
Hari yang Laju alami masih jauh dari kata selesai. Masih ada banyak
kejadian-kejadian yang tidak terpikirakan akan terjadi, khususnya sejak mimpi
buruknya semalam. Laju sempat mengira bahwa ini semua bahkan sudah direncanakan
diam-diam. Apakah orang-orang begitu iri dengannya?
Semua dimulai ketika Laju sampai di sekolahan. Meskipun tentu dia
terlambat, dia tidak terlalu memusingkannya. Sekolahan sudah sampai di
penghujung semester. Tidak perlu repot-repot mengurusi keterlambatan, kan?
Tidak masalah. Laju masih bisa melakukan kebiasaanya tanpa ada gangguan.
Melewati gerbang dengan santai, menyapa balik satpam yang menyerunya, hingga
melewati lorong pajangan yang terdiri dari puluhan piala dan prestasi yang
dicapai baik oleh Laju maupun para alumni. Awalnya semua normal, kecuali papan
pengumuman yang membuat Laju keheranan. Dia berhenti, memerhatikan, dan memiringkan
kepala. Ada yang hilang.
“Dimana kertas pengumuman ucapan selamat dari sekolah tentang surat
undangan akademi?” Tanya Laju dalam hati.
Tanpa basa-basi, Laju pun belok untuk pergi ke ruang guru, bahkan ruang
kepala sekolah jika perlu. Kertas itu memang cukup tua umurnya. Sudah cukup
lama dipajang di papan pengumuman sampai semua murid pun tahu konten dan isinya.
Mungkin kertas tersebut memang diangkat untuk diganti pengumuman lainnya.
Itulah harapan Laju.
Tapi ada rasa ketakutan pada diri Laju. Apa yang terjadi? Dia hanya
ingin semuanya hanya kesalahpahaman belaka. Iya, kan? Kertas itu diambil bukan
mengindikasikan hal yang buruk untuknya, kan?
Laju berdiam diri di depan pintu ruang guru. Tangannya tidak bisa diam.
Dia gemetar.
Tapi dia tetap butuh jawaban.
Laju pun memberanikan diri mengetuk pintu dan membukanya perlahan. Seisi
ruangan langsung mengalihkan perhatiannya kepada Laju. Berkat mimpinya semalam,
kejadian ini malah membuatnya terkejut. Apa dia akan disalah-salahkan lagi? Apa
dia mengganggu orang-orang? Apa dia dibenci? Tapi Laju hanya berhalusinasi.
Tidak ada yang terjadi setelah dia masuk ke ruang guru, selain Pak Ahmad yang
mendatanginya tergesa-gesa, seakan dia menunggu kedatangan Laju.
“Wah, Laju! Pas sekali! Bapak ada pengumuman penting untuk kamu. Kita
pergi ke ruang kepala sekolah saja sekalian. Beliau yang mendapat kabarnya
terlebih dahulu,” ajak Pak Ahmad kepada Laju sambil menyeretnya keluar. Laju
panik dan sedikit takut.
Laju sempat bertanya satu dua hal ketika berjalan di lorong menuju ruang
kepala sekolah. Tapi Pak Ahmad bahkan gelagapan sendiri. Katanya, lebih baik
pergi ke ruang kepala sekolah dan semuanya akan dijelaskan dengan tenang.
Begitu sampai di ruang kepala sekolah, keadaan yang terjadi di dalamnya
seperti dilanda bencana. Semuanya kebingungan, semuanya kacau balau. Kenapa hal
ini tidak terjadi di ruang guru? Apakah ini berita yang sangat eksklusif?
“Wah, Laju sudah datang. Ayo semuanya! Duduk dan tenang terlebih
dahulu,” ucap Kepala Sekolah yang sedang kelelahan mengurusi dokumen-dokumen.
“Akan saya ulang lagi berita yang baru datang pagi ini, sehingga kita bisa
lebih paham dengan kondisinya.”
Laju dipersilahkan duduk. Begitu juga Pak Ahmad. Sekarang, semuanya
sudah duduk dengan nyaman dan tenang. Tapi, ruangan tetap pengap dan panas.
Laju melihat alat pendingin ruangan. Itu masih berjalan dengan normal.
“Ada berita buruk untuk kita semua,” Pak Kepala Sekolah memulai diskusi.
“Tapi sebelum itu, saya ucapkan selamat kepada Laju dan tim basketnya yang
berhasil memenangkan latihan sparring kemarin
dengan SMA Unggul Harapan. Semoga kedepannya selalu diberikan kesuksesan, ya!”
Ucap Kepala Sekolah basa-basi.
Laju menyenderkan punggungnya berusaha rileks. Tangannya dilipat di
depan dada. Kepala Sekolah membuka pembicaraan dengan hal yang tidak penting. Ucapan
selamat hanya untuk pertandingan latihan kepadanya
tidak berarti apa-apa. Apakah kepala sekolah berusaha mengulur waktu?
“Maaf. Saya sedikit gugup,” ucap Kepala Sekolah. Sekarang, dia mengambil
napas dalam-dalam, berusaha fokus untuk bisa menyampaikan berita dengan tenang.
“Ada berita buruk dari Akademi Keinsinyuran Negeri. Dan kamu diajak kesini
karena berita ini ada hubungannya denganmu, Laju.” Ucap Pak Kepala Sekolah
serius.
__ADS_1
Tangan Laju masih terlipat. Begitu juga dengan ekspresinya, juga
kakinya. Dia melipat seluruh tubuhnya, berusaha untuk menghilangkan gemetar yang
dia rasakan. Dia ketakutan. Ini persis seperti yang dia ingat di dalam
mimpinya.
“Surat undangan terpaksa harus dibatalkan dan ditarik kembali oleh pihak
akademi. Mereka mendapati kita telah melakukan kecurangan. Saya pribadi
kebingungan. Apa yang telah kita perbuat sehingga mereka mencurigai kecurangan?
Tapi keputusan yang telah dibuat dan tidak bisa digangggu gugat,” Kepala
Sekolah berusaha menjelaskan dengan baik. “Apakah kamu melakukan hal yang dapat
dicurigai oleh pihak akademi, Laju?”
Tapi Laju tidak bisa menjawab. Dia masih membatu, belum bisa memproses
berita yang datang menabraknya bulat-bulat di depan mukanya. Matanya ditutup,
mengambil napas dalam-dalam. Dia menangis, histeris, berteriak kencang di lubuk
hatinya yang terdalam. Matanya kembali terbuka dengan tajam. Dia berusaha
memastikan semuanya.
“Ini serius, pak? Atas nama Laju Pratama?”
Kepala sekolah mengangguk. Mimpinya menjadi kenyataan.
“Ta-tapi curang bagaimana, pak? Belum ada ujian masuknya, kan? Saya
hanya memberikan laporan nilai dari kelas tujuh hingga sebelas kepada akademi.
Bagaimana saya bisa curang?”
“Itu dia yang saya bingungkan terhadap tuduhan akademi. Tentunya pihak
mereka tidak akan memberikan tuduhan palsu, kan?” Jawab kepala sekolah
perlahan. “Tunggu. Urusan administrasi sudah kamu lakukan, kan? Atau
jangan-jangan kamu mengisi jawaban yang tidak benar pada saat pengisian?” Tanya
Kepala Sekolah dengan sengaja yang justru terlihat menyerang Laju.
“Iya. Saya sudah melakukan pengisian administrasi tentang biodata dan
segala macam. Saya juga menulis beberapa esai yang dibutuhkan oleh pihak
akademi. Tapi, curang bagaimana? Dimana saya bisa curang? Apa yang bisa saya
curangi dari identitas saya sendiri?” Tanya Laju panik. Akal sehatnya perlahan tidak
bisa mengikuti.
“Mungkin esaimu tidak memenuhi standar yang dibutuhkan akademi? Atau
kamu melakukan pemalsuan identitas? Apakah kamu berbohong tentang pekerjaan dan
“Tu-tunggu! Kenapa bapak malah menyalahkan semuanya kepada saya? Bapak
sendiri yang bilang bahwa akademi sudah menyetujui tahap administrasi tersebut
dan memberikan salinan surat undangan penerimaan kepada saya. Kalau memang ada
yang salah kenapa saya tetap dapat surat pernyataan penerimaan? Lagipula
tuduhannya tentang kecurangan. Dimana saya bisa curang!? Mana buktinya saya
melakukan kecurangan, pak!? Tidak mungkin saya gagal menulis esai! Ini tidak
masuk akal, pak!” bentak Laju yang sudah mulai lepas kendali.
“Tenangkan diri kamu dahulu, Laju. Bapak tahu ini berita yang sangat
tidak bisa dipercaya. Saya berusaha menerka lagi langkah apa yang sudah kita
lakukan sehingga dituduh curang oleh akademi. Saya tidak menyerang kamu. Hanya
berusaha berdiskusi kira-kira apa yang telah kamu perbuat yang dicurigai oleh
akademi.”
“OMONG KOSONG!!! Bapak jelas-jelas menyerang saya! Saya tidak salah,
pak! Saya berhak membela diri! Tidak mungkin saya gagal hanya dalam tahap-tahap
mudah seperti ini! Kecurangan? Curang bagaimana!? Ini pasti akal-akalan bapak,
kan?” Bentak Laju. Amarahnya mulai tidak bisa terkendali.
“Lalu kamu mau kita berbuat apa? Pihak akademi jelas-jelas menarik
kembali surat udangannya. Bahkan mereka membuat sekolah kita dimasukkan ke
daftar hitam,” jawab Kepala Sekolah. “Kenapa saya harus repot-repot mencurangi
kamu? Kalau kamu bisa diterima di akademi itu pun tetap mengangkat nama
sekolah, kan? Atau jangan-jangan kamu memang berbuat curang? Ayo mengaku, Laju!”
Kepala sekolah sudah menyiapkan peluru untuk menjawab. Dia belum kalah.
“Identitas jenis apa yang bisa saya curangi, pak!? Lagipula identitas
setiap masyarakat kan sudah terdaftar di pemerintahan. Pihak akademi pasti bisa
melakukan validasi, kan?”
“Tahu apa kamu tentang identitas yang tidak bisa dicurangi!? Jangan sok
pintar! Tidak bisakkah kamu mengaku
salah!? Sejauh yang saya pahami ini semua salahmu, Laju. Bahkan pihak sekolah rela
menanggung nama sekolah yang memburuk demi kamu.”
“Karena ini semua tidak masuk akal, pak! Kenapa mereka harus menarik
kembali surat undangannya sekarang? Masih ada banyak waktu untuk melakukan
__ADS_1
validasi dan pengecekan ulang, kan? Tidak mungkin mereka tidak tertarik dengan
siswa berprestasi seperti saya!”
“Jangan besar kepala, Laju! Tidak sedikit orang yang spesial seperti
kamu! Jangan pikir semua orang tidak bisa masuk ke akademi! Kamu pikir hanya kamu
saja yang berhasil mendapat surat undangan? Ada berapa jumlah mahasiswa baru
setiap tahun di akademi? Ratusan! Ada ratusan siswa yang serupa seperti kamu!”
“Bukan itu masalahnya!! Tuduhan ini seperti sengaja diciptakan oleh
kalian-kalian guru yang memang tidak ingin siswanya berhasil dalam hidupnya!
Sekolah macam apa ini? Bapak juga tidak pernah mengakui setiap prestasi saya raih
kecuali basa-basi tadi, padahal atas nama sekolah juga. Jangan-jangan semua ini
terjadi karena dendam pribadi ya, pak!?” Laju naik darah. Dia tidak bisa
mengontrol emosinya.
“Jangan seenaknya kamu berbicara seperti itu! Ingat kamu masih berbicara
dengan guru dan petugas yang lebih tua disini! Jaga sopan santunmu itu, Laju!”
“BUKAN ITU MASALAHNYA! Kalian-kalian ini dan bapak terutama selalu saja
mengalihkan pembicaraan! Mana bukti dari akademi yang bilang saya berbuat
curang? Kalau memang kalian tidak becus biarkan saja saya yang urus sendiri!
Bekerja bersama orang-orang memang selalu merepotkan dan tidak bisa diandalkan!”
“Mau kamu apakan bukti tersebut? Kita sudah masuk daftar hitam! Bahkan
kamu pun tidak bisa melakukan ujian mandiri untuk masuk ke akademi! Jangan
pikir semuanya bisa terjadi sesuai kehendakmu, dong! Sudah sudah keluar saja
kamu! Saya berencana memulai diskusi baik-baik malah diajak bertengkar dengan
murid kurang ajar. Bawa Laju keluar!” Bentak Kepala Sekolah, menyuruh petugas
mengusir Laju.
“Apa-apaan? Dasar orang tua kurang ajar! Mana tanggung jawabmu sebagai
kepala sekolah untuk memimpin? Saya bisa mengancam bapak secara pribadi loh,
pak! Apa bapak lupa saya punya berapa banyak koneksi yang bisa menghantui
bapak!?”
“Oh, ya? Coba saja kalau kamu berani! Mau apa kamu dasar anak kurang
ajar!? Atas dasar apa kamu bisa melakukan itu? Hanya karena kamu tidak bisa
masuk ke sekolah favorit? Itu salahmu sendiri dasar cengeng! Ohoho~ idola
sekolah ternyata lemah, lempem, dan loyo begini!? Jangan bikin saya tertawa,
bocah!”
Dua-duanya sekarang saling bentak, teriak, berdebat tidak ada arah dan
tujuan. Mengutarakan kebencian, atas dasar dendam pribadi masing-masing yang
tidak ada hubungannya dengan topik diskusi. Mereka hanya ingin terlihat lebih
baik dengan mengalahkan lawannya hingga titik darah penghabisan. Beruntung
mereka segera bisa dihentikan oleh para guru dan petugas lain.
“Sudah sudah. Tenang dulu, Laju. Seperti yang Pak Kepala Sekolah bilang,
kita sebenarnya juga sedang mencari solusi untuk permasalahan ini,” Pak Ahmad
mengajak Laju pergi dari kesesakkan ruangan dan mencari udara segar di luar. “Kita
melakukan ini dengan tujuan untuk menginformasikan kamu saja. Untuk segera
mencari universitas lain sebagai jalan cadangan kedepannya.”
Laju perlahan menuruti ajakan Pak Ahmad untuk keluar ruangan dan
mendinginkan hati dan pikirannya.
“Kamu juga tahu sendiri akademi itu sangat ketat dalam pemilihan masuk
calon mahasiswanya. Kalau surat undangan tidak bisa didapatkan memang sangat
sulit untuk masuk meski dengan segudang uang miliaran sekalipun. Kami hanya
ingin kamu bisa mempersiapkan diri. Meskipun ya, bapak juga tahu kamu pasti
bisa melakukan semuanya dengan mudah,” Pak Ahmad berusaha menenangkan Laju dan
membuat moodnya membaik. “Yasudah, nanti kalau ada kabar lagi pasti akan bapak
teruskan kepada kamu. Bapak duluan, ya!” Ucap Pak Ahmad, menghilang di
pertigaan lorong, meninggalkan Laju sendirian.
Meskipun sudah sedikit tenang, Laju masih tetap kebingungan. Yang dia
lakukan sekarang hanya berjalan malas-malasan, pergi mengikuti angin yang berbisik
dan berbicara. Hingga akhirnya berhenti duduk di taman sekolah, di bawah pohon
rindang yang sedang bersemi dan berbunga.
Sebenarnya, suasana ini sangat sejuk dan nyaman. Tapi tidak berlaku untuk
kehidupan Laju. Masa depannya baru saja diporak-porandakan, oleh sosok yang
tidak bisa dilawannya. Laju harus apa?
Mimpinya menjadi kenyataan. Masa depannya hancur berkeping-keping.
Tapi tetap saja Laju tidak bisa menerima kenyataan yang absurd ini.
Dia harus bisa masuk akademi apapun harganya!
__ADS_1