Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 19


__ADS_3

Setelah 15 menit mereka berjalan menuju barat melintasi kota yang padat


penduduk, menyebrangi jalan raya dengan kendaraan yang berlalu lalang melayang,


melewati berbagai macam toko dengan pemilik dan pengunjung yang sama garangnya,


menemani sang wanita mengantar ‘sang kakak’ dan kawannya yang tak sadarkan diri


pada salah satu gang yang mencurigakan, dan tidak sengaja melangkahi


gelandangan yang tidur sembarangan.


Laju dan Delphia akhirnya bisa berhenti beristirahat setelah sang wanita


menunjukkan gedung tempat tujuannya. Gedung yang menjulang tinggi yang


samar-samar Laju kenali berdasarkan penampakan dan suasananya.


Jawabannya adalah pemukiman dan kediaman Bos Alex.


Dimulai dari banyak gelandangan memprihatinkan yang Laju lewati barusan,


juga dengan kondisi gedung yang – meskipun terlihat lebih modern, terlihat


kotor tidak terawat. Meskipun sebenarnya gedung ini tidak ada bedanya dengan


aristektur lainnya di kota, Laju menganggap bahwa ada sesuatu yang penting di


dalam gedung ini.


Pertama, karena pengalamannya dengan Bos Alex yang membuatnya bisa


melihat bongkahan emas diantara sampah yang terbuang. Kedua, karena wanita


misterius inilah yang membawa mereka kesini.


Sudah pasti ada hal penting yang akan mereka temui berikutnya.


Tapi, Laju tetap penasaran.


Wanita ini sendiri yang bilang bahwa dirinya bukanlah bagian dari


pemerintahan atau tim evakuasi untuk membantu insiden ledakan pada kereta.


Meskipun tidak terlihat jahat – selain pukulannya yang membuat Laju terbanting


tersengat, wanita ini juga tidak terlihat seperti orang suci yang memegang


teguh keadlian dan kebenaran.


Jadi, siapa yang akan mereka temui?


Apakah bisa Laju percayai?


Apakah mereka bisa membantu Laju?


Apakah orang-orang ini tergolong manusia yang bisa Laju pikat dengan


semua kekayaan uang-uangnya serta pesonanya untuk patuh mengkuti semua perintah


Laju?


Tunggu, mereka bukan manusia, kan?


Tapi tetap saja. Fokusnya masih sama untuk bisa bernegosiasi – seperti


halnya dengan pegawai di tempat bimbingan, untuk membantunya pulang dari kota aneh


ini.


Sambil mengikuti sang wanita untuk memasuki gedung, Laju berusaha untuk


tetap fokus mendinginkan kepala dan berpikir berusaha menemukan jalan keluar


yang terbaik.


Meskipun berjalan di lorong gelap dengan penerangan lampu neon yang


sarat, melewati meja resepsionis dengan banyak poster dan pengumuman dari


bahasa yang tidak bisa dipahami, hingga melewati ruangan penuh monster-monster


aneh, Laju masih bisa memfokuskan pikirannya untuk terus berpikir.


Sampai mereka harus menaiki tangga, Laju terpeleset oleh sebuah genanga


air di lantai dan terjatuh begitu saja. Tidak seperti kebanyakan orang, tidak


ada yang tertawa melihat kejadian ini. Laju sedikit bersyukur rasa malunya


masih bisa diredam, dan bukan menjadi tontonan orang.


Seperti biasa, Delphia pergi menolong Laju yang terjatuh dari tangga itu.


“Wa, waduh! Ma, maafkan sa-saya! Sa, saya ti-tidak hati-hati da-dalam


me-mengepel la-lantai i-ini,” ucap seorang monster yang gagap, yang lebih


pendek dari Laju, bahkan dari Delphia dengan tinggi sekitar satu meter, dengan


perawakan kurus kerempeng berwarna merah pekat, yang merespon bereaksi


menyimpan ember, dan pergi menolong Laju.


“Ugh!” Seru Laju dalam sakit pada tubuhnya yang kesekian ini.


Ketika Laju ingin berdiri, baik tolongan Delphia maupun sang monster


merah ditolak mentah-mentah, bahkan hingga ditamparnya dengan keras.


“Apa-apaan sih!? Tidak bisa kerja yang benar, apa!? Mengepel lantai saja


masih becek begitu? Ini bahaya loh? Bagaimana jika orang sampai mati karena


ulahmu, cacat!?” Marah Laju kepada sang monster merah yang sekarang merenung


menundukkan kepalanya.


“Ma-maafkan sa-saya ka-karena ti-tida…”


“Mau minta maaf saja tidak becus begitu!? Lagipula lihat nih tangan


saya!” Bentak Laju sambil memperlihatkan tangannya yang merah memar. “Apakah


kau pikir dengan maaf memar ini bisa sembuh!? Hah!? Jawab dong!”


“I-iya ti-tidak mu-mungkin bi-bisa… ma-maaf,” lanjut sang monster merah


lagi.


“Maaf lagi? Sudah dibilang maaf itu tidak penting! Ah! Menyebalkan!


Kerja saja tidak becus!” Lanjut Laju yang masih membentak sambil mengelus


tangannya yang memar tadi – yang sebenarnya tidak terjadi karena dirinya yang


jatuh barusan.


BUG!!


Sang monster yang masih murung disenggol dengan sengaja oleh Laju hingga


terjatuh tidak kuasa.


“Awas!! Mengganggu saja!” Bentak Laju lagi sambil berjalan menaiki


tangga.


Sang Wanita yang melihat insiden tersebut tertawa saja mendengar


bentakkan Laju kepada sang monster merah tersebut. “Hahaha!” Tawanya dengan


lepas tanpa memprotes apapun yang Laju marahi kepada sang monster.


Laju pun tidak berkomentar selain tertawa kecil dengan puas kepada diri


sendiri.


Meskipun kejadian hari ini memang merepotkan, tawa kecil itu sangat


tulus. Sangat tulus hingga perasaan dan suasana hati Laju membaik dengan


drastis.


Selanjutnya, mereka kembali menaiki tangga menuju destinasi yang dituju


oleh sang wanita dan melupakan kejadian dengan monster merah barusan.


Setelah sampai di lantai empat, mereka berhenti dan berbelok menuju


lorong besar dengan sebuah karpet merah yang menuju pintu lebar di ujungnya.


Laju terperanjat. Dengan lorong yang semegah ini, apakah seorang yang


akan ditemuinya sangatlah penting? Perasaannya mulai bergairah karena


ketidaksabarannya. Apakah mungkin dia harus berlaku baik selayaknya bertemu Bos


Alex pertama kali? Perilaku apa yang harus diperlihatkannya sehingga dapat


memelas orang penting tersebut?


Tapi, begitu Laju masih bingung dengan pikirannya sendiri, di tengah


perjalanan menuju pintu lebar di atas karpet merah, mereka justru belok ke


kanan menuju sebuah ruangan yang lebih sederhana yang tidak tertutup sama


sekali.


“Loh!? Saya pikir kita akan-” Laju yang kebingungan masih melirik kanan


kiri membandingkan pintu megah impiannya yang berada di depannya, dengan pintu kecil


di kanannya sambil menunjuk tidak paham.


Tidak ada jawaban.


Sang wanita berjalan saja menuju ruangan dengan polos tanpa menghiraukan


pertanyaan Laju. Delphia yang tidak berbicara pun sebenarnya sama kagetnya


dengan Laju, tapi dia tetap diam dan mengikuti Laju berdiam di lorong belum


memasuki ruangan.


Sampai akhirnya sang wanita menghilang di dalam ruangan, mereka pun


menyusul.


“Iris? Kamu datang dari pintu depan rupanya?” Ucap suara yang berat.


“Ya. Aku membawa tamu untukmu, Parker. Aku pikir mereka…, dia,


sepertinya bisa berguna untuk kita,” ucap suara sang wanita.


“Wah, wah! Kita punya teman baru!? Asiikkkk! Kapan kita-”


“Audy?”


“Pa-parker!? M-maaf,” ucap seorang yang lebih cempreng


“Jadi dimana tamumu itu, Iris?” lanjut suara yang pertama, yang berat tadi.


Laju dan Delphia bukannya menunggu waktu untuk dipanggil seperti ini.


Tapi, entah mengapa Laju belum ingin masuk setelah dirinya dikhianati karena


mereka tidak jadi memasuki pintu idamannya yang megah ini. Bahkan, setelah


dipanggil pun Laju masih menungu beberapa saat hingga akhirnya memutuskan masuk


ke ruangan.


“Heh! Aku bukan datang masuk kesini bukan karena dipinta, ya!” Ucap Laju


malas, dengan tatapan dingin, muka yang masam, disusul oleh Delphia yang masih


gelagapan.


Begitu mereka memasuki ruangan, sang pemilik suara berat ternyata sedang


duduk santai, dengan perawakan yang cukup besar. Pemilik suara tersebut


tersenyum di atas mejanya yang terdapat papan nama bertuliskan ‘Parker

__ADS_1


Bullstone’ memberikan impresi yang baik bagi Laju dan Delphia sebagai orang


asing di ruangan ini.


Ruangan diisi oleh enam orang dengan Laju dan Delphia. Meskipun begitu,


ruangan ini tidak terlihat pengap dan penuh. Ruangan ini justru terlihat sangat


besar dan luas. Apakah ruangan ini terhubung dengan pintu megah sebelumnya di


lorong?


Bisa jadi. Pintu ruangan ini berada di pertangahan lorong, atau mungkin


lebih jauh sedikit. Apa yang persis berada di depan pintu yang tidak tertutup


ini hanyalah dinding. Posisi Parker dengan meja utamanya berada di sisi kiri


yang langsung berpapasan dengan jendela dan dunia luar. Ditambah dengan jarak


antara Laju yang berada di depan pintu masuk dan posisi Parker yang berada di


ujung ruangan memiliki jarak yang cukup jauh, itu dapat mewakili pintu megah


barusan memang terhubung dengan ruangan ini.


Laju melihat ke sekeliling, kalau begitu dimanakah pintu tersebut


berada?


Dia sulit melihatnya dari posisi ini. Butuh eksplorasi yang lebih


mendalam lagi jika dia ingin mencari pintu lebar megah yang terhubung dengan karpet


merah di lorong tadi.


“Selamat datang, dik. Siapa nama kalian?” Tanya parker lemah lembut.


Laju yang masih melihat sekeliling kini mulai memfokuskan lagi


pandangannya untuk melihat Parker di ujung ruangan dekat jendela. Meskipun


perawakannya yang besar dan ditambah taring dan tanduk aneh itu, Laju tidak


terlihat takut sedikit pun.


Bahkan, Laju bersikap sedikit angkuh karena dia pernah mengalahkan orang


yang jauh lebih besar dari monster di depannya yang masih duduk tersenyum,


yakni sang kakak.


“Laju. Laju pratama,” jawabnya sambil menyilangkan tangannya di dadanya.


“Lalu yang satunya? Siapa namamu, gadis cantik?”


“Namanya Delphia. Dia tidak bisa berbicara,” lanjut Laju.


Delphia dan Parker yang mendengarnya cukup kaget. Dari ekspresinya,


Delphia bukannya kecewa atau yang semacamnya. Dia hanya kaget Laju bersedia


menjawab pertanyaan tersebut terlepas dari perilakunya kepadanya selama ini.


Untuk Parker, dia terkejut terhadap kondisi Delphia yang tidak bisa berbicara,


juga kepada Laju yang bersedia menjawab untuknya, terlepas dari silangan


tangannya.


“Wah…, begitu rupanya. Meskipun tidak bisa berbicara, nampaknya kamu


bisa memahami Delphia dengan cara lain ya, Ju? Saya cukup terkejut. Hubungan


kalian pasti sangat akrab,” lanjut Parker yang mulai bangkit dari duduknya dan


mulai menunjukkan postur tubuh aslinya – yang sangat tegak, tegap, kekar, dan


besar.


“Dekat? Ahaha, tidak. Tidak sama sekali,” jawab laju dengan tawanya yang


mengejek.


Delphia dan Parker lagi-lagi terkejut. Delphia yang terkejut mendengar


jawaban Laju tersebut merasakan hatinya teriris sangat sakit. Dia pun murung


kembali. Parker pun terkejut karena apa yang dia dengar dari jawaban Laju dan


lihat dari hubungan kedua bocah ini nampaknya sangat bertentangan.


“Hooo…” respon Parker yang paham bahwa bocah ini perlu diberi pelajaran.


“Begini. Langsung saja pada intinya. Setelah survei yang saya lihat


tentang kalian, nampaknya kalian sebuah organisasi yang cukup ternama untuk melakukan


banyak hal-hal berbahaya dengan bebas, ya? Bagaimana jika kita melakukan


kesepakatan? Jangan khawatir, saya bukanlah manusia biasa dan akan melakukannya


dengan mudah. Dan sebagai balasannya, kalian cukup melakukan hal yang


sederhana. Bisakah wanita itu bawa aku untuk pulang? Dia bisa membawaku kesini


artinya bisa membawaku pulang juga, kan? Apakah kalian paham maksud yang aku


berikan?” Tanya Laju dengan angkuh, dengan tangan yang masih terlipat.


Tung!


Sebuah kelereng yang lembut ditembak ke arah kepala Laju dari arah


kanan.


Disana, ada seorang lelaki dengan perawakan biru dan memiliki insang.


Laju awalnya ingin berontak mempertanyakan aksinya yang menyebalkan tersebut.


Tapi, itu tidak penting dan hanya akan melelahkannya saja. Lebih baik dia fokus


saja pada percakapan ini tentang bagaimana dia bisa pulang.


“Ahaha. Begitu rupanya. Jadi kamu mau pulang? Dan meminta bantuan kepada


“Bagaimana? Itu pekerjaan mudah kan untuk kalian?”


“Pertanyaanya bukan mudah atau tidak. Tapi kenapa kita harus membantumu?


Tidak ada alasan bagi kami untuk membantu, kan?”


“Ya. Itu tidak masalah. Saya sudah menyiapkan jawabannya. Pertama, saya


adalah anak penting di dunia normal yang penuh manusia, bukan penuh monster


seperti ini. Jika kalian berhasil membantuku pulang, akan saya beri imbalan


yang tidak bisa kalian perkirakan besarnya. Bahkan, mungkin bisa memperbaiki


kemiskinan di kota ini.”


“Wah, itu penawaran yang baik juga. Kamu rupanya anak yang tidak biasa,


ya”


“Heh! Itu sudah pasti!”


Tung!


Sebuah kelereng lain ditembakkan.


“Tapi saya tetap tidak menemukan alasan yang lebih baik untuk keuntungan


kami sendiri, karena uang bukanlah tujuan utama kami. Kamu lihat ini?” Tanya


Parker yang memperlihatkan tangannya sedang melakukan sesuatu.


Tik!


Dengan jentikkan jarinya, muncul banyak lembaran uang dari balik tangan


Parker.


“Uang? Kamu bilang bisa membeli kita dengan uang? Seberapa banyak?


Apakah lebih banyak dari ini?” Tanya Parker sambil memamerkan lembaran kertas


yang sekarang membanjiri ruangan.


“Hihihihi!” tawa seorang dengan cempreng dari kirinya. Itu Audy.


Wushh.


Parker melambaikan tangannya, memantapkan posturnya lagi, dan semua uang


itu terbakar menghilang.


“Baiklah. Kalau kalian memang tidak membutuhkan sesuatu untuk aku


lakukan dan berikan, bagaimana jika kita tentukan dengan hukum alam? Saya akan


mengajukan duel denganmu Parker. Yang kalah harus mematuhi yang menang. Itu


tampak lebih adil, kan? Untuk kota yang dipenuhi monster, sudah wajar nampaknya


hukum alam diperlakukan, kan?”


“Bagaimana jika saya menang?”


“Heh! Itu terserah. Tapi jangan bermimpi karena itu tidak mungkin! Saya


pernah melawan seorang yang lebih besar dari tubuhmu dan menang telak.


Pertandingan ini pasti akan mudah,” ucap Laju.


Tung!


Lagi-lagi Laju diganggu oleh lemparan kelereng.


Parker terkejut sedikit. Melihat menoleh kepada Iris, dan Iris


memberikan persetujuan dan anggukan bahwa itu memang betul terjadi. Parker


menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahunya tanda tidak percaya.


“Hahaha. Baiklah kalau begitu. Apakah kamu sudah, siap?”


“Tentu saja!” Jawab Laju dengan percaya diri.


“3…2…” Ketika hitung mundur belum sudah diumumkan, sebuah sentilan


dilempar oleh Parker dengan sangat jelas.


Laju tidak kaget dengan hitung mundur yang dicurangi. Dia lebih waspada


kepada gestur jari yang terlihat sedang menyentil tersebut.


Dengan refleksnya yang baik, Laju langsung memosisikan dirinya


menghindari arah proyektil yang kemungkinan dilewati oleh arah serangan


sentilan tersebut.


Tapi, sentilan tersebut bukanlah serangan proyektil. Melainkan serangan


angin yang memberikan tekanan kuat pada Laju. Jendela memang dibuka. Tapi,


angin dan tekanan yang Laju perlahan alami sangatlah terjadi tidak natural.


Angin darimana ini?


Laju sedikit kesulitan dengan tekanan ini yang perlahan menekan dan mendorongnya.


Tapi, akhirnya Laju sadari kelemahan serangan dari tekanan angin tersebut.


Dengan mudah, Laju bergeser memindahkan tubuhnya sedikit untuk menghindari lajur


serangan ini sehingga bisa terbebas dari tekanan dan dorongan angin tersebut.


Tapi, begitu Laju menggerakkan badannya untuk menghindar, dari


sampingnya sudah terlihat perawakan Parker yang siap memberikan pukulan kuat


dengan ancang-ancang yang sangat sempurna. “Secepat ini!?” Laju bertanya bukan

__ADS_1


pada siapapun.


Laju pun berusaha menghindari pukulan yang datang tersebut dengan memutar


dirinya ke samping sehingga yang dipukul Parker hanyalah angin dan bayangannya


saja.


Setelah Laju bisa menghindari dengan mudah, Laju menyiapkan dirinya lagi


dalam posisi bertahan dengan cepat untuk bersiap terhadap serangan berikutnya.


Tunggu. Ada perasan aneh di sampingnya. Ada serangan?


Itu Parker!?


Sejak kapan!?


Bukankah barusan Parker masih berada di depannya sedang melakukan


serangan?


Laju tidak bisa bereaksi lebih cepat. Dia harus menahan pukulan ini


dengan kedua tangannya, menyilangkan keduanya, melindungi tubuhnya


Dan ketika Laju sudah bersiap untuk dampak yang akan diterimanya dari


pukulan tersebut, konsentrasinya pecah lagi.


“Oh, jadi kamu memiliki refleks yang cukup baik, ya?” Tanya Parker dari


atas mejanya.


Ya. Parker sedang duduk santai di atas mejanya, tidak bergerak sedikit


pun. Laju yang masih menyilangkan kedua tangannya bersiap pada dampak serangan


Parker merasa bingung pada realita yang sebenarnya terjadi.


Harusnya, Laju sudah berada jauh di belakang ruangan.


Tapi, Laju sebenarnya tidak bergerak dari tempatnya ketika sedang


berbicara dengan Parker. Dia berdiri dengan canggung, dengan Delphia yang


kebingungan, dengan suasana ruangan yang sama sekali tidak berubah.


Tung!


Lemparan kelereng lain merangsang kesadaran Laju.


“Haaah dasar manusia. Selalu saja egois dan merasa paling benar. Aaron, kau


urus bocah ini, ya?” seru Parker yang sekarang bersiap kembali duduk.


“Baik!” Sebut Aaron, makhluk dengan perawakan biru dan insang yang kemudian


bangkit dari sofanya yang sekarang pergi menghadap Laju.


Sriiiing!


Seketika, suasana ruangan menjadi dingin, sangat dingin, seperti


membeku.


Sebelum semua orang kebingungan, ternyata jawabannya ada di depan Laju.


Delphia, yang baru saja hatinya terasakiti oleh Laju, sekarang pergi ke


depan Laju, menghalau Aaron untuk berbuat sesuatu pun kepada bocah arogan ini.


“Fiuu….!!” Siul Parker yang melihat penampakan Delphia yang sudah


berubah ini.


Bagaimana tidak? Delphia yang menghalau Aaron dan sedang melindungi Laju


sedang melepaskan kekuatannya. Rambutnya berubah menjadi putih, matanya menjadi


berlian cantik, dengan lantai tapakan dan sekitarnya kini membeku perlahan.


“Inilah maksudku dari awal, Parker. Bukan bocah itu.” Sebut Iris


“Ya. Kamu benar. Perempuan ini memiliki sesuatu yang besar. Sayangnya


dia melindungi bocah tidak berguna itu.”


Laju yang perlahan menyadari dirinya malah dilindungi gadis aneh


tersebut marah besar karena merasa dirinya diganggu. “Apa sih!? Awas!


Pertarungan belum selesai!” Laju mengusir Delphia dan menatap Aaron untuk


melawannya sepenuh hati.


“Hmmm,” ucap Aaron malas. “Kamu memiliki refkels yang bagus. Tapi, bisa


apa kamu melawan ini?” Tanya Aaron sambil mengangkat telunjuknya kepada Laju,


Sebelum Laju siap merespon, muncul bola air di atas telunjuk Aaron, yang


berpindah ke depan muka Laju yang perlahan membesar dan sekarang malah meliputi


seluruh kepalanya, menenggelamkannya. Dia tidak bisa menghindari serangan ini. Serangan


ini menyerang Laju langsung kepada titik lemahnya, pernapasannya.


Dia terperangkap dalam bola air dan praktis tidak bisa bernapas.


Apa yang bisa Laju lakukan?


Tidak ada.


Mau bagaimanapun dia bergerak mengusir dan melepaskan bola air itu dengan


cara apapun, bola ini tetap menyelimuti kepala Laju.


Delphia yang panik berusaha membantu Laju dengan segala cara.


“Kamu yakin? Ingin menyentuh bola air dengan tanganmu yang membeku


seperti itu?” Tanya Aaron dengan polos. “Oh, tidak! Aku paham. Jadi kamu memang


dari awal yang ingin menyelesaikan urusanmu dengan bocah Laju ini, ya? Wahhh!?”


seru Aaron dengan antusias. “Lanjutkan saja! Bekukan saja bocah ini!!”


Tidak. Delphia menggeleng. Dia ingin membantu Laju dari kesesakannya.


Tapi, apa yang bisa dia lakukan? Dia tidak bisa menyentuh Laju dengan tangan


esnya. Delphia panic dan berteriak dengan suara-suara gelisahnya.


Laju yang kesadarannya hampir menghilang sekilas mengingat mimpi Delphia


kemarin, ketika dirinya mengehembuskan napas terakhirnya di kota aneh ini.


Tidak. Mimpi itu bercerita bahwa dirinya mati ditimbun bangungan yang rubuh.


Bukan tenggelam dalam bola air seperti ini.


Pengelihatannya mulai kabur. Delphia masih terlihat panik tidak bisa


berbuat apa-apa. Laju perlahan mengingat lagi banyak hal. “Heh!” dengusnya


tanpa suara.


Kenapa dia harus mempercayai mimpi itu, sih?


Dan detik berikutnya, Laju tidak bergerak lagi, menutup matanya, gelap,


dan dingin.


Brrbrbrb!


Syuuut!


“Tenang saja. Dia hanya pingsan. Air di paru-parunya juga sudah aku


angkat. Ini hanya peringatan saja. Anak seperti itu harus diberi pelajaran


cepat atau lambat,” ucap Aaron dengan air yang bermain di atas telunjuknya.


Delphia masih mengucurkan air matanya.


Sambil melihat Laju yang tidak sadarkan diri, Delphia mengeluarkan emosi


yang amburadul. Bahkan tangisannya pun gabungan antara kesedihan dan kelegaan.


“Kenapa kamu begitu peduli dengan bocah ini?” tanya Parker.


Delphia tidak menjawab.


Perasaan dan mentalnya belum siap. Dia masih terkejut dengan semua keanehan


yang terjadi barusan. Tapi, meskipun hati Delphia sudah membaik pun dia tidak


akan bisa menjawab. Dia tidak bisa berbicara.


“Oh iya. Kamu betulan tidak bisa berbicara, ya?”


“Lalu sekarang bagaimana? Urusan menjadi repot begini karena tamu yang kamu


bawa, Iris!” kesal Audy.


“Hei tukang perusak perabotan. Diam saja kamu. Ini baru awal saja.


Perkenalan memang belum berarti apa-apa. Lagipula lihat saja Parker. Apakah dia


terlihat terganggu dengan keberadaan mereka?”


“Bagaimana nih, Parker?”


Sementara Iris dan Audy saling berceloteh satu sama lain. Mereka


mengembalikan keputusan kepada ketuanya, Parker Bullstone, yang masih berdiam


diri mengamati.


“Tapi kamu masih bisa menjawab dengan anggukan atau gestur lainnya kan!?”


Tanya parker yang perlahan ikut menunduk dan dijawab oleh Delphia yang


menangguk


“Tenang saja. Semuanya baik-baik saja. Kamu selama ini tinggal di dunia


manusia, ya? Itu pasti sangat merepotkan. Kalau untuk urusan manusia, kita


memang memiliki perasaan yang sama. Aku yakin itu,” seru Parker sambil mengelus


Delphia yang bereaksi setelah membicarakan manusia.


“Kamu memiliki banyak memori buruk dengan manusia, ya? Tapi entah


bagaimana kamu tetap melindungi bocah ini. Pasti ada alasan di baliknya. Saya


bisa pahami itu. Kalau kamu memang ingin dia hidup, kita tidak akan


mengganggunya.”


Delphia kembali lebih tenang.


“Kami tidak mungkin mengganggu kehidupanmu, tuan putri. Meskipun saya


tidak tahu kamu berasal dari kerajaan mana, tapi jangan lupakan kalau ini sudah


bukan wilayahmu lagi. Meskipun kami tetap menghormatimu, kami masih memiliki


aturan disini,” ucap Parker yang lebih terkesan pada ancaman daripada sebuah


peringatan.


Delphia mengangguk menjawab perkataan Parker.


“Tenang saja. Kita masih seorang teman, seorang sekutu, seorang yang bisa


dipercaya. Kelompok kami pun bukannya kelompok illegal yang aneh-aneh. Tapi


sebelum itu,” Parker mengangkat dan menggotong Laju. “Hup! Biarkan kami urus


bocah ini. Kamu bisa berisitrahat dimanapun kamu mau,” ucap Parker dengan


bijaksana, dengan senyuman yang sangat menenangkan hati.

__ADS_1


Dan dengan begitu, Parker membawa Laju ke tempat yang sudah disediakan


untuk orang yang butuh tatakrama seperti ini. Dimana? Penjara lah jawabannya.


__ADS_2