Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 9


__ADS_3

Ruangan ini tetap pengap bagaimanapun kamu datang. Diskusi yang


dibicarakan selalu membahas topik-topik berat yang tidak disukai semua orang.


Tapi, semuanya tidak berkutik di hadapan pria berkumis yang duduk di bawah


jendela utama itu. Pertemuan ini juga hadir hadir atas panggilan pria tersebut,


yang memegang kendali atas semua birokrasi, sistem, juga semua jajarannya yang


hadir di sekolahan ini.


“Laju harus benar-benar disingkirkan. Jika dia pada akhirnya tahu bahwa


kita lah yang telah mencuranginya, bisa-bisa kita benar-benar dituntut.


Kenalannya benar-benar mengerikan,” ucapnya berat. “Tapi tetap saja ini


benar-benar sangat beresiko.”


“Orang tuanya pasti akan khawatir jika anaknya menghilang begitu saja.


Koneksi yang mereka miliki pasti akan melakukan apapun untuk membawa anaknya


kembali.”


“Itu dia.”


“Tapi sejauh yang saya ketahui, hubungan mereka tidak begitu baik.”


“Tetap saja. Mereka masih bisa mendapatkan keuntungan dari kondisi ini.


Kita bisa dituntut yang akan memberikan mereka tidak hanya uang, tapi juga panggung,


reputasi, dan banyak hal lainnya yang bahkan di luar kendali kita.”


Diskusi sudah berjalan separuh. Anggota diskusi sudah berpeluh keringat


memikirkan setiap kemungkinan dan jalan untuk mendapatkan solusi dari masalah


yang mereka hadapi.


Jangan melihatnya bahwa pihak sekolah melakukan hal yang tidak-tidak


pada muridnya. Ini demi kebaikan bersama.


Diskusi ini dilakukan demi kemajuan sekolah, juga demi kemajuan


pendidikan pada umumnya. Mereka khawatir, jika sifat asli Laju keluar di institusi


pendidikan lainnya, pasti mereka juga akan kerepotan. Apalagi dengan bukti yang


belum kuat, mereka tidak bisa mengeluarkannya begitu saja. Laju akan menjadi


parasit dimanapun dia berada.


Tenang. Tenang saja.


Diskusi ini demi kepentingan bersama.


Laju adalah musuh dunia pendidikan, musuh umat manusia.


“Jadi penyingkiran macam apa yang harus kita lakukan kepada Laju?”


“Semua yang kita lakukan pada akhirnya akan berakibat buruk. Jika kita


biarkan saja Laju berbuat seenaknya, kita akan tetap terbawa-bawa, menjadi


alasan Laju bertindak seperti itu. Dan jika kita berbuat buruk kepada Laju pun


akan tetap terkena dampaknya.”


“Kita harus benar-benar membuat penyingkiran ini rapi dan sebersih


mungkin. Kita harus memiliki bukti yang kuat untuk melawan dan menjebaknya.”


“Aku tidak menyangka dia akan menyangkal tuduhan curang itu. Instingnya


benar-benar luar biasa. Dia seperti sudah tahu setiap apapun yang kita


lakukan.”


“Laju memang mengerikan.”


“Tunggu. Untuk permasalahan siswa yang sedang tidak di sekolah, kita


bisa bilang bahwa mereka sedang bertamasya, kan? Ini sudah di penghujung


semester. Bukankah itu wajar? Untuk masalah Laju, kita urusi atas dasar itu


saja,” ucap seorang anggota diskusi lain, seorang pengajar, yang juga kesal

__ADS_1


dengan tingkah Laju.


“Para orang tua tidak akan khawatir jika muridnya sedang pergi. Mereka


sedang bertamasya atas acara sekolah. Hmm, menarik.”


“Tapi percuma saja jika murid lain asyik bertamasya, sedangkan Laju


pergi menghilang sendiri. Kita tetap bisa dituntut karena menyediakan fasilitas


yang tidak becus kepada para murid..”


“Kalau begitu, skenariokan lagi sebuah kejadian yang tidak bisa


disangkal. Sesuatu seperti bencana? Atau mungkin sepert serangan terorisme yang


masih terdapat unsur manusia yang bisa dimanipulasi. Masih banyak kemungkinan,


kan?”


“Untuk kemungkinan memanipulasi Laju, kita bisa menyuruhnya untuk pergi


ke suatu tempat dan menipunya disana. Mungkin kita bisa kerjakan orang-orang


“itu” untuk mengurus Laju. Kita tidak ada campur tangan dengan urusan luar


sekolah, kan?”


“Pergi ke tempat bimbingan, les, dan segala macam. Masuk akal juga.”


Tapi tidak seperti sebelumnya, topik tidak berakhir begitu saja. Karena


keteledoran mereka kemarin, Laju masih sempat mempertanyakan kecurangan yang


tampak mencurigakan. Mereka harus benar-benar membuat rencana ini matang hingga


tidak bisa dipertanyakan lagi.


Semua orang melirik satu sama lain. Semuanya diam, sedang berpikir, atau


mungkin tidak? Beberapa dari mereka hanya berharap ini berakhir dengan cepat.


Mereka sudah lelah, mereka sudah tidak bisa memikirkan barang satu ide


sekalipun.


Sampai ada seseorang yang masih mempertanyakan.


Mempertanyakan mengapa ini semua penting.


bisakkah kita keluarkan Laju dari sekolahan secara normal? Atau mungkin biarkan


saja lulus ke akademi dan menjadi alumnus. Kenapa penting sekali mengusirnya


sekarang juga?”


Seseorang dari sudut ruangan bertanya dengan polos, kepada pengapnya


ruangan, kepada orang-orang yang pusing, yang membuat mereka terbangun lagi.


Itu pertanyaan yang cukup lucu sebenarnya. Orang-orang awalnya mengira


sia-sia saja menjawab pertanyaan tersebut. Bukannya mendapatkan solusi,


permasalahan malah diputar-putar. Tapi untuk satu detik setelahnya, mereka


sedikit merasa lega.


Pertanyaan tersebut memunculkan decakan tawa kecil pada semua anggota


diskusi, menyegarkan pikiran mereka yang sudah buntu.


Apakah dengan ini diskusi bisa menjadi lebih lancar karena kepala sudah


dingin?


Pria dengan kumis itu pun perlahan menjelaskan kepada anggota yang polos


tersebut. Pertama, jika Laju dibiarkan masuk ke akademi dengan sifatnya yang


begitu, akan sangat berbahaya bagi kita, bagi para guru, bagi semua orang. Jika


sifatnya keluar pada saat belajar di akademi dan merepotkan akademi, mereka lah


yang akan menyalahkan kita karena membiarkan Laju dengan sifat yang kurang ajar


untuk belajar dengan tenang, tanpa ada peringatan, memasuki akademi begitu


saja.


Tidak hanya sekolah kita akan dimasukkan daftar hitam, reputasi semua

__ADS_1


orang disini akan dibicarakan oleh akademi. Semua siswanya akan kesulitan di


masa depan karena melupakan alumni sekolah yang membiarkan anak seperti Laju


berkeliaran. Artinya, siswa lain pasti akan kena dampaknya, akan dicap sebagai


murid kurang ajar lainnya, meskipun sebenarnya tidak begitu.


Para guru dan petugas di sekolah ini pun akan terkena dampak lainnya.


Kita akan dicap sebagai petugas dan guru yang tidak becus yang membiarkan anak


seperti Laju berkeliaran, tidak didisplinkan. Tidak hanya yang bekerja di


sekolah ini saja, mereka akan tetap menghantui meskipun kita sudah


dipindahtugaskan, bahkan hingga akhir hayat.


Kita akan tetap dicap sebagai pribadi yang sama tidak becusnya seperti


Laju, yang bermasalah, yang kurang ajar. Hidup kita tidak akan tenang jika


masih memiliki hubungan dengan Laju, atau apapun yang berhubungan dengannya.


“Oh jadi ini guru yang tidak becus mengajar anak kurang ajar seperti


Laju?”


“Guru ini berasal dari SMA yang mendidik Laju? Wah bahaya.”


“Jangan dekat-dekat deh. Saya tidak ingin tertular menjadi orang yang


tidak becus seperti anda-anda sekalian.”


Dan masih banyak ucapan-ucapan atau hujatan lainnya.


Kedua, kita tidak bisa begitu mengeluarkan Laju dengan normal. Atas


alasan apa kita mengeluarkan siswa beprestasi seperti Laju? Kita akan tetap


mendapatkan reputasi yang buruk karena terkesan pilih kasih kepada siswa.


Mungkin latar belakangnya akan dicari oleh orang-orang yang dapat menyudutkan


kita, mencari-cari alasan kenapa kita mengeluarkan Laju tanpa alasan.


Kita butuh bukti kuat untuk mengeluarkannya. Dia benar-benar bermasalah,


dan kita semua tahu akan hal itu. Tapi apa buktinya? Belum ada. Kita masih


mencari bukti untuk membuktikan bahwa dia memang siswa bermasalah.


Lalu, kenapa tidak kita rekayasa bahwa Laju berbuat salah. Seperti yang


kamu ketahui kemarin saja dia hampir berhasil membongkar rekayasa dan skenario


palsu itu seorang diri. Padahal dia sendiri tidak tahu menahu tentang rencana


ini. Entahlah dia yang memiliki informasi yang kuat, atau memang kita tidak membuat


rencana dengan matang.


Kalau kita bisa memanipulasi Laju untuk melakukan kegiatan yang


membuatnya bermasalah sehingga bisa menjadi bukti agar dia dikeluarkan dari


sekolahan, pasti akan langsung kita lakukan karena itu jalan yang mudah dan


efektif, kan?


Sayangnya Laju tidak semudah itu.


Diskusi ini pun dilanjutkan dengan senyuman, dengan lebih segar, dengan


lebih dingin untuk beberapa anggota, juga kepala sekolah dengan kumisnya.


Meskipun diskusi diulang ke titik nol, ternyata semuanya butuh itu. Semuanya


butuh untuk mengulang pikiran mereka, untuk kembali kepada topik diskusi awal


tentang tamasya yang akan menjadi latar pencurangan Laju lainnya.


Orang-orang perlahan kembali pada posturnya kembali, kembali berpikir


dengan dingin kembali. Diskusi siap untuk dilanjutkan


Apakah akan ada ide baru lain untuk mendapatkan solusi dari masalah


mereka? Entahlah. Yang pasti, mereka tetap berpegang teguh bahwa Laju harus


disingkirkan, dengan betul, selama-lamanya, sampai mereka benar-benar bisa memutuskan

__ADS_1


tali hubungan.


Pokoknya, jangan sampai ada hubungan apapun dengannya bocah itu.


__ADS_2