Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Epilog


__ADS_3

Kondisi jalan raya yang sedang ramai penggunanya bukanlah berita baik. Hal ini menyebabkan keluarga yang baru saja pulang dari pertemuan yang melelahkan tadi saling buang muka dengan ekspresi kecut dan perasaan malasnya.


Biasanya, percakapan ringan seperti basa-basi yang diinisiasi oleh sang supir bisa membuat keadaan menjadi lebih tenang dan dingin untuk semuanya.


Tapi, untuk kasus yang ini sang supir hanya bisa fokus menyetir mobilnya dengan gugup, berharap tidak ada gangguan yang aneh-aneh yang dapat menyebabkan mobil oleng dan memperparah suasana hati keluarga ini.


Meskipun begitu, sang supir sedikit takjub dengan bocah yang duduk di belakang.


Sudah tiga setengah bulan sejak pertemuannya di stasiun yang diluar dugaan. Tapi, sepertinya bocah ini masih menjadi pribadi yang sama seperti tiga setengah bulan lalu, belum menunjukkan untuk kembali ke dirinya dahulu yang menjengkelkan.


“Ahahaha, itu memang pertemuan yang lama, ya!” Sebut Laju dengan tawa kecilnya.


“…” Tapi, tidak ada respon apapun selain klakson mobil di sekeliling mereka.


“Apalagi dengan jalan yang macet, semuanya jadi bikin malas saja, ya! Aku harap kita bisa segera pulang!” Lanjutnya berusaha untuk mendindingkan suasana.


Sayangnya, dia tidak berhasil melakukannya.


Wajar saja. Ada orang yang lebih terampil untuk benar-benar secara harfiah mendinginkan orang-orang.


Tunggu? Siapa?


Laju berusaha mengingat, sekaligus berusaha untuk tidak memikirkannya.


Sangat disayangkan memang minim sekali percakapan yang bisa keluarga ini lakukan di dalam mobil, yang harusnya menjadi waktu penting untuk saling berkomunikasi dan memperkuat tali hubungan mereka.


Sebenarnya, waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar sampai rumah tidak kurang dari tiga jam. Namun, dengan segala kendala dan situasi yang membuat suasana hati mereka sangat buruk, perjalanan ini terasa seperti satu abad lamanya.


Apalagi, salah satu dari mereka merasa bahwa ini semua tetap menjadi sebuah kesia-siaan belaka. Dia benar-benar tidak bisa menikmati semua perjalanan ini, juga semua usaha ini.


Setidaknya, dengan pulang ke rumah mereka bisa mendinginkan kepala mereka.


Bisa…, kan?


“Aku ingin istirahat penuh. Jangan kalian berani untuk mengganggu meskipun hanya mengetuk, kecuali aku yang meminta!!!” Perintah sang ayah begitu keluar dari mobil dengan amarah yang meledak-ledak. Setelahnya, dia pun langsung pergi menuju ruangannya dan melempar pintu dengan keras.


Sebenarnya, sang ibunda berencana untuk memelas dan melayani sang suami apapun cara yang diperlukan. Sebagai istri yang patuh, memang sudah tugasnya untuk membuat suasana hatinya membaik dan segala macam.

__ADS_1


Tapi, pertolongannya yang bahkan berbentuk niat saja langsung ditolak mentah-mentah oleh sang pasangan, meninggalkannya membatu di lorong ruangan.


Dia pun sempat murung dan memikirkan banyak hal.


Tapi, pada akhirnya dia lebih memilih untuk pergi ke dapur, mengambil botol minuman kesukaannya, meminta makanan dari sang pelayan dengan porsi yang tidak masuk akal, dan pergi memasuki kamarnya sendiri – yang terpisah dari sang suami.


Apa yang terjadi?


Bukankah hari ini adalah salah satu titik balik dari rencana dan janji mereka ketika pertemuan orang tua dari akademi berhasil direalisasikan? Kita baru saja pulang dari pertemuan itu, kan? Masalah Laju yang masuk dengan cara lain masih bisa diurusnya dengan mudah, kan?


Lalu kenapa tetap terjadi perang dingin di dalam rumahnya?


Detak jantung Laju mendadak memompa dengan cepat, memberikan rasa nyeri kepada kepalanya, juga memproduksi keringat lebih banyak. Karena tidak ada yang bisa Laju lakukan, dia pun kembali ke kamarnya sembari mengerutkan alisnya dan menjatuhkan diri ke atas kasur.


Ada satu hal yang benar-benar mengusik pikirannya.


Laju mengingat suatu mimpi yang dia rasakan terakhir kali. Tentang masa lalu, tentang perdebatan, tentang pertengkaran yang terjadi di luar kamarnya.


Ketika ayahnya sudah mulai putus asa dan lelah untuk mempercayainya, ketika ibunya yang sama sekali tidak bisa menarik hati ayahnya lagi, ketika semuanya hancur berantakan seperti masa lalu.


Kenapa kejadian ini malah berulang?


Tidak!


Tidak ada gunanya murung bersedih dan berspekulasi terhadap apa yang mungkin hanya halusinasi belaka. Tidak ada satu pun orang yang bisa akurat memprediksi masa depan, kecuali orang itu sendiri yang berusaha memperjuangkannya.


Dan sekarang, Laju sedang memperjuangkan masa depannya.


Mungkin, semuanya akan baik-baik saja.


Tidak!


Semuanya pasti akan baik-baik saja.


Ketika tes universitas sudah dilaksanakan, ketika Laju bisa mendapatkan peringkat nomor satu pada ujian masuk, ketika mereka akhirnya bisa pindah rumah kepada residensi universitas yang berkelas dan sangat dipandang oleh masayarakat, ketika semua anggota keluarganya bisa mendapatkan benefitnya secara langsung, pasti semuanya akan saling menepati janji dan kembali menjadi keluarga yang normal.


“Pasti! Pasti! Itu semuanya pasti!” Sebut Laju berusaha meyakinkan diri sendiri.

__ADS_1


Lagipula, jika dia masih memiliki rasa takut akan dirinya yang ditinggalkan lagi di dalam kamar, terpaksa untuk mendengar segala pertengkaran yang terjadi oleh orang tuanya. Maka, solusi yang bisa dia lakukan sekarang bukankah keluar dari kamar dan tetap berusaha mendinginkan suasana di rumah?


Kenapa repot?


“Ya!” Sebut Laju bersemangat.


Dan dengan begitu, dia mulai berangkat dari kasur berencana untuk keluar dari kamar.


Sembari berjalan, Laju sekaligus bercermin berusaha sekali lagi untuk meyakinkan diri sendiri dan meningkatkan rasa percaya dirinya. Berulang kali dia tatap dirinya di dalam cermin, sekaligus memberikan gestur bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Tidak lupa untuk mengingatkan dirinya bahwa dia adalah manusia spesial yang dapat melakukan semua pekerjaan dengan mudah dan sempurna.


Ingat? Ketika nilai tidak pernah absen dari angka 100? Ketika medali emas bisa didapatkannya ketika baru saja masuk esktrakulikuler basket? Ketika Bos Alex langsung menyukainya sekaligus mendapatkan koneksi ke berbagai jenis orang-orang yang unik? Ketika dia berhasil mengalahkan panglima-panglima dan pengawal Bos Alex?


Oh!


Jangan lupakan juga ketika dia berhasil menjadi korban selamat kecelakaan kereta? Mengalahkan manusia yang tubuhnya tiga kali lipat lebih besar darinya? Ketika dia berhasil selamat dua minggu di hutan antah berantah? Ketika dia bisa mengalahkan satu kamp puluhan manusia seorang diri? Ketika dia berhasil mengalahkan puluhan lain lizardmen di gorong-gorong bawah tanah? Ketika…


Ketika dia berhasil mengalahkan monster jamur raksasa?


Semakin lama Laju melihat dirinya di dalam cermin, Laju merasakan ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.


Apa? Masa depannya?


Tidak mungkin.


Masa depannya memang pernah berhasil dicuri oleh pihak sekolah kemarin. Tapi, bukankah dia berhasil mendapatkannya lagi?


Lalu kenapa dia masih merasa kehilangan? Kenapa dia merasa sesuatu yang sangat penting baginya sudah tercuri begitu saja? Lagipula pencurian ini dilakukan oleh siapa? Siapa yang mencurinya? Apa yang dicurinya?


Dengan refleks, Laju mengamati tangan kanannya.


Tanpa ada alasan yang jelas, ada rasa menggelitik yang sedikit sakit dan lucu yang sangat Laju rindukan.


“Sesuatu masih hilang, masih tercuri…” Laju meyakinkan diri sendiri.


Satu kedipan berikutnya, Laju paham betul apa yang hilang dari dalam hidupnya. Dengan cepat dia berlari pergi menuju ruang makan dan dapur, membuka kulkas, dan mengeluarkan seluruh es batu yang ada di dalam kulkas tersebut untuk dimasukkan ke dalam wadah berisi air, membuatnya sedingin mungkin.

__ADS_1


Selanjutnya, dia masukkan tangannya ke dalam air es yang dingin tersebut, berharap ada sesuatu di dalam pikirannya yang bisa membuatnya nyaman.


“Tidak. Ini tidak benar. Ini salah! Bukan ini rasa dingin yang aku inginkan,” protes Laju.


__ADS_2