
Esoknya, Laju pun langsung meminta izin kepada Iris dan yang lainnya untuk mendapatkan hari libur. Hari yang akan digunakannya untuk berkunjung ke markas komunitas yang diberitahukan oleh Adrian kemarin.
Awalnya, Laju ingin bertanya perihal alamat yang diberikan oleh Adrian kepada Iris. Tapi, selain karena pekerjaan Parker yang sedang Iris urus terlihat menyibukannya, juga karena perasannya yang tidak begitu ingin melibatkan orang-orang ini dengan urusannya dengan Adrian. Laju lebih memilih untuk mencari dan mendatanginya sendiri.
Lagipula, dia bisa mencari taksi atau yang segala macam.
“Tolong, pak. Saya ingin kesini, ya!” Seru Laju memberikan kartu nama kepada supir.
“…! Heh! Dasar manusia!” ucap sang supir yang meludah melihat kartu nama yang diberikan oleh Laju.
Laju hanya bisa mengerutkan dahinya.
Apakah rasisme yang diidap oleh penduduk kota memang separah ini?
Karena pikiran Laju yang masih berfokus kepada Adrian dan masa lalunya, Laju lebih memilih untuk tidak membawa masalah lebih panjang. Ada banyak hal yang ingin dikonfirmasinya mengenai keberadaan, eksistensi, dan fungsinya sebagai manusia di dalam masyarakat dan kependudukan kota ini.
Sebenarnya hal ini tidaklah sulit. Yakni, Laju hanya perlu pulang.
Tapi, hatinya merasa tidak puas dengan jawaban yang terkesan terlalu sederhana itu.
Maka dari itu, dia mencoba mendapatkan jawaban lebih kepada Adrian. Dia berharap jika mereka bisa bergaul lebih lama bersama-sama, perlahan-lahan Laju akan menemukan jawabannya sendiri.
Lagipula, teknik teleportasi bukanlah teknik yang murah dan mudah, kan?
Meskipun salah satu teman komunitas Adrian memilikinya, tidak serta merta dia bisa menggunakannya dengan lancar juga, kan?
“Oh! Pantas saja!” Ucap Laju kepada pemandangan yang dilihatnya seiring taksi berjalan mengitari kota.
Blok T yang tertuliskan di kartu nama Adrian ternyata satu kawasan dimana dia dan Parker berusaha untuk memasuki rumah dan tiba-tiba terperangkap di gorong-gorong. Mungkin karena kejadian kemarin, rumah ini masih disegel oleh banyak garis polisi.
Ternyata, markas mereka tidak jauh dari tempat ini.
“Tapi…?” Laju sedikit berspekulasi antara hubungan keduanya.
Apakah ada unsur kesengajaan yang dilakukan oleh Adrian dalam memilih tempat bagi markas komunitasnya? Entahlah. Ada banyak faktor yang bisa menjawab spekulasi tersebut. Pada akhirnya, Laju hanya berpikir ini semua hanya kebetulan belaka dan mengharapkan yang terbaik saja.
Berharap tidak ada monster jamur raksasa yang tiba-tiba hidup kembali, mengamuk, dan menghantui hidupnya.
Buk!
“Cih!” Sang supir yang merupakan beastmen badak mendecakkan lidahnya dan meludah begitu Laju menutup pintu mobilnya.
“…?” Laju hanya mengangat alisnya sebelah.
Dilanjut dengan memutar tubuhnya, Laju berusaha melirik kanan kiri melihat penasaran tempat yang disebutkan di dalam kartu nama ini.
Apakah ini tempat yang benar?
Laju berusaha untuk menyocokkan lagi alamat yang berada di kartu nama dengan alamat yang terpasang tertulis di setiap toko. Sebenarnya, supir taksi itu sudah melakukan hal yang benar dengan mengantarkan Laju pada tujuannya.
Harusnya, ini area dimana markas komunitas Adrian berada, kan?
“Lalu kenapa tempat ini sangat menyedihkan?”
Meskipun kota Kannaris adalah kota yang memilukan jika dibandingkan dengan Gloria. Meskipun Kannaris adalah kota yang kotor, penuh debu dan asap disana-sini yang menutupi langit hingga berwarna hijau kecoklatan, banyak bangunan yang karatan, sampah yang berserakan di lorong-lorong, dan banyak kekotoran lainnya.
Tempat ini lebih menyedihkan dari itu semua.
Jika Laju bisa menjelaskan tempat ini dengan satu kata, kata yang cocok untuk menggambarkan tempat ini adalah ‘kumuh’.
Tempat ini adalah tempat dimana penduduk yang kurang mampu berusaha untuk mengais receh demi makan di esok hari. Tempat yang memiliki banyak genangan air, tempat yang sangat gelap karena listrik tidak sampai, tempat yang dipenuhi oleh penduduk yang kurang gizi, kotor, dikerubungi lalat, dan gigi yang kuning.
Untuk satu detik, Laju sempat membandingkan daerah ini dengan kawasan gedung tempat Bos Alex berada di dunia manusia. Tapi, ketika Laju melirik dengan lebih jeli, tempat ini, Blok T ini, lebih dan sangat menyedihkan.
Sembaru terus berjalan, Laju menelan ludahnya dalam-dalam.
Tidak lupa memberikan senyum tipisnya, dia berusaha mencari gedung yang cocok dengan yang tertera pada kartu nama.
Tok tok tok.
Hingga pada akhirnya, Laju mendatangi dan mengetuk gedung yang memiliki nuansa yang mirip dengan kediaman Bos Alex. Gedung yang terlihat hampir runtuh di antara masyarakat miskin, namun memiliki aura yang sangat megah di dalamnya.
“Oh, kamu bisa menemukan tempat ini? Selamat datang, Ju!” ucap Adrian. “Ayo masuk-masuk. Anggap saja rumah sendiri!” Lanjutnya.
Awalnya, Laju berekspetasi bahwa perabotan yang berada di dalam gedung pastinya akan sangat berbeda dengan fisik luar – hanya digunakan untuk kamuflase seperti yang dilakukan oleh Bos Alex.
Nyatanya, yang terdiri di dalam gedung ini masih sama-sama menyedihkan, tidak ada mewah-mewahnya sama sekali, serupa seperti semua yang terjadi di kawasan perumahan Blok T ini.
Yang bisa Laju lihat di penjuru gedung yang tidak begitu luas ini adalah kayu yang sudah lupuk siap runtuh, langit-langit yang terkelupas, perabotan yang separuh rusak, lantai yang berlubang – dan beberapa tikus yang kejar-kejaran di dalamnya, dan tentu lampu dan penerangan yang remang-remang
“Ahaha! Apakah kamu berharap isinya seperti si Alex itu?” tanya Adrian begitu memperhatikan Laju yang kepalanya berputar memperhatikan lingkungannya.
“Eh? Iya. Aku pikir kamu melakukan pendekatan yang sama untuk membaur dengan masyarakat. Tapi yang ada disini benar-benar serupa dengan penampakan luarnya.”
“Wajar saja. Memang hanya inilah yang bisa kita dapatkan di kota ini. Rasisme terhadap manusia sudah tidak bisa ditolong lagi. Kita benar-benar dibenci, disamaratakan dengan hewan pengerat, tidak pernah diberikan kesempatan untuk hidup dengan layak.”
“…”
“Kamu juga pasti pernah merasakannya, kan? Oh iya. Bagaiman kamu datang kesini? Apakah diantar? Atau naik taksi?”
“Aku naik taksi.”
“Nah, tidakkah sang supir melakukan sesuatu kepadamu?”
“…!” Laju mengingat sesuatu.
“Karena memang itulah yang sedang terjadi di kota ini. Aku yakin itu bukannya pertama kali kamu ditindas diperlakukan serendah itu kan? Diludahi, dibuang, dipermainkan, dipukul tanpa ada alasan yang jelas,” ucap Adrian sambil mengajak Laju berkeliling gedung.
“Lapor, VS! Ada panggilan dari Gloria. Klien yang biasa. Dia meminta laporan terhadap perkembangan dan hasil terhadap investasinya,” ucap seseorang dari balik pintu. “Oh? Ada siapa ini? Apakah tamu?”
__ADS_1
“Ya. Aku akan mengajaknya berkeliling. Suruh saja yang lain untuk menjawab. Mereka juga paham kondisinya, kan? Bilang aku sedang mengantar tamu.”
“Baiklah! Akan segera saya urus!”
Dan dengan begitu, seorang manusia yang memotong pembicaraan Adrian barusan langsung menghilang lagi memasuki ruangan.
“Urusan pekerjaan?”
“Ya. Akhir-akhir ini keadaan sedang buruk. Ini juga salah satu alasanku pindah dari Gloria. Orang-orang di kota ini benar-benar membenci kita. Aku harus bertindak sebelum mereka melancarkan serangan lagi,” jawab Adrian.
“Se-serangan…?” Tanya Laju dengan pelan.
“Jadi bagaiman? Kamu tentu pernah diperlakukan tidak adil, kan?”
“Eh!? Ya! Iya! Aku pernah diperlakukan tidak adil seperti itu!”
“Maka dari itu, komunitas ini akan menyambutmu dengan terbuka!” ucap Adrian sambil membuka pintu utama. “Kita adalah para manusia yang berusaha untuk hidup tenang di kota, berusaha untuk mendapatkan pengakuan, berusaha untuk bisa hidup dengan normal.”
Ternyata, di balik pintu besar di depannya ada puluhan manusia lain yang sedang bekerja mengurusi banyak dokumen dan hal lainnya yang sedang sibuk.
“Kita adalah kumpulan manusia yang menjadi korban ketidakadilan kota!”
Beberapa yang mendengar seruan Adrian mulai menghentikkan pekerjaannya dan mulai memperhatikan hormat terhadap moto dan ideologi komunitas mereka.
Bahkan, beberapa ada yang bersorak ria, mengepalkan tangannya, mengangkatnya tinggi-tinggi, bersemangat membakar, mengagetkan Laju yang belum paham terhadap konteks yang sedang dibicarakan.
“KITA HADIR UNTUK MEMPERTAHANKAN HAK KITA UNTUK HIDUP SEBAGAI RAS DAN MAKHLUK YANG SETARA!!!”
Dan setelahnya, Adrian lebih keras menyerukan ucapannya, berusaha untuk lebih semangat membakar idealis dari para manusia di dalam ruangan, yang kemudian menyerukan balik kata-kata yang diteriakkan oleh Adrian.
“Ya!” Seru yang satu.
“Setara!!” Seru yang lainnya.
Laju yang tidak mengerti hanya bisa berdiri canggung tentang seruan untuk kehidupan normal yang setara.
Tidak.
Sebenarnya, Laju sedikit mengerti apa yang dibicarakan oleh Adrian Tapi, mungkin karena ini terjadi begitu mendadak, Laju hanya bingung harus merespon seperti apa.
“Eh? Ahaha. Aku lupa. Santai saja santai. Ketika memasuki ruangan dan mendengar cerita penindasan aku refleks langsung berpidato lagi.” Seru Adrian sambil menepuk bahu Laju. “Tenanglah. Kami disini semua keluargamu. Kami akan selalu membantumu apa yang kamu butuhkan!”
***
Setelahnya, Laju lebih banyak mengakrabkan diri dengan Adrian dan kelompoknya.
Bagaimana tidak? Dibandingkan bercengkrama dengan gadis kucing, makhluk biru yang berlendir dan memiliki insang, wanita yang bisa berubah menjadi gagak, pria bertanduk dan memiliki taring, atau monster-monster aneh lainnya. Laju lebih memilih untuk bercengkrama dengan sesama manusia, makhluk yang dikenalinya betul.
Tanpa ada organ-organ aneh, tanpa ada bentuk yang tidak masuk akal, tanpa beastmen, tanpa dwarf, tanpa monster-monster aneh lainnya.
Dan tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat.
Tapi, karena Laju tidak merasakan hal ini merepotkannya sama sekali, belum lagi perhatian dan apresiasi yang diberikan komunitas benar-benar memperlakukan Laju seperti keluarga, bocah ini benar-benar menikmati waktunya di tempat ini.
Setelah berminggu-minggu terjebak di dunia para monster, pada akhirnya bisa merasakan rumah dengan bercengkrama dengan sesama manuisa membuatnya lupa waktu.
Dia merasa baru kemarin datang bertemu Adrian.
Ternyata, dua minggu sudah dilewatinya.
Zrruuttt!
Seorang pria menunjukkan senjata eksperimen baru mereka, dimana sebuah pistol yang diberikan peluru berwarna ungu bisa menghasilkan sebuah lubang hitam dengan radius empat puluh senti yang menarik semua partikel dan setelahnya menghasilkan ledakan di tempat peluru tersebut bersarang.
“Apa-apaan senjata itu?”
“Hebat, kan? Adrian berhasil menemukan elemen unik yang ditemukan di pendalaman.”
“Tapi, memangnya masyarakat bisa mendapatkan lisensi senjata semudah itu?”
“Tentu saja tidak. Kamu pikir sejak kapan senjata bisa digunakan seenaknya? Ini bukannya kita gunakan untuk bermain-main juga.”
“Untuk apa memangnya kalian butuh senjata?”
“Tentu saja untuk melindungi diri. Kamu lupa? Kita para manusia selalu direndahkan dilecehkan disini, ingat?”
“Apakah kalian tidak pulang? Ke dunia manusia?
“Kita tidak sepertimu. Untuk beberapa dari kami, disinilah rumah kami. Kami tidak punya banyak pilihan selain berusaha hidup dan berjuang,” ucapnya dengan nada sendu. “Sudahlah. Aku tidak terlalu suka berbicara topik seperti itu. Bagaimana? Apakah kamu ingin mencobanya?” Pria tersebut menawarkan pistol tersebut kepada Laju.
“Eh!? Tidak, tidak. Tidak terima kasih!
“Wah, sangat disayangkan. Tapi memang memiliki senjata memiliki tanggung jawab yang berat. Tidak mudah untuk memikulnya!”
“Tidak, tidak begitu!” Jawab seorang pria dari belakang yang bertelanjang dada. “Bocah ini lebih suka untuk berkelahi jarak dekat! Bukan pengecut sepertimu! Hahaha!”
“Eh!? Apa kau bilang!?”
“Sudahlah aku tidak peduli. Laju! Ayo kelahi lagi! Duel ulang! Aku belum puas dengan semua hasil ini! Kali ini aku pasti menang!”
“Kamu yakin? Dengan tubuh penuh lebam seperti itu!”
“Sudahlah urus saja dirimu sendiri! Hiyahhh!!”
Setelah memotong pembicaraan Laju dengan pria yang sedang menampilkan demo penggunaan peluru ungu, pria yang bertelanjang dada ini langsung lompat mendekat untuk menyerang Laju yang terlihat sedang santai, terlihat terbuka, mudah diserang.
Tapi, pembukaan serangan yang dilakukan oleh pria bertelanjang dada tersebut pun penuh kelemahan, penuh kekurangan. Sehingga, Laju bisa dengan mudah menghindar dan memberikan serangan balasan. Terutama, ketika Laju mengandalkan kemampuan terbaiknya; refleksnya, untuk membalikkan keadaan.
Tidak hanya serangan tersebut bisa Laju hindari dengan mudah, dengan posturnya yang tidak kokoh, Laju bisa mengaitkan kakinya pada pria tersebut, dia mendorong mukanya ke belakang, dan pria bertelanjang dada tersebut langsung praktis terjungkal terbalik, terjatuh terbentur dengan keras.
__ADS_1
Padahal, Laju tidak perlu menggunakan kekuatannya kuat-kuat.
Seperti biasa, dia menggunakan konsep untuk memanfaatkan kekuatan lawan untuk menumbangkan lawannya.
“Ugh!!!” Erangan pria bertelanjang dada.
“Mau berapa kali kau tantang Laju ini? Belum puas babak belur terus?”
“Setidaknya aku melawannya secara jantan! Tidak menggunakan pistol yang bisa menyerang dari jarak jauh dan berlari seperti seorang pengecut!”
“Ini namanya teknologi, kawan! Zaman sudah berkembang!”
“Ah sudahlah! Aku tidak peduli! Laju! Ayo ulangi lagi!”
“…ahaha, baiklah-baiklah!”
Dan dengan begitu, perkelahian yang terjadi secara sepihak itu pun terjadi lagi atas permintaan pria bertelanjang dada tadi. Wajar saja, dia tidak bisa disalahkan. Sebagai ras terlemah, siapapun pasti ingin membuat dirinya lebih kuat. Selain untuk melindungi diri sendiri, untuk melindungi keluarga, dan yang lainnya.
Tapi, sangat disayangkan bahwa pria ini harus melawan Laju, seorang bocah yang tidaklah normal, yang memiliki refleks yang terlatih sejak umur mudanya.
Meskipun memiliki perbedaan umur hingga 10 tahun, pria ini masih tidak bisa menang, kecuali mendapatkan lebam dan luka seperti biasa.
“Apakah kau sudah puas?”
“Hah… hah… setidaknya untuk hari ini kita sudahi saja. Ak-aku mulai lelah…”
“Bagiamana tidak? Tubuhmu babak belur begitu. Sudah istirahat saja. Kita lanjutkan akhir minggu. Biarkan tubuhmu beristirahat terlebih dahulu.”
“Sudahlah, aku yang paling paham dengan tubuhku sendiri. Kalau aku beristirahat dan berleha-leha pasti aku tidak bisa bertarung bersama VS!”
“Yah… terserah kamu juga sih.”
“Sebenarnya apa yang kamu lakukan sih? Dengan kemampuan sehebat ini apakah kamu jadi tukang jagal? Apa yang selama ini kamu lakukan!?”
“Hm… mungkin kau bisa sebut aku bekerja dengan polisi.”
“Polisi? Apakah kau menindak kejahatan atau seperti itu?”
“Kurang lebih…”
“Lawan apa saja yang berhasil kau kalahkan?”
“Selama ini aku hanya berhasil melakukan dua operasi sebenarnya. Pertama di pedalaman hutan. Kedua, melakukan diskusi dengan penyanderaan yang dilakukan di sebuah rumah di dekat sini.”
“… siapa yang kau lawan?”
“Komplotan atau kelompok gelap semacamnya yang aku tahu. Katanya, mereka merupakan para preman yang menyelundukpan barang illegal ke kota dan yang melakukan kericuhan beberapa minggu lalu. Oh, aku juga pernah menyelesaikan kericuhan di dalam kota… seingatku, sekitar di Blok F?”
“… kau melawan manusia?”
“Eh? Iya? Ken–”
DOR!
Sebuah pistol dengan jarak sekitar delapan meter ditembakkan tanpa ragu-ragu oleh pria yang daritadi tertawa terbahak-bahak melihat temannya – pria bertelanjang dada, babak belur ditindas oleh Laju.
Sebuah pistol baru saja ditembakkan oleh pria yang tadi asik berdiskusi dengan Laju, tentang seberapa kuat penemuan terbaru mereka.
Entahlah karena alasan emosionalnya yang tidak stabil, apakah karena memang dia belum menguasai pistol tersebut, atau karena memang Laju yang terampil dalam menghindar. Beruntung, peluru tersebut sama sekali tidak menggores kulit Laju barang sedikit pun.
Atau kalau memang begitu, Laju sudah menghilang ditelan lubang hitam dan meledak setelahnya.
Tidak hanya itu saja, pria bertelanjang dada tadi yang sedang terbaring lelah mendadak mendapatkan kekuatan entah darimana untuk kembali melawan Laju. Berusaha menyerangnya, menumbangkannya, terlepas dari badannya yang babak belur.
Masalahnya, niatnya yang sekarang sudah berbeda dengan latihan tadi.
Niatnya sekarang bukan lagi berusaha bertarung untuk menjadi lebih kuat. Tapi, dengan niat haus darah, dengan niat membunuh, dengan niat membinasakan bocah ini.
“JADI SELAMA INI KAMU YANG MEREPOTKAN KITA SEMUA!? AKU PIKIR KITA SAMA-SAMA MANUSIA!? KITA BERBAGI NASIB DAN TAKDIR YANG SAMA? BUKANKAH KITA BERJUANG BERSAMA-SAMA BERUSAHA MEMPERJUANGKAN HAK HIDUP KITA!? KENAPA KAMU YANG MALAH MENJADI MUSUH YANG MENGHABISI ORANG-ORANG KITA!?” Teriak seorang yang menembakkan pistolnya tadi.
“AKU PIKIR KITA TEMAN!? AKU PIKIR KITA KELUARGA!? APA-APAAN KAMU INI BOCAH!? KENAPA KAMU MENGHABISI KELUARGAMU SENDIRI?” lanjut pria bertelanjang dada.
DOR DOR!
Dengan lebih tidak ragu-ragu, pistol ditembakkan lagi kepada Laju yang masih bisa dihindari dengan mudah olehnya.
“JANGAN MENGHINDAR!!!! BIARKAN AKU BALASKAN NYAWA TEMAN-TEMAN SEPERJUANGANKU YANG TELAH KAU AMBIL, BOCAH!”
“T-tapi…?” Laju masih berusaha memproses apa yang terjadi padanya, apa yang temannya ini teriakkan, dan kesalahpahaman apa yang terjadi di antara mereka. “Ini hanya kesalahpahaman! Tenang!”
“MANA ADA KESALAHPAHAMAN! KAMU YANG MENGHABISINYA!!! KAMU MENGKHIANATI KELUARGAMU SENDIRI!”
“Aku…? Menghabisi mereka?”
Laju masih tidak paham.
Apa yang selama ini Laju lakukan bukankah atas dasar ideologi yang menurutnya benar? Apapun kekurangnanya, dia tidak pernah berusaha untuk merugikan orang lain, kan? Oh tidak. Dia pernah melakukannya pada Fadli.
Tapi itu tidak penting untuk sekarang.
Lalu selanjutnya, bagaimana dengan Parker?
Mereka bilang bahwa orang-orang itu memang jahat, kan? Lagipula Laju melihatnya sendiri Parker dan yang lain berurusan dengan polisi.
Apakah polisi di Kannaris ini memang sebobrok itu?
Pikiran Laju menghitam lagi. Dia mendadak tidak bisa berpikir.
Satu-satunya yang bisa dia ingat adalah elusan tangan Parker kemarin, ketika dia berhasil menyelesaikan misi dan permintaanya, memuji dan menyanjung dengan kata-kata lembut beratnya “Aku bangga padamu, Ju!”
__ADS_1