
“Pesan kopinya empat, satu dengan gula,” ucapnya pada seorang barista.
“Diminum disini atau dibawa pulang?”
“Dibawa pulang.”
“Baiklah. Tolong tunggu sebentar, ya!”
Kota Kannaris, di sebuah kedai kopi yang sedang beroperasi dengan normal dan berani, tanpa adanya rasa takut dari razia oleh oknum-oknum manusia yang beberapa minggu ke belakang meneror seluruh kota.
Sebenarnya, para penjahat yang diidentifikasikan sebagai ras manusia itu masih belum ditangkap siapa biang keladinya. Tapi, karena satu dan dua hal yang tidak diketahui masyarakat banyak, serangan itu berangsur berhenti.
Tidak ada yang peduli, selagi masyarakat bisa beraktifitas normal kembali.
“Pada akhirnya mereka hanya ras biasa,” keluh masyarakat. “Pasti akan lari ketakutan dan tunduk memelas seperti para leluhurnya.” Dan beberapa ejekan yang panas terus disebarkan dan digosipkan oleh para ibu rumah tangga.
“Laju!? Lembur lagi, nih!?”
“Eh, Ben? Haha! Semuanya jadi berantakan nih. Keadaan yang tenang dan damai seperti ini tidak selamanya menyenangkan. Bagaimana bengkelmu? Apakah sudah bisa mendapatkan distributor untuk onderdil terbaru?”
“Pemerintah memang menyebalkan. Mereka selalu repot dengan banyak surat pengantar dan urusan birokrasinya. Pada akhirnya aku terpaksa memilih pihak swasta saja.”
“Berarti dana yang kamu keluarkan lebih banyak, dong?”
“Mau bagaimana lagi? Bisnis harus tetap berjalan.”
“Sulit, ya.”
“Silahkan kopinya!”
“Eh? Ah! Terima kasih. Kalau begitu aku duluan, ya!”
“Hahaha! Terima kasih atas kedamainnya, Ju! Kapan-kapan lagi!”
“Dahh!”
Di kedai kopi tersebut, ternyata Laju lah yang sedang memesan kopi. Kebetulan bertemu kenalannya, Ben, seorang pemilik bengkel mesin yang berfokus pada organ bionic yang sepertinya sedang kesulitan.
Berdasarkan percakapan mereka, kondisi kota memang sedang tentram dan damai. Tanpa adanya serangan brutal dari para kelompok manusia, bahkan hingga sulit ditemukannya seorang manusia pun dipenjuru pusat kota. Tapi, karena biang keladi yang belum ditemukan, kedamaian ini hanya sementara saja, hanya ilusi saja.
Sudah empat minggu semenjak kejadian di gorong-gorong.
Karena luka yang tidak begitu parah, Laju bisa beraktifitas dengan normal di kota. Melakukan tugas sehari-harinya, bahkan hingga membantu pekerjaan Parker yang menumpuk sebagai agen polisi swasta, sang pembela keadilan.
Ya, Laju lah yang sekarang mengerjakan pekerjaan Parker.
Karena perannya yang mematikan di dalam gorong-gorong kemarin, Parker dan Delphia harus dirawat di rumah sakit secara intensif di Gloria. Dan Laju, bersamaan dengan Iris, Audy, dan Aaron lah yang menggantikan semua pekerjaan yang menumpuk saat mereka hilang selama empat hari.
Terjebak di gorong-gorong dalam hari pertama, melawan monster jamur raksasa di hari kedua, dan berusaha untuk pergi keluar di hari ketiga, sampai pada akhirnya mereka benar-benar bisa keluar dan bebas di hari keempat.
Perihal alasan mengapa para manusia tidak lagi ricuh di kota dapat dijawab oleh monster jamur raksasa yang baru saja dikalahkan oleh Delphia kemarin.
Setelah penelitian lebih lanjut, ternyata monster tersebut memang merupakan senjata.
Senjata yang sedang dikembangkan lizardmen, yang ternyata bersekutu dengan manusia, meskipun masih belum ditelusuri lagi hubungan mereka.
Serangan manusia yang seenaknya di kota mungkin karena mereka memiliki kartu as yang meyakinkan kemenangan mereka, yakni monster jamur tersebut.
Memang, jika monster tersebut dilepas ke atas kota, pasti akan menyebabkan kepanikan dan tidak akan mudah untuk ditumbangkan. Bisa dilihat saja Laju yang tidak pernah berhasil melukai monster, kecuali untuk satu kesempatan ketika Delphia harus meledakkan dirinya.
Beruntung, monster masih dalam tahap pengembangan.
Jika eksperimen terus dilakukan, entah berapa kali lipat monster tersebut bisa berkembang dan menjadi sangat kuat sehingga sama sekali tidak bisa dikalahkan.
__ADS_1
Kepingan-kepingan monster itu pun sedang dikumpulkan untuk diteliti lebih lanjut.
Begitu juga Delphia, yang akan ditanya lebih lanjut mengenai informasi-informasi yang didapatkannya dari masa depan untuk menjelaskan eksistensi tentang moster jamur raksasa tersebut.
Meskipun sebenarnya, itupun jika mereka berhasil berkomunikasi dengannya.
Tentu saja, penelitian ini tidak akan diumumkan kepada masyarakat luas bahwa terdapat monster super besar yang terkurung di gorong-gorong di bawah kota. Akan ada kepanikan massal yang akan sulit dikendalikan.
“L-Laju…!” Seru Parker dengan suara yang serak.
Pada saat mereka bertemu dengan tim evakuasi, Parker yang terbaring di atas tandu lipat sempat memanggilnya. Dengan cepat, bocah itu langsung mendatangi Parker karena penasaran apa yang ingin dia katakan dalam kondisinya yang setengah sekarat itu.
Tanpa banyak pembicaraan yang panjang, Parker memberikan sebuah patung super kecil berbentuk naga yang nampaknya bisa dimodifikasi baik menjadi cincin ataupun gelang. Ada satu yang menarik perhatian Laju, yakni mata naga yang terang menyala berwarna merah, seperti mata-mata patung lainnya yang selalu menarik perhatiannya. Baik pada saat di pedalaman hutan, maupun di gorong-gorong kemarin.
“A-apa? Untuk apa ini? Apa maksud–”
Tapi, sebelum Laju bisa mengerti apa yang ingin Parker katakan, monster besar…, beastmen besar itu hanya tersenyum. Mengelus kepala Laju, mengedipkan matanya sebelah, sambil menggerakkan kepalanya ke sisi kanan, kepada Delphia yang juga sedang dibawa oleh tandu.
Laju menoleh gadis malang itu yang sebagian tubuhnya seperti hangus terbakar.
Dengan kondisinya yang sangat kritis, dia khawatir akan proses penyembuhannya yang mungkin akan sangat membutuhkan waktu yang lama.
“…!” Parker lanjut memegang erat tangan Laju.
Laju yang terperanjat kembali menoleh Parker yang siap untuk dibawa oleh mobil ambulans. Dia mengerutkan dahinya dengan kuat, bertanya-tanya untuk apa patung super kecil ini?
Lagipula, dimana dia mendapatkan patung ini?
Dengan bentuknya yang menyerupai naga, hanya ada satu tempat yang Laju ingat di seluruh perjalanan mereka kemarin. Tempat itu adalah makam naga yang dibuka oleh Laju.
Jadi apakah Parker mencuri sesuatu?
Tapi apa betul dia mencuri? Seorang seperti Parker?
Entahlah. Laju tidak bisa begitu mengingatnya. Dia terhipnotis di dalam sana.
Bug!
Selagi Laju kembali mengamati patung super kecil sekembalinya dia pulang dari kedai kopi, terdengar suara pukulan dan aroma pertikaian yang terjadi di seberang jalan.
“Kau jelas-jelas yang menghalangi jalanku, dwarf pendek!”
“Tidak ada hubungannya jenis dan rasku yang tidak bisa dilihat oleh beastmen sepertimu! Ini semua hanya karena sifat aroganmu saja kan? Lagipula bagaimana bisa aku yang salah jika akulah yang jadi korban! Kaulah yang menabrakku!”
“APA!? KAU BICARA APA!? AKU TIDAK BISA MENDENGARMU!!!!! KAU TERLALU PENDEK, KERDIL!”
BUGH!
Merasa dirinya tidak salah, sang beastmen kuda yang tubuhnya setinggi Parker langsung memenangkan debat tersebut dengan menendang dwarf itu yang tingginya hanya selututnya.
“Kau yang memulainya dasar kuda!” Teriak dwarf yang baru saja terlempar.
Ternyata, ada belasan dwarf lain yang keluar membantu satu dwarf yang ditendang oleh beastmen kuda tadi, siap untuk balas dendam.
Tanpa basa-basi, mereka langsung bertengkar dan berkelahi satu sama lain demi melindungi harga dirinya, juga pendapatnya, karena mereka merasa pendapat mereka yang paling benar.
Sebenarnya, jika satu beastmen dan satu dwarf dipasangkan untuk berkelahi, tentu saja semua orang bisa tahu beastmen akan menang dalam segi ketangkasan fisik. Hal ini dikarenakan kelebihan dwarf ada pada keterampilannya untuk mengerjakan pekerjaan kompleks yang membutuhkan kecermatan tinggi.
Beastmen yang memiliki otot tidak mungkin kalah dengan dwarf yang memiliki otak jika dipertandingkan dalam perkelahian. Tapi, jika melihat skema yang terjadi saat ini, sebenarnya stereotip itu bisa dibantah mentah-mentah.
Meskipun kuantitas dwarf tidaklah adil karena menyerang dalam kelompok, tapi ini merupakan sebuah sejarah – yang tidak begitu baru, bahwa dwarf bisa mengalahkan beastmen dalam sebuah perkelahian.
Priiiit!
__ADS_1
Sayangnya, meskipun banyak masyarakat lain yang menikmati hiburan singkat yang terjadi hingga 15 menit tersebut, perkelahian harus dihentikan. Kali ini, oleh suara peluit polisi yang datang berkelompok yang langsung memisahkan beastmen dan para dwarf.
Oh, hal ini jugalah yang membuat masyarakat merasa aman untuk kembali hidup normal setelah serangan dan jajahan dari para manusia yang telah surut. Setelah kabar Parker – yang dirahasiakan – yang harus dirawat intensif di Gloria. Ada lebih banyak polisi yang bekerja dengan giat untuk memberantas apapun jenis kericuhan dan kejahatan demi menjaga kedamaian dan ketentranam.
Permasalahan Parker yang dirawat harus disembunyikan karena ditakutkan akan ada pihak lawan yang menggunakan momen tersebut untuk menggulingkan kota, membuat kericuhan yang justru lebih dahsyat dari sebelumnya.
Mendengar bahwa musuh besar mereka harus menarik diri dari peperangan, tentu tanpa adanya dukungan kartu as, dari monster jamur raksasa pun para manusia dan musuh keadilan akan menggunakannya untuk tetap memporak-porandakan kota, ketentraman, dan kedamaian, kan?
Maka dari itu Laju harus siap sedia untuk menggantikan Parker yang sedang izin dari pekerjaannya.
“Sudah-sudah hiburan sudah usai! Silahkan bubar!” Ucap salah satu polisi yang membubarkan perkelahian beastmen dan kumpulan dwarf tadi.
Laju yang awalnya siap untuk kembali ke kantor menghentikkan langkahnya karena seruan polisi tersebut. Ternyata, dugaanya memang benar.
Polisi tersebut tidak lain adalah polisi yang kemarin bertugas di perbatasan Gloria, yang berbicara kepada Audy tentang Parker.
“Bahkan Gloria memberikan pasukan polisinya?”
Kalau begitu memang masyarakat sudah sewajarnya tenang.
Permasalahan perkelahian atas dasar rasisme, ujaran kebencian, urusan menyenggol pada saat berjalan, hingga urusan sepele lainnya bukanlah salah satu ancaman yang harus msyarakat khawatirkan. Ini sudah menjadi keseharian mereka, sudah menjadi sarapan dan makan malam mereka.
Justru, menurut mereka yang menjadi penonton ini merupakan budaya mereka.
Padahal, ini sama sekali tidaklah normal.
Mungkin, mereka yang berkata begitu akan merubah pikirannya jika keadaan dibalik dan merekalah yang menjadi korban dalam urusan tersebut.
Tapi, Laju bukannya dalam posisi dan kondisi untuk mengurusi urusan mereka juga.
Kalau begitu, ayo lanjut pulang.
“Eh…?”
Laju yang kembali melangkahkan kakinya untuk mengurusi urusannya di kantor harus teralihkan lagi perhatiannya dengan sesosok yang berada di seberang jalan yang sedang berjalan santai sendirian.
“Ugh!” Laju mengerang kesal.
Ketika Laju merasa dirinya harus mengejar sosok tersebut, dia harus dihentikan oleh lampu pejalan kaki yang berganti merah.
Setelahnya, detak jantung Laju berdetak lebih cepat, terutama ketika lebih banyak mobil yang menghalangi pandangannya kepada sosok mencurigakan tersebut yang semakin hilang ditelan oleh angin. “Ayolah, cepat hijau!”
Sampai pada akhirnya dia bisa melintasi jalan, dia sudah lebih dahulu kehilangan jejak dari sosok tersebut.
Tapi tentu saja Laju tidak putus asa.
Dia berusaha mengingat betul-betul siluet sang sosok tadi meskipun selalu dihalangi oleh laju mobil yang berlalu lalang.
“Hei…!” Laju yang memperhatikan setiap penduduk yang sedang berjalan kaki, akhirnya berhasil menggengam tangan dari sosok yang dikerjanya tersebut.
“Eh? Siapa kamu? Ada urusan apa?”
“Eh!? Ah!!! Maaf! Salah orang!”
Sayangnya, yang dia seru bukanlah orang yang benar. Apakah pikirannya sedang bermain-main dengannya? Apakah ini semua hanya halusinasinya saja?
Tidak! Dia benar-benar melihatnya dengan jelas!
Laju pun lebih lanjut mencari sosok yang telah mencuri perhatiannya tadi, sembari berusaha mengingat dengan kuat setiap perawakan yang dimiliki sang sosok ini.
“Hei!” Setelah lima menit pencarian yang merepotkan, akhirnya Laju memutuskan bahwa sosok yang diserunya kali ini adalah yang benar!
“Huh? Eh? Ju?”
__ADS_1
Laju hanya bisa tersenyum, menutupi keringatnya yang muncul di sekujur tubuhnya karena kelelahan berlarian kesana kemari mencari sosok yang benar.
“Adrian!” Serunya dengan bahagia.