
“Apakah kalian mendengar kabar terbaru dari pasar gelap?”
“Hah!? Bukankah kita sudah memutus hubungan dengan mereka? Atau mereka
masih berusaha mencari gara-gara?”
“Tidak, tidak. Bukan itu. Aku juga tidak ingin lama-lama berurusan
dengan mereka. Masalah itu sudah diurusi dan diselesaikan oleh Bos. Yang aku
bicarakan beda lagi, ini mengenai gosip dan gibahan para pedagang yang bekerja
disana.”
“Ada apa? Apakah bahkan malaikat sudah ikut campur tangan?”
“Kehadiran orang ini katanya memang menyerupai malaikat, sih.”
“Wah!? Dia melakukan apa!? Mengajak kebaikan pada seluruh pedagang?”
“Tentu tidak, lah! Ini hanya perandaian! Bukan malaikat betulan!”
“Lalu dia melakukan apa?”
“Dia membuat ekonomi di sana berkembang pesat. Lebih banyak anggota
masuk. Bahkan, hingga mendapatkan sponsor untuk mengembangkan bisnis!”
“Pasar gelap? Apakah kita sedang membicarakan konteks yang sama?”
“Maka dari itu! Harusnya pasar itu milik bersama, kan? Tapi yang satu
ini seperti sudah dikuasai olehnya.”
“Memangnya dia siapa?”
“Tidak ada yang tahu. Tapi, dia dipanggil dengan sebutan ‘VS’ sebagai jasa
pengabdiannya karena bisa mendapatkan sponsor!”
“… Jadi, mereka musuh atau kawan?”
“Pada akhirnya berakhir kesana, kan?”
“Sementara, mereka masih netral. Tapi, ini cerita yang menarik, kan?”
“Tapi… apakah cerita itu betulan? Bukan hanya kabar burung?
“Jangan pedulikan hal sepele itu… yang penting kita bisa menikmati malam
ini lebih santai, kan? Cerita-cerita yang menarik membuat kita terobsesi dan
tidak mudah mengantuk!”
“Kalau begitu aku ceritakan pengalaman horror kemarin saja.”
“TIDAK!!”
Malam hari.
Di dalam reruntuhan atau desa yang ditinggalkan itu, terdengar beberapa
orang sedang berbicara satu sama lain. Berdasarkan suara yang mereka hasilkan,
harusnya ada sekitar tiga orang.
Laju masih belum bertindak untuk masuk, kecuali mengamati saja.
Ini malam ketiganya untuk mengamati, atau malam ke-14nya untuk tetap
tinggal dan bersemayam di dalam hutan.
Meskipun tujuannya sudah di depan mata, dia tidak ingin buru-buru
bertindak, atau dia akan mati di tempat. Tujuannya adalah mengalahkan mereka
dan menghancurkan tempat tersebut. Perlu lebih banyak informasi untuk membuat
strategi yang matang dalam perencanaan yang efektif untuk menyelesaikan misi
dengan mudah.
Malam ini, dia sudah menentukan akan mulai beraksi.
Seperti biasa, penjagaan lebih rentan saat malam hari. Meskipun memang
ada yang berjaga patroli, tapi kebanyakan dari mereka hanya buang-buang waktu
saja, tidak fokus untuk melakukan penjagaan. Bahkan, sempat Laju amati beberapa
orang malah tidur di waktu patrol malam mereka.
Setelah beristirahat sebentar untuk memulihkan energi, Laju pun perlahan
mengendap-endap untuk melancarkan aksinya.
Musuh yang akan dilawannya memang hanya seorang manusia. Harusnya, Laju
bisa mengalahkan mereka dengan sangat mudah. Sekalipun mereka berubah menjadi
mutan sekalipun – seperti ‘sang kakak’ yang ditemukannya pada saat insiden
kereta, Laju akan tetap mengalahkannya, jika lawannya adalah manusia.
Tapi, Laju tidak ingin melawan puluhan manusia secara serentak.
Itu tindakan bodoh.
Lebih baik, Laju kalahkan musuhnya satu persatu untuk mengoptimalkan
kesuksesan misinya dengan lebih baik. Meskipun mengendap-endap mencari waktu
yang pas untuk melancarakan serangan membutuhkan banyak kesabaran, ketenangan,
juga mental yang kuat untuk bertahan menjaga posisi tubuh.
Tung!
Laju berusaha mengalihkan perhatian para penjaga yang sedang patroli
dengan melemparkan sesuatu sehingga membuat bunyi yang mencurigakan.
Sesuai dugaannya, separuh dari mereka akan berusaha mengecek suara
tersebut yang kemudian memecah formasi bertahan yang mereka miliki. Inilah
tujuan Laju untuk lebih memudahkannya menumbangkan musuhnya.
“Ada apa disana?” Seru penjaga yang masih menjaga pos berusaha bertanya
pada dua temannya yang sudah lebih dulu mengecek sumber suara. “Hei!?” Merasa
pertanyaanya tidak dijawab segera, penjaga ini pun memutuskan untuk menyusul
temannya, berusaha membantunya kalau ada masalah yang merepotkan.
Perlahan tapi pasti, dia mengendap-endap mencari jalan berusaha
mendekati dua temannya yang tadi pergi meninggalkan pos, yang ditutupi oleh
malam yang gelap, juga banyak pohon, dan semak-semak. Sampai dia sadari bahwa dua
temannya tadi sudah terkapar tak sadarkan diri, dia pun panik, dan berusaha
untuk memanggil bala bantuan.
Sayangnya, dari balik kegelapan, dari sampingnya, muncul cengkraman yang
kuat yang menerkam lehernya. Penjaga tersebut kesulitan bernapas, dan pada
akhirnya berakhir serupa seperti dua temannya yang tidak bisa menyadarkan
dirinya lagi.
“Fuuh,” ucap Laju mengibaskan tangannya.
Dan dengan begitu, dia berhasil membuka salah satu penjagaan di
reruntuhan yang akan dia telusuri ini. “Ayo masuk, Del!” Ajaknya kemudian.
Meskipu tiga manusia telah dikalahkan dengan sempurna, Laju tetap tidak
bisa menurunkan penjagaanya. Dia masih harus mengendap-endap dengan super
hati-hati agar tidak memancing keributan.
Beruntung, reruntuhan yang sedang dieksplorasinya ini masih memiliki
bentuk bangunan yang setengah utuh yang berfungsi untuk menyembunyikan dirinya di
balik bayangan. Dengan luas sekitar separuh lapangan sepak bola, Laju berusaha menjaga
energi dan mentalnya untuk tetap bersabar mengendap-endap mengalahkan seluruh
musuh yang diperkirakan ada total 30-an orang.
“Sutt,” Laju mengisyaratkan Delphia untuk tetap meminimalisirkan suara
yang mereka hasilkan. “Sini-sini!”
Sekarang, Laju sudah berada di bagian tengah dari reruntuhan dan
melewati beberapa bangunan yang dihuni oleh para komplotan ini untuk melakukan
kegiatan sehari-hari, khususnya tidur. Sembari berlindung di balik dinding
gedung, Laju sedang menunggu saat yang tepat untuk menerkam lagi petugas yang
sedang patroli di jarak pandangnya.
Tapi, ketika Laju berusaha mengamati sekitarnya lebih baik, perhatiannya
teralihkan oleh sebuah patung pria setengah naga yang berada di kejauhan di
samping kirinya. Entah mengapa, pandangan Laju sangat terpikat dengan mata
merahnya yang sangat menyala, juga dengan pose yang dipahat begitu gagah dan
luar biasa elegan.
Melalui patung tersebut, Laju seakan dihipnotis untuk mendekatinya,
seakan mendengar suara-suara yang memanggilnya.
Srriiiiing!!!
Beruntung, rasa dingin yang menyerang tangannya langsung menyadarkan
kesadaran. Laju pun kembali fokus kepada misi yang sedang dilakukannya.
“Ah! Aduh… Terima kasi–”
Tapi begitu Laju berusaha untuk balik badan mengucapkan terima kasih, di
belakangnya tidak ada siapapun kecuali es yang perlahan mencair. Itulah sumber
dinginnya. Tapi dimanakah Delphia?
Bukankah baru saja mereka bersama-sama?
Laju betul melihat gadis itu mengikutinya, kan?
“Del!” Laju berusaha berteriak mencari dengan diam.
“Halo!?” Tiba-tiba saja, di depannya terdapat suara di balik dinding
gedung. “Aduh, itu orang patroli masih saja malas-malasan.”
Laju yang ingin mencari keberadaan Delphia pun langsung mengurungkan
niatnya dan kembali mundur beberapa langkah bersembunyi.
Setelah waktunya tepat, Laju terkam lagi penjaga tersebut dengan mencungkil
kakinya, membuatnya kehilangan keseimbangan, dan terjatuh seketika. Sebelum sang
__ADS_1
penjaga berhasil untuk merespon apapun, tengkuknya sudah dihantam dengan kuat
membuat kesadarannya hilang sepenuhnya.
Tidak selesai disitu, Laju berusaha menghabiskannya dengan membuat
tubuhnya pucat biru, membuatnya kehabisan napas.
Begitu selesai, Laju sembunyikan barang bukti agar tidak ada yang curiga
atau bala bantuan akan membalaskan dendam dan menghabisinya.
“Del! Delphia! Hoiii!”
Laju berteriak lagi, dengan diam, dengan suara yang sangat kecil.
Dia masih meloncat-loncat berpindah dari satu sisi bangunan ke sisi
lainnya, untuk mencari jejak kemana Delphia pergi.
Sayangnya, usaha Laju tidak membuahkan hasil yang manis hingga beberapa
jam kedepan, kecuali teriakan dari salah satu penjaga yang curiga dengan
gerak-gerik Laju.
“Hah!? Siapa kamu!? Penyu- PENYUSUP!?”
Seseorang di belakangnya, sudah lebih dahulu berteriak memperingati temannya
yang lain sebelum Laju bisa bertindak, kecuali mengeluh, dan mengerang kesal.
“PENYU–”
Sebelum teriakan kedua berhasil disuarakan, mulutnya sudah lebih dahulu
tersumpal oleh campuran tanah dan rumput yang sangat tidak sedap dikecap oleh
lidah. Tapi, dia tidak berhasil untuk memprotes rasa yang aneh tersebut karena
Laju sudah lebih dahulu membantingnya ke atas tanah dengan kuat.
Seperti korban sebelumnya, Laju pastikan agar tugasnya benar-benar
selesai untuk menyelesaikan penjaga tersebut, lalu disembunyikan, untuk kemdian
dia pergi mencari tempat yang aman.
Sayangnya, berkat teriakan tersebut yang sudah membangunkan separuh dari
komplotan, Laju tidak memiliki tempat yang aman lagi untuk bersembunyi.
“Kh!” Laju mendengus kesal, diantara suara-suara panik dan kaget yang
berisik oleh para penjaga yang berusaha mencari keberadaanya.
“CARI PENYUSUP ITU DAN HABISI DENGAN CEPAT!!!!”
Berkat teriakan tersebut, akhirnya para penjaga ini mendapatkan lagi
komando untuk saling membagi tugas agar pekerjaan mereka menjadi lebih mudah
dan efektif. Sayangnya, ini tidak berlaku bagi Laju. Karena, dirinya sekarang berada
pada posisi yang terpojokkan, kelelahan, dan memberikan tanda-tanda kekalahan.
“Haaah,” Laju menghembuskan napas panjangnya lagi.
Sepertinya, dia memang harus menghadapi mereka secara langsung.
Percuma saja dia berlari kesana-kemari menghabiskan energinya secara
percuma. Lebih baik, energi tersebut dia salurkan kepada yang lebih efektif dan
efisien, yakni pukulan, hantaman, dan perkelahian yang digunakan untuk
mengalahkan para penjaga, untuk menyelesaikan misinya sekaligus.
“Itu dia!” Seru penjaga yang berhasil menemukan Laju.
Dengan temannya yang berjumlah dua, mereka mendekati Laju dan berencana
mengalahkannya, melenyapkannya. “Sini, bocah!” Ucapnya penuh intimidasi.
Tapi, ucapan tersebut hanyalah ejekan belaka, tanpa ada artinya sama
sekali.
Laju yang sama sekali tidak terpengaruh, bergerak dengan sangat efisien
untuk meminimalisir penggunaan energinya, dan bergerak siap bertarung dengan
para penjaga tersebut.
Merasa menang dalam jumlah, senyum jahat masih mereka berikan, bahkan
tidak ada rencana untuk menyudahinya. Kecuali, setelah gerakan pertama Laju
yang benar-benar merusak pikiran dingin mereka bahwa kekalahan sudah di depan
mata.
Memanfaatkan lingkungannya yang cukup berpasir, Laju ambil segenggam
untuk selanjutnya dilemparkannya kepada salah satu penjaga yang langsung tidak
berkutik karena pengelihatannya praktis rabun separuh.
Sebenarnya, usapan tangannya saja sudah lebih dari cukup untuk membersihkan
partikel pasir di matanya. Namun, waktu yang dia gunakan untuk membersihkan
mata sudah lebih dahulu Laju gunakan untuk menerkam dan menghabisi teman yang
lain.
Laju hantam rahang salah satu penjaga dengan sikunya yang menghancurkan
keseimbangannya, juga tinju perutnya yang terbuka lebar, sembari mengaitkan
kakinya yang langsung membuatnya ambruk terjatuh, terkapar, dan praktis tidak
Melihat kesempatan yang terbuka lebar tentang senjata yang terjatuh,
Laju ambil dengan cepat untuk menumbangkan penjaga yang lain, sekaligus kembali
kepada penjaga pertama yang masih sibuk mengusap matanya. Laju selesaikan
penjaga pertama seperti yang sudah-sudah, untuk membuatnya biru kehabisan
napas.
“Nah! Itu dia! Itu penyusupnya!!!”
Dari sampingnya, muncul lebih banyak petugas yang sudah bersiap untuk
berkelahi. Setelah kaget dengan kemenangan Laju, mereka menyeru kepada temannya
yang lain untuk membawa lebih banyak personil untuk mengurung dan benar-benar
mengalahkan bocah ini.
Selanjutnya, mereka tertawa karena merasa menang dengan jumlah yang
lebih banyak, bukan hanya sekadar tiga orang saja. Sembari memainkan
senjatanya, mereka berusaha mengejek Laju yang tidak memiliki apa-apa, kecuali
tubuh dan mukanya yang kotor.
Laju mengambil napas yang lumayan dalam, berusaha untuk lebih fokus
memusatkan pikirannya, untuk bergerak dengan lebih cepat, lebih gesit, melawan
para penjaga yang merepotkan ini.
***
“Agh! Sini kamu! Jangan banyak melawan, deh! Monster-monster seperti
kamu ini yang justru membuat dunia semakin kacau!” Seru seorang pria dari balik
semak yang sedang menyeret sesuatu berwarna putih, seperti rambut? “Tidakkah
kalian memikirkan perasaan kami para manusia? Bukankah kita sama-sama makhluk hidup!?”
Ucapnya kemudian.
“Akkh! Nghaaaa-kkkh-hhh!” Di balik semak, terdengar suara jeritan gadis
yang merespon seretan sang pria.
Ternyata, seseorang dengan rompi penuh peralatan, memiliki banyak
tindikkan di seluruh tubuhnya, sedang menyeret dan menjambak seorang gadis yang
memiliki rambut putih dari semak, masuk kepada salah satu rumah. Setelahnya,
dia paksa sang gadis untuk duduk di salah satu kursi yang bergerigi yang
menyakitkan.
“Risih banget, deh!” Ucap sang pria.
Setelah multitasking mencengkeram
tangan sang gadis dan mengoprek barangnya, dia akhirnya menemukan sebuah kain
yang berikutnya dia masukkan kedalam mulut sang gadis untuk menyumpal dan membungkam
suaranya.
Tidak hanya itu, cengkraman tangannya dia gantikan juga dengan borgol sempit
yang juga bergerigi yang sangat menyakiti sang gadis. Sayangnya, karena
mulutnya yang tidak bisa mengerang keras lagi, dia hanya bisa
mengekspresikannya dengan air mata yang mulai banjir tidak karuan.
Plak!
Terdengar suara yang sangat familiar oleh sang gadis.
Itu suara tamparan.
Sang pria menampar sang gadis dengan keras, tanpa perasaan,
berkali-kali, sembari memakinya, dan menyuruhnya untuk tenang.
Tapi, mungkin bukan itu saja yang pria tersebut ingin dan akan lakukan.
Buktinya, pria tersebut cengar-cengir seperti berhasil meraih mimpi dan
impiannya.
Klik.
Selanjutnya, ada bunyi borgol lagi kepada kaki sang gadis.
“Nah, dengan begini kamu bisa tenang, kan?” Ucap sang pria yang
membersihkan peluh keringat di dahinya. “Sekarang, tinggal atur janji dan
semuanya bisa selesai!”
Meskipun akhir dari kalimat tersebut diakhiri dengan senyuman, gadis
ini, gadis berambut putih ini, dengan mata berliannya ini, yang ternyata
Delphia ini, sama sekali tidak merasa tenang dan nyaman.
Sebenarnya, Delphia sudah berubah dalam kondisi untuk mengoptimalkan
kekuatannya. Rambutnya yang berwarna putih, mata berliannya yang indah, dan
__ADS_1
tubuhnya yang dingin, juga lingkungannya. Dari awal, Delphia sudah berusaha
untuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan kekuatan es yang dimilikinya.
Namun, hal tersebut hanya berakhir sia-sia. Borgol yang dipasang dengan baik
dan rapat kepada tangan dan kakinya ini memiliki gigi yang sangat menyakitkan, menikam,
dan mengiris kulit Delphia perlahan. Jika dia berusaha untuk mengaktifkan
kekuatannya, yang bisa dia rasakan hanya rasa sakit tiada akhir. Akibatnya, air
matanya makin menjadi-jadi tak berkesudahan.
Mungkin, jika harus menahannya beberapa menit saja Delphia bisa
melakukannya. Tapi, setelah enam jam berlalu sejak terpisah oleh Laju, tubuhnya
sudah semakin lelah.
Baik terkuras ketika dirinya ditarik oleh salah satu penjaga, terkurung
di salah satu rumah dengan monster aneh yang ganas, berlarian di hutan mencari
pertolongan, hingga akhirnya kembali ke reruntuhan juga, duduk di atas kursi
dan borgol bergerigi yang menyakitkan ini.
Delphia hanya bisa pasrah dan mengerang, melihat sang pria yang sibuk
menelpon sambil duduk malas-malasan,
sambil cengengesan.
Delphia tersiksa, sangat tersiksa. Baik secara fisik, maupun batin.
Baru setelahnya, ketika Delphia sudah kehilangan harapan, menghardik
kekuatannya untuk melihat masa depan selalu merugikan orang lain, suara lantang
menghancurkan pikirannya yang kosong.
BRAKK!!!!
Ketika sang pria masih sibuk berbicara di dalam telepon, muncul suara
keras yang berisik, dari depan rumah yang setengah utuh itu.
Pintu baru saja didorong, dilempar, oleh seseorang, dengan sengaja.
“Apa sih? Tidak bisa lihat aku sibuk?” Tanya sang pria yang membalikkan
badan hendak memprotes anak buahnya, yang malah berakhir kaget, dan diam tak
bersuara. Kecuali Delphia, yang merubah rintihannya menjadi air mata
kebahagiaan.
Di bawah daun pintu yang sudah tidak berbentuk, sudah berdiri dengan
lelah Laju yang sangat kotor dipenuhi noda dan darah.
“Hah… Aku panik tidak penting. Ternyata kamu manusia juga. Bisa tenang
sedikit tidak, sih? Aku baru saja menangkap monster aneh ini, loh? Tidakkah
kamu ikut merasa senang?” Di tengah pembicaraannya di dalam telepon, pria
tersebut bertanya berlagak tanpa dosa kepada Laju.
“Del!?” Laju yang tidak memerhatikan sang pria lebih kaget dengan sosok
gadis di depannya yang tersiksa tidak karuan dengan banyak aliran darah yang
keluar dari tubuhnya.
Laju perlahan mengangkat tangannya, berusaha meraih, dan menyelamatkan
Delphia.
“Hee? Jadi begitu rupanya? Kalian teman, ya? Bersekongkol, ya?” Tanya
sang pria yang menutup teleponnya. “Yasudah lupakan saja. Hidup atau mati,
cewek ini sama-sama berharga!”
Dengan cepat, pria tersebut ambil sebilah pisau tajam dari meja yang
langsung ditaruh di leher Delphia yang mengeluarkan lebih banyak darah lainnya.
“Ayo? Mau apa kamu? Lebih baik kamu keluar dan borgol diri sendiri di
altar, atau gadis di depanmu ini mati?” sang pria mengancam.
Laju tidak berkutik.
Dia kehabisan kata-kata, kehabisan akal.
Satu-satunya yang mempengaruhi ini tentu karena energinya yang terkuras
habis. Laju lelah. Super lelah.
Meskipun tangannya masih terangkat berusaha menggapai dan menyelamatkan
Delphia, tapi kaki dan tubuhnya malah bergerak berbalikan. Bergerak mundur, keluar,
menghindar dari ancaman sang pria.
Laju memiliki refleks yang sangat baik. Bahkan, melebihi rata-rata
manusia pada umumnya. Bisa di buktikan di perkelahian sebelumnya, Laju bisa
mengalahkan para petugas dengan mudah, meskipun dikalahkan oleh jumlah.
Permasalahannya, refleks Laju bisa digunakan jika musuh yang menyerang terlebih
dahulu, sehingga Laju bisa menyiapkan serangan balik untuk melawan musuh
tersebut.
Maka dari itu, ketika Laju sekarang sedang diancam, dia merasa tidak
bisa melakukan apapun untuk mengoptimalkan penyelamatan Delphia.
“Ayo! Mundur sana! Gerakkan kakimu itu, bocah! Borgol cepat!”
Antara Delphia yang kembali menangis pasrah, dan sang pria yang mengancam
yang tidak ada niatan untuk berhenti, Laju kebingungan untuk memikirkan jalan
terbaiknya.
Sampai pada akhirnya dia merasakan tekanan yang kuat untuk berpikir dan
memilih, ada sebuah perasaan yang dia ingat betul pernah dia rasakan. Ketika
orang tuanya kembali pulang, Laju yang kebingungan berpikir dan memilih malah
berakhir di sebuah fase kehampaan dimana Laju benar-benar tidak bisa memikirkan
apa-apa.
Meskipun kepalanya berdenyut-denyut masih menandakan kepala yang segar
dan hidup, tidak ada isi dan konten yang bisa Laju pikirkan untuk memikirkan
jalan keluar terbaik dalam permasalahan ini. Kecuali, muncul lagi sebuah
skenario di dalam kepalanya.
Laju paham, bahwa ini hanya halusinasi dan tipu daya muslihat.
Tapi, dia tidak terlalu memikirkannya.
Di dalam skenario ini, waktu seakan berhenti. Ancaman dan gerakan dari
sang pria tidak dilanjutkan untuk memojokkannya pergi ke altar. Delphia juga
terpengaruh oleh waktu yang berhenti ini. Air matanya tidak mengalir ke bawah
lagi, melainkan diam di tempat.
Satu-satunya yang bisa Laju rasakan sekarang adalah bagaimana dia bisa
bergerak secara leluasa, menyadari dengan tenang waktu yang berhenti ini.
Memanfaatkan skenario palsu ini, Laju gunakan untuk mengalahkan pria tersebut
dengan hantaman yang kuat di mukanya. Pria tersebut terbanting secara aneh jauh
ke belakang. Posisinya sekarang yang membatu seperti kura-kura yang terbalik.
Setelah merasa puas untuk memukul sang pria, tiba-tiba saja ada sebuah
tatapan yang sangat menintimidasi dari samping kannanya. Ketika Laju menoleh,
dari sana ada patung manusia setengah naga lagi dengan mata merah yang tadi
mengalihkan perhatiannya.
Laju sebenarnya tidak merasa terpengaruh lagi oleh patung tersebut untuk
mendekatinya. Tapi, dia masih merasa bahwa mereka sedang berinteraksi dan
berbicara, meskipun Laju sendiri tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.
Satu detik berikutnya, Laju kembali sadar dan bisa berpikir kembali
dengan normal. Namun, ada satu hal yang mengganjal. Laju tidak kembali berada
di depan altar, sedang terpojokkan sembari menatap sang pria dan Delphia! Jadi,
yang baru saja dia lakukan bukanlah sebuah skenario dan halusinasi dari
pikirannya?
Merasa bingung dan heran, dia melihat sekeliling dan sang pria yang mengancam
tadi sudah tumbang tidak sadarkan diri.
“…!?” Laju kebingungan. Dia mencubit dirinya sendiri dan terdapat rasa
sakit!
Tidak mengulur waktu lebih lama, dia langsung bertindak cepat untuk
membuka borgol dan menyelamatkan Delphia dari penderitaannya.
Delphia yang kaget menyaksikan apa yang baru saja terjadi, tidak begitu
banyak komentar. Lagipula, apakah Delphia pernah berkomentar satu kata, pun?
“Del? Delphia!?” Laju perlahan menyerunya seraya melepas borgol
perlahan.
Rasa sakit masih mengalir di seluruh tubuh Delphia, khususnya tangan dan
kakinya. Tangisnya juga masih berlangsung, tanpa ada niatan untuk berhenti.
Tapi, Delphia merasa menikmati tangisan ini, lebih dari apapun.
“Sudah, sudah! Semuanya sudah aman! Kamu sudah aman. Semuanya baik-baik
saja,” seru Laju yang terus membantu Delphia, tanpa memikirkan apa yang sedang
dia lakukan, yakni mendekap dan memeluknya, memberikan kehangatan dan
kenyamanan.
Laju sebenarnya lelah. Tapi, tangannya seakan melupakan itu dan terus
mengelus kepala Delphia. Juga punggungnya, juga mendekapnya lebih dalam.
“Semuanya baik-baik saja,” ucap Laju kepada Delphia, meyakinkan gadis tersebut.
__ADS_1
Delphia mengusap air matanya, dilanjut anggukan pelan.
“Ayo, pulang.”