
Televisi menyala dengan berisik.
Di dalam ruangan yang diisi oleh beberapa orang bosan, suara tersebut
hadir sebagai teman yang tidak dibutuhkan, agar terlihat ramai saja.
Tenang saja, ruangan ini tidak pengap sama sekali.
Meskipun tidak ada mesin pendingin ruangan, ventilasi dan jendela dibuka
dengan lebar agar sirkulasi udara terjadi dengan baik dan sempurna.
Ruangan ini merupakan ruangan serba guna yang bisa digunakan untuk
banyak hal. Apakah sebagai kantor untuk mengurusi dokumen dan melakukan rapat, atau
sebagai ruang bermain untuk bersantai atau menonton televisi. Tapi karena orang-orang
sedang tidak memiliki pekerjaan, mereka lebih fokus terhadap urusannya masing-masing,
hingga membiarkan televisi menyala meskipun tidak ada yang menontonnya.
Seseorang yang sangat besar sedang duduk di balik meja utama. Dengan
tinggi lebih dari dua meter dan berat lebih dari 150 kilo, dia sedang sibuk
menatap tumpukan kertas dan dokumen. Kertas tersebut berisi tulisan yang sangat
asing, yang tidak dapat dipahami, bahkan untuk salah satu orang yang sedang
bermalas-malasan dsini. Tapi itu bukan hal yang penting.
Yang harus kalian ketahui adalah, orang yang sangat luar biasa besar
itu, dengan papan nama yang bertuliskan Parker Bullstone, bukanlah manusia normal
pada umumnya. Meskipun begitu, setidaknya dia masih bisa dikategorikan
berdasarkan jenis kelamin yang menyatakan bahwa dia adalah seorang pria berumur
40 tahunan.
Jika kalian mengerti konteks pria maskulin, Parker Bullstone 1000 kali
lebih maskulin dari pria biasa, dari manusia biasa. Terutama, dengan jas formal
ketatnya yang sedang ia pakai ini.
Selain itu, pria ini pun memiliki taring yang cukup besar yang muncul
dari rahang bawahnya, sangat besar hingga terlihat keluar dari dalam mulutnya. Tidak
hanya itu, dia pun memiliki tanduk yang sama besar di kedua sisi kepalanya yang
menjelaskan mengapa pria ini bukanlah manusia pada umumnya.
“Ayolah Audy, bisakah kamu berhenti merusak bantal-bantal!?” Ucap pria
besar tersebut dengan berat, sangat bulat, sangat dalam.
Seorang makhluk aneh lainnya, yang merupakan seorang wanita muda dengan
umur sekitar pertengahan 20-an sedang mencakar-cakar bantal di atas sofa yang
tidak diduduki siapapun. Panggilan tersebut merangsang telinganya – yang tidak
terdapat pada sisi kepalanya, melainkan atas kepalanya, seperti telinga pada
kucing.
Dia Audy Catilla. Salah satu pegawai pria besar ini yang juga sedang
bosan, yang sedang mengisi waktu dengan menghancurkan bantal milik perusahaan.
“Ngrrrrr!!” Audy hanya mengerung. Lalu, dia tertawa kecil dan menghilang
keluar dari ruangan. Bergerak dengan cepat dengan tangan dan kakinya, juga
ekornya yang tertutupi kemeja kasualnya, celana panjang, dan sepatu boots
tingginya.
“Audy merusak bantal lagi? Ah sialan! Aku lagi yang berarti pergi
membeli bantal baru?” Tanya seorang dari ujung ruangan yang lain.
Parker hanya bisa mengangkat bahunya kepada lelaki lain yang sedang asik
bermain dart. Lelaki ini adalah seorang pria muda yang baru memasuki umur
20-an. Dia memiliki tubuh yang berinsang, warna kulit berwarna biru, banyak
sisik di sekitar tubuhnya, yang ditutupi oleh baju serba hitamnya.
Dengan kesal, dia lempar dart dengan sembarangan yang justru tepat
sasaran. Setelahnya, dia mulai berangkat mengejar Audy yang menghilang tidak meninggalkan
jejak.
Parker menghembuskan napasnya.
Setidaknya, suara televisi sedikit membantunya agar ruangan tidak
terlihat begitu kosong dan sepi. Tapi tetap saja, acara bodoh itu tidak bisa
__ADS_1
menghiburnya.
Tuk Tuk!
Terdengar suara ketukan dari belakangnya.
Parker menolah dan melihat seekor burung yang terbang ingin memasuki
ruangan.
Kenapa repot? Jendela terbuka dengan luas. Apakah burung tersebut hanya
iseng?
Nyatanya tidak. Parker tahu bahwa burung tersebut spesial. Ketukan
tersebut merupakan tanda dan sinyal untuk memberikan kabar bahwa dia sudah
sampai di tempat tujuan dan meminta izin untuk memasuki area.
Burung yang sangat pintar.
Begitu Parker memberikan izin, burung yang ternyata gagak tersebut
terbang melesat melewati parker, menuju beberapa langkah di depan meja utama,
dan diam melayang.
Zruuuut!
Tiba-tiba saja, burung tersebut memutar dan berubah menjadi seorang
wanita yang cantik sedang membungkuk menyatakan loyaltiasnya pada Parker.
Setelah diberikan izin untuk berdiri lagi, wanita tersebut mulai
memberikan laporan.
Perawakannya cukup tinggi, sekitar 170 senti. Meskipun dalam kondisi
menjadi burung dia tidaklah memakai pakaian kecuali diliputi bulu sebagaimana
burung pada umumnya. Tapi, begitu dia merubah dirinya menjadi wujud manusia, terdapat
jas formal yang meliputi tubuhnya dengan begitu apik, tanpa satupun bulu yang
menempel.
Awalnya, mata sang wanita berwarna ungu pekat. Tapi, setelah satu
kedipan, warna matanya berubah normal kembali, menjadi warna cokelat. Dengan
rambut pendeknya yang runcing, dia memberikan gestur hormat, dan siap
“Baru saja terjadi ledakan pada kereta yang hendak menuju perbatasan.
Jumlah korbannya masih belum pasti, tapi mungkin puluhan, hampir separuh dari jumlah
total penumpang. Pusat ledakan diduga terjadi pada gerbong enam. Tapi, tiga
gerbong di sekitarnya yakni tiga, empat, lima, dan tujuh, delapan, sembilan
terkena dampaknya dan hancur tak bersisa. Gerbong masinis masih utuh, tapi
kereta sudah tidak berfungsi. Diduga ini terjadi karena serangan ******* lagi,”
jelasnya dengan sangat rinci.
Parker mengehela napas yang berat. Dia ambil rimot tv dan berusaha
mengganti saluran televisinya hingga ujung dunia. Tapi, dia tidak menemukan media
berita yang mengabarkan kejadian yang baru disampaikan wanita ini.
“Iris, apakah menurutmu serangan ini ada hubungannya dengan fraksi
penentang itu? Apa namanya? Venom Snake?”
“Sebenarnya masih banyak spekulasi yang beredar. Tapi, saya rasa *******
ini hanya kelompok kecil saja. Bahkan, mungkin tidak ada hubungannya dengan
perseteruan ras-ras atau bahkan kota ini. Itu terjadi pada lintasan kereta di
dekat perbatasan, kan? Sangat jauh hubungannya dengan kita. Sejauh yang saya
ketahui, pelakunya bahkan hanya seorang manusia biasa saja, tanpa ada campur
tangan ras lainnya yang membantu mereka.” Ucap wanita bernama Iris Ravenson
ini.
Parker tidak melanjutkan pembicaraan.
Sementara menunggu ketuanya memikirkan sesuatu, wanita ini dengan santai
meninggalkan posisi tegap formalnya untuk berjalan-jalan di sekitar ruangan.
Dia pergi ke wilayah santai yang terdiri dari televisi, sofa, dan meja
teh untuk mendapati banyak bantal yang telah rusak lagi. Tidak berbentuk,
dengan banyak busa dan isiannya yang berserakan kemana-mana.
Iris tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. “Audy lagi, ya?” Tanyanya
__ADS_1
pada Parker
“Siapa lagi. Kalau pekerjaan sedang kosong memang itu kebiasaannya,
kan?”
Iris simpan lagi bantal hancur yang tidak karuan itu, untuk lanjut
mengitari ruangan mengisi kebosanannya.
“Haaah,” keluh parker sambil menyandarkan badannya yang pegal.
Biasanya, Iris akan langsung menawari sesuatu kepada ketuanya agar
kondisi hatinya membaik. Tapi, sekarang dia lebih asik untuk mengambil lakban
yang tergeletak jatuh. Dia sedang senyum-senyum seperti sedang merencanakan
aksi yang hebat, yang jahat, yang usil.
Dia buka lakban tersebut, lalu direntangkan, dipotong dengan panjang
yang cukup, untuk kemudian dia tempelkan pada daun pintu utama yang terbuka
lebar.
“Parker!” teriak seseorang dengan sarat, yang sangat sulit untuk didengar.
Suara tersebut seperti berair, seperti terbendung oleh sesuatu di
tenggorokannya.
Meskipun hanya suara-suara riuh yang tidak begitu terdengar. Baik Iris
maupun Parker mengenali suara yang sepertinya datang dari lantai bawah
tersebut. Itu suara lelaki biru bersisik dan berinsang tadi, suara Aaron A.
Phibia
Suara Aaron perlahan semakin jelas, besar, dan semakin dekat. Ketika
Iris sedang tertawa jahat pada keusilannya, Parker hanya menggelengkan kepalanya.
Tapi, selanjutnya dia malah tersenyum. Tingkah-tingkah inilah yang justru
menghiburnya.
“Apakah kamu ingin bantal yan-” Belum sudah Aaron menyelesaikan
pembicaraanya, dia lebih dulu terhenti oleh lakban yang sekarang menutupi
separuh muka dan kepalanya.
“Ahahahaha!” Iris tertawa terbahak melihat keusilannya yang selalu bisa
berhasil.
Aaron yang menderita hanya bisa mendecakkan lidah. Membuka lakban dari
mukanya untuk lanjut memasuki ruangan dan berbicara berkonsultasi dengan Parker
perihal bantal yang akan dibeli. Ternyata, Aaron mendapati sebuah informasi
mengenai bantal yang bisa menangkal gangguan kucing, namun dengan harga yang
cukup mahal.
Tapi Parker tidak masalah. Beli saja. Uangnya dari potongan upah Audy.
Dan dengan begitu, Aaron pun kembali pergi meninggalkan ruangan sambil berusaha
mengejek dan membalas Iris.
“Iris,” seru Parker setelah Aaron hilang dari ruangan.
Iris menjawab dengan dehaman kecil. Dia sedang mengutak-atik bagian
bawah sofa untuk rencana-rencana usil lainnya.
“Tolong telusuri lebih jauh insiden kereta tersebut. Aku sedikit
khawatir dengan keterlibatan fraksi penentang itu,” ucap Parker sambil menopang
dagunya dengan kedua tangannya di atas meja.
Iris menoleh tertarik, melupakan keusilannya pada trik di sofa tersebut.
“Kalau memang tidak ada hubungnanya apakah aku boleh ‘bermain-main’
dengan mereka?” Tanya Iris cekikikan.
Parker terperanjat. “Terserah saja. Itu urusan kamu. Tapi aku kaget
mendengarnya dari mulutmu. Biasanya Audy yang sering melakukan itu,” tanya
Parker.
Iris tidak menjawab selain oleh tawa usilnya.
Dia kembali memutar diri, meliputi dirinya dengan bulu, lalu berubah
lagi menjadi burung gagak hitam yang siap melayang terbang kepada tempat
kejadian perkara.
__ADS_1