
Tubuhnya terasa sangat ganjil.
Sangat pegal, kaku, sangat tidak nyaman.
Matanya pun berat.
Napasnya? Sedikit tidak normal.
“Mmh… ngh!?” Perlahan keanehan mulai tersingkap.
Mulutnya tertutup, tubuhnya diikat.
Jug Jug!
Terdengar suara kendaraan di sekitarnya.
Tidak! Bukan sembarang kendaraan. Ini suara kereta!
INI SUARA KERETA YANG SEDANG BERJALAN!!!
Sekarang matanya sudah terbuka lebar, meskipun tetap tidak bisa melihat
apapun.
Bukan. Bukan karena pengelihatannya. Ini memang tempat yang remang dan
tertutup. Apa yang terjadi? Dimana lampu penerangan? Kenapa tidak berfungsi?
Laju berusaha menoleh sekitar, tapi ikatan di sekujur tubuhnya menolak
untuk melakukannya. Dia hanya bisa menggeser menggerakkan tubuhnya pelan-pelan,
dengan gerakan-gerakan kecilnya.
Kenapa dia ada di dalam kereta?
Setidaknya, ada hal baik dimana dia mengenali betul alas yang sedang dia
tiduri. Mungkin Laju sedang berada di atas kursi penumpang? Tapi, kalau begitu
ada masalah apa dengan gerbong ini? Kenapa tidak ada penerangan sedikit pun?
Apakah dia sedang berada di gerbong yang kosong?
“Ugh!” Protes Laju. Tidur memanjang di beberapa kursi sekaligus yang
tidak empuk sangatlah tidak nyaman untuk badannya. Ini sangat linu.
Tapi dia tidak bisa protes. Ini bukan kejadian yang bisa
dikendalikannya.
Apa yang terjadi dengannya?
Dia diculik? Bisa jadi.
Oleh siapa? Delphia?
Laju berusaha menggerakan lagi tubuhnya, berusaha menggerakan kepalanya,
berusaha melirik apapun yang bisa dia lihat. Dia fokuskan pandangannya ke
seberangnya, untuk melihat penampakan di atas kursi penumpang.
Terlihat sesuatu yang tidak asing di matanya. Terlihat meringkuk, juga
bergerak.
Itu manusia?
ITU ORANG!
Siapa? Apa yang terjadi? Hei Tolo-
Tidak. Setelah Laju lihat lebih teliti, dia juga mendapatkan perilaku
yang serupa dengannya. Mulut yang tersumpal dan tubuh yang terikat tali dengan
kuat. Laju malas mendekatinya, malas mengurusinya.
Itu Delphia.
Jadi dia bukanlah yang menculiknya, ya? Laju sedikit kecewa.
Krrt.
Terdengar suara besi yang usang.
BUG!
Selanjutnya, besi tersebut terbanting. Disusul suara sepatu dan suara
seorang pria yang semakin jelas. Laju kaget. Ada seseorang yang memasuki
gerbong kereta? Siapakah dia? Kawan? Ataukag lawan? Tidak. Mungkin menyebutnya
kawan terlalu berlebihan. Biarkan saja jika itu masyarakat normal pada umumnya.
Setidaknya, itu lebih dari cukup untuk membantu Laju dari kenestapaan ini.
“Apakah kakak yakin untuk melakukan ini?” Tanya seorang pria dengan
khawatir.
“Kenapa kamu jadi ragu ketika kita sudah memasuki kereta? Sudah kukatakan
ini akan berjalan dengan lancar. Percayakan saja pada kapten,” jawab seorang
yang lain.
“Setelah masuk kereta, tubuhku jadi merinding sendiri. Meskipun aku
sudah berkomitmen untuk melakukan ini dan segala macam, tapi aku tetap takut
akan sesuatu.”
“Wajar saja, kamu manusia. Bukan makhluk aneh yang berkeliaran tidak
jelas itu.”
“…”
“Kita haru-”
Belum sempat pria tadi selesaikan kata-katanya, Laju merasakan kakinya
tersenggol. Apakah mereka baru saja melakukan kontak? Apa yang akan terjadi
padanya setelahnya? Apakah mereka penculiknya?
Dari percakapan yang mereka lakukan, sepertinya mereka akan melakukan
__ADS_1
tindak kejahatan. Laju kembali pura-pura tidur saja, berusaha tidak terlihat
mencurigakan.
“Wah! Apa ini? Manusia? Siapa mereka?” Tanya sang adik.
Sepertinya kedua orang ini bukanlah yang menculik Laju. Jadi, apakah
mereka bisa dipercaya? Haruskah Laju bangun dan meminta pertolongan?
“Entahlah. Mungkin ini urusan orang lain. Biarkan saja mereka. Kita jangan
ikut campur,” ucap sang kakak sambil menyentuh tubuh Laju, mengembalikan
kakinya yang tadi disenggol olehnya. “Sepertinya gerbong kereta hanya sampai
sini, ya. Kalau begitu ayo kembali ke depan,” ajak sang kakak untuk kembali
pergi, meninggalkan Laju yang masih terikat.
Laju membuka matanya kembali. Berencana untuk menyelidiki apakah kedua
pria tersebut sudah menghilang. Tapi, yang terjadi dia malah terperanjat. Kursi
di seberangnya, terdapat sebuah penampakan seorang perempuan yang sedang duduk,
berdiri, bangun, atau apapun itu. PADAHAL SEBELUMNYA TIDAK ADA!!
Mungkin ada. Itu Delphia. Padahal Laju yakini betul bahwa gadis itu juga
sama terikat kuat seperti dirinya. Tapi, sekarang gadis itu sudah bisa duduk
dan bangun?
Delphia sudah bisa bergerak bebas, menoleh kanan-kiri, meregangkan
tubuhnya, bahkan bergerak mendekati Laju. Menyentuh tangan dan tubuhnya dengan
dingin, membuka ikatan-ikatan yang menyakitinya.
Sebenarnya, kecurigaan Laju terhadap Delphia kembali meningkat ketika
melihat Delphia yang bisa membuka ikatan dengan mudah. Jadi, apakah sejak awal
Delphia tidak terikat dan hanya tiduran saja? Tapi kecurigaan itu tertolak
mentah-mentah ketika melihat tangan Delphia yang terdapat bekas ikatan yang
memar dan merah-merah.
Setelah akhirnya keduanya bisa bebas dari ketidaknyamanan ikatan tali
yang meringkuk tubuh, mereka duduk dengan tenang di kursinya masing-masing. Meskipun
Laju telah diselamatkan oleh Delphia, dia tetap tidak ingin berdekatan
dengannya.
Sembari berpikir, Laju melihat jendela, melihat pemandangan yang sedang
dilalui oleh kereta yang bergerak cepat ini. Apakah Laju sedang bermimpi? Tentu
saja tidak. Rasa rasa sakit dari ikatan kuat itu dan rasa pegal dari posisi tidurnya
yang tidak nyaman sangatlah nyata. Tapi Laju tidak puas. Dia cubit pipinya
untuk melakukan tes.
Lalu, mengapa Laju tidak bisa mengenali pemandangan yang aneh ini?
Pemandangan yang hampir seluruhnya diliputi oleh asap dan kabut, dengan sedikit
penampakan tanah gersang, dan genangan air yang berwarna hitam. Sangat kotor,
penuh polusi, sangat beracun.
Tunggu. Laju pernah mengingat suasana tempat ini.
Tempat yang terlihat sangat kotor, dengan langit yang berwarna hijau
kecoklatan.
Laju sontak menoleh ke sampingnya.
Ini tempat yang serupa seperti mimpinya kemarin yang ditunjukkan oleh
Delphia.
Jadi apakah benar Delphia yang menculiknya?
Tapi gadis itu masih terlihat sama. masih murung, diam, dan gelagapan.
Laju sedikit ragu gadis yang tidak bisa berbicara itulah yang menculiknya.
Sebelum Laju bisa memproses semua keganjilan ini, Delphia tiba-tiba tersentak,
matanya berubah menjadi berlian, dan langsung menyembunyikan dirinya di bawah
kursi. Laju heran. Ada apa? Barusan memang ada suara ledakan yang menyerupai guntur.
Apakah Delphia takut akan suara guntur?
Heh! Menggelikan.
Tapi, keheranan Laju semakin menguat ketika Delphia mulai menolehnya dan
memberikan simbol untuk mengikutinya. Untuk berlindung di bawah kursi,
kalau-kalau ada guntur berikutnya yang meledak. Laju hanya menertawai saja
ajakan bodohnya itu. Sampai Delphia terlihat marah dan memberikan ekspresi
masam kepada Laju.
Delphia keluar dari pengungsian bawah kursinya, memanjat berdiri,
berjalan mendekati Laju, menyuruhnya untuk berlindung di bawah kursi dengan
paksa.
Sebenarnya, kekuatan yang Delphia berikan tidaklah sekuat itu.
Tapi untuk beberapa alasan, Laju turuti saja kemamuannya untuk
berlindung di bawah kursi. Dan setelahnya, Laju benar-benar terperangah karena
ajakan tersebut.
BUM!!!!!!!
Suara ledakan yang sangat besar muncul memekakkan telinga begitu Laju
__ADS_1
berlindung dibawah kursi. Bunyi ledakan apa itu? Ini bukan suara guntur! Ini
suara ledakan granat, bom, atau yang seperti itu. Apakah ini ulah kakak adik
barusan? Apa yang terjadi pada kereta? Tapi kereta masih terlihat berjalan dan
berfungsi normal?
Setelahnya, tangan Delphia diangkat dari tubuh dan kepala Laju. Apakah
itu tanda dan kode yang diberikan Delphia bahwa semuanya sudah aman? Tapi
Delphia masih terlihat bersembunyi di bawah kursi, tidak ada rencana untuk
bergerak.
Laju perlahan bangun dan bangkit, untuk melihat apa yang terjadi di atas
sana.
Perasaan yang dia rasakan pertama kali adalah panas.
Rasa panas dan sakit yang tidak nyaman dirasakan kulitnya.
Begitu matanya siap untuk melihat, ternyata terlihat dinding kereta yang
sudah tidak karuan. Meskipun masih berbentuk seperti dinding, tapi mereka sudah
tidak mulus dan bersih lagi. Ada banyak partikel kecil yang menghantam dan
menghancurkan permukaan dinding.
Laju melihat ke depan, ada banyak lubang-lubang kecil lainnya yang
terdapat di dinding gerbong depan, sampai Laju bisa mengintip melihat melewati
celah tersebut. Apa ini? Serangan *******? Apakah ada hubungannya dengan
penculikannya?
Laju kembali duduk.
Dia tidak ingin berpikir lagi.
Tapi, baru saja Laju kembali duduk, Delphia bangkit dan menarik lengan
Laju untuk pergi. Laju tidak ada niat untuk menolak lagi. Dia biarkan tangannya
ditarik untuk pergi menuju gerbong belakang yang terkunci. Dengan percakapan
yang minim, Laju paham bahwa dia harus membuka pintu ini.
Masih cukup mudah bagi tingkat kekuatan Laju untuk membuka gerbong ini.
Setelahnya, mereka pun berpindah ke gerbong belakang, menutup pintu rapat-rapat,
dan duduk termenung. Baru setelahnya, bunyi ledakan yang lebih besar dan
dahsyat terdengar, hingga tekanan dan getarannya bisa Laju rasakan.
Apakah gerbong ini bermaksud sebagai benteng pertahanan mereka?
Laju menatap Delphia sekali lagi yang masih duduk murung dan diam, tanpa
ada rasa panik pada ekspresinya. Dia begitu tenang dan santai?
Setelah kurun waktu kurang lebih dua puluh menit, akhirnya Laju memutuskan
untuk membuka pintu gerbong dan melihat ledakan apa barusan terjadi di depan
mereka.
Dan ternyata, separuh dari gerbong di depannya, gerbong tempat Laju
terbangun sudah hancur terpotong. Gerbong-gerbong di depannya bernasib lebih
menyedihkan dimana mereka sudah tidak berbentuk seperti gerbong kereta lagi,
melainkan partikel yang hancur berkeping-keping.
Setelah melihat sekeliling, baru Laju sadari ada kilasan gerbong yang
terlihat nan jauh disana yang tertutupi oleh kabut dan asap bekas ledakan yang
mungkin berjarak ratusan meter di depannya. Ledakan ini, bisa Laju simpulkan
ledakan yang terjadi di perut kereta yang menghancurkan beberapa gerbong
sekaligus memisahkan kepala dan ekor dari kereta.
Tidak hanya kereta saja yang menjadi korbannya, tanah dan rel kereta pun
hancur berkeping-keping menjadi tak berbentuk, atau mungkin menjadi debu.
Sedahsyat itu, ya?
Ledakan tersebut juga membuat gerbong yang dijadikan benteng
pertahanannya sedikit terhempas ke belakang, hingga pada akhirnya terdengar suara
roda kereta yang berangsur meredam. Laju putuskan untuk melihat perlahan, dan
memastikan bahwa mereka praktis tidak bergerak lagi.
Merasa sudah cukup melihat serangan ******* barusan yang begitu dahsyat,
Laju memutuskan untuk kembali duduk di gerbong paling belakang yang selamat tak
terkena dampak ledakan, untuk mendinginkan kepalanya.
Sampai beberapa menit ke depan Laju akhirnya berhasil untuk
menyimpulkan, ada beberapa poin penting yang bisa dia dapatkan dan dia
pedulikan.
Laju sekarang sedang berada di tempat antah berantah yang sama sekali
tidak dia kenali, tidak tahu arah, tidak memiliki telepon genggam, tidak ada
pemandu, selain perempuan aneh yang tidak bisa berbicara.
Setidaknya, Laju memiliki waktu 6 bulan untuk pulang.
Tapi apakah waktu tersebut cukup?
Terima kasih atas ledakan tidak penting barusan, dia tidak bisa sampai
di stasiun untuk bertanya satu dua hal kepada orang-orang. Tidak. bahkan dia
tidak bisa bertemu orang yang bisa ditanyai!
__ADS_1
“Tunggu tim evakuasi saja, lah!” Ucap Laju dengan malas setelahnya.