
Dengan fakta bahwa sebagian dari mereka sudah tak sadarkan diri, juga tidak ada tanda-tanda akan pulang dan keluar dalam waktu dekat. Mereka pun memutuskan untuk bermalam di dalam gorong-gorong ini.
Sesuai anjuran dan saran yang Laju sebutkan, mereka tidur dibawah sengatan listrik yang menggelitik dan memberikan sensasi aneh, namun nyaman pada tubuh mereka. Kecuali Aaron, yang lebih memilih untuk tenggelam ke pusat saluran di bawah dengan kedalaman yang tidak bisa dipastikan.
Awalnya, Aaron yang tidak sadarkan diri memang dibawa masuk mendekati pohon listrik tersebut. Entah interaksi apa yang terjadi antara pohon listrik dan Aaron sebagai ras makhluk air, belum sudah 10 menit Aaron berinteraksi dengan pohon, dia langsung menjerit kesakitan.
Sempat ada perbebatan panjang, sampai pada akhirnya Aaron memutuskan untuk terjun menenggelamkan diri.
Laju hanya mengangat kedua bahunya.
“Ya, baiklah.”
Dan dengan begitu, Laju dan yang lainnya pun bermalam dibawah sengatan listrik yang menggelitik dan menusuk ini, berharap tubuh mereka bisa terobati, dan kembali pada kondisi prima dan bugarnya.
Sayangnya, tidak semua orang bisa mendapatkan manfaat seperti yang Laju terima.
Tidak sepertinya yang bisa mendapatkan penyembuhan instan yang diterima dari pohon ini dimana ratusan jarum kecil menusuk sel-sel dan memperbaiki jaringan, kebanyakan dari yang lain tidak merasakan apa-apa selain tidur dan istirahat pada umumnya.
Tidak ada proses regenerasi yang dipercepat, ataupun penyembuhan alami.
Meskipun Laju sendiri kebingungan apa yang sebenarnya terjadi baik pada dirinya maupun pada teman yang lainnya, dia tidak sempat membahas itu kepada yang lain.
Mungkin, ketika mereka bisa keluar dari tempat ini dan pulang dengan utuh, Laju bisa lebih dalam membahasnya dengan Vignette yang ahli dalam hal ini.
Beberapa jam setelahnya, orang-orang mulai bangun dari tidur lelapnya.
Beruntung, Iris menggunakan jam tangan. Sehingga, mereka masih bisa awas terhadap pergerakan waktu dan hari yang terjadi di dunia luar, yang sama sekali tidak bisa mereka dapatkan di bawah gorong-gorong yang cukup gelap ini.
Wajar saja, tempat ini benar-benar tertutup.
Bahkan, Laju masih belum mendapati jawaban dari alasan pohon listrik tersebut yang masih bisa tumbuh tanpa adanya sinar matahari yang bisa dia lihat.
“Jadi apakah kita harus tetap mengejar para manusia itu?” Pembicaraan pagi dimulai.
“Tujuan kita kemari memang berusaha untuk berdiskusi dengan para manusia untuk membebaskan para sandera. Tapi, karena hari yang berganti, bukankah tujuan itu telah sia-sia? Siapatahu para manusia telah kabur dan membunuh sandera karena tidak peduli.”
“Dengan perangkap yang kita dapati ini, para manusia itu pasti sudah melakukan banyak hal dengan para sandera.”
“Bukannya menyelesaikan misi penyelamatan, kita disini malah banyak mengalahkan dan menghabisi lizardmen yang merepotkan itu.”
“…Yah, apapun yang terjadi, aku akan berusaha tetap untuk berdiskusi. Masalah penyanderaan yang mereka lakukan, aku tidak bisa berbuat apa-apa tentang itu,” Parker menjawab. “Pada dasarnya, aku tetap berusaha mencari tahu motif para manusia, meskipun aku datang kesini lebih karena terbawa emosi mendengar kalimat penyanderaan.”
“Itu memang tujuan yang mulia. Tapi tidakkah kita pikirkan terlebih dahulu bagaimana kita keluar dari sini?”
“Ya, aku sudah muak dengan aroma busuk saluran air ini.”
“…”
Tidak ada jawaban. Tidak seorang pun yang berusaha menjawab pernyataan tersebut, bahkan Parker sekalipun. Ini artinya, bahkan Parker sendiri tidak memiliki jawaban yang pasti terhadap kemungkinan mereka bisa keluar.
Parker masih merenung memikirkan bagaimana harus bertanggung jawab terhadap kelima temannya yang terperangkap dibawah tanah ini.
Sampai pada akhirnya dia ingat bahwa dirinya merupakan ketua yang harus bisa diandalkan oleh semua orang, Parker tidak boleh menampilkan sisi lemahnya seperti ini di depan umum. Dia harus menjadi matahari yang bisa memberikan semangat bagi sekitarnya.
“Tenang saja!” Ucap Parker. “Aku pasti akan membawa kalian keluar!”
“Ini saluran air, kan? Bagaimana jika kita mengikuti saluran airnya? Pada akhirnya kita akan berakhir di laut, atau pantai seperti itu, kan?”
“Tidak,” Aaron menimpali. “Saluran air itu tidak semudah yang kalian pikirkan. Saluran air di bawah memang mengarah ke suatu ruangan yang lain. Tapi, aku sendiri bahkan tidak tahu jaraknya berapa jauh. Yang paling penting adalah oksigen. Saluran air itu benar-benar hanya terisi oleh air, tidak ada yang lain. Kalian tidak mungkin menahan napas berjam-jam, kan?”
“Apakah pelindung Parker bisa melakukan sesuatu tentang itu?”
“Sayangnya tidak. Kalian masih bisa bernapas lega meskipun diliputi oleh pelindungnya, kan?”
“Jadi, ketika kemarin kita terdampar di lorong itu termasuk cukup beruntung, ya?”
“Bagaimana dengan asal dari sumber air? Pasti terhubung dengan gedung, rumah, atau bahkan sungai mungkin?”
“Tidak. Saluran awal yang terhubung ke gorong-gorong hanya terdiri atas pipa-pipa kecil. Lagipula, kita juga tidak tahu seberapa jauh pipa kecil tersebut yang terhubung langsung ke rumah-rumah di atas.”
“Tempat ini memiliki awal dan akhir, kan? Pada akhirnya kita pasti bisa keluar, kan?”
“Tentu saja. Masih ada banyak jalan lain yang bisa kita gunakan selain saluran masuk dan keluar dari gorong-gorong ini.”
“Apakah kita caba saja untuk menghancurkan langit-langit? Pohon ini hidup bukan tanpa alasan, kan? Pastinya ada sinar matahari di sekitar sini.”
“Wah, itu bisa juga sepertinya.”
“Tapi kemungkinan untuk gagal juga cukup besar. Kita tidak tahu apa yang ada di atas kita ini. Apakah langsung tanah dan lahan luas? Bagaimana jika yang ada di atas kita ternyata masih ratusan meter lapisan batu? Atau bangunan warga sipil? Bisa-bisa mereka yang tidak bersalah malah jadi korban.”
“…” Diskusi berhenti lagi.
Permasalahan masih berlanjut. Bahkan dengan beberapa solusi yang sempat ditawarkan, masalah tersebut malah bercabang memunculkan masalah lain.
“Apakah kita hanya harus mencoba mencari jalan keluar lewat puluhan lorong ini? Berusaha berharap bahwa ini adalah lorong yang benar hingga kita bisa tembus ke sungai?”
“Pergi ke lorong, ya?”
“…Yah, setidaknya kita aman di lindungan pohon listrik ini. Daripada harus berurusan dengan lizardmen yang entahlah ada berapa banyak lagi yang masih tinggal di gorong-gorong ini.”
“Oh iya, Del! Apakah kamu punya pengelihatan masa depan tentang ini?”
Tiba-tiba saja Laju mulai menoleh pada gadis berambut coklat jingga yang dari awal diskusi hanya bisa diam dan mengangguk, tidak memberikan respon yang aktif.
Lagipula, apa yang ingin diharapkan?
Gadis ini tidak bisa berbicara.
Dan ketika Laju meminta gadis ini untuk berkomentar, dia hanya bingung, melirik kiri dan kanan, karena tidak siap dengan perhatian yang tiba-tiba dia dapatkan. Seperti biasa, Delphia berikan saja senyum canggungnya sebagai jawaban atas pertanyaan Laju tersebut.
__ADS_1
Setelahnya, tidak ada satupun yang bisa membantu kondisi Delphia untuk memahami, selain memberikan tekanan berupa permintaan jawaban. Karena, yang lain pun baru ingat bahwa mereka memiliki gadis yang bisa melihat masa depan yang dapat membantu mereka.
Delphia mengeluarkan keringat dingin.
Delphia benar-benar bingung apa yang harus dilakukannya, selain menjawab ekspetasi teman-temannya untuk memberikan pengelihatan tentang masa depan. Karena, mereka berharap bahwa kemampuan Delphia bisa menjawab permasalahan mereka tentang jalan keluar dari gorong-gorong ini, menuju tanah atas, menuju rumah.
Delphia paham kondisi tubuhnya sendiri. Dia tidak bisa mengontrol kemampuan semaunya untuk melihat masa depan.
Tapi, dia tidak bisa mengatakan itu di hadapan teman-temannya yang separuh putus asa. Kecuali, Delphia berharap bahwa Nek Vignette benar-benar melakukan sesuatu terhadap tubuhnya, terhadap kemampuannya.
Sekarang, yang bisa Delphia lakukan hanya berharap dan melakukan yang terbaik.
Swoosh!
Seketika setelah Delphia beranjak berdiri, tubuhnya langsung bersinar berubah. Dimulai dari rambutnya yang berangsur berwarna putih, juga matanya yang berubah menjadi seperti berlian yang indah. Tapi, perubahannya tidak sampai situ saja. Laju dikagetkan dengan kemunculan kain sutra putih yang tiba-tiba hadir memberikan gaun untuk Delphia, juga partikel es seperti bintang atau kristal yang berputar mengelilingi tubuh gadis ini.
Apa yang terjadi? Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
Laju yakin dengan memorinya. Dia inget setiap Delphia berubah, tidak akan menjadi semegah ini. Tapi, semua kemegahan dan keanggunan yang Delphia tawarkan ketika dirinya berubah benar-benar menjelaskan kenapa semua orang di Kannaris atau Gloria memanggilnya dengan sebutan ‘tuan putri’, terlepas dari latar belakangnya yang tidak Laju ketahui sama sekali.
Satu hal yang bisa Laju jawab dari keanehan ini adalah campur tangan Nek Vignette yang juga merubah tubuhnya menjadi lebih ringan, lebih kuat, dan lebih cepat. Harusnya Delphia memang mendapatkan suatu manfaat dari kedatangannya kepada dokter tua Vignette di Gloria kemarin.
Ternyata, tidak hanya Laju saja yang terpukau. Keempat temannya yang tadi berusaha menunggu jawaban Delphia sekarang hanya menganga membuka mulutnya lebar dengan mata yang membelalak.
Mungkin mereka hanya bingung harus berkomentar apa.
Tanpa basa-basi lagi, Delphia yang sudah berubah menjadi sangat anggun dan indah – meskipun masih dengan banyak luka lebam di seluruh tubuhnya, langsung melompat turun dari pondasi pohon yang melayang, ke lantai dasar.
Awalnya, semua orang kaget dengan lompatan Delphia yang tiba-tiba.
Harusnya, dia masih baik-baik saja.
Apalagi jika gadis itu bisa berenang, tidak ada yang harus dikhawatirkan.
Tapi, rasa kaget mereka bukan tentang Delphia yang melompat dari pondasi saja. Melainkan tentang hukum gravitasi yang seakan ditentang oleh putri es ini. Harusnya, dalam hitungan detik Delphia melompat dia pasti akan tercebur terjatuh pada saluran air. Tapi, partikel es yang mengelilinginya ini membuat percepatan turunnya bisa diperlambat, seperti menggunakan parasut.
Tidak lupa juga bahwa ketika Delphia berhasil turun dengan selamat, permukaan air di pusat saluran air di bawah langsung membeku seketika.
Dan dengan begitu, Delphia langsung berkeliling melewati banyak mulut lorong, menyentuh dinding-dinginya, melirik ke sana kemari, berkeliling ke seluruh ruangan ini dengan tampang yang bingung.
“Bagaimana?” Tanya Audy 15 menit setelah observasi dilakukan.
Sejujurnya, apa yang berusaha mereka capai?
Delphia tidak bisa berbicara normal seperti kebanyakan orang pada umumnya.
Kenapa mereka selalu saja berusaha memulai pembicaraan dengan pertanyaan yang sulit kepada gadis ini?
Alhasil, Delphia hanya bisa tersenyum kebingungan sambil berusaha memilih gestur tangan yang cocok untuk tetap berusaha melakukan komunikasi dengan yang lainnya.
“Apakah kita bisa keluar dari gorong-gorong ini?” Laju yang paham cara berkomunikasi dengan Delphia langsung mengganti pertanyaanya menjadi pertanyaan yang lebih sederhana yang bisa dijawab oleh Delphia.
“Apa itu? Aku, kami tidak mengerti?” sebut Laju begitu Delphia memberikan jawaban yang ambigu berupa gelengan sekaligus anggukan dari kepalanya.
Bukannya menjelaskan dengan lebih baik, Delphia hanya bisa mengangkat bahunya.
“Kita bisa, dan tidak bisa keluar dari gorong-gorong ini, begitu?”
“Itu sangat ambigu. Apa maksudnya?”
“Lagipula apakah ini masih di Kannaris?”
“Pohon ini seperti berasal dari pedalaman Mazishka rasanya.”
“Mungkin ada kondisi tertentu yang membuat kita bisa mendapatkan jalan keluar dari gorong-gorong ini. Begitu maksudnya?”
Delphia mengangguk menyetujui pernyataan terakhir dengan antusias, sambil memberikan gestur angka satu.
“Apa, kita masih bisa keluar? Bagaimana caranya?”
Setelahnya, Delphia langsung turun ke lantai dasar mengajak yang lain untuk pergi ke salah satu lorong saluran air. Dengan bangga, Delphia menunjukkan jalan keluarnya berada pada ujung dari lorong ini.
“Ini lorong jalan keluar kita?” Tanya Iris.
Delphia mengangguk setuju.
“Tapi… ini lorong tempat kita masuk tadi?” Iris kebingungan.
Delphia hanya memberikan anggukan lain dengan antusias, sambil merubah kembali tubuhnya menjadi manusia normal, dengan mata birunya dan rambut coklatnya, tanpa ada partikel kristal es yang mengitari dirinya secara gaib.
“Delphia bisa melihat masa depan. Dia pasti tahu apa yang dikatakannya,” Parker menenangkan Iris, juga mengajak yang lain untuk tenang. “Lorong ini banyak persimpangannya, kan? Pasti kita terlalu sibuk bertarung dengan para lizardmen sampai melupakan banyak kemungkinan tersebut.”
Parker berusaha meyakinkan semua temannya selayaknya ketua yang bisa diandalkan.
Lagipula, apalagi yang bisa mereka lakukan selain berusaha percaya?
“Aku yakin ini tidak mungkin sia-sia. Meskipun Iris, aku dan Laju telah melewati lorong ini, kita sempat terpisah dengan Audy, Aaron, dan Delpia, kan? Tenang saja. Kita pasti bisa keluar dari gorong-gorong ini!” Seru Parker mengawali langkahnya memasuki lorong untuk percaya pada prediksi yang Delphia ambil.
Setelahnya, mereka pun berjalan santai mengitari lorong gorong-gorong yang perlahan kembali diliputi dan didominasi oleh sinar pencahayaan yang berasal dari lampu tanam, bukan lagi oleh kristal ungu yang menyengat, dan memancarkan listrik.
Beruntung – entah apa yang terjadi, mereka tidak lagi direpotkan dengan kehadiran para lizardmen yang berusaha menyerang mereka hanya karena kesalahpahaman belaka
Tapi, keberuntungan itu justru dipertanyakan oleh Laju.
Karena, setelah beberapa jam mereka berjalan melewati lorong tempat Laju datang, tapi Laju benar-benar tidak ingat semua yang sedang mereka lewati ini. Salah satunya adalah puluhan lizardmen yang berhasil Laju kalahkan sepanjang lorong ini. Dimana gerangan bekas pertarungan dan mayatnya? Apakah luka lebam dan memar yang mereka dapati selama ini hanya halusinasinya belaka?
Dan yang lebih membingungkan adalah sebuah perhatian yang Laju dapati di ujung titik pengelihatannya. Laju seperti merasakan ada yang mengawasinya, mengikutinya, memperhatikannya. Tapi, secepat apapun Laju menoleh ke belakang pada sumber perhatian tersebut, tidak ada yang bisa dia lihat selain dinding gorong-gorong saja.
Laju ingat betul perasaan ini.
__ADS_1
Dia pernah merasakan perasaan seperti diawasi ini, ketika dia sedang melakukan misi mengendap-endap di salah satu kamp para manusia di kedalaman hutan.
Ini tatapan dari patung bermata merah.
Dan benar saja, semakin mereka mengitari lorong dengan arahan Delphia, Laju memperhatikan bahwa lorong ini benar-benar bukan lorong yang tadi Laju lewati bersama Iris dan Parker. Ini lorong yang benar-benar berbeda.
Tidak hanya perhatian dari patung bermata merah saja yang mungkin hanya halusinasi Laju. Tapi juga karena kehadiran dari penerangan berwarna merah kekuningan yang menggantikan lampu tanam di bagian bawah dinding. Ini adalah obor!
Terdapat puluhan obor yang terpasang di setiap dinding gorong-gorong yang diselangi dengan banyak patung baik yang masih utuh atau yang setengah hancur.
Dan yang paling Laju perhatikan adalah sebuah patung yang memancarkan mata merah mengkilat yang seakan sedang memanggilnya.
“Laju!?” Tanya Aaron dengan heran.
Bagiamana tidak?
Aaron yang berada di barisan paling belakang yang sedang mengikuti Laju yang harusnya mengikuti barisan depan untuk mengikuti Delphia, harus dipotong oleh gerakan Laju yang lebih memilih untuk menyerong mendekati patung yang berada di ujung dinding yang lain.
“Hng? Kenapa? Ada apa dengan Laju?” Iris melanjutkan.
Sebelum yang lain bisa banyak merespon dan bertindak, Laju sudah lebih dahulu menyentuh salah satu patung manusia separuh naga bermata merah yang berada di seberang gorong-gorong. Bahkan, sebelum Delphia bisa bertindak menghadang dan menghentikkan apa yang Laju lakukan, lebih dahulu terdengar suara batu yang seperti sedang bergerak pada pola tertentu.
Ternyata, suara tersebut bukan suara sembarangan. Suara batu tersebut merupakan suara yang menandakan baru saja terjadi sebuah mekanisme yang membuat semua orang kaget karena menyebabkan gempa kecil pada lorong.
Dan setelahnya, muncul sebuah ruangan dengan pintu batu yang terbuka di depan Laju. Tanpa basa-basi lagi, Laju langsung memasuki ruangan tersebut yang sebenarnya sangat misterius dan mencurigakan.
Sebelum pintu menutup kembali dan membuat mereka kembali terpisah, Parker memutuskan untuk mengajak yang lain mengikuti Laju memasuki ruangan tersebut. “Ayo semuanya masuk!!” Teriak Parker.
Dan ternyata, pintu batu dengan ketebalan lebih dari 50 senti tersebut menutup sendiri begitu semuanya sudah berada dalam ruangan.
Memang keputusan yang tepat bagi mereka untuk mengikuti Laju. Tunggu. Benarkah? Apakah keputusan untuk mengkuti Laju adalah hal yang tepat dan bijak?
Tidakkah sekarang mereka akan terkurung selamanya?
Bagaimana jika ini jebakan yang lain?
Apakah mereka masih bisa mencari jalan keluar?
Sebelum pertanyaan-pertanyaan lain bisa muncul, mereka lebih dahulu dikagetkan dengan fakta bahwa ruangan yang mereka kunjungi ternyata bukan sekadar ruangan seperti gudang, ruang tidur, atau semacamnya.
Dengan ruangan yang hampir menyerupai luas dari lorong gorong-gorong tadi dengan tinggi dan lebar kurang lebih lima meter dan panjang yang kurang lebih 20 meter. Sang pemilik ruangan memutuskan untuk menjadikan ruangan ini menjadi makam.
“Makam pribadi, ya?” Parker menambahkan.
“Makam pribadi siapa?”
“Ras naga.”
“NAGA!!??”
Setelah mereka memasuki makam tersebut. Yang hadir mengisi ruangan hanyalah beberapa peti yang terbuat dari batu, patung yang lebih kompleks dan rumit tentang naga yang sangat megah di belakangnya dengan tinggi satu sampai dua meter, dan beberapa obor yang dengan ajaib masih bisa terbakar. Apakah itu seperti obor abadi?
“… Yah, memang sudah terkenal bahwa ras naga merupakan ras yang selalu berada pada strata sosial tertinggi. Selain memiliki jabatan dan kekayaan yang tidak sedikit, mereka selalu bisa memegang posis tertinggi di manapun mereka berada.”
“Tapi, naga adalah makhluk yang super besar itu, kan? Kenapa petinya hanya sebesar beastmen sepertimu saja, Parker? Mungkin patung-patung ini seperti naga. Tapi, bukankah itu aneh?”
“Mungkin yang dimakamkan disini hanya kepalanya? Hanya harta karunnya saja? Entahlah. Aku sendiri tidak tahu. Aku bahkan tidak mengetahui adanya gorong-gorong ini dibawah Kannaris.”
“Tapi untuk apa menyembunyikan makam di bawah gorong-gorong? Tidakkah itu tidak sopan kepada para leluhur?”
“Aku tidak terlalu mengerti tentang ras mereka. Bahkan, katanya ras mereka adalah ras yang hampir punah. Karena beberapa sifatnya yang egois dan superior, tidak ada yang berani dekat-dekat dengan mereka. Yang aku tahu, seumur hidup aku belum melihat mereka dengan mata kepala sendiri, selain dari cerita orang lain. Mungkin, bisa saja mereka sebenarnya hanya ras yang mengisolasi diri seperti manusia? Bisa jadi kedepan kita akan dijajah oleh naga, seperti yang manusia lakukan sekarang? Entahlah.”
“Apakah itu ada hubungannya dengan Laju? Dia seperti ditarik dipanggil oleh patung-patung ini? Dan dimana dia sekarang?”
“Patung-patung ini memang sangat memukau mata dari seni pahatnya. Tapi, mungkin Laju memiliki koneksi yang lebih dalam dengan mereka? Kamu ingat sendiri kemampuannya yang sama sekali tidak mirip dengan manusia kebanyakan.”
Parker berusaha menjawab apa yang bisa dia jawab, sekaligus berjalan menghampiri dan membangunkan Laju yang sedang terhipnotis, sedang menyimpan tangannya pada salah satu patung, seperti sedang bersujud kepadanya.
“Bagaiman jika Laju adalah ras naga itu sendiri? Tidak ada yang tahu?”
“Huh!?” Kejut Laju seperti baru terbangun dari tidur.
Dia menatap Parker penasaran sekaligus berterima kasih. Selanjutnya, dia menatap lagi patung naga yang entah mengapa selalu saja menghipnotisnya.
“Ini seperti yang terjadi di dalam hutan,” sebut Laju sambil menyocokkan gestur tangannya pada salah satu patung naga, berharap ada lagi sebuah mekanisme yang terjadi.
Sayangnya, tidak ada lagi yang terjadi.
“Wajar saja. Matanya yang merah sangat memukau dan membuat semua orang mendatanginya. Apakah kamu tidak tahu tentang tumbuhan venus dalam menarik mangsanya Atau tentang kantung semar?”
“Geh!” Laju menimpali.
“Yasudah saatnya kita kembali,” ajak Parker kepada Laju, juga kepada yang lain.
Tapi, begitu mereka kembali pada pintu tempat mereka memasuki makam, terdapat keanehan lain lagi yang terjadi. Pintu yang semula merupakan pintu batu yang tertutup otomatis, sekarang berubah menjadi pintu kayu yang sedikit lapuk dan layu.
Sebelum mereka memproses keanehan tersebut, lebih dulu perhatian mereka teralihkan lagi.
“Kyaaaa!” terdengar suara jeritan dari balik pintu, yang langsung mereka kenali.
Parker dan yang lain langsung menatap satu sama lain, menyadari apa yang mereka dengar di balik pintu kayu ini. Suara jeritan perempuan tersebut, serupa seperti suara yang mereka dengar di dalam rumah kemarin.
Awalnya, mereka langsung bergegas membuka pintu berencana menyelamatkan mereka. Tapi, Parker langsung menghentikkannya sekaligus memberikan gestur untuk tidak berisik. Sedetik kemudian mereka langsung paham untuk tidak bergerak tergesa-gesa.
Perlahan, pintu mulai dibuka oleh Parker. Disusul oleh Iris dan yang lain untuk memasuki ruangan di balik pintu kayu lapuk tersebut, yang ternyata bukan lagi lorong dari gorong-gorong yang memiliki aroma busuk, melainkan sebuah aula yang ditinggalkan dengan banyak pilar dan bebatuan yang berserakan.
Awalnya, mereka berencana utnuk mengendap-endap mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruangan yang tidak kalah besar dengan tempat pohon listrik tadi. Satu hal yang bisa mereka bisa rayakan adalah terdapatnya sinar matahari dan pintu keluar yang selama ini mereka impikan.
Sayangnya, di tengah ruangan terdapat sebuah entitas yang sangat besar yang menutupi pintu keluar mereka.
__ADS_1
“Apa-apaan monster jelek itu?” Laju yang pertama kali berkomentar.