Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 42


__ADS_3

Di sebuah gedung, di dalam ruangan yang berada di lantai empat, di belakang meja kerja yang bertumpuk banyak dokumen, seorang pria besar yang tingginya melebihi dua meter sedang mengetuk-ngetukkan kakinya pada lantai. Memangku dagunya dengan kedua tanganya, dengan detak jantung yang cepat, dan juga keringat yang dingin


Tidak lupa, dia hembuskan juga napas panjangnya sehingga bisa didengar oleh seluruh orang di dalam ruangan.


“Apa yang kau khawatirkan? Dia sudah besar, kan? Dia bebas bisa melakukan apapun sesuai kehendaknya?” Aaron mengekspresikan keheranannya.


“Kenapa kamu dingin begitu, sih? Padahal yang bisa mengeluarkan es itu Delphia? Tidakkah kamu merasakan sedikit simpati!?”


“Kenapa malah kamu yang repot? Apa? Mau aku banjur lagi!?”


“Kkkiiiii!!!! Pergi sana pergi!”


Audy dan Aaron yang bertengkar kecil sedikit memberikan usaha bagi pria besar ini napas lega bahwa kondisi di sekitarnya sudah kembali normal.


“Aku juga sebenarnya akhir-akhir ini kehilangan objek untuk diusili. Dia selalu saja bepergian menghabiskan waktunya di luar. Aku sedikit khawatir. Yang bisa aku perhatikan memang tingkahnya sedikit berbeda, seperti setelah dicuci otak, seperti orang yang berbeda.” Iris ikut menimpali, berusaha mewakili pernyataan Parker.


“Sebenarnya apa yang selama ini terjadi selama aku dirawat?”


Parker menurunkan kedua tangannya, mengambil tongkat berjalannya yang bertugas untuk menjadi kaki ketiganya, menatap jendela berusaha memikirkan sesuatu.


Parker masih penuh dengan perban yang menutupi dan melindungi luka-lukanya dari segala infeksi. Sebenarnya, pihak rumah sakit sudah berusaha untuk memaksanya tetap dirawat, tidak pulang terlalu dini. Tapi, Parker merasa tidak bisa berlama-lama dirawat sedangkan para manusia masih belum ditangkap, terutama sang biang keladi dari semua kerusuhan ini yang masih berkeliaran.


Pihak rumah sakit yang kehabisan ide akhirnya terpaksa memberikan perawatan kepadanya secara berkala, dan membuat status pasien Parker dari rawat inap menjadi rawat jalan. Sekaligus memberikan Parker beberapa obat yang harus diminumnya secara berkala.


“Yah, jika kita memikirkan peperangan yang akan terjadi dengan musuh, aku sedikit menyayangkan harus merelakan bocah itu,” ucap seorang gadis yang tubuhnya separuh basah. “Bagiku, selama Delphia masih bersama kita. Itu tidak masalah. Hihihi!”


Seperti biasa, Audy langsung berbaring dengan santai lagi di sofa ditemani Delphia – yang juga memaksa dirinya untuk keluar dari rumah sakit serupa seperti Parker, yang masih terlihat pucat, masih terlihat bekas luka dan lebam, masih diliputi oleh banyak perban.


“Bukan tentang Laju yang meninggalkan pekerjaan dan bermain-main di kota. Itu tidak masalah. Dia berhak mendapatkan liburan atas semua kerja kerasnya selama ini. Lagipula, dia bukannya bekerja secara resmi, kan? Yang menjadi permasalahan adalah informasi yang aku dengar bahwa dia pergi ke Blok T!” Parker menjawab apa yang sebenarnya menjadi keresahannya.


“Blok T?”


“Daerah kumuh yang ditinggalkan itu? Ada apa dengan daerah itu?”


“Bukan sekadar daerah kumuh. Itu daerah yang dikatakan sebagai tempat manusia tinggal. Dan kalian tahu sendiri siapa orang-orang yang bekerja dengan Venom Snake? Mereka manusia yang menginginkan revolusi! Kalian juga tahu siapa yang selama ini melakukan kericuhan di kota? Manusia!”


“…!”


“Aku bukannya menuduh yang macam-macam. Tapi, bukankah kita harus bersikap lebih waspada terhadap hal tersebut dan semuanya? Aku bukannya menyayangkan Laju akan menjadi senjata musuh. Tapi… aku seperti harus mengawasi pergaulan yang anak itu dapatkan! Seperti yang Iris bilang tadi, bagaimana kalau dia dihasut macam-macam? Aku... aku… aku mer–”


BRAKK!!


Sebelum Parker bisa melanjutkan lebih lanjut perkataannya untuk mengekspresikan kerisauannya, lebih dahulu tongkat pembantunya ikut terjatuh bersamaan dengan tubuhnya yang mulai kehilangan keseimbangan.


Semuanya panik.


Semuanya langsung berdiri, melihat ada apa gerangan yang terjadi sehingga Parker bisa terjatuh seperti itu. Tapi, pada akhirnya mereka hanya bisa menonton karena Iris sudah lebih dahulu bergerak gesit membantu Parker untuk kembali duduk.


“Ted, ya?” Tanya Iris sembari membantu Parker.


“Ted?”


“Theodoric Bullstone. Bagi Parker, mungkin Laju mengingatkannya seperti Ted. Aku juga sudah menganggap Laju sebagai adik sendiri sebetulnya. Kalau adik kandungku terlibat dalam pergaulan yang aneh-aneh, aku pun pasti khawatir dan cemas. Tapi, mungkin Parker lebih dulu merasakan presensi Ted dibalik–”


“Sudahlah. Aku tidak sedang ingin membahas topik itu sekarang. Tapi, mungkin yang dikatakan Iris benar. Aku sudah menggap Laju seperti anak kandungku sendiri. Ketika membicarakan kesalahan-kesalahan masa lalu, aku malah terbawa emosi seperti itu.”


“…”


Semuanya tidak banyak berkomentar terhadap apa yang Parker katakan.


Merasa emosional terhadap anak sendiri? Itu sebenarnya hal yang luar biasa. Namun, tidak ada yang bisa memahaminya. Mereka belum pernah merasakan hal tersebut.


Bukankah ada perkataan yang mengatakan bahwa anakmu adalah hidupmu?


Lalu apa yang akan Parker lakukan pada Laju sekarang?

__ADS_1


Bersikukuh terhadap perkataan tersebut?


“Tapi aku memang penasaran bagaimana Laju bisa bertemu dengan orang-orang itu. Bagaimana dia bisa memulai untuk pergi ke Blok T? Selama ini dia selalu berada di sekitar kita, kan? Dia pun terlihat jarang berbicara dengan orang lain”


“Sebenarnya, ketika kemarin pergi ke Gloria, Laju sempat menyapa seorang manusia lainnya yang menurutku memang sangat mencurigakan,” Audy menjawab. “Aku pikir itu tidak perlu dipermasalahkan, sampai semuanya menjadi repot seperti ini.”


“Apa yang kau maksudkan dari mencurigakan? Keterlibatan dengan Venom Snake?”


“Entahlah. Presensinya saja. Sebenarnya aku tidak banyak mencium aroma pertikaian dan darah pada orang tersebut. Hanya saja, instingku berkata aku harus jauh-jauh dari orang itu. Seperti ada monster luar biasa besar yang berada di belakangnya, yang menjadi auranya, yang menjaga hidupnya.”


“…? Apakah kita berbicara bahasa yang sama? Aku tidak mengerti apapun yang kau katakan, kucing!”


“Hah!? Apa yang kau bilang? Siap tengkar lagi!?”


“Sudahlah. Kalian ini selalu saja ribut,” potong Parker ketika melihat Audy dan Aaron yang siap untuk bertengkar berkelahi lagi.


Delphia hanya bisa merespon dengan senyum kecil melihat tingkah Audy dan Aaron, juga semua yang terjadi di dalam ruangan. Sebenarnya, dia merasa sedikit cemas. Tapi, dia tidak bisa banyak mengekspresikannya, kecuali dengan ekspresinya yang murung.


Bahkan, kecemasan yang Delphia rasakan ada pada titik dimana dia kehilangan fokus dan tidak memerhatikan apa yang sedang Parker bicarakan lagi.


“…!”


Rasa murung yang selama ini Delphia rasakan kini berubah.


Ada suara yang sangat ia kenal.


Meskipun hanya suara pintu yang terbuka, meskipun hanya suara langkah kaki, tapi Delphia sepertinya bisa menerka siapa yang sekarang berjalan di luar ruangan. Tanpa basa-basi, Delphia pun langsung berdiri dan beranjak pergi dari ruangan untuk mengejar orang yang sedang berada di lorong itu.


“Del?” Larinya Delphia langsung dipertanyakan oleh semua orang di dalam ruangan. “Ada apa?”


Sampai Aaron mengejar dengan pelan atas anjuran Iris, ternyata jawabannya tidak lain tidak bukan adalah objek yang sedang dibicarakan oleh Parker tadi.


“Ju?”


Dan dengan begitu, dengan ketahuannya Laju yang sudah pulang dari keliarannya di kota, dia pun langsung dibawa ke dalam ruangan dengan canggung, dengan ajakan untuk berdiskusi kecil.


“…? Loh, Ada apa? Kenapa kamu marah-marah begitu? Hahaha! Bukankah wajar jika kita hanya ingin berbicara saja? Apakah membahas monster jamur kemarin, membahas makam naga, atau kristal ungu? Lagipula kekasihmu ini baru pulang dari rumah sakit, loh?” Goda Iris yang pertama kali merespon Laju berusaha mengusilinya.


“Heh!” Laju memalingkan muka mendengus.


Tung!


Aaron menyentil menembak lagi kelereng air kepada Laju.


Entah mengapa, semua orang merasa percakapan yang terjadi seperti kembali ke beberapa minggu ke belakang, ketika mereka baru pertama kali bertemu.


Sangat menjengkelkan, sangat merepotkan, sangat memuakkan.


“Bisakah kau hentikan itu, ikan!?” Tapi Laju tidak lagi menjadi samsak yang mendapatkan serangan mentah-mentah. Tembakan kelereng itu bisa Laju hentikan dengan tangakapannya yang cepat.


“Wow wow. Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Laju? Aku tidak berpikir kamu akan mengatakan itu kepada Aaron. Memangnya kamu darimana saja sih?”


“Kenapa kamu harus peduli, burung? Aku tidak merasa aku harus menjawab pertanyaan itu, kan?”


Tung!


Aaron berencana menembakkan kelerengnya lagi.


“Menjengkelkan sekali, ikan! Apakah kamu tidak memiliki pekerjaan lain selain merepotkan orang lain? Seingatku bahkan kamu tidak bisa mengalahkan lizardmen. Kalau begitu, untuk apa kamu ikut kalau hanya merepotkan dan menambah pekerjaan?”


“Hei, Laju! Tidakkah kamu pikir itu seudah keterlaluan? Kenapa kamu ini!?”


“Sebut kucing yang bahkan tidak bisa bertarung satu lawan satu?”


“Apa katamu!? Ayo sini tengkar sekarang!”

__ADS_1


“Kenapa aku harus? Aku tidak perlu merepotkan diri melawan binatang peliharaan, kan? Lanjutkan saja tidur-tidurnya. Bukankah itu kelebihanmu?”


“Hei, bocah! Tidakkah kamu pikir bahasamu mulai kelewatan? Kamu tidak berpikir kata-kata itu menyakitkan untuk didengar? Untuk apa selama ini kita berjuang dan bertarung bersama? Tidakkah ada artinya itu semua untukmu?”


“JANGAN SAMAKAN AKU DENGAN MONSTER ANEH SEPERTI KALIAN!”


Sembari semuanya saling teriak, bentak, dan serang dengan kata-kata mereka. Delphia lah satu-satunya yang tidak berbicara dan malah berusaha untuk mendekati Laju, membangunkan menyadarkan Laju, dengan rencananya sendiri.


Hal ini juga didasari karena kondisi yang semakin tidak kondusif untuk kedua belah pihak melanjutkan pembicaraan. Delphia berencana untuk menenangkan dan mendinginkan suasana – secara harfiah dengan kekuatannya jika perlu.


Plak!


“APA YANG KAMU PIKIR KAMU LAKUKAN, BISU!?”


Tapi, sebelum Delphia bisa mendekatinya, tangannya yang berusaha untuk meraih Laju lebih dahulu tertampar dan terlempar oleh usirannya.


Padahal, Delphia sering mendapatkan cemoohan dan tindakan kasar oleh orang lain karena kekurangannya sejak kecil. Awalnya, dia memang langsung menangis sedih mempertanyakan apa yang sebenarnya dia lakukan sehingga berhak untuk dikasari?


Semakin besar, Delphia semakin terbiasa dengan penindasan orang lain. Sehingga, dia tidak terlalu ambil hati jika mendapat tindakan kasar dari orang lain. Terlebih, jika tindakan itu hanya dari orang asing yang tidak begitu ia kenali. Delphia bisa langsung melupakannya menganggapnya angin lalu.


Lalu kenapa?


Kenapa sekarang, air matanya berlinang lagi?


Bukankah Delphia sudah terbiasa untuk dikasari?


Tapi, Delphia yang baru saja terjatuh atas dorongan Laju tersebut malah mulai mengeluarkan air mata yang cukup deras. Padahal, tidak ada sama sekali rasa sakit yang dirasakan oleh tubuhnya. Kecuali, rasa sakit yang sangat dalam, sangat kuat, yang hatinya rasakan. Apalagi dengan ekspresi Laju yang seakan melihat Delphia sebagai sesuatu hal yang menjiikkan, yang memperparah rasa sakitnya.


“…?”


Delphia memang tidak bisa berbicara.


Tapi, itu tidak berarti hati batinnya tidak berkomentar. Namun, untuk kasus yang ini baik pita suara fisiknya, pikirannya, hingga hati batinnya benar-benar bungkam membisu, benar-benar terdiam tidak kuat berkomentar terhadap tindakan Laju barusan.


“DELPHIA!” Audy yang hendak bertengkar dengan Laju langsung mengalihkan perhatiannya menolong Delphia yang terjatuh dan menangis. “Apakah kamu baik-baik saja?”


“SEBENARNYA APA YANG KAMU PIKIRKAN, JU?”


“APAKAH INI KARENA ORANG-ORANG DI BLOK T ITU!?”


“Ken-kenapa kalian tahu aku pergi kesana? Penguntit? Kalian penguntit? Kalian mengikutiku?”


“Jadi benar ya ini semua karena orang-orang itu. Sepertinya mereka sudah berhasil memengaruhi Laju. Apakah dokter tua Vignette bisa memperbaiki ini? Ayo ikut aku, Ju!”


“SUDAH KUBILANG JANGAN SAMAKAN AKU DENGAN MONSTER MENJIJIKAN SEPERTI KALIAN!!! AKU MENYESAL PERNAH MELAKUKAN APAPUN DENGAN KALIAN!!!! KALIAN SEMUA MEMANIPULASIKU!!! TERUTAMA KAMU, PARKER!!! APA? KESELAMATAN BERSAMA? KEDAMAIAN? KETENTRAMAN? OMONG KOSONG!!! KALIAN MEMBUATKU MENGHABISI KELUARGAKU SENDIRI! MENGHABISI MANUSIA!!”


“…!”


“PADA AKHIRNYA KALIAN HANYA BENCI DENGAN KITA! DARI AWAL, KALIAN HANYA INGIN MENDISKRIMINASI MANUSIA!!!! KALIAN TAHU SENDIRI KONDISI DAERAH BLOK T, KAN? JELASKAN LAGI KEDAMAIAN DAN KETENTRAMANMU ITU PADA ORANG-ORANG MISKIN DISANA, PARKER!!! KALIAN HANYA MENGGUNAKANKU SEBAGAI SENJATA SAJA!!! MONSTER BEDEBAH! MENYESAL AKU MEMPERCAYAI KALIAN!!”


Plak!


Sebelum Laju lebih lanjut mendeklarasikan dan memberikan ultimatum pada Parker dan kelompoknya, Parker yang sejak awal hanya bisa diam mendengar dan memperhatikan akhirnya memutuskan untuk mengambil tindakan pertamanya, yakni untuk menampar Laju dengan keras.


Semuanya kaget dan membelalakkan matanya. Selain karena tindakan Parker yang benar-benar memberikan ‘pelajaran’ untuk Laju, juga bagaimana Parker yang baru saja terjatuh karena kondisi tubuhnya yang belum pulih untuk berdiri, tapi sekarang dia bisa berdiri tanpa tongkat pembantunya untuk menampar Laju.


“…!” Laju yang baru saja tertampar memegang pipi kirinya untuk merasakan dengan jelas rasa sakit yang baru saja ia dapatkan.


Selanjutnya, dia menggeram benar-benar memberikan ultimatum.


“Ini saja yang kau bisa respon, Parker? Serius? Aku kecewa padamu. Aku menyesal dari awal pernah mengenalmu. Mana janjimu yang akan membantuku pulang? Dasar mulut besar. Tidak ada satupun perkataanmu yang bisa dipegang, ya? Menggelikan,” Laju mengejek Parker. “Aku akan pulang. Aku tidak akan kembali lagi ke ruangan penuh lendir, bulu kucing, bau burung, dan endusan banteng lagi. Heh!”


Tanpa ucapan selamat tinggal, Laju langsung balik badan dan segera pergi dari ruangan. Tapi, sebelum Laju benar-benar melangkahkan kakinya keluar dari ruangan, Delphia lebih dahulu mengejarnya.


Dan untuk yang terakhir kali, dia genggam tangan Laju.

__ADS_1


Sedetik kemudian, Delphia langsung merubah rambutnya menjadi putih dan matanya menjadi secantik berlian. Dia berikan rasa dingin pada Laju, dia perlihatkan lagi masa depan untuknya.


__ADS_2