
Besoknya, Laju bangun dengan segar setelah kebutuhan primernya lumayan
terpenuhi. Hal ini karena Laju tidak bisa begitu menikmatinya dengan maksimal
karena kualitas yang diberikan tidak sebaik pelayanan rumahnya.
Tapi mau bagaimana lagi?
Laju tidak punya pilihan.
Setelah mengucapkan terima kasih secukupnya kepada para petugas polisi
yang pagi buta sudah bertugas, Laju pergi ke pintu depan untuk kembali
menjelajah kota absurd ini, Kannaris, untuk mencari cara bagaimana dia bisa
pulang.
Di depannya, sudah ada Delphia yang duduk termenung menatap sekitar
dengan tatapan kosong, dengan perasaan yang lebih reda. Tidak lagi panas penuh
emosi, serta campur aduk seperti semalam.
“Heh!” Laju mendengus lagi, tidak terlalu peduli.
Laju melangkah dengan sedikit percaya diri.
Lagipula, satu-satunya jawaban yang bisa dia dapatkan dalam permasalahan
bagaimana dia pulang berada pada Parker dan teman-temannya itu. Khususnya, pada
wanita yang bisa berubah menjadi gagak hitam kemarin, yang bernama Iris.
Wanita tersebutlah yang membawa Laju masuk ke kota ini. Setelah
mengitari kota mencari cara bagaimana bisa keluar dari dunia aneh ini, Laju
hanya menemukan jalan buntu yang berakhir pada keputusasaan. Sepertinya, dia
hanya bisa pulang dengan teknologi teleportasi yang sama sekali tidak bisa dia
mengerti, kecuali harganya yang mahal.
Mungkin, karena itu juga masih banyak kendaraan yang berlalu lalang di
jalanan kota. Untuk kebutuhan yang tidak mendesak, mereka masih harus
menggunakan mobil dan segala macamnya. Namun, jika tujuannya sedikit lebih jauh
yang membutuhkan pemotongan waktu perjalanan, barulah mereka akan menggunakan
teknik teleportasi tersebut.
Di antara gedung-gedung kota, Laju berjalan dengan percaya diri tanpa
basa-basi. Seperti biasa, Delphia mengikuti di belakangnya. Namun, ada sedikit perbedaan
dari ekspresinya kali ini. Mungkin hal ini ada hubungannya dengan ucapan Laju
semalam, Delphia tidak lagi berjalan dengan gelagapan, murung, ataupun
menundukkan kepalanya.
Dia berjalan lebih tegak, seperti orang-orang umumnya. Dengan tidak
malu-malu ataupun ragu terhadap sesuatu. Namun, ada harga yang harus
dibayarnya. Tatapan matanya kini berubah menjadi kosong tak berisi.
Seperti sedang memikirkan sesuatu, memisahkan tubuh dan pikirannya untuk
melakukan hal yang berbeda. Tubuhnya untuk berjalan mengikuti Laju, pikirannya
untuk terbang memikirkan banyak hal.
Yah, bukannya itu mengganggu Laju juga.
Setelahnya, mungkin karena sudah terbiasa berjalan kaki dengan cukup
lama dua hari terakhir, Laju tidak menyangka dirinya sudah berada di depan
gedung kediaman Parker dan teman-temannya. Sebenarnya, jika menghitung waktu
perjalanan yang ditempuh oleh mereka, 40 menit sekian sudah berlalu.
Tapi itu tidak begitu dipikirkannya.
Karena, yang membuat hatinya gundah sekarang adalah bagaimana dia harus
menghadapi lagi Parker yang baru saja kemarin mempermainkannya, memperoloknya,
dan mengejeknya. Apalagi, mengingat proposal yang Laju utarakan kemarin yang
lebih terlihat seperti rengekan daripada kesepakatan.
“Heh!” Dengan tangannya yang terlipat di atas dada – seperti biasa, Laju
mendengus memikirkan bagaimana tetap mempertahankan harga dirinya.
Dia melihat ke belakang. Disana, terdapat Delphia yang sedang bosan
menendang sampah kesana-kemari mengisi waktu. Tunggu, untuk apa dia melihat
gadis ini?
“Ugh!” Laju kesal sendiri, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Laju menghirup napas dalam, mengeluarkannya perlahan.
Dia menggenggam tangannya dengen kuat, siap memasuki gedung.
Seperti kemarin, Laju melintasi lorong gelap, melewati banyak poster
dengan tulisan yang tidak bisa dibacanya, sampai melewati ruangan penuh monster
yang sedang bersantai membaca koran, membaca buku, atau menjalani aktivitas
normal lainnya.
Sampai Laju menaiki tangga, monster pendek merah pekat yang masih
melakukan tugas bersih-bersih sempat melindungi dirinya karena melihat dia
datang. Sedikit trauma karena mentalnya diserang habis-habisan oleh celotehan manusia
itu, monster tersebut yang melihat Laju tidak menghiraukannya malah kaget dan
__ADS_1
terjatuh karena rasa leganya melihat Laju tidak akan memarahinya lagi.
Laju sebenarnya sempat meliriknya dari ujung pandangannya. Tapi, karena
tujuannya bukan lagi untuk menyenangkan diri sendiri, dia lebih fokus untuk menaiki
tangga menuju lantai empat untuk mengunjungi ruangannya Parker dimana terdapat
makhluk aneh yang masih asing di matanya.
Parker dengan bentuk tubuhnya yang besar, taring, juga tanduk. Audy
dengan ekor dan telinga kucingnya, dan Aaron dengan warna kulitnya yang biru
dan insang-insangnya.
“?”
Semua yang berada di ruangan kaget melihat Laju datang dengan angkuh.
Tapi, Laju bukannya berbicara protes atau segala macam terhadap Parker.
Dia datang memasuki ruangan tanpa dosa, diam, dengan tangannya yang dimasukkan
kantung celana, sembari melihat sekeliling, mendengus, dan diakhiri duduk yang
semena-mena tanpa permisi.
Brruuut!
Tiba-tiba saja, terdengar suara seperti kentut yang sangat keras begitu
Laju menjatuhkan tubuhnya di salah satu sofa di dalam ruangan.
Semua yang berada di dalam ruangan terperanjat kaget, apalagi Laju yang
langsung panik berdiri dengan penasaran apa gerangan yang baru saja terjadi.
“Hahahah! Ternyata yang kena bocah ini rupanya,” tawa Iris terbahak
sampai memegang perutnya melihat kejahilannya sukses lagi.
“Kh!” Laju berusaha menahan malu.
Berikutnya, dia kembali duduk perlahan, sambil bersyukur tidak ada suara
aneh lainnya yang keluar. Setelahnya, barulah dia lebih tenang untuk memulai
percakapan.
“Laju!? Kamu kembali rupanya. Ada apa?” Tanya Parker dengan senyumannya.
“Heh! Kalian kan yang membuangku sampai ke pinggir kota kemarin?”
“Haha! Jangan marah begitu. Itu ide Iris. Seperti yang kamu lihat
barusan, mereka memang sedikit jahil. Lagipula kamu juga pada akhirnya kembali
kesini tanpa ada luka atau semacamnya, kan?”
“Keterlaluan!”
“Lagipula kamu ingin kami membantumu, kan? Anggap saja kejadian kemarin
hanya sebuah tes untuk mengukur tingkat kepantasanmu.”
“Ya. Sebuah tes. Kamu ingin pulang, kan?”
“Ng!”
“Setidaknya, kamu harus menjadi orang yang pantas yang bisa kita bantu,
kan?”
“Tidak perlu repot. Tentu saja aku orang yang pantas. Aku selalu–”
“Tapi hasil kelahi kemarin tidak membuktikan itu?”
“Kh!”
“Bagaimana. Apakah kamu menerima usulan ini? Jika kamu masih tidak
mengerti, biarkan aku sederhanakan. Lakukan sesuatu untukku terlebih dahulu,
baru aku akan membantumu.”
“Kamu pikir aku bodoh? Tentu saja aku mengerti!” Laju sedikit kesal.
“Lalu? Apa yang harus aku lakukan kalau begitu?”
Parker tersenyum. “Nah, begitu dong. Baru kita berbicara.”
Laju mendengus lagi.
“Sebelum itu, mungkin karena perkenalan yang terlambat. Biarkan kita
memperkenalkan diri terlebih dahulu. Selamat datang! Kami adalah kelompok
pembela kebenaran dan keadilan yang menjaga kedamaian di kota. Ya, sederhananya
begitu. Tentu saja kita akan membantumu pulang. Itu salah satu tugas kami.
Tapi, sesuai janjimu. Kamu harus membantu pekerjaan kami terlebih dahulu. Kesepakatan
yang setimpal, kan? Kita sama-sama diuntungkan.” Parker menjelaskan.
Selanjutnya, Parker menjelaskan lebih lanjut serba-serbi yang terjadi di
lingkungan dan kota ini, dan keberadaan mereka di antara semua lingkungan
sosial yang ada.
Seperti yang sudah Laju ketahui, nama kota ini adalah Kannaris.
Kannaris ini merupakan perbatasan terakhir yang disepakati oleh
dewan-dewan ras yang maha agung yang memisahkan kehidupan manusia dan ras
lainnya. Jadi, jika manusia ataupun ras lain ingin saling berhubungan, kota ini
lah tempatnya.
Meskipun begitu, hal itu tidak semudah teori yang dijelaskan. Karena,
masih ada kota yang disebut sebagai perbatasan yang benar-benar membatasi
Kannaris dan dunia manusia. Dan di daerah perbatasan lah letak ledakan kereta
__ADS_1
yang dialami oleh Laju dan Delphia kemarin. Maka dari itu, kalian tidak mungkin
menemukan rel kereta di sekitar Kannaris.
Berbicara dengan dewan-dewan ras, Parker menjelaskan bahwa dunia luar
masihlah sangat luas. Bahkan, mereka memiliki teknologi yang jauh lebih
berkembang dibanding manusia. Kenapa? Karena manusia tidak pernah membuka
kontak dengan dunia luar. Maka dari itu jugalah muncul kota ‘perbatasan’.
Kota itu muncul sebagai bentuk pertahanan terakhir manusia untuk
mengisolasi diri dari ras-ras lainnya. Kecuali, akhir-akhir ini memang terdapat
banyak manusia nakal yang gemar melakukan penyelundupan di pasar gelap sehingga
Kannaris sendiri hingga memiliki daerah khusus manusianya sendiri
Tapi, berhubung Laju tidak terlalu peduli dengan dunia luar selain
manusia dan keberadaan ras-ras lainnya, Parker tidak melanjutkan lebih lanjut.
Karena yang ada dipikiran Laju sekarang hanya pulang ke rumahnya, Parker hanya
menjelaskan posisi mereka, posisi Kannaris, dan posisi dunia manusia secara
umum saja.
Lalu dimanakah posisi kelompok Parker ini sebagai pembela kebenaran dan
keadilan? Hal ini ada hubungannya dengan para manusia nakal yang menyelundupkan
banyak hal dan yang bekerja di pasar gelap. Karena kedatangan mereka,
akhir-akhir ini banyak perseteruan ras yang terjadi di penjuru kota. Asumsi ini
datang dari para korban yang mengaku bahwa mereka diadu domba oleh para
manusia.
Dan disitulah peran Parker dan kelompoknya. Yaitu untuk membuat keadaan
lebih tenang sekaligus membantu polisi jika keadaan semakin tidak terkendali. Hal
ini disebabkan oleh kemunculan kelompok yang dikenal dengan nama Venom Snake
yang selalu meracuni satu ras dengan ras lainnya untuk melakukan kericuhan di
dalam kota, bahkan berperang dengan saudaranya sendiri.
Sebenarnya, ada banyak anggota yang sudah Parker kumpulkan untuk
membantunya menjaga ketertiban di Kannaris. Namun, banyak dari mereka sedang
bekerja mengambil misi di banyak titik kota yang rentan terjadi perseteruan.
Salah satu perseteruan manusia yang terjadi baru-baru ini adalah
serangan di kereta yang sudah dikonfirmasi oleh Iris seluk beluknya. Berdasarkan
penjelasan sang pelaku ‘sang kakak’, mereka berusaha untuk mengadu domba bahwa
suatu ras telah menyebabkan kecelakaan pada fraksi manusia untuk memancing
keributan dan perang demi keuntungan mereka sendiri yang belum diketahui apa.
“Lalu, untuk tugasmu berikutnya, lebih baik–”
Sebelum Parker menyelesaikan kata-katanya, Iris lebih dahulu menyela.
“Kalian bereskan komplotan-komplotan gerakan revolusi oleh antek-antek manusia
yang bersembunyi di dalam hutan. Menurut perkiraanku, mereka masih satu
kelompok dengan orang-orang yang kalian temukan pasca insiden kereta,” Iris
menjelaskan.
“Bisakah aku mempercayai wanita ini? Bagaimana jika ternyata disana yang
aku temukan hanya kejahilannya lagi?” Protes Laju.
“Haha! Tenang saja. Sifatnya memang selalu usil. Tapi, jika sudah
menyangkut dunia pekerjaan, kata-katanya merupakan saran untukku. Dan dengan
begitu, maka itulah yang akan kalian lakukan berikutnya.”
“Heh! Kalau memang hanya harus melawan komplotan manusia yang serupa
dengan di kereta, bukankah itu terlalu mudah? Aku pasti bisa melakukannya
sendiri. Tidakkah kalian bisa meningkatkan tingkat kesulitannya?”
Tung!
Aaron melempar kelereng lain.
“Wah, kamu sangat percaya diri, ya. Tenang saja. Kalau kamu memang
merasa bisa melakukannya sendirian, misi ini pasti akan sangat menyenangkan.
Kalau begitu, Iris tolong antar mereka, ya.” Ucap Parker.
“Siap,” Iris menunduk hormat, langsung berputar diliputi oleh banyak
bulu-bulu burung hitam yang terbang kesana-kemari.
“Tunggu! Mau apa kamu? Tidak bisakkah kita gunakan transportasi
konvensional saja?” Laju sempat menolak akan dibawa dalam kantung Iris lagi
untuk terbang bersama.
Tapi Iris tidak menggubrisnya.
Dia liputi Laju dalam pelukannya, menutup semua indranya perlahan,
terbang meliputi kota, dan pergi dengan cepat menuju tempat tujuan.
Laju yang mengetahui Iris akan melakukan teknik ‘itu’ lagi, dia mulai
menyiapkan mental dan fisiknya, terutama mulut dan pencernaannya. Dia enggan
merasakan mual yang merepotkannya itu.
__ADS_1