
“Sudah-sudah, tenangkan dirimu terlebih dahulu,” ucap Adrian yang mempersilahkan Laju untuk masuk ke ruangannya, menepuk pundaknya kemudian, menyilahkannya untuk duduk dan meminum teh hangat.
Mendengar keributan yang tidak normal di lapangan belakang, Adrian langsung mengamankan teman-temannya yang hilang akal berusaha menyerang Laju tanpa basa-basi, tanpa ragu-ragu.
Awalnya, Adrian sempat diberitahukan tentang semua dosa-dosa yang telah Laju lakukan, bahkan sampai menghujat Adrian sendiri karena telah membawa setan ini ke tengah keluarga mereka. Tapi, pada akhirnya semua bisa Adrian kendalikan untuk membuat kondisi lebih tenang dan kondusif, sekaligus mengingatkan mereka tentang kendali kuasa yang Adrian punya.
Pada akhirnya, Adrian bisa memisahkan Laju dan para demonstran.
Selanjutnya, dia mengajak Laju untuk memasuki ruangannya, memberikan ruang dan waktu untuk bocah itu bisa menenangkan dirinya sendiri.
“Ap-apakah aku memang melakukan hal yang salah? Apaka-Apakah aku…”
“Sudahlah, minum saja teh itu. Tenangkan diri saja dulu.”
“… aku tidak begitu menyadarinya. Aku pikir aku…”
“Semuanya hanya karena perbedaan perspektif saja. Selama ini kamu banyak bercengkrama dan dikelilingi oleh para monster itu, kan?”
“Eh…? Uhm, mungkin? Iya…”
“Sebenarnya sederhana saja. Kamu bekerja dibawah kendali para monster itu untuk mengalahkan dan melawan musuh mereka, kan? Bagi mereka, kita lah musuh mereka. Kamu bisa lihat sendiri betapa bencinya monster-monster itu dengan kita.”
“Tapi…?”
“Tenang saja. Aku bukannya menghakimimu atau segala macam. Kamu hanya kebingungan saja. Awalnya, aku pun heran bagaimana kamu bisa bergaul dengan dua gadis yang bukan manusia itu,” ucap Adrian sambil menepuk mendekati Laju.
Perlahan, matanya menatap Laju dengan dalam.
Entahlah apa yang Adrian lakukan. Tapi, Laju merasa dirinya bisa lebih tenang dan nyaman dibawah tepukan dan tatapannya. Laju tidak begitu tahu, tidak begitu peduli, bahwa mata yang Adrian berikan memiliki warna dan aura yang berbeda dari sebelumnya.
“Kamu tidaklah salah. Tidak ada yang salah. Kita manusia, kita keluarga, kan? Kita hanya dimanipulasi saja. Teman-teman di lapangan belakang itu baru saja mendapatkan kabar buruk tentang keluarga mereka. Maka dari itu, mereka ingin menjadi lebih kuat. Dan juga karena itu pula mereka sangat emosional. Dibiarkan sebentar juga kondisinya pasti akan reda dan kembali normal.”
“Eh? Begitu? Benarkah?”
“Tenang saja. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Kita keluarga, kan? Bukankah kamu paham sendiri bahwa di dalam keluarga wajar saja terjadi debat dan kesalahpahaman?” Tanya Adrian sambil tersenyum.
Pandangan Laju berkunang-kunang sedikit.
Tapi, meskipun pikirannya kembali menjadi kosong dan hampa, yang dirasakan oleh Laju sekarang bukan lagi kebingungan atau semacamnya.
Dia merasakan ketenangan, dia merasakan kenyamanan.
Slurp.
Laju kembali meminum teh hangatnya.
Dan setelah satu seruput air teh tersebut, dia langsung merasakan kenikmatan tiada tanding, seakan meneguk obat penenang, seakan terhipnotis.
“VS! Radit sudah pulang!” Tiba-tiba saja terdapat suara dari belakang mereka, dari daun pintu yang dibuka tanpa ketukan. Apakah privasi tidak diperlukan disini? Tapi mau bagaimana lagi. Keadaan gedung yang hampir hancur tidak bisa memberikan privasi yang diperluka setiap anggota.
“Oh benarkah? Nanti aku sapa dia.”
“Dia juga berpesan untuk memanggilmu karena ada yang ingin dibicarakan.”
“…? Apakah ada perkembangan terbaru dari mesin teleportasinya?”
__ADS_1
“Entahlah. Mungkin? Bisa jadi…”
“Baiklah aku akan turun sebentar lagi.”
“Kami tunggu dibawah,” ucap pria yang langsung menghilang dari ruangan.
“Teleportasi?”
“Oh, betul juga. Sekaligus menyegarkan diri dari topik berat ini, kamu ingin ikut? Aku juga ingin menepati janji tentang membawamu pulang. Bagaimana? Apakah kamu tertarik? Semuanya terserah kamu juga, sih. Siapatahu kamu masih betah tinggal di Kannaris?”
“Ah? Tidak-tidak! Aku ingin ikut. Aku juga ingin pulang. Aku akan ikut!
“Baiklah, tunggu aku diluar!”
“Oke!”
Dan dengan begitu, Laju langsung meninggalkan ruangan setelah menghabiskan teh hangat yang menyegarkan tubuhnya tadi. Sembari melihat beberapa manusia lain di lantai dasar yang emosinya sudah mereda dari balik pagar lantai dua, Laju perlahan menimbang-nimbang tentang semua yang selama ini dia lakukan.
Dia lebih lamat menatap para manusia yang selalu bekerja keras mempertaruhkan nyawa karena hidup yang sulit, hanya untuk memperjuangkan hidup normal yang setara di kota.
Laju merasa bersalah atas semua kenikmatan yang dia miliki selama ini.
Selama di dunia manusia, Laju memang selalu memiliki kelebihan dari kebanyakan manusia. Tidak pernah sekalipun Laju memikirkan bagaimana dia harus berperilaku terhadap siapapun yang tidak akan pernah berinteraksi dengannya.
Seperti para gelandangan di kediaman bos Alex, seperti lingkungan Blok T ini.
Tapi, setelah mencuri-curi dan menghabiskan waktu kosong untuk bermain dengan ras dan kelompoknya, kelompok Adrian, kelompok manusia. Ada beberapa hal yang Laju pahami untuk bertindak kedepannya.
Setidaknya, dia sudah merasa iba dengan kondisi ini.
Itu sudah lebih dari cukup.
“Baiklah, sudah diputuskan!” ucap Laju memastikan diri.
“Oh? Sudah diputuskan? Apa yang sudah diputuskan?”
Tiba-tiba saja Adrian yang sudah selesai dengan urusan pribadinya keluar dari ruangan untuk menjemput Laju.
“Eh? Ahaha, tidak! Aku hanya bicara sendiri saja. Ayo ayo! Aku tidak sabar!”
“…? Baiklah! Ayo!” Ajak Adrian.
Mereka pun turun dari ruangan Adrian menuju lantai dasar. Menyapa beberapa anggota lain dan bercanda ria tentang kesalahpahaman sebelumnya di lapangan belakang, menyebutnya hanya masalah emosional belaka, menambahkan banyak permintaan maaf, dan memastikan bahwa mereka tetap keluarga. Dilanjut dengan menepuk dan memeluk, memberikan afeksi kepada Laju, kepada sesama anggota yang lain.
“Apa aku bilang, kan? Semuanya pasti tidak akan lupa kalau kita adalah keluarga. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Santai saja, Ju!” Adrian menambahkan.
“Uhm! Ya!”
Sampai di ruangan bawah tanah, penerangan menjadi lebih redup dan gelap. Kecuali, sinar-sinar dari beberapa lampu belajar yang usang dan rusak, dan sebuah sumber cahaya dari alat yang cukup besar di tengah ruangan.
“VS! Kau sudah datang? Baguslah. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan. Oh? Siapa bocah ini?”
“Perkenalkan, ini kawan lamaku. Laju Pratama. Dia banyak membantuku di masa lalu, banyak membantu kita juga dua minggu terakhir. Dia ingin lihat-lihat, sekaligus rindu rumah katanya. Hahaha!”
“Oh? Apakah kau paham teleportasi bocah?”
__ADS_1
“Eh? Kurang lebih?”
“Ya pada dasarnya jika kau memang ingin pulang ke dunia manusia, hal itu bukannya mustahil. Toh kita manusia ada di Kannaris, kan? Tapi memang pergi ke dunia manusia sedikit merepotkan karena ada kota yang menjadi perbatasan untuk keduanya. Sehingga, kita harus melakukan transit terlebih dahulu, tidak bisa sampai langsung di titik yang kita inginkan. Harusnya, kita sudah berhasil mengatasi itu. Tapi, ada beberapa catatan informasi tentang perkembangan teknologi yang sedang dikerjakan oleh teman harus hilang begitu saja dan kita kerepotan. Bagaimana tidak? Kita jelas-jelas punya teknologi yang dapat menggulingkan seluruh peradaban, loh? Dan catatan itu harus hilang dan tercuri begitu saja? Aku pikir kita semua sepakat untuk menyembunyikannya di tempat yang aman. Apakah orang-orang peduli terhadap gorong-gorong? Apakah ada seorang yang membocorkan informasinya? Apakah ada pengkhiatan di antara kita? Sangat mustahil kita meminta bantuan pemerintah, kan? Kita bahkan tidak akan dianggap untuk menjadi masyarakat yang memiliki hak untuk hidup disini. Dan kurang lebihnya begitu begitu dan begini, lalu bla bla bla, dilanjut dengan ini dan itu,” Radit yang memakai tali suspender diatas kemeja kotornya menjelaskan bertele-tele.
“Haha! Hei-hei sifatmu keluar lagi, dit!” Adrian menepuk bahu pria di depannya.
“Eh? Benarkah? Ahaha maaf, Ju. Sifat buruk ini memang sulit dilepas, ya!”
“Ya pokoknya teleportasi adalah teknologi yang mahal. Jika kita ingin menggunakannya, kita harus menyimpan dua alat ini di tempat berangkat dan tujuan. Tapi, darimana kita bisa mendapat dana untuk itu semua? Yang kita miliki hanya satu pintu saja. Beruntung, Radit sudah menemukan alternatif baru.”
“Ya. Ada sebuah ras yang sangat misterius dan terkenal yang memiliki banyak misteri. Mereka adalah ras naga. Kalau aku bisa mendapatkan sesuatu yang berasal dari mereka, pasti banyak pihak swasta yang siap berinvestasi kepada kita. Mereka tidak mungkin bodoh untuk memihak pihak yang kalah, kan?”
Laju terperanjat sedikit
Pembicaraan yang sedang dibahas ini sepertinya bisa dia ikuti karena Laju memiliki satu potongan yang hilang dalam masalah yang sedang dihadapi oleh Adrian dan Radit.
“Aku… sepertinya bisa menjawab permasalahan kalian itu.”
“Oh, ya? Apa yang kau tawarkan, bocah?”
“Aku sebenarnya tidak begitu yakin juga apakah ini akan berhasil atau tidak. Itu seperti patung naga. Tapi, mungkin aku bisa membawanya kesini besok.”
“Wah? Baiklah. Aku akan menunggu janjimu itu, bocah!”
“Mungkin ini juga bisa menjadi buktimu, Ju?” Adrian memotong.
“Bukti?”
“Bukti bahwa kau memang manusia dan berada di pihak kami, bahwa kita keluarga memang saling membantu? Mungkin kau akan membeli hati semua anggota disini?”
“…! Betul juga. Aku akan pulang dahulu. Aku akan mencari patung itu!”
“Baiklah, hati-hati ya!”
Dengan riang gembira dan antusiasmenya, Laju langsung pergi dari ruang bawah tanah, berlari keluar gedung, dan langsung mencari taksi lain untuk segera pergi mendapatkan benda yang bisa menjadi potongan solusi dari permasalahan yang Adrian dan Radit hadapi.
Dengan senyum yang lebar, Laju merasa sangat bangga pada dirinya sendiri.
Dia tidak sabar untuk segera membuktikan dirinya berguna bagi keluarga.
Di satu sisi, Adrian pun sama tersenyumnya bersama Radit.
“Aku tidak pikir bahwa ini semua akan semudah itu.”
“Kau mempercayainya? Bagaimana jika bendanya itu hanya omong kosong belaka?”
“Aku meragukannya. Dia pasti tidak akan mengecewakanku.”
“…? Kau temukan dimana bocah itu?”
“Ahaha. Dia yang datang sendiri kepadaku. Aku pikir kita sudah selesai dan semuanya. Tapi, melihat perkembangan kehidupannya dua minggu terakhir, aku tahu bahwa aku harus memeliharanya.”
“Memeliharanya? Lalu kenapa kau mengirimnya pulang?”
“Kenapa tidak? Aku beli terlebih dahulu hatinya agar bisa terus berada di pihak kita. Lagipula, para monster yang mengurusnya dari kepolisian tidak akan datang ke dunia manusia tanpa harus melawan segudang tentara dan pertahanan yang kita miliki, kan?”
__ADS_1
“… betul juga.”
“Ini kemenangan untuk kita!”