
Di hadapannya sekarang, terdapat peradaban yang terdiri dari kumpulan
masyarakat dengan kebudayaan dan lingkungan yang sangat berbeda dengan
kesehariannya selama ini.
Kota ini terlihat sangat maju, bahkan jauh lebih modern dibandingkan
kehidupan normalnya selama ini. Tapi, kota ini justru terlihat mengenaskan,
menyedihkan, cukup memprihatinkan, dan jangan lupakan juga penampakan yang
sangat kotor.
Laju menikmati waktunya untuk terperangah melihat kiri dan kanan,
melihat kota yang sangat asing baginya ini.
Banyak kendaraan yang berlalu lalang melayang dan terbang dengan
lintasan yang begitu apik, rapi, dan terstruktur hingga tidak terdapat
kecelakaan yang tidak penting.
Di setiap persimpangan jalan juga terdapat hologram di sana sini yang
bergerak sedang mengiklankan produk makanan, produk kecantikan, atau acara
televisi, hingga kepentingan politik yang diliputi oleh banyak lampu neon di
banyak tempat.
Jika dia harus menjelaskan kondisi kota yang sedang dilihatnya ini, penjelasan
yang cocok adalah bahwa kota ini merupakan kota yang sangat modern dengan
banyak teknologi termahsyur, namun sayangnya dihuni oleh banyak masyarkat yang
hidup di bawah rata-rata.
“Apa sebutannya? Cyberpunk?”
Laju bertanya dalam hati.
“Selamat datang di Kannaris,” jawab sang wanita.
Laju merasa sangat asing dengan nama tersebut. Nama macam apa itu? Itu
nama kota ini? Dia berusaha untuk menerka dan mencari semua memori tentang nama
tersebut. Namun, tidak ada ingatan yang cocok untuk menjelaskan penjelasan sang
wanita itu.
Ada satu hal lain yang mengganjal. Meskipun dia tahu betul bahwa kota
ini tidak pernah dikunjunginya, entah mengapa Laju merasakan perasaan yang
tidak asing bahwa dia pernah melihat ini, merasakan ini, dan mengunjungi kota
ini.
Laju merasa tidak asing dengan kota yang baru dikunjunginya ini, dengan
semua keanehan yang terjadi di dalamnya.
Laju berusaha berpikir dan mengingat. Kenapa dia tidak merasa asing?
Kenapa? Atas dasar alasan apa?
Kota yang terlihat kotor dan menyedihkan ini, dengan langit hijau
kecoklatannya.
Bug!
Seseorang menabrak Delphia yang tidak sengaja menabrak Laju juga.
“Hati-hati kalau jalan, manusia bodoh!” Bentaknya.
Tubuhnya yang terbanting dan mendapatkan kontak fisik dengan Delphia,
sang gadis aneh yang selalu mengikutinya ini, merangsang ingatan terdalamnya.
Laju pernah mengunjungi tempat ini!
Dia mengingatnya.
Matanya melotot dan malah ketakutan. Ingatan ini berasal dari dalam
mimpinya!
Mimpi yang diperlihatkan oleh Delphia, dimana dia sudah tidak bernyawa karena
tertimbun puing gedung.
Laju mengeratkan giginya. Apakah itu betul masa depannya?
__ADS_1
“Hei, bocah! Kau sedang apa? Cepat kesini!” Ucap sang wanita yang
mengalihkan pikiran Laju. Awalnya, dia ingin protes. Tapi, mengingat dia bisa
membebaskan diri dari belenggu mimpi yang bisa mengikatnya, dia cukup
bersyukur. Setidaknya, dia bisa melupakan mimpi dan ingatan itu untuk sekarang.
Ingat! Mimpi itu tidak penting!
Laju pun mulai menoleh mencari sang wanita untuk terpaksa mengikutinya.
Ya. Tentu saja terpaksa. Laju ingin pulang dan mengabarkan orang tuanya
tentang pertemuan di akademi. Tapi, bagaimana caranya? Wanita tersebut berkata
bahwa kota ini adalah kota terdekat yang bisa dijangkau oleh Laju dan Delphia.
Meskipun terdekat, sebenarnya waktu yang dibutuhkan untuk sampai kesini
dengan berjalan kaki akan memakan waktu enam sampai tujuh hari untuk sampai.
Jika yang terdekat saja sebetulnya sangat jauh, bagaimana dengan kota asalnya?
Tapi, bagaimana dia bisa datang kesini tentu tidak menghabiskan waktu
selama itu. Bahkan, durasinya mungkin hanya kurang dari satu jam. Hal ini dikarenakan
sang wanita tersebut berubah kembali menjadi burung gagak dan membantu mereka
untuk sampai dengan melesat terbang cepat. Sebenarnya, ada teknik khusus yang
digunakannya. Tapi, Laju memilih untuk tidak mengingatnya karena teknik
tersebut membuat perutnya mual.
Sebenarnya, Laju tidak menyukainya, pun mempercayainya. Tapi Laju tidak
punya pilihan. Mengikuti wanita ini satu-satunya jalan menuju kepulangannya.
Meskipun, ada satu pilihan lain yang mungkin bisa laju percayai.
Tapi apakah pilihan ini sebenarnya bisa Laju andalkan?
Jawabannya adalah Delphia. Laju berpikir sejenak. Dia menarik napas dan memusatkan
pikirannya. “Delphia tidak bisa diandalkan,” ucapnya meyakinkan diri.
Tunggu, apakah dia masih mual dan tidak sadarkan diri?
Kota ini, Kannaris ini, memang benar-benar sangat tidak masuk akal!
Jika melihat gedung dan lingkungannya saja, aneh bukanlah deskripsi yang
tepat. Karena, deskripsi yang tepat untuk lingkungannya sudah Laju katakan
sebelumnya tentang kondisi yang lebih modern, meskipun lebih menyedihkan.
Yang membuatnya tidak masuk akal datang dari masyarakatnya yang tinggal
dan bermukim di kota ini! Dengan kata lain, orang-orangnya. Mereka lebih
abnormal, lebih aneh, bahkan melebihi keanehan sang wanita maupun Delphia!!!
Mungkin karena Laju terlalu fokus melihat perbedaan lingkungan dan suasana
dan yang baru dari kota ini, Laju tidak begitu memerhatikan satu aspek penting
yang justru selama ini berada di dekatnya, bahkan berinteraksi dengannya. Salah
satunya contohnya adalah ketika dia ditabrak salah satu dari mereka yang
dilanjutkan dengan ocehan tidak pentingnya tadi.
Fisik masyarakat di kota ini memang menyerupai manusia pada umumnya.
Memiliki dua kaki, dua tangan, tubuh, kepala, dan lain sebagainya. Mungkin, ada
beberapa pengecualian dimana beberapa dari mereka memiliki tiga kaki, empat
tangan, atau lain sebagainya.
Tapi, ada yang lebih penting dari itu semua.
Tidak hanya warna yang bervariasi dari biru muda, biru tua, merah, atau
hijau. Tapi, ada juga bagian tubuh yang seharusnya tidak dimiliki oleh manusia
pada umumnya!! Ada yang memiliki insang, ada yang matanya hanya satu, ada yang
memiliki tanduk, ada yang memiliki sayap, ada yang telinganya panjang, ada juga
yang memiliki ekor.
Untuk yang satu ini, Laju bisa menyimpulkanya dengan cepat dan akurat.
Berdasarkan informasi dari video konspirasi yang Adrian jelaskan,
__ADS_1
kategori yang cocok untuk mengelompokkan mereka adalah ‘Makhluk Monster Aneh’.
Mungkin, tubuh mereka hampir menyerupai manusia, tapi mereka tetap bukan
manusia. Mereka adalah monster – meskipun sebenarnya pengelompokkan nama monster
hanyalah anggapan satu sisi dari Laju tanpa ada kesepatan dari pihak kedua.
Meskipun begitu, lingkungan yang modern tetap dapat didefinisikan dengan
baik oleh masyarakat ini, para monster ini. Hal ini dikarenakan ada banyak
organ bionik yang ditanamkan pada tubuh mereka sehingga penampakan mereka
seperti separuh mesin.
Ada organ yang mengganti matanya, tangannya, atau sampai seluruh
tubuhnya.
Bug!
Ketika Laju asik melihat kiri dan kanan pada masyarakat yang asing ini,
lagi-lagi dia ditabrak seorang monster yang perawakannya seperti makhluk mistis
yang dikenalinya; orc, yang berwarna hijau dan lebih besar darinya.
“Duh! Jalan yang benar, dong!” Laju mengeluh sebentar untuk selanjutnya
kembali berlari mencari sang wanita. Tapi, usaha tersebut langsung dihentikan
oleh sang monster orc ini yang langsung menarik tangan Laju dan melemparnya
keras ke salah satu dinding gedung di samping.
Sebenarnya, tidak ada retak sama sekali baik pada dinding gedung, maupun
pada tulang dan tengkorak Laju.
Tapi itu tetap saja menyakitkan!
Perbedaan kekuatan yang dimiliki sang monster tampaknya sangat besar
jika dibandingkan dengan Laju, maupun dengan sang kakak.
“AKH!!!” Laju mengerang kesakitan.
Punggunya seperti terbakar, tersengat, sangat sakit.
“Mengganggu saja, manusia!” Sebut sang monster yang tidak peduli dan
langsung berjalan mengurusi urusannya.
Delphia yang panik langsung pergi mendatangi Laju yang terbaring. Tapi,
dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, dia kebingungan untuk memegang dan
membantu Laju, selain memberikan ekspresinya yang gelisah dan khawatir melihat
Laju yang terbatuk-batuk dan sulit untuk berdiri.
“Ahahaha! Apa yang terjadi? Kenapa kamu terlempar begitu?” Tanya sang
wanita yang juga mendekati Laju.
Laju tidak menjawab, selain erangan sakitnya. Dia berdiri, mengeluh, dan
membersihkan debu yang kotor. Dia murung, cemberut, tidak ingin membahasnya.
“Sudahlah lupakan saja,” ucapnya mengajak sang wanita untuk kembali pergi.
“Haha! Orang-orang disini memang begitu. Sangat sensitif. Apalagi
akhir-akhir ini ada banyak kericuhan tidak penting yang merepotkan mereka.
Hidup sangat sulit!” Jelas sang wanita yang lanjut berjalan.
Laju tahu, dia harus segera keluar dari zona nyamannya.
Kehidupan yang mudah tidak akan dia dapati lagi.
Dengan terpaksanya dia pergi ke kota Kannaris ini, bertemu orang-orang atau
monster aneh yang begitu asing yang bisa seenaknya bermain fisik. Laju tidak
memiliki pilihan lain selain bersiap untuk memulai hidup penuh kesengsaraan.
Setidaknya, dia harus bertahan sampai enam bulan kedepan, sebelum
pertemuan orang tua di akademi dilaksanakan.
Tapi, tentu saja Laju tidak berniat untuk tinggal selama itu.
Sebisa mungkin, secepat mungkin, dia harus mencari jalan pulang!
“Heh!” Laju kembali berdeham.
__ADS_1