
Sekarang pertanyaanya adalah, siapa perempuan itu, mau apa dia dengan
Laju, dan dimana keberadaanya?
Kalau memang penggemar Laju dari sekolahnya, kenapa baru sekarang dia
muncul? Apakah dia merupakan penggemar dari SMA Unggul Harapan? Tapi Laju tidak
melihatnya diantara gerombolan yang mengikutinya ke mal untuk makan daging
asap.
Lalu siapa dia? Laju ingin meminta kepastian apa yang telah perempuan
itu lakukan kepadanya malam itu dan apa maksud dari mimpi-mimpi itu?
Atau jangan-jangan dia lah yang merencanakan semua malapetaka ini,
menghubungi pihak akademi, dan membatalkan undangan penerimaanya?
Tapi, jika perempuan itu sama sekali tidak memiliki hubungan dengan
peristiwa ini, memangnya dia bisa apa? Laju tidak yakin dia dapat memberikannya
surat undangan lain agar bisa diterima di akademi.
Laju sebenarnya cukup bingung apakah perempuan ini merupakan variabel
atau bagian yang penting atau tidak. Dia geram, gusar, dan kesal memikirkan
permasalahan yang datang padanya. Dia kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi
pada hidupnya?
Kenapa semuanya menjadi sangat sulit?
Tapi dia berpikir ulang. Mimpi itu merupakan mimpi yang penting untuk
dihadapi.
Ada keresahan lain yang Laju rasakan jauh di dalam hatinya. Dia benci
untuk mengatakan dan mengakuinya. Tapi selain kejadian surat undangan yang
tidak terantisipasi, dia bisa meyakini bahwa mimpi-mimpi itu memiliki
kebenaran.
Dan itu ada hubungannya dengan masa depannya.
Masuk ke akademi memang awal yang menjanjikan. Tapi percuma juga jika
dia belum bisa berdamai dengan masa lalu dan mimpi buruknya.
Lagipula, hitung-hitung cari angin, menyegarkan diri, dan mencari
sausana lain. Tidak ada salahnya mengunjungi SMA Unggul Harapan. Beberapa
kenalannya pasti bisa membantunya. Tidak ada yang bisa menolak dan mengatakan tidak
kepada trik-trik yang Laju gunakan untuk ‘berteman’ kepadanya. Semuanya pasti
bisa dikendalikan oleh Laju.
“Tidak perlu banyak berpikir,” seru Laju dalam hati. “Semuanya pasti
akan mudah seperti biasa. Ini hanya akan menjadi kunjungan yang cepat.”
Ini sudah sore. Tapi beberapa siswa masih terlihat aktif berlalu lalang
di sekolahan. Meskipun sudah petang, harusnya latihan basket tetap berjalan,
kan? Sebenarnya Laju tidak tahu tentang jadwal yang diberlakukan. Tapi dia pergi
saja ke lapangan untuk bermain tebak-tebakan pada instingnya sendiri.
“Hah! Hidup terlalu mudah,” ucapnya mendengar suara decitan sepatu,
pantulan bola, dan teriakan orang-orang yang sedang berpeluh keringat. Para
murid ternyata masih latihan. “Kalau begitu, saatnya misi dimulai!” Ucapnya
melangkah, melihat kesana kemari, menerka siapa yang kira-kira bisa diajaknya
bicara.
“Oh! Lihat siapa yang datang. Mau apa dia? Mempermalukan lawannya yang
kalah?” Ucap seorang pemain. “Enyahlah, Ju! Kamu tidak akan disambut disini!”
Memang akan sangat canggung kembali ke sekolah ini. Tapi mau apa lagi?
Biarkan saja ujaran kebencian itu berkoar. Komentarnya tidak penting dan tidak
akan berpengaruh pada hidup Laju. Sementara beberapa murid mencibir Laju, beberapa
yang lain justru menyambutnya, terutama pelatih yang sempat kesal dengannya.
“Apa?” Tanya seorang yang terlihat cukup tampan, dengan postur tubuh
yang baik, yang sedang mengelap keringat di sekitar tubuhnya. Dia bukanlah
kenalan Laju, juga bukan yang mengusirnya. Tapi dia tetap kebingungan mengapa orang
seperti Laju mendatanginya, seperti ada urusan yang ingin diselesaikan. Mereka
tidak saling kenal.
Laju tersenyum dan memberikan tangannya untuk berjabat tangan. “Aku
Laju. Kamu?” ucapnya memperkenalkan diri.
“Ya aku tahu. Aku Edward. Mau apa kamu?”
“Pertama, ayo duduk dulu. Aku ada sedikit pertanyaan mengenai
cewek-cewek yang mungkin kamu kenali,” sebut Laju menepuk bahu Edward dan
mengajaknya duduk ke kursi.
“Kenapa kamu begitu percaya diri? Memangnya tahu apa kamu tentangku?”
“Oh haha! Jangan merendah begitu. Aku tahu kamu juga merupakan siswa
populer kan? Aku bisa tahu hanya dengan melihatnya. Fisik yang baik, wajah yang
tampan, dan bebera-” belum sempat Laju menyelesaikan, pelatih basket menyela
pembicaraan mereka.
PRIIT!
Suara peluit memang sama menyebalkannya di manapun kamu berada.
“Laju! Kita lagi dalam proses latihan, loh! Seenaknya saja kamu menyela dan
mencuri Edward yang jelas-jelas sedang dalam kondisi latihan. Kena-”
Laju menghembuskan napas, balas menyela. “Yasudah. Kalau saya bantu
latihan tanding apa bapak puas?” Tanyanya penuh ejekan. Pelatih tersebut tentu
saja beringas melihat sifat angkuhnya. Tapi tentu saja ajakan tersebut diterima
oleh sang pelatih. Latihan khusus ini tentu tidak bisa ditolak.
Latihan tanding tiga lawan
tiga pun dilaksanakan. Pertandingan terlihat sangat intens. Sang pelatih akhirnya
bisa memberikan saran yang nyata kepada para pemainnya. Tapi entah kenapa, dia
tetap saja geram melihat latihan ini.
Kenapa? Jawabannya adalah Laju yang dengan santai selalu saja mengajak Edward
bicara, meskipun Edward ada di luar lapangan, Laju masih bisa menjaga fokus
untuk terus mencetak angka, atau bahkan memberikan operan yang manis kepada
teman timnya.
__ADS_1
Bahkan dalam kondisi Laju sedang melamun, berdiri diam tanpa pertahanan
karena kesal, ketika sang pelatih mengira Laju akan ambruk ditabrak bola dengan
kecepatan tinggi dari belakangnya, Laju masih bisa memberikan reflex yang
sangat sempurna dan membuat permainan berjalan seperti sedia kala. Apa-apaan
itu? Seakan Laju memiliki mata di belakang kepalanya.
Latihan tanding pun usai. Laju
pergi tanpa pamit, ketika para pemain sedang meninjau permainan barusan.
Semuanya kesal, semuanya geram melihat tindakan Laju yang seenaknya. Tapi
mereka urungkan, karena hanya membuang waktu saja.
Laju tetap tidak percaya Edward tidak bisa mengenali perempuan sesuai
deksripsinya. Meskipun betul bahwa Edward hampir mengenali semua murid,
khususnya siswi di sekolah ini, tidak ada yang menyerupai penjelasan Laju.
Sekarang, Laju berjalan tanpa arah, memutari lorong, dan kelas-kelas
kosong. Melewati kantin yang masih ramai diminati para murid untuk camilan
sore, berharap dia bisa bertemu perempuan berambut putih itu, yang mungkin bisa
ditanyainya.
Ini memang misi yang menyebalkan, tapi tidak akan Laju kategorikan
sebagai kekalahan hanya karena salah mengira akan mendapatkan informasi dengan
cepat dan mudah. Karena, jika dipikir lagi mengenai identitas perempuan
tersebut, manusia mana yang memiliki rambut putih dan tidak dikenali oleh
seluruh sekolahan.
Laju berpikir keras. Identitas apalagi yang diingat Laju tentang
perempuan ini? Mata berlian? Sentuhan dingin? Entahlah. Laju masih kebingungan.
Sampai seorang perempuan yang lebih pendek darinya sedang berjalan sendirian,
menunduk, melewati Laju dengan pelan sambil mengenakan pita kepala putih di
kepalanya.
Tunggu. Kenapa Laju merasa tidak asing?
Laju menoleh mengikuti gerakan perempuan di depannya, berusaha menggali
lagi memorinya tentang kehadiran perempuan malam kemarin. Satu detik kemudian,
memori Laju seperti dikejut dan disentil. Dengan sigap Laju langsung menggerakkan
tangannya untuk menangkap perempuan tersebut, mencegahnya menjauh meninggalkan
Laju.
Dicengkram dengan sangat kasar, keras, dan penuh amarah. Dengan emosi
yang meluap, hati yang panas, seakan Laju baru saja menangkap kriminal kelas
kakap.
Tentu saja perempuan tersebut kaget, juga gugup. Dengan tangan yang
gemetar dan takut, dia merasakan ketidaknyamanan dari tangan Laju yang
memegangnya kuat-kuat. Sakit! Itu yang dia rasakan sekarang. Matanya memelas,
ingin mengeluarkan air mata. Dia sangat ingin melawan, melepaskan, dan
berteriak meminta pertolongan kepada semua orang.
Tapi dia diam, tidak membuka mulutnya.
histeris dan kelabakan melihat idola idamannya sedang berjalan-jalan di sekolahnya.
Tapi yang membuat geram adalah perilakunya, kepada perempuan yang dipegangnya. Sangat
tidak nyaman untuk dilihat, sangat merusak pemandangan. Oh! Dia tahu.
“Laju! Jangan sampai salah pilih! Dia itu perempuan cacat, loh! Hahaha,”
tawa seorang siswi, yang disusul teman-teman di sekitarnya, juga disusul
seluruh isi kantin. “Dia itu bisu! Gabisa bicara. Kalau aku sih mending ngomong
sama kucing daripada Delphia. Kucing lebih berguna dan bermanfaat daripada
cewek kaya dia ini.”
“Hahahaha! Nge-nguh-ha-ahh-ha Ung-ng-ngikkk-ugh-ghh-hhh. Ngeeh-ehe-heengg-nggh,”
seseorang pura-pura gelagapan, pura-pura tidak bisa bicara dengan normal.
“Del, del! Hidup kok gini amat dah! Suaranya mirip binatang, tau!”
Seorang yang lain, mengatup-buka tangan dan jarinya seakan sedang
melakukan bahasa isyarat kepada Laju dan Delphia. Disusul dengan suara seperti
primata di hutan, yang ditertawakan oleh teman sekawannya.
“Kamu manusia apa binatang, sih? Kok gabisa bicara? Hahaha!”
Seisi kantin mengolok-olok perempuan tersebut, yang sedang dicengkram
Laju, yang tidak bisa berbicara, yang bernama Delphia. Laju menoleh melihat
sumber suara, kaget, mengendurkan emosinya untuk marah, dan melepaskan
cengkraman yang menyakiti Delphia.
Laju menengok Delphia lagi yang masih menunduk, gemetaran, berusaha
bersembunyi, menghilang dari kantin sekarang juga. Meskipun tidak mencengkeram
lagi, tangan Laju masih membuatnya diam ditempat. Tidak akan Laju lepaskan
begitu saja orang yang bisa berperan penting dalam masa depannya ini.
“Maaf. Aku menyakitimu, ya?” Laju memulai pembicaraan, dengan senyum
yang sangat tampan, yang membuat seisi kantin iri dan dengki kepada Delphia.
“Kamu sangat mirip dengan kenalanku yang ingin aku temui. Tapi mungkin ini
bukan tempat yang cocok, ya. Hahah!” Laju mengusap kepalanya yang tidak gatal,
melepaskan tangan Delphia, menghiraukan seisi kantin yang baru saja mengolok
Delpia.
“Aku tunggu di gerbang, ya. Aku traktir kamu makan di mal sebelah, atau
apapun yang kamu inginkan. Aku benar-benar ingin berbicara denganmu, Del!” Seru
Laju, yang kemudian pergi dari kantin, meninggalkan orang-orang yang masih
membisu, tidak percaya terhadap apa yang baru saja terjadi di depan mereka.
***
Sekarang, Laju dan Delphia ada di restoran menunggu makanan datang.
Sesuai yang diejek oleh seisi sekolah, Delphia benar-benar tidak bicara.
Meskipun Laju menjemputnya di gerbang sekolah, berjalan, berusaha mengawali
percakapan, hingga memesan makanan. Delphia tetap tutup mulut.
Laju kebingungan. Dia harus memulai bagaimana wawancara kepada orang
yang tidak berbicara. Setidaknya, jika dilihat lebih seksama, Delphia dan
__ADS_1
perempuan yang mendatanginya di taman pada malam kemarin benar-benar serupa.
Ada kemajuan dari keresahannya, meskipun ada keresahan dan masalah lain yang
datang setelahnya.
Akhirnya, Laju memutuskan untuk melakukan wawancara yang hanya bisa dijawab
ya dan tidak, sehingga Laju tetap bisa mendapatkan informasi yang dia inginkan.
Tapi, sebelum itu silahkan nikmati santapan yang mungkin dapat memaafkan
tingkah Laju di kantin tadi yang membuat Delphia tidak nyaman.
Satu hal yang pasti. Delphia tetap bisa membuka mulutnya.
Tentu saja. Bagaimana dia makan kalau tidak membuka mulut?
“Jadi apakah kamu yang mendatangiku malam kemarin itu?” Tanya Laju
setelah semua piring bersih dari sisa rempah makanan.
Delphia diam. Dia bisa saja untuk mengangguk atau menggeleng menyatakan persetujuan
atau penyangkalan terhadap apa yang ditanyakan Laju. Tapi ini semua diluar dia
bisa berbicara dan merespon atau tidak. Delphia gugup. Bahkan saat makan pun
dia harus banyak mengirup napas agar bisa menenangkan diri dan menelan makanan.
Laju menunggu dengan tenang, dengan ketukan jari pada meja. Wajahnya
masih berusaha tersenyum, memberikan suasana yang nyaman untuk ‘teman’ barunya.
Tapi, Delphia juga paham. Senyum yang Laju berikan juga sekaligus memberikan
tekanan bagi gadis ini. Membuat Delphia mulai ketakutan lagi.
Pada akhirnya, Delphia mengangguk menyatakan kesetujuannya, bahwa dialah
yang datang kepada Laju malam hari kemarin. Delphia lah orang dengan rambut
putih, sentuhan dingin, dan mata berlian yang nyentrik itu. Dan dengan
pengakuan ini yang menyatakan bahwa Delphia bukanlah manusia, Laju mulai panik.
Apa tujuannya? Bagaimana dia bisa merubah penampilannya? Mau apa monster ini datang
kepadanya? Berapa banyak teman yang datang bersamanya? Apa yang dia lakukan
pada Laju? Apakah Delphia bisa melihat masa depan? Dan sejuta pertanyaan lain
yang sangat ingin Laju tanyakan.
Delphia terdiam lagi. Menunduk ketakutan, juga gemetaran. Matanya
melihat kesana kemari mencari pertolongan. Laju teringat sesuatu. Itu bukan
pertanyaan yang bisa dijawab oleh seorang seperti Delphia yang tidak bisa
berbicara. Laju menghembuskan napas. “Maafkan aku,” serunya dengan senyum palsu
lainnya.
Ketika kondisi masih canggung dan belum ada percakapan yang terjadi,
Laju menoleh kesana kemari tanpa tujuan, mencari sesuatu yang dapat menenangkannya
dari kekesalannya. Oh! Dia mendapatkan inspirasi, yang ternyata tidak bisa
digunakan dengan baik juga.
Meskipun sudah ada kertas dan alat tulis di depan Delphia, dia tidak
bisa, tidak ingin, tidak memiliki kemampuan untuk menjawab. BRAK!! Laju memukul meja di depannya.
Dia kehabisan akal dan kesabaran. Sampai dalam tahap dimana Laju muak untuk
melihat wajah gadis bisu ini.
Dia bahkan bingung apakah meneruskan wawancara ini masih memungkinkan dan
berguna, atau hanya membuang waktu saja.
Akal sehatnya benar. Delphia bukan variabel atau bagian yang penting
dalam kehidupannya. Meskipun penting, kenapa Laju harus peduli? Tidak ada
alasan untuknya untuk memberikan iba dan simpati kepada Delphia.
Laju meyakini diri sendiri.
Meskipun dia sedikit berguna, Delphia tidak mungkin memberikan surat
undangan akademi kepada Laju, kan? Tidak mungkin!
Alih-alih masalah bisa lebih terorganisir dan mendapatkan solusi. Pertemuan
ini tidak ada manfaatnya sama sekali, kecuali membuat semuanya kembali
berantakan. Laju merasa tidak kuat, amarahnya pun meledak. Dia menoleh lagi kepada
Delphia yang tidak bisa menatapnya langsung karena langsung menunduk
bersembunyi.
“Haah~!” Laju terus menghembuskan napas. Dia berdiri, pergi ke kasir, membayar
semua hal yang telah dipesan olehnya dan Delphia. Melangkah keluar, pergi dari
restoran dengan hati yang masih panas, meninggalkan Delphia yang masih duduk,
menunduk sendirian, ketakutan, kebingungan, sampai air matanya keluar
bercucuran. Orang-orang hanya berpikir ini maslah sepele cinta monyet anak
muda. Tidak ada yang begitu peduli, kecuali menertawakan betapa konyolnya anak
muda jaman sekarnag.
Jadi apa saja yang bisa Laju dapatkan dari pertemuan ini?
Lebih baik mengatakan bahwa ini semua sia-sia, daripada pusing menerka
dan meneliti jawaban berdasarkan gestur yang Delphia berikan.
Sebenarnya wajar saja jika orang akan panik dan tidak bisa menjawab
dengan baik ketika melakukan wawancara. Apalagi jika keduanya tidak memiliki
kedekatan emosional, khususnya kepada orang asing. Tapi bukankah Delphia senang
bisa bertemu Laju? Tidak ada yang tahu. Dia ketakutan di restoran itu.
Biasanya, orang-orang yang Laju bawa pasti akan memerasnya seperti sapi perah,
tanpa memedulikan Laju sebagai manusia. Tapi selama Laju mendapatkan apa yang
ia inginkan, dia tidak peduli.
Baru kali ini dia mendapatkan ‘teman’ yang merepotkan, yang tidak bisa
dibujuk dengan semua fasilitas yang bisa diberikanya. “Tidak mungkin orang
tidak suka uang, kan?” tanyanya bukan pada siapa-siapa di dalam mobil di dalam
perjalanan pulang.
Satu lagi napas panjang dihembuskan. “Hari yang panjang ya, Tuan Laju!”
Seru sang supir dari balik kemudi. Laju tidak merespon, kecuali dengan deham
yang malas.
Dia tidak peduli lagi dengan kemungkinan-kemungkinan yang tidak pasti.
Waktu berhipotesis sudah selesai. Sudah saatnya untuk kembali tidak peduli dan
fokus pada diri sendiri. Masa depannya masih tidak berbentuk, kecuali dari potongan
bencana.
__ADS_1