
Laju dan Delphia berjalan perlahan, menjauh dari medan pertempuran.
Pergi ke luar, mencari perlindungan, mencari tempat pulang.
Tck Tck Tck!
Terdengar suara letusan dari tangan Delphia.
Letusan dan percikan es yang masih tersisa, bersamaan dengan darah segarnya yang membekas di kedua pergelangan tangannya. Laju yang melihat tangan menyedihkan itu di atas pundaknya hanya bisa khawatir, tanpa memberikan pertolongan yang berarti. Meskipun begitu, mereka bisa sedikit tenang karena sudah waktunya mereka pulang.
Tugasnya sudah selesai. Alat pelacak untuk melakukan navigasi dan pengecekan yang diberikan Iris sudah disimpan di tempat yang sulit ditemukan. Kalau memang alat pelacak itu sangat akurat dan memiliki teknologi yang terbaik, disimpan di dalam tanah sekalipun masih dapat terdeteksi, kan?
Beruntung, ada sebuah kendaraan yang terparkir di depan reruntuhan.
Itu mobil Jeep.
Kenapa ada di dalam hutan, tempat antah berantah seperti ini?
Mungkin, para komplotan menggunakannya untuk mengisi kembali suplai persediannya, atau mungkin untuk berpindah ke hutan dan kota lebih mudah. Zaman sekarang, apalagi dengan teknologi yang tersebar di seluruh kota, tidak ada yang ingin tinggal di dalam hutan menjauhi dari teknologi, kan?
Awalnya, Laju tidak begitu peduli.
Tapi, ketika dia melirik lebih dalam, mobil itu masih memiliki roda yang bersentuhan dengan tanah. Itu penemuan yang luar biasa! Meskipun sebenarnya melihat seonggok mobil adalah hal yang sangat normal, tapi melihat mobil yang masih menggunakan empat roda di antara mobil terbang yang memenuhi pusat kota adalah hal yang unik, kan?
Rasa percaya diri Laju untuk bisa pulang dengan utuh pun meningkat drastis.
Dia antar Delphia yang setengah tidur di samping kursi supir, juga dirinya yang memantapkan diri di belakang kemudi mobil, dan mereka pun siap untuk pulang. Sayangnya, dia tetaplah seorang anak kaya raya yang manja yang tidak pernah menyetir mobil sendiri. Dia tidak bisa mengengendarai mobil Jeep ini begitu saja.
Tapi, kita membicarakan Laju, sang superstar idola yang bukanlah manusia biasa. Setelah gagal untuk pertama kali dengan menabrakkan mobil pada batang pohon, Laju langsung mengerti semua kendali yang dimiliki oleh sang mobil, juga tekanan yang harus diberikan dalam menginjak gas, rem, dan segala macamnya.
Laju yang bangga dengan pencapaiannya itu secara tidak sadar langsung kembali menyombongkan diri dan memamerkannya. “Lihat? Ini mudah, kan?” Tanyanya bukan pada siapapun, kecuali dirinya sendiri.
Tidak ada yang merespon, kecuali rumput yang bergoyang.
Tapi, perhatiannya yang teralihkan tersebut tidak hanya proses untuk menyombongkan diri saja. Ketika kepalanya menoleh ke arah kiri, tempat Delphia sedang melipat dirinya, memeluk kakinya, sedang tidur, sembari mengerang kesakitan. Senyum Laju perlahan pudar, yang dilanjutkan dengan tangannya yang diturunkan.
Laju perlahan merasa simpati kepada gadis aneh di sebelahnya, yang selalu menjadi sumber masalahnya selama ini. Awalnya, Laju ingin protes. Tapi, yang terjadi sekarang adalah Laju yang sedang membuka pintu mobil, keluar, pergi kembali ke reruntuhan, memindai barang yang menurutnya bisa digunakan untuk Delphia, tanpa berpikir sama sekali, tanpa kerepotan sama sekali.
“Ini masih bersih, kan?”
Setelahnya, Laju kembali ke mobil, melihat Delphia yang masih kesakitan, untuk menyelimutkan beberapa kain bekas yang cukup nyaman untuknya.
Laju tersenyum kecil, bersamaan dengan semburat sinar matahari yang mulai menyongsong mengawali pagi.
Ini memang sudah waktunya pulang.
Awalnya, Laju tidak tahu menahu tentang arah yang harus ia pilih demi pulang kembali ke kota. Mereka sudah menghabiskan waktu dua minggu di dalam hutan, sudah menyusuri seluk-beluk hutan yang aneh dan absurd, hingga buta arah dan melupakan entahlah dimana kota harusnya berada.
Tapi, kehadiran mobil ternyata petunjuk arah pulangnya.
Mobil ini terparkir di depan reruntuhan tidak tanpa alasan, kan?
Setelah menyusuri dan berkeliling sebentar, Laju menemukan tanah dengan bekas jalur roda kendaraan yang menyimpulkan solusi dari permasalahan buta arahnya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Laju langsung mengendarai mobil tersebut, melaju mengikuti jejak roda mobil, berbelok melewati semak, antara pepohonan, memasuki gua, menaiki pohon, melewati sungai, sampai akhirnya setelah enam jam lain Laju habiskan untuk menyusuri hutan mencari jalan pulang, mereka menemukan semburat cahaya dan kebisingan kendaraan yang menunjukkan tanda yang baik.
Di depan mereka, sudah terpampang jalan raya, tempat Laju pertama datang terbang bersama Iris, dan gadis tidak diundang yang rupanya sudah bangun ini, sedang menyipitkan matanya pada cahaya matahari yang menyilaukan.
“Ng?” Delphia bertanya-tanya.
Laju terkejut dengan Delphia yang ternyata sudah bangun. Apakah kondisinya sudah membaik? Tentu saja tidak secepat itu, kan?
“Kita sudah keluar hutan,” Laju tersenyum mebalas. “Bagaimana luka-lukamu itu? Apa kita harus ke dokter?”
Delphia menggeleng.
Lalu setelahnya, Delphia perlahan menggeliat meregangkan tubuhnya. Dimulai dari tangannya, kepalanya, juga tubuhnya, sampai akhirnya kembali duduk mantap. Sebenarnya, Delphia masih sangat lelah. Tapi, di akhir sesi peregangan tubuhnya tadi, Delphia tetap memberikan senyum tipis kepada Laju.
Delphia seperti meyakinkan lelaki ini, bahwa Delphia baik-baik saja.
“Lalu pertanyaanya bagaimana kita pulang? Apakah kita baik-baik saja berkendara diantara mobil-mobil terbang itu? Bagaimana pula jika polisi menghentikkan kita?” Laju kembali menatap jalan raya. “Kita tidak bisa bergantung kepada Parker, kan?” Laju bertanya menoleh Delphia.
Gadis itu awalnya hanya memerhatikan mobil-mobil yang berkendara saja di depannya. Begitu sadar bahwa sedang diajak berbicara oleh Laju, dia cukup kaget. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa Laju akan mengajaknya berbicara langsung seperti itu, melakukan basa-basi menghabiskan waktu.
Delphia hanya bisa angkat bahu, ditambah senyum tipis yang canggung lainnya.
“Yah, aku juga tidak ingin berjalan kaki seharian seperti waktu itu sih. Hahaha!” Laju kembali memegang setir, melihat kiri dan kanan, menginjak gas, dan siap berkendara di antara mobil-mobil terbang di sekitarnya.
Baru setelah satu jam lain mereka habiskan berkendara – yang dikagetkan juga oleh Laju bahwa mereka tidak bertemu satu pun polisi untuk menilang dan menghentikkan mereka, Laju harus berhenti karena mobil yang kehabisan bensin. Tapi, ini tetap berita baik karena mereka sudah masuk ke dalam pusat kota, tempat yang penuh gedung tinggi, lalu-lalang monster di trotoar, juga hologram di sana-sini.
“Haaah, akhirnya kita sampai juga!” Laju perlahan turun dari mobil.
Dia melihat sekitar, meregangkan tubuhnya, menghirup udara kotor yang dirindukannya.
“Ayo!” Tanpa aba-aba, Laju langsung mengajak dan menggenggam tangan Delphia untuk kembali mengitari kota. Bukannya Delphia menolak juga, dia hanya terkejut pada aksi Laju yang tiba-tiba. Tapi sebelum itu, dia lebih kaget dengan aksi Laju sendiri yang lebih agresif kepadanya.
Dan yang lebih teramat penting, akhirnya Laju menganggap dan memerlakukan Delphia sebagaimana makhluk hidup dan manusia pada umumnya. Bukan lagi serangga, pengerat, ataupun sesuatu yang dibencinya.
“Ng!” Delphia mengangguk menjawab.
Mereka pun berjalan bersama menuju tempat Parker. Namun, kali ini mereka berjalan beriringan, berdampingan, bergandengan, saling bersisian satu sama lain. Bukan berjalan bersama karena kebetulan, dengan jarak hinga empat meter di depan.
Meskipun tidak ada banyak pembicaraan yang mereka lakukan untuk membahas ini dan itu, terutama pengalaman mereka hidup dua minggu lebih di dalam hutan, Delphia merasa ini lebih dari cukup. Meskipun sebenarnya dia kebingungan, apakah dia berhak mendapatkan perasaan ini, karena yang bisa dia lakukan hanya merepotkan Laju saja.
Akhir-akhir ini dia tidak bisa melihat masa depan lagi.
Apa yang terjadi?
“Woaaaah!” Suara sang wanita gagak, Iris, yang mengisi ruangan, menyambut kedatangan Laju dan Delphia.
Keterkejutannya tidak disangka-sangka, seperti melihat harta karun yang terkubur selama ratusan tahun. Meskipun tidak berharap banyak, tapi kemunculannya benar-benar membuatnya terkesima, membatu, saking tidak percayanya.
Sebelum semua orang penasaran dengan apa yang sedang direspon oleh Iris, Laju sudah masuk ke ruangan dengan lebih tenang, tanpa mendengus dan membanting sana-sini seperti sebelumnya. Kecuali, memberikan tubuh yang kotor penuh debu dan kotoran, yang mengeluarkan bau pekat yang menusuk.
“Wahahaha! Hebat juga kamu, ya!” Iris menepuk Laju, sambil mendekati menciumnya, mengenali bau-bau apa saja yang menempel pada tubuh bocah ini. “Hmmm, ini bukan bau yang palsu. Bau ini masih kuat, juga masih segar. Hahaha! Bagus, bagus!”
Setelahnya, Iris merangkulkan tangannya kepada Laju, mendekapnya keras, dan menggesekkan kepalan tangannya kepada Laju dengan senyum usil andalannya.
__ADS_1
Sementara itu, Audy yang merasa terganggu dengan bau pekat yang menjijikkan itu malah mengerang, menjauh dari pintu masuk, dan memberikan suara yang berbahaya pada Laju dan Delphia. Maklum saja, tugasnya lebih berfokus kepada serangan cepat yang instan. Bukan hobinya untuk mengotori tubuhnya. Hal ini tentu karena air adalah musuhnya, musuh keluarganya, musuh rasnya.
Maka dari itu ia selalu berusaha untuk menjauhi Aaron.
“Apakah kamu serius memeluk bocah itu, Iris? Mau sekalian aku bersihkan juga?” Aaron bertanya dengan sinis. “Aroma ini bau sekali! Sangat menusuk! Cepatlah rentangkan tanganmu! Aku akan bersihkan semuanya!”
Dan dengan begitu, Aaron memutar tangannya dengan mudah, mengendalikan sebuah pilar air yang bergerak lancar kesana kemari, membersihkan, membawa serta kotoran dan bau-bauan yang dimiliki oleh Laju dan Delphia, juga Iris yang baru saja memeluk mereka.
“Ada apa ini ribut-ribut?”
Dari daerah kiri, dari sebuah ruangan dengan daun pintu yang lebih kecil dari perawakan pemilik suara, perlahan muncul penampkaan seorang yang sangat besar. Itu Parker. Dan ketika dia baru saja keluar dari ruangan dan melihat siapa yang datang, dia sama terkejutnya dengan Iris.
“Wah, tamumu benar-benar luar biasa ya, Iris?” Lanjut Parker sambil menyimpan beberapa buku dan dokuman ke dalam meja utama. “Mungkin selanjutnya mereka bisa menemui si nenek dokter untuk diperiksa lebih lanjut. Audy, temani mereka ya?”
“Hah!? Boleh saja. Asalkan dia sudah bersih! Sudah bersih, kan?” Jawab Audy yang mulai tenang karena bau-bauan yang juga perlahan menghilang.
Selanjutnya, dia bergerak kembali ke sofa demi melanjutkan tidur siangnya dengan hati-hati. Tapi, dia sedikit terperanjat karena melihat Delphia yang sudah lebih dahulu duduk di sebelah daerah favoritnya. Sebenarnya, Delphia tidak mengganggunya sama sekali, kecuali oleh bau-bauannya tadi.
Lagipula, melihat Delphia yang sejak awal selalu tersenyum manis, Audy memiliki impresi yang sangat baik terhadap gadis ini.
Perlahan tapi pasti, Audy mendekati Delphia yang masih memberikan senyum manisnya. Dengan dengusannya yang menyadari bahwa aroma busuk itu sudah hilang total, Audy perlahan kembali tidur dan mendengkur. Mendengkur?
Oh. Gadis ini mengelusnya dengan nyaman.
“Kurrrrrrr,” seru Audy yang merasakan kenikmatan dunia.
“Jadi, kamu selesaikan misi itu dalam dua minggu saja?” Tanya Parker dengan kedua tangannya yang disimpan di pinggang. “Wow!” Serunya takjub sambil tersenyum karena Laju benar-benar melebihi ekspetasinya.
Merasa harus merespon dengan baik, Parker pun berjalan perlahan mendekati Laju. Namun, Laju bukannya langsung berjaga-jaga melakukan kuda-kuda bersiap bertempur lagi seperti sebelumnya. Dia hanya mengadahkan kepalanya karena melihat Parker yang begitu tinggi, penasaran apa yang akan dilakukannya.
Puk!
Dengan sedikit membungkuk menyesuaikan tingginya dengan Laju, Parker membelai dan mengelus kepala Laju. Dengan sangat nyaman, sangat lembut, meskipun dengan telapaknya yang super besar.
“Kamu hebat, Ju. Saya bangga padamu!” Sebut Parker tanpa ragu.
Sebenarnya, itu hanya sebuah pujian yang normal saja.
Pujian yang sering diterima oleh Laju, sampai Laju sendiri muak mendengar kata-kata tersebut yang kebanyakan tidak memiliki makna di baliknya.
Tapi, entah mengapa Laju merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tulus dan hangat, di balik pujian dan elusan dari Parker tersebut. Terutama, dengan perawakannya yang besar, ada sosok yang sangat dirindukan oleh Laju. Sosok tersebut mengingatkannya, bahwa Laju hanyalah bocah biasa yang membutuhkan perhatian dari sekitarnya, dari orang tuanya. Dan Parker secara tidak sadar baru saja memberikan perhatian tersebut.
Maka dari itu, Laju berusaha sekuat tenaga untuk menyimpan momen ini dengan sangat baik, dengan sepenuh hatinya.
Bahkan, perlahan Laju mulai mengeluarkan air mata.
Sontak, kepalanya pun langsung ditundukkan untuk menyembunyikan dan menutupinya. Tentu saja bukan karena takut, bukan karena malu.
Tapi, semua orang juga tahu. Laju menyukai dan menikmati elusan tersebut.
Semua orang tahu, Laju sedang tersenyum dengan sangat lebar.
Parker yang juga menyadarinya pun tidak berencana untuk menyelesaikan elusan tersebut. Dia tahu, bahwa Laju membutuhkan afeksi ini.
__ADS_1
“Kamu pasti lelah, kan? Bagaimana kalau berstirahat terlebih dahulu? Di ujung ruangan terdapat asrama yang bisa kamu pakai,” ucap Parker pelan, dengan tulus, dengan penuh perhatian. “Lalu, kalau kamu membutuhkan sesuatu, panggil saja. Saya akan selalu berada disini untuk membantumu.” Tambah Parker.
Laju yang tidak ingin terlihat sedang menyisak air mata, hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.