
“Hm? Ah, coba kamu tanya dulu guru olahragamu, Ju. Bapak lagi sibuk
belum bisa memberikan jawaban yang pasti.”
“Kamu tidak pernah bolos, kan? Hmm… nilai juga bagus. Yasudah terserah
kamu saja. Nanti nilainya pasti diumumkan ke semua murid, jadi suka-sukalah
kamu jika sudah tidak tahan untuk liburan. Sana sana!”
“Eng… apa? Iya mungkin. Kenapa? Oh kamu ingin izin? Tanya wali kelasmu
saja. Sudah? Lalu mau apa disini? Sana pergi saja sana. Terserah kamu lah. Kami
lagi sibuk, Ju!”
Laju sedang berputar-putar di sekolahnya. Mengurusi banyak hal yang
harus dia urusi, yang harus dia ketahui, untuk mengamankan posisinya sebagai
murid teladan. Dia tidak akan kembali ke sekolah ini dalam waktu dekat. Yang
dia ketahui, tempat bimbingan yang diinformasikan oleh Pak Ahmad akan sangat
menyita waktunya.
Harusnya Laju tidak perlu repot mengurusi nilai, absensi, atau urusan
administrasi sekolah lainnya. Dia murid teladan, murid paling pintar, sang superstar, dan idola sekolah. Mengurusi
hal-hal tersebut hanya buang-buang waktu saja karena Laju sudah yakin bahwa
semuanya akan terselesaikan dengan baik, dengan sempurna, seperti biasanya.
Memang mengurusi hal ini hanya merepotkannya. Tapi Laju tidak bisa
melepasnya begitu saja. Mungkin surat akademi yang ditarik kembali masih bisa
Laju usahakan untuk mendapatkannya kembali. Tapi Bagaimana jika Laju
dikeluarkan dari sekolah? Itu sudah diluar kendalinya.
Masalahnya, guru-guru disini sama-sama tidak peduli, sama-sama tidak
acuh, sama seperti Laju kepada nilai, absensi, dan urusan adminstrasi
sekolahnya. Mengurusinya saja sudah merepotkan, apalagi harus ditambah dengan
guru-guru dan para petugas yang tidak bisa diajak bekerja sama.
Sebenarnya, Laju lebih bisa memaklumi.
Ada ratusan murid yang sama khawatir tentang nilai dan kelas mereka,
tidak hanya Laju seorang. Meladeni ratusan siswa untuk menjawab pertanyaan yang
sama bukanlah pekerjaan yang bisa dinikmati dengan terbuka dan lapang dada.
Mungkin mereka bisa menahannya untuk jam-jam pertama. Tapi, bagaimana jika hari
sudah siang, dengan udara yang panas, penat, juga pengap? Emosi bisa meledak
__ADS_1
hingga menyentak murid yang mengganggu pekerjaanya.
Setidaknya, beberapa pelajaran sudah Laju amankan yang membuat hatinya
lebih tentram dan tenang. Tapi, Laju selalu saja bisa merasa khawatir, mendapat
serangan panik ketika pikirannya kembali berfungsi untuk memikirkan hal-hal
yang mungkin sama sekali tidak penting, sama sekali merusak konsentrasinya.
Pikirannya mulai khawatir tentang Delphia.
Tentang peristiwa kemarin, tentang masa depannya.
Tapi apakah itu memang mimpi tentang masa depannya?
Laju kebingungan, juga keheranan.
Kepalanya pusing tujuh keliling.
Kemarin, setelah membaca tulisan yang Delphia tulis di secarik kertas.
Laju mulai merasakan pusing. Pusing secara harfiah, dengan kepala yang sakit,
nyut-nyutan, juga akibar cenkraman tangan dan kukunya sendiri. Laju kaget, Laju
bingung, Laju kehabisan kata-kata.
Dalam waktu lima menit penuh, baik Laju maupun Delphia masih sama-sama
diam. Laju dengan upayanya untuk memproses semua hal aneh itu dan Delphia yang masih
gelagapan tidak berubah sejak pertama kali datang ke restoran, kecuali napasnya
“Silahkan… air putih dingin?” Tanya pelayan restoran.
Interupsi tersebut merusak keheningan yang dialami oleh Laju, juga
Delphia. Tapi, bukannya marah tidak karuan, Laju justru bersyukur. Air tersebut
diminumnya sekali teguk, menyegarkan dan mendinginkan kembali pikirannya yang porak-poranda,
seperti mimpinya barusan. Laju kembali sadar, merasa awas pada lingkungan
sekitar, siap untuk menanyai Delphia untuk menjelaskan aksinya tersebut,
mimpinya tadi.
“Apa maksudm-” tapi pertanyaan tersebut ditariknya kembali. Delphia
masih terlihat sangat kelelahan, tidak melupakan rasa gugup, dan ekspresi
murungnya.
Bukannya Laju peduli, tapi jika dia bertanya pun apakah Delphia akan
menjawabnya? Siapa yang tahu. Laju memilih untuk pergi saja dari restoran
tersebut, meninggalkan lagi Delphia sendirian.
Laju memilih untuk tidak peduli dan menganggap Delphia hanya angin lalu.
__ADS_1
Ya, Laju tahu dari Delphia sendiri bahwa dirinya bukanlah manusia biasa,
manusia pada umumnya. Mata berliannya menjelaskan bahwa dia adalah monster aneh
itu yang mungkin datang dari luar angkasa. Adrian bisa meyakini hal tersebut,
bahwa memang ada makhluk asing yang sedang hidup bersamaan dengan manusia.
Meskipun begitu, apakah Laju bisa percaya pada Delphia?
Justru jawabannya praktis tidak. Justru karena Delphia adalah makhluk
asing monster aneh yang tidak dikenalinya, Laju memilih untuk melupakan semua
yang Delphia lakukan dan berikan untuk Laju.
Memangnya apa yang telah dia lakukan kepada Laju selama ini, selain
mengganggunya? Tidak ada. Laju lupakan saja mimpi aneh itu, toh pada akhirnya
manusia memang pasti akan menemukan ajalnya, kan?
Tidak perlu lagi Laju terperangkap, tidak bisa bebas, pada hidupnya
sendiri, dalam kehidupannya sendiri. Terperangkap oleh skenario yang disusun
kepala sekolah yang mencurangi dan menghancurkan masa depannya sudah lebih dari
cukup.
Tidak perlu lagi Laju terperangkap oleh mimpi aneh ini yang diberikan
oleh monster aneh dan asing ini yang tidak dikenali Laju. Masalahnya, Laju
masih terperangkap oleh masa lalu dan mimpi buruknya, yang membutuhkan waktu
bertahun-tahun untuk keluar, untuk merasa bebas.
Maka dari itu, Laju mengurusi urusan sekolahnya sekarang, melupakan
semua kejadian kemarin dengan Delphia.
Masa depannya sudah menunggu untuk dijemput, kembali menjadi bocah
lelaki yang hidup dalam keluarga yang normal.
“Taxi!” Sebutnya di pinggir jalan.
Dia tidak ingin meminta jemputan dari para pelayannya, karena dia yakin
mereka pasti akan curiga dan melaporkannya kepada orang tuanya. Itu bukanlah
berita yang baik. Sebisa mungkin, Laju harus melakukan ini semua secara
tersembunyi, seakan sedang melakukan penyamaran.
“Tolong kesini, ya!” Ucapnya kepada supir taksi, kepada alamat yang tertera
di kartu nama yang diberikan oleh Pak Ahmad.
Tentu saja, Laju akan tetap berpegang teguh dalam rencana awalnya, untuk
__ADS_1
pergi mengunjungi tempat bimbingan yang diberitahukan oleh gurunya, sekutunya kemarin.