Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 12


__ADS_3

“Hm? Ah, coba kamu tanya dulu guru olahragamu, Ju. Bapak lagi sibuk


belum bisa memberikan jawaban yang pasti.”


“Kamu tidak pernah bolos, kan? Hmm… nilai juga bagus. Yasudah terserah


kamu saja. Nanti nilainya pasti diumumkan ke semua murid, jadi suka-sukalah


kamu jika sudah tidak tahan untuk liburan. Sana sana!”


“Eng… apa? Iya mungkin. Kenapa? Oh kamu ingin izin? Tanya wali kelasmu


saja. Sudah? Lalu mau apa disini? Sana pergi saja sana. Terserah kamu lah. Kami


lagi sibuk, Ju!”


Laju sedang berputar-putar di sekolahnya. Mengurusi banyak hal yang


harus dia urusi, yang harus dia ketahui, untuk mengamankan posisinya sebagai


murid teladan. Dia tidak akan kembali ke sekolah ini dalam waktu dekat. Yang


dia ketahui, tempat bimbingan yang diinformasikan oleh Pak Ahmad akan sangat


menyita waktunya.


Harusnya Laju tidak perlu repot mengurusi nilai, absensi, atau urusan


administrasi sekolah lainnya. Dia murid teladan, murid paling pintar, sang superstar, dan idola sekolah. Mengurusi


hal-hal tersebut hanya buang-buang waktu saja karena Laju sudah yakin bahwa


semuanya akan terselesaikan dengan baik, dengan sempurna, seperti biasanya.


Memang mengurusi hal ini hanya merepotkannya. Tapi Laju tidak bisa


melepasnya begitu saja. Mungkin surat akademi yang ditarik kembali masih bisa


Laju usahakan untuk mendapatkannya kembali. Tapi Bagaimana jika Laju


dikeluarkan dari sekolah? Itu sudah diluar kendalinya.


Masalahnya, guru-guru disini sama-sama tidak peduli, sama-sama tidak


acuh, sama seperti Laju kepada nilai, absensi, dan urusan adminstrasi


sekolahnya. Mengurusinya saja sudah merepotkan, apalagi harus ditambah dengan


guru-guru dan para petugas yang tidak bisa diajak bekerja sama.


Sebenarnya, Laju lebih bisa memaklumi.


Ada ratusan murid yang sama khawatir tentang nilai dan kelas mereka,


tidak hanya Laju seorang. Meladeni ratusan siswa untuk menjawab pertanyaan yang


sama bukanlah pekerjaan yang bisa dinikmati dengan terbuka dan lapang dada.


Mungkin mereka bisa menahannya untuk jam-jam pertama. Tapi, bagaimana jika hari


sudah siang, dengan udara yang panas, penat, juga pengap? Emosi bisa meledak

__ADS_1


hingga menyentak murid yang mengganggu pekerjaanya.


Setidaknya, beberapa pelajaran sudah Laju amankan yang membuat hatinya


lebih tentram dan tenang. Tapi, Laju selalu saja bisa merasa khawatir, mendapat


serangan panik ketika pikirannya kembali berfungsi untuk memikirkan hal-hal


yang mungkin sama sekali tidak penting, sama sekali merusak konsentrasinya.


Pikirannya mulai khawatir tentang Delphia.


Tentang peristiwa kemarin, tentang masa depannya.


Tapi apakah itu memang mimpi tentang masa depannya?


Laju kebingungan, juga keheranan.


Kepalanya pusing tujuh keliling.


Kemarin, setelah membaca tulisan yang Delphia tulis di secarik kertas.


Laju mulai merasakan pusing. Pusing secara harfiah, dengan kepala yang sakit,


nyut-nyutan, juga akibar cenkraman tangan dan kukunya sendiri. Laju kaget, Laju


bingung, Laju kehabisan kata-kata.


Dalam waktu lima menit penuh, baik Laju maupun Delphia masih sama-sama


diam. Laju dengan upayanya untuk memproses semua hal aneh itu dan Delphia yang masih


gelagapan tidak berubah sejak pertama kali datang ke restoran, kecuali napasnya


“Silahkan… air putih dingin?” Tanya pelayan restoran.


Interupsi tersebut merusak keheningan yang dialami oleh Laju, juga


Delphia. Tapi, bukannya marah tidak karuan, Laju justru bersyukur. Air tersebut


diminumnya sekali teguk, menyegarkan dan mendinginkan kembali pikirannya yang porak-poranda,


seperti mimpinya barusan. Laju kembali sadar, merasa awas pada lingkungan


sekitar, siap untuk menanyai Delphia untuk menjelaskan aksinya tersebut,


mimpinya tadi.


“Apa maksudm-” tapi pertanyaan tersebut ditariknya kembali. Delphia


masih terlihat sangat kelelahan, tidak melupakan rasa gugup, dan ekspresi


murungnya.


Bukannya Laju peduli, tapi jika dia bertanya pun apakah Delphia akan


menjawabnya? Siapa yang tahu. Laju memilih untuk pergi saja dari restoran


tersebut, meninggalkan lagi Delphia sendirian.


Laju memilih untuk tidak peduli dan menganggap Delphia hanya angin lalu.

__ADS_1


Ya, Laju tahu dari Delphia sendiri bahwa dirinya bukanlah manusia biasa,


manusia pada umumnya. Mata berliannya menjelaskan bahwa dia adalah monster aneh


itu yang mungkin datang dari luar angkasa. Adrian bisa meyakini hal tersebut,


bahwa memang ada makhluk asing yang sedang hidup bersamaan dengan manusia.


Meskipun begitu, apakah Laju bisa percaya pada Delphia?


Justru jawabannya praktis tidak. Justru karena Delphia adalah makhluk


asing monster aneh yang tidak dikenalinya, Laju memilih untuk melupakan semua


yang Delphia lakukan dan berikan untuk Laju.


Memangnya apa yang telah dia lakukan kepada Laju selama ini, selain


mengganggunya? Tidak ada. Laju lupakan saja mimpi aneh itu, toh pada akhirnya


manusia memang pasti akan menemukan ajalnya, kan?


Tidak perlu lagi Laju terperangkap, tidak bisa bebas, pada hidupnya


sendiri, dalam kehidupannya sendiri. Terperangkap oleh skenario yang disusun


kepala sekolah yang mencurangi dan menghancurkan masa depannya sudah lebih dari


cukup.


Tidak perlu lagi Laju terperangkap oleh mimpi aneh ini yang diberikan


oleh monster aneh dan asing ini yang tidak dikenali Laju. Masalahnya, Laju


masih terperangkap oleh masa lalu dan mimpi buruknya, yang membutuhkan waktu


bertahun-tahun untuk keluar, untuk merasa bebas.


Maka dari itu, Laju mengurusi urusan sekolahnya sekarang, melupakan


semua kejadian kemarin dengan Delphia.


Masa depannya sudah menunggu untuk dijemput, kembali menjadi bocah


lelaki yang hidup dalam keluarga yang normal.


“Taxi!” Sebutnya di pinggir jalan.


Dia tidak ingin meminta jemputan dari para pelayannya, karena dia yakin


mereka pasti akan curiga dan melaporkannya kepada orang tuanya. Itu bukanlah


berita yang baik. Sebisa mungkin, Laju harus melakukan ini semua secara


tersembunyi, seakan sedang melakukan penyamaran.


“Tolong kesini, ya!” Ucapnya kepada supir taksi, kepada alamat yang tertera


di kartu nama yang diberikan oleh Pak Ahmad.


Tentu saja, Laju akan tetap berpegang teguh dalam rencana awalnya, untuk

__ADS_1


pergi mengunjungi tempat bimbingan yang diberitahukan oleh gurunya, sekutunya kemarin.


__ADS_2