
Pulang sekolah, Laju duduk diam di tongkrongan favoritnya bersama temannya.
Beruntung, untuk kasus yang ini mereka masih belum meninggalkan Laju seorang
diri. Mereka masih bersedia bermain, menghabiskan waktu bersama, meskipun hanya
untuk menonton kendaraan yang berlalu lalang, atau bahkan termenung menunggu
senja.
Tapi, kondisi Laju tidak serta merta membaik begitu saja. Setidaknya,
ada beberapa hal yang menjadi perhatiannya sekarang. Mimpi apa yang muncul
semalam? Apakah ada hubungannya dengan perempuan berambut putih di taman? Dan
yang paling penting adalah apa yang harus dia lakukan untuk menyelesaikan
masalah akademi ini?
Dia yakin dia telah dicurangi. Dia tidak melakukan kesalahan apapun yang
bisa membuat namanya tercoreng.
Atau dia memang pernah melakukannya? Dia tidak ingat.
Yang pasti, daripada memusingkan hal ini seorang diri di sekolahan,
lebih baik dia mampir saja ke tongkrongan favoritnya – meskipun sebenarnya tempat
ini tidak menjamin juga Laju akan mendapatkan solusi dengan cepat. Keduanya
bukan lokasi yang cocok untuk termenung, menggigit jari, dan memikirkan masa
depan.
Tapi apa lagi yang bisa Laju pilih?
“Ada apa dengan Laju? Tumben dia seperti orang kebingungan,” sebut temannya
yang memakai kaus hitam yang sedang memilih gorengan.
“Hah? Tumben kamu peduli. Ada apa? Uangnya kurang?” seru siswa di
sampingnya. “Seperti biasa, bu. Atas nama Laju, ya. Saya pesan mie kuah jumbo
spesial dan es jeruk.”
“Nah itu dia masalahnya. Kalau suasana hatinya buruk, bisa jadi ktia tidak
bisa makan siang disini, kan? Itu berbahaya. Aku tidak ingin hari ini berakhir
begitu cepat hanya karena suasana hatinya yang labil.”
Temannya yang berkacamata melihatnya pelan. “Dia baru saja diberitahukan
bahwa surat undangannya ke akademi telah diangkat. Entahlah apa dia gagal atau
dia melakukan kesalahan, pokoknya dia sekarang frustasi. Atau itu yang aku
dengar dari gosip anak-anak. Aku juga tidak begitu paham.”
Siswa dengan baju hitam tadi mengerutkan jidatnya. Dia berusaha menyimak
dan memproses informasi yang baru datang tersebut. Apakah itu berita baik?
Apakah itu berita buruk? Dia tidak begitu tahu, tapi dia berhenti peduli. Baru
setelahnya, dia bereaksi. Tapi reaksinya justru sangat menyebalkan.
“Hahahahaha!” Dia tertawa puas. “Ha-hahaha!” Sampai hampir kehabisan napas.
Seisi warung teralihkan perhatiannya pada tawa tersebut, kecuali Laju
yang masih kebingungan. Ada beberapa yang penasaran, juga terganggu. Tapi, pada
akhirnya tidak ada yang begitu peduli dan kembali melanjutkan aktivitasnya
masing-masing.
“Apa yang kamu tertawakan?”
“Tidak,” dia mengusap dadanya, berusaha napas normal kembali. “Aku
hanya…, menanggap beritu itu lucu saja. Entahlah kenapa. Hanya lucu. Begitu
lucu untuk seorang yang sangat sempurna seperti Laju,” lanjutnya. “Berita itu
seperti…, mimpi orang-orang menjadi nyata, kan?” Dia menepuk bahu temannya.
“Hati-hati kalau berbicara. Aku tidak begitu ingin meladeni Laju jika
sifat aslinya mulai keluar. Uang jajanku minggu ini sangat menyedihkan. Aku
tidak ingin makan rumput,” jawabnya sambil menurunkan tangan temannya yang
bersandar.
“Apa? Aku tidak bisa begitu melihat sifat Laju sangat membahayakan.
Keras kepala? Egois? Sombong? Atau marahnya yang tidak terkendali? Tenang saja.
Dibiarkan beberapa hari juga dia akan kembali. Dia membutuhkan kita.”
“Kamu membutuhkan dia. Aku membutuhkan dia. Kita membutuhkan Laju.
Orang-orang membutuhkan uang dan reputasinya. Aku tidak ingin mengkahiri
hubungan ini terlalu cepat. Aku masih cinta hidupku sendiri,” ucapnya sambil
mengambil nampan yang diberikan oleh ibu penjaga warung.
“Silahkan, nak. Pesanannya sudah siap!” sebutnya dari balik meja konter.
Mereka pun pergi ke depan tempat Laju masih termenung. Mulai duduk rapi,
menyuap, menyeruput, menikmati makanan gratisnya.
“Kamu tidak makan, Ju?” Tanya sang kacamata, membuka pembicaraan.
Tapi Laju tidak merespon selain menoleh dengan mata sinisnya. Dia masih
sangat kebingungan memikirkan solusi dan jalan untuk menyelesaikan masalahnya.
Dia frustasi. Sangat frustasi. Siapa yang tidak? Ketika tahu masa depan sudah dicuri
begitu saja.
Percakapan baru terdengar lagi ketika makanan separuh habis. “Aku dengar
kamu sedang mengalami hari yang buruk, Ju. Aku tidak begitu paham bagaimana
kondisinya dan bagaiman perasaanmu sekarang. Tapi bagaimana jika kita bermain
di tempat Bos Alex? Mungkin kamu setidaknya bisa menyegarkan diri disana,” ucap
sang kacamata dengan penuh simpati, dengan respon batuk dan semburan air dari
teman satunya.
Dia masih menganggap ini semua henya lelucon belaka rupanya.
“Aku dengar Adrian baru saja pulang dari pekerjaanya, kan? Dia pasti
punya banyak cerita yang aneh-aneh lagi. Kamu selalu mengagumi dan penasaran
dengan hidupnya di pasar gelap, kan?” Lanjutnya sambil menyuap suapan terakhir
makanannya. Sang kacamata tahu bagaimana membujuk Laju.
__ADS_1
“Oh dia sudah pulang? Wah aku juga rindu dengannya! Berapa lama? Tiga
bulan sejak terakhir bertemu?”
Awalnya, mereka berpikir Laju masih tidak bisa dibujuk. Suasana hatinya
masih buruk. Tapi setelahnya, perlahan kepala Laju miring dan melihat ke
langit. “Boleh juga,” ucapnya. “Ayo jemput Fadli dulu!”
“Betul juga. Kacung itu akhir-akhir ini berlagak, ya!”
***
Ngeek!
Pintu besi usang dibuka oleh Laju. Setelahnya, mereka sudah berada di
gang kecil yang sangat gelap, kumuh, bau, dan apapun yang tidak ingin kalian
pikirkan.
Tempat ini diisi oleh kelompok masyarakat yang dibuang oleh keluarganya
sendiri, kehilangan tempat tinggal, kehilangan moral dan akal sehat, berusaha
bertahan hidup dengan caranya masing-masing.
Meskipun suasana yang ditawarkan tempat ini sangatlah mencekam,
berbahaya, dan mencurigakan. Laju dan kedua temannya sama sekali tidak gentar
melewati daerah ini kecuali Fadli yang sedang dirangkul oleh Laju. Entahlah apa
yang dia takuti. Apakah orang-orang ini, atau justru Laju yang berada di
sampingnya.
Orang-orang ini dipenuhi oleh mereka yang belum mandi berbulan-bulan, penuh
debu dan lumpur, juga dari asap kendaraan atau rokok, dengan semerbak aroma
yang busuk, baik yang duduk bersandar di dinding, atau yang menghalangi jalan
tidur sembarangan.
Pada awal Laju kesini memang sedikit takut dan siaga. Wajar saja, semua
orang yang melewati tempat ini pertama kali pasti akan lari terbirit-birit
karena tidak ingin memulai atau mendekati masalah yang akan merepotkan
hidupnya.
Kondisi kali ini berbeda. Justru orang-orang yang tinggal disinilah yang
justru lari terbirit-birit ketika Laju dan teman-temannya datang. Beruntung,
hari ini mereka mendapatkan sedikit pengampunan melihat Laju yang hanya jalan
tenang, tidak tertarik melakukan apapun kepada mereka, kecuali untuk temannya
yang berkaus hitam ini.
Kaleng makanan bekas yang tergeletak di jalanan ditendangnya begitu saja
hingga mengenai pria paruh baya yang sedang menghangatkan diri di depan perapian
buatan di atas tong sampah silinder. Bukannya meminta maaf, bocah ini malah
tertawa seakan baru saja mencetak skor yang brilian. Pria ini tidak bisa
apapun, kecuali senyum tipis kepada Laju dan temannya dengan gigi yang rontok.
“A-aw-ahaha. Ha-Halo. Semoga hari kalian menyenangkan,” seru pria paruh
baya sang korban yang tetap fokus menghangatkan diri, melupakan kaleng yang baru
menuju gedung yang berada di ujung gang, setelah belokan, di belakang pintu
besi kedua
Dari penampakan luar, gedung ini sama-sama memiliki kondisi yang
mengkhawatirkan. Namun, jangan menilainya hanya dari luar saja. Kondisi
perabotan dan furnitur yang disuguhkan justru seperti hotel bintang lima. Dengan
lantai pualam, perabotan cantik yang mengkilat, akuarium besar di salah satu
sisi, televisi super besar, sofa empuk yang berjajar, hingga benda mahal
lainnya.
Inilah tempat yang disebut sebagai markas Bos Alex, tempat Laju biasa
menghabiskan waktunya selain warung makan tadi. Tentu saja orang-orang di luar
tidak ada yang tahu. Karena hanya ada rasa takut jika mereka mendekati wilayah
ini.
Lagipula, pintu ini pun tidak dibuka untuk sembarang orang.
“Oh, Laju! Selamat datang!” Seru seseorang dengan postur yang tinggi,
kekar, dengan kepala botak mengkilatnya yang sedang membukakan pintu.
Laju melangkah memasuki ruangan lebih dalam, duduk di sofa nyaman di
depan televisi yang tidak dinyalakan. Laju hanya terdiam, duduk santai, dan
menatap langit-langit. Dia masih tidak bisa menyelesaikan masalah undangan
akademi itu.
“Silahkan, teh dan kudapannya,” seru pria yang membukakan pintu tadi.
“Kalau ada apa-apa panggil saja lagi, seperti biasa.”
“Tumben markas sepi. Dimana orang-orang?” Bocah berkaus hitam
menginisiasi percakapan sambil melirik kiri-kanan.
“Beberapa masih sibuk bekerja. Sebagian sedang asik latihan di halaman
belakang.”
“Oh? Wah ikut ah! Ju, aku pinjam Fadli, ya!! Aku ingin bermain lempar
pisau lagi. Dli, awas ya kalau kamu bergerak lagi seperti kemarin!”
“Eehh? Ah, Ng!” Fadli hanya bisa mengangguk takut.
Laju yang tidak peduli hanya melihatnya dengan tatapan kosong.
Selanjutnya, ingat bahwa dia diberi kudapan, langsung ia makan dengan lahap teh
dan kudapannya.
Sesaat dia mengingat sesuatu. Dia datang kesini berharap bisa melupakan
keresahannya sehingga tidak perlu frustasi sepanjang hari. Tapi, dia sadar
bahwa hanya teh dan kudapan saja rasanya tidak cukup. Namun dia pun enggan
menonton televisi yang acaranya tidak bisa diharapkan. Tanpa pikir panjang, dia
pun pergi ke lantai dua dan mengetuk ruangan yang berada di ujung lorong bergagang
__ADS_1
pintu emas.
Tapi setelah cukup lama dia menunggu, tidak ada jawaban yang datang dari
dalam. Laju cukup kecewa dan mendecakkan lidahnya. Suasana hati buruknya malah menjadi-jadi.
Tapi dia berusaha menghibur diri. Senyum tipis palsunya dikeluarkan dengan
paksa. Mungkin saja Bos Alex sedang pergi. Baiklah, saatnya tanya kepada para
petugas apa yang sedang terjadi. Laju pun turun kembali ke lantai dasar.
“Ini berita yang sangat rahasia. Publik secara luas belum
mendapatkannya. Pemerintah masih kebingungan bagaimana menanggapinya. Tapi baru
saja ada insiden aneh yang terjadi di perbatasan. Bos Alex mendapatkannya dari
koneksi tepercaya dan sedang menjemput Adrian untuk kepastiannya,” jawab pria
botak tadi, menjelaskan kepada Laju.
Tuk tuk!
Kebetulan, terdengar ketukan pintu depan yang dengan sigap pria botak
ini buka yang ternyata sudah hadir Bos Alex dan Adrian. Suasana hati Laju pun perlahan
membaik. Meskipun keduanya sedang terlihat buru-buru, panik, kaget, dan kebingungan.
Mereka tetap mengapresiasi kedatangan Laju. “Wah, Laju! Selamat datang.
Kebetulan saya akan membahas banyak hal dengan Adrian. Mau ikut?” Tanya seorang
dengan perawakan jangkung, berumur sekitar 30-an, mata sipit, dahi yang lebar, dan
rambut pirangnya. Dialah Bos Alex.
Tentu saja
Laju ikut. Inilah alasan dia datang kesini.
Kejadian aneh yang dibicarakan sebenarnya akan diberitakan juga oleh
media. Sehingga, berita ini bukannya super rahasia. Tapi, dengan koneksi yang
dimiliki Bos Alex, mereka memiliki informasi yang lebih akurat.
Fenomena ini terjadi di perbatasan. Begitulah yang disebutkan oleh Bos
Alex, Adrian, dan sumber-sumbernya. Laju tidak begitu tahu dan paham dimana
perbatasan yang sedang dibicarakan. Dia hanya penasaran, bukannya ingin
menyelidiki kejadian tersebut. Dia lebih penasaran kepada kejadian anehnya.
Seaneh apa memangnya?
Telah terjadi sebuah bekas hantaman berbentuk kubah di rumah seseorang
yang sangat tidak natural. Salah satu alasannya, karena tidak ada benda yang
mengakibatkan kejadian tersebut bisa terjadi. Jika ada, penyebabnya adalah batu
besar yang berbentuk bola. Tapi dimana? Orang-orang tidak bisa menemukannya di
tempat kejadian. Bola dengan diameter kurang lebih 10 meter tidak mungkin bisa
pindah dengan mudah hanya semalaman, tanpa ada mesin kontraktor yang
membantunya.
Masalah berikutnya adalah, tidak ada masyarakat yang mendengar adanya
suara kontraktor yang bekerja pada malam hari. Satu-satunya suara yang mereka
dengar hanya suara hantaman, seperti ledakan, seperti suara jatuh. Tidak ada
yang lain.
Pemerintah dan media pasti akan menyebutnya sebagai kecelakaan
pembangunan. Karena, di komplek tersebut sedang ada pembangunan gedung dan
segala macam. Tapi, tentu saja itu tidak masuk akal. Jaraknya terlalu jauh. Pasti
ada alasan lain yang menyebabkan hantaman sebesar dan secepat itu. Koneksi yang
dimiliki Bos Alex pun menjelaskan bahwa ada partikel-partikel kristal ungu di
tempat kejadian yang disembunyikan oleh pemerintah, yang dicurigai sebagai benda
yang berasal dari kota terlarang.
Dan disinilah peran Adrian untuk menjawab semua hal-hal mistis tersebut.
Kenapa? Karena Adrian adalah orang yang bekerja menyelidiki hal-hal mistis dan supernatural
tersebut. Adrian bekerja dibawah pasar gelap yang selalu berinteraksi dengan
kota terlarang. Dan jawaban yang baru bisa dia berikan sejauh ini adalah,
teori-teori konspirasi itu benar.
Laju yang awalnya meragukan tentang teori-teori kospirasi itu sekarang merasakan
matanya terbuka lebar. Laju pikir pekerjaan Adrian hanya mengurusi barang
illegal di pasar gelap saja untuk Bos Alex, bukan tentang konspirasi atau
monster itu. Tapi mendengar penjelasannya tentang semuanya dirasa masuk akal.
Laju pun menjadi semakin tertarik.
Selanjutnya, Adrian menjelaskan lebih lanjut sambil membuka video yang
sangat Laju kenali. Ini video yang diputar di gedung olahraga beberapa minggu
lalu. Adrian bisa meyakini. Separuh dari konten tersebut menyimpan kebenaran,
meskipun dia sebenarnya belum bisa memberikan bukti nyata kepada yang lain. Tapi,
katanya memang inilah pekerjaannya sekarang. Yakni mencari bukti-bukti tersebut
secara langsung ke lapangan.
Laju langsung mengingat kejadian malam kemarin. Ketika dia bertemu seorang
perempuan dengan rambut putih, yang memiliki mata berlian. Perempuan itu
artinya bukan manusia dan Laju baru saja melakukan kontak dengan monster aneh
itu!
Satu lagi alasan yang membuat Laju tertarik dengan teori konspirasi ini.
Tapi tentu saja Laju akan tetap diam. Dia tidak perlu menceritakan
ceritanya secara utuh kepada Adrian, bahkan Bos Alex sekalipun. Dia tidak ingin
masalahnya dipersulit. Tapi tentu saja dia penasaran dengan hal-hal
supernatural ini. Semoga saja Adrian tidak mencurigainya.
“Tolong ceritakan lebih lanjut tentang makhluk bermata berlian, dong!”
Serunya.
“Oh, tentang mereka yang menyamar, ya? Itu kasus unik, loh!” Seru Adrian
__ADS_1
sambil memperbaiki posisi kacamata bulatnya.
Laju dan yang lain menyimak penjelasan Adrian.