Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 5


__ADS_3

Pulang sekolah, Laju duduk diam di tongkrongan favoritnya bersama temannya.


Beruntung, untuk kasus yang ini mereka masih belum meninggalkan Laju seorang


diri. Mereka masih bersedia bermain, menghabiskan waktu bersama, meskipun hanya


untuk menonton kendaraan yang berlalu lalang, atau bahkan termenung menunggu


senja.


Tapi, kondisi Laju tidak serta merta membaik begitu saja. Setidaknya,


ada beberapa hal yang menjadi perhatiannya sekarang. Mimpi apa yang muncul


semalam? Apakah ada hubungannya dengan perempuan berambut putih di taman? Dan


yang paling penting adalah apa yang harus dia lakukan untuk menyelesaikan


masalah akademi ini?


Dia yakin dia telah dicurangi. Dia tidak melakukan kesalahan apapun yang


bisa membuat namanya tercoreng.


Atau dia memang pernah melakukannya? Dia tidak ingat.


Yang pasti, daripada memusingkan hal ini seorang diri di sekolahan,


lebih baik dia mampir saja ke tongkrongan favoritnya – meskipun sebenarnya tempat


ini tidak menjamin juga Laju akan mendapatkan solusi dengan cepat. Keduanya


bukan lokasi yang cocok untuk termenung, menggigit jari, dan memikirkan masa


depan.


Tapi apa lagi yang bisa Laju pilih?


“Ada apa dengan Laju? Tumben dia seperti orang kebingungan,” sebut temannya


yang memakai kaus hitam yang sedang memilih gorengan.


“Hah? Tumben kamu peduli. Ada apa? Uangnya kurang?” seru siswa di


sampingnya. “Seperti biasa, bu. Atas nama Laju, ya. Saya pesan mie kuah jumbo


spesial dan es jeruk.”


“Nah itu dia masalahnya. Kalau suasana hatinya buruk, bisa jadi ktia tidak


bisa makan siang disini, kan? Itu berbahaya. Aku tidak ingin hari ini berakhir


begitu cepat hanya karena suasana hatinya yang labil.”


Temannya yang berkacamata melihatnya pelan. “Dia baru saja diberitahukan


bahwa surat undangannya ke akademi telah diangkat. Entahlah apa dia gagal atau


dia melakukan kesalahan, pokoknya dia sekarang frustasi. Atau itu yang aku


dengar dari gosip anak-anak. Aku juga tidak begitu paham.”


Siswa dengan baju hitam tadi mengerutkan jidatnya. Dia berusaha menyimak


dan memproses informasi yang baru datang tersebut. Apakah itu berita baik?


Apakah itu berita buruk? Dia tidak begitu tahu, tapi dia berhenti peduli. Baru


setelahnya, dia bereaksi. Tapi reaksinya justru sangat menyebalkan.


“Hahahahaha!” Dia tertawa puas. “Ha-hahaha!”  Sampai hampir kehabisan napas.


Seisi warung teralihkan perhatiannya pada tawa tersebut, kecuali Laju


yang masih kebingungan. Ada beberapa yang penasaran, juga terganggu. Tapi, pada


akhirnya tidak ada yang begitu peduli dan kembali melanjutkan aktivitasnya


masing-masing.


“Apa yang kamu tertawakan?”


“Tidak,” dia mengusap dadanya, berusaha napas normal kembali. “Aku


hanya…, menanggap beritu itu lucu saja. Entahlah kenapa. Hanya lucu. Begitu


lucu untuk seorang yang sangat sempurna seperti Laju,” lanjutnya. “Berita itu


seperti…, mimpi orang-orang menjadi nyata, kan?” Dia menepuk bahu temannya.


“Hati-hati kalau berbicara. Aku tidak begitu ingin meladeni Laju jika


sifat aslinya mulai keluar. Uang jajanku minggu ini sangat menyedihkan. Aku


tidak ingin makan rumput,” jawabnya sambil menurunkan tangan temannya yang


bersandar.


“Apa? Aku tidak bisa begitu melihat sifat Laju sangat membahayakan.


Keras kepala? Egois? Sombong? Atau marahnya yang tidak terkendali? Tenang saja.


Dibiarkan beberapa hari juga dia akan kembali. Dia membutuhkan kita.”


“Kamu membutuhkan dia. Aku membutuhkan dia. Kita membutuhkan Laju.


Orang-orang membutuhkan uang dan reputasinya. Aku tidak ingin mengkahiri


hubungan ini terlalu cepat. Aku masih cinta hidupku sendiri,” ucapnya sambil


mengambil nampan yang diberikan oleh ibu penjaga warung.


“Silahkan, nak. Pesanannya sudah siap!” sebutnya dari balik meja konter.


Mereka pun pergi ke depan tempat Laju masih termenung. Mulai duduk rapi,


menyuap, menyeruput, menikmati makanan gratisnya.


“Kamu tidak makan, Ju?” Tanya sang kacamata, membuka pembicaraan.


Tapi Laju tidak merespon selain menoleh dengan mata sinisnya. Dia masih


sangat kebingungan memikirkan solusi dan jalan untuk menyelesaikan masalahnya.


Dia frustasi. Sangat frustasi. Siapa yang tidak? Ketika tahu masa depan sudah dicuri


begitu saja.


Percakapan baru terdengar lagi ketika makanan separuh habis. “Aku dengar


kamu sedang mengalami hari yang buruk, Ju. Aku tidak begitu paham bagaimana


kondisinya dan bagaiman perasaanmu sekarang. Tapi bagaimana jika kita bermain


di tempat Bos Alex? Mungkin kamu setidaknya bisa menyegarkan diri disana,” ucap


sang kacamata dengan penuh simpati, dengan respon batuk dan semburan air dari


teman satunya.


Dia masih menganggap ini semua henya lelucon belaka rupanya.


“Aku dengar Adrian baru saja pulang dari pekerjaanya, kan? Dia pasti


punya banyak cerita yang aneh-aneh lagi. Kamu selalu mengagumi dan penasaran


dengan hidupnya di pasar gelap, kan?” Lanjutnya sambil menyuap suapan terakhir


makanannya. Sang kacamata tahu bagaimana membujuk Laju.

__ADS_1


“Oh dia sudah pulang? Wah aku juga rindu dengannya! Berapa lama? Tiga


bulan sejak terakhir bertemu?”


Awalnya, mereka berpikir Laju masih tidak bisa dibujuk. Suasana hatinya


masih buruk. Tapi setelahnya, perlahan kepala Laju miring dan melihat ke


langit. “Boleh juga,” ucapnya. “Ayo jemput Fadli dulu!”


“Betul juga. Kacung itu akhir-akhir ini berlagak, ya!”


***


Ngeek!


Pintu besi usang dibuka oleh Laju. Setelahnya, mereka sudah berada di


gang kecil yang sangat gelap, kumuh, bau, dan apapun yang tidak ingin kalian


pikirkan.


Tempat ini diisi oleh kelompok masyarakat yang dibuang oleh keluarganya


sendiri, kehilangan tempat tinggal, kehilangan moral dan akal sehat, berusaha


bertahan hidup dengan caranya masing-masing.


Meskipun suasana yang ditawarkan tempat ini sangatlah mencekam,


berbahaya, dan mencurigakan. Laju dan kedua temannya sama sekali tidak gentar


melewati daerah ini kecuali Fadli yang sedang dirangkul oleh Laju. Entahlah apa


yang dia takuti. Apakah orang-orang ini, atau justru Laju yang berada di


sampingnya.


Orang-orang ini dipenuhi oleh mereka yang belum mandi berbulan-bulan, penuh


debu dan lumpur, juga dari asap kendaraan atau rokok, dengan semerbak aroma


yang busuk, baik yang duduk bersandar di dinding, atau yang menghalangi jalan


tidur sembarangan.


Pada awal Laju kesini memang sedikit takut dan siaga. Wajar saja, semua


orang yang melewati tempat ini pertama kali pasti akan lari terbirit-birit


karena tidak ingin memulai atau mendekati masalah yang akan merepotkan


hidupnya.


Kondisi kali ini berbeda. Justru orang-orang yang tinggal disinilah yang


justru lari terbirit-birit ketika Laju dan teman-temannya datang. Beruntung,


hari ini mereka mendapatkan sedikit pengampunan melihat Laju yang hanya jalan


tenang, tidak tertarik melakukan apapun kepada mereka, kecuali untuk temannya


yang berkaus hitam ini.


Kaleng makanan bekas yang tergeletak di jalanan ditendangnya begitu saja


hingga mengenai pria paruh baya yang sedang menghangatkan diri di depan perapian


buatan di atas tong sampah silinder. Bukannya meminta maaf, bocah ini malah


tertawa seakan baru saja mencetak skor yang brilian. Pria ini tidak bisa


apapun, kecuali senyum tipis kepada Laju dan temannya dengan gigi yang rontok.


“A-aw-ahaha. Ha-Halo. Semoga hari kalian menyenangkan,” seru pria paruh


baya sang korban yang tetap fokus menghangatkan diri, melupakan kaleng yang baru


menuju gedung yang berada di ujung gang, setelah belokan, di belakang pintu


besi kedua


Dari penampakan luar, gedung ini sama-sama memiliki kondisi yang


mengkhawatirkan. Namun, jangan menilainya hanya dari luar saja. Kondisi


perabotan dan furnitur yang disuguhkan justru seperti hotel bintang lima. Dengan


lantai pualam, perabotan cantik yang mengkilat, akuarium besar di salah satu


sisi, televisi super besar, sofa empuk yang berjajar, hingga benda mahal


lainnya.


Inilah tempat yang disebut sebagai markas Bos Alex, tempat Laju biasa


menghabiskan waktunya selain warung makan tadi. Tentu saja orang-orang di luar


tidak ada yang tahu. Karena hanya ada rasa takut jika mereka mendekati wilayah


ini.


Lagipula, pintu ini pun tidak dibuka untuk sembarang orang.


“Oh, Laju! Selamat datang!” Seru seseorang dengan postur yang tinggi,


kekar, dengan kepala botak mengkilatnya yang sedang membukakan pintu.


Laju melangkah memasuki ruangan lebih dalam, duduk di sofa nyaman di


depan televisi yang tidak dinyalakan. Laju hanya terdiam, duduk santai, dan


menatap langit-langit. Dia masih tidak bisa menyelesaikan masalah undangan


akademi itu.


“Silahkan, teh dan kudapannya,” seru pria yang membukakan pintu tadi.


“Kalau ada apa-apa panggil saja lagi, seperti biasa.”


“Tumben markas sepi. Dimana orang-orang?” Bocah berkaus hitam


menginisiasi percakapan sambil melirik kiri-kanan.


“Beberapa masih sibuk bekerja. Sebagian sedang asik latihan di halaman


belakang.”


“Oh? Wah ikut ah! Ju, aku pinjam Fadli, ya!! Aku ingin bermain lempar


pisau lagi. Dli, awas ya kalau kamu bergerak lagi seperti kemarin!”


“Eehh? Ah, Ng!” Fadli hanya bisa mengangguk takut.


Laju yang tidak peduli hanya melihatnya dengan tatapan kosong.


Selanjutnya, ingat bahwa dia diberi kudapan, langsung ia makan dengan lahap teh


dan kudapannya.


Sesaat dia mengingat sesuatu. Dia datang kesini berharap bisa melupakan


keresahannya sehingga tidak perlu frustasi sepanjang hari. Tapi, dia sadar


bahwa hanya teh dan kudapan saja rasanya tidak cukup. Namun dia pun enggan


menonton televisi yang acaranya tidak bisa diharapkan. Tanpa pikir panjang, dia


pun pergi ke lantai dua dan mengetuk ruangan yang berada di ujung lorong bergagang

__ADS_1


pintu emas.


Tapi setelah cukup lama dia menunggu, tidak ada jawaban yang datang dari


dalam. Laju cukup kecewa dan mendecakkan lidahnya. Suasana hati buruknya malah menjadi-jadi.


Tapi dia berusaha menghibur diri. Senyum tipis palsunya dikeluarkan dengan


paksa. Mungkin saja Bos Alex sedang pergi. Baiklah, saatnya tanya kepada para


petugas apa yang sedang terjadi. Laju pun turun kembali ke lantai dasar.


“Ini berita yang sangat rahasia. Publik secara luas belum


mendapatkannya. Pemerintah masih kebingungan bagaimana menanggapinya. Tapi baru


saja ada insiden aneh yang terjadi di perbatasan. Bos Alex mendapatkannya dari


koneksi tepercaya dan sedang menjemput Adrian untuk kepastiannya,” jawab pria


botak tadi, menjelaskan kepada Laju.


Tuk tuk!


Kebetulan, terdengar ketukan pintu depan yang dengan sigap pria botak


ini buka yang ternyata sudah hadir Bos Alex dan Adrian. Suasana hati Laju pun perlahan


membaik. Meskipun keduanya sedang terlihat buru-buru, panik, kaget, dan kebingungan.


Mereka tetap mengapresiasi kedatangan Laju. “Wah, Laju! Selamat datang.


Kebetulan saya akan membahas banyak hal dengan Adrian. Mau ikut?” Tanya seorang


dengan perawakan jangkung, berumur sekitar 30-an, mata sipit, dahi yang lebar, dan


rambut pirangnya. Dialah Bos Alex.


Tentu saja


Laju ikut. Inilah alasan dia datang kesini.


Kejadian aneh yang dibicarakan sebenarnya akan diberitakan juga oleh


media. Sehingga, berita ini bukannya super rahasia. Tapi, dengan koneksi yang


dimiliki Bos Alex, mereka memiliki informasi yang lebih akurat.


Fenomena ini terjadi di perbatasan. Begitulah yang disebutkan oleh Bos


Alex, Adrian, dan sumber-sumbernya. Laju tidak begitu tahu dan paham dimana


perbatasan yang sedang dibicarakan. Dia hanya penasaran, bukannya ingin


menyelidiki kejadian tersebut. Dia lebih penasaran kepada kejadian anehnya.


Seaneh apa memangnya?


Telah terjadi sebuah bekas hantaman berbentuk kubah di rumah seseorang


yang sangat tidak natural. Salah satu alasannya, karena tidak ada benda yang


mengakibatkan kejadian tersebut bisa terjadi. Jika ada, penyebabnya adalah batu


besar yang berbentuk bola. Tapi dimana? Orang-orang tidak bisa menemukannya di


tempat kejadian. Bola dengan diameter kurang lebih 10 meter tidak mungkin bisa


pindah dengan mudah hanya semalaman, tanpa ada mesin kontraktor yang


membantunya.


Masalah berikutnya adalah, tidak ada masyarakat yang mendengar adanya


suara kontraktor yang bekerja pada malam hari. Satu-satunya suara yang mereka


dengar hanya suara hantaman, seperti ledakan, seperti suara jatuh. Tidak ada


yang lain.


Pemerintah dan media pasti akan menyebutnya sebagai kecelakaan


pembangunan. Karena, di komplek tersebut sedang ada pembangunan gedung dan


segala macam. Tapi, tentu saja itu tidak masuk akal. Jaraknya terlalu jauh. Pasti


ada alasan lain yang menyebabkan hantaman sebesar dan secepat itu. Koneksi yang


dimiliki Bos Alex pun menjelaskan bahwa ada partikel-partikel kristal ungu di


tempat kejadian yang disembunyikan oleh pemerintah, yang dicurigai sebagai benda


yang berasal dari kota terlarang.


Dan disinilah peran Adrian untuk menjawab semua hal-hal mistis tersebut.


Kenapa? Karena Adrian adalah orang yang bekerja menyelidiki hal-hal mistis dan supernatural


tersebut. Adrian bekerja dibawah pasar gelap yang selalu berinteraksi dengan


kota terlarang. Dan jawaban yang baru bisa dia berikan sejauh ini adalah,


teori-teori konspirasi itu benar.


Laju yang awalnya meragukan tentang teori-teori kospirasi itu sekarang merasakan


matanya terbuka lebar. Laju pikir pekerjaan Adrian hanya mengurusi barang


illegal di pasar gelap saja untuk Bos Alex, bukan tentang konspirasi atau


monster itu. Tapi mendengar penjelasannya tentang semuanya dirasa masuk akal.


Laju pun menjadi semakin tertarik.


Selanjutnya, Adrian menjelaskan lebih lanjut sambil membuka video yang


sangat Laju kenali. Ini video yang diputar di gedung olahraga beberapa minggu


lalu. Adrian bisa meyakini. Separuh dari konten tersebut menyimpan kebenaran,


meskipun dia sebenarnya belum bisa memberikan bukti nyata kepada yang lain. Tapi,


katanya memang inilah pekerjaannya sekarang. Yakni mencari bukti-bukti tersebut


secara langsung ke lapangan.


Laju langsung mengingat kejadian malam kemarin. Ketika dia bertemu seorang


perempuan dengan rambut putih, yang memiliki mata berlian. Perempuan itu


artinya bukan manusia dan Laju baru saja melakukan kontak dengan monster aneh


itu!


Satu lagi alasan yang membuat Laju tertarik dengan teori konspirasi ini.


Tapi tentu saja Laju akan tetap diam. Dia tidak perlu menceritakan


ceritanya secara utuh kepada Adrian, bahkan Bos Alex sekalipun. Dia tidak ingin


masalahnya dipersulit. Tapi tentu saja dia penasaran dengan hal-hal


supernatural ini. Semoga saja Adrian tidak mencurigainya.


“Tolong ceritakan lebih lanjut tentang makhluk bermata berlian, dong!”


Serunya.


“Oh, tentang mereka yang menyamar, ya? Itu kasus unik, loh!” Seru Adrian

__ADS_1


sambil memperbaiki posisi kacamata bulatnya.


Laju dan yang lain menyimak penjelasan Adrian.


__ADS_2