Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 4


__ADS_3

Hari yang Laju alami masih jauh dari kata selesai. Masih ada banyak


kejadian-kejadian yang tidak terpikirakan akan terjadi, khususnya sejak mimpi


buruknya semalam. Laju sempat mengira bahwa ini semua bahkan sudah direncanakan


diam-diam. Apakah orang-orang begitu iri dengannya?


Semua dimulai ketika Laju sampai di sekolahan. Meskipun tentu dia


terlambat, dia tidak terlalu memusingkannya. Sekolahan sudah sampai di


penghujung semester. Tidak perlu repot-repot mengurusi keterlambatan, kan?


Tidak masalah. Laju masih bisa melakukan kebiasaanya tanpa ada gangguan.


Melewati gerbang dengan santai, menyapa balik satpam yang menyerunya, hingga


melewati lorong pajangan yang terdiri dari puluhan piala dan prestasi yang


dicapai baik oleh Laju maupun para alumni. Awalnya semua normal, kecuali papan


pengumuman yang membuat Laju keheranan. Dia berhenti, memerhatikan, dan memiringkan


kepala. Ada yang hilang.


“Dimana kertas pengumuman ucapan selamat dari sekolah tentang surat


undangan akademi?” Tanya Laju dalam hati.


Tanpa basa-basi, Laju pun belok untuk pergi ke ruang guru, bahkan ruang


kepala sekolah jika perlu. Kertas itu memang cukup tua umurnya. Sudah cukup


lama dipajang di papan pengumuman sampai semua murid pun tahu konten dan isinya.


Mungkin kertas tersebut memang diangkat untuk diganti pengumuman lainnya.


Itulah harapan Laju.


Tapi ada rasa ketakutan pada diri Laju. Apa yang terjadi? Dia hanya


ingin semuanya hanya kesalahpahaman belaka. Iya, kan? Kertas itu diambil bukan


mengindikasikan hal yang buruk untuknya, kan?


Laju berdiam diri di depan pintu ruang guru. Tangannya tidak bisa diam.


Dia gemetar.


Tapi dia tetap butuh jawaban.


Laju pun memberanikan diri mengetuk pintu dan membukanya perlahan. Seisi


ruangan langsung mengalihkan perhatiannya kepada Laju. Berkat mimpinya semalam,


kejadian ini malah membuatnya terkejut. Apa dia akan disalah-salahkan lagi? Apa


dia mengganggu orang-orang? Apa dia dibenci? Tapi Laju hanya berhalusinasi.


Tidak ada yang terjadi setelah dia masuk ke ruang guru, selain Pak Ahmad yang


mendatanginya tergesa-gesa, seakan dia menunggu kedatangan Laju.


“Wah, Laju! Pas sekali! Bapak ada pengumuman penting untuk kamu. Kita


pergi ke ruang kepala sekolah saja sekalian. Beliau yang mendapat kabarnya


terlebih dahulu,” ajak Pak Ahmad kepada Laju sambil menyeretnya keluar. Laju


panik dan sedikit takut.


Laju sempat bertanya satu dua hal ketika berjalan di lorong menuju ruang


kepala sekolah. Tapi Pak Ahmad bahkan gelagapan sendiri. Katanya, lebih baik


pergi ke ruang kepala sekolah dan semuanya akan dijelaskan dengan tenang.


Begitu sampai di ruang kepala sekolah, keadaan yang terjadi di dalamnya


seperti dilanda bencana. Semuanya kebingungan, semuanya kacau balau. Kenapa hal


ini tidak terjadi di ruang guru? Apakah ini berita yang sangat eksklusif?


“Wah, Laju sudah datang. Ayo semuanya! Duduk dan tenang terlebih


dahulu,” ucap Kepala Sekolah yang sedang kelelahan mengurusi dokumen-dokumen.


“Akan saya ulang lagi berita yang baru datang pagi ini, sehingga kita bisa


lebih paham dengan kondisinya.”


Laju dipersilahkan duduk. Begitu juga Pak Ahmad. Sekarang, semuanya


sudah duduk dengan nyaman dan tenang. Tapi, ruangan tetap pengap dan panas.


Laju melihat alat pendingin ruangan. Itu masih berjalan dengan normal.


“Ada berita buruk untuk kita semua,” Pak Kepala Sekolah memulai diskusi.


“Tapi sebelum itu, saya ucapkan selamat kepada Laju dan tim basketnya yang


berhasil memenangkan latihan sparring kemarin


dengan SMA Unggul Harapan. Semoga kedepannya selalu diberikan kesuksesan, ya!”


Ucap Kepala Sekolah basa-basi.


Laju menyenderkan punggungnya berusaha rileks. Tangannya dilipat di


depan dada. Kepala Sekolah membuka pembicaraan dengan hal yang tidak penting. Ucapan


selamat hanya untuk pertandingan latihan kepadanya


tidak berarti apa-apa. Apakah kepala sekolah berusaha mengulur waktu?


“Maaf. Saya sedikit gugup,” ucap Kepala Sekolah. Sekarang, dia mengambil


napas dalam-dalam, berusaha fokus untuk bisa menyampaikan berita dengan tenang.


“Ada berita buruk dari Akademi Keinsinyuran Negeri. Dan kamu diajak kesini


karena berita ini ada hubungannya denganmu, Laju.” Ucap Pak Kepala Sekolah


serius.

__ADS_1


Tangan Laju masih terlipat. Begitu juga dengan ekspresinya, juga


kakinya. Dia melipat seluruh tubuhnya, berusaha untuk menghilangkan gemetar yang


dia rasakan. Dia ketakutan. Ini persis seperti yang dia ingat di dalam


mimpinya.


“Surat undangan terpaksa harus dibatalkan dan ditarik kembali oleh pihak


akademi. Mereka mendapati kita telah melakukan kecurangan. Saya pribadi


kebingungan. Apa yang telah kita perbuat sehingga mereka mencurigai kecurangan?


Tapi keputusan yang telah dibuat dan tidak bisa digangggu gugat,” Kepala


Sekolah berusaha menjelaskan dengan baik. “Apakah kamu melakukan hal yang dapat


dicurigai oleh pihak akademi, Laju?”


Tapi Laju tidak bisa menjawab. Dia masih membatu, belum bisa memproses


berita yang datang menabraknya bulat-bulat di depan mukanya. Matanya ditutup,


mengambil napas dalam-dalam. Dia menangis, histeris, berteriak kencang di lubuk


hatinya yang terdalam. Matanya kembali terbuka dengan tajam. Dia berusaha


memastikan semuanya.


“Ini serius, pak? Atas nama Laju Pratama?”


Kepala sekolah mengangguk. Mimpinya menjadi kenyataan.


“Ta-tapi curang bagaimana, pak? Belum ada ujian masuknya, kan? Saya


hanya memberikan laporan nilai dari kelas tujuh hingga sebelas kepada akademi.


Bagaimana saya bisa curang?”


“Itu dia yang saya bingungkan terhadap tuduhan akademi. Tentunya pihak


mereka tidak akan memberikan tuduhan palsu, kan?” Jawab kepala sekolah


perlahan. “Tunggu. Urusan administrasi sudah kamu lakukan, kan? Atau


jangan-jangan kamu mengisi jawaban yang tidak benar pada saat pengisian?” Tanya


Kepala Sekolah dengan sengaja yang justru terlihat menyerang Laju.


“Iya. Saya sudah melakukan pengisian administrasi tentang biodata dan


segala macam. Saya juga menulis beberapa esai yang dibutuhkan oleh pihak


akademi. Tapi, curang bagaimana? Dimana saya bisa curang? Apa yang bisa saya


curangi dari identitas saya sendiri?” Tanya Laju panik. Akal sehatnya perlahan tidak


bisa mengikuti.


“Mungkin esaimu tidak memenuhi standar yang dibutuhkan akademi? Atau


kamu melakukan pemalsuan identitas? Apakah kamu berbohong tentang pekerjaan dan


“Tu-tunggu! Kenapa bapak malah menyalahkan semuanya kepada saya? Bapak


sendiri yang bilang bahwa akademi sudah menyetujui tahap administrasi tersebut


dan memberikan salinan surat undangan penerimaan kepada saya. Kalau memang ada


yang salah kenapa saya tetap dapat surat pernyataan penerimaan? Lagipula


tuduhannya tentang kecurangan. Dimana saya bisa curang!? Mana buktinya saya


melakukan kecurangan, pak!? Tidak mungkin saya gagal menulis esai! Ini tidak


masuk akal, pak!” bentak Laju yang sudah mulai lepas kendali.


“Tenangkan diri kamu dahulu, Laju. Bapak tahu ini berita yang sangat


tidak bisa dipercaya. Saya berusaha menerka lagi langkah apa yang sudah kita


lakukan sehingga dituduh curang oleh akademi. Saya tidak menyerang kamu. Hanya


berusaha berdiskusi kira-kira apa yang telah kamu perbuat yang dicurigai oleh


akademi.”


“OMONG KOSONG!!! Bapak jelas-jelas menyerang saya! Saya tidak salah,


pak! Saya berhak membela diri! Tidak mungkin saya gagal hanya dalam tahap-tahap


mudah seperti ini! Kecurangan? Curang bagaimana!? Ini pasti akal-akalan bapak,


kan?” Bentak Laju. Amarahnya mulai tidak bisa terkendali.


“Lalu kamu mau kita berbuat apa? Pihak akademi jelas-jelas menarik


kembali surat udangannya. Bahkan mereka membuat sekolah kita dimasukkan ke


daftar hitam,” jawab Kepala Sekolah. “Kenapa saya harus repot-repot mencurangi


kamu? Kalau kamu bisa diterima di akademi itu pun tetap mengangkat nama


sekolah, kan? Atau jangan-jangan kamu memang berbuat curang? Ayo mengaku, Laju!”


Kepala sekolah sudah menyiapkan peluru untuk menjawab. Dia belum kalah.


“Identitas jenis apa yang bisa saya curangi, pak!? Lagipula identitas


setiap masyarakat kan sudah terdaftar di pemerintahan. Pihak akademi pasti bisa


melakukan validasi, kan?”


“Tahu apa kamu tentang identitas yang tidak bisa dicurangi!? Jangan sok


pintar!  Tidak bisakkah kamu mengaku


salah!? Sejauh yang saya pahami ini semua salahmu, Laju. Bahkan pihak sekolah rela


menanggung nama sekolah yang memburuk demi kamu.”


“Karena ini semua tidak masuk akal, pak! Kenapa mereka harus menarik


kembali surat undangannya sekarang? Masih ada banyak waktu untuk melakukan

__ADS_1


validasi dan pengecekan ulang, kan? Tidak mungkin mereka tidak tertarik dengan


siswa berprestasi seperti saya!”


“Jangan besar kepala, Laju! Tidak sedikit orang yang spesial seperti


kamu! Jangan pikir semua orang tidak bisa masuk ke akademi! Kamu pikir hanya kamu


saja yang berhasil mendapat surat undangan? Ada berapa jumlah mahasiswa baru


setiap tahun di akademi? Ratusan! Ada ratusan siswa yang serupa seperti kamu!”


“Bukan itu masalahnya!! Tuduhan ini seperti sengaja diciptakan oleh


kalian-kalian guru yang memang tidak ingin siswanya berhasil dalam hidupnya!


Sekolah macam apa ini? Bapak juga tidak pernah mengakui setiap prestasi saya raih


kecuali basa-basi tadi, padahal atas nama sekolah juga. Jangan-jangan semua ini


terjadi karena dendam pribadi ya, pak!?” Laju naik darah. Dia tidak bisa


mengontrol emosinya.


“Jangan seenaknya kamu berbicara seperti itu! Ingat kamu masih berbicara


dengan guru dan petugas yang lebih tua disini! Jaga sopan santunmu itu, Laju!”


“BUKAN ITU MASALAHNYA! Kalian-kalian ini dan bapak terutama selalu saja


mengalihkan pembicaraan! Mana bukti dari akademi yang bilang saya berbuat


curang? Kalau memang kalian tidak becus biarkan saja saya yang urus sendiri!


Bekerja bersama orang-orang memang selalu merepotkan dan tidak bisa diandalkan!”


“Mau kamu apakan bukti tersebut? Kita sudah masuk daftar hitam! Bahkan


kamu pun tidak bisa melakukan ujian mandiri untuk masuk ke akademi! Jangan


pikir semuanya bisa terjadi sesuai kehendakmu, dong! Sudah sudah keluar saja


kamu! Saya berencana memulai diskusi baik-baik malah diajak bertengkar dengan


murid kurang ajar. Bawa Laju keluar!” Bentak Kepala Sekolah, menyuruh petugas


mengusir Laju.


“Apa-apaan? Dasar orang tua kurang ajar! Mana tanggung jawabmu sebagai


kepala sekolah untuk memimpin? Saya bisa mengancam bapak secara pribadi loh,


pak! Apa bapak lupa saya punya berapa banyak koneksi yang bisa menghantui


bapak!?”


“Oh, ya? Coba saja kalau kamu berani! Mau apa kamu dasar anak kurang


ajar!? Atas dasar apa kamu bisa melakukan itu? Hanya karena kamu tidak bisa


masuk ke sekolah favorit? Itu salahmu sendiri dasar cengeng! Ohoho~ idola


sekolah ternyata lemah, lempem, dan loyo begini!? Jangan bikin saya tertawa,


bocah!”


Dua-duanya sekarang saling bentak, teriak, berdebat tidak ada arah dan


tujuan. Mengutarakan kebencian, atas dasar dendam pribadi masing-masing yang


tidak ada hubungannya dengan topik diskusi. Mereka hanya ingin terlihat lebih


baik dengan mengalahkan lawannya hingga titik darah penghabisan. Beruntung


mereka segera bisa dihentikan oleh para guru dan petugas lain.


“Sudah sudah. Tenang dulu, Laju. Seperti yang Pak Kepala Sekolah bilang,


kita sebenarnya juga sedang mencari solusi untuk permasalahan ini,” Pak Ahmad


mengajak Laju pergi dari kesesakkan ruangan dan mencari udara segar di luar. “Kita


melakukan ini dengan tujuan untuk menginformasikan kamu saja. Untuk segera


mencari universitas lain sebagai jalan cadangan kedepannya.”


Laju perlahan menuruti ajakan Pak Ahmad untuk keluar ruangan dan


mendinginkan hati dan pikirannya.


“Kamu juga tahu sendiri akademi itu sangat ketat dalam pemilihan masuk


calon mahasiswanya. Kalau surat undangan tidak bisa didapatkan memang sangat


sulit untuk masuk meski dengan segudang uang miliaran sekalipun. Kami hanya


ingin kamu bisa mempersiapkan diri. Meskipun ya, bapak juga tahu kamu pasti


bisa melakukan semuanya dengan mudah,” Pak Ahmad berusaha menenangkan Laju dan


membuat moodnya membaik. “Yasudah, nanti kalau ada kabar lagi pasti akan bapak


teruskan kepada kamu. Bapak duluan, ya!” Ucap Pak Ahmad, menghilang di


pertigaan lorong, meninggalkan Laju sendirian.


Meskipun sudah sedikit tenang, Laju masih tetap kebingungan. Yang dia


lakukan sekarang hanya berjalan malas-malasan, pergi mengikuti angin yang berbisik


dan berbicara. Hingga akhirnya berhenti duduk di taman sekolah, di bawah pohon


rindang yang sedang bersemi dan berbunga.


Sebenarnya, suasana ini sangat sejuk dan nyaman. Tapi tidak berlaku untuk


kehidupan Laju. Masa depannya baru saja diporak-porandakan, oleh sosok yang


tidak bisa dilawannya. Laju harus apa?


Mimpinya menjadi kenyataan. Masa depannya hancur berkeping-keping.


Tapi tetap saja Laju tidak bisa menerima kenyataan yang absurd ini.


Dia harus bisa masuk akademi apapun harganya!

__ADS_1


__ADS_2