Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 3


__ADS_3

Satu detik setelah hilang kesadaran, Laju merasakan dirinya sedang


berada dalam sebuah ruangan tanpa batas yang sangat gelap. Setelah dirinya


sedikit lebih sadar, Laju merasakan bahwa dirinya sedang mengambang melayang di


tengah-tengah ruangan.


Dari dalam kegelapan, muncul sinar menyilaukan yang memakannya kembali.


Sinar itu memindahkan Laju dari ruangan yang serba gelap menuju bagian


depan ruang kelas di sekolahan, seakan Laju sedang maju dan mengerjakan soal di


papan tulis. Sebenarnya, perhatian yang diberikan orang-orang masih berpusat


kepada dirinya. Tapi, ini jelas-jelas bukan suasana dan perasaan yang dikenalinya.


Semua orang sekarang membencinya, menjauhinya, dan mencibirnya.


Keresahannya menjadi nyata.


Tapi yang terjadi setelahnya justru lebih mengerikan dan menakutkan.


Laju yang berjalan kembali ke tempat duduknya melihat sebuah tangan tak


terlihat yang usil merogoh laci mejanya. Mengambil dan mencuri sebuah surat


yang terlihat seperti surat undangan dari akademi yang dia dapatkan berkat


prestasi dan kebolehannya.


Permasalahan ini bisa saja Laju bawa ke jalan hukum. Surat itu, kertas


itu, dokumen itu, merupakan barang yang berisi harapan dan masa depannya. Surat


itu merupakan jalan untuknya agar bisa hidup dengan normal di masa depan


sekaligus berdamai dengan masa lalu dan mimpi buruknya.


Pencurian itu sama saja seperti mencuri masa depan milik Laju. Wajar


saja jika dia membawa hukum ke dalam masalah ini karena ingin mengamankan masa


depannya, kan?


Masalahnya, tangan tak terlihat itu juga sekaligus membuat surat undangan


akademi hilang tak berbekas seperti dimakan oleh angin. Ini tentu bukan sesuatu


yang bisa ditindak ke jalur hukum karena pelakunya bahkan tidak ada.


Siapa yang mencuri barangmu? Tangan tak terlihat? Jangan bercanda!


Lalu, jika bukan hukum yang bisa membatunya, siapa lagi yang bisa? Apakah


dia masih bisa mengatasi pencurian sepihak itu sendirian? Tunggu, Laju harusnya


masih bisa meminta bantuan, kan? Bagaimana dengan kepala sekolah?


Tidak. Tidak bisa. Seisi sekolah membencinya, ingat? Laju tidak bisa lagi


meminta bantuan dengan menjual karismanya sebagai murid superstar.


Jika statsunya sebagai murid berprestasi tidak bisa


membantunya, lalu siapa? Oh, teman! Bukankah itu arti dari teman?


Teman adalah hubungan antara dua orang atau lebih yang saling


membutuhkan dan menguntungkan, kan? Kita saling membantu jika teman membutuhkan


pertolongan, kan?


Laju berpikir ulang. Dia harusnya…, masih memiliki teman, kan? Iya, kan?


Laju mulai panik. Keringat dingin pun bercucuran.


Untuk apa semua makan-makan, semua canda tawa, semua waktu yang dikorbankan


kepada semua ‘temannya’ jika mereka tidak bisa membantunya? Laju pergi kesana


kemari, mencari sekilas siluet orang-orang yang dikenalinya. Mencari seseorang


yang bisa diajak berbicara dan bercakap-cakap dengannya. Membantunya mencari


solusi di tengah kondisi yang kacau seperti ini.


Tapi lagi-lagi, seisi sekolah benar-benar super serius dalam membencinya.


Semua orang benar-benar membuang mukanya dan menolak untuk sekadar berbicara


dengan Laju. Ini berlaku untuk semua tim basket, teman kelasnya, bahkan para

__ADS_1


siswi yang sempat mengaguminya. Laju berusaha mengingat dimana dia salah


berbicara, salah tingkah, salah ucap, salah melakukan sesuatu yang membuatnya


begitu dijauhi.


Apakah dia berlebihan dalam menjahili teman?


Apakah dia berlebihan dalam menyombongkan dirinya?


Tidak. Itu bukan salahnya. Dia hanya menjawab pertanyaan yang ditanyakan


padanya. Lagipula itu fakta! Bukannya kebohongan belaka. Tidak! Bukan itu


alasannya.


Ternyata, jawabannya berada di belakangnya ketika Laju kebingungan


berdiam membatu di lorong sekolah.


“Awas, Ju! Kamu menghalangi jalan,” ucap suara yang sangat dikenalinya.


Laju berusaha menoleh, tapi lelaki itu sudah terlanjur menabrak dan menjatuhkannya.


Setelahnya, Laju benar-benar naik pitam ketika melihat sosoknya. Dia berusaha


bangkit, ingin berdebat dengan lelaki tersebut, bahkan bertarung dengannya jika


perlu.


Itu Fadli.


“Hati-hati dengan apa yang kamu lakukan, Ju!” Seru temannya yang


sekarang berdiri melindungi Fadli. “Pergilah! Tidakkah kamu sadar bahwa ini


semua salahmu!?”


“Salah? Salah apa aku!?” Teriak Laju kepada temannya.


Fadli menatap sinis dengan sangat tajam. Laju merasa terbakar menatapnya.


Juga takut, terintimidasi, hingga dia meringkuk dan membalikkan diri. Tunggu.


Sejak kapan…, isi sekolah sehancur ini?


Baru saja dia berlarian ke penjuru sekolah melihat kondisi yang masih


normal. Tapi sekarang, semuanya hancur porak poranda seperti ada gempa, ada


belakang.


Laju terperanjat. Dia balik badan lagi. Tapi, yang ada di depannya bukan


lagi lorong sekolah, melainkan taman bermain yang berada di kompleknya. Fadli


berjalan menjauh bersama ‘mantan’ teman-teman Laju. Mereka memasuki mobil


favorit Laju dengan supir yang Laju kenali juga. Kenapa pelayannya sekarang


melayani Fadli? Mereka ikut-ikutan membelot menyalahkan Laju.


“Ini salahmu, Tuan Laju!” Sebut para pelayan.


Laju kebingungan. Dia juga takut. Dia harus apa? Dia tidak bisa


berpikir. Dia berdiri. Dia memaksakan diri untuk berdiri. Apa dia harus lari


lagi? Dia tidak peduli. Laju balik badan dan berusaha lari dari semua


kehancuran ini.


“Ini tidak terjadi! Ini salah, ini tidak mungkin terjadi! Aku tidak


salah! Aku tidak pernah salah! Aku selalu bisa memperbaikinya! Maaf! Maaf! Maaf!”


Teriaknya sambil berlari menuju kegelapan, dalam kehampaan, dalam mimpinya yang


mengerikan. Pada pagi buta yang membangunkan ayam bahkan sebelum berkokok.


Laju bangun dari tidurnya. Dia baru saja mimpi buruk?


Tubuhnya basah oleh keringat. Napasnya tersenggal, dia terengah-engah, dia


lelah.


Dia melihat sekeliling memastikan diri. Dia berada di kamarnya, duduk di


atas kasur empuknya di pagi buta, baru saja mengalami mimpi.


“Semuanya baik-baik saja,” Laju memastikan diri. “Semuanya baik-baik


saja.”

__ADS_1


Tidak.


Semuanya tidak baik-baik saja.


Bukan hanya mimpi buruk itu saja yang menghancurkan paginya.


Perasaan yang campur aduk saat bangun bukanlah hal yang menyenangkan.


Semburat sinar mentari tidak bisa dinikmati dengan maksimal karenanya. Tapi itu


tidak masalah. Dia tidak bisa begitu mengendalikan mimpinya, kan? Tapi kenapa


semuanya malah jadi kacau balau begini? Kenapa orang-orang suka menggangu


kehidupan orang lain, sih?


Sekarang Laju ada di ruang makan dengan meja yang kosong, kecuali piring


serta sendok dan garpu. Mukanya terlipat, benar-benar terlipat. Dia


menghembuskan napas panjang. Dia kecewa, sangat kecewa, bingung, dan juga


sangat kesal.


Terdapat suara wanita tua yang terus meminta maaf di sampingnya. Tapi


itu tidak membuat sarapannya datang lebih cepat, kan? Perutnya berteriak. Mereka


keroncongan. Hatinya juga ikut berteriak, bahkan menjadi panas. Hingga berlanjut


kepada Laju yang berteriak, berkeluh kesah, unjuk rasa, kepada lampu yang


menggantung di langit-langit.


“Apa sih!? Kenapa sih!? Terus sarapannya butuh berapa lama lagi sampai


selesai!?” Akhirnya Laju membuka mulutnya, meskipun bukan untuk melahap


makanan. Pelayan-pelayannya entah kenapa pagi ini sangat tidak telaten, sangat


ceroboh, linglung, seperti anak kecil yang kebingungan.


“Mohon maaf Tuan Laju, tapi ada beberapa kendala dari-…” Yang keluar


dari para pelayannya tidak lain adalah permintaan maaf yang sudah dari pagi diucapkan.


Laju lelah. Dia memilih untuk menutup telinganya.


Sejak Laju keluar dari kamarnya, sudah banyak alasan yang diutarakan


oleh para pelayan yang bervariasi antara satu dengan yang lainnya untuk


menutupi kesalahan mereka dalam mengurus rumah. Apakah alasan itu dibuat-buat?


Awalnya Laju tidak begitu peduli, sampai dia harus mengalami pagi hari terburuk


yang pernah ada.


Laju berharap inilah pagi yang terburuk untuknya.


Akhirnya seseorang dari dapur membawa makanan dengan tergesa-gesa. Dia membawa


sup panas kesukaan Laju, berharap agar suasana hati tuannya membaik.


Jrub!


Meja roda yang membawa sup tersebut justru tersendat dan jatuh berantakan


menyia-nyiakan sarapan yang sudah Laju nantikan. Laju kebingungan sampai tidak


bisa berkata apa-apa lagi. Sudah tidak ada lagi kata-kata yang dapat mewakili


kekecewaanya, kekesalannya, kegeramannya, pada pagi hari yang hancurnya ini.


“Ma-maaf Tuan Laju. Tapi, Tapi-…” Suaranya dihentikan. Sudah tidak perlu


beralasan apa-apa lagi. Laju sudah tidak kuat berpikir lagi. Dia ambil saja selembar


roti yang tampaknya masih bersih di atas meja roda yang jatuh tadi untuk


dimakan.


Dia pergi ke teras depan, siap pergi ke sekolah.


Tapi paginya masih jauh dari kata normal. Atau mungkin kehidupannya?


Muncul asap dari mesin mobil favortinya yang seharusnya sudah disiapkan


untuk mengantarkannya ke sekolahan.


“Kenapa, pak!?” Tanya Laju kepada sang supir dengan tawa ringannya,


dengan sarkastik, dengan senyum tipisnya.

__ADS_1


Tidak. Laju tidak membutuhkan sepatah jawaban pun.


__ADS_2