Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 14


__ADS_3

Tubuhnya terasa sangat ganjil.


Sangat pegal, kaku, sangat tidak nyaman.


Matanya pun berat.


Napasnya? Sedikit tidak normal.


“Mmh… ngh!?” Perlahan keanehan mulai tersingkap.


Mulutnya tertutup, tubuhnya diikat.


Jug Jug!


Terdengar suara kendaraan di sekitarnya.


Tidak! Bukan sembarang kendaraan. Ini suara kereta!


INI SUARA KERETA YANG SEDANG BERJALAN!!!


Sekarang matanya sudah terbuka lebar, meskipun tetap tidak bisa melihat


apapun.


Bukan. Bukan karena pengelihatannya. Ini memang tempat yang remang dan


tertutup. Apa yang terjadi? Dimana lampu penerangan? Kenapa tidak berfungsi?


Laju berusaha menoleh sekitar, tapi ikatan di sekujur tubuhnya menolak


untuk melakukannya. Dia hanya bisa menggeser menggerakkan tubuhnya pelan-pelan,


dengan gerakan-gerakan kecilnya.


Kenapa dia ada di dalam kereta?


Setidaknya, ada hal baik dimana dia mengenali betul alas yang sedang dia


tiduri. Mungkin Laju sedang berada di atas kursi penumpang? Tapi, kalau begitu


ada masalah apa dengan gerbong ini? Kenapa tidak ada penerangan sedikit pun?


Apakah dia sedang berada di gerbong yang kosong?


“Ugh!” Protes Laju. Tidur memanjang di beberapa kursi sekaligus yang


tidak empuk sangatlah tidak nyaman untuk badannya. Ini sangat linu.


Tapi dia tidak bisa protes. Ini bukan kejadian yang bisa


dikendalikannya.


Apa yang terjadi dengannya?


Dia diculik? Bisa jadi.


Oleh siapa? Delphia?


Laju berusaha menggerakan lagi tubuhnya, berusaha menggerakan kepalanya,


berusaha melirik apapun yang bisa dia lihat. Dia fokuskan pandangannya ke


seberangnya, untuk melihat penampakan di atas kursi penumpang.


Terlihat sesuatu yang tidak asing di matanya. Terlihat meringkuk, juga


bergerak.


Itu manusia?


ITU ORANG!


Siapa? Apa yang terjadi? Hei Tolo-


Tidak. Setelah Laju lihat lebih teliti, dia juga mendapatkan perilaku


yang serupa dengannya. Mulut yang tersumpal dan tubuh yang terikat tali dengan


kuat. Laju malas mendekatinya, malas mengurusinya.


Itu Delphia.


Jadi dia bukanlah yang menculiknya, ya? Laju sedikit kecewa.


Krrt.


Terdengar suara besi yang usang.


BUG!


Selanjutnya, besi tersebut terbanting. Disusul suara sepatu dan suara


seorang pria yang semakin jelas. Laju kaget. Ada seseorang yang memasuki


gerbong kereta? Siapakah dia? Kawan? Ataukag lawan? Tidak. Mungkin menyebutnya


kawan terlalu berlebihan. Biarkan saja jika itu masyarakat normal pada umumnya.


Setidaknya, itu lebih dari cukup untuk membantu Laju dari kenestapaan ini.


“Apakah kakak yakin untuk melakukan ini?” Tanya seorang pria dengan


khawatir.


“Kenapa kamu jadi ragu ketika kita sudah memasuki kereta? Sudah kukatakan


ini akan berjalan dengan lancar. Percayakan saja pada kapten,” jawab seorang


yang lain.


“Setelah masuk kereta, tubuhku jadi merinding sendiri. Meskipun aku


sudah berkomitmen untuk melakukan ini dan segala macam, tapi aku tetap takut


akan sesuatu.”


“Wajar saja, kamu manusia. Bukan makhluk aneh yang berkeliaran tidak


jelas itu.”


“…”


“Kita haru-”


Belum sempat pria tadi selesaikan kata-katanya, Laju merasakan kakinya


tersenggol. Apakah mereka baru saja melakukan kontak? Apa yang akan terjadi


padanya setelahnya? Apakah mereka penculiknya?


Dari percakapan yang mereka lakukan, sepertinya mereka akan melakukan

__ADS_1


tindak kejahatan. Laju kembali pura-pura tidur saja, berusaha tidak terlihat


mencurigakan.


“Wah! Apa ini? Manusia? Siapa mereka?” Tanya sang adik.


Sepertinya kedua orang ini bukanlah yang menculik Laju. Jadi, apakah


mereka bisa dipercaya? Haruskah Laju bangun dan meminta pertolongan?


“Entahlah. Mungkin ini urusan orang lain. Biarkan saja mereka. Kita jangan


ikut campur,” ucap sang kakak sambil menyentuh tubuh Laju, mengembalikan


kakinya yang tadi disenggol olehnya. “Sepertinya gerbong kereta hanya sampai


sini, ya. Kalau begitu ayo kembali ke depan,” ajak sang kakak untuk kembali


pergi, meninggalkan Laju yang masih terikat.


Laju membuka matanya kembali. Berencana untuk menyelidiki apakah kedua


pria tersebut sudah menghilang. Tapi, yang terjadi dia malah terperanjat. Kursi


di seberangnya, terdapat sebuah penampakan seorang perempuan yang sedang duduk,


berdiri, bangun, atau apapun itu. PADAHAL SEBELUMNYA TIDAK ADA!!


Mungkin ada. Itu Delphia. Padahal Laju yakini betul bahwa gadis itu juga


sama terikat kuat seperti dirinya. Tapi, sekarang gadis itu sudah bisa duduk


dan bangun?


Delphia sudah bisa bergerak bebas, menoleh kanan-kiri, meregangkan


tubuhnya, bahkan bergerak mendekati Laju. Menyentuh tangan dan tubuhnya dengan


dingin, membuka ikatan-ikatan yang menyakitinya.


Sebenarnya, kecurigaan Laju terhadap Delphia kembali meningkat ketika


melihat Delphia yang bisa membuka ikatan dengan mudah. Jadi, apakah sejak awal


Delphia tidak terikat dan hanya tiduran saja? Tapi kecurigaan itu tertolak


mentah-mentah ketika melihat tangan Delphia yang terdapat bekas ikatan yang


memar dan merah-merah.


Setelah akhirnya keduanya bisa bebas dari ketidaknyamanan ikatan tali


yang meringkuk tubuh, mereka duduk dengan tenang di kursinya masing-masing. Meskipun


Laju telah diselamatkan oleh Delphia, dia tetap tidak ingin berdekatan


dengannya.


Sembari berpikir, Laju melihat jendela, melihat pemandangan yang sedang


dilalui oleh kereta yang bergerak cepat ini. Apakah Laju sedang bermimpi? Tentu


saja tidak. Rasa rasa sakit dari ikatan kuat itu dan rasa pegal dari posisi tidurnya


yang tidak nyaman sangatlah nyata. Tapi Laju tidak puas. Dia cubit pipinya


untuk melakukan tes.


Lalu, mengapa Laju tidak bisa mengenali pemandangan yang aneh ini?


Pemandangan yang hampir seluruhnya diliputi oleh asap dan kabut, dengan sedikit


penampakan tanah gersang, dan genangan air yang berwarna hitam. Sangat kotor,


penuh polusi, sangat beracun.


Tunggu. Laju pernah mengingat suasana tempat ini.


Tempat yang terlihat sangat kotor, dengan langit yang berwarna hijau


kecoklatan.


Laju sontak menoleh ke sampingnya.


Ini tempat yang serupa seperti mimpinya kemarin yang ditunjukkan oleh


Delphia.


Jadi apakah benar Delphia yang menculiknya?


Tapi gadis itu masih terlihat sama. masih murung, diam, dan gelagapan.


Laju sedikit ragu gadis yang tidak bisa berbicara itulah yang menculiknya.


Sebelum Laju bisa memproses semua keganjilan ini, Delphia tiba-tiba tersentak,


matanya berubah menjadi berlian, dan langsung menyembunyikan dirinya di bawah


kursi. Laju heran. Ada apa? Barusan memang ada suara ledakan yang menyerupai guntur.


Apakah Delphia takut akan suara guntur?


Heh! Menggelikan.


Tapi, keheranan Laju semakin menguat ketika Delphia mulai menolehnya dan


memberikan simbol untuk mengikutinya. Untuk berlindung di bawah kursi,


kalau-kalau ada guntur berikutnya yang meledak. Laju hanya menertawai saja


ajakan bodohnya itu. Sampai Delphia terlihat marah dan memberikan ekspresi


masam kepada Laju.


Delphia keluar dari pengungsian bawah kursinya, memanjat berdiri,


berjalan mendekati Laju, menyuruhnya untuk berlindung di bawah kursi dengan


paksa.


Sebenarnya, kekuatan yang Delphia berikan tidaklah sekuat itu.


Tapi untuk beberapa alasan, Laju turuti saja kemamuannya untuk


berlindung di bawah kursi. Dan setelahnya, Laju benar-benar terperangah karena


ajakan tersebut.


BUM!!!!!!!


Suara ledakan yang sangat besar muncul memekakkan telinga begitu Laju

__ADS_1


berlindung dibawah kursi. Bunyi ledakan apa itu? Ini bukan suara guntur! Ini


suara ledakan granat, bom, atau yang seperti itu. Apakah ini ulah kakak adik


barusan? Apa yang terjadi pada kereta? Tapi kereta masih terlihat berjalan dan


berfungsi normal?


Setelahnya, tangan Delphia diangkat dari tubuh dan kepala Laju. Apakah


itu tanda dan kode yang diberikan Delphia bahwa semuanya sudah aman? Tapi


Delphia masih terlihat bersembunyi di bawah kursi, tidak ada rencana untuk


bergerak.


Laju perlahan bangun dan bangkit, untuk melihat apa yang terjadi di atas


sana.


Perasaan yang dia rasakan pertama kali adalah panas.


Rasa panas dan sakit yang tidak nyaman dirasakan kulitnya.


Begitu matanya siap untuk melihat, ternyata terlihat dinding kereta yang


sudah tidak karuan. Meskipun masih berbentuk seperti dinding, tapi mereka sudah


tidak mulus dan bersih lagi. Ada banyak partikel kecil yang menghantam dan


menghancurkan permukaan dinding.


Laju melihat ke depan, ada banyak lubang-lubang kecil lainnya yang


terdapat di dinding gerbong depan, sampai Laju bisa mengintip melihat melewati


celah tersebut. Apa ini? Serangan *******? Apakah ada hubungannya dengan


penculikannya?


Laju kembali duduk.


Dia tidak ingin berpikir lagi.


Tapi, baru saja Laju kembali duduk, Delphia bangkit dan menarik lengan


Laju untuk pergi. Laju tidak ada niat untuk menolak lagi. Dia biarkan tangannya


ditarik untuk pergi menuju gerbong belakang yang terkunci. Dengan percakapan


yang minim, Laju paham bahwa dia harus membuka pintu ini.


Masih cukup mudah bagi tingkat kekuatan Laju untuk membuka gerbong ini.


Setelahnya, mereka pun berpindah ke gerbong belakang, menutup pintu rapat-rapat,


dan duduk termenung. Baru setelahnya, bunyi ledakan yang lebih besar dan


dahsyat terdengar, hingga tekanan dan getarannya bisa Laju rasakan.


Apakah gerbong ini bermaksud sebagai benteng pertahanan mereka?


Laju menatap Delphia sekali lagi yang masih duduk murung dan diam, tanpa


ada rasa panik pada ekspresinya. Dia begitu tenang dan santai?


Setelah kurun waktu kurang lebih dua puluh menit, akhirnya Laju memutuskan


untuk membuka pintu gerbong dan melihat ledakan apa barusan terjadi di depan


mereka.


Dan ternyata, separuh dari gerbong di depannya, gerbong tempat Laju


terbangun sudah hancur terpotong. Gerbong-gerbong di depannya bernasib lebih


menyedihkan dimana mereka sudah tidak berbentuk seperti gerbong kereta lagi,


melainkan partikel yang hancur berkeping-keping.


Setelah melihat sekeliling, baru Laju sadari ada kilasan gerbong yang


terlihat nan jauh disana yang tertutupi oleh kabut dan asap bekas ledakan yang


mungkin berjarak ratusan meter di depannya. Ledakan ini, bisa Laju simpulkan


ledakan yang terjadi di perut kereta yang menghancurkan beberapa gerbong


sekaligus memisahkan kepala dan ekor dari kereta.


Tidak hanya kereta saja yang menjadi korbannya, tanah dan rel kereta pun


hancur berkeping-keping menjadi tak berbentuk, atau mungkin menjadi debu.


Sedahsyat itu, ya?


Ledakan tersebut juga membuat gerbong yang dijadikan benteng


pertahanannya sedikit terhempas ke belakang, hingga pada akhirnya terdengar suara


roda kereta yang berangsur meredam. Laju putuskan untuk melihat perlahan, dan


memastikan bahwa mereka praktis tidak bergerak lagi.


Merasa sudah cukup melihat serangan ******* barusan yang begitu dahsyat,


Laju memutuskan untuk kembali duduk di gerbong paling belakang yang selamat tak


terkena dampak ledakan, untuk mendinginkan kepalanya.


Sampai beberapa menit ke depan Laju akhirnya berhasil untuk


menyimpulkan, ada beberapa poin penting yang bisa dia dapatkan dan dia


pedulikan.


Laju sekarang sedang berada di tempat antah berantah yang sama sekali


tidak dia kenali, tidak tahu arah, tidak memiliki telepon genggam, tidak ada


pemandu, selain perempuan aneh yang tidak bisa berbicara.


Setidaknya, Laju memiliki waktu 6 bulan untuk pulang.


Tapi apakah waktu tersebut cukup?


Terima kasih atas ledakan tidak penting barusan, dia tidak bisa sampai


di stasiun untuk bertanya satu dua hal kepada orang-orang. Tidak. bahkan dia


tidak bisa bertemu orang yang bisa ditanyai!

__ADS_1


“Tunggu tim evakuasi saja, lah!” Ucap Laju dengan malas setelahnya.


__ADS_2