Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 21


__ADS_3

Tengah malam, setelah dengan kenyang dan nyaman sudah Laju dapatkan berkat


bantuan yang polisi berikan, dia berdiam diri siap terlelap.


Tapi, tentu saja tidak bisa semudah itu.


Dia masih terjaga, bersamaan dengan perasaan yang gundah.


Kemdian, Laju putuskan untuk pergi ke kantin mengambil air minum. Meneguk


menyegarkan dirinya, duduk diam di kursi menunduk merenung untuk tidak


memikirkan apapun. Bahkan, ketika Delphia melewatinya – yang sama terkejut karena


masih terjaga dan mengasinngkan diri di kantin untuk sama-sama mengambil air


minum, Laju tetap tidak banyak berkomentar.


Sekarang, mereka duduk berhadapan di lorong asrama polisi yang sunyi.


Ditemani dengan suara jangkrik dan serangga malam lainnya, keduanya


menikmati kondisi yang tenang dan santai ini setelah semua perjalanan lelahnya


siang tadi.


Laju akhirnya bergerak untuk mengangkat kepalanya, melihat Delphia.


Gadis yang gelapan ini cukup terkejut dengan pandangan Laju. Sempat


kebingungan, dia pun memberikan senyum yang canggung kepada Laju. Meskipun


begitu, ini tetap senyum yang tulus yang diberikannya dari dalam hati.


Laju membalas senyum tersebut. Tapi, tentu saja bukan dengan maksud yang


baik.


“Heh!” dengus Laju merespon.


Meskipun begitu, Delphia tidak menyesali senyumannya barusan.


“Hhhh…,” Laju menghembuskan napas. Dia memperbaiki duduknya, bersandar


kepada dinding dengan malas.


Sekarang, mereka saling bertatapan.


Tidak. Delphia masih belum berani untuk membalas tatapan Laju. Dia pun kembali


menunduk malu.


“Jadi ini semua apa-apaan sih?” Tanya Laju.


Delphia mengangkat kepalanya perlahan memberanikan diri menoleh Laju.


Tapi, dia kembali menunduk setelah memberikan gelengan kepala sebagai


jawaban.


Delphia sendiri juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Terus kamu? Kamu apa? Mengikuti aku terus kemanapun aku pergi, bahkan


ketika dibawa pergi dan diculik oleh Parker kemarin. Meskipun kamu musuhku pun


aku sendiri bingung menanggapinya bagaimana. Maumu apa sih?”


Delphia tidak lagi menangkat kepalanya pelan-pelan dengan ragu.


Dia angkat dengan keterkejutannya terhadap ucapan Laju, untuk berikutnya


dia gelengkan kepalanya, juga tangannya, untuk menandakan penyangkalan pada


pernyataan yang Laju berikan. Bahkan, Delphia sampai bersuara untuk mendukung pembantahan


pernyataan Laju barusan, meskipun suara tersebut bukanlah bahasa yang memiliki


arti, kecuali simbol untuk menandakan pernyataan tidak.


“Ngh-nggg! A-aa…ahhhh, ng!” Atau begitu kurang lebih.


Laju menatapnya malas. Dia paham apa yang ingin Delphia sampaikan. Gadis


ini bukan musuhnya, sama sekali tidak bersekongkol dengan penculik, dan semua


orang yang merepotkan kehidupannya. Tapi, Laju tidak memiliki alasan untuk


mempercayainya. Delphia memang terlihat seperti gadis polos yang tidak akan


berbohong. Tapi siapa yang tahu dibalik topeng polos ini?


Melihat Laju tidak bisa menerima jawabannya dengan ikhlas, Delphia


bangkit dari duduknya dengan gelisah, menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri.


Lalu dia pergi mengambil mengangkat barang di dalam kantin, berusaha mencari


sesuatu.


“Nnggg, ha-haeeee. Ah!” Delphia sibuk sendiri di sekitar konter kantin.


Delphia akhirnya menemukan barang yang dia cari. Setelahnya, dia pun kembali


duduk untuk menuliskan sesuatu di atas barang tersebut. Dia putar barang itu

__ADS_1


untuk ditunjukkan kepada Laju, yang ternyata sebuah papan tulis kecil.


Sayangnya, dengan tulisan Delphia yang menyerupai cakar ayam dan


penerangan yang tidak mumpuni, Laju kesulitan membacanya.


Melihat Laju yang menyipitkan matanya tanda dirinya kesulitan membaca,


Delphia hapus kembali tulisan kecilnya untuk digantikan dengan tulisan yang


lebih besar sehingga mungkin bisa lebih mudah untuk dibaca. Setelah berhasil


melihatnya, Laju kembali menyandarkan punggungnya sambil mendengus.


“Heh! Teman!?” Laju membalas tulisan Delphia.


Merasa usahanya berhasil untuk menyampaikan pesan kepada lelaki di


depannya, Delphia mengangguk-angguk bahagia, dengan senyum yang tidak lupa


dipasangnya dengan begitu lebar, dengan begitu senang.


Sebenarnya, Laju tidak begitu menganggap gadis ini teman atau segala


macam. Mereka tidak satu sekolah, tidak bertetangga, tidak memiliki kehidupan


yang saling bersinggungan, kecuali kebetulan saja, kan?


Tapi Laju tidak begitu terlalu ingin memikirkannya.


“Kalau begitu… kalau kamu adalah temanku, apa alasan kamu selalu


mengikutiku? Apa yang sebenarnya ingin kamu raih? Apa yang kamu inginkan?”


Delphia memiringkan kepalanya sebentar untuk berpikir jawaban yang


tepat.


“Menolong?” Laju sempat tidak percaya dengan jawaban tersebut. “Heh!?


Menolong apanya? Sejak kamu hadir justru hidupku semakin kacau, tahu. Memangnya


kamu tahu yang aku butuhkan? Lagipula apa yang bisa kamu lakukan untuk menolongku


memangnya?”


Delphia sempat sedikit ingin menyangkal ucapan Laju tersebut dengan


ekspresinya yang campur aduk. Sedih, kecewa, juga dengan muka masamnya. Tujuan


Delphia adalah menolong Laju! Bukanya malah merepotkannya.


Tapi, mungkin saja usahanya tidak begitu terlihat oleh Laju.


Orang jahat bagaimana? Selama ini dia bisa hidup dalam zona nyaman


dimana dia bisa mengamankan hidupnya dengan memiliki banyak koneksi. Bahkan,


dia memiliki hubungan yang erat dengan Bos Alex dan kelompoknya, yang


notabenenya merupakan orang terjahat di kota. Siapa yang memang akan menjahati


Laju?


Tunggu, Laju ingat sesuatu.


Delphia sempat ingin mencegah Laju menaiki taksi setelah dia selesai


dari tempat bimbingan. Apakah supir itu orang jahatnya? Sebenarnya masuk akal


juga. Hanya taksi itu lah yang terakhir kali Laju ingat sebelum dia berakhir disekap


dibuang di kereta dan tersesat di kota aneh beranama Kannaris ini.


Tapi, kenapa Delphia bisa tahu bahwa dia orang jahat?


“Memangnya… meskipun kamu ingin membantuku terhadap orang jahat.


Bagaimana kamu bisa menolong?”


Sebenarnya, eksistensi Delphia sendiri lah yang menjadi jawaban untuk


Laju. Tentu saja, Delphia bukan manusia. Dia adalah monster aneh yang menyamar


menjadi manusia dan segala macam berdasarkan penjelasan lebih lanjut oleh


Adrian.


“Me-Melihat… masa depan?” Atau itulah yang terpampang di atas papan


tulis. Laju memang sempat menerka bahwa dia bisa melakukan itu. Tapi, melihat


Delphia menjawabnya sendiri membuat matanya membelalak dan mulutnya menganga.


Seingatnya, Delphia memang bisa memperlihatkan masa depan untuknya.


Ketika mereka pertama kali bertemu, Delphia lah yang datang di taman pada malam


itu yang memberikan mimpi lebih awal bahwa dia akan mengalami kehidupan yang


merepotkan.


Tapi... lalu…


Laju kehabisan kata-kata.

__ADS_1


“Kalau begitu, kalau kita teman, dan kamu bisa melihat masa depan.


Bagaimana aku bisa pulang? Apa yang harus aku lakukan agar bisa pulang? Ke


dunia manusia?” Laju bertanya dengan tergesa-gesa, melihat kesempatannya untuk


pulang bisa terlaksana.


Tapi, jawaban Delphia tidaklah menyenangkan. Delphia menggelengkan


kepala dan menuliskan bahwa masa depan yang bisa dilihatnya tidak semudah itu


untuk digunakan. Delphia tidak bisa memicu kemampuannya untuk melihat masa


depan semudah membalikkan tangan.


Laju yang berdiri girang melihat harapannya untuk pulang terbuka lebar,


kembali terjatuh kecewa, kembali duduk depresi dengan malas.


“Hahah,” tawa Laju dengan sarkastik.


Terkadang, menyadari kenyataan yang begitu pahit hanya bisa disembuhkan


dengan tawa yang menyedihkan. Menertawai bagaimana lucunya kehidupan bisa


diporak-porandakan, bisa dihancurkan dengan mudah, oleh takdir yang terjadi


dengan semena-mena.


“Tidak bisa pulang, ya,” Laju melanjutkan.


Laju menghembuskan napas. Berpikir banyak bagaimana dia harus menanggapi


dan menghadapi kondisi hidupnya yang kacau, hancur berantakan, yang sulit


ditanganinya ini.


Jika Delphia tidak bisa membantunya mencari cara untuk pulang dengan


kemampuanya, Maka Laju harus mencarinya sendiri. Lagipula, bukankah selama ini


dia sendirianlah selalu mengusahakan semua prestasinya? Dengan usahanya


sendiri? Hal ini kurang lebih serupa dengan apa yang biasanya dia lakukan, kan?


Tunggu. Laju terpikiran sesuatu, ketika kata ‘pulang’ menjadi topik


utama di otaknya.


“Tapi kalau dipikir lagi, untuk kamu yang memang bukan manusia, sudah


tidak ada urusannya untuk ‘pulang’, kan? Apakah ini salah satu bentuk balas


dendam? Apa karena teman-temanmu yang sudah berbuat kasar di sekolahmu, itu?”


Delphia terperanjat kecil.


“Aku bisa melihat dengan jelas bahwa kamu ditindas di sekolah. Lalu,


ketika bertemu denganku pun kamu masih diperlakukan tidak baik. Jadi kamu ingin


merasa memenangkan pertandingan ini, ya?”


“Inilah rumahmu. Disinilah rumahmu para monster aneh yang tidak masuk


akal itu. Untuk aku yang masih merupakan manusia secara utuh, kamu bisa


melakukan hal seenaknya pada manusia yang tidak memiliki kemampuan apapun.”


“Heh!” Laju mendengus.


“Pasti kamu sudah bahagia ya, bisa kembali pulang, sekaligus membawa oleh-oleh


seorang manusia yang bisa dipermainkan seenaknya oleh kelompok-kelompokmu.


Lihat saja Parker dan teman-temannya yang seenaknya membuangku kemarin. Itu


sebenarnya akal-akalanmu, kan?”


Suasana masih hening. Delphia tidak ada niatan untuk menjawab dengan


apapun.


“Yah, sebenarnya kalau–”


PLAKK!!!


Terdengar suara tamparan yang menggema di seluruh kantin. Delphia tidak


lagi duduk diam gelagapan, selalu ragu-ragu, dan penakut seperti biasanya. Dia


berdiri di depan Laju, menamparnya dengan kuat, dengan penuh emosi.


Delphia terlihat sedang menangis. Dengan air mata yang membanjiri


mukanya, dengan suara yang menyedihkan. Tamparan itu adalah salah satu caranya


untuk mengekspresikan kekecewaannya, ketidakpercayaanya, juga sakit hatinya.


Dengan tangisan yang belum reda, dengan perasaannya yang tersayat.


Delphia lah yang sekarang meninggalkan Laju sendirian, di malam gelap yang


sunyap.

__ADS_1


__ADS_2