
Satu detik setelah hilang kesadaran, Laju merasakan dirinya sedang
berada dalam sebuah ruangan tanpa batas yang sangat gelap. Setelah dirinya
sedikit lebih sadar, Laju merasakan bahwa dirinya sedang mengambang melayang di
tengah-tengah ruangan.
Dari dalam kegelapan, muncul sinar menyilaukan yang memakannya kembali.
Sinar itu memindahkan Laju dari ruangan yang serba gelap menuju bagian
depan ruang kelas di sekolahan, seakan Laju sedang maju dan mengerjakan soal di
papan tulis. Sebenarnya, perhatian yang diberikan orang-orang masih berpusat
kepada dirinya. Tapi, ini jelas-jelas bukan suasana dan perasaan yang dikenalinya.
Semua orang sekarang membencinya, menjauhinya, dan mencibirnya.
Keresahannya menjadi nyata.
Tapi yang terjadi setelahnya justru lebih mengerikan dan menakutkan.
Laju yang berjalan kembali ke tempat duduknya melihat sebuah tangan tak
terlihat yang usil merogoh laci mejanya. Mengambil dan mencuri sebuah surat
yang terlihat seperti surat undangan dari akademi yang dia dapatkan berkat
prestasi dan kebolehannya.
Permasalahan ini bisa saja Laju bawa ke jalan hukum. Surat itu, kertas
itu, dokumen itu, merupakan barang yang berisi harapan dan masa depannya. Surat
itu merupakan jalan untuknya agar bisa hidup dengan normal di masa depan
sekaligus berdamai dengan masa lalu dan mimpi buruknya.
Pencurian itu sama saja seperti mencuri masa depan milik Laju. Wajar
saja jika dia membawa hukum ke dalam masalah ini karena ingin mengamankan masa
depannya, kan?
Masalahnya, tangan tak terlihat itu juga sekaligus membuat surat undangan
akademi hilang tak berbekas seperti dimakan oleh angin. Ini tentu bukan sesuatu
yang bisa ditindak ke jalur hukum karena pelakunya bahkan tidak ada.
Siapa yang mencuri barangmu? Tangan tak terlihat? Jangan bercanda!
Lalu, jika bukan hukum yang bisa membatunya, siapa lagi yang bisa? Apakah
dia masih bisa mengatasi pencurian sepihak itu sendirian? Tunggu, Laju harusnya
masih bisa meminta bantuan, kan? Bagaimana dengan kepala sekolah?
Tidak. Tidak bisa. Seisi sekolah membencinya, ingat? Laju tidak bisa lagi
meminta bantuan dengan menjual karismanya sebagai murid superstar.
Jika statsunya sebagai murid berprestasi tidak bisa
membantunya, lalu siapa? Oh, teman! Bukankah itu arti dari teman?
Teman adalah hubungan antara dua orang atau lebih yang saling
membutuhkan dan menguntungkan, kan? Kita saling membantu jika teman membutuhkan
pertolongan, kan?
Laju berpikir ulang. Dia harusnya…, masih memiliki teman, kan? Iya, kan?
Laju mulai panik. Keringat dingin pun bercucuran.
Untuk apa semua makan-makan, semua canda tawa, semua waktu yang dikorbankan
kepada semua ‘temannya’ jika mereka tidak bisa membantunya? Laju pergi kesana
kemari, mencari sekilas siluet orang-orang yang dikenalinya. Mencari seseorang
yang bisa diajak berbicara dan bercakap-cakap dengannya. Membantunya mencari
solusi di tengah kondisi yang kacau seperti ini.
Tapi lagi-lagi, seisi sekolah benar-benar super serius dalam membencinya.
Semua orang benar-benar membuang mukanya dan menolak untuk sekadar berbicara
dengan Laju. Ini berlaku untuk semua tim basket, teman kelasnya, bahkan para
__ADS_1
siswi yang sempat mengaguminya. Laju berusaha mengingat dimana dia salah
berbicara, salah tingkah, salah ucap, salah melakukan sesuatu yang membuatnya
begitu dijauhi.
Apakah dia berlebihan dalam menjahili teman?
Apakah dia berlebihan dalam menyombongkan dirinya?
Tidak. Itu bukan salahnya. Dia hanya menjawab pertanyaan yang ditanyakan
padanya. Lagipula itu fakta! Bukannya kebohongan belaka. Tidak! Bukan itu
alasannya.
Ternyata, jawabannya berada di belakangnya ketika Laju kebingungan
berdiam membatu di lorong sekolah.
“Awas, Ju! Kamu menghalangi jalan,” ucap suara yang sangat dikenalinya.
Laju berusaha menoleh, tapi lelaki itu sudah terlanjur menabrak dan menjatuhkannya.
Setelahnya, Laju benar-benar naik pitam ketika melihat sosoknya. Dia berusaha
bangkit, ingin berdebat dengan lelaki tersebut, bahkan bertarung dengannya jika
perlu.
Itu Fadli.
“Hati-hati dengan apa yang kamu lakukan, Ju!” Seru temannya yang
sekarang berdiri melindungi Fadli. “Pergilah! Tidakkah kamu sadar bahwa ini
semua salahmu!?”
“Salah? Salah apa aku!?” Teriak Laju kepada temannya.
Fadli menatap sinis dengan sangat tajam. Laju merasa terbakar menatapnya.
Juga takut, terintimidasi, hingga dia meringkuk dan membalikkan diri. Tunggu.
Sejak kapan…, isi sekolah sehancur ini?
Baru saja dia berlarian ke penjuru sekolah melihat kondisi yang masih
normal. Tapi sekarang, semuanya hancur porak poranda seperti ada gempa, ada
belakang.
Laju terperanjat. Dia balik badan lagi. Tapi, yang ada di depannya bukan
lagi lorong sekolah, melainkan taman bermain yang berada di kompleknya. Fadli
berjalan menjauh bersama ‘mantan’ teman-teman Laju. Mereka memasuki mobil
favorit Laju dengan supir yang Laju kenali juga. Kenapa pelayannya sekarang
melayani Fadli? Mereka ikut-ikutan membelot menyalahkan Laju.
“Ini salahmu, Tuan Laju!” Sebut para pelayan.
Laju kebingungan. Dia juga takut. Dia harus apa? Dia tidak bisa
berpikir. Dia berdiri. Dia memaksakan diri untuk berdiri. Apa dia harus lari
lagi? Dia tidak peduli. Laju balik badan dan berusaha lari dari semua
kehancuran ini.
“Ini tidak terjadi! Ini salah, ini tidak mungkin terjadi! Aku tidak
salah! Aku tidak pernah salah! Aku selalu bisa memperbaikinya! Maaf! Maaf! Maaf!”
Teriaknya sambil berlari menuju kegelapan, dalam kehampaan, dalam mimpinya yang
mengerikan. Pada pagi buta yang membangunkan ayam bahkan sebelum berkokok.
Laju bangun dari tidurnya. Dia baru saja mimpi buruk?
Tubuhnya basah oleh keringat. Napasnya tersenggal, dia terengah-engah, dia
lelah.
Dia melihat sekeliling memastikan diri. Dia berada di kamarnya, duduk di
atas kasur empuknya di pagi buta, baru saja mengalami mimpi.
“Semuanya baik-baik saja,” Laju memastikan diri. “Semuanya baik-baik
saja.”
__ADS_1
Tidak.
Semuanya tidak baik-baik saja.
Bukan hanya mimpi buruk itu saja yang menghancurkan paginya.
Perasaan yang campur aduk saat bangun bukanlah hal yang menyenangkan.
Semburat sinar mentari tidak bisa dinikmati dengan maksimal karenanya. Tapi itu
tidak masalah. Dia tidak bisa begitu mengendalikan mimpinya, kan? Tapi kenapa
semuanya malah jadi kacau balau begini? Kenapa orang-orang suka menggangu
kehidupan orang lain, sih?
Sekarang Laju ada di ruang makan dengan meja yang kosong, kecuali piring
serta sendok dan garpu. Mukanya terlipat, benar-benar terlipat. Dia
menghembuskan napas panjang. Dia kecewa, sangat kecewa, bingung, dan juga
sangat kesal.
Terdapat suara wanita tua yang terus meminta maaf di sampingnya. Tapi
itu tidak membuat sarapannya datang lebih cepat, kan? Perutnya berteriak. Mereka
keroncongan. Hatinya juga ikut berteriak, bahkan menjadi panas. Hingga berlanjut
kepada Laju yang berteriak, berkeluh kesah, unjuk rasa, kepada lampu yang
menggantung di langit-langit.
“Apa sih!? Kenapa sih!? Terus sarapannya butuh berapa lama lagi sampai
selesai!?” Akhirnya Laju membuka mulutnya, meskipun bukan untuk melahap
makanan. Pelayan-pelayannya entah kenapa pagi ini sangat tidak telaten, sangat
ceroboh, linglung, seperti anak kecil yang kebingungan.
“Mohon maaf Tuan Laju, tapi ada beberapa kendala dari-…” Yang keluar
dari para pelayannya tidak lain adalah permintaan maaf yang sudah dari pagi diucapkan.
Laju lelah. Dia memilih untuk menutup telinganya.
Sejak Laju keluar dari kamarnya, sudah banyak alasan yang diutarakan
oleh para pelayan yang bervariasi antara satu dengan yang lainnya untuk
menutupi kesalahan mereka dalam mengurus rumah. Apakah alasan itu dibuat-buat?
Awalnya Laju tidak begitu peduli, sampai dia harus mengalami pagi hari terburuk
yang pernah ada.
Laju berharap inilah pagi yang terburuk untuknya.
Akhirnya seseorang dari dapur membawa makanan dengan tergesa-gesa. Dia membawa
sup panas kesukaan Laju, berharap agar suasana hati tuannya membaik.
Jrub!
Meja roda yang membawa sup tersebut justru tersendat dan jatuh berantakan
menyia-nyiakan sarapan yang sudah Laju nantikan. Laju kebingungan sampai tidak
bisa berkata apa-apa lagi. Sudah tidak ada lagi kata-kata yang dapat mewakili
kekecewaanya, kekesalannya, kegeramannya, pada pagi hari yang hancurnya ini.
“Ma-maaf Tuan Laju. Tapi, Tapi-…” Suaranya dihentikan. Sudah tidak perlu
beralasan apa-apa lagi. Laju sudah tidak kuat berpikir lagi. Dia ambil saja selembar
roti yang tampaknya masih bersih di atas meja roda yang jatuh tadi untuk
dimakan.
Dia pergi ke teras depan, siap pergi ke sekolah.
Tapi paginya masih jauh dari kata normal. Atau mungkin kehidupannya?
Muncul asap dari mesin mobil favortinya yang seharusnya sudah disiapkan
untuk mengantarkannya ke sekolahan.
“Kenapa, pak!?” Tanya Laju kepada sang supir dengan tawa ringannya,
dengan sarkastik, dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
Tidak. Laju tidak membutuhkan sepatah jawaban pun.