
Monster yang hampir memenuhi ruangan tersebut diperkirakan memiliki tinggi sekitar 12 meter. Sontak, Laju langsung mengingat ogre di tengah hutan yang selalu mengganggu malamnya.
Apakah mungkin inilah saatnya untuk melakukan balas dendam?
Beruntung, mereka masih berada di balik dinding sehingga kontak yang terjadi dengan monster raksasa itu tidak terjadi secara langsung.
Sebenarnya, ada hal lain lagi yang membuat mereka keheranan tentang ruangan ini.
Yakni tentang bagaimana terdapat beberapa lizardmen berjas putih yang sedang melakukan operasi klinis, juga tentang teriakan yang masih mereka dengar bersuara di suatu tempat di ruangan ini. Lalu, tentang maksud dari penampakan monster dengan rupa menyerupai jamur yang bersisik, namun berkaki tentakel seperti gurita.
Tapi, ada hal yang sebenarnya sangat mendasar yang harus mereka pertanyakan.
“Kenapa kita tiba-tiba berada di ruangan ini?” Audy berteriak panik.
Semuanya sadar dan paham, bahwa sedetik yang lalu ruangan di belakang mereka merupakan sebuah makam. Lalu, tempat mereka sebelumnya merupakan lorong dari gorong-gorong saluran air.
Apakah mereka baru saja terteleportasi?
Tapi, apa pemicunya?
Tidak seperti teleportasi yang mereka rasakan di lorong gelap dari dalam rumah bahwa mereka memang meraskan perasaan sihir yang aneh dan mereka pun terjatuh pada dimensi kehampaan. Untuk kasus yang ini, tidak ada satupun orang yang bisa menjelaskan, Parker sekalipun.
Bahkan dia saja tidak tahu menahu bagaimana ada makam ras naga di balik dinding gorong-gorong saluran air.
“Kita baru saja terteleportasi setelah memasuki pintu kayu itu?”
“Teleportasi, ya?”
“Sebenarnya cukup masuk akal. Jika kita membicarakan teleportasi yang umum digunakan antara satu kota dengan kota lain, mereka memang menggunakan medium pintu sebagai cara berteleportasi.” Parker menjelaskan. “Tapi, aku sama sekali tidak merasakan adanya energi sihir di setiap ruangan yang kita lewati tadi, tidak seperti kemarin terjatuh di lorong di dalam rumah.”
“Sudahlah, tidak perlu repoti itu! Kita urusi saja monster yang menutup jalan keluar kita!” Protes Aaron.
Sesaat, semuanya penasaran darimana gerangan suara tersebut berasal. Ternyata, Aaron sedang merayap pada salah satu bagian dinding untuk lebih lanjut mengidentifikasikan monster jamur raksasa di depan mereka yang terlihat sangat berbahaya.
Setelahnya, mereka mengangguk menyetujui usul Aaron.
Mereka mulai memfokuskan diri lagi pada permasalahan yang berada di depan mata mereka yang lebih penting untuk diselesaikan.
Meskipun begitu, meskipun mereka harus melupakan insiden teleportasi yang tadi mereka rasakan, apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi monster super besar tersebut? Laju sendiri pun yang selama ini menjadi tombak yang membuka jalan bagi kelompok hanya bisa menelan ludah dalam-dalam.
Laju memang pernah melawan seorang yang besar menyerupai Parker.
Tapi lihatlah perbandingan mereka secara nyata!
Parker hanya memiliki tinggi dua sampai tiga meter saja.
Sedangkan monster ini lima sampai enam kali lipat lebih besar dari tubuh Parker!
“Tenang teman-teman… semuanya pasti baik-baik saja. Kita hanya harus memikirknanya dengan kepala dingin,” seru Parker yang menyadari seluruh kelompoknya mulai bercucur keringat, gelagapan, dan ketakutan.
Meskipun begitu, setiap rencana yang mereka susun agar bisa segera keluar dari ruangan ini hanyalah ilusi dan mimpi belaka. Karena, mereka tidak mengerti apa yang sedang mereka hadapi. Bagaimana caranya mereka menyusun rencana jika musuh yang mereka hadapi saja tidak diketahui kelemahannya, gaya bertarungnya, dan segala macamnya.
Lizardmen yang kemarin dan setiap musuh yang sudah dikalahkan tidak bisa dibandingkan. Tubuh mereka masih dalam jangkauan, pun organnya masih Laju kenali. Sehingga, Laju bisa memaksimalkan serangan untuk menyelesaikan mereka dengan cepat.
Lihatlah monster jamur besar bertentakel ini!
Dimana titik lemahnya!?
Setidaknya Aaron, Audy, dan Iris memutuskan untuk mengintai lebih jauh, berusaha untuk mengendap-endap mencari informasi yang bisa mereka curi.
Setelah 30 sekian menit berlalu, pada akhirnya pengintaian yang dilakukan tidak begitu menghasilkan apapun yang bisa membantu mereka keluar dari ruangan dengan mudah, tanpa harus berinteraksi dengan monster jamur besar tersebut.
Informasi yang bisa didapatkan kebanyakan dari Iris – yang memang sangat wajar karena itulah keahliannya. Pada dasarnya, monster itu seperti penjaga ruangan yang sedang dalam fase setengah tidur. Lizardmen yang mencurigakan menggunakan jas putih itu sepertinya sedang bereksperimen dan menyelidiki monster itu sebagai objek percobaan mereka. Dan yang sedang lizardmen uji cobakan ini ternyata bukan hanya makhluk mistis yang tidak diketahui asal-usulnya. Monster jamur raksasa ini merupakan makhluk buatan, yang bisa dipastikan merupakan sebuah senjata.
Maka, membunuh monster tersebut adalah sebuah prioritas utama. Karena, akan sangat bahaya jika monster itu melakukan kerusakan di tengah kota. Mungkin, kita bisa saja menyusup dan menyelinap berusaha kabur terlebih dahulu dan meminta bantuan. Tapi, entahlah apa yang akan terjadi pada sang monster jamur raksasa ini ketika kita masih sibuk meminta bantuan atau mengumpulkan pasukan. Bisa-bisa dia sudah dipindahkan diteleportasi tak meninggalkan jejak.
Lagipula, Iris sama sekali tidak melihat kemungkinan mereka bisa kabur dengan mudah. Tentakel-tentakel yang dimiliki jamur itu sangat tebal, kuat, juga akurat. Apalagi, gerakannya yang elastis dan mulus, sudah seperti setiap tentakel memiliki kesadarannya masing-masing.
Permasalahan suara teriakan seorang gadis, memang terdapat dua orang sandera yang terikat dan dikurung dalam kandang di suatu sisi ruangan. Meskipun entahlah apakah mereka masih merupakan sandera yang sama dengan yang dibicarakan kemarin. Tapi, prioritas Parker dan yang lain artinya akan terbagi-bagi.
Setidaknya, tuga mereka sekarang adalah menculik seorang lizardmen untuk menginterogasi mereka, berusah mendapatkan jalan untuk melenyapkan monster jamur raksasa, sekaligus juga mencari tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan di ruangan ini.
“Apakah kamu sendiri bisa melakukan itu, Iris?”
“Sepertinya tidak. Meskipun penculikan bisa aku lakukan dengan mudah, tapi permasalahan yang aku hadapi adalah jalur terbangku. Tentakel monster jamur raksasa itu sangat akurat dan sangat cepat. Padahal, dia berada dalam kondisi setengah sadar. Tapi, barusan saja terdapat hewan pengerat yang mengganggu, seketika hancur remuk begitu saja dengan insting dari tentakelnya.”
“Apakah kamu bisa berteleportasi?”
“Ketika berteleportasi, tubuhku bukannya hilang begitu saja. Tubuhku masih berbentuk, meskipun berupa partikel kecil. Dengan keakuratan tentakel itu, bisa-bisa aku dihantam ketika merubah diri menjadi partikel yang justru akan berakibat fatal.”
“Apa ada sumber kehidupan dari monster tersebut? Seperti kabel yang menopang kehidupannya? Mungkin kita bisa menargetkan itu terlebih dahulu.”
“Tidak. Monster itu merupakan makhluk hidup.”
“Tapi dia seperti sedang dipasang oleh kabel-kabel?”
“Sepertinya itu kabel untuk mengecek kondisi organ tubuhnya. Ada banyak grafik yang ditampilkan di monitor para lizardmen.”
“Apakah sebenarnya kita memiliki kesempatan?”
“Audy… bagaimana denganmu? Apakah setidaknya kita bisa menculik satu lizardmen dan kamu mengurusi tentakelnya?”
“Itu berarti kita mengumumkan kehadiran kita disini, dong? Mereka harusnya memiliki dan bisa memanggil bala bantuan, kan?”
“Apalagi yang kita punya?”
“…” Tidak ada sanggahan.
Dan dengan begitu, Iris mulai bersiap-siap untuk menculik lizardmen dengan bantuan yang lain dari Audy, Aaron, dan Laju untuk mengurusi tentakelnya. Lalu bantuan Parker juga untuk mengakomodasikan pelindung yang melapisi tubuh agar dampak dari pukulan tidak seratus persen menghantam organ fisik mereka.
Seketika, Iris langsung berubah menjadi burung dan siap untuk mengendap-enap menculik salah satu lizardmen itu.
Dalam hitungan detik, Iris sudah terbang tanpa suara melaju pada sisi ruangan yang lain. Selanjutnya, untuk teman yang lain pun langsung bertugas berjalan mendekati sang monster jamur raksasa itu utuk menghalau setiap tentakel yang mengganggu Iris.
Dan dalam hitungan detik lainnya, Iris sudah berhasil menculik salah satu lizardmen yang menggunakan jas putih tanpa suara. Kecuali, teriakan dari lizardmen yang panik dan kaget atas penculikan Iris.
Dan ternyata, apa yang Iris spekulasikan memang benar terjadi.
Padahal, Iris baru terbang melayang mengangkat satu lizardmen dengan kakinya beberapa meter. Tapi, salah satu tentakel jamur tersebut langsung bereaksi bergerak dengan insting dan refleks yang sangat baik, berusaha untuk menepuk menghantam Iris, seperti bagaimana manusia menepuk lalat yang mengganggu.
Sayangnya, memang kecepatan tentakel itu lebih cepat dari sayap Iris.
Tung!
Beruntung, pergerakan dari tantakel tersebut bisa langsung dibelokkan oleh tembakan peluru biru yang diluncurkan oleh Aaron. Sehingga, Iris pun masih bisa terbang dengan santai sembari mengangkut lizardmen yang berteriak berusaha untuk melepas diri.
BLARRR!
Tentakel lain pun berhasil jatuh menghancurkan lantai ruangan, memberikan kemudahan bagi jalur terbang Iris.
Diluar dugaan, Audy dan Laju bisa menciptakan kombinasi serangan yang cukup baik. Begitu terdapat dua tentakel lain yang berusaha untuk menarik dan menghantam sang gagak, Laju langsung melompat memukul menghantam tentakel tersebut, menghancurkan kinerja otot-ototnya, untuk kemudian dicabik habis oleh Audy.
__ADS_1
Meskipun regenerasi tentakel tersebut sangat cepat karena ada lebih banyak tentakel lain yang berusaha untuk menyerang, itu tidak masalah bagi mereka.
Memang, Laju sangat geram dengan kecepatan regenerasinya.
Tapi, selama Iris bisa terbang dengan selamat kepada sisi ruangan yang lain agar bisa menginterogasikan sang lizardmen, semuanya akan baik-baik saja, semuanya akan sesuai dengan rencana.
“Huffh, Huh-hahhhh!” Rengahan Iris yang perlahan membawa paket pada Parker.
“Baiklah, kerja bagus kalian semua!” Parker mengajak yang lain untuk berkumpul lagi, menjauh dari monster dan marabahayanya. “Apa yang kira-kira bisa kita dapat darinya, ya?” Parker mulai memborgol mengunci pergerakan lizardmen dengan kekuatan pelindungnya.
“AHAHAHA! PENYUSUP KURANG AJAR!!!! KALIAN PIKIR KALIAN MENANG!? APA, KALIAN MAU INFORMASI!!?? SAYANG SEKALI KALIAN HARUS MENELAN LUDAH SAJA!! G-GH!”
Dan setelahnya, lizardmen tersebut menggigit lidahnya sendiri untuk mencegah Parker dan yang lain bisa menggali informasi darinya.
“Huh!? Apa-apaan itu?”
“Dia menggigit lidahnya sendiri?”
“Lalu untuk apa kita lakukan semua kerja keras itu!?”
Laju, Audy, dan Aaron protes bergiliran terhadap tingkah yang lizardmen tersebut lakukan yang membuat semua kerja keras mereka sia-sia.
Karena sekarang, mereka harus kembali ke titik nol dimana mereka tidak memiliki informasi apapun terkait monster yang harus mereka kalahkan tersebut.
“HHNNNGGGUUAAAAA-AAAAK GGGHHHHHAAAAAAA!!!!!”
Dan sebelum mereka semua bisa puas memprotes, muncul teriakan yang sangat menggangu dan menyakitkan telinga.
Itu teriakan sang monster jamur raksasa yang nampaknya baru bangun dari setengah tidurnya.
Saking besarnya, gempa kecil terjadi pada ruangan menjatuhkan bebatuan kecil dan pasir dari langit-langit. Tidak hanya itu, dengan jelas terdapat gelombang sihir di dalam teriakannya tersebut yang mengganggu mental dan jiwa Parker, Laju, dan yang lainnya.
Dan sekarang, ketika posisi mereka sudah ketahuan mentah-mentah, mereka tidak punya pilihan lain selain melawan langsung monster yang entahlah kelemahan atau gaya bertarungnya apa.
Melihat semuanya dalam kondisi yang kacau, Parker berinisiatif langsung memutuskan untuk memberikan tugas kepada teman-temannya.
“Aaron dan Iris, kalian gunakan reaksi kekuatan kalian dari air dan listrik untuk menyengat, menyetrum, atau mengejutkan monster tersebut. Itu harusnya bisa memberikan waktu agar monster tersebut sibuk!”
Iris dan Aaron saling melihat.
Setelahnya mereka mengangguk dan langsung mencari posisi.
“Audy, cari-cari kesempatan dan jalan untuk segera evakuasi sandera yang Iris sebutkan. Delphia juga bantu Audy. Kalau kalian sudah selesai, Delphia mungkin bisa menggabungkan kekuatannya dengan Aaron dan Iris untuk membekukannya. Lalu Audy, kamu coba cari bagaimana caranya bisa keluar dan mencari evakuasi. Kalau sulit, sekalian cari kelemahan atau apapun yang terlihat sebagai titik lemah dari monster ini!”
“Baik!” Audy langsung bergerak, mengajak Delphia yang juga mengangguk.
“Laju, serang monster itu semaumu. Tapi coba cari juga titik lemah dari tubuhnya yang paling rentan. Sementara itu, saya akan bertugas mengalihkan perhatian monster ini. Menjadi samsak tinju, juga mengakomodasikan pelindung untuk kalian!”
“BAIK!”
“Serangan datang!”
Begitu Parker menyelesaikan komandonya, muncul serangan tantakel yang menghancurkan sebagian dinding yang selama ini menjadi tempat persembunyian mereka.
Beberapa menyayangkan bahwa mereka tidak bisa lagi bersembunyi. Tapi, mengingat fakta bahwa mereka memang harus melawan monster itu, mereka mengurungkan niat untuk memikirkannya dalam-dalam.
Dan setelahnya, operasi pun dilakukan.
Dengan gesit Parker langsung memberikan pelindung kuning transparan yang mengkilatnya berlapis-lapis kepada dirinya sendiri, maupun kepada yang lain baik Laju, Iris, Aaron, terlebih kepada Delphia dan Audy yang harus mengevakuasi sandera kepada tempat yang aman.
Sesuai anjuran, Aaron dan Iris berusaha untuk menyengat menyetrum monster dengan voltase yang sangat tinggi. Berharap agar kesadaran monster tersebut kembali hilang, sehingga mengalahkannya bisa lebih mudah.
“Aaargggh!” Laju mengerang seruan perang, bersamaan dengan kekuatannya yang dikeluarkan ditujukan pada sang monster jamur raksasa.
Puff.
Sayangnya, serangan dan hantaman yang menerbangkan puluhan lizardmen hingga tak sadarkan diri tidak bisa diaplikasikannya dengan baik pada monster jamur raksasa ini.
Awalnya, Laju sangat percaya diri karena pukulan terhadap tentakel sebelumnya sangat efektif, karena berhasil melempar menampar tentakel jauh dari tempat seharusnya. Tapi, apa yang terjadi sekarang malah berkebalikan.
Begitu kepalan Laju lancarkan pada kulit monster jamur raksasa yang setengah padat ini, seketika juga tangannya tertanam, terjebak, dan terkunci di dalamnya. Merasa dirinya dalam bahaya, monster tersebut langsung melancarkan serangan balasan dengan menyerang Laju menggunakan tentakelnya.
Dengan refleks yang sangat baik yang Laju miliki, dia bisa menghindarinya.
Sayangnya, serangan itu tidak hanya satu tentakel saja. Ada dua hingga tiga tentakel lain yang menyerang Laju yang pergerakannya sedang terkunci tersebut.
BRUGHH!!!
Setelah melempar menghempaskan banyak lizardmen, sepertinya ini memang karma untuk Laju. Karena, yang menjadi korban hempasan sekarang adalah Laju yang terlempar jauh, terbanting membentur salah satu pilar yang berada sepuluh meter di belakangnya.
“Guh!” Batuk Laju.
Kalau tidak ada lapisan ganda pelindung yang diinisiasi Parker, tulang Laju pasti sudah retak dan remuk tidak terselamatkan. Meskipun mungkin terdapat pertolongan pertama, mungkin butuh berbulan-bulan untuk menyembuhkan diri.
Tapi, meskipun dengan bantuan pelindung Parker sekalipun benturan yang cepat dan keras itu sangatlah menyakitkan dirinya, tubuhnya, juga percaya dirinya.
“Laju!?” Teriak Parker yang menyadari pedang dan tombak kelompok mereka sedang terbaring kesakitan. “Ugh!” Melihatnya kesulitan, Parker langsung mengambil gerakan-gerakan ofensif yang agresif yang diniatkan sebagai pengalih perhatian agar dirinya menjadi samsak tinju, bukan teman-temannya.
“AYO KEMARI!!! SERANG AKU!!!”
Bzztt.
Aaron dan Iris masih berusaha untuk memberikan serangan kejutan listrik.
Sebenarnya, serangan mereka tersalurkan dengan sangat baik pada setiap sel-sel monster. Reaksi elemen antara air dan listrik sangatlah berbahaya tidak hanya pada manusia, melainkan pada setiap makhluk hidup dan ras yang hidup di dunia aneh ini, bahkan Parker sekalipun.
Aaron dan Iris bahkan sudah melancarkan serangan yang bisa menumbangkan ratusan orang dalam sekali kejut. Tapi, kenapa monster ini masih aktif saja menyerang menggunakan tentakelnya?
Sampai pada akhirnya, sebuah perubahan terjadi.
“GGHHHNNGAAKKKKK-KKKK NGGHAAKK-NGAKK!”
Daripada teriakan, semua sepakat bahwa suara yang dikeluarkan oleh monster tersebut lebih mirip dengan suara tangisan, suara yang sedih.
Seperti meminta bantuan, monster itu seperti menangis meminta tolong.
Tapi, tentu saja tidak ada yang peduli. Mungkin, dia meminta tolong pada ras monster yang mengerti rengekannya, atau kepada siapapun yang bisa membantunya mengusir serangga-serangga ini. Sebagai serangga, Parker dan yang lain tidak mengusik teriakan kesedihan itu, selain terus menyerangnya.
Psshhhh.
Dan yang muncul setelah rengekan kesedihan monster jamur raksasa tersebut adalah sebuah serbuk asap yang mengkilat seperti campuran glitter yang dalam waktu singkat langsung menyelimuti langit-langit ruangan..
Semuanya langsung menghentikkan serangan mereka untuk berfokus pada eksistensi asap yang aneh yang berada di atas kepala mereka ini.
“Apa itu!?” Teriak Audy.
Rupanya, dia dan Delphia sudah menyelesaikan misinya mengevakuasi sandera sekaligus berada pada tempat yang aman. Beruntung, para sandera masih hidup, normal, dan baik-baik saja – meskipun sedang tidak sadarkan diri. Sebenarnya, apa yang akan lizardmen lakukan pada sandera ini? Sepertinya mereka termasuk ras beastmen kuda dan kangguru?
Iris dan Aaron pun mulai kembali berkumpul pada Parker untuk mundur, sekaligus menggendong Laju yang masih berusaha untuk kembali berdiri mengerang kesakitan.
“Apakah asap tersebut berbahaya? Apa yang harus kita lakukan?”
__ADS_1
“Aaron, apakah kamu bisa melakukan kontak dengan asap tersebut untuk mengeceknya? Apakah fisikmu bisa menahannya?”
“Entahlah, aku tidak begitu percaya diri. Tapi, memangnya kita punya pilihan lain?”
“Kalau begitu, aku serahkan padamu, ya!”
“Hati-hati, ron!”
Dengan tangannya yang berlendir, Aaron langsung merangkak merayap melintasi dinding. Melompati satu pilar kepada pilar lain untuk mencari tempat yang aman untuk melakukan kontak dengan asap yang baru saja dikeluarkan oleh sang monster.
Dalam radius sekitar lima meter, Aaron mulai mengendus berusaha memeriksa apakah asap ini layak untuk dihirup atau tidak.
Dan setelah asap mulai turun melakukan kontak perlahan dengan Aaron, ada rasa heran yang mengerutkan keningnya. Dia kebingungan, bagaimana harus merespon asap yang perlahan semakin pekat, semakin mencuri pengelihatannya ini.
Sekilas, asap in tidak lebih dari asap normal yang berwarna merah muda sedikit abu, seperti gas sisa yang dikeluarkan oleh monster ini, sebagai sarana untuk menyegarkan pencernaanya, seperti sebuah kentut yang berwarna.
Semakin lama Aaron melakukan kontak, perlahan dia paham jawaban yang harus dia berikan kepada Parker dan yang lainnya.
“Baiklah!” Ucapnya dalam hati, dilanjut dengan gerakannya yang menggeliat mulai menuruni pilar ruangan.
Melompati lagi satu pilar dengan pilar lain, merayap turun melewati dinding, hingga kembali pada tanah dasar tempat Parker dan yang lainnya menunggu.
“Eh!?” Tanya Aaron di dalam hatinya, begitu dia rasakan dengan betul bahwa dia sudah berada di atas tanah lagi, berada di lantai ruangan.
Memang betul, asap ini semakin pekat, semakin gelap, semakin menyulitkan pandangannya. Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Aaron kehilangan posisi dan kehadiran Parker yang seharusnya berada di sini, tempat terakhir mereka berpisah.
Aaron melirik kiri dan kanan, menoleh ke belakang dan mencari dimana keberadaan teman-temannya yang lain.
“PARKER!?” teriak Aaron.
“…”
“PARKER!!!!”
“…!”
Kenapa tidak ada jawaban?
Apakah Aaron baru saja terteleportasi lagi?
Apa yang sebenarnya terjadi?
BLAARR!!!!
Sebelum Aaron bisa paham apa yang sedang terjadi pada dirinya, pada sekelilingnya. Terdapat suara benturan dinding yang sepertinya hancur tak bersisa. Permasalahannya, suara ini lebih dahsyat dari suara Laju yang terlempar terbentur dengan salah satu pilar ruangan yang juga sama terbuat dari batu bata.
Lalu, apa gerangan yang baru saja menyebabkan suara tersebut bisa terjadi?
Aaron sangat penasaran. Dia ingin mencari tahu siapa yang mengakibatkan suara tersebut. Laju yang berhasil memukur mundur sang monster jamur raksasa? Atau itu merupakan serangan yang disebabkan oleh tentakel monster tersebut? Atau jangan-jangan ada bala bantuan yang dipanggil oleh teriakan monster?
Oh ayolah! Mengalahkan satu saja sudah kesulitan!
Aaron membutuhkan arus angin untuk membersihkan kepulan asap yang perlahan mulai beraroma tidak menyenangkan seperti telur busuk. Tapi, siapa yang bisa memanipulasi energi dan menggunakan sihir angin di kelompok ini?
Kalau membicarakan anggota lain yang sedang sibuk, mungkin bisa saja.
Tapi, diantara keenam orang ini Aaron tidak mengira ada yang bisa membersihkan asap dengan mudah.
“…!?” Ketika Aaron masih berusaha bersiaga terhadap setiap apapun yang terjadi, dengan pengelihatan yang masih berfungsi dalam radius dua meter, dia melihat ada monster lain dengan postur yang sama besar dengan Parker, namun berbentuk jamur.
Apakah ini bala bantuan?
Aaron siap untuk melawannya. Dia mengumpulkan energi, merubah kuda-kudanya, siap melemparkan tembakan pada sang monster. Tapi, ada keanehan yang terjadi setelahnya. Apakah dia baru saja berhalusinasi? Dimana monster jamur sebesar Parker tadi?
DIA MENGHILANG!!!
Apakah itu salah satu kemampuannya? Apakah monster tersebut berusaha untuk berbaur dengan asap yang tebal ini? Menyadari musuhnya yang merepotkan, Aaron pun semakin siaga, semakin siap untuk menghadapi apapun yang datang kepadanya.
Sampai setelahnya, terdapat serangan dari belakangnya, seperti sebuah tarikan.
Ini dingin!
Ternyata, ada tangan yang menyentuhnya, memegangnya, menariknya dari belakang. Sikap siaga yang Aaron persiapkan sebenarnya siap untuk menangkis dan melawan serangan dadakan tersebut. Tapi, karena sensasi yang begitu menyakitkan yang ternyata membuat tangan kirinya membeku, Aaron hanya bisa melongo saja.
“Syukurlah kau baik-baik saja. Cepat masuk!” Seru Parker yang membantu Aaron untuk berdiri dan segera masuk ke dalam pelindung yang sudah Parker siapkan.
“Hnngghhh!!!!” Setelahnya, Parker mengerang mengumpulkan energi berusaha untuk mencoba menyingkirkan asap yang merepotkan ini.
Setelahnya Parker memunculkan banyak energi kuning berbentuk persegi kecil yang muncul di depan mereka membentuk sebuah jembatan.
Ternyata, Parker berusaha memisahkan setiap komponen gas yang lebih padat dari udara untuk dipisahkan dengan niat mengembalikan pengelihatan mereka.
“Kau bisa melakukan itu?” tanya Aaron heran.
Muncul kemudian puluhan hingga ratusan persegi-persegi kecil hingga persegi yang sangat besar mengisi ruangan, yang hadir di depan mereka terbang melayang. Dan atas komando yang Parker berikan, pelindung tersebut membuka jalan menyingkirkan kepulan asap, seperti nuh yang membuka jalan diantara laut.
Ternyata, tidak hanya kepulan asap yang terbawa tersingkir oleh kekuatan Parker tersebut. Ada beberapa monster yang Aaron kenali, monster jamur sebesar tubuh Parker yang ikut terbawa serta, tertiban, dan terhimpit oleh pelindung Parker dan dinding ruangan. Mereka pun meletus seketika menjadi partikel-partikel yang lebih kecil.
“Huffh-hhh haah!” Setelahnya, Parker langsung kehilangan lebih dari setengah kekuatan dan eneringya, hingga dirinya merasa ingin tumbang tak sadarkan diri saja mengistirahatkan tubuhnya.
Tapi, tentu saja itu tidak mungkin.
“NGUH!?” Terdengar suara kebingungan dari sang monster jamur raksasa.
“NGGHUAHH-HAHHHH HHHAAAAAA-AAAANGH!” Dan setelahnya dia berteriak merengek lagi meminta bantuan.
Hanya saja, rengekannya kali ini sangat berbeda dengan yang sebelumnya.
Monster tersebut merengek seperti anak kecil yang permennya diambil paksa oleh orang dewasa. Melompat-lompat berjingkrak menyebabkan gempa lokal yang sangat berbahaya. Tentu saja, lompatan monster jamur raksasa dengan tinggi 12 meter bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Bagaimana tidak, dengan pondasi dan ruangan yang masih terbuat dari batu bata, langit-langit dan pilarnya sekarang berjatuhan tiada henti, seperti terjadi hujan batu-batuan dan ini bukanlah pertanda baik.
“…tck!” Parker yang baru saja kelelahan protes terhadap aksi monster jamur raksasa yang merepotkan tersebut.
Selanjutnya, pelindung yang berbentuk kubah Parker ciptakan yang seharusnya bisa melindungi mereka dari puluhan bebatuan dengan berat tidak kurang dari puluhan kilo yang menghujani mereka.
Sayangnya, Parker tidak bisa menahan pelindung tersebut lebih lama lagi.
Tapi, membuka pelindung dan membiarkan yang lain tertimpa bebatuan bukanlah pilihan yang bijak.
“AAARRGGHHHH!!!!!”
Perlahan, radius pelindung terpaksa Parker kurangi sehingga yang lain harus saling merapati diri untuk mendapatkan perlindungan. Pelindung harus terus dikurangi, bahkan hingga setengah tubuh Parker harus tergores bebatuan yang berjatuhan.
Seketika, Laju merasakan pikirannya tersengat oleh memori yang sempat Delphia berikan tentang masa depan. Tentang dirinya yang tertimbun banyak bebatuan di antara reruntuhan gedung.
Jadi apakah ini akhir hidupnya?
Hujan bebatuan seperti tidak akan berakhir, sementara pelindung yang bisa Parker berikan semakin menipis, semakin berkurang keefektifannya.
Laju melirik Parker yang masih berusaha melindungi teman-temannya.
Apa yang bisa Laju lakukan sekarang, selain berharap saja?
__ADS_1