
Tengah malam, setelah dengan kenyang dan nyaman sudah Laju dapatkan berkat
bantuan yang polisi berikan, dia berdiam diri siap terlelap.
Tapi, tentu saja tidak bisa semudah itu.
Dia masih terjaga, bersamaan dengan perasaan yang gundah.
Kemdian, Laju putuskan untuk pergi ke kantin mengambil air minum. Meneguk
menyegarkan dirinya, duduk diam di kursi menunduk merenung untuk tidak
memikirkan apapun. Bahkan, ketika Delphia melewatinya – yang sama terkejut karena
masih terjaga dan mengasinngkan diri di kantin untuk sama-sama mengambil air
minum, Laju tetap tidak banyak berkomentar.
Sekarang, mereka duduk berhadapan di lorong asrama polisi yang sunyi.
Ditemani dengan suara jangkrik dan serangga malam lainnya, keduanya
menikmati kondisi yang tenang dan santai ini setelah semua perjalanan lelahnya
siang tadi.
Laju akhirnya bergerak untuk mengangkat kepalanya, melihat Delphia.
Gadis yang gelapan ini cukup terkejut dengan pandangan Laju. Sempat
kebingungan, dia pun memberikan senyum yang canggung kepada Laju. Meskipun
begitu, ini tetap senyum yang tulus yang diberikannya dari dalam hati.
Laju membalas senyum tersebut. Tapi, tentu saja bukan dengan maksud yang
baik.
“Heh!” dengus Laju merespon.
Meskipun begitu, Delphia tidak menyesali senyumannya barusan.
“Hhhh…,” Laju menghembuskan napas. Dia memperbaiki duduknya, bersandar
kepada dinding dengan malas.
Sekarang, mereka saling bertatapan.
Tidak. Delphia masih belum berani untuk membalas tatapan Laju. Dia pun kembali
menunduk malu.
“Jadi ini semua apa-apaan sih?” Tanya Laju.
Delphia mengangkat kepalanya perlahan memberanikan diri menoleh Laju.
Tapi, dia kembali menunduk setelah memberikan gelengan kepala sebagai
jawaban.
Delphia sendiri juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Terus kamu? Kamu apa? Mengikuti aku terus kemanapun aku pergi, bahkan
ketika dibawa pergi dan diculik oleh Parker kemarin. Meskipun kamu musuhku pun
aku sendiri bingung menanggapinya bagaimana. Maumu apa sih?”
Delphia tidak lagi menangkat kepalanya pelan-pelan dengan ragu.
Dia angkat dengan keterkejutannya terhadap ucapan Laju, untuk berikutnya
dia gelengkan kepalanya, juga tangannya, untuk menandakan penyangkalan pada
pernyataan yang Laju berikan. Bahkan, Delphia sampai bersuara untuk mendukung pembantahan
pernyataan Laju barusan, meskipun suara tersebut bukanlah bahasa yang memiliki
arti, kecuali simbol untuk menandakan pernyataan tidak.
“Ngh-nggg! A-aa…ahhhh, ng!” Atau begitu kurang lebih.
Laju menatapnya malas. Dia paham apa yang ingin Delphia sampaikan. Gadis
ini bukan musuhnya, sama sekali tidak bersekongkol dengan penculik, dan semua
orang yang merepotkan kehidupannya. Tapi, Laju tidak memiliki alasan untuk
mempercayainya. Delphia memang terlihat seperti gadis polos yang tidak akan
berbohong. Tapi siapa yang tahu dibalik topeng polos ini?
Melihat Laju tidak bisa menerima jawabannya dengan ikhlas, Delphia
bangkit dari duduknya dengan gelisah, menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri.
Lalu dia pergi mengambil mengangkat barang di dalam kantin, berusaha mencari
sesuatu.
“Nnggg, ha-haeeee. Ah!” Delphia sibuk sendiri di sekitar konter kantin.
Delphia akhirnya menemukan barang yang dia cari. Setelahnya, dia pun kembali
duduk untuk menuliskan sesuatu di atas barang tersebut. Dia putar barang itu
__ADS_1
untuk ditunjukkan kepada Laju, yang ternyata sebuah papan tulis kecil.
Sayangnya, dengan tulisan Delphia yang menyerupai cakar ayam dan
penerangan yang tidak mumpuni, Laju kesulitan membacanya.
Melihat Laju yang menyipitkan matanya tanda dirinya kesulitan membaca,
Delphia hapus kembali tulisan kecilnya untuk digantikan dengan tulisan yang
lebih besar sehingga mungkin bisa lebih mudah untuk dibaca. Setelah berhasil
melihatnya, Laju kembali menyandarkan punggungnya sambil mendengus.
“Heh! Teman!?” Laju membalas tulisan Delphia.
Merasa usahanya berhasil untuk menyampaikan pesan kepada lelaki di
depannya, Delphia mengangguk-angguk bahagia, dengan senyum yang tidak lupa
dipasangnya dengan begitu lebar, dengan begitu senang.
Sebenarnya, Laju tidak begitu menganggap gadis ini teman atau segala
macam. Mereka tidak satu sekolah, tidak bertetangga, tidak memiliki kehidupan
yang saling bersinggungan, kecuali kebetulan saja, kan?
Tapi Laju tidak begitu terlalu ingin memikirkannya.
“Kalau begitu… kalau kamu adalah temanku, apa alasan kamu selalu
mengikutiku? Apa yang sebenarnya ingin kamu raih? Apa yang kamu inginkan?”
Delphia memiringkan kepalanya sebentar untuk berpikir jawaban yang
tepat.
“Menolong?” Laju sempat tidak percaya dengan jawaban tersebut. “Heh!?
Menolong apanya? Sejak kamu hadir justru hidupku semakin kacau, tahu. Memangnya
kamu tahu yang aku butuhkan? Lagipula apa yang bisa kamu lakukan untuk menolongku
memangnya?”
Delphia sempat sedikit ingin menyangkal ucapan Laju tersebut dengan
ekspresinya yang campur aduk. Sedih, kecewa, juga dengan muka masamnya. Tujuan
Delphia adalah menolong Laju! Bukanya malah merepotkannya.
Tapi, mungkin saja usahanya tidak begitu terlihat oleh Laju.
Orang jahat bagaimana? Selama ini dia bisa hidup dalam zona nyaman
dimana dia bisa mengamankan hidupnya dengan memiliki banyak koneksi. Bahkan,
dia memiliki hubungan yang erat dengan Bos Alex dan kelompoknya, yang
notabenenya merupakan orang terjahat di kota. Siapa yang memang akan menjahati
Laju?
Tunggu, Laju ingat sesuatu.
Delphia sempat ingin mencegah Laju menaiki taksi setelah dia selesai
dari tempat bimbingan. Apakah supir itu orang jahatnya? Sebenarnya masuk akal
juga. Hanya taksi itu lah yang terakhir kali Laju ingat sebelum dia berakhir disekap
dibuang di kereta dan tersesat di kota aneh beranama Kannaris ini.
Tapi, kenapa Delphia bisa tahu bahwa dia orang jahat?
“Memangnya… meskipun kamu ingin membantuku terhadap orang jahat.
Bagaimana kamu bisa menolong?”
Sebenarnya, eksistensi Delphia sendiri lah yang menjadi jawaban untuk
Laju. Tentu saja, Delphia bukan manusia. Dia adalah monster aneh yang menyamar
menjadi manusia dan segala macam berdasarkan penjelasan lebih lanjut oleh
Adrian.
“Me-Melihat… masa depan?” Atau itulah yang terpampang di atas papan
tulis. Laju memang sempat menerka bahwa dia bisa melakukan itu. Tapi, melihat
Delphia menjawabnya sendiri membuat matanya membelalak dan mulutnya menganga.
Seingatnya, Delphia memang bisa memperlihatkan masa depan untuknya.
Ketika mereka pertama kali bertemu, Delphia lah yang datang di taman pada malam
itu yang memberikan mimpi lebih awal bahwa dia akan mengalami kehidupan yang
merepotkan.
Tapi... lalu…
Laju kehabisan kata-kata.
__ADS_1
“Kalau begitu, kalau kita teman, dan kamu bisa melihat masa depan.
Bagaimana aku bisa pulang? Apa yang harus aku lakukan agar bisa pulang? Ke
dunia manusia?” Laju bertanya dengan tergesa-gesa, melihat kesempatannya untuk
pulang bisa terlaksana.
Tapi, jawaban Delphia tidaklah menyenangkan. Delphia menggelengkan
kepala dan menuliskan bahwa masa depan yang bisa dilihatnya tidak semudah itu
untuk digunakan. Delphia tidak bisa memicu kemampuannya untuk melihat masa
depan semudah membalikkan tangan.
Laju yang berdiri girang melihat harapannya untuk pulang terbuka lebar,
kembali terjatuh kecewa, kembali duduk depresi dengan malas.
“Hahah,” tawa Laju dengan sarkastik.
Terkadang, menyadari kenyataan yang begitu pahit hanya bisa disembuhkan
dengan tawa yang menyedihkan. Menertawai bagaimana lucunya kehidupan bisa
diporak-porandakan, bisa dihancurkan dengan mudah, oleh takdir yang terjadi
dengan semena-mena.
“Tidak bisa pulang, ya,” Laju melanjutkan.
Laju menghembuskan napas. Berpikir banyak bagaimana dia harus menanggapi
dan menghadapi kondisi hidupnya yang kacau, hancur berantakan, yang sulit
ditanganinya ini.
Jika Delphia tidak bisa membantunya mencari cara untuk pulang dengan
kemampuanya, Maka Laju harus mencarinya sendiri. Lagipula, bukankah selama ini
dia sendirianlah selalu mengusahakan semua prestasinya? Dengan usahanya
sendiri? Hal ini kurang lebih serupa dengan apa yang biasanya dia lakukan, kan?
Tunggu. Laju terpikiran sesuatu, ketika kata ‘pulang’ menjadi topik
utama di otaknya.
“Tapi kalau dipikir lagi, untuk kamu yang memang bukan manusia, sudah
tidak ada urusannya untuk ‘pulang’, kan? Apakah ini salah satu bentuk balas
dendam? Apa karena teman-temanmu yang sudah berbuat kasar di sekolahmu, itu?”
Delphia terperanjat kecil.
“Aku bisa melihat dengan jelas bahwa kamu ditindas di sekolah. Lalu,
ketika bertemu denganku pun kamu masih diperlakukan tidak baik. Jadi kamu ingin
merasa memenangkan pertandingan ini, ya?”
“Inilah rumahmu. Disinilah rumahmu para monster aneh yang tidak masuk
akal itu. Untuk aku yang masih merupakan manusia secara utuh, kamu bisa
melakukan hal seenaknya pada manusia yang tidak memiliki kemampuan apapun.”
“Heh!” Laju mendengus.
“Pasti kamu sudah bahagia ya, bisa kembali pulang, sekaligus membawa oleh-oleh
seorang manusia yang bisa dipermainkan seenaknya oleh kelompok-kelompokmu.
Lihat saja Parker dan teman-temannya yang seenaknya membuangku kemarin. Itu
sebenarnya akal-akalanmu, kan?”
Suasana masih hening. Delphia tidak ada niatan untuk menjawab dengan
apapun.
“Yah, sebenarnya kalau–”
PLAKK!!!
Terdengar suara tamparan yang menggema di seluruh kantin. Delphia tidak
lagi duduk diam gelagapan, selalu ragu-ragu, dan penakut seperti biasanya. Dia
berdiri di depan Laju, menamparnya dengan kuat, dengan penuh emosi.
Delphia terlihat sedang menangis. Dengan air mata yang membanjiri
mukanya, dengan suara yang menyedihkan. Tamparan itu adalah salah satu caranya
untuk mengekspresikan kekecewaannya, ketidakpercayaanya, juga sakit hatinya.
Dengan tangisan yang belum reda, dengan perasaannya yang tersayat.
Delphia lah yang sekarang meninggalkan Laju sendirian, di malam gelap yang
sunyap.
__ADS_1