Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 8


__ADS_3

Mimpinya buruk. Sangat buruk. Awalnya Laju berpikir begitu.


Lebih buruk dari mimpi buruknya kemarin, bahkan melebihi imajinasi dan


kemungkinan paling buruk yang bisa Laju pikirkan. Mimpi ini benar-benar sebuah proyeksi


dari setiap keraguan, kekhawatiran, dan ketakutan Laju. Semuanya menjadi satu.


Tapi kenapa dia mendapatakan mimpi seperti ini lagi? Apakah Delphia?


Apakah ada campur tangannya lagi yang membuat Laju terus mendapatkan mimpi


buruk? Terus menderita seperti ini? Tunggu. Kenapa Delphia lagi? Jelas-jelas


mereka tidak saling bersentuhan, kan? Atau bersentuhan? Ketika Laju memegang


dan mencengkeramnya? Tapi tidak ada perasaan dingin seperti malam kemarin.


Sudahlah. Lupakan Delphia. Dia bukan variabel yang penting.


Lagipula, mimpi-mimpi aneh ini bukannya datang pertama kali. Mereka juga


datang bukan tanpa alasan. Sepertinya ini memang sudah waktunya bagi Laju untuk


keluar dari zona nyaman, keluar dari kehidupan mudahnya.


Skenario ini terjadi di taman hiburan. Tempat yang membuat bulu kuduknya


berdiri setinggi yang bisa dia kira. Tempat yang membuatnya trauma.


Apakah karena roller coaster? Apakah karena rumah hantu? Atau karena


atraksi-atraksi lainnya? Tidak. Laju tidak ada masalah menikmati dan


menggunakan setiap atraksi yang hadir. Ketakutan yang Laju alami terdapat pada


lingkungannya, pada semua orang yang hadir di taman hiburan ini. Orang-orang


yang saling tertawa, yang menertawainya, mereka berjalan-jalan mengejarnya,


menghantuinya, menyudutkannya, dan menyalah-nyalahinya.


Permasalahannya adalah kemanapun Laju pergi, orang-orang ini selalu bisa


ditemukan untuk terus menertawainya, menyalahkannya. Seakan-akan mereka memang


ada dimana-mana, mengelilingi kehidupan Laju. Bahkan ketika Laju bersembunyi


pun suara-suara mereka tetap bisa terdengar, menyentil dan mengganggu mental


Laju.


“J-Jangan! Jangan! Apapun selain taman hiburan! Ini menyesakan! Ini


keterlaluan!” Seru Laju dengan suara seraknya, dalam penderitaanya.


Dimana pintu keluarnya? Laju ingin segera pergi dari penderitaan yang


menyiksa ini, yang menyengat gendang telinganya, yang menyakiti mental dan


jiwanya. Tetapi, dunia ini seakan-akan berbentuk bulat dan tidak memiliki ujung.


Tidak ada pintu masuk maupun pintu keluar. Kemanapun Laju pergi, dia selalu saja


berakhir di titik yang sama, lagi, dan lagi. Berputar-putar, seperti


suara-suara orang-orang itu, yang tidak bisa keluar dari pikirannya, berputar menghantuinya.


Dia sudah lelah berlari. Sudah penat, sudah kehabisan napas. Semuanya


seakan-akan semakin berat. Berat berlari, berat menghadapi. Perlahan, Laju


ditarik ke dalam tanah. Ke dalam neraka, ke dalam kehampaan. Ulah siapa?


Ketakutannya tentu saja. Sesuatu yang tidak berbentuk dan tidak memiliki rupa.


Kecuali suara-suara orang, yang terus hadir menghancurkan gendang telinganya,


juga jiwanya.


“Laju. Laju…!? Laju? Laju!!!” Tiba-tiba Laju mendengar namanya


dipanggil, terpanggil, oleh suara yang tidak dikenalinya. Siapa yang


memanggilnya? Bisa jadi semua orang, bisa jadi bukan siapapun. Laju lelah. Menguras


tenaga mentalnya, maupun fisiknya. Dia yang sudah menjatuhkan badannya ke


lantai, sedikit enggan untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dia tidak begitu


peduli.


Ternyata, memang benar tidak ada yang memanggilnya. Kecuali, kedua orang


tuanya yang sedang tersenyum lepas dengan puas. Begitu juga orang-orang lain


yang tidak lagi menyalahi Laju, tidak peduli lagi, kecuali pada kebahagiaan


mereka masing-masing.


Panggilan-panggilan tadi ternyata ditujukan untuk Laju yang lain. Seseorang


yang menyerupainya, seseorang yang bukan dirinya. “Siapa dia?” Laju bertanya, seraya


melihat seseorang yang seperti dirinya, sedang memainkan peran di dalam


skenario yang bahkan Laju asli sendiri pun tidak sanggup untuk mengimajinasikannya.


Laju palsu ini, sedang bahagia, sedang tersenyum, berhasil berbaikan


dengan masa lalu, berhasil melangkah menghadapi masa depannya. Laju palsu ini


juga berhasil masuk akademi, ketika keluarganya kembali normal, ketika dia akhirnya


berhasil menggapai mimpinya, mencapai puncak tertinggi titik kebahagiaan yang


bisa dipikirkan olehnya.


“Selamat ya, Ju. Kamu berhasil masuk ke akademi!”


“Akhirnya kita semua bisa kembali normal, ya!”


“Kami bangga padamu, Ju!”


“Anak kami memang tidak ada tandingannya!”


Kali ini, pujian-pujian tersebut benar-benar terdengar sangat tulus, sangat


polos, juga sangat murni. Tidak ada tekanan, tidak ada hal apapun yang bisa


memalsukan rasa bangga mereka. Keluarga tersebut tertawa pulas, terlihat


seperti keluarga normal pada umumnya


“Oh iya, ibu ada berita yang cukup mengejutkan, loh!”


“Eh? Apa, bu?”


“Ayo tebak. Apakah ada yang berubah dari penampilan ibu?”


“… Apa ya?”


“Perut! Coba deh pegang.”


“Eh!?”


“Ibu hamil!”


“Laju punya adik!?”


“Laju akan jadi kakak!”


“Laju jadi kakak?”


“Laju jadi kakak!”


Sementara itu, Laju yang asli hanya bisa bersembunyi. Sedang berdiam


diri menatap dari kejauhan. Menggigit bibirnya, menunduk, menangisi kepalsuan


yang indah ini. Hanya bisa berharap bahwa inilah masa depan yang sudah


menunggunya. Untuk sesaat, Laju melupakan semua derita dialaminya barusan,


tentang suara-suara yang menjengkelkan.


Ternyata, mimpi ini bukan mimpi buruk seperti yang dia kira. Ini


merupakan sebuah pengingat untuknya mengapa selama ini dia harus berusaha


mati-matian untuk selalu menjadi superstar, untuk menjadi nomor satu.


Laju tidak mengira, bahwa kebiasaannya di depan


cermin ini malah menjadi mimpi seindah ini. Apakah hati kecilnya ingin


mengatakan sesuatu? Bahwa ini semua memang betul akan terjadi? Ataukah ini


hanya teriakan keputusasaannya akibat kebohongan semalam?


Sembari memikirkan hal berat tersebut, air mata Laju nampaknya masih asyik


mengalir. Masih menangis, menangisi air mata kebahagiaan.


Dia benar-benar iri terhadap Laju palsu tersebut yang bisa kembali


senyum pulas dan kembali menjadi keluarga normal.


Dia ingin hidup normal dan menjadi anak normal pada umumnya.


***

__ADS_1


Laju bangun dengan air mata yang sudah menghilang dan menguap, bersamaan


dengan mimpinya semalam. Membekas di antara pipinya, juga pikirannya. Jadi


apakah mimpi itu adalah mimpi yang buruk? Atau sebaliknya? Perasaan Laju


berkecamuk memilihnya. Ada rasa senang, bahagia, antusias, tapi juga khawatir


dan takut karenanya. Dia teringat suatu hal. Tentang kebohongannya semalam –


yang harus dilakukannya karena dia dicurangi, yang akan merepotkan hidupnya


kedepannya.


Dan salah satu bukti nyatanya, adalah pagi  hari ini.


Laju harus repot berpikir yang tidak-tidak, merusak lagi pagi indahnya.


Sepertinya, sudah tidak ada lagi hari yang sempurna untuknya. Atau


itulah yang Laju pikirkan. Apakah akan ada lagi pagi yang lebih buruk, dan


semakin buruk? Dia berhenti berpikir. Tidak ingin berpikir, tidak ingin


membayangkan.


Laju bangkit dari tempat tidurnya. Melangkah perlahan untuk memulai hari


dengan enggan. Dia kebingungan bagaimana harus menghadapi kedua orang tuanya, juga


masa depannya. Dia mengeluh. Ini keluhannya yang cukup banyak dalam sejarah.


Akhir-akhir ini hidup memang sangat menyebalkan.


Tapi Laju tidak bisa diam saja menunggu takdir yang terlebih dahulu


berubah. Dialah yang harus merubah takdir. Dia harus melangkah, menghadapi


masalahnya. Tidak mungkin dia terus berlari dan kabur dari setiap masalah yang


ada.


Masa depannya telah menunggu.


Satu hal yang pasti, setiap kemungkinan terburuk pasti akan datang tanpa


bisa diperkirakan. Laju memang selalu mengalami hari yang mudah. Tapi mungkin


ini sudah waktunya untuk berpisah. Dia harus mulai mengantisipasi hari-hari


yang justru akan sangat sulit dan tidak bisa diprediksi. Laju sebenarnya sudah


mengira setiap hal yang buruk yang akan datang kepadanya. Tapi Laju tidak


mengira, bahwa dia belum siap secara mental untuk menghadapinya secara


langsung.


Laju sekarang sudah keluar dari kamar dan siap untuk menghadapi hari


yang diperkirakan akan sulit untuk dihadapi. Salah satunya adalah bagaimana


ayahnya yang sekarang sudah berada di ruang tamu. Dikelilingi beberapa pelayan dengan


setelan rapi, sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja, meninggalkannya lagi.


Secepat ini kah?


“Laju? Kamu sudah bangun?” Tanyanya, sambil menutup bagian bawah telepon


genggamnya. Ayahnya sedang menelpon rupanya. Laju diam. Ayahnya memang selalu


menjadi orang paling sibuk.


Laju merasakan lagi perasaan yang menyakitkan ini.


Kehilangan? Kekecewaan? Dia kebingungan. Tapi mungkin ini hanya rasa


rindu.


Laju hanya bisa mengigit bibir dan kembali senyum tipis. Senyum


andalannya, senyum palsunya.


“Ya. Ayah pergi sepagi ini?” Laju balik bertanya.


Dia hanya berharap skenario kemarin bukan hanya khayalan dan


halusinasinya, melainkan realitas lain yang Laju harapkan benar-benar akan terjadi


kepadanya. Setidaknya, bisakah berikan saja Laju sebuah skenario palsu lainnya


tentang pagi ini untuk membuat suasana hatinya sedikit lebih baik? Untuk


mengobati rasa pedih yang dialaminya ini?


Tapi dia tidak bisa mengontrol pikirannya untuk memunculkan skenario seenaknya.


sendirian lagi. Tapi Laju tidak bisa protes. Lagipula, ada sedikit kelegaan


ketika dia ditinggal oleh orang tuanya lagi. Dia bisa kembali mengurusi surat


akademi yang dicuri darinya.


Laju harus bisa menangkap dan memburu penculik itu.


“Ya. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kebetulan memang kemarin


ayah mendapatkan kompensasi sehingga bisa cepat selesai dan kebetulan bisa


pulang mampir,” ayahnya bangkit dan perlahan mendekati Laju yang sedang membatu.


“Ayah harus pergi lagi dan mungkin hanya bisa kembali untuk pertemuan orang tua


yang disebutkan orang-orang dari akademi,” lanjutnya sambil mulai menepuk


pundak Laju.


Apa yang terjadi? Apakah skenario palsu itu mulai berbayang-bayang lagi


di kepalanya? Apakah dia harus segera bangun dari halusinasnya?


Nyatanya tidak. Ayahnya memang sedang mendekatinya dan memberikan afeksi


berupa tepukan pada pundak Laju. Sebenarnya Laju sangat senang bahwa hal ini


bisa terjadi padanya, bukan hanya halusinasinya saja. Bahwa ayahnya memang


memberikan rasa sayang yang nyata kepadanya. Tapi Laju tetap tidak bisa


merespon, selain membatu karena terlampau kaget.


Hal ini diluar ekspetasinya.


“Kamu sudah besar juga, ya. Ayah lupa semenjak terakhir kali kita


bertemu. Coba lihat, anak ayah sudah setinggi ini? Sebahu? Ayah terkejut,” ucapnya


sambil menepuk pundak Laju, yang juga disisipi canda tawa. Meskipun sederhana,


tindakan ayahnya sangat merubah hidup Laju.


Paginya, pagi ini, Laju mengalami hari yang sangat indah, sangat luar


biasa.


“Yasudah. Ayah pergi dulu. Nanti kirimi saja tanggal pertemuan orang tua


di akademi kalau sudah ada kabar terbaru. Pasti ayah datang!” Seru ayahnya


sembari mengajak Laju pergi ke teras rumah. Disusul dengan ayahnya yang


perlahan memasuki mobil, meninggalkannya, dan pergi begitu saja.


Laju masih terdiam. Beruntung, dia masih bisa melambaikan setengah


tangannya pada ayahnya yang perlahan menghilang.


Meskipun paginya kali ini mendapatkan sedikit keberkahan, dia masih


belum bisa memprosesnya dengan baik. Seiring mobil ayahnya yang pergi


meninggalkan halaman, kesadaran Laju pun perlahan kembali mengisi tubuhnya yang


masih membatu. “Jadi…, bagaimana? Itu saja?” tanyanya bukan pada siapapun.


“Semuanya harus beputar kembali, kan? Kenapa? Apakah kamu gelisah, Ju?”


Tanya suara wanita yang dikenalinya dari belakang.


Itu Ibunya, yang sedang melambai pada mobil yang sudah tidak terlihat.


Jadi, daritadi ibunya berada di sampingnya dan melihat semuanya? Sebenarnya itu


bukan hal yang aneh di dalam keluarga. Tapi, rasanya canggung mengetahui ibunya


mengamati semua kejadian itu.


Laju menoleh kepada ibunya. Tangannya gemetar lagi. Dia masih ingat skenario


palsu kemarin tentang ibunya. Apa alasan yang mendasari datangnya skenario itu?


Tentu saja itu bukan hal yang diinginkan Laju, kan? Apakah itu mimpi buruk dari


masa lalunya?


Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah pikirannya sedang bermain dengannya?


Laju sedikit bingung bagaimana memilih-milih memori yang harus dia percayai.


Tapi apakah ada manfaatnya? Laju perlahan mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Laju menutup matanya dan kembali menghembuskan napas. Dia lihat kembali halaman


rumah kosongnya, sambil menenangkan hatinya. “Semuanya baik-baik saja,” ucapnya


dalam hati.


“Jadi kalian akan pergi lagi, ya?” Tanya Laju.


“Maaf, ya. Kita masih harus mengurusi banyak hal di kantor yang tidak


bisa ditinggalkan begitu saja,” ucap ibunya, sambil mengelus pundak Laju. “Tapi


tenang saja, kamu harus tahu bahwa kita sangat bangga dan sayang kepadamu, Ju.


Kita juga melakukan ini demi kamu, kok!”


Serupa seperti pujian para guru dan orang-orang, Laju tidak merespon.


Pujian itu tidak berarti apa-apa padanya.


“Ibu bisa janji bahwa semuanya pasti akan kembali normal. Kita semua


pasti akan menghadapi masa lalu bersama-sama, sebagai keluarga! Ibu juga masih


sering dihantui rasa bersalah sejak hari-hari yang hancur itu. Siapa yang


tidak? Minta maaf pun tidak akan berarti apa-apa, kan? Oleh karena itu kita


memang harus menghadapinya bersama, di tempat baru, memulai semuanya kembali,


kembali menjadi normal.” Seru sang ibunda dengan senyum, dengan tangan yang


dielus, juga cengkraman yang perlahan menguat.


Laju menyadarinya. Apakah ibunya gemetar juga? Ada apa dengan kekuatan


yang ibunya berikan ini? Apakah ini artinya ibunya juga merasa bersalah? Atau


justru dia tidak peduli dan tetap ingin menekan Laju? Ini tidak sakit. Dia


tidak peduli dengan fisik yang dicengkram oleh ibunya.


Ini serangan batin, juga serangan mental.


Apa yang ibunya berusaha sampaikan dengan tangannya yang mencengkeram


Laju? Tapi setelah pertemuannya dengan Delphia, Laju belajar untuk tidak


terlalu mengurusi hal tidak penting yang menguras waktunya. Dia mengacuhkan


cengkraman ibunya dan kembali menatap kosong halaman rumahnya.


“Iya. Laju juga tidak sabar untuk itu,” jawab Laju pada pernyataan


ibunya.


Sebenanarnya, dengan pernyataan ibunya yang dijanjikan ini, Laju merasa


senang dan bahagia. Bahwa masa depannya yang cerah dan normal sudah


menunggunya, sudah membukakan gerbang untuknya. Mimpinya sudah berada di depan


mata.


Permasalahannya adalah musuh yang tidak terlihatnya ini. Musuh yang


tidak bisa diidentifikasikan, yang sudah mencuri surat undangan akademi. Kalau


saja dia tidak mengusik hidupnya, Laju sudah bisa tersenyum bahagia menatap


hari ini, melangkah dengan sigap kepada hari esok.


Rasa bahagianya pupus seketika, digantikan oleh rasa khawatir, dan


gelisah yang berlebihan. Beruntung, ibunya sudah pergi dan meninggalkannya di


ruang tengah sendirian. Laju bisa duduk dengan tenang, untuk memikirkan masalah-masalah


yang merepotkan ini.


Pilihan apa yang dia miliki?


Sebenarnya Delphia masih mengusik pikirannya karena ada banyak informasi


yang harusnya bisa dia berikan kepada Laju. Tapi, sudahlah… Dia tidak penting.


Tidak perlu mengurusinya lagi – Laju berusaha meyakinkan diri.


Permasalahan penting sekarang adalah bagaimana dia harus bisa


mendapatkan kembali surat undangan agar bisa diterima secara resmi menjadi


murid akademi. Terutama, untuk mendapatkan kabar tentang pertemuan orang tua


yang dipertanyakan oleh ayahnya.


Dia tahu Adrian bekerja dengan pasar gelap yang illegal. Apakah dia bisa membantunya? Apakah ada kenalan Adrian


yang akan membantunya dengan bayaran sebesar apapun? Laju bisa saja


menggunakannya jika memang orang tersebut ada dan bisa membantunya. Tapi tentu


saja itu artinya dia akan berurusan dengan hal yang illegal.


Itu akan merusak reputasinya.


Apalagi, jika aktivitas illegal-nya


dibongkar. Sebenarnya polisi masih bisa diurusi. Permasalahannya adalah ayahnya


yang tentu akan sangat kecewa. Itu tidak akan membuatnya senang, bahkan bisa


saja aku ditendangnya keluar dengan benar kali ini.


Tidak. Adrian adalah pilihan terakhir.


Tidak bisakah dia tuntut saja pihak sekolah dan melaporkan kepada


ayahnya? Tidak mungkin. Jangankan membantu. Dia tidak akan peduli pada aspek


penuntuttan pihak sekolah. Fokusnya hanya akan pada Laju yang telah gagal.


Lagipula, bisa jadi Laju lah yang memang salah, dan hanya merepotkan ayahnya


saja. Laju tidak kuat membayangkan ekspresi super kecewa ayahnya jika itu


memang benar terjadi.


Laju harus menyelesaikan ini semua sendiri. Laju bisa saja tetap menuntut.


Tapi dia membutuhkan bukti. Atau Laju pergi saja langsung ke akademi untuk


meminta keterangan dan kejelasan? Mungkin bisa juga meminta tes ulangan untuk


memberikan konfirmasi tentang kecurangan yang dituduhkan oleh mereka.


Tapi, kepala sekolah bilang tidak ada gunanya pergi ke akademi secara


langsung. Huh? Kenapa tidak ada gunanya? Tunggu. Apakah kepala sekolah bisa


dipercaya? Bisa jadi semua yang dia bilang merupakan kebohongan.


Bahkan, mungkin dia sendiri lah yang merekayasa kecurangan ini.


Meskipun begitu, dia tidak memiliki bukti untuk menyerang kepala


sekolah. Jadi, lupakan saja semua eksistensinya dan tidak perlu repot


mengurusinya. Tapi apakah pergi ke akademi secara langsung merupakan suatu


kemungkinan?


Kenapa tidak? Dia tidak begitu tahu kondisi yang terjadi di akademi,


kan? Mungkin berjalan-jalan sebentar akan menjawab keresahannya.


Lagipula, sekali lagi, ini pasti akan menjadi kunjungan yang cepat.


Trik-trik yang Laju kuasai pasti akan membantunya mendapatkan informasi.


Berharap saja tidak ada orang seperti Delphia yang akan merepotkannya.


Kriing.


Dan ternyata, sebelum Laju sendiri yang mencari, solusi dan jawaban


sendiri lah yang datang kepadanya. Tidakkah hidup terlalu mudah untuknya? Laju


kembali besar kepala.


Telepon datang dari Pak Ahmad. Laju senang untuk beberapa saat. Ada


jawaban untuk permasalahan undangan akademi. Tapi dia memutar lagi otaknya.


Apakah Pak Ahmad benar-benar mempunyai jawaban? Apakah dia jawab saja telepon


ini? Bagaimana jika dia dicurangi lagi? Sebenarnya, Pak Ahmad tidak Laju kenali


sebagai musuhnya. Dia memiliki reputasi yang baik di pikiran Laju. Mungkin


tidak ada salahnya membuat masalah menjadi lebih mudah, kan? Boleh jadi terdapat


jawaban yang lebih optimal dan efektif yang ditawarkan oleh Pak Ahmad.


Atau itulah harapan Laju.


Semoga guru-guru dan orang-orang dewasa di sekolahan tidak lagi


menyuranginya.


Dia hanya bersyukur, dia bisa kembali berpikir dengan tenang, dengan

__ADS_1


dingin, dan mengoptimalkan setiap informasi untuk solusi permasalahan hidupnya.


__ADS_2