
“Sudah sampai,” ucap Iris perlahan.
Sayapnya dibuka, pengelihatan Laju pun perlahan kembali.
Setelah menjalani setengah jam sekian perjalanan yang sangat memualkan,
Laju akhirnya bisa menghirup udara segar lagi, dan sembuh dari mabuk
perjalanannya.
Sekarang, dia berada di tempat yang jauh dari pusat kota lagi. Meskipun
begitu, nampaknya daerah ini berbeda dengan peternakan kemarin. Disini, seluruh
lingkungannya diliputi oleh banyak pepohonan. Tidak. Hutan adalah jawaban yang
lebih tepat.
“Apakah kamu punya masalah dengan pinggir kota?” Tanya Laju sambil
melihat sekeliling. “Kenapa aku selalu berakhir di tempat ini, sih?”
“Haha, instingmu bagus juga, ya. Tapi jangan khawatir. Pemilihan tempat
ini tidak ada kaitannya dengan preferensi yang aku miliki. Tenang saja,” ucap
Iris sambil tertawa kecil.
“Heh!” Dengus Laju dengan muka yang kecut.
Kata-kata Iris barusan tidak lebih hanya sebuah candaan belaka yang
tidak bisa dipercayai sama sekali. Bahkan, itu malah membuatnya lebih dicurigai
sebagai tukang usil.
Laju membalikkan badannya ingin bertanya lebih lanjut mengenai tugas
pertamanya. Tapi, ketika dia melihat Iris yang sedang membereskan diri,
disampingnya ternyata nampak sosok Delphia yang sedang berdiri tidak peduli.
“Kenapa cewek ini ikut segala?”
Delphia menoleh. Tapi, dia bukannya gelagapan dan gelisah seperti biasa.
Serupa seperti tadi pagi, ekspresinya kini lebih netral, dan bisa dikendalikan.
Dan yang lebih mencengangkan lagi adalah jawaban Delphia yang berani membuang
muka pada Laju.
Laju heran, juga kebingungan.
Semua kelakuannya ini pasti akibat kejadian semalam. Tapi, Laju memilih untuk tidak memerdulikannya
karena itu tidak akan banyak berpengaruh terhadap kehidupannya. Justru bukankah
Delphia yang harusnya meminta maaf karena telah menguntitnya selama ini,
merepotkannya, dan menyulitkan kehidupannya?
Geh!
“Wah ada apa ini? Apakah sedang ada pertengkaran cinta?” Tanya Iris
menggoda.
“Jadi dimana letak komplotan itu?” Laju menimpali.
“Eeeh!?” Protes Iris karena pembahasan cinta monyet tidak bisa
dilanjutkan.
Tapi Iris tidak putus asa. Bahkan setelah beberapa lama, dia tetap menggoda
dan bertanya apa yang baru saja terjadi kemarin ketika mereka harus tersesat di
kota.
Tapi apa yang Iris harapkan? Delphia yang tidak bisa berbicara, juga
Laju dengan keangkuhannya. Yasudah. Mungkin, dia harus bertanya perkara ini
lain kali.
Audy pasti akan menyukai cerita ini!
Setelahnya, Iris menjelaskan lebih rinci tugas yang harus dikerjakan
oleh Laju. Di dalam hutan tersebut, terdapat reruntuhan yang menjadi tempat
perkemahan dari para komplotan manusia. Dimana letaknya? Itulah tugas yang
harus Laju selesaikan. Informasi yang bisa Iris berikan hanya letaknya yang
berada di dalam hutan.
Mungkin ini akan memakan waktu yang lama hingga berhari-hari,
berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan. Iris bilang dia tidak peduli.
Tugas ini tidak begitu penting sehingga harus segera dituntaskan. Toh, pada
akhirnya mereka akan berontak ke kota dan akan tetap diurusi disana. Tapi, jika
memang Laju berhasil menghancurkan pos di dalam hutan, ini akan membuat
pekerjaan Parker menjadi lebih mudah.
Masalah ini dikembalikan kepada Laju. Kalau dia lebih cepat mengerjakan
tugasnya, bukankah dia bisa membayar hutangnya kepada Parker dan bisa lebih
cepat pulang? Iris mengangkat bahunya. Ini terserah pada Laju.
“Lalu bagaimana dengan makanan atau minuman?”
“Eh…?”
Iris memberikan ekspresi terkejut, seperti tidak mengerti pertanyaan yang
Laju tanyakan meskipun dengan bahasa yang lugas dan jelas. Hanya saja,
konteksnya sangat tidak masuk akal untuk dipertanyakan, bukan?
“Makan apa aku disana?”
“Loh!? Katanya kamu bukan manusia biasa? Harusnya mencari makanan alami
bisa kamu lakukan, dong!? Atau sebenarnya kamu hanya manusia biasa yang lemah dan
tidak berdaya? Setelah berlagak sombong tidak butuh bantuan dan segala macam?
Eh!?” Iris menyipitkan matanya, mengerutkan alisnya, bertanya dengan penuh
tanda tanya.
“Kh!” Laju sepertinya melakukan blunder
“Loh, benar kan?”
“Iya-iya. Sudahlah tunggu saja kepulanganku besok! Kalian akan menangis
merengek minta pertolongan!” seru Laju sambil membalikkan badan.
“Oh iya, kalau kamu sudah sampai di reruntuhan, tempel alat pelacak ini.
Agar setelahnya aku bisa mudah untuk melakukan patroli atau mengonfirmasi apakah
kamu benar melakukan tugas dengan selesai atau tidak,” seru Iris sambil
memberikan alat kecil dari dalam sakunya kepada Laju.
“Heh!” Dengus Laju sebagai jawaban setelah dengan malas menerima alat
tersebut.
“Kalau begitu, selamat bersenang-senang!” ucap Iris, dilanjut dengan
perubahannya menjadi burung lagi, pergi terbang melesat hilang dari pandangan
Laju, juga Delphia.
Laju sudah siap untuk menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan sempurna.
Dia balikkan badan sambil tidak sengaja menoleh Delphia, lalu mereka saling
buang pandangan satu sama lain meskipun pada akhirnya masih jalan berbarengan
menuju hutan belantara.
Pada awal penjelajahan, hutan ini tidak ada bedanya dengan hutan yang
Laju ketahui, sebagaiman hutan pada biasanya.
Meskipun begitu, dia tetap sedikit kesulitan menjelajah karena tidak terbiasa
berjalan dengan hambatan dan rintangan yang merepotkannya. Baik itu sebuah
semak belukar yang tajam, tanah yang tidak rata, bebatuan yang tersebar
disana-sini, atau juga akar tumbuhan yang merepotkan perjalanan.
Karena tidak memiliki tujuan yang jelas, Laju tidak memiliki pilihan
selain mengitari hutan tanpa arah. Berpetualang kesana kemari, semakin dalam,
semakin memasuki seluk beluk hutan, meninggalkan siluet jalan raya yang perlahan
menghilang.
Ketika sudah berjalan lebih dari satu jam, barulah ada banyak hal yang
mulai merepotkan yang mengindikasikan hutan ini memanglah bukan hutan normal
__ADS_1
sebagaimana yang ia ketahui di dunia manusia. Salah satunya adalah penampakan sungai
di hadapan Laju yang mengalir dengan deras, berikut juga dengan ikan yang
melompat kesana kemari dan hewan-hewan lainnya.
Permasalahannya adalah air sungai yang tidak jernih sebagaimana yang
Laju ketahui. Bagaimana dia bisa meminum air yang mencurigakan ini? Yang
berwarna merah muda keunguan yang pekat, seperti jus stroberi. Meskipun Laju
sudah melakukan kontak fisik dengan air sungai tersebut yang ternyata bukanlah
sebuah air asam yang dapat melelehkan benda apapun yang menyentuhnya. Tapi,
Laju masih ragu-ragu dan menggunakanya.
Laju melihat ke arah Delphia. Dia bisa melihat masa depan, kan?
Apakah jawaban keraguan Laju terhadap air sungai ini bisa terjawab?
Tapi, Laju malah mendengus kesal. “Heh!”
Untuk apa Delphia ikut, sih? Dia hanya duduk malas-malasan di atas batu,
bermain air, dan segala macam. Ketika Laju memberikan isyarat tentang air
sungai, Delphia hanya mengangat bahu tidak tahu, mungkin juga tidak peduli.
Kalau begitu, pilihan Laju sekarang adalah mengidentifikasikan air
sungai lewat ikan yang baru saja melompat yang juga bisa ditangkap oleh Laju
dengan mudah.
Laju siapkan perapian yang sederhana, dia kuliti dengan pisau dari batu
seadanya, dia bakar ikan itu, lalu dipotong-potong untuk mencari daging yang
bisa dimakan. Setelah menginspeksi ikan yang baru saja matang, Laju bisa
melihat bahwa ikan tersebut memang memiliki fisik yang aneh karena memiliki dua
ekor, tapi itu tidak terlalu masalah.
Daging putih yang segar bisa terlihat dengan jelas.
Laju merasa percaya diri.
Dia mengenduskan daging tersebut untuk mencaritahu apakah ada
aroma-aroma yang aneh, lalu selanjutnya dia coba cicipi dan makan daging
tersebut.
“Hoeeeek,” Laju memuntahkan ikan tersebut.
Perasan yang dia rasakan sekarang adalah indra pencegapnya yang sedikit
terganggu dengan rasa daging ikan yang baru saja dimakan olehnya. Tidak! Jangan
salah! Tekstur ikan yang dimakannya masih serupa seperti ikan yang biasa dia
makan. Hanya saja, membakar ikan dengan kemampuan seadanya dan berharap rasa
yang serupa degan yang didapatkannya di rumah adalah kesalahan besar.
Daging ini hambar dan tidak ada rasanya sama sekali, keculai rasa arang
yang tutung.
Laju mengusap mulutnya.
Dia menatap ikan tersebut sekali lagi, lanjut memakan daging tersebut
hingga habis. Ini menyesakkan, ini merepotkan, juga menyedihkan. Pergi ke hutan
tanpa ada persiapan apapun kecuali harga diri yang tinggi tidak memberikan
dampak positif apapun untuknya.
Setelah ikan tersebut habis, barulah Laju berpikir untuk mulai menegak
air minum dari sungai yang berwarna merah muda keungungan tersebut.
Dia membungkuk untuk mengambil air sungai dengan tangannya, untuk
selanjutnya dia cium aroma sungai tersebut. Sebenarnya, sungai ini tidak ada
masalahnya sama sekali kecuali warnanya yang sangat tidak masuk akal. Tapi,
jika melihat banyak monster aneh berkeliaran di kota, pemberian kata aneh tidak
lagi bisa diterima.
Laju melihat sekeliling, berusaha mencari sumber dari air sungai ini,
mencari hulu sungai. Dia melihat ke kanannya tempat yang berlawanan dengan
jalur aliran sungai, tempat yang seharusnya menjadi yang dicarinya.
Dia melihat air terjun kecil yang terletak di kejauhan. Dan memang, air
yang mengalir masihlah air berwarna merah muda keunguan.
Harusnya, Laju bisa saja langsung minum ini. Masalahnya, air di pancuran
kota masih terlihat bening seperti air minum pada umumnya! Laju hanya bisa
mendengus mengeluhkan semua entitas hutan ini.
Selagi Laju sibuk memilih antara minum atau tidak, terdapat suara semak
yang bergerak di belakangnya. Instingnya berkata, suara tersebut bukanlah suara
yang ramah.
Laju mulai mengambil posisi untuk pergi menjauh dari sumber sungai,
untuk menghindari semua masalah yang bisa terjadi padanya sebelum bisa mencari
reruntuhan yang menjadi tempat persinggahan bagi komplotan yang akan menjadi
tiketnya untuk pulang.
Beruntung, Laju bergerak dengan cepat dan tepat.
Di balik suara semak tersebut, muncul seekor binatang yang terlihat buas
dan garang, yang berjalan dengan dua kaki, dengan tinggi kurang lebih dua
meter. Binatang tersebut sebenarnya menyerupai beruang. Namun, kulit beruang
tersebut terdiri dari banyak sisik yang tajam seperti landak, namun lebih
besar! Tidak lupa juga cakar-cakarnya yang tajam dan besar yang bisa
menumbangkan Laju satu kali cakaran.
Laju menggigil sendiri ketika mengintip binatang tersebut dari balik
semak.
Sumber air berupa sungai memang sebuah anugerah dan karunia untuk
menyembuhkan rasa dagaha. Masalahnya, tidak hanya Laju saja yang sedang
kehausan. Ada ratusan binatang yang tidak kalah buasnya sedang haus dan
membutuhkan air minum.
Melupakan rasa dahaganya, Laju lebih memilih untuk kabur, berharap bisa
mendapatkan sumber air lain yang bisa menjawab rasa hausnya.
***
Malamnya, Laju masih belum menemukan reruntuhan yang disebutkan oleh
Iris. Mungkin, ini memang akan memakan waktu yang cukup panjang. Laju harus
bersiap untuk menghadapi hari-hari yang mungkin lebih buruk dari hari ini.
Tidur terlentang menatap langit malam sebenarnya bukanlah hal yang buruk
sama sekali. Bahkan, ini hal yang sangat menyenangkan. Sangat menenangkan,
sangat menyejukkan hati. Laju ingat terakhir kali dia menatap langit malam
adalah ketika dia sedang bermain ayunan di komplek rumahnya.
Awalnya, dia tersenyum sembari mengingat memori yang lumayan
menyenangkan. Namun, karena memori tersebut disusul dengan kehadiran Delphia pertama
kali yang memulai hari-hari yang merepotkannya, dia malah kesal sendiri.
Jangan salah, sebenarnya Laju tetap berusaha untuk menenangkan hatinya
ketika sedang menatap langit malam yang sebenarnya indah dan cantik ini. Dengan
jumlah bintang yang lebih banyak, gradasi warna hijau dan merah muda di langit
seperti aurora, juga suara-suara serangga malam sangatlah menyenangkan.
Sayangnya, Laju tidak bisa menikmati malam ini sedetik pun. Tidur di
atas tanah yang tidak nyaman, dengan kondisi perut yang lapar dan haus, juga
rasa dingin yang berasal dari angin malam yang sangat menusuk kulitnya.
Sebenarnya, Laju berencana untuk mendapatkan sedikit rasa empuk pada
rerumputan. Namun, hal itu langsung dibatalaknnya karena setelah beberapa menit
__ADS_1
berbaring, ada banyak serangga seperti semut dan kawan-kawannya yang justru
membuat tubuhnya gatal.
Yah, hari ini memang sangat melelahkan.
Tapi, setidaknya Laju bisa mengistirahatkan diri.
Menutup mata, tidur terlelap, berusaha menyegarkan diri, dan menyetel
ulang seluruh fungsi tubuhnya. Laju hanya berharap, dia bisa dengan cepat
menemukan reruntuhan seperti yang dibicarakan Iris.
Dia bisa mulai membayangkan bagaimana jika semua terjadi dengan mulus
dan lancar, sehingga pada akhirnya bisa pulang, dan melupakan semua keanehan
ini. Agar bisa kembali hidup dengan normal seperti manusia pada umumnya,
bersama keluarganya. Jangan lupakan juga kehidupan yang lebih baik, begitu
pengumuman akademi bisa sampai pada orang tuanya.
Laju menyeringai, senyum-senyum sendiri, memberikan dorongan pada
kesehatan mentalnya agar bisa tidur dengan lelap.
Atau itulah yang Laju harapkan terjadi.
“NGGAAA-A’ NGAAAAAAAA-AA’!”
Terdengar suara teriakan yang cempreng yang perlahan mengisi seluruh
hutan, terutama tempat Laju sedang berisitarahat.
Padahal, Laju sudah memindai wilayahnya yang digunakan untuk tidur. Dan
dapat dipastikan tidak terdapat tanda-tanda binatang buas yang akan
mengganggunya.
Kalau begitu, suara ini datang darimana?
Laju pun langsung segera bangkit duduk dan segera bangun untuk bersiaga.
Dia tidak bisa seenaknya melawan binatang buas ini. Tadi siang, dia baru saja
meremehkan sebuah tumbuhan yang terlihat tidak berbahaya, tapi daunnya justru
membuat tangannya panas dan gatal ketika menyentuhnya.
Dia melihat sekitar, berusaha menerka darimana gerangan suara tersebut
berasal.
“HUUUOOO-OHHH!!! HUUU-UH-HHHHH!!!! HUHH!!!”
Berikutnya, terdengar suara yang lebih bulat dan berat menimpali suara
yang cempreng tadi.
Masalahnya, suara bulat tersebut malah membuat teriakan semakin
menjadi-jadi. Apa yang sedang terjadi? Apakah sedang ada pertengkaran antara
binatang?
Kalau begitu adanya, Laju harus segera pindah mencari tempat yang lebih
aman.
Tapi, Laju harus tetap mencari arah datangnya binatang tersebut. Kalau
Laju salah berlari, dia malah mendatangi bahaya tersebut yang membuatnya lebih
mudah untuk diterkam. Laju gelengkan kepalanya.
Dia masih sayang nyawanya.
“NGAAAAA’!!!”
Satu detik setelahnya, teriakan cempreng itu terdengar lagi. Bahkan,
suara ini lebih keras dari sebelumnya. Apakah para binatang itu sudah dekat
dalam radius yang bisa Laju kenali? Jawabannya adalah IYA!
Suara teriakan bulat tersebut ternyata datang dari atasnya. Datang dari
ranting pohon, dimana terlihat banyak gerombolan binatang kecil sedang
berlarian, seperti sedang menghindari sesuatu. Binatang tersebut seperti sebuah
monyet, namun dengan sayap.
Laju tidak ada waktu lagi untuk terkejut kaget. Sudah terlalu banyak keanehan
yang dia terima di hari-hari terakhir ini. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah
segera merespon teriakan binatang tersebut untuk ikut mencari perlindungan.
Secara tidak sadar, Laju langsung berlari menuju Delphia yang juga terlihat
kaget dan takut untuk dia genggam tangannya, dan lari bersama menghindari monyet
bersayap tersebut.
Meskipun monyet itu kecil, Laju tidak ingin lagi bermain-main dan meremehkan
mereka. Lagipula, binatang ini sama sekali tidak bisa diremehkan. Meskipun
tingginya kurang dari satu meter, monyet bersayap itu memiliki mata merah dan taring
tajam yang sudah cukup untuk memberikan alasan bagi Laju untuk menghindari
berurusan dengan binatang kecil ini.
Mungkin, kalau jumlahnya hanya satu, Laju masih bisa urusi dengan mengunakan
tongkat kayu yang sedang dia bawa sebagai alat pertahanaan yang sudah
dimodifikasi menjadi sebuah senjata. Namun, teriakan yang tiada akhir beserta
siluet di atas pohon tersebut mengindikasikan jumlah monyet bersayap ini ada ratusan!
Apalagi, monyet-monyet ini sedang berlari menghindari sesuatu.
Pastinya ada masalah yang lebih besar yang juga harus Laju hindari!
Barulah setelah 15 menit Laju berlari tanpa arah dengan lelah dan mata
kantuknya, mereka bisa sedikit beristirahat dengan tenang dibawah pohon yang
cukup rindang.
“Haa-ah! Haaahhh!” Laju terengah-engah kehabisan napas.
Melihat Delphia yang juga sama sedang kehabisan napas dan terkapar, dengan
tidak ragu Laju berikan apel ungu yang dia simpan sebagai persediaan ini
kepadanya.
Awalnya, Delphia sedikit kaget dengan tingkah Laju yang mengejutkan ini.
Tapi, gestur Laju berkata bahwa Delphia bisa menerima ini untuk menyegarkan
rasa lelahnya.
Tanpa basa-basi, Delphia minum sari-sarinya, lalu makan daging yang sedikitnya,
yang sebenarnya tidak bisa menyembuhkan semua rasa lelahnya.
Tapi, ini sudah cukup.
“Jadi, apakah ada saran atau apapun itu, tentang masa depan, tentang
masalah ini?”
Delphia menoleh, merespon pertanyaan Laju.
Dia simpan buah yang sudah habis tersebut di atas rumput, duduk sembari
bersandar pada kedua kakinya, juga mengatur napasnya sebelum bisa menjawab
pertanyaan tersebut. Padahal, yang bisa Delphia berikan hanyalah gelengan
kepala.
Laju tidak banyak merespon.
Laju tidak bersuara, selain napasnya yang masih belum teratur.
“Tidak ada apapun?”
Baru setelah hatinya lebih dingin dan napasya lebih teratur, Laju mulai
bertanya lagi kepada Delphia mengenai kekuatanya yang bisa menatap masa depan.
“Untuk hutan ini? Petunjuk atau jalan yang harus kita gunakan agar bisa
pulang?”
Tapi, Delphia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Tidak ada jawaban yang bisa Laju pakai untuk membantunya keluar dari
masalah ini dengan mudah, untuk menemukan reruntuhan dengan mudah.
“Ck!” Laju mendecakkan lidahnya.
Ini memang akan menjadi sangat sulit, terutama karena Delphia yang hanya
akan menjadi pengganggunya, hanya akan merepotkannya.
__ADS_1
Tapi entah kenapa, Laju tidak begitu kecewa terhadap apapun malam itu.
Dia hanya menatap langit malam, berusaha menenangkan kembali hatinya.