karismanya,
dengan ketampanannya, atau dengan cara yang, yakni dengan uang.
Apakah itu membantu mereka menggapai impian dan mimpinya, membantu
mengonfirmasi kecurigaan mereka terhadap sesuatu, bersama menjatuhkan musuhnya,
membantu mereka mengatasi ketakutan dan kegagalan mereka, hingga memandu
ketakutan mereka. Tentu saja, Laju tidak melupakannya untuk basa-basi cantik
yang memotivasi agar mereka bisa menceritakan kisah hidup mereka.
Karena kemampuannya ini juga lah mengapa hidup Laju selalu mudah.
Apapun yang dia inginkan pasti selalu tercapai, sesulit apapun itu.
Tentu saja, kecuali kejadian akhir-akhir ini yang terjadi diluar
kendalinya.
Tentang surat undangan, tentang haknya yang dicurangi dan dicuri.
“Mohon maaf. Informasi tersebut hanya diberikan kepada orang-orang
dengan kualifikasi khusus yang sudah diberikan hak istimewa oleh akademi. Saya
tidak bisa memberikannya begitu saja kepada adik,” ucap sang petugas.
Dan kalimat tersebut merupakan tolakan pertama setelah berbicara
beberapa menit. Sejauh ini percakapan masih berjalan lancar. Tentu saja, Laju
tidak akan tumbang hanya karena satu tolakan. Masih banyak hal yang bisa
ditawarkannya kepada sang petugas.
“Maka dari itu, saya siap untuk membuktikan bahwa saya adalah murid yang
mendapatkan surat undangan akademi. Apakah mungkin bisa saya lakukan tes saja
untuk mengukur kemampuan? Tenang saja, saya akan membayar apapun itu selama
saya bisa mendapatkan informasi tersebut. Saya sedang dalam genting, nih!
Haha!” tawa laju, sambil mengusap belakang kepalanya yang tidak gatal.
Petugas tersebut berdeham pelan.
kepada Laju yang tidak dia kenalinya. Tentu saja. Informasi ini sangat penting
dan genting yang tidak bisa didapatkan siapapun. Bahkan, tempat bimbingan ini
pun hanya mendapatkannya untuk memotivasi murid-murid mereka.
Laju kesal karena penolakan tersebut. Ternyata negosiasi dengan serius
tidak akan semudah yang dia kira. Tapi dia masih belum kehilangan semangat.
Perbincangan terus terjadi sampai beberapa puluh menit kedepan. Kedua
pihak bersikukuh terhadap konsistensi mereka. Laju yang terus keras kepala
untuk meminta informasi perkumpulan orang tua, dan sang petugas yang bersikukuh
bahwa itu informasi yang dilarang untuk disebar ke publik.
Laju kehabisan kesabaran. Akhirnya, dia berencana untuk menceritakan
semuanya saja, untuk menjual belas kasihan kepada sang petugas tempat
bimbingan.
Dimulai dari perkenalan diri tentang murid yang selalu menjadi superstar dan idola karena prestasi baik
akademik maupun non-akademik. Kehidupan sekolahnya yang sangat normal namun
sangat mudah dan sempurna. Sampai pada akhirnya dia bisa mendapatkan surat
undangan akademi di kelas 11 dan terjadinya insiden kejadian ketika dia merasa
dicurangi oleh sekolahnya sendiri. Masalah yang sedang Laju hadapi adalah
masalah intern dari dalam keluarganya, bahwa mereka yang super ketat sudah
keburu dijanjikan oleh Laju tentang pertemuan orang tua.
“Sebenarnya, saya bisa saja untuk tidak peduli tentang urusan adik Laju.
Itu sama sekali bukan masalah bagi kami. Itu masalah adik Laju sendiri. Tapi,
beruntung yang sedang bertugas sekarang adalah saya yang memang merasakan
sendiri bagaimana rumitnya masalah keluarga,” ucapnya perlahan.
Laju tersenyum lebih lebar mendapati jawaban tersebut.
“Kalau begitu, ayo ikut saya untuk melakukan tes terlebih dahulu untuk
mengukur apakah memang adik ini murid yang hebat seperti yang adik ceritakan,”
ajaknya menaiki tangga, menunggu di depan gudang, dan duduk di ruangan kosong
hanya ditemani sang petugas tersebut.
Dari total waktu dua jam yang diberikan oleh petugas tersebut, Laju
menyelesaikannya dengan sempurna hanya dengan kurun waktu satu jam, setengah
dari yang diberikan. Petugas tersebut terjatuh kaget, terkesima, melihat hasil
yang diberikan.
Hasil ini terlalu sempurna, seperti Laju sudah mengingat soal ini di
suatu tempat. Karena tidak puas dengan hasilnya, petugas wanita tersebut pun
memberikan soal baru yang lebih rahasia, yang tidak dipublikasikan kemanapun
karena soal ini dibuat di tempat bimbingan ini sendiri.
Dan dengan rahasia, petugas wanita tersebut mengganti kode soal untuk
mencari dengan tingkatan yang lebih sulit, untuk menguji kecerdasan Laju.
Tapi tidak ada yang berubah. Hanya dengan separuh waktu yang diberikan,
__ADS_1
Laju tetap bisa mengerjakan soal dengan lancar, dengan sempurna, tanpa ada
gangguan sama sekali.
Petugas tersebut menatap lembar jawaban dengan kosong.
Apakah manusia istimewa itu memang ada, ya? Tanyanya bukan pada
siapapun, sambil tersenyum memberikan kabar baik kepada Laju.
“Pertemuan orang tua akan diadakan 6 bulan lagi, tentu saja di gedung
akademi tersebut. Dari yang saya dengar dari alumni, sebenarnya pertemuan
tersebut tidaklah berpengaruh terhadap kehidupan akademik. Siswa tetap akan
belajar pada semester baru, seperti pada umumnya, seperti pada siswa yang
bahkan tidak mendapatkan surat undangan.” Ucapnya kepada Laju yang setelahnya
dilanjutkan untuk bercerita banyak hal tentang Akademi Keinsinyuran Negeri yang
sama sekali berbanding terbalik dengan apa yang diberitahukan oleh sekolah.
“Sepertinya sekolahmu memang membencimu, dik Laju.” Ucapnya kepada Laju,
sedikit memberikan simpati.
“Tidak masalah. Memang banyak orang yang ingin menjahati orang-orang
seperti saya ini,” dan sesi ini sekarang menjadi curahan hati antara kedua
orang asing yang baru saja bertemu. Jadi, apakah negosiasi berjalan lancar?
Sang petugas wanita terpikat oleh karisma yang dimiliki Laju? Atau ada
hubungannya dengan cerita naasnya?
Tes sudah berakhir. Sekarang, mereka sudah kembali ke lobi untuk Laju
berikan kompensasi kepada sang petugas. “Terima ini, sebagai ucapan terima
kasih,” senyum Laju kepada sang petugas, sambil memberikan amplop yang berisi
uang.
Kepentingannya sudah selesai. Dia tidak perlu lagi menghabiskan waktunya
untuk melakukan bimbingan di tempat ini. Dia lakukan sendiri saja jika waktunya
sudah tiba, untuk melakukan ujian mandiri. Toh, sekolah telah membohonginya
bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan.
Pak Ahmad memang benar sekutunya.
Datang mengunjungi tempat ini menyelesaikan masalahnya, memberikannya
masa depan yang sedikit lebih cerah.
Dia melangkah lebih percaya diri, dengan postur yang lebih tegap.
Laju keluar dari gedung, pergi memanggil taksi berencana untuk pulang,
bersiap kembali ke zona nyamannya untuk kembali hidup dengan mudah.
Lihat! Bahkan, taksi sudah datang sebelum Laju memanggilnya.
Sepertinya ini taksi yang sedang menunggu penumpang.
“Hidup memang mudah,” ucap laju dalam hati.
Tapi, ketika Laju membuka pintu untuk mulai masuk. Tangannya dipegang dan
ditarik oleh seseorang dari belakangnya. Laju sontak, kaget, dan terperanjat
dengan sentuhan yang tiba-tiba tersebut, seperti ingin menculiknya.
Siapa gerangan yang telah menariknya?
Dari postur tangan yang kecil, halus, lembut, dan dingin, sepertinya ini
bukan postur tangan penculik. Apakah ini perempuan? Ini Delphia.
Jadi apakah betul Delphia penguntit Laju?
“Apa sih kamu!? Selalu saja datang tiba-tiba begini!” Laju menarik
tangannya kembali sekaligus membanting tarikan Delphia.
Dan jawaban Delphia masihlah keheningan tanpa bahasa.
“Mengganggu saja kerjaanmu. Dasar penguntit! Enyahlah! Pergi-pergi!
Sana!” usir Laju, dengan sedikit dorongan yang kasar kepada perempuan aneh ini.
Untuk satu detik, Delphia kembali ingat apa yang dia terima di
sekolahnya, ketika diusir juga oleh teman-temannya. Delphia panik, dia seperti
ingin menangis. Tapi setelah dia terjatuh, dia kembali sadar dengan tujuannya.
“Dik, jadi masuk atau tidak?” tanya sang supir dengan suara yang teredam
masker.
Laju yang sudah kembali berdiri tegap pada posturnya, mengelus tangannya
bekas tarikan Delphia seakan baru saja ternodai. Selanjutnya, dia mulai
menunduk dan memasuki taksi. Tapi, lagi-lagi Delphia menarik badan Laju untuk
keluar dari taksi. Dia tarik lagi tangannya seakan ingin bilang kepadanya untuk
pergi dari tempat ini sekarang juga.
Kekesalan Laju sudah memuncak. Perasaanya yang riang gembira tidak ingin
dihancurkan oleh kedatangan perempuan asing yang selalu mengganggu ini.
Sekarang, dengan pasti, Laju usir Delphia dengan kasar sampai terjatuh sedikit
lebih jauh.
“Awas! Pergi sana dasar cewek aneh!!” Teriak Laju
Sekarang, dengan mantap Laju berhasil memasuki taksi dan duduk dengan
tenang. Delphia sudah dapat dipastikan tidak bisa mengganggunya. Tidak. itu
salah besar.
Delphia yang terjatuh tadi, mulai menangis, dan merangkak memasuki taksi,
menguncinya dengan mantap. Duduk di samping Laju, dengan badan yang masih
sakit-sakitan, dengan air mata yang masih mengalir deras.
“Jadi kalian cuman pasangan yang bertengkar doang, heh?” tanya sang
supir.
Laju panik dan gelagapan. Apalagi ketika taksi malah memutuskan untuk
berjalan, bahkan sebelum Laju beritahukan tempat tujuannya.
“Loh! Berhenti, pak! Kenapa cewek ini masuk juga? Turunkan dia dulu,
dong!”
“Tidak apa-apa, justru saya ini baik loh, ingin kalian lebih akrab,”
serunya kepada Laju lewat spion tengah.
Laju ingin memaki dan menghujat mereka berdua. Apa-apaan ini? kalian
bertindak seenaknya! Tapi, ketika Laju ingin berbicara, terlihat botol yang kemudian
disemprotkan oleh sang supir taksi. Laju kaget, napasnya tersedak setelah
menghirup aroma aneh itu.
__ADS_1
“A-ap… Ken-apa?” tanya Laju, bersamaan dengan kesadarannya yang
berangsur hilang.