
Begitu sampai di halaman rumahnya, Laju dikagetkan dengan kehadiran
mobil yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Dia panik, takut, gelisah, tapi
juga senang, gembira, bergairah, dan penasaran. Ayahnya? Tidak. Tidak hanya
itu. Ada dua mobil. Orang tuanya akhirnya pulang setelah sekian lama. Tapi
kenapa sekarang? Apakah mereka sudah libur? Ini terlalu cepat. Mau apa mereka
datang? Kenapa mereka datang?
Tapi Laju berpikir ulang. Kenapa tidak? Kenapa mereka harus memiliki
alasan untuk pulang ke rumahnya? Untuk satu detik, Laju tersenyum gembira
karena bisa melepas rindu setelah… berapa? Berbulan-bulan? Atau sampai satu dua
tahun? Entahlah. Tapi selanjutnya, Laju kembali murung. Takdir tidak membolehkannya
untuk tersenyum semudah itu.
Ini bukan lagi berita baik setelah semua yang telah terjadi. Laju
mengurungkan niatnya untuk menyambut pulang orang tuanya, seperti yang dia
selalu ingin lakukan. Dia harus mulai memikirkan skenario-skenario yang mungkin
akan menamparnya di meja makan. Laju harus berpikir cara-cara dan solusi untuk
menangkal pertanyaan-pertanyaan orang tuanya. Apakah pertanyaan seperti biasa?
Apakah tentang masa depan? Apakah Laju bisa?
Tapi dia terlanjur sampai di depan teras rumahnya. Pintu mobil dibuka,
tapi Laju masih duduk mengigit jari, melamun, dan bermimpi. “Tuan Laju?” Tanya
sang supir yang membangunkan Laju.
Laju ber-oh merespon, keluar dari mobil, berjalan pelan menuju pintu
depan.
Laju belum mempersiapkan mentalnya untuk setiap skenario yang menyerangnya
yang tidak bisa terantisipasi. Dia berpikir ulang, berpikir lebih keras. Tapi
otaknya malah berhenti berfungsi dan menjadi kosong begitu saja. Laju tidak
bisa berpikir sama sekali.
Apa yang terjadi? Kenapa orang sesempurna Laju tidak bisa berpikir?
Apakah semua stress yang datang mengganggunya hari ini membuat dirinya lelah?
Apakah akhirnya Laju mengakui kekalahannya? Tapi pada siapa? Siapa orang yang
berhasil mengalahkannya? Takdir? Nasib? Dia tidak mungkin melawan hal yang abstrak
seperti itu.
Laju tidak bisa diam saja di teras. Dia harus masuk dan berlaku seperti
bocah pada umumnya. Siapa peduli dengan skenario. Apapun yang nanti terjadi
biarlah terjadi. Laju harus mengakui bahwa ada hal yang tidak dapat
diantisipasikannya. Dia rela.
Tapi hati kecilnya tidak. Kebanggannya sebagai manusia sempurna menolak
untuk merelakan kekalahan. Tapi mau apa lagi? Tidak ada waktu.
Pintu dibuka perlahan. Kondisi rumahnya masih persis seperti yang dia
ingat pada pagi hari, ketika disuguhi pagi yang hancur, ketika semuanya benar-benar
berantakan. Kecuali, sekarang semuanya berubah total. Lantai bersih, perabotan
ditata ulang, seakan dia baru saja memasuki mansion yang sangat mewah yang selalu dirawat dan dijaga.
Ada apa dengan para pelayan disini? Apakah mereka sudah mengetahui kedatangan
kedua orang tua Laju dan bekerja seperti orang gila di detik-detik terakhir?
Kalau memang begitu, kenapa Laju tidak tahu kedatangan kedua orang tuanya? Tapi
yang penting, para pelayan ini sangat menyebalkan! Untuk pertama kali dari
suatu waktu yang tidak dia ingat, akhirnya dia merasa dilayani lagi seperti
manusia.
Tapi apakah pelayanan ini untuknya?
Dari lantai dua, dari tangga spiral yang mengkilat, turunlah soerang
pria dengan setelan jas yang sangat rapi. Kenapa dia harus berpakaian seformal itu?
Ini rumahnya, kan? Itu Ayah Laju, yang tampak dan memang terlihat professional,
meskipun di rumahnya sendiri. Apakah dia akan langsung pergi lagi?
Laju tidak terlalu peduli. Dia tidak ingin banyak berpikir. Dia masih
membatu, melihat sosok yang sangat dihormatinya juga ditakutinya, sedang berada
beberapa meter di depannya. Ayahnya yang menyadari kehadiran Laju pun menolehnya,
tersenyum menyambutnya. “Selamat datang, nak,” ucapnya. “Bagaimana sekolahmu?”
Laju gagap. Dia tidak bisa bicara – tapi bukan karena meniru Delphia
karena tadi kesal dengannya. Badannya hanya tidak bisa melakukan apa yang
pikirannya ingin lakukan. Dia terkejut, kaget, tidak siap dengan kedatangan takdir
yang tiba tiba mendatanginya, mengetuk rumahnya, jalan mendekatinya – seperti
ayahnya ini.
Sanga ayah yang sudah di depan Laju malah tertawa sedikit. “Hng? Kenapa
kamu jadi gagap begitu? Hahaha!” Dan selanjutnya, tangannya mengelus kepala
Laju, memainkan rambutnya, membuatnya menjadi berantakan.
Laju gembira. Sangat gembira. Kapan terakhir kali dia dapat merasakan
afeksi seintim ini? Inilah alasan dia hidup. Inilah alasan mengapa dia harus
berjuang mati-matian. Laju tidak jadi berbicara. Dia menelan kembali
kata-katanya, diganti dengan senyum yang sangat pulas, sangat lebar, sangat nyata.
__ADS_1
Tidak ada lagi kepalsuan.
Sayangnya, itu hanya skenario palsu yang muncul di benaknya, hanya
halusinasinya. Ayahnya hanya tersenyum sebentar, menyapa Laju, dan pergi ke
ruangan lain. Wajar saja, dia orang sibuk. Bisa menyempatkan pulang pun harusnya
bersyukur. Banyak kepentingan yang harus diurusnya.
Laju kesal. Sangat kesal. Padahal otaknya kosong sedetik lalu. Apa-apaan
skenario palsu ini? Datang tidak diundang, menghancurkan kehidupan dan harapan Laju,
membuat harinya lebih berat, lebih panjang.
Laju senyum tipis, balas menyapa ayahnya yang sudah menghilang. Semuanya
baik-baik saja, semuanya baik-baik saja. Laju kembali sadar, mulai mengangkat
tasnya, dan pergi ke kamar untuk segera merapikan diri.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Laju?” Tanya pelayan wanita yang pagi
ini baru saja menghancurkan makan paginya. Laju bukannya geram seperti tadi
pagi. Tapi, dia tetap saja menolak bantuan. Dia lelah. Sangat lelah. Tidak
perlu ada campur tangan yang mengecewakan dan merepotkannya lagi.
Tuk tuk!
Setelahnya ada bunyi ketukan lain dari pintu kamar Laju.
Awalnya Laju berpikir itu hanya pelayan lain yang akan mengganggu
harinya. Tidakkah mereka paham kode yang Laju berikan? Tinggalkan Laju sendiri!
Tapi, setelah Laju mendatangi pintu untuk menolak ketukan tersebut, yang sedang
berdiri dihadapannya ternyata bukan lain adalah ibunya sendiri. Laju panik.
Ibunya ternyata sudah lebih dahulu membuka pintu, sebelum Laju yang membukakannya.
Laju lupa bahwa tidak hanya ayahnya yang pulang ke rumah. Mobil di
halaman yang berjumlah dua menandakan ibunya pun pulang dan sedang ada di rumah
ini. Oh tidak. Kehadiran ibunya yang sekarang berada beberapa senti di depannya
sangat mengerikan, sangat menjengkelkan.
Berbeda dari ayahnya yang sempat menyapa Laju, ibunya berbeda total.
Dengan tangan yang terlipat, dia membuka pintu menyambut Laju dengan muka yang masam.
Tatapannya yang dingin menjelaskan bahwa dia jelas-jelas kecewa.
Tapi terhadap apa? Apa yang telah Laju lakukan? Bukankah Laju sudah
menjadi anak yang baik selama orang tuanya pergi? Laju masih menjaga janji
orang tuanya, kan? Janji apa yang sudah diingkari? Laju kebingungan.
Apakah ibunya tahu bahwa dia sudah ditolak oleh akademi? Tapi berita itu
baru sampai pagi ini, kan? Apa yang terjadi? Apa yang telah dia perbuat? “Ini
semua salah kamu, Laju!” Teriaknya dengan nyaring, dengan tangis, sambil
“Aku harap kamu tidak pernah lahir!” lanjutnya.
Laju kaget dengan suara lantang tersebut. Disusul juga oleh langkah ibunya
yang perlahan menyudutkannya, membuat Laju tidak berkutik. Awalnya, Laju ingin
bergerak mundur, menjauh dari ibunya, mencari perlindungan. Tapi dia tidak
sempat dan tetap membiarkan ibunya mendatanginya. Oh. Ibunya memeluknya?
“Halo sayang!” serunya dengan teriak yang sama, dengan penuh
kehangantan, penuh perhatian. Jadi, barusan merupakan skenario aneh lainnya
yang muncul? Mendadak? Begitu saja? Laju menghujat pikirannya sendiri. Apa yang
sebenarnya terjadi, sih? “Bagaimana sekolahmu? Ibu dan Ayah kebetulan baru
pulang tadi sore. Kamu kaget, kan!?” usilnya
Seperti sebelumnya, Laju belum siap untuk menjawab pertanyaan ibunya
selain memberikan senyuman tipis andalannya. Perlahan, ibunya membuka
pelukannya dan mulai membantu Laju merapikan diri. “Makan malam sudah siap,
loh. Sudah lama kita tidak makan bersama, kan? Ibu tunggu dibawah, ya!” ucapnya
setelah mengecup kening dan pelukan lainnya kepada Laju.
Laju menampar dirinya sendiri. Apakah ini masih skenario palsu dari
pikiran dan halusinasinya? Atau Laju sudah sadar dan kembali hidup di dunia nyata?
Laju bingung. Laju awalnya ingin berpikir darimana datangnya skenario palsu
tersebut. Apakah itu keinginannya? Atau justru ketakutannya? Tapi Laju tidak
punya waktu untuk memilahnya. Dia harus turun mendatangi panggilan orang tuanya
untuk makan malam.
Setidaknya, dia bisa memilah dunia nyata yang sedang dijalaninya
sekarang ini, kenyataan ini, dan skenario palsu yang muncul tiba-tiba tadi.
Ayahnya pergi begitu saja setelah menyapa, dan ibunya menyambut dengan pelukan yang
erat. Itulah yang terjadi. Itulah kenyataan dan fakta, itulah realita.
Laju benci dengan realita ini.
***
Makan malam pun dilaksanakan. Terlepas dari semua yang terjadi sebelumnya,
ini hanya makan malam keluarga yang normal yang bisa ditemukan dimana-mana. Tapi,
jika dilihat dari sudut pandang Laju, makan malam ini terasa lebih hangat,
penuh ketenangan.
Atau itulah yang Laju harapkan akan dan tetap terjadi.
Tapi memang tidak bisa. Berita dari kepala sekolah pagi ini membuat
__ADS_1
makan malamnya berantakan sehingga tidak bisa dinikmati sepenuhnya. Setelah
basa-basi haha-hihi yang tidak diingat Laju, mulailah berdatangan pertanyaan-pertanyaan
yang tidak diinginkannya. “Jadi bagaimana perkembangan undangan akademi itu,
Ju?” tanya ayahnya.
Laju yang harus memainkan perannya sendiri untuk menjawab pertanyaan
tersebut sedikit khawatir. Tidak ada skenario palsu lagi yang dapat
membantunya, kecuali jalan terakhir yang tidak disukai Laju. “Tidak ada yang
baru, kok. Semuanya masih sesuai rencana,” ucap Laju dengan tawa tipis, dengan
khawatir, dengan dusta.
“Wah, Ibu tidak sabar ya kalau kita sekeluarga akhirnya bisa pindah ke
residensi akademi,” seru ibunya dengan senang dan sangat antusias. “Kita bisa memulai
semuanya dari nol lagi dan move on dari semua-muanya, kan?” lanjutnya, sambil menggenggam erat tangan Laju, tidak
lupa dengan senyum, dengan dingin.
“Ayah juga sangat menunggu momen itu. Selain masa depan Laju yang sudah
terjamin, kita sekeluarga juga bisa sekalian punya masa depan yang lebih cerah,”
ayahnya belum sudah memainkan garpu dan pisaunya. “Laju memang anak hebat, ya.
Sangat bisa diandalkan. Ayah juga yakin kedepannya hidup kita bisa lebih mudah
karena prestasi-prestasinya Laju. Ayah bangga padamu, nak!”
Laju cekikikan. Jika ucapan itu datang dari orang lain atau gurunya,
Laju bosan mendengarnya. Dia hidup terlalu mudah. Sudah terlalu banyak
pujian-pujian yang datang kepadanya setiap hari. Tapi lain masalahnya jika itu
ayahnya sendiri yang mengatakannya. Dia sangat bahagia. Luar biasa bahagia.
Tapi apakah dia berhak mendapatkan kebahagiaan ini berkat kebohongan
yang dia perbuat? Apa konsekuensi yang akan datang padanya akibat ulahnya ini? Laju
harus segera menyiapkan dirinya. Dia harus siap untuk menjalani hari penuh
dusta yang akan sulit untuk dihadapi. Oh sial. Tidak bisakah dia lihat saja
masa depan agar tidak perlu direpotkan dengan semua masalah ini?
Untuk sesaat, Laju sempat berpikir tentang Delphia. Apakah dia…- ah
sudahlah. Delphia bahkan tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Delphia tidak
bisa diharapkan. Tidak peduli apakah identitas aslinya bukan manusia atau
segala macam. Dia tidak penting.
Duh! Laju malah kesal sendiri.
“Oh, iya! Ibu dengar katanya anak Bu Halim sudah masuk tahap dua
pendaftaran akademi, loh. Pasti dia melakukan joki, minta tolong dukun, atau
yang aneh-aneh lainnya deh. Anaknya kan bahkan tidak dapat masuk sekolah
unggulan. Pihak akademi juga ketat, kan?” Seru ibunya, ketika dia teringat
cerita menarik dari teman-temannya. “Kamu jangan seperti anak itu ya, Ju!
Jangan dekat-dekat bahkan. Pilih-pilih teman itu penting!”
“Yang seperti itu pasti banyak. Anaknya teman-teman ayah pun rela
membayar banyak untuk les atau segala macam demi masuk ke akademi. Beruntung
anak kita Laju berbeda, ya. Kamu yang kelas 11 bahkan bisa mendapatkan surat
undangannya langsung,” seru sang ayah yang masih sibuk makan. “Ayah sebenarnya
sangat bangga dan teman-teman ayah pun iri dengan Laju. Tapi ayah sedikit
khawatir tiba-tiba Laju ceroboh, tidak fokus, dan malah terpeleset jatuh.”
Semuanya menghentikan makannya. “Semoga yang seperti itu tidak terjadi lagi ya,
Laju?”
Laju senyum tipis. “Tenang saja, yah!” Ucapnya dengan lebih percaya
diri.
Setelahnya, percakapan dialihkan untuk membahas hal-hal yang tidak
penting. Bergosip, bercanda hal lucu, yang perlahan memulihkan rasa khawatir
Laju. Seperti yang dia pikirkan, ini memang makan malam yang normal.
Setidaknya, dia berhasil menyelamatkan acara makan malam keluarganya
untuk malam ini. Tapi, entahlah untuk besok dan hari-hari setelahnya. Laju
memilih untuk tidak memikirkan hal itu sekarang. Dia lebih fokus pada momen
ini, yang sangat dia impikan. Apakah ini akan terjadi juga di masa depan dan
setelahnya juga? Entahlah. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bisa melihat
masa depan. Itu urusan lain.
Perasaanya sudah mulai tenang dan perlahan Laju bisa berpikir dengan
baik lagi.
Meskipun makan malam ini terasa sangat singkat, Laju cukup menikmatinya.
Tidak, Laju sangat menikmatinya. Kalau boleh, mungkin Laju akan mencuri waktu,
membuatnya berhenti, dan mengabadikan momen malam ini.
Sayangnya dia tidak bisa.
Dia harus mendapatkan kembali surat undangan itu terlebih dahulu,
bagaimanapun caranya, apapun harganya. Untuk mengamankan masa depannya, agar
bisa kembali menjadi normal, bergerak maju, berdamai dengan masa lalunya. Sehingga
bisa memiliki makan malam yang normal seperti ini di hari-hari yang lain.
Laju terbakar lagi oleh motivasi dan harapan. Percaya diri mulai menyelimutinya.
__ADS_1
Begitu pun mimpinya. Sama-sama membara, sama-sama membakar.