Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 7


__ADS_3

Begitu sampai di halaman rumahnya, Laju dikagetkan dengan kehadiran


mobil yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Dia panik, takut, gelisah, tapi


juga senang, gembira, bergairah, dan penasaran. Ayahnya? Tidak. Tidak hanya


itu. Ada dua mobil. Orang tuanya akhirnya pulang setelah sekian lama. Tapi


kenapa sekarang? Apakah mereka sudah libur? Ini terlalu cepat. Mau apa mereka


datang? Kenapa mereka datang?


Tapi Laju berpikir ulang. Kenapa tidak? Kenapa mereka harus memiliki


alasan untuk pulang ke rumahnya? Untuk satu detik, Laju tersenyum gembira


karena bisa melepas rindu setelah… berapa? Berbulan-bulan? Atau sampai satu dua


tahun? Entahlah. Tapi selanjutnya, Laju kembali murung. Takdir tidak membolehkannya


untuk tersenyum semudah itu.


Ini bukan lagi berita baik setelah semua yang telah terjadi. Laju


mengurungkan niatnya untuk menyambut pulang orang tuanya, seperti yang dia


selalu ingin lakukan. Dia harus mulai memikirkan skenario-skenario yang mungkin


akan menamparnya di meja makan. Laju harus berpikir cara-cara dan solusi untuk


menangkal pertanyaan-pertanyaan orang tuanya. Apakah pertanyaan seperti biasa?


Apakah tentang masa depan? Apakah Laju bisa?


Tapi dia terlanjur sampai di depan teras rumahnya. Pintu mobil dibuka,


tapi Laju masih duduk mengigit jari, melamun, dan bermimpi. “Tuan Laju?” Tanya


sang supir yang membangunkan Laju.


Laju ber-oh merespon, keluar dari mobil, berjalan pelan menuju pintu


depan.


Laju belum mempersiapkan mentalnya untuk setiap skenario yang menyerangnya


yang tidak bisa terantisipasi. Dia berpikir ulang, berpikir lebih keras. Tapi


otaknya malah berhenti berfungsi dan menjadi kosong begitu saja. Laju tidak


bisa berpikir sama sekali.


Apa yang terjadi? Kenapa orang sesempurna Laju tidak bisa berpikir?


Apakah semua stress yang datang mengganggunya hari ini membuat dirinya lelah?


Apakah akhirnya Laju mengakui kekalahannya? Tapi pada siapa? Siapa orang yang


berhasil mengalahkannya? Takdir? Nasib? Dia tidak mungkin melawan hal yang abstrak


seperti itu.


Laju tidak bisa diam saja di teras. Dia harus masuk dan berlaku seperti


bocah pada umumnya. Siapa peduli dengan skenario. Apapun yang nanti terjadi


biarlah terjadi. Laju harus mengakui bahwa ada hal yang tidak dapat


diantisipasikannya. Dia rela.


Tapi hati kecilnya tidak. Kebanggannya sebagai manusia sempurna menolak


untuk merelakan kekalahan. Tapi mau apa lagi? Tidak ada waktu.


Pintu dibuka perlahan. Kondisi rumahnya masih persis seperti yang dia


ingat pada pagi hari, ketika disuguhi pagi yang hancur, ketika semuanya benar-benar


berantakan. Kecuali, sekarang semuanya berubah total. Lantai bersih, perabotan


ditata ulang, seakan dia baru saja memasuki mansion yang sangat mewah yang selalu dirawat dan dijaga.


Ada apa dengan para pelayan disini? Apakah mereka sudah mengetahui kedatangan


kedua orang tua Laju dan bekerja seperti orang gila di detik-detik terakhir?


Kalau memang begitu, kenapa Laju tidak tahu kedatangan kedua orang tuanya? Tapi


yang penting, para pelayan ini sangat menyebalkan! Untuk pertama kali dari


suatu waktu yang tidak dia ingat, akhirnya dia merasa dilayani lagi seperti


manusia.


Tapi apakah pelayanan ini untuknya?


Dari lantai dua, dari tangga spiral yang mengkilat, turunlah soerang


pria dengan setelan jas yang sangat rapi. Kenapa dia harus berpakaian seformal itu?


Ini rumahnya, kan? Itu Ayah Laju, yang tampak dan memang terlihat professional,


meskipun di rumahnya sendiri. Apakah dia akan langsung pergi lagi?


Laju tidak terlalu peduli. Dia tidak ingin banyak berpikir. Dia masih


membatu, melihat sosok yang sangat dihormatinya juga ditakutinya, sedang berada


beberapa meter di depannya. Ayahnya yang menyadari kehadiran Laju pun menolehnya,


tersenyum menyambutnya. “Selamat datang, nak,” ucapnya. “Bagaimana sekolahmu?”


Laju gagap. Dia tidak bisa bicara – tapi bukan karena meniru Delphia


karena tadi kesal dengannya. Badannya hanya tidak bisa melakukan apa yang


pikirannya ingin lakukan. Dia terkejut, kaget, tidak siap dengan kedatangan takdir


yang tiba tiba mendatanginya, mengetuk rumahnya, jalan mendekatinya – seperti


ayahnya ini.


Sanga ayah yang sudah di depan Laju malah tertawa sedikit. “Hng? Kenapa


kamu jadi gagap begitu? Hahaha!” Dan selanjutnya, tangannya mengelus kepala


Laju, memainkan rambutnya, membuatnya menjadi berantakan.


Laju gembira. Sangat gembira. Kapan terakhir kali dia dapat merasakan


afeksi seintim ini? Inilah alasan dia hidup. Inilah alasan mengapa dia harus


berjuang mati-matian. Laju tidak jadi berbicara. Dia menelan kembali


kata-katanya, diganti dengan senyum yang sangat pulas, sangat lebar, sangat nyata.

__ADS_1


Tidak ada lagi kepalsuan.


Sayangnya, itu hanya skenario palsu yang muncul di benaknya, hanya


halusinasinya. Ayahnya hanya tersenyum sebentar, menyapa Laju, dan pergi ke


ruangan lain. Wajar saja, dia orang sibuk. Bisa menyempatkan pulang pun harusnya


bersyukur. Banyak kepentingan yang harus diurusnya.


Laju kesal. Sangat kesal. Padahal otaknya kosong sedetik lalu. Apa-apaan


skenario palsu ini? Datang tidak diundang, menghancurkan kehidupan dan harapan Laju,


membuat harinya lebih berat, lebih panjang.


Laju senyum tipis, balas menyapa ayahnya yang sudah menghilang. Semuanya


baik-baik saja, semuanya baik-baik saja. Laju kembali sadar, mulai mengangkat


tasnya, dan pergi ke kamar untuk segera merapikan diri.


“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Laju?” Tanya pelayan wanita yang pagi


ini baru saja menghancurkan makan paginya. Laju bukannya geram seperti tadi


pagi. Tapi, dia tetap saja menolak bantuan. Dia lelah. Sangat lelah. Tidak


perlu ada campur tangan yang mengecewakan dan merepotkannya lagi.


Tuk tuk!


Setelahnya ada bunyi ketukan lain dari pintu kamar Laju.


Awalnya Laju berpikir itu hanya pelayan lain yang akan mengganggu


harinya. Tidakkah mereka paham kode yang Laju berikan? Tinggalkan Laju sendiri!


Tapi, setelah Laju mendatangi pintu untuk menolak ketukan tersebut, yang sedang


berdiri dihadapannya ternyata bukan lain adalah ibunya sendiri. Laju panik.


Ibunya ternyata sudah lebih dahulu membuka pintu, sebelum Laju yang membukakannya.


Laju lupa bahwa tidak hanya ayahnya yang pulang ke rumah. Mobil di


halaman yang berjumlah dua menandakan ibunya pun pulang dan sedang ada di rumah


ini. Oh tidak. Kehadiran ibunya yang sekarang berada beberapa senti di depannya


sangat mengerikan, sangat menjengkelkan.


Berbeda dari ayahnya yang sempat menyapa Laju, ibunya berbeda total.


Dengan tangan yang terlipat, dia membuka pintu menyambut Laju dengan muka yang masam.


Tatapannya yang dingin menjelaskan bahwa dia jelas-jelas kecewa.


Tapi terhadap apa? Apa yang telah Laju lakukan? Bukankah Laju sudah


menjadi anak yang baik selama orang tuanya pergi? Laju masih menjaga janji


orang tuanya, kan? Janji apa yang sudah diingkari? Laju kebingungan.


Apakah ibunya tahu bahwa dia sudah ditolak oleh akademi? Tapi berita itu


baru sampai pagi ini, kan? Apa yang terjadi? Apa yang telah dia perbuat? “Ini


semua salah kamu, Laju!” Teriaknya dengan nyaring, dengan tangis, sambil


“Aku harap kamu tidak pernah lahir!” lanjutnya.


Laju kaget dengan suara lantang tersebut. Disusul juga oleh langkah ibunya


yang perlahan menyudutkannya, membuat Laju tidak berkutik. Awalnya, Laju ingin


bergerak mundur, menjauh dari ibunya, mencari perlindungan. Tapi dia tidak


sempat dan tetap membiarkan ibunya mendatanginya. Oh. Ibunya memeluknya?


“Halo sayang!” serunya dengan teriak yang sama, dengan penuh


kehangantan, penuh perhatian. Jadi, barusan merupakan skenario aneh lainnya


yang muncul? Mendadak? Begitu saja? Laju menghujat pikirannya sendiri. Apa yang


sebenarnya terjadi, sih? “Bagaimana sekolahmu? Ibu dan Ayah kebetulan baru


pulang tadi sore. Kamu kaget, kan!?” usilnya


Seperti sebelumnya, Laju belum siap untuk menjawab pertanyaan ibunya


selain memberikan senyuman tipis andalannya. Perlahan, ibunya membuka


pelukannya dan mulai membantu Laju merapikan diri. “Makan malam sudah siap,


loh. Sudah lama kita tidak makan bersama, kan? Ibu tunggu dibawah, ya!” ucapnya


setelah mengecup kening dan pelukan lainnya kepada Laju.


Laju menampar dirinya sendiri. Apakah ini masih skenario palsu dari


pikiran dan halusinasinya? Atau Laju sudah sadar dan kembali hidup di dunia nyata?


Laju bingung. Laju awalnya ingin berpikir darimana datangnya skenario palsu


tersebut. Apakah itu keinginannya? Atau justru ketakutannya? Tapi Laju tidak


punya waktu untuk memilahnya. Dia harus turun mendatangi panggilan orang tuanya


untuk makan malam.


Setidaknya, dia bisa memilah dunia nyata yang sedang dijalaninya


sekarang ini, kenyataan ini, dan skenario palsu yang muncul tiba-tiba tadi.


Ayahnya pergi begitu saja setelah menyapa, dan ibunya menyambut dengan pelukan yang


erat. Itulah yang terjadi. Itulah kenyataan dan fakta, itulah realita.


Laju benci dengan realita ini.


***


Makan malam pun dilaksanakan. Terlepas dari semua yang terjadi sebelumnya,


ini hanya makan malam keluarga yang normal yang bisa ditemukan dimana-mana. Tapi,


jika dilihat dari sudut pandang Laju, makan malam ini terasa lebih hangat,


penuh ketenangan.


Atau itulah yang Laju harapkan akan dan tetap terjadi.


Tapi memang tidak bisa. Berita dari kepala sekolah pagi ini membuat

__ADS_1


makan malamnya berantakan sehingga tidak bisa dinikmati sepenuhnya. Setelah


basa-basi haha-hihi yang tidak diingat Laju, mulailah berdatangan pertanyaan-pertanyaan


yang tidak diinginkannya. “Jadi bagaimana perkembangan undangan akademi itu,


Ju?” tanya ayahnya.


Laju yang harus memainkan perannya sendiri untuk menjawab pertanyaan


tersebut sedikit khawatir. Tidak ada skenario palsu lagi yang dapat


membantunya, kecuali jalan terakhir yang tidak disukai Laju. “Tidak ada yang


baru, kok. Semuanya masih sesuai rencana,” ucap Laju dengan tawa tipis, dengan


khawatir, dengan dusta.


“Wah, Ibu tidak sabar ya kalau kita sekeluarga akhirnya bisa pindah ke


residensi akademi,” seru ibunya dengan senang dan sangat antusias. “Kita bisa memulai


semuanya dari nol lagi dan move on dari semua-muanya, kan?” lanjutnya, sambil menggenggam erat tangan Laju, tidak


lupa dengan senyum, dengan dingin.


“Ayah juga sangat menunggu momen itu. Selain masa depan Laju yang sudah


terjamin, kita sekeluarga juga bisa sekalian punya masa depan yang lebih cerah,”


ayahnya belum sudah memainkan garpu dan pisaunya. “Laju memang anak hebat, ya.


Sangat bisa diandalkan. Ayah juga yakin kedepannya hidup kita bisa lebih mudah


karena prestasi-prestasinya Laju. Ayah bangga padamu, nak!”


Laju cekikikan. Jika ucapan itu datang dari orang lain atau gurunya,


Laju bosan mendengarnya. Dia hidup terlalu mudah. Sudah terlalu banyak


pujian-pujian yang datang kepadanya setiap hari. Tapi lain masalahnya jika itu


ayahnya sendiri yang mengatakannya. Dia sangat bahagia. Luar biasa bahagia.


Tapi apakah dia berhak mendapatkan kebahagiaan ini berkat kebohongan


yang dia perbuat? Apa konsekuensi yang akan datang padanya akibat ulahnya ini? Laju


harus segera menyiapkan dirinya. Dia harus siap untuk menjalani hari penuh


dusta yang akan sulit untuk dihadapi. Oh sial. Tidak bisakah dia lihat saja


masa depan agar tidak perlu direpotkan dengan semua masalah ini?


Untuk sesaat, Laju sempat berpikir tentang Delphia. Apakah dia…- ah


sudahlah. Delphia bahkan tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Delphia tidak


bisa diharapkan. Tidak peduli apakah identitas aslinya bukan manusia atau


segala macam. Dia tidak penting.


Duh! Laju malah kesal sendiri.


“Oh, iya! Ibu dengar katanya anak Bu Halim sudah masuk tahap dua


pendaftaran akademi, loh. Pasti dia melakukan joki, minta tolong dukun, atau


yang aneh-aneh lainnya deh. Anaknya kan bahkan tidak dapat masuk sekolah


unggulan. Pihak akademi juga ketat, kan?” Seru ibunya, ketika dia teringat


cerita menarik dari teman-temannya. “Kamu jangan seperti anak itu ya, Ju!


Jangan dekat-dekat bahkan. Pilih-pilih teman itu penting!”


“Yang seperti itu pasti banyak. Anaknya teman-teman ayah pun rela


membayar banyak untuk les atau segala macam demi masuk ke akademi. Beruntung


anak kita Laju berbeda, ya. Kamu yang kelas 11 bahkan bisa mendapatkan surat


undangannya langsung,” seru sang ayah yang masih sibuk makan. “Ayah sebenarnya


sangat bangga dan teman-teman ayah pun iri dengan Laju. Tapi ayah sedikit


khawatir tiba-tiba Laju ceroboh, tidak fokus, dan malah terpeleset jatuh.”


Semuanya menghentikan makannya. “Semoga yang seperti itu tidak terjadi lagi ya,


Laju?”


Laju senyum tipis. “Tenang saja, yah!” Ucapnya dengan lebih percaya


diri.


Setelahnya, percakapan dialihkan untuk membahas hal-hal yang tidak


penting. Bergosip, bercanda hal lucu, yang perlahan memulihkan rasa khawatir


Laju. Seperti yang dia pikirkan, ini memang makan malam yang normal.


Setidaknya, dia berhasil menyelamatkan acara makan malam keluarganya


untuk malam ini. Tapi, entahlah untuk besok dan hari-hari setelahnya. Laju


memilih untuk tidak memikirkan hal itu sekarang. Dia lebih fokus pada momen


ini, yang sangat dia impikan. Apakah ini akan terjadi juga di masa depan dan


setelahnya juga? Entahlah. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa melihat


masa depan. Itu urusan lain.


Perasaanya sudah mulai tenang dan perlahan Laju bisa berpikir dengan


baik lagi.


Meskipun makan malam ini terasa sangat singkat, Laju cukup menikmatinya.


Tidak, Laju sangat menikmatinya. Kalau boleh, mungkin Laju akan mencuri waktu,


membuatnya berhenti, dan mengabadikan momen malam ini.


Sayangnya dia tidak bisa.


Dia harus mendapatkan kembali surat undangan itu terlebih dahulu,


bagaimanapun caranya, apapun harganya. Untuk mengamankan masa depannya, agar


bisa kembali menjadi normal, bergerak maju, berdamai dengan masa lalunya. Sehingga


bisa memiliki makan malam yang normal seperti ini di hari-hari yang lain.


Laju terbakar lagi oleh motivasi dan harapan. Percaya diri mulai menyelimutinya.

__ADS_1


Begitu pun mimpinya. Sama-sama membara, sama-sama membakar.


__ADS_2