Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 25


__ADS_3

“Apakah kalian mendengar kabar terbaru dari pasar gelap?”


“Hah!? Bukankah kita sudah memutus hubungan dengan mereka? Atau mereka


masih berusaha mencari gara-gara?”


“Tidak, tidak. Bukan itu. Aku juga tidak ingin lama-lama berurusan


dengan mereka. Masalah itu sudah diurusi dan diselesaikan oleh Bos. Yang aku


bicarakan beda lagi, ini mengenai gosip dan gibahan para pedagang yang bekerja


disana.”


“Ada apa? Apakah bahkan malaikat sudah ikut campur tangan?”


“Kehadiran orang ini katanya memang menyerupai malaikat, sih.”


“Wah!? Dia melakukan apa!? Mengajak kebaikan pada seluruh pedagang?”


“Tentu tidak, lah! Ini hanya perandaian! Bukan malaikat betulan!”


“Lalu dia melakukan apa?”


“Dia membuat ekonomi di sana berkembang pesat. Lebih banyak anggota


masuk. Bahkan, hingga mendapatkan sponsor untuk mengembangkan bisnis!”


“Pasar gelap? Apakah kita sedang membicarakan konteks yang sama?”


“Maka dari itu! Harusnya pasar itu milik bersama, kan? Tapi yang satu


ini seperti sudah dikuasai olehnya.”


“Memangnya dia siapa?”


“Tidak ada yang tahu. Tapi, dia dipanggil dengan sebutan ‘VS’ sebagai jasa


pengabdiannya karena bisa mendapatkan sponsor!”


“… Jadi, mereka musuh atau kawan?”


“Pada akhirnya berakhir kesana, kan?”


“Sementara, mereka masih netral. Tapi, ini cerita yang menarik, kan?”


“Tapi… apakah cerita itu betulan? Bukan hanya kabar burung?


“Jangan pedulikan hal sepele itu… yang penting kita bisa menikmati malam


ini lebih santai, kan? Cerita-cerita yang menarik membuat kita terobsesi dan


tidak mudah mengantuk!”


“Kalau begitu aku ceritakan pengalaman horror kemarin saja.”


“TIDAK!!”


Malam hari.


Di dalam reruntuhan atau desa yang ditinggalkan itu, terdengar beberapa


orang sedang berbicara satu sama lain. Berdasarkan suara yang mereka hasilkan,


harusnya ada sekitar tiga orang.


Laju masih belum bertindak untuk masuk, kecuali mengamati saja.


Ini malam ketiganya untuk mengamati, atau malam ke-14nya untuk tetap


tinggal dan bersemayam di dalam hutan.


Meskipun tujuannya sudah di depan mata, dia tidak ingin buru-buru


bertindak, atau dia akan mati di tempat. Tujuannya adalah mengalahkan mereka


dan menghancurkan tempat tersebut. Perlu lebih banyak informasi untuk membuat


strategi yang matang dalam perencanaan yang efektif untuk menyelesaikan misi


dengan mudah.


Malam ini, dia sudah menentukan akan mulai beraksi.


Seperti biasa, penjagaan lebih rentan saat malam hari. Meskipun memang


ada yang berjaga patroli, tapi kebanyakan dari mereka hanya buang-buang waktu


saja, tidak fokus untuk melakukan penjagaan. Bahkan, sempat Laju amati beberapa


orang malah tidur di waktu patrol malam mereka.


Setelah beristirahat sebentar untuk memulihkan energi, Laju pun perlahan


mengendap-endap untuk melancarkan aksinya.


Musuh yang akan dilawannya memang hanya seorang manusia. Harusnya, Laju


bisa mengalahkan mereka dengan sangat mudah. Sekalipun mereka berubah menjadi


mutan sekalipun – seperti ‘sang kakak’ yang ditemukannya pada saat insiden


kereta, Laju akan tetap mengalahkannya, jika lawannya adalah manusia.


Tapi, Laju tidak ingin melawan puluhan manusia secara serentak.


Itu tindakan bodoh.


Lebih baik, Laju kalahkan musuhnya satu persatu untuk mengoptimalkan


kesuksesan misinya dengan lebih baik. Meskipun mengendap-endap mencari waktu


yang pas untuk melancarakan serangan membutuhkan banyak kesabaran, ketenangan,


juga mental yang kuat untuk bertahan menjaga posisi tubuh.


Tung!


Laju berusaha mengalihkan perhatian para penjaga yang sedang patroli


dengan melemparkan sesuatu sehingga membuat bunyi yang mencurigakan.


Sesuai dugaannya, separuh dari mereka akan berusaha mengecek suara


tersebut yang kemudian memecah formasi bertahan yang mereka miliki. Inilah


tujuan Laju untuk lebih memudahkannya menumbangkan musuhnya.


“Ada apa disana?” Seru penjaga yang masih menjaga pos berusaha bertanya


pada dua temannya yang sudah lebih dulu mengecek sumber suara. “Hei!?” Merasa


pertanyaanya tidak dijawab segera, penjaga ini pun memutuskan untuk menyusul


temannya, berusaha membantunya kalau ada masalah yang merepotkan.


Perlahan tapi pasti, dia mengendap-endap mencari jalan berusaha


mendekati dua temannya yang tadi pergi meninggalkan pos, yang ditutupi oleh


malam yang gelap, juga banyak pohon, dan semak-semak. Sampai dia sadari bahwa dua


temannya tadi sudah terkapar tak sadarkan diri, dia pun panik, dan berusaha


untuk memanggil bala bantuan.


Sayangnya, dari balik kegelapan, dari sampingnya, muncul cengkraman yang


kuat yang menerkam lehernya. Penjaga tersebut kesulitan bernapas, dan pada


akhirnya berakhir serupa seperti dua temannya yang tidak bisa menyadarkan


dirinya lagi.


“Fuuh,” ucap Laju mengibaskan tangannya.


Dan dengan begitu, dia berhasil membuka salah satu penjagaan di


reruntuhan yang akan dia telusuri ini. “Ayo masuk, Del!” Ajaknya kemudian.


Meskipu tiga manusia telah dikalahkan dengan sempurna, Laju tetap tidak


bisa menurunkan penjagaanya. Dia masih harus mengendap-endap dengan super


hati-hati agar tidak memancing keributan.


Beruntung, reruntuhan yang sedang dieksplorasinya ini masih memiliki


bentuk bangunan yang setengah utuh yang berfungsi untuk menyembunyikan dirinya di


balik bayangan. Dengan luas sekitar separuh lapangan sepak bola, Laju berusaha menjaga


energi dan mentalnya untuk tetap bersabar mengendap-endap mengalahkan seluruh


musuh yang diperkirakan ada total 30-an orang.


“Sutt,” Laju mengisyaratkan Delphia untuk tetap meminimalisirkan suara


yang mereka hasilkan. “Sini-sini!”


Sekarang, Laju sudah berada di bagian tengah dari reruntuhan dan


melewati beberapa bangunan yang dihuni oleh para komplotan ini untuk melakukan


kegiatan sehari-hari, khususnya tidur. Sembari berlindung di balik dinding


gedung, Laju sedang menunggu saat yang tepat untuk menerkam lagi petugas yang


sedang patroli di jarak pandangnya.


Tapi, ketika Laju berusaha mengamati sekitarnya lebih baik, perhatiannya


teralihkan oleh sebuah patung pria setengah naga yang berada di kejauhan di


samping kirinya. Entah mengapa, pandangan Laju sangat terpikat dengan mata


merahnya yang sangat menyala, juga dengan pose yang dipahat begitu gagah dan


luar biasa elegan.


Melalui patung tersebut, Laju seakan dihipnotis untuk mendekatinya,


seakan mendengar suara-suara yang memanggilnya.


Srriiiiing!!!


Beruntung, rasa dingin yang menyerang tangannya langsung menyadarkan


kesadaran. Laju pun kembali fokus kepada misi yang sedang dilakukannya.


“Ah! Aduh… Terima kasi–”


Tapi begitu Laju berusaha untuk balik badan mengucapkan terima kasih, di


belakangnya tidak ada siapapun kecuali es yang perlahan mencair. Itulah sumber


dinginnya. Tapi dimanakah Delphia?


Bukankah baru saja mereka bersama-sama?


Laju betul melihat gadis itu mengikutinya, kan?


“Del!” Laju berusaha berteriak mencari dengan diam.


“Halo!?” Tiba-tiba saja, di depannya terdapat suara di balik dinding


gedung. “Aduh, itu orang patroli masih saja malas-malasan.”


Laju yang ingin mencari keberadaan Delphia pun langsung mengurungkan


niatnya dan kembali mundur beberapa langkah bersembunyi.


Setelah waktunya tepat, Laju terkam lagi penjaga tersebut dengan mencungkil


kakinya, membuatnya kehilangan keseimbangan, dan terjatuh seketika. Sebelum sang

__ADS_1


penjaga berhasil untuk merespon apapun, tengkuknya sudah dihantam dengan kuat


membuat kesadarannya hilang sepenuhnya.


Tidak selesai disitu, Laju berusaha menghabiskannya dengan membuat


tubuhnya pucat biru, membuatnya kehabisan napas.


Begitu selesai, Laju sembunyikan barang bukti agar tidak ada yang curiga


atau bala bantuan akan membalaskan dendam dan menghabisinya.


“Del! Delphia! Hoiii!”


Laju berteriak lagi, dengan diam, dengan suara yang sangat kecil.


Dia masih meloncat-loncat berpindah dari satu sisi bangunan ke sisi


lainnya, untuk mencari jejak kemana Delphia pergi.


Sayangnya, usaha Laju tidak membuahkan hasil yang manis hingga beberapa


jam kedepan, kecuali teriakan dari salah satu penjaga yang curiga dengan


gerak-gerik Laju.


“Hah!? Siapa kamu!? Penyu- PENYUSUP!?”


Seseorang di belakangnya, sudah lebih dahulu berteriak memperingati temannya


yang lain sebelum Laju bisa bertindak, kecuali mengeluh, dan mengerang kesal.


“PENYU–”


Sebelum teriakan kedua berhasil disuarakan, mulutnya sudah lebih dahulu


tersumpal oleh campuran tanah dan rumput yang sangat tidak sedap dikecap oleh


lidah. Tapi, dia tidak berhasil untuk memprotes rasa yang aneh tersebut karena


Laju sudah lebih dahulu membantingnya ke atas tanah dengan kuat.


Seperti korban sebelumnya, Laju pastikan agar tugasnya benar-benar


selesai untuk menyelesaikan penjaga tersebut, lalu disembunyikan, untuk kemdian


dia pergi mencari tempat yang aman.


Sayangnya, berkat teriakan tersebut yang sudah membangunkan separuh dari


komplotan, Laju tidak memiliki tempat yang aman lagi untuk bersembunyi.


“Kh!” Laju mendengus kesal, diantara suara-suara panik dan kaget yang


berisik oleh para penjaga yang berusaha mencari keberadaanya.


“CARI PENYUSUP ITU DAN HABISI DENGAN CEPAT!!!!”


Berkat teriakan tersebut, akhirnya para penjaga ini mendapatkan lagi


komando untuk saling membagi tugas agar pekerjaan mereka menjadi lebih mudah


dan efektif. Sayangnya, ini tidak berlaku bagi Laju. Karena, dirinya sekarang berada


pada posisi yang terpojokkan, kelelahan, dan memberikan tanda-tanda kekalahan.


“Haaah,” Laju menghembuskan napas panjangnya lagi.


Sepertinya, dia memang harus menghadapi mereka secara langsung.


Percuma saja dia berlari kesana-kemari menghabiskan energinya secara


percuma. Lebih baik, energi tersebut dia salurkan kepada yang lebih efektif dan


efisien, yakni pukulan, hantaman, dan perkelahian yang digunakan untuk


mengalahkan para penjaga, untuk menyelesaikan misinya sekaligus.


“Itu dia!” Seru penjaga yang berhasil menemukan Laju.


Dengan temannya yang berjumlah dua, mereka mendekati Laju dan berencana


mengalahkannya, melenyapkannya. “Sini, bocah!” Ucapnya penuh intimidasi.


Tapi, ucapan tersebut hanyalah ejekan belaka, tanpa ada artinya sama


sekali.


Laju yang sama sekali tidak terpengaruh, bergerak dengan sangat efisien


untuk meminimalisir penggunaan energinya, dan bergerak siap bertarung dengan


para penjaga tersebut.


Merasa menang dalam jumlah, senyum jahat masih mereka berikan, bahkan


tidak ada rencana untuk menyudahinya. Kecuali, setelah gerakan pertama Laju


yang benar-benar merusak pikiran dingin mereka bahwa kekalahan sudah di depan


mata.


Memanfaatkan lingkungannya yang cukup berpasir, Laju ambil segenggam


untuk selanjutnya dilemparkannya kepada salah satu penjaga yang langsung tidak


berkutik karena pengelihatannya praktis rabun separuh.


Sebenarnya, usapan tangannya saja sudah lebih dari cukup untuk membersihkan


partikel pasir di matanya. Namun, waktu yang dia gunakan untuk membersihkan


mata sudah lebih dahulu Laju gunakan untuk menerkam dan menghabisi teman yang


lain.


Laju hantam rahang salah satu penjaga dengan sikunya yang menghancurkan


keseimbangannya, juga tinju perutnya yang terbuka lebar, sembari mengaitkan


kakinya yang langsung membuatnya ambruk terjatuh, terkapar, dan praktis tidak


Melihat kesempatan yang terbuka lebar tentang senjata yang terjatuh,


Laju ambil dengan cepat untuk menumbangkan penjaga yang lain, sekaligus kembali


kepada penjaga pertama yang masih sibuk mengusap matanya. Laju selesaikan


penjaga pertama seperti yang sudah-sudah, untuk membuatnya biru kehabisan


napas.


“Nah! Itu dia! Itu penyusupnya!!!”


Dari sampingnya, muncul lebih banyak petugas yang sudah bersiap untuk


berkelahi. Setelah kaget dengan kemenangan Laju, mereka menyeru kepada temannya


yang lain untuk membawa lebih banyak personil untuk mengurung dan benar-benar


mengalahkan bocah ini.


Selanjutnya, mereka tertawa karena merasa menang dengan jumlah yang


lebih banyak, bukan hanya sekadar tiga orang saja. Sembari memainkan


senjatanya, mereka berusaha mengejek Laju yang tidak memiliki apa-apa, kecuali


tubuh dan mukanya yang kotor.


Laju mengambil napas yang lumayan dalam, berusaha untuk lebih fokus


memusatkan pikirannya, untuk bergerak dengan lebih cepat, lebih gesit, melawan


para penjaga yang merepotkan ini.


***


“Agh! Sini kamu! Jangan banyak melawan, deh! Monster-monster seperti


kamu ini yang justru membuat dunia semakin kacau!” Seru seorang pria dari balik


semak yang sedang menyeret sesuatu berwarna putih, seperti rambut? “Tidakkah


kalian memikirkan perasaan kami para manusia? Bukankah kita sama-sama makhluk hidup!?”


Ucapnya kemudian.


“Akkh! Nghaaaa-kkkh-hhh!” Di balik semak, terdengar suara jeritan gadis


yang merespon seretan sang pria.


Ternyata, seseorang dengan rompi penuh peralatan, memiliki banyak


tindikkan di seluruh tubuhnya, sedang menyeret dan menjambak seorang gadis yang


memiliki rambut putih dari semak, masuk kepada salah satu rumah. Setelahnya,


dia paksa sang gadis untuk duduk di salah satu kursi yang bergerigi yang


menyakitkan.


“Risih banget, deh!” Ucap sang pria.


Setelah multitasking mencengkeram


tangan sang gadis dan mengoprek barangnya, dia akhirnya menemukan sebuah kain


yang berikutnya dia masukkan kedalam mulut sang gadis untuk menyumpal dan membungkam


suaranya.


Tidak hanya itu, cengkraman tangannya dia gantikan juga dengan borgol sempit


yang juga bergerigi yang sangat menyakiti sang gadis. Sayangnya, karena


mulutnya yang tidak bisa mengerang keras lagi, dia hanya bisa


mengekspresikannya dengan air mata yang mulai banjir tidak karuan.


Plak!


Terdengar suara yang sangat familiar oleh sang gadis.


Itu suara tamparan.


Sang pria menampar sang gadis dengan keras, tanpa perasaan,


berkali-kali, sembari memakinya, dan menyuruhnya untuk tenang.


Tapi, mungkin bukan itu saja yang pria tersebut ingin dan akan lakukan.


Buktinya, pria tersebut cengar-cengir seperti berhasil meraih mimpi dan


impiannya.


Klik.


Selanjutnya, ada bunyi borgol lagi kepada kaki sang gadis.


“Nah, dengan begini kamu bisa tenang, kan?” Ucap sang pria yang


membersihkan peluh keringat di dahinya. “Sekarang, tinggal atur janji dan


semuanya bisa selesai!”


Meskipun akhir dari kalimat tersebut diakhiri dengan senyuman, gadis


ini, gadis berambut putih ini, dengan mata berliannya ini, yang ternyata


Delphia ini, sama sekali tidak merasa tenang dan nyaman.


Sebenarnya, Delphia sudah berubah dalam kondisi untuk mengoptimalkan


kekuatannya. Rambutnya yang berwarna putih, mata berliannya yang indah, dan

__ADS_1


tubuhnya yang dingin, juga lingkungannya. Dari awal, Delphia sudah berusaha


untuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan kekuatan es yang dimilikinya.


Namun, hal tersebut hanya berakhir sia-sia. Borgol yang dipasang dengan baik


dan rapat kepada tangan dan kakinya ini memiliki gigi yang sangat menyakitkan, menikam,


dan mengiris kulit Delphia perlahan. Jika dia berusaha untuk mengaktifkan


kekuatannya, yang bisa dia rasakan hanya rasa sakit tiada akhir. Akibatnya, air


matanya makin menjadi-jadi tak berkesudahan.


Mungkin, jika harus menahannya beberapa menit saja Delphia bisa


melakukannya. Tapi, setelah enam jam berlalu sejak terpisah oleh Laju, tubuhnya


sudah semakin lelah.


Baik terkuras ketika dirinya ditarik oleh salah satu penjaga, terkurung


di salah satu rumah dengan monster aneh yang ganas, berlarian di hutan mencari


pertolongan, hingga akhirnya kembali ke reruntuhan juga, duduk di atas kursi


dan borgol bergerigi yang menyakitkan ini.


Delphia hanya bisa pasrah dan mengerang, melihat sang pria yang sibuk


menelpon sambil duduk  malas-malasan,


sambil cengengesan.


Delphia tersiksa, sangat tersiksa. Baik secara fisik, maupun batin.


Baru setelahnya, ketika Delphia sudah kehilangan harapan, menghardik


kekuatannya untuk melihat masa depan selalu merugikan orang lain, suara lantang


menghancurkan pikirannya yang kosong.


BRAKK!!!!


Ketika sang pria masih sibuk berbicara di dalam telepon, muncul suara


keras yang berisik, dari depan rumah yang setengah utuh itu.


Pintu baru saja didorong, dilempar, oleh seseorang, dengan sengaja.


“Apa sih? Tidak bisa lihat aku sibuk?” Tanya sang pria yang membalikkan


badan hendak memprotes anak buahnya, yang malah berakhir kaget, dan diam tak


bersuara. Kecuali Delphia, yang merubah rintihannya menjadi air mata


kebahagiaan.


Di bawah daun pintu yang sudah tidak berbentuk, sudah berdiri dengan


lelah Laju yang sangat kotor dipenuhi noda dan darah.


“Hah… Aku panik tidak penting. Ternyata kamu manusia juga. Bisa tenang


sedikit tidak, sih? Aku baru saja menangkap monster aneh ini, loh? Tidakkah


kamu ikut merasa senang?” Di tengah pembicaraannya di dalam telepon, pria


tersebut bertanya berlagak tanpa dosa kepada Laju.


“Del!?” Laju yang tidak memerhatikan sang pria lebih kaget dengan sosok


gadis di depannya yang tersiksa tidak karuan dengan banyak aliran darah yang


keluar dari tubuhnya.


Laju perlahan mengangkat tangannya, berusaha meraih, dan menyelamatkan


Delphia.


“Hee? Jadi begitu rupanya? Kalian teman, ya? Bersekongkol, ya?” Tanya


sang pria yang menutup teleponnya. “Yasudah lupakan saja. Hidup atau mati,


cewek ini sama-sama berharga!”


Dengan cepat, pria tersebut ambil sebilah pisau tajam dari meja yang


langsung ditaruh di leher Delphia yang mengeluarkan lebih banyak darah lainnya.


“Ayo? Mau apa kamu? Lebih baik kamu keluar dan borgol diri sendiri di


altar, atau gadis di depanmu ini mati?” sang pria mengancam.


Laju tidak berkutik.


Dia kehabisan kata-kata, kehabisan akal.


Satu-satunya yang mempengaruhi ini tentu karena energinya yang terkuras


habis. Laju lelah. Super lelah.


Meskipun tangannya masih terangkat berusaha menggapai dan menyelamatkan


Delphia, tapi kaki dan tubuhnya malah bergerak berbalikan. Bergerak mundur, keluar,


menghindar dari ancaman sang pria.


Laju memiliki refleks yang sangat baik. Bahkan, melebihi rata-rata


manusia pada umumnya. Bisa di buktikan di perkelahian sebelumnya, Laju bisa


mengalahkan para petugas dengan mudah, meskipun dikalahkan oleh jumlah.


Permasalahannya, refleks Laju bisa digunakan jika musuh yang menyerang terlebih


dahulu, sehingga Laju bisa menyiapkan serangan balik untuk melawan musuh


tersebut.


Maka dari itu, ketika Laju sekarang sedang diancam, dia merasa tidak


bisa melakukan apapun untuk mengoptimalkan penyelamatan Delphia.


“Ayo! Mundur sana! Gerakkan kakimu itu, bocah! Borgol cepat!”


Antara Delphia yang kembali menangis pasrah, dan sang pria yang mengancam


yang tidak ada niatan untuk berhenti, Laju kebingungan untuk memikirkan jalan


terbaiknya.


Sampai pada akhirnya dia merasakan tekanan yang kuat untuk berpikir dan


memilih, ada sebuah perasaan yang dia ingat betul pernah dia rasakan. Ketika


orang tuanya kembali pulang, Laju yang kebingungan berpikir dan memilih malah


berakhir di sebuah fase kehampaan dimana Laju benar-benar tidak bisa memikirkan


apa-apa.


Meskipun kepalanya berdenyut-denyut masih menandakan kepala yang segar


dan hidup, tidak ada isi dan konten yang bisa Laju pikirkan untuk memikirkan


jalan keluar terbaik dalam permasalahan ini. Kecuali, muncul lagi sebuah


skenario di dalam kepalanya.


Laju paham, bahwa ini hanya halusinasi dan tipu daya muslihat.


Tapi, dia tidak terlalu memikirkannya.


Di dalam skenario ini, waktu seakan berhenti. Ancaman dan gerakan dari


sang pria tidak dilanjutkan untuk memojokkannya pergi ke altar. Delphia juga


terpengaruh oleh waktu yang berhenti ini. Air matanya tidak mengalir ke bawah


lagi, melainkan diam di tempat.


Satu-satunya yang bisa Laju rasakan sekarang adalah bagaimana dia bisa


bergerak secara leluasa, menyadari dengan tenang waktu yang berhenti ini.


Memanfaatkan skenario palsu ini, Laju gunakan untuk mengalahkan pria tersebut


dengan hantaman yang kuat di mukanya. Pria tersebut terbanting secara aneh jauh


ke belakang. Posisinya sekarang yang membatu seperti kura-kura yang terbalik.


Setelah merasa puas untuk memukul sang pria, tiba-tiba saja ada sebuah


tatapan yang sangat menintimidasi dari samping kannanya. Ketika Laju menoleh,


dari sana ada patung manusia setengah naga lagi dengan mata merah yang tadi


mengalihkan perhatiannya.


Laju sebenarnya tidak merasa terpengaruh lagi oleh patung tersebut untuk


mendekatinya. Tapi, dia masih merasa bahwa mereka sedang berinteraksi dan


berbicara, meskipun Laju sendiri tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


Satu detik berikutnya, Laju kembali sadar dan bisa berpikir kembali


dengan normal. Namun, ada satu hal yang mengganjal. Laju tidak kembali berada


di depan altar, sedang terpojokkan sembari menatap sang pria dan Delphia! Jadi,


yang baru saja dia lakukan bukanlah sebuah skenario dan halusinasi dari


pikirannya?


Merasa bingung dan heran, dia melihat sekeliling dan sang pria yang mengancam


tadi sudah tumbang tidak sadarkan diri.


“…!?” Laju kebingungan. Dia mencubit dirinya sendiri dan terdapat rasa


sakit!


Tidak mengulur waktu lebih lama, dia langsung bertindak cepat untuk


membuka borgol dan menyelamatkan Delphia dari penderitaannya.


Delphia yang kaget menyaksikan apa yang baru saja terjadi, tidak begitu


banyak komentar. Lagipula, apakah Delphia pernah berkomentar satu kata, pun?


“Del? Delphia!?” Laju perlahan menyerunya seraya melepas borgol


perlahan.


Rasa sakit masih mengalir di seluruh tubuh Delphia, khususnya tangan dan


kakinya. Tangisnya juga masih berlangsung, tanpa ada niatan untuk berhenti.


Tapi, Delphia merasa menikmati tangisan ini, lebih dari apapun.


“Sudah, sudah! Semuanya sudah aman! Kamu sudah aman. Semuanya baik-baik


saja,” seru Laju yang terus membantu Delphia, tanpa memikirkan apa yang sedang


dia lakukan, yakni mendekap dan memeluknya, memberikan kehangatan dan


kenyamanan.


Laju sebenarnya lelah. Tapi, tangannya seakan melupakan itu dan terus


mengelus kepala Delphia. Juga punggungnya, juga mendekapnya lebih dalam.


“Semuanya baik-baik saja,” ucap Laju kepada Delphia, meyakinkan gadis tersebut.

__ADS_1


Delphia mengusap air matanya, dilanjut anggukan pelan.


“Ayo, pulang.”


__ADS_2