
Setelah beberapa waktu, Laju akhirnya terbangun.
Perlahan, indranya mulai berfungsi kembali untuk memenuhi tugasnya.
Tapi, Laju malah berharap bahwa indranya bisa dinonaktifkan saja kalau
kondisinya seperti ini. Sebelum pengelihatannya bisa dioptimalkan dengan baik,
penciuman Laju lebih dulu bekerja untuk merangsang mulut dan pencernaan untuk
memuntahkan sesuatu dari dalam perut.
“Hooeeeeek!” Laju mendadak tidak enak badan.
Laju memuntahkan sesuatu, tapi tidak ada apapun yang keluar. Mau
bagaimana? Perutnya tidak terisi apapun kecuali angin dan harapan palsu.
Rasa mual ini bermulai dari rasa jijiknya yang muncul tiba-tiba.
Setelah diselidiki, asal aroma ini mungkin berasal ruangan sebelah.
Terdengar banyak suara-suara binatang yang campur aduk satu sama lain. Apakah
ini sebuah peternakan? Ada suara kambing, domba, sapi, ayam, banyak rupanya.
Laju mengusap mulut dan air liurnya setelah muntah palsu tadi. Tidak
lupa dia juga menutup separuh hidungnya agar aroma yang tidak menyenangkan dari
campuran lumpur dan tinja tidak merangsang perutnya kembali untuk memuntahkan
sesuatu.
Sembari bangkit dari lantai ruangan yang hanya beralaskan tanah, Laju
menginjau kondisinya lebih jauh. Sudah berapa lama dia tertidur?
Apakah ini sudah hari esok? Terlihat ada cahaya matahari menyembur di
balik jendela kecil di atas dinding. Tapi apakah itu betul sinar matahari?
Bagaimana jika itu hanya pencahayaan buatan seperti lampu neon lainnya?
Tidak. Menanyakan waktu tidaklah penting.
Yang ingin Laju ketahui sekarang adalah dimana dia sekarang?
Ya, dia memang sudah paham bahwa dirinya berada di sebuah peternakan berkat
banyak suara binatang yang didengarnya tadi. Tapi, posisi pastinya dia berada
dimana?
Lagipula, kenapa dia ada di peternakan?
“Hurgh!” Perutnya mual lagi.
Ruangan yang ditempatinya ini lebih menyedihkan dari semua ruangan yang
Laju bisa kenali. Dengan lantai alami dari tanah dan lumpur dengan bau menusuk,
dinding yang terlihat dari semen dan tanah liat yang tidak rata, jendela
seadanya yang mungkin dibuat sekenanya karena tidak terdapat bingkainya, juga atap
dari dedaunan yang tidak rapi karena banyak lubang. Apakah ini masih di kota
yang sama?
Apa? Apa nama kotanya? Kannaris?
Laju meragukan itu.
Perbedaan teknologi dan kualitas arsitektur dalam pemilihan bahan
pembangunan yang terdapat di ruangan ini sangat kuno jika dibandingkan dengan
kota modern yang penuh dengan monster kemarin. Penuh hologram, penerangan neon
yang nyentrik, hingga kendaraan yang terbang disana-sini.
Tapi, jika membicarakan daerah pinggiran yang kumuh dan terpencil yang
terdapat di kota tempat asalnya, yakni kota penuh manusia. Ruangan ini masih
bisa ditolerir dan justru sangat masuk akal.
Di kota asalnya? Laju berpikir kembali terhadap pernyataanya.
APAKAH LAJU SUDAH KEMBALI?
KE KOTA ASALNYA?
Laju perlahan bangkit pergi menuju pintu kayu yang sudah rapuh di
depannya.
Kktt!
Tapi pintu terkunci.
“Ah, sialan!” kesal Laju. “Ini sudah seperti penjara saja,” lanjutnya.
Laju berusaha mereka ulang semua kejadian yang dia ingat sebelum
berakhir di ruangan ini. Dia pergi ke sebuah gedung, sedikit bertengkar dengan
ketua dari kelompok tersebut, siapa namanya? Parker Bullstone? Lalu berhadapan
dengan monster biru berinsang, Delphia berubah menjadi putih lagi, hingga pada
akhirnya tak sadarkan diri karena tenggelam pada sebuah bola air yang membuatnya
tidak bisa bernapas.
Laju mengingat perasaan tenggelam tersebut.
Sangat tidak nyaman.
Dia pikir, bola air itu akan langsung mengakhiri hidupnya di tempat.
Tapi, dengan dirinya yang saat ini dengan jelas bisa menghirup aroma tidak
menyenangkan dan menjijikkan dari binatang di sebelah. Ini merupakan bukti
bahwa dirinya masih hidup.
“Jadi apa-apaan pertarungan kemarin itu?”
Apakah dia harus bersyukur? Laju sendiri tidak tahu. Tidak ada yang
berakhir benar di hidupnya akhir-akhir ini. Semua yang terjadi hanyalah
kekacauan yang sangat absurd dan tidak masuk akal.
“Negosiasinya tidak berjalan lancar, ya?” Tanya Laju pada diri sendiri.
Dia membelalak, mengingat ucapan amburadulnya. Dia malu. Ucapan yang seperti
itu bukanlah negosiasi, atau percakapan yang bermutu. Itu hanya celotehan
menyedihkan yang memelas karena meminta orang asing untuk memulangkannya.
Laju merasakan hal aneh.
Kenapa orang sepertinya bisa-bisanya berbicara dengan tidak jelas
tersebut?
Tapi sebelum memikirkan itu semua, Laju harus berpikir terlebih dahulu
masalah yang nyata dan terdapat di depan matanya, tentang bagaimana dia bisa
keluar dari tempat ini.
Perlahan, tangannya dilepas untuk tidak menutup hidungnya lagi, dan
belajar untuk beradaptasi pada lingkungan. Seperti biasa, dia menyilangkan
tangannya di dadanya, bersandar di pintu kayu, dan mulai berpikir banyak hal.
Ada secuil harapan yang Laju usahakan terhadap upayanya kabur dari
penjara ini.
Kayu yang menjadi bahan dasar pintu yang menutup ruangan ini terlihat
sangat rapuh. Tapi tidak juga. Pintu rapuh ini cukup kokoh karena masih bisa
bertahan meskipun setelah Laju dorong dan tendang sekuat tenaga.
Maka dari itu, dia senderkan punggungnya pada pintu rapuh ini dengan
harapan bisa merusak engsel sehingga pintu bisa terbuka setelahnya.
Dan ternyata, harapan itu menjadi kenyataan.
Ketika Laju masih bersungut-sungut mencari tahu jalan keluar yang bisa
dia upayakan, pintu tiba-tiba terbuka dan membuatnya terjatuh.
Bugh!
Laju jatuh terbanting.
Tapi itu bukan karena engsel pintu yang keropos oleh berat badan Laju
dan jatuh begitu saja. Pintu kayu itu terbuka secara normal seperti pintu pada
umumnya. Terbuka membelok sesuai engsel yang menopangnya.
“Ugh!” Laju mengerang kesakitan.
Dia usap kepalanya yang sedikit sakit akibat benturan tersebut dan
melihat siapa gerangan yang bertanggung jawab atas pintu yang tiba-tiba terbuka
tersebut.
Di depannya sudah ada Delphia yang masih terlihat gelagapan dan berusaha
meminta maaf karena telah membuat Laju terjatuh karena ulahnya. Melihat gadis
yang selalu saja merepotkan itu di depannya, dengan polos memegang sebuah
kunci, dan membukakan pintu ruangan tadi langsung membuat Laju naik darah.
“JADI INI SEMUA ULAH KAMU, YA!? Mengunciku di tempat seperti ini
semalaman? Apa sih!? Mau kamu apa, sih!?” Bentak Laju pada gadis malang ini.
Tapi, tidak seperti sebelumnya yang hanya diam seribu kata – meskipun
memang Delphia masih tidak berbicara, tidak bersuara, tidak berbahasa. Sekarang,
Delphia lebih berusaha aktif untuk
menjawab amarah laju.
Dia gelengkan kepala dan tangannya dengan ekspresi yang campur aduk
antara takut dan kaget, tapi juga khawatir dan rasa ingin menangis.
Sementara Laju berdiri dan membersihkan debu di seluruh bajunya,
sebenarnya Laju juga paham dimana posisi Delphia antara perseteruan kemarin.
Detik-detik Laju tidak sadarkan diri, dia bisa melihat dengan jelas bahwa
Delphia menangisinya yang tenggelam dengan sedikit usaha ingin membantu dan
menolongnya. Lagipula, ketika dia hampir masuk fase tidak sadarkan diri, dia
merasakan sendiri tubuhnya diangkat oleh tangan dan perawakan yang besar. Itu
pasti Parker. Mungkin kelompoknya lah yang mengurung Laju di tempat ini.
Dengan pernyataan tersebut, sudah jelas Delphia adalah kawannya yang
__ADS_1
justru datang ingin membantunya.
Laju tahu fakta tersebut.
Tapi mungkin karena hatinya yang panas karena stress dan banyak hal, dia
limpahkan semua kekesalannya kepada Delphia yang tidak salah apapun.
“Heh!” Dengus Laju setelah dia bersihkan semua kotoran yang merepotkan dan
lanjut pergi dari peternakan ini. Dan seperti biasa, meskipun semua perilaku
yang Laju berikan kepada Delphia tidaklah baik, dia tetap mengikuti Laju untuk
berjalan pergi dari tempat ini.
Meskipun sekarang – mungkin karena Laju yang tidak bisa berbuat apapun
terhadap gadis ini, Laju biarkan saja dia melakukan apapun sesuka hatinya dan
mengikutinya. Karena, meski Laju tolak sekalipun dia pasti akan tetap
mengikutinya, entahlah apa alasannya.
Tentu saja ini bukan karena Laju yang tidak tahu jalan sehingga
membutuhkan Delphia untuk memandunya kembali ke pusat kota. Tentu saja tidak. Meskipun
dia tidak tahu berada dimana, Laju tidak
buta arah! Dia bisa pulang tanpa bantuan Delphia sekalipun!
Setelah melihat sekeliling dan menerka-nerka. Laju bisa melihat siluet
bangunan dan gedung-gedung menjulang di kejauhan. Sebenarnya, mungkin ini masih
menjadi bagian dari kota Kannaris. Tapi, jaraknya mungkin cukup jauh dengan pusat
kota yang Laju kenali ketika kemarin berjalan bersama sang wanita yang bernama
Iris.
Lagipula, setelah berjalan beberapa lama. Laju menemukan bahwa tempat
ini masih dilewati oleh jalan utama yang dilintasi oleh kendaraan melayang meskipun
tidak seramai pusat kota. Ketika melihat ujung jalan di arah yang berlawanan,
terlihat juga siluet bangunan-bangunan yang mungkin sudah merupakan kota lain
karena bentuk gedung dan pencahayannya yang terlihat berbeda dengan yang Laju
kenali kemarin.
Jika disimpulkan, mungkin Laju sedang berada di sebuah wilayah kecil
yang sedikit lebih subur dari pusat kota, di sebuah pinggiran kota Kannaris.
Sebenarnya ada banyak pilihan kemana Laju harus pergi. Dia tidak lagi
terpenjara dan diharuskan untuk pergi ke suatu tempat. Tapi, Laju tidak begitu
ingin bertaruh. Dia hanya mengetahui kota Kannaris sebagai kota yang kemarin
dia datangi setelah insiden di rel kereta. Maka, tujuannya sangatlah jelas.
Pergi ke kota Kannaris, lalu menunjungi stasiun kereta yang harusnya
bisa menjadi petunjuknya untuk pulang. Dia datang dengan sebuah kereta, maka
cara dia pulang tentu saja dengan kereta lagi.
“Baiklah!” Ucap Laju.
Dengan solusi yang mudah ditemukan tersebut, kepercayaan diri Laju pun
memuncak membakar semangatnya. Langkahnya pun lebih tegap dan menyiapkan diri
untuk pulang.
Sayangnya, semangat tersebut hanya terbakar untuk 30 menit saja.
Meskipun sudah selama itu, dia masih belum menemukan tanda-tanda dirinya
akan sampai di pusat kota. Meskipun sudah ratusan kendaraan yang melewati
mereka, meskipun Laju sudah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan tumpangan.
Sayangnya tidak ada satu kendaraan pun yang peduli dengan bocah asing di
pinggir jalan yang menyedihkan ini.
Laju pun teringat sesuatu.
Dia balik badan, mengagetkan Delphia.
“Kamu datang kesini dari pusat kota, kan? Dengan kendaraan, kan?” Tanya
Laju.
Delphia memutar bola matanya, sedang berpikir. Beruntung, tidak seperti sebelumnya
yang hanya diam. Delphia kali ini bersedia untuk menjawab meskipun dengan jeda
yang begitu lama. Laju sedikit heran. Ini hanya pertanyaan mudah yang bisa
dijawab dengan ya ataupun tidak. Kenapa sesulit itu?
Setelahnya, akhirnya Delphia menjawab dengan anggukan.
Laju kaget dengan jawaban itu, merasa usahanya selama 30 menit ini
sia-sia.
“Lalu kenapa kita tidak pulang dengan kendaraan saja kalau begitu? Lelah
berjalan tidak ada habisnya sudah 30 menit,” ucap Laju kecewa. “Lalu dimana?
Dimana kendaraannya? Apa kita harus kembali lagi ke tempat tadi?”
Tidak perlu berpikir lama seperti pertanyaan sebelumnya, untuk yang kali
Sayangnya, itu bukan jawaban yang menyenangkan.
Delphia menggelengkan kepalanya dengan keras, juga kedua tangannya.
“Tidak? Bukan? Apanya? Apanya yang tidak?” Laju mulai frustasi lagi.
Delphia kembali gelagapan dan memiringkan kepalanya. Laju tersadar, itu
bukan pertanyaan yang bisa dijawab oleh Delphia. Pertanyaan itu terlalu
spesifik dan sulit. Laju mengambil napas untuk membuat dirinya tenang lagi,
untuk mulai bertanya kepada Delphia.
“Jadi kita tidak bisa menggunakan kendaraan untuk kembali ke kota?”
Delphia mengangguk.
Tentu saja pertanyaan Laju yang berikutnya adalah untuk bertanya alasan
jawaban Delphia tersebut. Tapi langsung Laju urungkan lagi untuk diganti dengan
pertanyaan lain yang lebih mudah untuk bisa dijawab.
“Tapi kamu pergi kesini dengan kendaraan?”
Delphia mengangguk.
“Apakah aku dibawa kesini juga dengan kendaraan?”
Delphia mengangguk lagi.
“Oh, jadi kita dibawa oleh Parker dan teman-temannya itu?”
Delphia kembali mengangguk
“Lalu mereka meninggalkan kita seenaknya begini?” Laju kembali bertanya,
tapi bukan untuk Delphia. Dia sudah mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
Laju kembali balik badan untuk melanjutkan perjalanan jauhnya menuju
pusat kota.
“Tsk!” Laju mendecakkan lidahnya. Ekspresinya mengerut cemberbut.
“Merepotkan saja monster-monster ini!”
Tapi permasalahannya, untuk apa Laju dibawa kesini? Sebenarnya bisa saja
dia diakhiri ditempat kalau Parker dan kawan-kawannya ingin. Tapi, kenapa sampai
repot-repot menghabiskan waktu untuk memindahkan Laju kesini.
Apa tujuan yang berusaha mereka capai?
Pertanyaan tersebut tidak bisa Laju jawab sampai dua jam kedepan. Selain
karena tidak ada gunanya mengurusi orang lain, pikirannya menjadi sangat berantakan
akibat perut yang lapar, tenggorokan yang haus, dan tubuh yang lelah.
Setelah dua setengah jam berjalan, akhirnya mereka dikelilingi lagi oleh
gedung-gedung menjulang tinggi, hologram yang memenuhi persimpangan, dan lampu
neon di semua tempat. Bukan lagi oleh padang rumput yang gersang, sedikit
tumbuhan kecuali kaktus, yang dilalui oleh sedikit kendaraan yang egois karena
tidak bersedia ditumpangi oleh dua bocah yang kelelahan.
Beruntung, ada pancuran air gratis di sebuah trotoar. Meskipun begitu,
Laju tetap tidak ingin mencoba hal diluar kemampuannya. Dia berusaha belajar
dari pengalamannya atau akan terjadi lagi malapetaka dan bencana yang tidak
diinginkan jika dia sembrono. Bagiamana jika sebenarnya isi dari pancuran
tersebut malah air yang mencurigakan dan berbahaya yang malah membunuhnya?
Itu tidak lucu.
Tapi ternyata, kebutuhan primer makhluk dan monster ini sama saja
seperti makhuk hidup pada umumnya, yakni air mineral sebagai penyembuh rasa
dahaga.
Setelah berpura-pura duduk di kursi yang berada sampingnya untuk
menunggu seorang menggunakan dan memperlihatkan isi dari pancuran tersebut,
baru Laju berani untuk menggunakannya guna menyembuhkan rasa haus di
tenggorokannya yang sudah mengering seperti gurun yang tadi dilewatinya.
Tidak lupa juga setelah Laju selesai menggunakannya, Delphia ikut minum
karena berjalan selama dua jam lebih sangat menguras tenaga.
Ini kebetulan! Ini hanya kebetulan! Laju berusaha meyakinkan diri
sendiri. Setelah Delphia selesai minum, barulah Laju mulai bangkit lagi dan
kembali berjalan. Menyadari hal tersebut, Laju tentu saja sangat kesal dengan
sedikit rasa malu.
Tidak! Tidak mungkin! Laju mulai berjalan lagi bukannya karena menunggu
Delphia menyelesaikan minumnya! Tidak! Tidak sama sekali! Ini hanya kebetulan!
Laju hanya mengistirahatkan kakinya sedikit lebih lama.
Ya! Dia mengistirahatkan kakinya!
__ADS_1
“Lalu sekarang, dimana aku bisa menemukan stasiun?” Toleh Laju perlahan
melihat sekelilingnya.
Dia bisa saja langsung bertanya kepada seorang yang lewat, karena ada
puluhan monster yang berlalu lalang di depannya sekarang ini. Tapi, Laju harus
berhati-hati memilih melihat dan mengidentifikasi siapa monster yang kondisi
hatinya sedang baik, atau dia akan dilempar bebas lagi seperti kemarin.
“Hah!? Stasiun?” Setelah sembilan monster, yang kali ini baru terlihat
akan merespon dengan cukup baik. Meskipun nampaknya memang sangat sedikit
informasi yang bisa didapatkan. “Sana, sana disana! Disana pokoknya,” ucapnya
sambil menunjukkan arah di belakangnya.
“Disana dimana? Tidak bisakah dia berikan patokan arah yang lebih Jelas?” Omelan Laju pada dirinya sendiri. Tapi,
ketika Laju ingin bertanya lebih lanjut, monster kesepuluh tadi sudah hilang
diantara lalu lalang kesibukan kota.
Laju tidak punya pilihan lain. Dia pun pergi ke arah yang disebutkan
meskipun sebenarnya masih sangat ambigu.
Sesuai dugaannya, tidak ada apapun yang mengindikasikan sebuah stasiun.
Tidak perlu dia pahami tulisan di kota ini yang tidak dipahaminya. Tanpa
perlu memahami tulisan, konten yang ditawarkan sebuah tempat atau toko sudah
bisa menjelaskan fungsi dari kehadiran tempat atau toko tersebut.
Setelah memutar bertanya kesana kemari, tidak ada seorangpun yang
memberikan penjelasan jelas mengenai keberadaan stasiun, ataupun sebuah rel
kereta.
“Apakah tidak ada satupun jasa transportasi di kota ini?” Tanya Laju
mulai menyerah.
Laju berusaha berpikir kembali bagaimana dia bisa berada di kota ini.
Sangat jelas dia bisa mengingat bahwa dia memang berada di sebuah kereta
yang berjalan di atas rel kereta, kan? Dia menggunakan jasa transportasi
kereta, sebuah mesin kubus panjang dari besi. Ya, dia memang menggunakannya.
Lalu bagaimana dia bisa pergi ke kota ini?
Laju mengorek kembali memorinya.
Oh!
Dia pergi bersama Iris dengan kemampuan merubah dirinya menjadi burung.
Lalu bagaimana setelahnya? Apa informasi yang bisa dia dapatkan dari
Iris yang membawa mereka masuk ke dalam kota ini?
“Haah,” keluh laju menghembuskan napasnya.
Tidak ada.
Dia tidak bisa mengingat bagaimana dia terbang bersama Iris karena
fokusnya tertuju pada perutnya yang mual. Lagipula, ketika mereka datang ke
kota pun mereka sudah berada dibawah sebuah gedung. Bukan di perbatasan atau
semacamnya yang menghubungkan suatu kota dengan lingkungannya.
Tunggu! Gedung tersebut mungkin bisa menjadi petunjuk mengenai
keberadaan stasiun dan rel kereta! Bisa jadi gedung tersebut merupakan stasiun
yang selama ini dia cari.
Laju pun bergegas mengingat bentuk kota untuk berusaha kembali ke tempat
pertama dia datang ke kota ini. Tapi, Laju kembali mengeluh menghembuskan
napasnya.
Gedung ini tidak lain hanyalah sebuah gedung perkantoran yang tidak ada
hubungannya dengan semua informasi yang dia butuhkan. Laju bahkan sudah
berusaha untuk mencoba menerobos masuk untuk melihat isi yang ditawarkan oleh
gedung tersebut. Tapi, dia tidak bisa menerobos masuk selain hanya meja
resepsionis saja.
Lagipula, ini memang betul gedung perkantoran.
Dia merasa lelah dan mulai ingin menyerah terhadap tujuanya kali ini.
Apa yang dia lakukan terasa sia-sia saja.
Sembari melangkah menyesali semua usahanya, dia mendapati terdapat
sebuah papan yang terdiri dari banyak tulisan dan kertas yang bisa
diidentifikasikan sebagai papan pengumuman dan informasi.
Ah! Meskipun ini bukan jawaban yang diinginkan Laju, tapi ini tentu saja
sebuah papan penuh informasi yang bisa membantunya. Di papan tersebut, terdapat
sebuah peta yang menunjukkan seisi kota Kannaris ini.
Setelah memindai seluruh informasi peta tersebut, Laju secara garis
besar bisa menangkap penuh informasi yang dia butuhkan. Pertama, dia bisa
melihat letak dia diasingkan di perbatasan peternakan yang memang masih berada
di wilayah Kannaris, namun memang bukan pusat kota.
Kedua, dia bisa melihat gedung tempat Parker dan teman-temannya berada
di bagian barat. Ketiga, dia lupa kenapa tidak meminta bantuan polisi saja
terhadap perkara ini sehingga tujuannya pun berubah.
Dan keempat, MEMANG TIDAK ADA JASA TRANSPORTASI SEPERTI STASIUN,
BANDARA, ATAU SEMACAMNYA DI KOTA INI.
Laju awalnya terperanjat kaget melihat keanehan kota ini yang sama
sekali tidak bisa masuk dipahami oleh logikanya. Dia membisu, tidak dapat lagi
berkomentar terhadap semua keanehan kota ini.
“Untuk apa? Sejak teleportasi ditemukan jasa-jasa transportasi seperti
itu sudah usang dan ketinggalan zaman. Lagipula ini pertanyaan yang aneh datang
dari bocah yang harusnya selalu mengikuti perkembangan zaman. Hahahah!” Tawa
seorang monster yang menggunakan seragam di gedung yang sudah Laju identifikasikan
sebagai kantor polisi.
Ada banyak pertanyaan yang ingin Laju tanyakan. Kalau memang teleportasi
ditemukan, untuk apa semua kendaraan yang berlalu lalang ini? Lalu dimana dia
bisa menemukan tempat untuk melakukan teleportasi? Tidakkah mereka bisa membantunya
pulang? Dan berbagai macam pertanyaan lainnya.
Tapi sebelum itu, Laju meminta bantuan polisi sebagai bocah tersesat
untuk membawanya pergi ke ujung kota, untuk memastikan sendiri nasibnya yang
pupus karena tidak bisa pulang dengan mudah.
“Apakah kamu puas?” tanya sang polisi ketika mereka sudah berada di
perbatasan paling selatan kota. Seingat Laju yang sempat melihat kondisi
lingkungan ketika di kereta, dari daerah sinilah dia datang.
Dan yang ada di hadapannya, tidak lain hanyalah jalan raya yang
menjembatani sungai kotor kepada kota lainnya. Tidak ada stasiun ataupun rel
kereta yang bisa Laju pakai untuk pulang.
“Lalu bagaimana dengan teleportasi? Tidak bisakah aku gunakan untuk
pulang?” Laju bertanya, seraya matahari mulai tenggelam.
“Pertama, aku tidak tahu tempat yang kamu bicarakan. Karena, teleportasi
hanya bisa digunakan juga dua alat bekerja dengan baik di tempat asal maupun
destinasi. Kedua, teleportasi bukanlah sistem perjalanan yang murah. Dan saya
pun tidak bisa membantumu kecuali ada identitas yang jelas. Terlalu banyak
penyalahgunaan teleportasi yang sempat digunakan untuk perjalanan yang illegal
yang malah berakibat buruk untuk masyarakat. Saya bisa memberikan empati ketika
adik adalah bocah tersesat. Itu banyak sekali terjadi sebenarnya. Tapi, bantuan
yang bisa saya berikan hanya sebuah tempat tinggal di kantor,” ucap sang polisi
yang perlahan menepuk pundak Laju.
Menatap matahari yang sudah perlahan tenggelam, Laju belum bisa
berkata-kata berkomentar. Dia masih kaget, melihat semua keanehan yang terjadi
pada dirinya. Dia harusnya masih bisa pulang. Tapi, jawabannya ada pada Iris,
selaku wanita yang kemarin membawanya ke kota ini.
Masalahnya, mendapatkan informasi dari wanit itu tidak mudah. Dia
bawahan dari Parker, sang pria kekar yang kemarin baru saja mengalahkannya.
Laju lelah, kesal, juga putus asa. Tapi dia tetap harus pulang
bagaimanapun caranya.
Perlahan, ada tepukan lain yang lebih halus dan lembut dari samping
kirinya. Itu Delphia. Gadis aneh yang selalu saja mengikutinya kemanapun dia
pergi. Awalnya, Laju ingin menghardik dan membentak lagi Delphia sebagai pelaku
untuk segala yang terjadi padanya.
Tapi, Laju sudah terlalu lelah.
Gyyuuuuu!!
Perut Laju berbunyi dengan cukup keras. Dia menoleh ke belakangnya,
terlihat dua polisi yang sedang duduk di atas kap mobil depan sedang santai dan
tertawa.
Laju meninggalkan tepukan tangan Delphia dan perlahan mendekati polisi
tersebut untuk menerima sedikit bantuan yang bisa mereka berikan kepada bocah
__ADS_1
kepalaran, kelelahan, yang tersesat tidak tahu jalan pulang ini.