Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 28


__ADS_3

Di dalam mobil yang tenang, mereka terbang melintasi banyak gedung, melewati kawanan burung, menabrak awan yang menghalangi, atau juga berpapasan dengan mobil terbang lainnya yang datang dari arah berlawanan.


Berkat sistem yang sudah diatur sedemikian rupa, mobil terbang ini memiliki jalur tak kasat matanya masing-masing yang dapat diandalkan. Sehingga, tidak akan ditemukan kecelakaan yang merugikan banyak pihak.


Awalnya, melintasi dan terbang di atas kota saja tidak ada menariknya sama sekali. Tapi, semuanya berubah ketika mereka sudah mulai bisa melihat siluet dari tempat tujuan.


Meskipun jaraknya mungkin masih sangat jauh, tapi Laju dan Delphia langsung bisa membandingkan seberapa besar perbedaan yang dimiliki oleh tempat ini dengan Kannaris


Kalimat yang bisa dijelaskan Laju terhadap kota ini adalah; bersih, tertata, dan tersusun rapi. Perbedaan yang sangat drastis, bahkan hingga 180 derajat.


“Selamat datang di Gloria!” Sambut sang bola navigasi begitu mereka mulai mendekati kota yang terletak di tengah danau tersebut.


Akhirnya, perjalanan lelah dua jam mereka bisa terbayarkan. Sebenarnya, selama perjalanan mereka tetap bisa melihat pemandangan yang sebenarnya indah – tidak seperti perjalanan di kereta sebelumnya yang hanya diisi oleh lingkungan yang kotor. Tapi, petualangan mereka di dalam hutan membuat pemandangan itu tidak menarik lagi.


Pemandangan yang diisi oleh tumbuhan berwarna aneh atau kombinasi binatang yang terbentang sepanjang perjalanan tidak lagi memikat mata mereka. Kecuali, keberadaan kota yang sekarang sedang mereka masuki.


Pssshhh.


Begitu mereka sudah sampai di tempat tujuan, mobil mulai mendesing pelan untuk mematikan mesin, sekaligus membuka pintu secara otomatis. Mempersilahkan ketiganya untuk turun dan menikmati kunjungannya ke kota tujuan.


“Anda sudah sampai di tujuan. Terima kasih sudah menggunakan jasa transportasi mobil terbang ini!” sebut suara robot yang muncul dari dalam mobil.


Jika Laju bisa mendeskripsikan terminal ini, warna yang mendominasinya adalah warna biru kaca yang sangat elegan dan modern. Tidak seperti terminal sebelumnya yang didominasi warna hijau kecoklatan, terlihat kumuh dan berdebu, seperti tidak dibersihkan dan dilakukan pengurusan berkala.


“Berhenti! Perlihatkan identitas! Sebutkan urusan dan kebutuhan kalian!!


Begitu mereka ingin melintasi gerbang untuk keluar dari terminal, tiba-tiba saja muncul petugas dengan seragam lengkap serta bersenjata laras panjang yang menghentikan jalan ketiganya.


Tentu saja Laju dan Delphia terkejut karena terdapatnya pemeriksaan yang begitu ketat, tidak seperti Kannaris. Apakah pernah terjadi sebuah kejahatan luar biasa yang menjadikan terminal saja harus dilakukan pengecekan ketat seperti bandara? Beruntung, Audy tahu persis apa yang harus ia lakukan terhadap pemeriksaan yang merepotkan ini.


“Mereka datang bersamaku. Dua bocah ini masih dibawah umur, belum mebuat identitas yang formal dan segala macam,” Audy menjawab petugas tersebut selagi memberikan sebuah kartu logam dari balik kemejanya.


“Oh, Audy? Akhir-akhir ini kamu sering bulak-balik, ya.”


“Urusan di sebelah sedang membutuhkan banyak persediaan. Apalagi karena pekerjaan Parker yang berlipat ganda karena semakin banyak yang ricuh di sana-sini.”


“Mental kalian kuat juga untuk peduli dengan sebelah. Apalagi sampai berurusan dengan orang-orang disana, aku bahkan ingin muntah.”


“Justru karena itu. Kalau tidak ada yang bergerak, siapa lagi?”


“Yahh, aku sih tidak begitu peduli karena sudah tinggal disini.”


“Pada akhirnya, Kannaris memang akan runtuh. Semua orang tahu. Tapi, baru-baru ini Parker melihat harapan.”


“Bocah ini ada hubungannya?”


Begitu sang petugas menunjuk Laju dan Delphia yang sedang melirik kiri dan kanan. Keduanya langsung penasaran karena merasa terpanggil. Ada hubungan apa mereka dengan percakapan yang dilakukan oleh Audy dan sang petugas.


“Bocah ini datang atas rekomendasi Parker.”


“Mau ke mana?”

__ADS_1


“Dokter saraf”


“Si tua Vignette?”


“Ya.”


“Wahh…” Sang petugas sedikit kagum. Selanjutnya, dia melirik kedua bocah ini untuk memeriksa, lalu dengan gesit dia kembali menyelesaikan urusan administrasi.


“Baiklah, semuanya sudah selesai. Selamat datang di Gloria!” Seru sang petugas dengan senyum lebarnya, meskipun baru saja dia hendak menahan ketiganya dengan ekspresi ketus dan tegasnya.


Setelahnya, gerbang pun terbuka untuk menyilahkan mereka masuk ke kota.


Sayangnya, serupa seperti yang terjadi di Kannaris, untuk pergi sampai ke tempat tujuan mereka tetap harus berjalan kaki. Sebenarnya, Laju cukup penasaran mengapa kota yang sangat modern ini tidak bisa memfasilitasi perjalanan di dalam kota.


“Hahaha! Kenapa? Kamu sudah lelah, ya?” Goda Audy pada protes Laju sambil terus berjalan tanpa berencana untuk menurunkan kecepatannya.


“Ti-tidak. Aku hanya penasaran saja,” Laju menimpali.


“… Sebenarnya, tidak ada alasan khusus juga. Ada yang lebih gemar untuk berjalan kaki, ada juga yang lebih memilih untuk menggunakan kendaraan. Aku pribadi tidak begitu suka menggunakan kendaraan,” jawab Audy sambil mengangkat bahunya


Berikutnya, mereka terus berjalan mengitari Gloria sambil melirik kiri kanan.


Di jalan raya, terdapat kendaraan yang berlalu lalang yang berbentuk setengah lingkaran pipih yang didominasi warna putih. Dilanjut dengan gedung-gedung yang tidak begitu tinggi dengan cahaya neon berwarna biru muda di pinggirnya, tetap banyak hologram di beberapa persimpangan, sampai trotoar dan jembatan untuk pejalan kaki yang terbuat dari kaca yang menunjukkan keindahan danau di bawah kota yang dipenuhi oleh banyak flora dan fauna yang cantik.


Tidak hanya lingkungannya yang berbeda, Gloria pun memiliki kebudayaan yang berbeda. Masyarakatnya seperti lebih elegan, bermoral, juga beradab. Setiap mereka bergerak dan berjalan, mereka selalu memperhatikan gerakan yang anggun dan berkelas. Pakaian yang dipakai pun sangat megah dan serba lancip.


“Tadi kalian berbicara tentang Parker, usaha kalian untuk merubah keadaan, dan keruntuhan sesuatu, kan? Apa maksudnya?” Laju yang sudah bosan berjalan kesana kemari mulai memecah keheningan lagi.


Laju dan Delphia mengangguk.


“Semuanya berasal dari situ. Kannaris merupakan titik terakhir yang menghubungkan dunia manusia yang terisolasi dengan dunia kita. Gerakan-gerakan manusia yang tidak terkontrol itu memang pada akhirnya akan meruntuhkan pemerintahan di Kannaris. Meskipun pada awalnya tidak ada pemerintahan yang tetap, sih.” Audy menjelaskan.


Dan setelahnya, selama mereka berjalan menuju tempat tujuan, Audy terus bercerita dengan tenang.


Pada dasarnya, keputusan pemerintahan manusia untuk mengisolasi diri sangat bertentangan dengan aksi-aksi terorisme oleh manusia yang merajalela itu. Komplotan manusia seperti sedang berusaha semaksimal mungkin untuk menghubungkan dua dunia secara paksa. Semuanya sudah berekspetasi bahwa para manusia pasti akan berhasil untuk menguasai Kannaris.


Dimulai dari jumlah manusia yang setiap bulan bertambah, juga senjata yang entah dari mana mereka dapatkan yang pasti illegal. Kebanyakan dari para petinggi ras mulai mengangkat tangan pada urusan Kannaris karena pasti akan berakhir kepada perang saudara antara manusia dan manusia juga. Yakni, antara pemerintahan manusia yang masih egosi mengisolasi diri, dan para ******* yang meminta dunia untuk digabungkan.


Karena urusan para manusia akan diselesaikan dengan manusia lain lagi, selama mereka tidak menganggu keseimbangan ekosistem, itu tidak masalah. Dan disitulah Parker menyatakan ketidaksetujuannya, dan berusaha untuk tetap menjaga keseimbangan kota Kannaris sebagai kota perbatasan terakhir bagi manusia.


“Jika kalian ingin mengetahui masa lalu Parker yang mendasari aksi tidak masuk akalnya itu, lebih baik tanyakan saja kepadanya sendiri. Sebenarnya, tidak ada yang ingin disembunyikan juga. Namun, aku merasa tidak nyaman menceritakan kisah hidup orang lain tanpa sepengetahuannya,” Ucap Audy sambil menunggu lampu untuk mulai menyebrang jalan.


Pokoknya, Parker berusaha untuk tetap menjaga keseimbangan dua dunia dengan mencoba menggunakan jalan diskusi sebagai cara untuk menggabungkan dunia dengan baik-baik. Tapi, meskipun dengan kelebihan yang dimiliki ras bantengnya yang memberikan banyak keuntungan dari segi fisik, kekuatan, dan segala macam hal hingga membuat Kannaris damai, tetap ada yang tidak suka dengannya.


Salah satu yang Parker kenali adalah kelompok Venom Snake yang selalu saja membuat gara-gara, demi tujuan mereka untuk mengambil kendali kota Kannaris. Dari awal, Parker memang tidak bergerak sendiri. Tapi, semakin lama dia lebih sering merekrut banyak anggota yang dapat membantunya untuk mencapai tujuannya, untuk memenangkan peperangan tanpa perlu bertarung sama sekali.


“Perang? Apakah maksudnya perang dengan dirinya sendiri untuk membuat kota Kannaris damai, atau perang dengan makna peperangan yang…”


Ya. Perang yang Audy maksud memang perang antara ras dan negara seperti yang Laju takuti. Kalau memang pada dasarnya manusia mulai menyebabkan kekacauan, ras lain tentu akan bertindak dan mendeklarasikan perang dengan mereka.


Laju dan Delpia diam tak berkomentar.

__ADS_1


Mungkin mereka masih berusaha memproses pernyataan Audy tersebut.


Mungkin juga kebingungan sebenarnya Audy berbicara apa.


“Pokoknya, Parker berusaha untuk membuat keadaan menjadi lebih baik untuk banyak pihak. Berusaha untuk benar-benar melawan yang jahat, dan mengurangi kemungkinan terjadinya adu domba,” Audy menjelaskan menyimpulkan.


Tapi tentu saja, upaya seseorang untuk menciptakan sebuah ketenangan dan kedamaian tidak bisa dilakukan dengan mudah dan mulus begitu saja. Karena, pada akhirnya akan ada orang yang memang pada dasarnya menyukai sebuah kekacauan dan kericuhan. Karena menurutnya, esensi dari kehidupan terdapat pada kekacauan itu sendiri.


Karena menurutnya, damai sama dengan kebosanan.


Dan tentu, tidak ada orang yang menyukai kebosanan.


Seperti yang baru saja mereka lihat di depan sebuah kedai kecil, terjadi sebuah perkelahian yang ternyata hanya sebuah penindasan pada seorang minoritas.


Pada akhirnya, memang akan ada orang yang seperti itu.


Orang yang menyukai kekacauan.


Awalnya, Laju tidak peduli terhadap pengeroyokan yang mungkin berjarak ratusan meter di sampingnya itu. Dia tidak memiliki kewajiban untuk ikut andil, sampai dia melihat sesosok yang dikenalinya betul.


Dengan kacamata bulatnya, tingginya yang jangkung, rambut merah gelapnya yang acak-acakan, dan jenis pakaian yang dia kenali betul berasal dari dunia manusia.


Itu Adrian!


“Kamu mau apa? Sudah biarkan saja. Tidak seperti Kannaris, Gloria memiliki polisi yang lebih kompeten. Sebentar lagi pasti mereka akan ditindak,” ucap Audy yang menghalangi Laju yang tidak sadar sedang mendekati lokasi pengeroyokan tersebut.


Tidak.


Laju bukannya ingin melerai mereka.


Laju tidak ada urusan dengan mereka, mengapa harus ikut campur?


Masalahnya adalah, dia ingin menemui Adrian, idolanya, panutannya.


“Eh!?” Laju keheranan dengan tangan Audy yang menghalangi jalannya itu.


“Kenapa kamu bingung begitu? Mereka mungkin hanya preman jalanan. Memang sangat jarang di Gloria. Tapi, meskipun ada pun pasti mereka akan ditindak cepat. Sudah ayo cepat sini, kita sudah dekat,” ucap Audy sambil menarik Laju.


Laju yang perlahan menjauhi dan meninggalkan sosok Adrian mulai merasa sedih. Rasa rindunya kepada orang yang dikenalinya tidak bisa terobati.


Wajar saja.


Laju harus terperangkap di kota para monster ini tanpa teman dan kenalannya.


Tapi, kalau memang Adrian menetap di Gloria, harusnya akan ada waktu dimana Laju bisa menemuinya, kan? Mungkin memang tidak saat ini. Tapi, Laju yakin dia pasti bisa bertemu dengan Adrian dalam waktu dekat.


Laju merasa tidak sabar untuk bernostalgia.


Tapi, sebelum Laju bisa memproses semua perasaannya, kesempatannya untuk berpikir sudah terlanjur habis. Karena, mereka sudah sampai di tempat tujuan, di depan sebuah gedung yang terlihat seperti rumah sakit.


“Ayo masuk!” Ajak Audy yang diikuti berikutnya oleh Laju, meninggalkan Delphia yang kembali gemetaran.

__ADS_1


Ada apa? Apakah dia ada trauma atau segala macamnya dengan rumah sakit?


__ADS_2