
Mimpinya buruk. Sangat buruk. Awalnya Laju berpikir begitu.
Lebih buruk dari mimpi buruknya kemarin, bahkan melebihi imajinasi dan
kemungkinan paling buruk yang bisa Laju pikirkan. Mimpi ini benar-benar sebuah proyeksi
dari setiap keraguan, kekhawatiran, dan ketakutan Laju. Semuanya menjadi satu.
Tapi kenapa dia mendapatakan mimpi seperti ini lagi? Apakah Delphia?
Apakah ada campur tangannya lagi yang membuat Laju terus mendapatkan mimpi
buruk? Terus menderita seperti ini? Tunggu. Kenapa Delphia lagi? Jelas-jelas
mereka tidak saling bersentuhan, kan? Atau bersentuhan? Ketika Laju memegang
dan mencengkeramnya? Tapi tidak ada perasaan dingin seperti malam kemarin.
Sudahlah. Lupakan Delphia. Dia bukan variabel yang penting.
Lagipula, mimpi-mimpi aneh ini bukannya datang pertama kali. Mereka juga
datang bukan tanpa alasan. Sepertinya ini memang sudah waktunya bagi Laju untuk
keluar dari zona nyaman, keluar dari kehidupan mudahnya.
Skenario ini terjadi di taman hiburan. Tempat yang membuat bulu kuduknya
berdiri setinggi yang bisa dia kira. Tempat yang membuatnya trauma.
Apakah karena roller coaster? Apakah karena rumah hantu? Atau karena
atraksi-atraksi lainnya? Tidak. Laju tidak ada masalah menikmati dan
menggunakan setiap atraksi yang hadir. Ketakutan yang Laju alami terdapat pada
lingkungannya, pada semua orang yang hadir di taman hiburan ini. Orang-orang
yang saling tertawa, yang menertawainya, mereka berjalan-jalan mengejarnya,
menghantuinya, menyudutkannya, dan menyalah-nyalahinya.
Permasalahannya adalah kemanapun Laju pergi, orang-orang ini selalu bisa
ditemukan untuk terus menertawainya, menyalahkannya. Seakan-akan mereka memang
ada dimana-mana, mengelilingi kehidupan Laju. Bahkan ketika Laju bersembunyi
pun suara-suara mereka tetap bisa terdengar, menyentil dan mengganggu mental
Laju.
“J-Jangan! Jangan! Apapun selain taman hiburan! Ini menyesakan! Ini
keterlaluan!” Seru Laju dengan suara seraknya, dalam penderitaanya.
Dimana pintu keluarnya? Laju ingin segera pergi dari penderitaan yang
menyiksa ini, yang menyengat gendang telinganya, yang menyakiti mental dan
jiwanya. Tetapi, dunia ini seakan-akan berbentuk bulat dan tidak memiliki ujung.
Tidak ada pintu masuk maupun pintu keluar. Kemanapun Laju pergi, dia selalu saja
berakhir di titik yang sama, lagi, dan lagi. Berputar-putar, seperti
suara-suara orang-orang itu, yang tidak bisa keluar dari pikirannya, berputar menghantuinya.
Dia sudah lelah berlari. Sudah penat, sudah kehabisan napas. Semuanya
seakan-akan semakin berat. Berat berlari, berat menghadapi. Perlahan, Laju
ditarik ke dalam tanah. Ke dalam neraka, ke dalam kehampaan. Ulah siapa?
Ketakutannya tentu saja. Sesuatu yang tidak berbentuk dan tidak memiliki rupa.
Kecuali suara-suara orang, yang terus hadir menghancurkan gendang telinganya,
juga jiwanya.
“Laju. Laju…!? Laju? Laju!!!” Tiba-tiba Laju mendengar namanya
dipanggil, terpanggil, oleh suara yang tidak dikenalinya. Siapa yang
memanggilnya? Bisa jadi semua orang, bisa jadi bukan siapapun. Laju lelah. Menguras
tenaga mentalnya, maupun fisiknya. Dia yang sudah menjatuhkan badannya ke
lantai, sedikit enggan untuk melihat siapa yang memanggilnya. Dia tidak begitu
peduli.
Ternyata, memang benar tidak ada yang memanggilnya. Kecuali, kedua orang
tuanya yang sedang tersenyum lepas dengan puas. Begitu juga orang-orang lain
yang tidak lagi menyalahi Laju, tidak peduli lagi, kecuali pada kebahagiaan
mereka masing-masing.
Panggilan-panggilan tadi ternyata ditujukan untuk Laju yang lain. Seseorang
yang menyerupainya, seseorang yang bukan dirinya. “Siapa dia?” Laju bertanya, seraya
melihat seseorang yang seperti dirinya, sedang memainkan peran di dalam
skenario yang bahkan Laju asli sendiri pun tidak sanggup untuk mengimajinasikannya.
Laju palsu ini, sedang bahagia, sedang tersenyum, berhasil berbaikan
dengan masa lalu, berhasil melangkah menghadapi masa depannya. Laju palsu ini
juga berhasil masuk akademi, ketika keluarganya kembali normal, ketika dia akhirnya
berhasil menggapai mimpinya, mencapai puncak tertinggi titik kebahagiaan yang
bisa dipikirkan olehnya.
“Selamat ya, Ju. Kamu berhasil masuk ke akademi!”
“Akhirnya kita semua bisa kembali normal, ya!”
“Kami bangga padamu, Ju!”
“Anak kami memang tidak ada tandingannya!”
Kali ini, pujian-pujian tersebut benar-benar terdengar sangat tulus, sangat
polos, juga sangat murni. Tidak ada tekanan, tidak ada hal apapun yang bisa
memalsukan rasa bangga mereka. Keluarga tersebut tertawa pulas, terlihat
seperti keluarga normal pada umumnya
“Oh iya, ibu ada berita yang cukup mengejutkan, loh!”
“Eh? Apa, bu?”
“Ayo tebak. Apakah ada yang berubah dari penampilan ibu?”
“… Apa ya?”
“Perut! Coba deh pegang.”
“Eh!?”
“Ibu hamil!”
“Laju punya adik!?”
“Laju akan jadi kakak!”
“Laju jadi kakak?”
“Laju jadi kakak!”
Sementara itu, Laju yang asli hanya bisa bersembunyi. Sedang berdiam
diri menatap dari kejauhan. Menggigit bibirnya, menunduk, menangisi kepalsuan
yang indah ini. Hanya bisa berharap bahwa inilah masa depan yang sudah
menunggunya. Untuk sesaat, Laju melupakan semua derita dialaminya barusan,
tentang suara-suara yang menjengkelkan.
Ternyata, mimpi ini bukan mimpi buruk seperti yang dia kira. Ini
merupakan sebuah pengingat untuknya mengapa selama ini dia harus berusaha
mati-matian untuk selalu menjadi superstar, untuk menjadi nomor satu.
Laju tidak mengira, bahwa kebiasaannya di depan
cermin ini malah menjadi mimpi seindah ini. Apakah hati kecilnya ingin
mengatakan sesuatu? Bahwa ini semua memang betul akan terjadi? Ataukah ini
hanya teriakan keputusasaannya akibat kebohongan semalam?
Sembari memikirkan hal berat tersebut, air mata Laju nampaknya masih asyik
mengalir. Masih menangis, menangisi air mata kebahagiaan.
Dia benar-benar iri terhadap Laju palsu tersebut yang bisa kembali
senyum pulas dan kembali menjadi keluarga normal.
Dia ingin hidup normal dan menjadi anak normal pada umumnya.
***
__ADS_1
Laju bangun dengan air mata yang sudah menghilang dan menguap, bersamaan
dengan mimpinya semalam. Membekas di antara pipinya, juga pikirannya. Jadi
apakah mimpi itu adalah mimpi yang buruk? Atau sebaliknya? Perasaan Laju
berkecamuk memilihnya. Ada rasa senang, bahagia, antusias, tapi juga khawatir
dan takut karenanya. Dia teringat suatu hal. Tentang kebohongannya semalam –
yang harus dilakukannya karena dia dicurangi, yang akan merepotkan hidupnya
kedepannya.
Dan salah satu bukti nyatanya, adalah pagi hari ini.
Laju harus repot berpikir yang tidak-tidak, merusak lagi pagi indahnya.
Sepertinya, sudah tidak ada lagi hari yang sempurna untuknya. Atau
itulah yang Laju pikirkan. Apakah akan ada lagi pagi yang lebih buruk, dan
semakin buruk? Dia berhenti berpikir. Tidak ingin berpikir, tidak ingin
membayangkan.
Laju bangkit dari tempat tidurnya. Melangkah perlahan untuk memulai hari
dengan enggan. Dia kebingungan bagaimana harus menghadapi kedua orang tuanya, juga
masa depannya. Dia mengeluh. Ini keluhannya yang cukup banyak dalam sejarah.
Akhir-akhir ini hidup memang sangat menyebalkan.
Tapi Laju tidak bisa diam saja menunggu takdir yang terlebih dahulu
berubah. Dialah yang harus merubah takdir. Dia harus melangkah, menghadapi
masalahnya. Tidak mungkin dia terus berlari dan kabur dari setiap masalah yang
ada.
Masa depannya telah menunggu.
Satu hal yang pasti, setiap kemungkinan terburuk pasti akan datang tanpa
bisa diperkirakan. Laju memang selalu mengalami hari yang mudah. Tapi mungkin
ini sudah waktunya untuk berpisah. Dia harus mulai mengantisipasi hari-hari
yang justru akan sangat sulit dan tidak bisa diprediksi. Laju sebenarnya sudah
mengira setiap hal yang buruk yang akan datang kepadanya. Tapi Laju tidak
mengira, bahwa dia belum siap secara mental untuk menghadapinya secara
langsung.
Laju sekarang sudah keluar dari kamar dan siap untuk menghadapi hari
yang diperkirakan akan sulit untuk dihadapi. Salah satunya adalah bagaimana
ayahnya yang sekarang sudah berada di ruang tamu. Dikelilingi beberapa pelayan dengan
setelan rapi, sedang bersiap-siap untuk pergi bekerja, meninggalkannya lagi.
Secepat ini kah?
“Laju? Kamu sudah bangun?” Tanyanya, sambil menutup bagian bawah telepon
genggamnya. Ayahnya sedang menelpon rupanya. Laju diam. Ayahnya memang selalu
menjadi orang paling sibuk.
Laju merasakan lagi perasaan yang menyakitkan ini.
Kehilangan? Kekecewaan? Dia kebingungan. Tapi mungkin ini hanya rasa
rindu.
Laju hanya bisa mengigit bibir dan kembali senyum tipis. Senyum
andalannya, senyum palsunya.
“Ya. Ayah pergi sepagi ini?” Laju balik bertanya.
Dia hanya berharap skenario kemarin bukan hanya khayalan dan
halusinasinya, melainkan realitas lain yang Laju harapkan benar-benar akan terjadi
kepadanya. Setidaknya, bisakah berikan saja Laju sebuah skenario palsu lainnya
tentang pagi ini untuk membuat suasana hatinya sedikit lebih baik? Untuk
mengobati rasa pedih yang dialaminya ini?
Tapi dia tidak bisa mengontrol pikirannya untuk memunculkan skenario seenaknya.
sendirian lagi. Tapi Laju tidak bisa protes. Lagipula, ada sedikit kelegaan
ketika dia ditinggal oleh orang tuanya lagi. Dia bisa kembali mengurusi surat
akademi yang dicuri darinya.
Laju harus bisa menangkap dan memburu penculik itu.
“Ya. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kebetulan memang kemarin
ayah mendapatkan kompensasi sehingga bisa cepat selesai dan kebetulan bisa
pulang mampir,” ayahnya bangkit dan perlahan mendekati Laju yang sedang membatu.
“Ayah harus pergi lagi dan mungkin hanya bisa kembali untuk pertemuan orang tua
yang disebutkan orang-orang dari akademi,” lanjutnya sambil mulai menepuk
pundak Laju.
Apa yang terjadi? Apakah skenario palsu itu mulai berbayang-bayang lagi
di kepalanya? Apakah dia harus segera bangun dari halusinasnya?
Nyatanya tidak. Ayahnya memang sedang mendekatinya dan memberikan afeksi
berupa tepukan pada pundak Laju. Sebenarnya Laju sangat senang bahwa hal ini
bisa terjadi padanya, bukan hanya halusinasinya saja. Bahwa ayahnya memang
memberikan rasa sayang yang nyata kepadanya. Tapi Laju tetap tidak bisa
merespon, selain membatu karena terlampau kaget.
Hal ini diluar ekspetasinya.
“Kamu sudah besar juga, ya. Ayah lupa semenjak terakhir kali kita
bertemu. Coba lihat, anak ayah sudah setinggi ini? Sebahu? Ayah terkejut,” ucapnya
sambil menepuk pundak Laju, yang juga disisipi canda tawa. Meskipun sederhana,
tindakan ayahnya sangat merubah hidup Laju.
Paginya, pagi ini, Laju mengalami hari yang sangat indah, sangat luar
biasa.
“Yasudah. Ayah pergi dulu. Nanti kirimi saja tanggal pertemuan orang tua
di akademi kalau sudah ada kabar terbaru. Pasti ayah datang!” Seru ayahnya
sembari mengajak Laju pergi ke teras rumah. Disusul dengan ayahnya yang
perlahan memasuki mobil, meninggalkannya, dan pergi begitu saja.
Laju masih terdiam. Beruntung, dia masih bisa melambaikan setengah
tangannya pada ayahnya yang perlahan menghilang.
Meskipun paginya kali ini mendapatkan sedikit keberkahan, dia masih
belum bisa memprosesnya dengan baik. Seiring mobil ayahnya yang pergi
meninggalkan halaman, kesadaran Laju pun perlahan kembali mengisi tubuhnya yang
masih membatu. “Jadi…, bagaimana? Itu saja?” tanyanya bukan pada siapapun.
“Semuanya harus beputar kembali, kan? Kenapa? Apakah kamu gelisah, Ju?”
Tanya suara wanita yang dikenalinya dari belakang.
Itu Ibunya, yang sedang melambai pada mobil yang sudah tidak terlihat.
Jadi, daritadi ibunya berada di sampingnya dan melihat semuanya? Sebenarnya itu
bukan hal yang aneh di dalam keluarga. Tapi, rasanya canggung mengetahui ibunya
mengamati semua kejadian itu.
Laju menoleh kepada ibunya. Tangannya gemetar lagi. Dia masih ingat skenario
palsu kemarin tentang ibunya. Apa alasan yang mendasari datangnya skenario itu?
Tentu saja itu bukan hal yang diinginkan Laju, kan? Apakah itu mimpi buruk dari
masa lalunya?
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah pikirannya sedang bermain dengannya?
Laju sedikit bingung bagaimana memilih-milih memori yang harus dia percayai.
Tapi apakah ada manfaatnya? Laju perlahan mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Laju menutup matanya dan kembali menghembuskan napas. Dia lihat kembali halaman
rumah kosongnya, sambil menenangkan hatinya. “Semuanya baik-baik saja,” ucapnya
dalam hati.
“Jadi kalian akan pergi lagi, ya?” Tanya Laju.
“Maaf, ya. Kita masih harus mengurusi banyak hal di kantor yang tidak
bisa ditinggalkan begitu saja,” ucap ibunya, sambil mengelus pundak Laju. “Tapi
tenang saja, kamu harus tahu bahwa kita sangat bangga dan sayang kepadamu, Ju.
Kita juga melakukan ini demi kamu, kok!”
Serupa seperti pujian para guru dan orang-orang, Laju tidak merespon.
Pujian itu tidak berarti apa-apa padanya.
“Ibu bisa janji bahwa semuanya pasti akan kembali normal. Kita semua
pasti akan menghadapi masa lalu bersama-sama, sebagai keluarga! Ibu juga masih
sering dihantui rasa bersalah sejak hari-hari yang hancur itu. Siapa yang
tidak? Minta maaf pun tidak akan berarti apa-apa, kan? Oleh karena itu kita
memang harus menghadapinya bersama, di tempat baru, memulai semuanya kembali,
kembali menjadi normal.” Seru sang ibunda dengan senyum, dengan tangan yang
dielus, juga cengkraman yang perlahan menguat.
Laju menyadarinya. Apakah ibunya gemetar juga? Ada apa dengan kekuatan
yang ibunya berikan ini? Apakah ini artinya ibunya juga merasa bersalah? Atau
justru dia tidak peduli dan tetap ingin menekan Laju? Ini tidak sakit. Dia
tidak peduli dengan fisik yang dicengkram oleh ibunya.
Ini serangan batin, juga serangan mental.
Apa yang ibunya berusaha sampaikan dengan tangannya yang mencengkeram
Laju? Tapi setelah pertemuannya dengan Delphia, Laju belajar untuk tidak
terlalu mengurusi hal tidak penting yang menguras waktunya. Dia mengacuhkan
cengkraman ibunya dan kembali menatap kosong halaman rumahnya.
“Iya. Laju juga tidak sabar untuk itu,” jawab Laju pada pernyataan
ibunya.
Sebenanarnya, dengan pernyataan ibunya yang dijanjikan ini, Laju merasa
senang dan bahagia. Bahwa masa depannya yang cerah dan normal sudah
menunggunya, sudah membukakan gerbang untuknya. Mimpinya sudah berada di depan
mata.
Permasalahannya adalah musuh yang tidak terlihatnya ini. Musuh yang
tidak bisa diidentifikasikan, yang sudah mencuri surat undangan akademi. Kalau
saja dia tidak mengusik hidupnya, Laju sudah bisa tersenyum bahagia menatap
hari ini, melangkah dengan sigap kepada hari esok.
Rasa bahagianya pupus seketika, digantikan oleh rasa khawatir, dan
gelisah yang berlebihan. Beruntung, ibunya sudah pergi dan meninggalkannya di
ruang tengah sendirian. Laju bisa duduk dengan tenang, untuk memikirkan masalah-masalah
yang merepotkan ini.
Pilihan apa yang dia miliki?
Sebenarnya Delphia masih mengusik pikirannya karena ada banyak informasi
yang harusnya bisa dia berikan kepada Laju. Tapi, sudahlah… Dia tidak penting.
Tidak perlu mengurusinya lagi – Laju berusaha meyakinkan diri.
Permasalahan penting sekarang adalah bagaimana dia harus bisa
mendapatkan kembali surat undangan agar bisa diterima secara resmi menjadi
murid akademi. Terutama, untuk mendapatkan kabar tentang pertemuan orang tua
yang dipertanyakan oleh ayahnya.
Dia tahu Adrian bekerja dengan pasar gelap yang illegal. Apakah dia bisa membantunya? Apakah ada kenalan Adrian
yang akan membantunya dengan bayaran sebesar apapun? Laju bisa saja
menggunakannya jika memang orang tersebut ada dan bisa membantunya. Tapi tentu
saja itu artinya dia akan berurusan dengan hal yang illegal.
Itu akan merusak reputasinya.
Apalagi, jika aktivitas illegal-nya
dibongkar. Sebenarnya polisi masih bisa diurusi. Permasalahannya adalah ayahnya
yang tentu akan sangat kecewa. Itu tidak akan membuatnya senang, bahkan bisa
saja aku ditendangnya keluar dengan benar kali ini.
Tidak. Adrian adalah pilihan terakhir.
Tidak bisakah dia tuntut saja pihak sekolah dan melaporkan kepada
ayahnya? Tidak mungkin. Jangankan membantu. Dia tidak akan peduli pada aspek
penuntuttan pihak sekolah. Fokusnya hanya akan pada Laju yang telah gagal.
Lagipula, bisa jadi Laju lah yang memang salah, dan hanya merepotkan ayahnya
saja. Laju tidak kuat membayangkan ekspresi super kecewa ayahnya jika itu
memang benar terjadi.
Laju harus menyelesaikan ini semua sendiri. Laju bisa saja tetap menuntut.
Tapi dia membutuhkan bukti. Atau Laju pergi saja langsung ke akademi untuk
meminta keterangan dan kejelasan? Mungkin bisa juga meminta tes ulangan untuk
memberikan konfirmasi tentang kecurangan yang dituduhkan oleh mereka.
Tapi, kepala sekolah bilang tidak ada gunanya pergi ke akademi secara
langsung. Huh? Kenapa tidak ada gunanya? Tunggu. Apakah kepala sekolah bisa
dipercaya? Bisa jadi semua yang dia bilang merupakan kebohongan.
Bahkan, mungkin dia sendiri lah yang merekayasa kecurangan ini.
Meskipun begitu, dia tidak memiliki bukti untuk menyerang kepala
sekolah. Jadi, lupakan saja semua eksistensinya dan tidak perlu repot
mengurusinya. Tapi apakah pergi ke akademi secara langsung merupakan suatu
kemungkinan?
Kenapa tidak? Dia tidak begitu tahu kondisi yang terjadi di akademi,
kan? Mungkin berjalan-jalan sebentar akan menjawab keresahannya.
Lagipula, sekali lagi, ini pasti akan menjadi kunjungan yang cepat.
Trik-trik yang Laju kuasai pasti akan membantunya mendapatkan informasi.
Berharap saja tidak ada orang seperti Delphia yang akan merepotkannya.
Kriing.
Dan ternyata, sebelum Laju sendiri yang mencari, solusi dan jawaban
sendiri lah yang datang kepadanya. Tidakkah hidup terlalu mudah untuknya? Laju
kembali besar kepala.
Telepon datang dari Pak Ahmad. Laju senang untuk beberapa saat. Ada
jawaban untuk permasalahan undangan akademi. Tapi dia memutar lagi otaknya.
Apakah Pak Ahmad benar-benar mempunyai jawaban? Apakah dia jawab saja telepon
ini? Bagaimana jika dia dicurangi lagi? Sebenarnya, Pak Ahmad tidak Laju kenali
sebagai musuhnya. Dia memiliki reputasi yang baik di pikiran Laju. Mungkin
tidak ada salahnya membuat masalah menjadi lebih mudah, kan? Boleh jadi terdapat
jawaban yang lebih optimal dan efektif yang ditawarkan oleh Pak Ahmad.
Atau itulah harapan Laju.
Semoga guru-guru dan orang-orang dewasa di sekolahan tidak lagi
menyuranginya.
Dia hanya bersyukur, dia bisa kembali berpikir dengan tenang, dengan
__ADS_1
dingin, dan mengoptimalkan setiap informasi untuk solusi permasalahan hidupnya.