Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 34


__ADS_3

Satu detik setelah lorong dimakan oleh kegelapan, mereka terjatuh beberapa saat. Sampai pada akhirnya, terdengar suara decakkan air di belakang mereka tanda mereka sudah mendarat dengan aman.


Sebenarnya, tidak ada rasa sakit sama sekali kepada tubuh mereka, terutama di bagian punggung belakang setelah efek jatuh tersebut. Yang mereka rasakan hanya rasa tidak nyaman pada baju dan celana belakang mereka karena basah tidak karuan.


Ada rasa sakit lain yang menyerang mereka, yakni kepada perut dan pencernaan mereka. Dan Laju ingat rasa tidak nyaman yang dirasakan oleh perutnya ini.


Ini adalah teknik teleportasi.


Hal ini juga didukung oleh fakta bahwa tempat yang mereka tempati sekarang bukan lagi lorong gelap di dalam rumah yang terbengkalai itu. Melainkan, sebuah gorong-gorong yang mungkin terdapat di bawah tanah yang terlihat sangat menjijikkan. Dipenuh sampah dan air mengalir yang kotor, juga diinangi oleh binatang pengerat yang berisik.


Satu hal baik yang menjadi nilai tambah yang dimiliki oleh gorong-gorong ini adalah pencahayaan yang lebih baik yang berasal dari lampu tanam di bagian bawah dindingnya, dibandingkan dengan lorong di dalam rumah tadi. Ini membuat mereka lebih mudah untuk mengenali satu sama lain, juga melakukan navigasi kemana harus pergi.


“Hei? Apakah kalian baik-baik saja?” Laju membuka suara.


Sayangnya, tidak ada seorang pun yang siap menjawab, selain suara erangan.


“Ugh, apa barusan?” Iris mulai bangun berdiri.


Setelahnya, Laju dan Iris mulai menatap sekeliling untuk mengidentifikasi apa gerangan yang baru saja terjadi pada mereka. Beberapa detik setelahnya, barulah Parker ikut bangun dan berdiri.


Beruntung, volume gorong-gorong ini cukup luas dan lebar. Parker yang besar dan tinggi bisa berdiri dengan mudah tanpa ada halangan sama sekali.


“Dimana yang lain?” Laju bertanya lagi.


Nyatanya, semua nilai tambah dan apapun yang mereka dapatkan di gorong-gorong ini hanya berakhir pada kenestapaan.


Begitu mereka bertiga bangun dan mulai berdiri, hanya itu saja yang mereka bisa dapatkan. Tidak ada lagi yang berdiri, tidak ada lagi suara erangan lain.


Di dalam gorong-gorong ini hanya terdiri Laju, Iris, dan Parker. Tidak ada Audy, Aaron, maupun Delphia. “Kemana yang lain? Apa yang terjadi?” Iris melanjutkan pertanyaan Laju yang khawatir pada kondisi bahwa mereka terpisah.


“Apakah ini ulah para manusia itu?” Laju melanjutkan.


“Teleportasi adalah sebuah teknik yang sangat mahal jika ingin digunakan. Kecuali, mereka memiliki rekan seperti Iris, yang memang bisa memanipulasi ruang dan waktu,” Parker menjelaskan. “Pemerintah memang menyediakannya untuk bisa digunakan warga sipil. Tapi, itu hanya bisa digunakan pada titik-titik tertentu yang sudah dipasang dan diinstalisasi alat teleportasi tersebut.”


“Sepertinya ada banyak informasi yang musuh miliki yang tidak bisa aku dapatkan. Entahlah apa ini ada urusannya dengan Venom Snake. Tapi, sepertinya musuh kita sangat berbahaya,” Iris melanjutkan.


“Jadi sekarang kita harus apa?”


“Keadaan kita memang lebih kacau dari sebelumnya. Tapi, kita tidak bisa selamanya berdiam diri di sini, kan?” Parker meregangkan tubuhnya. “Ayo!”


Dan dengan begitu, Parker memukul kedua tangannya di depan dadanya, melantunkan sebuah bahasa yang diingat Laju pernah digunakan ketika mereka hendak mendatangi rumah untuk melakukan diskusi sebelumnya.


Sriing.


Pelindung kuning yang transparan dan mengkilat mulai menyelimuti tubuh Parker, dilanjut dengan tubuh Iris dan Laju.


Begitu mereka sudah merasa aman dengan pelindung yang Parker buat – meskipun tidak memperbaiki permasalahan baju dan celana yang basah dan kotor, mereka pun mulai berjalan di belakang Parker yang dengan sigap dan tegap melihat sekeliling. Mengarahkan dan mencari navigasi, berusaha untuk mencari separuh kelompok yang lain.


Berusaha untuk keluar dari gorong-gorong, tanpa melupakan tujuan awalnya untuk menemui para manusia.


Ada satu hal yang Laju perhatikan di dalam gorong-gorong ini, bahwa saluran air ini bukan serta merta hanya saluran air yang terbengkalai dan kotor saja. Perlahan, penerangan lampu tanam di setiap dinding mulai digantikan oleh banyak kristal berwarna ungu yang tumbuh seperti jamur menyelimuti dinding dari gorong-gorong.


Awalnya, itu bukan masalah. Meskipun Parker dan Iris pun tidak paham terhadap apa saja yang terdapat di gorong-gorong ini – seperti mereka baru saja memasuki tempat yang tidak pernah mereka kunjungi dan ketahui sebelumnya, selama itu tidak merepotkan dan menyakiti mereka, biarkanlah kristal itu tumbuh secara normal dan natural.


Tapi, apakah k ristal yang tumbuh di dalam saluran air adalah hal yang natural?


Laju awalnya berpikir jika kita membicarakan setiap keanehan yang dia temui, dimulai dari kehadiran Parker yang merupakan beastmen dari ras banteng, kristal yang muncul di gorong-gorong adalah hal yang normal saja.


Tunggu, sepertinya Laju sempat mendengar dan tahu tentang eksistensi kristal ini?


Tapi, dimana?


Apakah yang waktu itu dibahas oleh Adrian dan Bos Alex?


Masalahnya, Parker dan Iris sebagai penghuni kota yang aneh ini pun menganggap kristal ungu tersebut muncul secara tidak natural.


Awalnya, mereka berencana untuk mengambil sampel kristal tersebut untuk kemudian diidentifikasikan asal muasal dan kandungan mineral yang terdapat di dalamnya. Tapi, niat tersebut harus dibatalkan karena kristal tersebut mengeluarkan kejutan listrik yang menyakitkan jika kita berusaha mendekati kristal tersebut.


Mungkin, ide tersebut bisa dijeda sampai mereka keluar dari gorong-gorong, dan kembali dengan peralatan yang lebih lengkap.


Lagipula, ada tujuan yang lebih penting yang harus mereka selesaikan.


Yakni, mencari keberadaan tiga orang lain, Audy, Aaron, dan Delphia.


Setelah 10 menit mereka berjalan mengitari gorong-gorong – yang dapat dipastikan bahwa mereka tidak hanya berputar-putar saja, tidak banyak yang bisa mereka temukan selain kristal ungu yang menyambar listrik dan bau menyengat di sana sini.


Kecuali, sebuah cengkraman tajam yang menusuk kaki Laju secara tiba-tiba.


Dari bawah saluran air yang sangat dangkal – mungkin hanya 50 senti, muncul tangan dengan kuku yang panjang dan kotor dengan kulit yang bersisik. Tidak hanya itu saja, muncul juga decitan listrik yang mengalir dari tangan tersebut yang menyerang Laju. Menjatuhkannya, menyakitkannya, seperti serangan taser yang langsung meluluhkan otot dan jatuh terkulai lemas.


“Aku pikir kita tidak akan pernah berurusan lagi, Parker. Apakah kau kemari untuk membalaskan dendam dan memulai perang? Aku pikir kita telah setuju satu sama lain,” sebut suara yang dipenuhi oleh lendir dari seekor makhluk bersisik yang keluar dari saluran air dangkal tersebut.


Parker yang lebih berfokus pada Laju yang terjatuh terkulai tidak begitu memperhatikan suara tersebut, bahkan menjawabnya. Melihat musuhnya sedang kerepotan, makhluk bersisik ini berdiri menunjukkan dominasinya pada makhluk tanah yang memasuki daerah kekuasaanya.


Sebenarnya, begitu muncul kepala dari balik saluran air, Iris langsung memasuki mode siaga siap bertarungnya. Tapi, posisi siap bertarung saja tidak cukup untuk melawan delapan makhluk bersisik yang muncul berbarengan dari bawah saluran air tersebut.


“Tunggu! Ini hanya salah paham! Kami–”


Kalimat Parker yang berusaha untuk menenangkan amarah para makhluk tersebut langsung dipotong dengan tembakan duri yang dengan sekejap meluncur menghunjam dinding gorong-gorong, tipis mengenai telinga parker.


“Aku tidak ingin lagi berbicara aneh-aneh. Aku tidak ingin terperangkap lagi pada jebakan kata-kata manismu, Parker!” Sebut makhluk bersisik tersebut. “Kamu lihat ini!?” Selanjutnya, dia memperlihatkan tangan kirinya yang ditutupi oleh kain basah yang mulai dibuka perlahan.


Dibalik kain tersebut, terdapat luka besar yang cukup parah.


“Kamu harus bertanggung jawab terhadap ini, Parker!”


“Itu tidak ada sejak terakhir kita bertemu. Kamu mengada-ada, Vanitas!”


“Memang. Tapi kalian-kalian yang datang dari atas lah yang menyebabkan ini!”


“Tapi kita baru bertemu? Apa yang kamu–”


Parker heran dengan apa yang makhluk itu katakan. Tapi sedetik kemudian, Parker sadar apa yang dia maksud. Dan apa yang makhluk tersebut maksud membuat amarah Parker menjadi-jadi, membuatnya diam mempersiapkan kekuatannya untuk siap melawan makhluk bersisik ini.


“A-Apa yang terjadi? Si-siapa mereka?” Laju bertanya dengan diam, sembari tenaganya berangsur kembali normal.


“Laju? Kamu sudah bangun? Bagaimana kondisimu? Bisa bertarung?”


“Hng? Entahlah… mungkin saja. Tapi sendi dan ototku ngilu semua.”


“Baiklah. Itu lebih dari cukup. Persiapkan dirimu!”


“Siapa lawan kita?”


“Mereka… makhluk bersisik itu. Mereka lizardmen. Lihat luka pada tangan kirinya? Itu luka yang masih segar. Harusnya itu berasal dari serangan Audy. Apakah kamu tahu maksud saya, Laju?”


“Audy? Mereka bertemu mereka? Apa maksudmu?”


“Itu artinya kadal ini baru saja bertemu dan melawan Audy. Jika kita melihat pola yang terjadi, harusnya Audy sedang bersama Aaron dan Delphia, bukan begitu? Lalu apa yang sedang kita lihat sekarang? Perawakan tubuh kadal yang sehat walafiat? Hanya luka-luka kecil? Bukankah itu artinya mereka dalam bahaya? Delphia sedang dalam bahaya?” Parker bertanya berbisik, sambil menepuk punggung Laju.


Lalu dia mengajaknya berdiri, untuk bersiap melawan para lizardmen ini, makhluk bersisik dan berduri yang datang dari saluran air di bawah mereka.


Vanitas, sang lizardmen tidak tahu sebenarnya apa yang mereka tunggu.


Kehadiran Parker di rumahnya sudah melarang kesepakatan yang mereka buat. Ditambah luka yang diasumsikan datang dari makhluk atas tanah, ini artinya lizardmen bisa bertarung dengan maksimal hingga titik darah penghabisan, kan?

__ADS_1


Beberapa detik setelah deklarasinya, Parker sedikit berbisik dengan bocah yang baru dia lumpuhkan. Itu aneh. Kenapa bocah itu masih bisa berdiri?


Tunggu, Vanitas menyadari sesuatu. Itulah yang dia tunggu.


Kenapa mereka masih belum melancarkan serangan?


Karena, para lizardmen masih terpukau dengan kemampuan bocah itu yang bisa kembali bangkit hanya dengan waktu yang singkat setelah diserang dengan sengatan listrik yang melumpuhkan seluruh tubuhnya.


Vanitas menggertakkan giginya, mengekspresikan amarah dan kekesalannya untuk kemudian dia seruakan kepada Lizardmen lainnya untuk menyerang, bertarung, dan menghabiskan para penduduk atas tanah ini.


Mereka mulai mengerang menahan napas mereka, menguatkan otot-otot beserta seluruh tubuhnya. Kemudian, setiap duri yang berada di punggung mereka mulai dilepas untuk terbang melayang satu persatu dengan jumlah yang tidak sedikit. Bagaimana tidak, meskipun duri bisa mereka lepas, satu detik berikutnya muncul duri baru dengan kecepatan regenerasi yang tidak masuk akal.


Dan setelahnya, muncul duri dengan jumlah ratusan yang sekarang melayang di belakang para Lizardmen ini dengan mudah, hanya dalam satu erangan.


Dalam sudut pandang manusia atau makhluk lemah biasa, ini merupakan bencana dan akhir hidup mereka.


“Enyah kau, Parker!” Teriak Vanitas.


BLAARR!!!


Dinding gorong-gorong yang terbuat dari batu bata langsung hancur berkeping-keping menjadi debu dan asap yang mengepul begitu ratusan duri diluncurkan. Vanitas tersenyum kecil menatap kemenangan yang begitu nyata di depannya.


Tapi sebenarnya, Vanitas lupa dengan fakta bahwa Parker sempat melindungi tidak hanya dirinya, tapi juga Laju dan Iris dengan kekuatannya, dengan pelindung kuning yang transparan yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


Jadi, wajar saja jika senyum Vanitas berubah drastis menjadi ekspresi takut dan kaget begitu melihat parker masih berdiri tegak, bukannya jatuh terkulai tak sadarkan diri.


Tapi, Parker yang berdiri bukannya tanpa luka.


Meskipun dia sudah dilindungi oleh lapisan pelindung kuning yang transparan, serangan duri itu ada ratusan jumlahnya.


Lihat saja dinding yang sudah hancur hingga kedalaman dua meter tersebut.


Mungkin, jika sekali lagi serangan duri itu diluncurkan, langit gorong-gorong di bagian ini akan kehilangan pondasinya dan jatuh hancur runtuh tak bersisa.


Parker pun kondisinya hampir serupa.


Pelindung kuningnya sudah terkelupas di banyak bagian, kaki dan tangannya tertusuk oleh banyak duri yang panjangnya sekitar 30 senti hingga tidak sedikit darahnya keluar dengan deras.


Beruntung, Laju dan Iris yang berlindung di belakang Parker sama sekali tidak terdampak dari serangan duri tersebut dan dengan gesit bisa langsung melancarkan serangan balasan.


Hal ini dilakukan ketika Vanitas masih berusaha memproses, ketika wajah senyumnya berubah menjadi kaget dan takut begitu melihat Parker yang masih berdiri, lalu berubah lagi menjadi senyum kemenangan melihat Parker yang berdiri nyatanya sudah sekarat.


Begitu wajahnya kembali tersenyum dan siap untuk melancarkan serangan lain, Laju sudah lebih dahulu keluar dari punggung Parker untuk melancarkan hantaman pukulan yang langsung menerbangkan Vanitas ke bagian dinding gorong-gorong yang lain.


Vanitas praktis tak sadarkan diri sembari mengeluarkan darah baik dari kepalanya maupun mulutnya begitu seluruh tubuhnya terbentur dengan keras oleh pukulan Laju.


“Urusi Parker, Iris!” seru Laju.


Seruan untuk Iris tersebut juga langsung membangunkan lizardmen yang lain dari kekagetannya begitu ketua mereka; Vanitas tak sadarkan diri, karena terlempar dan terbentur dengan keras dan cepat, hanya dalam satu kedipan mata.


Satu per satu dari mereka mengerang dan menguatkan genggaman tangan mereka untuk meliputinya dengan sisik yang kuat untuk meladeni Laju dalam pertarungan tangan kosong.


Sayangnya, kecepatan dari pengerasan sisik itu tidak lebih cepat dari kecepatan Laju untuk memukul menumbangkan satu per satu lizardmen itu. Ada yang tumbang karena terlempar terhempas jauh membentur dinding gorong-gorong seperti ketuanya. Atau juga yang dengan pukulan yang lebih mematikan karena meskipun tidak menghempaskannya jauh ke belakang, tapi menghancurkan jeroan dan pencernaannya.


Dan seketika, lima lizardmen bersama Vanitas tumbang tak sadarkan diri.


“Apa-apaan bocah itu!?”


“Kita tidak pernah mendengar tentang ini!!”


“Ini berbeda dengan yang sebelumnya!”


Beberapa lizardmen yang belum menjadi sasaran Laju yang sempat untuk mengeraskan sisiknya mulai protes tidak terima melihat musuhnya yang berada diluar jangkauan kemampuan dan kekuatan mereka.


Tapi untuk apa?


Protes tersebut tidak dihiraukan Laju untuk berhenti dan mengasihani mereka.


Dan selanjutnya, dua lizardmen lain terhempas terbang membentur dinding gorong-gorong menhancurkan batu batanya dan praktis tak sadarkan diri.


“Jangan seenaknya kau bocah!!!” Teriak sisa lizardmen yang berkesempatan melawan balik, memukul Laju dengan kekuatan yang sebenarnya bisa menumbangkan manusia biasa, membuatnya pingsan tak sadarkan diri.


Sejujurnya, itu memang pukulan yang kuat.


Bayangkan saja sebuah sisik keras yang menyerupai besi memukul keras kepala seorang manusia, seperti palu yang super besar dipukulkan secara mentah-mentah.


Tapi, jangan lupakan fakta bahwa Laju bukanlah manusia biasa, juga sebuah pelindung yang menyeliputinya berkat kekuatan dari Parker.


Memang betul, pukulan tersebut berhasil mengenai Laju membuatnya terjatuh ke atas saluran air kotor yang membuatnya hampir muntah. Tapi, itu sama sekali tidak sakit ataupun membuat kulitnya lecet.


Tidak ingin mengambil kesempatan untuk melancarkan serangan lain, sisa lizardmen ini berusaha untuk memukul Laju dengan menggabungkan kedua tangannya, meluncurkannya kepada bagian belakang kepala Laju.


Sayangnya, Laju yang tidak begitu terkena dampak dari pukulan pertama juga berpikiran sama. Yaitu, untuk melancarkan serangan sebelum musuh berhasil merespon.


Laju yang dalam keadaan tengkurap langsung memutar tubuhnya sekaligus mengaitkan kakinya pada pergerakan lizardmen ini sehingga terjatuh dan membalikkan keadaan. Sebelum dia bisa merespon, Laju yang duduk menindih lizardmen ini memberikan pukulan beruntun yang praktis menghabisinya di tempat.


Tangan Laju penuh lebam, memar, dan tentu saja darah akibat memukul sisik keras para lizardmen yang menyerupai besi ini. Tapi, kondisi Lizardmen yang terkena pukulan Laju tidak lebih baik dari tangan Laju yang lebam tersebut.


“Ugh!” Parker perlahan bangun dan terkejut atas kelakuan Laju pada lizardmen ini.


“Apakah kamu baik-baik saja!?” Laju yang menyadari suara tersebut langusng menghentikkan pukulannya pada sisa Lizardmen yang tidak sadarkan diri, untuk lanjut membantu Parker berdiri.


“Aku baik…– kamu sudah menyelesaikannya?”


“Heh! Begitulah!”


“Secepat itu!?”


“Ya! Itu memang lima menit yang menyenangkan!” seru Laju yang bangga pada dirinya sendiri.


***


Setelahnya, penjelajahan berlangsung selama kurang lebih enam jam di dalam gorong-gorong saluran air bawah tanah yang tidak menyenangkan.


Laju, Parker, dan Iris masih dihalangi oleh lebih banyak lizardmen yang datang tidak kunjung surut, yang ingin balas dendam karena mendapat kabar bahwa salah satu jenderalnya tumbang oleh kelompok kecil dari makhuk yang berasal dari atas tanah.


Tentu saja mereka geram.


Selain berusaha untuk mempertahankan rumah mereka yang dijajah seenaknya, lizardmen ini juga berusaha untuk mengembalikan derajat dan kebanggaan mereka sebagai makhluk hidup yang baru saja diporak-porandakan oleh musuhnya ini.


Laju, Parker, dan Iris sebenarnya masih bisa bertahan meskipun melawan belasan lizardmen sekaligus. Sayangnya, jumlah dari lizardmen ini tidak hanya belasan dan pada satu waktu saja. Puluhan dari mereka selalu saja berdatangan meski puluhan yang lain telah ditumbangkan.


Dengan persediaan makanan yang seadanya dan air minum yang tidak sehat, kondisi tubuh ketiganya berangsur memburuk.


Parker sebenarnya masih bisa mengakomodasikan kekuatannya untuk selalu memberikan pelindung kuning transparan untuk mereka. Tapi, semakin lama durabilitas pelindung tersebut semakin lemah, semakin mudah untuk hancur. Sehingga, dampak dan benturan yang datang akan langsung mengenai tubuh fisik mereka mentah-mentah.


Iris memang cepat dan menguasai listrik. Tapi, tugasnya selama ini lebih kepada informan dan pengintai. Dia tidak bisa begitu membantu perkelahian tangan kosong selain mempercayakan Laju untuk menangani semuanya. Iris pun tidak bisa sekenanya berteleportasi keluar dari gorong-gorong. Dia tidak tahu pasti jarak yang membatasi antara gorong-gorong ini dengan dunia atas.


Bagaimana jika prediksi Iris untuk berteleportasi malah membuatnya terkurung, terjepit, dan terkubur hidup-hidup di antara tanah atau bebatuan?


Yang bisa Iris lakukan mungkin membantu Laju dengan menyengat lizardmen yang merepotkan di bagian belakang.


Laju, sebagai bocah yang bisa menyelesaikan tugas pertamanya di hutan dalam waktu dua minggu memang luar biasa. Ditambah bantuan dari Vignette, sel-sel tubuhnya perlahan bisa menyesuaikan diri untuk beradaptasi pada lingkungan yang penuh dengan sihir dan keabnormalan di Kannaris ini.


Sebenarnya, kejadian di gorong-gorong ini merupakan latihan yang sangat tepat untuk mengembangkan otot, sel, dan kemampuannya agar bisa berkembang lebih jauh. Sayangnya, pertarungan yang Laju dapati tidak bisa diatur sekenanya seperti kurikulum di sekolah.

__ADS_1


Dia harus berusaha mati-matian tidak hanya untuk melindungi dirinya sendiri dan memenangkan pertarungan, tapi juga membantu Parker dan Iris agar mereka bisa keluar dari gorong-gorong.


Splash!


Terdengar suara cipratan air di samping mereka.


“Tenang saja, itu bukan musuh,” ucap Iris begitu matanya berubah menjadi ungu dengan pupil kristal biru untuk mengoptimalkan pengelihatannya dalam gelap.


Setelah banyak berjalan melewati banyak lorong dari gorong-gorong, mereka akhirnya menemukan sebuah ruangan yang cukup besar, seperti pusat dari pertemuan banyak lorong dari gorong-gorong ini untuk beristirahat.


Laju dan Iris sebenarnya masih dalam kondisi yang prima, meskipun banyak lebam, memar, dan pendarahan di banyak bagian. Permasalahan mereka adalah Parker yang sekarang sudah tidak bisa lagi berjalan dalam komandonya lagi. Banyak dari bagian tubuhnya yang tertikam puluhan tembakan duri dari para lizardmen. Di beberapa sendi pun Parker merasa ngilu yang amat sakit karena selalu berbenturan langsung dengan sisik lizardmen yang diperkuat seperti besi.


Tidak hanya sekali, puluhan kali Parker harus menjadi samsak tinju untuk melindungi Iris dan Laju.


Dalam hati, Parker sangat khawatir kepada Audy, Aaron, dan Delphia yang harus bertarung tanpa dirinya di sisi mereka. Kekuatan pelindung yang bisa dia gunakan tidak bisa diberikan untuk melindungi yang tidak dalam jangkauannya.


Dia sedikit menyesal, bahwa kebanyakan anggota dari organisasi yang memang berfokus sebagai pedang dan tombak sedang bertugas di banyak titik kota dan tidak bisa membantu mereka.


“Aku jalan-jalan sebentar,” seru Laju begitu selesai membantu Parker.


Di dalam ruangan berbentuk tabung dengan tinggi dan diameter yang diperkirakan lebih dari 30 meter – belum dengan kedalaman saluran air yang berpusat di tengah, Laju mulai berkeliling meninggalkan Iris yang berusaha membantu Parker mengurusi luka-lukanya.


Selain meregangkan tubuhnya, Laju perlahan mengamati lebam dan lukanya.


Tanpa ada alasan yang jelas, Laju malah tertawa bangga meskipun yang bisa dirasakan oleh seluruh tubuhnya merupakan rasa sakit.


Sampai pada langkah kesekian, Laju merasakan ada decitan dan sengatan listrik yang datang dari sampingnya.


Tunggu.


Laju melupakan fakta yang begitu penting yang berada di dalam ruangan ini.


Terdapat sebuah pondasi yang mengambang berada di tengah-tengah ruangan, yang berada 10 meter di atas kubangan saluran air ini. Tidak lupa juga bahwa pondasi tersebut diliputi oleh banyak akar-akar yang terlihat seperti akar tumbuhan.


Ada pohon mengambang di ruangan ini!


Masalahnya, Laju tidak melihat satu pun pilar yang bertugas untuk menopang pondasi ini. Lalu bagaimana caranya agar pondasi tersebut bisa melayang?


Sembari kebingungan terhadap pertanyaan barunya, Laju terus mengitari ruangan sampai mendapati sebuah struktur yang menyerupai tangga yang membuatnya bisa mendekati pondasi dan pohon tersebut.


Meskipun begitu, tangga ini hanya menghubungkan antara lantai dasar dan pondasi saja. Secara logika, tangga ini saja tidak akan mampu untuk menopang pondasi yang besar dan berat tersebut.


Tapi, Laju pun tidak berencana untuk menjawabnya sekarang juga.


Dia lebih memilih untuk lebih mendekati pondasi dan pohon di atasnya ini.


Dan ternyata, sengatan listrik tersebut tetap terasa bahkan sebelum Laju bisa menyentuh sang pohon. Jika dilihat lebih seksama, terdapat pelindung ungu berbentuk bola dengan diameter 8 meter yang mengelilingi dan melindungi pohon ini.


Tanpa pikir panjang, Laju memutuskan untuk memasuki pelindung yang menyengat tersebut. Awalnya, Laju berpikir akan menerima sensasi sengatan yang serupa seperti kristal yang berada di sekitar lorong gorong-gorong dan saluran air tadi. Faktanya, sengatan listrik ini justru sangat menyegarkan, sangat menenangkan.


Tidak menutup fakta bahwa di sekitar pohon yang menyengat tersebut juga banyak kristal yang tumbuh secara alami seperti jamur pada hutan.


Beberapa detik saja Laju habiskan di sekitar pohon, dia bisa merasakan ketenangan dan kegembiraan yang menyengat baik tubuh fisiknya, maupun mentalnya bersamaan. Sihir macam apa ini?


Rasa sakit di seluruh tubuhnya bisa perlahan tersembuhkan dari banyak serangan jarum yang menggelitik dari sensasi sengatan listrik yang pohon ini berikan.


Sangat ironis jika dipikirkan.


Terdapat sebuah tempat yang terlihat berbahaya, di bawah tanah yang kotor, dan dipenuhi aroma yang busuk. Tapi, apa yang sebenarnya diberikan oleh pohon berbahaya ini justru berbalikan dari makna berbahaya itu sendiri.


Ini seperti pemandian air panas, seperti surga!


“Tapi kenapa pohon ini bisa terus hidup?” Laju perlahan membuka matanya untuk melihat darimana pohon ini menerima sumber sinar mataharinya.


Sayangnya, pertanyaan tersebut harus dipotong oleh suara yang Laju kenali, yang datang dari sebuah lorong saluran air di lantai dasar.


Laju yang penasaran pun keluar dari radius pohon listrik untuk turun ke lantai dasar dan mendekati asal muasal pemilik suara tersebut.


“Kyaaaaa!!!” Suara yang dimiliki oleh gadis semakin terdengar jelas.


Laju dengan kondisi tubuhnya sudah lebih baik, langsung melesat melompat lari menuju sumber suara dengan sangat cepat. Melewati belokan-belokan dan lorong gorong-gorong dengan mudah, berbelok dengan tepat di persimpangan, sampai pada akhirnya melihat seekor lizardmen lain yang siap menerkam korbannya yang terlihat seperti manusia.


Tanpa basa-basi, Laju langsung meluncur menendang lizardmen tersebut. Berusaha menumbangkannya, melemparnya jauh dari korban yang hendak ia terkam.


Sebenarnya, Laju sedikit khawatir bagaimana jika yang diselamatkannya ini adalah musuh manusia yang selama ini dia cari bersama Parker dan yang lain.


Tapi, pada akhirnya dia tidak begitu peduli.


Masalah tersebut bisa diurus belakangan.


“Apa-apaan kau, bocah!?” Teriak lizardmen yang lain.


Sayangnya, karena tenaganya yang terlalu banyak dihabiskan untuk bergerak cepat, tendangan Laju tidak begitu kuat untuk menghabiskan satu lizardmen, melainkan menghempaskannya saja.


Itu bukan masalah.


Lizardmen lain yang berjumlah ini bisa Laju urusi dengan mudah.


Begitu kakinya mulai turun dan menapak, tangannya sudah lebih dulu siap untuk memberikan pukulan yang sama kuat seperti kondisi prima sebelumnya, seperti pukulan kepada Vanitas.


BLAAARR!!


Lizardmen tersebut langsung terhempas terbang jauh membentur dinding gorong-gorong dan langsung tak sadarkan diri.


Menyadari pohon listrik tersebut bekerja dengan sangat baik untuk mengembalikan kondisi dan tenaganya, Laju langsung mengepalkan tangannya lagi untuk memberikan pukulan-pukulan dan hantaman lain yang langsung menghempaskan menerbangkan lizardmen lain sekalipun sudah mengerang mengeraskan sisiknya.


Laju sedikit heran, mengapa tidak ada satu pun pukulan yang begitu terasa sakit lagi pada tangannya. Baru ketika kelima lizardmen ini sudah tumbang membentur dinding gorong-gorong tak sadarkan diri, Laju menyadari masih ada kilatan kuning yang meliputi kepalan tangannya.


“Heh! Parker, ya!?” Laju menyeringai.


Bug!


Setelahnya, terdengar suara jatuh di belakangnya.


Laju lupa, dia harus menghadapi siapa korban yang baru diselamatkannya ini.


“Ngh-nghhhh… Hhhh-huu-huuu!” tangis sang gadis yang jatuh pada kedua lututnya. Ternyata, kakinya yang gemetar sudah tidak kuat lagi untuk menopang tubuhnya yang lemas dan lemah, pun mentalnya sekaligus.


Setelahnya, air mata pun praktis membanjiri wajah dari gadis ini.


Laju hanya bisa tersenyum kecil melihatnya.


Perlahan, Laju menggenggam kedua tangan gadis yang sedang menangis tesebut yang terlihat sangat kasar, penuh luka, lebam, dan sedikit rasa dingin. Laju elus perlahan-lahan kedua tangannya, dilanjut dengan pundak dan kepalanya.


Bukannya berangsur membaik, gadis tersebut malah menangis menjadi-jadi.


“Maaf aku terlambat, Del!” Ucap Laju yang langsung mendekap gadis di depannya.


Laju elus lebih dalam dan intim lagi punggung Delphia yang masih kaget terhadap apa-apa yang berada di depannya. Belum lagi dengan fakta bahwa Audy dan Aaron yang setengah sadar sedang duduk tergeletak di belakangnya, Laju hanya bisa bersimpati.


Satu tugas Laju untuk berkumpul dengan sisa kelompok sudah terpenuhi.


Saatnya membawa mereka bertemu satu sama lain, sekaligus membawa mereka masuk ke dalam pohon listrik yang mengambang tadi, berusaha memberikan kenyamanan semaksimal mungkin pada teman-temannya ini.


“Ayo!” Ajak Laju.

__ADS_1


__ADS_2