Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 39


__ADS_3

“Ah…, h-halo?” Laju tergagap.


“Hahahah! Kamu benar-benar memang sudah berubah rupanya. Apa yang kota ini lakukan padamu, Ju?” Adrian tertawa terbahak-bahak.


“Eh? Ah! Apakah kamu sedang sibuk? Apakah sedang ada pekerjaan?”


“Wah! Pertanyaan yang cukup mengharukan datang darimu. Kamu peduli terhadap hal itu? Sudahlah! Lupakan saja itu. Ayo kita minum terlebih dahulu! Tenangkan dirimu!”


“…Ya!”


Adrian yang kaget dengan kehadiran teman lamanya itu langsung merangkul saja bocah ini dengan kuat, dengan niat untuk membawanya pergi ke tempat makan favoritnya. Membawanya jalan-jalan mengelilingi kota dan segala macam.


Laju yang terlihat canggung mengiyakan saja ajakan Adrian. Sebenarnya, ada sejuta antusiasme dan rasa senang yang meliputi hatinya saat ini.


Tapi, entahlah… dia hanya kehabisa kata-kata.


“Permisi, saya pesan yang biasa untuk dua orang, ya!” Sebut Adrian pada pelayan restoran. “Ayo kita cari tempat duduk dulu!” Ajaknya kemudian.


“Wah….!” Laju terkesima dengan restoran yang dimasukinya ini.


“Ada apa? Kamu tidak pernah pergi ke restoran sama sekali semenjak kesini?”


“Ti-tidak. Tidak? Aku pikir aku tidak pernah pergi ke restoran yang seperti ini sebelumnya. Aku hanya pergi ke toko-toko kecil supermarket atau kedai saja. Tidak untuk yang seperti ini. Aku pikir restorannya akan sangat ekstrim atau segala macam. Diluar dugaan ini cukup normal dan sederhana.”


“Haha! Memangnya apa yang kamu pikirkan, sih? Dipenuhi oleh perempuan, ya? Oh iya! Kamu pergi kemana ketika di Gloria kemarin? Kamu bersama dengan dua gadis? Aku takjub, loh! Serius!”


“Tidak. Aku hanya pergi ke rumah sakit saja saat itu. Berbicara Gloria, kenapa kamu ada disini? Bagaimana dengan pekerjaanmu itu? Aku jadi penasaran lagi tentang semua-semuanya.”


“Rasanya aneh kamu bertanya tentang pekerjaanku ketika kamu sudah melihat mereka dengan mata kepalamu sendiri di kota ini.”


“Eh? Iya juga ya. Haha! Lalu bagaimana dengan Bos Alex? Bagaimana kabarnya? Apakah kamu masih sering pulang dan berdiskusi dengannya?”


“Akhir-akhir ini tidak. Tugasku sedikit lebih sulit. Biasanya, aku hanya menjadi pengamat, mencari bukti, dan itu saja cukup. Tapi, sekarang aku harus lebih bersifat aktif di dalam komunitas. Oleh karena itu aku sering bulak-balik Kannaris dan Gloria.”


“Wah? Ada komunitas yang kamu ikuti disini? Komunitas apa?”


“Sebenarnya tidak begitu penting. Hanya perkumpulan-perkumpulan kecil saja. Kalau kamu penasaran, kamu bisa datang. Aku yakin orang-orang disana pasti akan senang mendapatkan teman baru.”


“Ahahah. Baiklah. Aku akan menantikan itu.”

__ADS_1


“Lalu, apa yang kamu lakukan disini? Apakah kamu berhasil hidup di tempat yang keras dan kotor ini? Yah, melihatmu sehat seperti ini harusnya itu pertanyaan bodoh, sih!”


“Awalnya memang sulit. Tapi semakin hari aku semakin bisa beradaptasi dan hidup dengan tenang disini.”


“Memangya kamu hidup dengan siapa? Atau hidup sendiri menyewa apartemen?”


“Hahaha! Aku tidak memiliki hal seperti itu disini. Aku tinggal bersama orang lain disini. Dia beastmen banteng yang bekerja dengan para polisi. Aku membantu mereka.”


“Hah? Kamu? Laju membantu polisi? Kamu melakukan apa? membantu penyelundupan oknum-oknum?”


“Apa yang kamu bicarakan? Tentu saja tidak. Polisi dengan artian polisi! Menjaga keadlian dan ketentraman kota!”


“Kamu? Serius? Bekerja dengan polisi?”


“…yah? Memangnya apa yang salah dengan itu?”


“…sebenarnya tidak juga. Aku hanya kaget saja. Sepertinya, semenjak pergi ke kota ini hidupmu betul-betul berubah, ya. Seperti hidup sepenuhnya. Oh, ya. Apakah kamu sudah berhasil mendapatkan surat undangan itu?”


“Surat undangan?”


“Ya. Kau pergi konsultasi denganku berencana berurusan dengan hal illegal untuk mendapatkan surat undangan itu, kan? Aku pikir kamu datang kesini untuk mendapatkan itu. Bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkannya?”


“…Iya, ya. Surat undangan. Betul! Surat undangan kampus, ya?”


“Ah, iya! I-itu juga salah satu alasannya. Aku masih berusaha untuk mencari jalan pulang. Transportasi disini repot juga, ya! Haha!”


“Tenang saja. Aku tidak akan pulang dalam waktu dekat, kok. Aku pasti akan menemanimu disini. Lagipula, temanku di komunitas punya cara untuk pulang. Nanti kamu tanya dia saja. Pasti dia bisa paham akan kondisimu. Aku yakin!”


“B-Baiklah.”


“Sudah-sudah. Tidak perlu membicarakan hal serius lagi. Silahkan pesan lagi saja makanan apapun. Kita bersenang-senang saja disini!”


Setelah beberapa lama, Adrian pun mulai mengalihkan pembicaraan menjadi lebih kasual dan humor. Berusaha untuk mengekspresikan kejenuhannya setelah bekerja, berusaha untuk menghibur diri.


Laju mengiyakan mengikuti saja, berusaha untuk menghibur diri dengan setiap lelucon yang Adrian utarakan.


Karena, Laju tidak begitu bisa menikmatinya. Dia sedang merenung, mempertanyakan penyataan Adrian barusan yang menusuk kalbu dan pribadinya, juga eksistensinya yang sedang berada di antara para monster dan keanehan kota ini.


Laju terlalu sibuk dengan banyak hal yang tidak penting, sampai lupa tujuan awal dia berjuang keras untuk apa.

__ADS_1


Perihal pertanyaan Adrian tentang surat undangan, berdasarkan petugas yang bekerja di institusi bimbingan belajar kemarin, itu bukan masalah lagi.


Semuanya bisa Laju atur sedemikian rupa, asalkan dia bisa pulang.


Lalu, kenapa selama ini Laju belum pulang?


Apa yang menghambatnya untuk tidak pulang ke kotanya, ke dunianya?


Laju perlahan kebingungan sendiri dengan pertanyaannya. Sampai pada akhirnya dia tidak begitu menyadari sekelilingnya, tiba-tiba saja hari sudah akan berakhir.


“Yah, bernostalgia dengan teman lama memang menyenangkan. Kalau kamu ingin berkunjung ke komunitas, datang saja tanpa sungkan. Kamu masih memiliki kartu namaku, kan? Disana ada alamatnya, kok.”


“Ah… iya. Baiklah! Aku pasti datang!”


“Kalau begitu, aku duluan ya. Sampai jumpa!” seru Adrian melambaikan tangan, meninggalkan Laju sendirian di depan restoran.


Laju merogoh sakunya, melihat kartu nama yang sempat diberikan oleh Adrian beberapa minggu lalu saat mereka pertama kali bertemu di Gloria.


Kartunya sudah lusuh.


Beruntung, Laju masih bisa melirik sedikit informasi darinya.


Sebenarnya, dia tidak bisa begitu paham dengan alamat yang tertera, selain fakta bahwa komunitas yang Adrian bicarakan berada di Blok T. Mungkin, dia bisa bertanya Iris atau siapapun untuk membawanya pergi kesini.


“Eh???” Laju kebingungan sendiri.


Sembari melihat kartu nama yang sedang dipegang oleh tangan kirinya, secara tidak sengaja dia melihat sekelebat sebuah wadah yang sedang dipegang oleh tangan kanannya. Sebuah kantung wadah yang menyimpan dan membawa pesanan kopi yang dipesan oleh teman-temannya di kantor.


“Oh, tidak! Aku lupa!”


Dengan gesit, Laju langsung berlari dengan cepat untuk sampai dengan segera ke kantor Parker, pergi ke lantai empat, memasuki ruangan dimana teman-temannya sudah menunggunya.


“Hm…” dehaman Audy yang panjang sembari menggeliat di sofa kantor ketika melihat pesanannya sudah tidak menarik lagi.


“Memangnya apa yang terjadi di kota? Tidak banyak laporan masuk yang penting untuk ditindak. Beberapa memang ada perkelahian di sana-sini. Tapi itu tidak membuatmu terlambat hingga enam jam?” tanya Iris dibalik meja Parker.


“Ehehehe!” tawa Laju berusaha untuk mendinginkan suasana.


Beruntung, mereka tidak terlalu ambil pusing terhadap perkara ini.

__ADS_1


Hal ini membuat Laju bisa kembali ke kamarnya untuk berbaring santai di atas kasurnya. Untuk merenung semua yang terjadi hari ini dengan Adrian, sambil memainkan kartu nama yang kumal dan kusam.


“Blok T? Dimana aku pernah mendengarnya, ya?”


__ADS_2