Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 15


__ADS_3

Televisi menyala dengan berisik.


Di dalam ruangan yang diisi oleh beberapa orang bosan, suara tersebut


hadir sebagai teman yang tidak dibutuhkan, agar terlihat ramai saja.


Tenang saja, ruangan ini tidak pengap sama sekali.


Meskipun tidak ada mesin pendingin ruangan, ventilasi dan jendela dibuka


dengan lebar agar sirkulasi udara terjadi dengan baik dan sempurna.


Ruangan ini merupakan ruangan serba guna yang bisa digunakan untuk


banyak hal. Apakah sebagai kantor untuk mengurusi dokumen dan melakukan rapat, atau


sebagai ruang bermain untuk bersantai atau menonton televisi. Tapi karena orang-orang


sedang tidak memiliki pekerjaan, mereka lebih fokus terhadap urusannya masing-masing,


hingga membiarkan televisi menyala meskipun tidak ada yang menontonnya.


Seseorang yang sangat besar sedang duduk di balik meja utama. Dengan


tinggi lebih dari dua meter dan berat lebih dari 150 kilo, dia sedang sibuk


menatap tumpukan kertas dan dokumen. Kertas tersebut berisi tulisan yang sangat


asing, yang tidak dapat dipahami, bahkan untuk salah satu orang yang sedang


bermalas-malasan dsini. Tapi itu bukan hal yang penting.


Yang harus kalian ketahui adalah, orang yang sangat luar biasa besar


itu, dengan papan nama yang bertuliskan Parker Bullstone, bukanlah manusia normal


pada umumnya. Meskipun begitu, setidaknya dia masih bisa dikategorikan


berdasarkan jenis kelamin yang menyatakan bahwa dia adalah seorang pria berumur


40 tahunan.


Jika kalian mengerti konteks pria maskulin, Parker Bullstone 1000 kali


lebih maskulin dari pria biasa, dari manusia biasa. Terutama, dengan jas formal


ketatnya yang sedang ia pakai ini.


Selain itu, pria ini pun memiliki taring yang cukup besar yang muncul


dari rahang bawahnya, sangat besar hingga terlihat keluar dari dalam mulutnya. Tidak


hanya itu, dia pun memiliki tanduk yang sama besar di kedua sisi kepalanya yang


menjelaskan mengapa pria ini bukanlah manusia pada umumnya.


“Ayolah Audy, bisakah kamu berhenti merusak bantal-bantal!?” Ucap pria


besar tersebut dengan berat, sangat bulat, sangat dalam.


Seorang makhluk aneh lainnya, yang merupakan seorang wanita muda dengan


umur sekitar pertengahan 20-an sedang mencakar-cakar bantal di atas sofa yang


tidak diduduki siapapun. Panggilan tersebut merangsang telinganya – yang tidak


terdapat pada sisi kepalanya, melainkan atas kepalanya, seperti telinga pada


kucing.


Dia Audy Catilla. Salah satu pegawai pria besar ini yang juga sedang


bosan, yang sedang mengisi waktu dengan menghancurkan bantal milik perusahaan.


“Ngrrrrr!!” Audy hanya mengerung. Lalu, dia tertawa kecil dan menghilang


keluar dari ruangan. Bergerak dengan cepat dengan tangan dan kakinya, juga


ekornya yang tertutupi kemeja kasualnya, celana panjang, dan sepatu boots


tingginya.


“Audy merusak bantal lagi? Ah sialan! Aku lagi yang berarti pergi


membeli bantal baru?” Tanya seorang dari ujung ruangan yang lain.


Parker hanya bisa mengangkat bahunya kepada lelaki lain yang sedang asik


bermain dart. Lelaki ini adalah seorang pria muda yang baru memasuki umur


20-an. Dia memiliki tubuh yang berinsang, warna kulit berwarna biru, banyak


sisik di sekitar tubuhnya, yang ditutupi oleh baju serba hitamnya.


Dengan kesal, dia lempar dart dengan sembarangan yang justru tepat


sasaran. Setelahnya, dia mulai berangkat mengejar Audy yang menghilang tidak meninggalkan


jejak.


Parker menghembuskan napasnya.


Setidaknya, suara televisi sedikit membantunya agar ruangan tidak


terlihat begitu kosong dan sepi. Tapi tetap saja, acara bodoh itu tidak bisa

__ADS_1


menghiburnya.


Tuk Tuk!


Terdengar suara ketukan dari belakangnya.


Parker menolah dan melihat seekor burung yang terbang ingin memasuki


ruangan.


Kenapa repot? Jendela terbuka dengan luas. Apakah burung tersebut hanya


iseng?


Nyatanya tidak. Parker tahu bahwa burung tersebut spesial. Ketukan


tersebut merupakan tanda dan sinyal untuk memberikan kabar bahwa dia sudah


sampai di tempat tujuan dan meminta izin untuk memasuki area.


Burung yang sangat pintar.


Begitu Parker memberikan izin, burung yang ternyata gagak tersebut


terbang melesat melewati parker, menuju beberapa langkah di depan meja utama,


dan diam melayang.


Zruuuut!


Tiba-tiba saja, burung tersebut memutar dan berubah menjadi seorang


wanita yang cantik sedang membungkuk menyatakan loyaltiasnya pada Parker.


Setelah diberikan izin untuk berdiri lagi, wanita tersebut mulai


memberikan laporan.


Perawakannya cukup tinggi, sekitar 170 senti. Meskipun dalam kondisi


menjadi burung dia tidaklah memakai pakaian kecuali diliputi bulu sebagaimana


burung pada umumnya. Tapi, begitu dia merubah dirinya menjadi wujud manusia, terdapat


jas formal yang meliputi tubuhnya dengan begitu apik, tanpa satupun bulu yang


menempel.


Awalnya, mata sang wanita berwarna ungu pekat. Tapi, setelah satu


kedipan, warna matanya berubah normal kembali, menjadi warna cokelat. Dengan


rambut pendeknya yang runcing, dia memberikan gestur hormat, dan siap


“Baru saja terjadi ledakan pada kereta yang hendak menuju perbatasan.


Jumlah korbannya masih belum pasti, tapi mungkin puluhan, hampir separuh dari jumlah


total penumpang. Pusat ledakan diduga terjadi pada gerbong enam. Tapi, tiga


gerbong di sekitarnya yakni tiga, empat, lima, dan tujuh, delapan, sembilan


terkena dampaknya dan hancur tak bersisa. Gerbong masinis masih utuh, tapi


kereta sudah tidak berfungsi. Diduga ini terjadi karena serangan ******* lagi,”


jelasnya dengan sangat rinci.


Parker mengehela napas yang berat. Dia ambil rimot tv dan berusaha


mengganti saluran televisinya hingga ujung dunia. Tapi, dia tidak menemukan media


berita yang mengabarkan kejadian yang baru disampaikan wanita ini.


“Iris, apakah menurutmu serangan ini ada hubungannya dengan fraksi


penentang itu? Apa namanya? Venom Snake?”


“Sebenarnya masih banyak spekulasi yang beredar. Tapi, saya rasa *******


ini hanya kelompok kecil saja. Bahkan, mungkin tidak ada hubungannya dengan


perseteruan ras-ras atau bahkan kota ini. Itu terjadi pada lintasan kereta di


dekat perbatasan, kan? Sangat jauh hubungannya dengan kita. Sejauh yang saya


ketahui, pelakunya bahkan hanya seorang manusia biasa saja, tanpa ada campur


tangan ras lainnya yang membantu mereka.” Ucap wanita bernama Iris Ravenson


ini.


Parker tidak melanjutkan pembicaraan.


Sementara menunggu ketuanya memikirkan sesuatu, wanita ini dengan santai


meninggalkan posisi tegap formalnya untuk berjalan-jalan di sekitar ruangan.


Dia pergi ke wilayah santai yang terdiri dari televisi, sofa, dan meja


teh untuk mendapati banyak bantal yang telah rusak lagi. Tidak berbentuk,


dengan banyak busa dan isiannya yang berserakan kemana-mana.


Iris tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. “Audy lagi, ya?” Tanyanya

__ADS_1


pada Parker


“Siapa lagi. Kalau pekerjaan sedang kosong memang itu kebiasaannya,


kan?”


Iris simpan lagi bantal hancur yang tidak karuan itu, untuk lanjut


mengitari ruangan mengisi kebosanannya.


“Haaah,” keluh parker sambil menyandarkan badannya yang pegal.


Biasanya, Iris akan langsung menawari sesuatu kepada ketuanya agar


kondisi hatinya membaik. Tapi, sekarang dia lebih asik untuk mengambil lakban


yang tergeletak jatuh. Dia sedang senyum-senyum seperti sedang merencanakan


aksi yang hebat, yang jahat, yang usil.


Dia buka lakban tersebut, lalu direntangkan, dipotong dengan panjang


yang cukup, untuk kemudian dia tempelkan pada daun pintu utama yang terbuka


lebar.


“Parker!” teriak seseorang dengan sarat, yang sangat sulit untuk didengar.


Suara tersebut seperti berair, seperti terbendung oleh sesuatu di


tenggorokannya.


Meskipun hanya suara-suara riuh yang tidak begitu terdengar. Baik Iris


maupun Parker mengenali suara yang sepertinya datang dari lantai bawah


tersebut. Itu suara lelaki biru bersisik dan berinsang tadi, suara Aaron A.


Phibia


Suara Aaron perlahan semakin jelas, besar, dan semakin dekat. Ketika


Iris sedang tertawa jahat pada keusilannya, Parker hanya menggelengkan kepalanya.


Tapi, selanjutnya dia malah tersenyum. Tingkah-tingkah inilah yang justru


menghiburnya.


“Apakah kamu ingin bantal yan-” Belum sudah Aaron menyelesaikan


pembicaraanya, dia lebih dulu terhenti oleh lakban yang sekarang menutupi


separuh muka dan kepalanya.


“Ahahahaha!” Iris tertawa terbahak melihat keusilannya yang selalu bisa


berhasil.


Aaron yang menderita hanya bisa mendecakkan lidah. Membuka lakban dari


mukanya untuk lanjut memasuki ruangan dan berbicara berkonsultasi dengan Parker


perihal bantal yang akan dibeli. Ternyata, Aaron mendapati sebuah informasi


mengenai bantal yang bisa menangkal gangguan kucing, namun dengan harga yang


cukup mahal.


Tapi Parker tidak masalah. Beli saja. Uangnya dari potongan upah Audy.


Dan dengan begitu, Aaron pun kembali pergi meninggalkan ruangan sambil berusaha


mengejek dan membalas Iris.


“Iris,” seru Parker setelah Aaron hilang dari ruangan.


Iris menjawab dengan dehaman kecil. Dia sedang mengutak-atik bagian


bawah sofa untuk rencana-rencana usil lainnya.


“Tolong telusuri lebih jauh insiden kereta tersebut. Aku sedikit


khawatir dengan keterlibatan fraksi penentang itu,” ucap Parker sambil menopang


dagunya dengan kedua tangannya di atas meja.


Iris menoleh tertarik, melupakan keusilannya pada trik di sofa tersebut.


“Kalau memang tidak ada hubungnanya apakah aku boleh ‘bermain-main’


dengan mereka?” Tanya Iris cekikikan.


Parker terperanjat. “Terserah saja. Itu urusan kamu. Tapi aku kaget


mendengarnya dari mulutmu. Biasanya Audy yang sering melakukan itu,” tanya


Parker.


Iris tidak menjawab selain oleh tawa usilnya.


Dia kembali memutar diri, meliputi dirinya dengan bulu, lalu berubah


lagi menjadi burung gagak hitam yang siap melayang terbang kepada tempat


kejadian perkara.

__ADS_1


__ADS_2