Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 29


__ADS_3

Setelah berbicara secukupnya kepada petugas di meja adminsitrasi, Audy langsung berangkat pergi ke lantai tiga, menuju sebuah ruangan yang dipasang papan nama bertuliskan ‘dr. Vignette’ di depan pintu yang tertutup rapat.


Tuk Tuk.


Audy mengetuk pintu dengan irama dan pola terentu.


“Hei, nek!? Parker memberikan salam!” seru Audy.


Setelah menunggu cukup lama, barulah muncul suara kunci yang terbuka, dan pintu yang digeser tidak oleh siapapun. Audy yang tidak peduli pun mulai masuk, mengajak Laju dan Delphia di belakangnya.


Ruangan ini cukup terang dan luas. Tapi, Laju dan Delphia masih belum menemukan siapa gerangan yang baru saja membuka pintu. Apakah pintu itu dibuka secara otomatis? Lalu apa yang membuatnya harus memiliki waktu penundaan ketika Audy mengetuk?


Setelah melewati beberapa perabotan kantor yang membuat kedua bocah ini kebingungan kenapa kamar pasien ini begitu aneh, barulah di ujung ruangan terlihat seorang nenek yang sedang sibuk bekerja di depan komputernya.


“Apakah Parker sudah menjelaskan kondisinya? Dua bocah ini akan diperiksa katanya,” Audy memulai pembicaraan.


Sang nenek itu perlahan menoleh, mengangkat alisnya, dan melupakan pekerjaan di depan komputernya. Ketika dia mulai turun dari kursi, tampak dengan jelas perawakan yang cukup pendek dan lebar, dengan bentuk wajah kotaknya, rambut merah muda pudar berbentuk mangkuk, dan yang paling penting adalah telinganya yang memanjang ke samping.


“Ya, dia sudah bicara satu dua hal tentang–”


Sebelum sang nenek dengan jas putih bernama Vignette itu menyelesaikan jawabannya kepada Audy, dia yang perlahan memasang kacamatanya itu terperanjat dengan kehadiran dua bocah yang sedang berdiri di depannya ini.


“Tu-tuan putri?” Vignette langsung bersujud menatap Delphia yang merespon dengan panik gelagapan, menatap takut sang nenek yang tidak dikenalinya ini.


Tanpa izin atau apapun semacamnya, sang nenek pun langsung menyentuh, meraba, menjamah setiap anggota tubuh milik Delphia. Dari kedua kakinya, kedua tangannya, tubuh yang eloknya, wajahnya, matanya, bahkan hingga ke dalam mulutnya.


“Del, apakah kamu bisa berubah?” Tanya Audy.


Delphia yang sedang merasa tidak nyaman sedikit kesulitan menjawab pertanyaan dari gadis kucing di depannya. Sang nenek yang masih asik mengidentifikasi bentuk fisik Delphia pun terkejut dengan ucapan gadis di belakangnya.


Ketika dia menatap lagi Delphia yang sedang senyum canggung, dia langsung pamit undur diri untuk membiarkan Delphia melakukan apapun yang harus dilakukan tanpa terganggu olehnya.


Srriiiing.


Dan seketika, muncul percikan es disana-sini yang membuat suasana menjadi dingin yang menandakan tubuh Delphia berhasil berubah berganti menjadi serba putih dan sedikit perak. Baik dari warna rambutnya, permukaan tangannya, hingga kedua bola matanya yang berubah menjadi berlian.


Melihatnya tanpa berubah saja sang nenek itu sudah terperanjat. Apalagi ketika melihatnya dalam kondisi prima, berubah menjadi lebih elegan, cantik, dan ayu ini. Tapi, tidak seperti sebelumnya ketika sang nenek itu bisa bebas merogoh memegang anggota tubuh Delphia tanpa izin. Sekarang, dia hanya bisa menjatuhkan diri bersujud lebih dalam tanda tak kuasanya untuk menatap keanggunan yang Delphia tunjukkan.


Atau itu yang Delphia pikir.


Meskipun sudah bersujud, sang nenek ini masih berusaha mendekati Delphia berjalan menggunakan kedua lututnya. Sang nenek yang kehabisan kata-kata untuk mengekspresikan kekagetannya, selain berusaha memuja dan menyembahnya.


“Ka-kalian betulan menemukan bocah ini?” Tanya sang wanita dengan gelagapan.


“Kurang lebih ceritanya begitu. Tapi mereka terlalu lama hidup di dunia manusia sehingga mungkin ada banyak pengaruh yang bisa menghambat perkembangan tumbuh organ-organ spesial mereka. Dan disitulah peranmu, nek!” Audy menjelaskan.

__ADS_1


Masih dengan wajah yang terkesima, Vignette berusaha untuk menyimak penjelasan Audy tentang pekerjaannya ini.


“Kedua bocah ini?”


“Ya. Tidak hanya tuan putri saja.”


“Oh, baiklah.”


Dan dengan begitu, Vignette langsung mengajak Laju untuk duduk di kursi dekat meja komputernya, meninggalkan Delphia yang perlahan sudah kembali lagi menjadi manusia normal, dengan mata biru normalnya, dan juga rambut coklatnya.


Vignette pun meminta Laju untuk mengeluarkan tangannya, mengangkat baju di daerah lengannya, dan memasangkan sebuah alat yang digunakan untuk memerika tekanan darah. Awalnya, tidak ada yang begitu spesial, tidak ada begitu kericuhan dan perlawanan, sampai sang nenek mulai mengeluarkan suntikan dan memberikan anjuran kepada Laju untuk mengatur napasnya dan mulai tenang.


“A-apa? Apa yang akan kau lakukan?” Laju menampar tangan Vignette, berdiri, dan pergi menjauh.


“Kenapa takut begitu? Kamu harusnya sudah… sekitar umur 16 tahun, kan? Apakah masih takut suntikan? Aku hanya akan mengambil sampel darahmu,” jelas sang nenek.


Laju tidak banyak merespon. Dia hanya tidak ingin lagi ada prosedur yang begitu klinis, meminta sample dari tubuhnya segala macam, dan menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhnya.


Napas Laju tersenggal. Dia tidak bisa tenang, bahkan hingga mengeluarkan keringat dingin. Kepalanya sakit, pusing, dan kembali hitam hampa tak bisa memikirkan apa-apa.


Dia paham dan sadar bahwa akan pergi ke dokter, seperti yang dijelaskan oleh Parker kemarin. Namun, Laju tidak begitu mengantisipasi bahwa dirinya akan dihadapi lagi oleh situasi ini, situasi bersama dokter, situasi masa lalunya yang merubah hidupnya total.


Saat itu, dia mengalami kecelakaan yang cukup fatal ketika sedang pesta olahraga di sekolah dasarnya. Karena koneksi yang dimiliki oleh orang tuanya, Laju langsung dilarikan ke rumah sakit ternama untuk diurus segala macam halnya, termasuk pengambilan darah.


Sebenarnya, Laju tidak begitu membutuhkan semua perawatan itu. Apalagi, komentar dari dokter yang bertugas mengurus memeriksanya kepada kedua orang tuanya.


“…!?”


“Yah, dengan uang kalian saya bisa saja tutup mulut. Tapi, harus saya peringati saja bahwa jika ada apa-apa lagi dengan anak itu, kalian sendiri yang akan kerepotan jika harus berurusan dengan rumah sakit lain. Tidak sedikit oknum pemerintah yang ketat terhadap anak-anak semacam ini. Apalagi–”


Laju tidak ingat lagi apa yang terjadi saat itu.


Kecuali, pada saat malam hari. Dimana kedua orang tuanya bertengkar parah, ketika Laju kecil sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.


“Aku yakin dengan betul bahwa aku sudah disterilisasi, mas! Dokter itu pasti salah! Dia pasti sengaja untuk menjebak kita!”


“Kamu juga lihat sendiri kan kalau bocah itu tidak normal ketika sedang bermain bola tadi!? Tidak seperti anak pada umumnya!?”


“…”


Laju kecil tidak ingat banyak lagi, kecuali tatapan dan ucapan dari ibunya yang mengiris hati dan perasaannya. “Aku berharap kalau kamu tidak pernah lahir!!!”


Keringat dingin Laju mulai menjadi-jadi. Pikirannya yang tidak bisa dikendalikan untuk memutar semua memori itu memberinya serangan jantung dadakab, sampai Vignette mengeluarkan sebuah botol yang memberikan aroma relaksasi.


“Mungkin dia ada trauma segala macam ya dengan suntikan?” Vignette mulai mendekati Laju yang matanya sudah terbang kesana-kemari. Termakan efek dari aroma yang sangat menenangkan tersebut.

__ADS_1


Vignette menjentikkan jarinya dan mencuri kesadaran Laju.


“Aa-ah!” Delphia yang panik berusaha meraih Laju yang tidak sadarkan diri. Berusaha menggapai dan menolongnya, meskipun sebenarnya sudah ditangani oleh orang yang tepat.


“Ngihhihih,” Audy tertawa menggoda. “Lucu sekali kamu, Del. Apa yang sudah terjadi selama di hutan, nih!?”


Audy menjahili Delphia yang mukanya mulai merah, menyadari tindakannya yang sia-sia. Memangnya kekhawatiran Delphia bisa membantu apa ketika Vignette, sang dokter yang sudah berpengalaman menangani pasiennya.


“Ahahaha! Dasar bocah cinta. Tenang saja, aku hanya membuatnya untuk bisa menenangkan dirinya. Meskipun pada dasarnya dia sudah tidak sadar, tapi aku masih bisa mengendalikan organ-organ tubuhnya.” Vignette yang membawa dan menidurkan Laju mulai ikut menggoda Delphia.


Setelahnya, Vignette mengambil sampel darah Laju yang langsung terhubung ke dalam komputernya untuk diperiksa. Baik Audy maupun Delphia, tidak ada yang paham terhadap penjelasan-penjelasan yang ditampilkan di dalam komputer. Yang bisa mereka pahami adalah wajah terkejut sang nenek terhadap hasil sampel darah Laju.


“Kalian beruntung sekali akhir-akhir ini, ya.” Vignette mulai menjelaskan perlahan. “Tidak hanya bisa menemukan tuan putri, tapi kalian juga bisa mendapatkan sang ‘pangeran’ juga untuk berpihak pada kalian.”


“Aku… tidak begitu paham apa yang kamu bicarakan, nek?”


“Yah, pangeran mungkin tidak begitu akurat. Tapi, jika membandingkannya dengan julukan gadis ini. Bocah ini mungkin cocok dijuluki dengan pangeran.”


“Dia memang berhasil mencari dan mengalahkan komplotan dalam waktu dua minggu, sih. Harusnya dia memang tidak normal-normal saja,” Audy menambahkan. “Memangnya dia itu siapa?” Tanya Audy berikutnya sambil mendekati komputer sang nenek.


Tapi, Audy tetap tidak begitu mengerti semua grafik dan penjelasan yang ditampilkan di atas monitor ini. Kecuali satu, tentang perbandingan DNA antara Laju dengan makhluk normal lainnya.


Jika bisa disimpulkan, Laju memang pada dasarnya bukanlah manusia biasa.


Dia memiliki kendali penuh atas organ-organnya. Bahkan, bisa membuatnya bekerja sangat efektif seperti lebih kencang, lebih kuat, lebih pintar, melebihi rata-rata, jika dibandingkan dengan manusia pada umumnya.


“Lalu apakah ada prosedur yang berbeda untuk menangani bocah ini?”


“Tidak juga. Sang pangeran dan tuan putri akan sama-sama memasuki tabung yang kalian juga sudah pahami fungsinya apa. Toh pada dasarnya fungsinya sama saja.”


“Kira-kira berapa lama mereka akan diurus disana?”


“Sebenarnya satu malam juga cukup. Tugasku hanya membuat aliran darah mereka lebih lancar, kan? Pada akhirnya, jika memang mau mengoptimalkan kekuatan, mereka tetap harus latihan dengan rutin.”


“Tapi…?”


“Tapi memang mungkin aku minta waktu kurang lebih tiga hari untuk mengoptimalkan dua bocah ini. Aku juga lumayan tertarik dengan bocah bernama… siapa? Laju? Orang sepertinya sangat jarang, loh!?”


“Aku tidak masalah. Urusan di kota harusnya bisa dikendalikan oleh Parker.”


“Kalau begitu kita sepakat?”


“Terserah saja. Atur saja sesukamu, nek!”


Ketika Audy dan Nek Vignette berbicara satu sama lain melakukan kesepakatan, Delphia yang hidupnya disebutkan dalam percakapan mereka hanya bisa mematung tidak bisa paham apa yang sedang mereka katakan.

__ADS_1


Delphia awalnya hanya akan memberikan senyumnya untuk setiap masalah yang datang padanya, atau juga untuk setiap orang yang berbuat apapun padanya. Tapi, karena Laju pun menjadi objek percakapan Audy dan dokter itu, Delphia tidak bisa memberikan senyum manisnya lagi seperti biasa. Dia tetap khawatir, tetap cemas.


“Kalau begitu sekarang giliranmu, tuan putri! Ehehehe!” Vignette yang menyudahi percakapannya dengan Audy langsung menjemput Delphia dengan tawanya yang mencurigakan dan jarinya yang bergerak kesana kemari tidak tenang, seperti seorang yang siap menerkam mangsanya yang sejak tadi disimpan untuk dinikmati di akhir dengan begitu nikmat dan puas.


__ADS_2