
Setelah 15 menit mereka berjalan menuju barat melintasi kota yang padat
penduduk, menyebrangi jalan raya dengan kendaraan yang berlalu lalang melayang,
melewati berbagai macam toko dengan pemilik dan pengunjung yang sama garangnya,
menemani sang wanita mengantar ‘sang kakak’ dan kawannya yang tak sadarkan diri
pada salah satu gang yang mencurigakan, dan tidak sengaja melangkahi
gelandangan yang tidur sembarangan.
Laju dan Delphia akhirnya bisa berhenti beristirahat setelah sang wanita
menunjukkan gedung tempat tujuannya. Gedung yang menjulang tinggi yang
samar-samar Laju kenali berdasarkan penampakan dan suasananya.
Jawabannya adalah pemukiman dan kediaman Bos Alex.
Dimulai dari banyak gelandangan memprihatinkan yang Laju lewati barusan,
juga dengan kondisi gedung yang – meskipun terlihat lebih modern, terlihat
kotor tidak terawat. Meskipun sebenarnya gedung ini tidak ada bedanya dengan
aristektur lainnya di kota, Laju menganggap bahwa ada sesuatu yang penting di
dalam gedung ini.
Pertama, karena pengalamannya dengan Bos Alex yang membuatnya bisa
melihat bongkahan emas diantara sampah yang terbuang. Kedua, karena wanita
misterius inilah yang membawa mereka kesini.
Sudah pasti ada hal penting yang akan mereka temui berikutnya.
Tapi, Laju tetap penasaran.
Wanita ini sendiri yang bilang bahwa dirinya bukanlah bagian dari
pemerintahan atau tim evakuasi untuk membantu insiden ledakan pada kereta.
Meskipun tidak terlihat jahat – selain pukulannya yang membuat Laju terbanting
tersengat, wanita ini juga tidak terlihat seperti orang suci yang memegang
teguh keadlian dan kebenaran.
Jadi, siapa yang akan mereka temui?
Apakah bisa Laju percayai?
Apakah mereka bisa membantu Laju?
Apakah orang-orang ini tergolong manusia yang bisa Laju pikat dengan
semua kekayaan uang-uangnya serta pesonanya untuk patuh mengkuti semua perintah
Laju?
Tunggu, mereka bukan manusia, kan?
Tapi tetap saja. Fokusnya masih sama untuk bisa bernegosiasi – seperti
halnya dengan pegawai di tempat bimbingan, untuk membantunya pulang dari kota aneh
ini.
Sambil mengikuti sang wanita untuk memasuki gedung, Laju berusaha untuk
tetap fokus mendinginkan kepala dan berpikir berusaha menemukan jalan keluar
yang terbaik.
Meskipun berjalan di lorong gelap dengan penerangan lampu neon yang
sarat, melewati meja resepsionis dengan banyak poster dan pengumuman dari
bahasa yang tidak bisa dipahami, hingga melewati ruangan penuh monster-monster
aneh, Laju masih bisa memfokuskan pikirannya untuk terus berpikir.
Sampai mereka harus menaiki tangga, Laju terpeleset oleh sebuah genanga
air di lantai dan terjatuh begitu saja. Tidak seperti kebanyakan orang, tidak
ada yang tertawa melihat kejadian ini. Laju sedikit bersyukur rasa malunya
masih bisa diredam, dan bukan menjadi tontonan orang.
Seperti biasa, Delphia pergi menolong Laju yang terjatuh dari tangga itu.
“Wa, waduh! Ma, maafkan sa-saya! Sa, saya ti-tidak hati-hati da-dalam
me-mengepel la-lantai i-ini,” ucap seorang monster yang gagap, yang lebih
pendek dari Laju, bahkan dari Delphia dengan tinggi sekitar satu meter, dengan
perawakan kurus kerempeng berwarna merah pekat, yang merespon bereaksi
menyimpan ember, dan pergi menolong Laju.
“Ugh!” Seru Laju dalam sakit pada tubuhnya yang kesekian ini.
Ketika Laju ingin berdiri, baik tolongan Delphia maupun sang monster
merah ditolak mentah-mentah, bahkan hingga ditamparnya dengan keras.
“Apa-apaan sih!? Tidak bisa kerja yang benar, apa!? Mengepel lantai saja
masih becek begitu? Ini bahaya loh? Bagaimana jika orang sampai mati karena
ulahmu, cacat!?” Marah Laju kepada sang monster merah yang sekarang merenung
menundukkan kepalanya.
“Ma-maafkan sa-saya ka-karena ti-tida…”
“Mau minta maaf saja tidak becus begitu!? Lagipula lihat nih tangan
saya!” Bentak Laju sambil memperlihatkan tangannya yang merah memar. “Apakah
kau pikir dengan maaf memar ini bisa sembuh!? Hah!? Jawab dong!”
“I-iya ti-tidak mu-mungkin bi-bisa… ma-maaf,” lanjut sang monster merah
lagi.
“Maaf lagi? Sudah dibilang maaf itu tidak penting! Ah! Menyebalkan!
Kerja saja tidak becus!” Lanjut Laju yang masih membentak sambil mengelus
tangannya yang memar tadi – yang sebenarnya tidak terjadi karena dirinya yang
jatuh barusan.
BUG!!
Sang monster yang masih murung disenggol dengan sengaja oleh Laju hingga
terjatuh tidak kuasa.
“Awas!! Mengganggu saja!” Bentak Laju lagi sambil berjalan menaiki
tangga.
Sang Wanita yang melihat insiden tersebut tertawa saja mendengar
bentakkan Laju kepada sang monster merah tersebut. “Hahaha!” Tawanya dengan
lepas tanpa memprotes apapun yang Laju marahi kepada sang monster.
Laju pun tidak berkomentar selain tertawa kecil dengan puas kepada diri
sendiri.
Meskipun kejadian hari ini memang merepotkan, tawa kecil itu sangat
tulus. Sangat tulus hingga perasaan dan suasana hati Laju membaik dengan
drastis.
Selanjutnya, mereka kembali menaiki tangga menuju destinasi yang dituju
oleh sang wanita dan melupakan kejadian dengan monster merah barusan.
Setelah sampai di lantai empat, mereka berhenti dan berbelok menuju
lorong besar dengan sebuah karpet merah yang menuju pintu lebar di ujungnya.
Laju terperanjat. Dengan lorong yang semegah ini, apakah seorang yang
akan ditemuinya sangatlah penting? Perasaannya mulai bergairah karena
ketidaksabarannya. Apakah mungkin dia harus berlaku baik selayaknya bertemu Bos
Alex pertama kali? Perilaku apa yang harus diperlihatkannya sehingga dapat
memelas orang penting tersebut?
Tapi, begitu Laju masih bingung dengan pikirannya sendiri, di tengah
perjalanan menuju pintu lebar di atas karpet merah, mereka justru belok ke
kanan menuju sebuah ruangan yang lebih sederhana yang tidak tertutup sama
sekali.
“Loh!? Saya pikir kita akan-” Laju yang kebingungan masih melirik kanan
kiri membandingkan pintu megah impiannya yang berada di depannya, dengan pintu kecil
di kanannya sambil menunjuk tidak paham.
Tidak ada jawaban.
Sang wanita berjalan saja menuju ruangan dengan polos tanpa menghiraukan
pertanyaan Laju. Delphia yang tidak berbicara pun sebenarnya sama kagetnya
dengan Laju, tapi dia tetap diam dan mengikuti Laju berdiam di lorong belum
memasuki ruangan.
Sampai akhirnya sang wanita menghilang di dalam ruangan, mereka pun
menyusul.
“Iris? Kamu datang dari pintu depan rupanya?” Ucap suara yang berat.
“Ya. Aku membawa tamu untukmu, Parker. Aku pikir mereka…, dia,
sepertinya bisa berguna untuk kita,” ucap suara sang wanita.
“Wah, wah! Kita punya teman baru!? Asiikkkk! Kapan kita-”
“Audy?”
“Pa-parker!? M-maaf,” ucap seorang yang lebih cempreng
“Jadi dimana tamumu itu, Iris?” lanjut suara yang pertama, yang berat tadi.
Laju dan Delphia bukannya menunggu waktu untuk dipanggil seperti ini.
Tapi, entah mengapa Laju belum ingin masuk setelah dirinya dikhianati karena
mereka tidak jadi memasuki pintu idamannya yang megah ini. Bahkan, setelah
dipanggil pun Laju masih menungu beberapa saat hingga akhirnya memutuskan masuk
ke ruangan.
“Heh! Aku bukan datang masuk kesini bukan karena dipinta, ya!” Ucap Laju
malas, dengan tatapan dingin, muka yang masam, disusul oleh Delphia yang masih
gelagapan.
Begitu mereka memasuki ruangan, sang pemilik suara berat ternyata sedang
duduk santai, dengan perawakan yang cukup besar. Pemilik suara tersebut
tersenyum di atas mejanya yang terdapat papan nama bertuliskan ‘Parker
__ADS_1
Bullstone’ memberikan impresi yang baik bagi Laju dan Delphia sebagai orang
asing di ruangan ini.
Ruangan diisi oleh enam orang dengan Laju dan Delphia. Meskipun begitu,
ruangan ini tidak terlihat pengap dan penuh. Ruangan ini justru terlihat sangat
besar dan luas. Apakah ruangan ini terhubung dengan pintu megah sebelumnya di
lorong?
Bisa jadi. Pintu ruangan ini berada di pertangahan lorong, atau mungkin
lebih jauh sedikit. Apa yang persis berada di depan pintu yang tidak tertutup
ini hanyalah dinding. Posisi Parker dengan meja utamanya berada di sisi kiri
yang langsung berpapasan dengan jendela dan dunia luar. Ditambah dengan jarak
antara Laju yang berada di depan pintu masuk dan posisi Parker yang berada di
ujung ruangan memiliki jarak yang cukup jauh, itu dapat mewakili pintu megah
barusan memang terhubung dengan ruangan ini.
Laju melihat ke sekeliling, kalau begitu dimanakah pintu tersebut
berada?
Dia sulit melihatnya dari posisi ini. Butuh eksplorasi yang lebih
mendalam lagi jika dia ingin mencari pintu lebar megah yang terhubung dengan karpet
merah di lorong tadi.
“Selamat datang, dik. Siapa nama kalian?” Tanya parker lemah lembut.
Laju yang masih melihat sekeliling kini mulai memfokuskan lagi
pandangannya untuk melihat Parker di ujung ruangan dekat jendela. Meskipun
perawakannya yang besar dan ditambah taring dan tanduk aneh itu, Laju tidak
terlihat takut sedikit pun.
Bahkan, Laju bersikap sedikit angkuh karena dia pernah mengalahkan orang
yang jauh lebih besar dari monster di depannya yang masih duduk tersenyum,
yakni sang kakak.
“Laju. Laju pratama,” jawabnya sambil menyilangkan tangannya di dadanya.
“Lalu yang satunya? Siapa namamu, gadis cantik?”
“Namanya Delphia. Dia tidak bisa berbicara,” lanjut Laju.
Delphia dan Parker yang mendengarnya cukup kaget. Dari ekspresinya,
Delphia bukannya kecewa atau yang semacamnya. Dia hanya kaget Laju bersedia
menjawab pertanyaan tersebut terlepas dari perilakunya kepadanya selama ini.
Untuk Parker, dia terkejut terhadap kondisi Delphia yang tidak bisa berbicara,
juga kepada Laju yang bersedia menjawab untuknya, terlepas dari silangan
tangannya.
“Wah…, begitu rupanya. Meskipun tidak bisa berbicara, nampaknya kamu
bisa memahami Delphia dengan cara lain ya, Ju? Saya cukup terkejut. Hubungan
kalian pasti sangat akrab,” lanjut Parker yang mulai bangkit dari duduknya dan
mulai menunjukkan postur tubuh aslinya – yang sangat tegak, tegap, kekar, dan
besar.
“Dekat? Ahaha, tidak. Tidak sama sekali,” jawab laju dengan tawanya yang
mengejek.
Delphia dan Parker lagi-lagi terkejut. Delphia yang terkejut mendengar
jawaban Laju tersebut merasakan hatinya teriris sangat sakit. Dia pun murung
kembali. Parker pun terkejut karena apa yang dia dengar dari jawaban Laju dan
lihat dari hubungan kedua bocah ini nampaknya sangat bertentangan.
“Hooo…” respon Parker yang paham bahwa bocah ini perlu diberi pelajaran.
“Begini. Langsung saja pada intinya. Setelah survei yang saya lihat
tentang kalian, nampaknya kalian sebuah organisasi yang cukup ternama untuk melakukan
banyak hal-hal berbahaya dengan bebas, ya? Bagaimana jika kita melakukan
kesepakatan? Jangan khawatir, saya bukanlah manusia biasa dan akan melakukannya
dengan mudah. Dan sebagai balasannya, kalian cukup melakukan hal yang
sederhana. Bisakah wanita itu bawa aku untuk pulang? Dia bisa membawaku kesini
artinya bisa membawaku pulang juga, kan? Apakah kalian paham maksud yang aku
berikan?” Tanya Laju dengan angkuh, dengan tangan yang masih terlipat.
Tung!
Sebuah kelereng yang lembut ditembak ke arah kepala Laju dari arah
kanan.
Disana, ada seorang lelaki dengan perawakan biru dan memiliki insang.
Laju awalnya ingin berontak mempertanyakan aksinya yang menyebalkan tersebut.
Tapi, itu tidak penting dan hanya akan melelahkannya saja. Lebih baik dia fokus
saja pada percakapan ini tentang bagaimana dia bisa pulang.
“Ahaha. Begitu rupanya. Jadi kamu mau pulang? Dan meminta bantuan kepada
“Bagaimana? Itu pekerjaan mudah kan untuk kalian?”
“Pertanyaanya bukan mudah atau tidak. Tapi kenapa kita harus membantumu?
Tidak ada alasan bagi kami untuk membantu, kan?”
“Ya. Itu tidak masalah. Saya sudah menyiapkan jawabannya. Pertama, saya
adalah anak penting di dunia normal yang penuh manusia, bukan penuh monster
seperti ini. Jika kalian berhasil membantuku pulang, akan saya beri imbalan
yang tidak bisa kalian perkirakan besarnya. Bahkan, mungkin bisa memperbaiki
kemiskinan di kota ini.”
“Wah, itu penawaran yang baik juga. Kamu rupanya anak yang tidak biasa,
ya”
“Heh! Itu sudah pasti!”
Tung!
Sebuah kelereng lain ditembakkan.
“Tapi saya tetap tidak menemukan alasan yang lebih baik untuk keuntungan
kami sendiri, karena uang bukanlah tujuan utama kami. Kamu lihat ini?” Tanya
Parker yang memperlihatkan tangannya sedang melakukan sesuatu.
Tik!
Dengan jentikkan jarinya, muncul banyak lembaran uang dari balik tangan
Parker.
“Uang? Kamu bilang bisa membeli kita dengan uang? Seberapa banyak?
Apakah lebih banyak dari ini?” Tanya Parker sambil memamerkan lembaran kertas
yang sekarang membanjiri ruangan.
“Hihihihi!” tawa seorang dengan cempreng dari kirinya. Itu Audy.
Wushh.
Parker melambaikan tangannya, memantapkan posturnya lagi, dan semua uang
itu terbakar menghilang.
“Baiklah. Kalau kalian memang tidak membutuhkan sesuatu untuk aku
lakukan dan berikan, bagaimana jika kita tentukan dengan hukum alam? Saya akan
mengajukan duel denganmu Parker. Yang kalah harus mematuhi yang menang. Itu
tampak lebih adil, kan? Untuk kota yang dipenuhi monster, sudah wajar nampaknya
hukum alam diperlakukan, kan?”
“Bagaimana jika saya menang?”
“Heh! Itu terserah. Tapi jangan bermimpi karena itu tidak mungkin! Saya
pernah melawan seorang yang lebih besar dari tubuhmu dan menang telak.
Pertandingan ini pasti akan mudah,” ucap Laju.
Tung!
Lagi-lagi Laju diganggu oleh lemparan kelereng.
Parker terkejut sedikit. Melihat menoleh kepada Iris, dan Iris
memberikan persetujuan dan anggukan bahwa itu memang betul terjadi. Parker
menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahunya tanda tidak percaya.
“Hahaha. Baiklah kalau begitu. Apakah kamu sudah, siap?”
“Tentu saja!” Jawab Laju dengan percaya diri.
“3…2…” Ketika hitung mundur belum sudah diumumkan, sebuah sentilan
dilempar oleh Parker dengan sangat jelas.
Laju tidak kaget dengan hitung mundur yang dicurangi. Dia lebih waspada
kepada gestur jari yang terlihat sedang menyentil tersebut.
Dengan refleksnya yang baik, Laju langsung memosisikan dirinya
menghindari arah proyektil yang kemungkinan dilewati oleh arah serangan
sentilan tersebut.
Tapi, sentilan tersebut bukanlah serangan proyektil. Melainkan serangan
angin yang memberikan tekanan kuat pada Laju. Jendela memang dibuka. Tapi,
angin dan tekanan yang Laju perlahan alami sangatlah terjadi tidak natural.
Angin darimana ini?
Laju sedikit kesulitan dengan tekanan ini yang perlahan menekan dan mendorongnya.
Tapi, akhirnya Laju sadari kelemahan serangan dari tekanan angin tersebut.
Dengan mudah, Laju bergeser memindahkan tubuhnya sedikit untuk menghindari lajur
serangan ini sehingga bisa terbebas dari tekanan dan dorongan angin tersebut.
Tapi, begitu Laju menggerakkan badannya untuk menghindar, dari
sampingnya sudah terlihat perawakan Parker yang siap memberikan pukulan kuat
dengan ancang-ancang yang sangat sempurna. “Secepat ini!?” Laju bertanya bukan
__ADS_1
pada siapapun.
Laju pun berusaha menghindari pukulan yang datang tersebut dengan memutar
dirinya ke samping sehingga yang dipukul Parker hanyalah angin dan bayangannya
saja.
Setelah Laju bisa menghindari dengan mudah, Laju menyiapkan dirinya lagi
dalam posisi bertahan dengan cepat untuk bersiap terhadap serangan berikutnya.
Tunggu. Ada perasan aneh di sampingnya. Ada serangan?
Itu Parker!?
Sejak kapan!?
Bukankah barusan Parker masih berada di depannya sedang melakukan
serangan?
Laju tidak bisa bereaksi lebih cepat. Dia harus menahan pukulan ini
dengan kedua tangannya, menyilangkan keduanya, melindungi tubuhnya
Dan ketika Laju sudah bersiap untuk dampak yang akan diterimanya dari
pukulan tersebut, konsentrasinya pecah lagi.
“Oh, jadi kamu memiliki refleks yang cukup baik, ya?” Tanya Parker dari
atas mejanya.
Ya. Parker sedang duduk santai di atas mejanya, tidak bergerak sedikit
pun. Laju yang masih menyilangkan kedua tangannya bersiap pada dampak serangan
Parker merasa bingung pada realita yang sebenarnya terjadi.
Harusnya, Laju sudah berada jauh di belakang ruangan.
Tapi, Laju sebenarnya tidak bergerak dari tempatnya ketika sedang
berbicara dengan Parker. Dia berdiri dengan canggung, dengan Delphia yang
kebingungan, dengan suasana ruangan yang sama sekali tidak berubah.
Tung!
Lemparan kelereng lain merangsang kesadaran Laju.
“Haaah dasar manusia. Selalu saja egois dan merasa paling benar. Aaron, kau
urus bocah ini, ya?” seru Parker yang sekarang bersiap kembali duduk.
“Baik!” Sebut Aaron, makhluk dengan perawakan biru dan insang yang kemudian
bangkit dari sofanya yang sekarang pergi menghadap Laju.
Sriiiing!
Seketika, suasana ruangan menjadi dingin, sangat dingin, seperti
membeku.
Sebelum semua orang kebingungan, ternyata jawabannya ada di depan Laju.
Delphia, yang baru saja hatinya terasakiti oleh Laju, sekarang pergi ke
depan Laju, menghalau Aaron untuk berbuat sesuatu pun kepada bocah arogan ini.
“Fiuu….!!” Siul Parker yang melihat penampakan Delphia yang sudah
berubah ini.
Bagaimana tidak? Delphia yang menghalau Aaron dan sedang melindungi Laju
sedang melepaskan kekuatannya. Rambutnya berubah menjadi putih, matanya menjadi
berlian cantik, dengan lantai tapakan dan sekitarnya kini membeku perlahan.
“Inilah maksudku dari awal, Parker. Bukan bocah itu.” Sebut Iris
“Ya. Kamu benar. Perempuan ini memiliki sesuatu yang besar. Sayangnya
dia melindungi bocah tidak berguna itu.”
Laju yang perlahan menyadari dirinya malah dilindungi gadis aneh
tersebut marah besar karena merasa dirinya diganggu. “Apa sih!? Awas!
Pertarungan belum selesai!” Laju mengusir Delphia dan menatap Aaron untuk
melawannya sepenuh hati.
“Hmmm,” ucap Aaron malas. “Kamu memiliki refkels yang bagus. Tapi, bisa
apa kamu melawan ini?” Tanya Aaron sambil mengangkat telunjuknya kepada Laju,
Sebelum Laju siap merespon, muncul bola air di atas telunjuk Aaron, yang
berpindah ke depan muka Laju yang perlahan membesar dan sekarang malah meliputi
seluruh kepalanya, menenggelamkannya. Dia tidak bisa menghindari serangan ini. Serangan
ini menyerang Laju langsung kepada titik lemahnya, pernapasannya.
Dia terperangkap dalam bola air dan praktis tidak bisa bernapas.
Apa yang bisa Laju lakukan?
Tidak ada.
Mau bagaimanapun dia bergerak mengusir dan melepaskan bola air itu dengan
cara apapun, bola ini tetap menyelimuti kepala Laju.
Delphia yang panik berusaha membantu Laju dengan segala cara.
“Kamu yakin? Ingin menyentuh bola air dengan tanganmu yang membeku
seperti itu?” Tanya Aaron dengan polos. “Oh, tidak! Aku paham. Jadi kamu memang
dari awal yang ingin menyelesaikan urusanmu dengan bocah Laju ini, ya? Wahhh!?”
seru Aaron dengan antusias. “Lanjutkan saja! Bekukan saja bocah ini!!”
Tidak. Delphia menggeleng. Dia ingin membantu Laju dari kesesakannya.
Tapi, apa yang bisa dia lakukan? Dia tidak bisa menyentuh Laju dengan tangan
esnya. Delphia panic dan berteriak dengan suara-suara gelisahnya.
Laju yang kesadarannya hampir menghilang sekilas mengingat mimpi Delphia
kemarin, ketika dirinya mengehembuskan napas terakhirnya di kota aneh ini.
Tidak. Mimpi itu bercerita bahwa dirinya mati ditimbun bangungan yang rubuh.
Bukan tenggelam dalam bola air seperti ini.
Pengelihatannya mulai kabur. Delphia masih terlihat panik tidak bisa
berbuat apa-apa. Laju perlahan mengingat lagi banyak hal. “Heh!” dengusnya
tanpa suara.
Kenapa dia harus mempercayai mimpi itu, sih?
Dan detik berikutnya, Laju tidak bergerak lagi, menutup matanya, gelap,
dan dingin.
Brrbrbrb!
Syuuut!
“Tenang saja. Dia hanya pingsan. Air di paru-parunya juga sudah aku
angkat. Ini hanya peringatan saja. Anak seperti itu harus diberi pelajaran
cepat atau lambat,” ucap Aaron dengan air yang bermain di atas telunjuknya.
Delphia masih mengucurkan air matanya.
Sambil melihat Laju yang tidak sadarkan diri, Delphia mengeluarkan emosi
yang amburadul. Bahkan tangisannya pun gabungan antara kesedihan dan kelegaan.
“Kenapa kamu begitu peduli dengan bocah ini?” tanya Parker.
Delphia tidak menjawab.
Perasaan dan mentalnya belum siap. Dia masih terkejut dengan semua keanehan
yang terjadi barusan. Tapi, meskipun hati Delphia sudah membaik pun dia tidak
akan bisa menjawab. Dia tidak bisa berbicara.
“Oh iya. Kamu betulan tidak bisa berbicara, ya?”
“Lalu sekarang bagaimana? Urusan menjadi repot begini karena tamu yang kamu
bawa, Iris!” kesal Audy.
“Hei tukang perusak perabotan. Diam saja kamu. Ini baru awal saja.
Perkenalan memang belum berarti apa-apa. Lagipula lihat saja Parker. Apakah dia
terlihat terganggu dengan keberadaan mereka?”
“Bagaimana nih, Parker?”
Sementara Iris dan Audy saling berceloteh satu sama lain. Mereka
mengembalikan keputusan kepada ketuanya, Parker Bullstone, yang masih berdiam
diri mengamati.
“Tapi kamu masih bisa menjawab dengan anggukan atau gestur lainnya kan!?”
Tanya parker yang perlahan ikut menunduk dan dijawab oleh Delphia yang
menangguk
“Tenang saja. Semuanya baik-baik saja. Kamu selama ini tinggal di dunia
manusia, ya? Itu pasti sangat merepotkan. Kalau untuk urusan manusia, kita
memang memiliki perasaan yang sama. Aku yakin itu,” seru Parker sambil mengelus
Delphia yang bereaksi setelah membicarakan manusia.
“Kamu memiliki banyak memori buruk dengan manusia, ya? Tapi entah
bagaimana kamu tetap melindungi bocah ini. Pasti ada alasan di baliknya. Saya
bisa pahami itu. Kalau kamu memang ingin dia hidup, kita tidak akan
mengganggunya.”
Delphia kembali lebih tenang.
“Kami tidak mungkin mengganggu kehidupanmu, tuan putri. Meskipun saya
tidak tahu kamu berasal dari kerajaan mana, tapi jangan lupakan kalau ini sudah
bukan wilayahmu lagi. Meskipun kami tetap menghormatimu, kami masih memiliki
aturan disini,” ucap Parker yang lebih terkesan pada ancaman daripada sebuah
peringatan.
Delphia mengangguk menjawab perkataan Parker.
“Tenang saja. Kita masih seorang teman, seorang sekutu, seorang yang bisa
dipercaya. Kelompok kami pun bukannya kelompok illegal yang aneh-aneh. Tapi
sebelum itu,” Parker mengangkat dan menggotong Laju. “Hup! Biarkan kami urus
bocah ini. Kamu bisa berisitrahat dimanapun kamu mau,” ucap Parker dengan
bijaksana, dengan senyuman yang sangat menenangkan hati.
__ADS_1
Dan dengan begitu, Parker membawa Laju ke tempat yang sudah disediakan
untuk orang yang butuh tatakrama seperti ini. Dimana? Penjara lah jawabannya.