Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 11


__ADS_3

Sebelum hari semakin siang, Laju memutuskan untuk pergi ke gang kumuh


yang memiliki bau tidak masuk akal dan dipenuhi oleh gelandangan yang tidur


sembarangan.


Laju akan pergi ke tempat Bos Alex.


Dia berharap masih bisa bertemu Adrian untuk membantunya mempersiapkan


rencana terburuknya kalau dia tetap harus berurusan dengan dunia dan


perdagangan pasar gelap dan semua hal yang bersifat illegal.


Seperti biasa, ketika Laju datang orang-orang yang tinggal disini justru


ketakutan sendiri, takut Laju akan kembali menjadi normal dan ‘bermain-main’


bersama mereka dengan tidak menyenangkan. Namun, karena tujuan kepergian Laju


bukanlah menghabiskan waktu dengan mereka, Laju hanya berjalan saja melewati


orang-orang ini dengan tidak acuh.


Sekali lagi, para gelandangan ini bersyukur bahwa hari-hari mereka tidak


dipersulit. Mereka bisa tidur dengan nyenyak dan nyaman, tanpa khawatir harus


berurusan dengan usilan orang-orang yang tidak bisa dilawan.


Setelah Laju melewati pintu besi kedua, dia langsung berjalan pelan


menuju sebuah gedung yang terlihat ditinggalkan, mengetuk dengan melodi yang


sudah diingat di luar kepala dan bertemu lagi dengan pria kekar dengan kepala


botak mengkilat. “Selamat datang kembali, Laju!” Ucapnya dengan riang, membuat


suasana hati Laju sedikit membaik.


Memasuki rumah tersebut, Laju kembali merasakan suasana tempat yang


memang sangat menakutkan untuk didekati, sebagaimana para gelandangan yang


menjauhi kawasan ini. Tapi, karena Laju sudah terbiasa dan bahkan sering bermain


dengan mereka, hal ini bisa diatasi oleh Laju dengan mudah. Lagipula, sejak


awal Bos Alex memang bukanlah orang baik-baik. Bahkan Adrian, bawahannya pun


bekerja di pasar gelap, pekerjaan yang mengharuskannya bekerja pada bidang illegal.


Mungkin kemarin memang sedang sepi ditinggalkan orang-orang yang sedang


mengurusi pekerjaannya. Sekarang, sofa di ruang tengah dipenuhi orang-orang


yang tampaknya lebih mengerikan dari pria kekar asisten Bos Alex dengan kepala


botak licinnya yang selalu membukakan pintu untuk tamu.


Aktivitas yang mereka lakukan tidak pernah terlewati antara bermain


dengan pisau, berkelahi, dan aktivitas-aktivitas tidak normal dan tidak aman


lainnya. Pernah ada satu pikiran yang memelesat dalam pikiran Laju, mengapa dia


memutuskan untuk bergaul dengan mereka. Tapi, pada akhirnya dia tidak ingin


repot memikirkan itu. Urusan teman dan pergaulan ditentukan oleh hati kecilnya.


Hati kecilnya berkata, dia sudah merasa nyaman bermain dengan orang-orang ini.


Salah satunya dengan seorang pria besar dengan gigi yang tanggal, bekas


luka yang membekas menutupi separuh wajahnya, yang sedang memainkan pisau di


tangannya sembari menonton acara televisi yang membosankan. Perlahan, dia


menyadari kehadiran Laju dan menyerunya untuk menonton bersama.


“Yah, gimana sih? Ayo tonton ini lucu, loh!” ajaknya sekali lagi.


Laju hanya memberikan senyuman tipis andalannya kepada pria tersebut. Dia


tetap menolak ajakan untuk menonton acara yang tidak penting di televisi,


karena harus bertemu Adrian mengurusi masa depannya. Setelahnya, terdengar


suara yang kecewa dari mulut pria tersebut.


“Hahaha, yasudah. Tapi jangan lupa kita punya banyak janji bermain loh!


Seperti yang INI!” serunya dengan penekanan pada akhir kata, sambil melempar


pisau dengan sangat cepat ke arah Laju.


Laju hanya berdecak kecewa dengan permainan melempar pisau yang sudah


jadul ini. Jangankan bola basket yang memelesat cepat dari luar pengelihatan Laju,


sekarang benda ini – meskipun pisau, malah datang dari depannya yang bisa


dilihat Laju dengan mudah.


DUG!


Pisau yang dilempar menancap pintu depan.


“Atau mungkin berburu rusa, atau beruang! Kita masih banyak kegiatan


yang menarik, loh!” Ajak pria tersebut, menghiraukan asisten Bos Alex yang


memarahinya karena merusak properti lagi.


Laju tidak merespon kecuali senyuman lainnya. Setelahnya, dia pergi


berkeliling gedung mencari dimana gerangan Adrian berada.


Sampai pada akhirnya Laju kembali dengan rencana awal, untuk langsung


pergi ke ruangan Bos Alex di lantai dua, di akhir lorong, dengan gagang pintu


berwarna emas. Setelah mengetuk pintunya beberapa kali, Laju sempat khawatir


bahwa Bos Alex sedang pergi lagi seperti terakhir kali dia pergi berkunjung.


Tapi nyatanya tidak. “Silahkan,” seru seseorang dari dalam yang memperbolehkan


Laju untuk masuk.


Belum sudah Laju ingin bertanya dimana Adrian berada, jawabannya sudah


terlebih dahulu dijawab oleh kondisi ruangan yang sedang terlihat santai


meskipun tetap fokus dan produktif mengurusi banyak hal dan dokumen. Adrian ada


disana, mengurusi beberapa hal membantu Bos Alex.


“Oh, Laju. Ada perlu apa?” Tanya Bos Alex, disusul Adrian yang


menyerunya dengan lambaian tangan.


Laju tidak lagi memberikan senyum tipis, senyum yang palsu. Senyum ini


sekarang mewakili perasaanya yang benar-benar bahagia, bahwa rencananya bisa


dilaksanakan sesuai yang diharapkannya. Dan dengan begitu, Laju mulai


menjelaskan dan mempresentasikan rencana-rencananya, idenya, juga harapannya


kepada Adrian, juga Bos Alex.


Laju juga tidak lupa memberikan alasan dan cerita yang mengawali semua


rencana ini, tentang surat akademi, tentang masa depannya, tentang rencana


untuk mulai berurusan dengan hal yang illegal jika mendesak, meskipun tidak perlu menceritakan semuanya dengan rinci.


Memang, Laju kepada Bos Alex dan Adrian sudah saling percaya satu sama lain.


Tapi, Laju masih harus berhati-hati terhadap mereka.


Tentu saja karena mereka bukan orang baik-baik.


Mereka bekerja di dunia gelap, dunia yang sangat dibenci ayahnya.


Atau iya? Benarkah? Apakah ayahnya membencinya? Laju tidak tahu pasti.


Laju hanya bisa memperkirakan bahwa ayahnya akan kecewa jika mengetahui fakta


ini.


Laju tidak begitu tahu dan paham tentang ayahnya.


Laju tidak sempat memikirkannya.


“Hahahaha!” Tawa Bos Alex yang menggema ke seluruh gedung. Untuk anggota


yang sudah tinggal disini cukup lama, mereka cukup senang dengan tawa tersebut.


Itu artinya Bos Alex sedang memiliki suasana hati yang gembira.


Tapi hal ini tidak direspon oleh Laju sama positifnya seperti yang lain.


Baru saja Laju menjelaskan bagaimana persiapan dan informasi yang dia harus persiapkan


tentang kota terlarang, pekerjaan di pasar gelap Adrian, dan serba serbi hal illegal yang diurusi jika ingin


mendapatkan kembali surat undangan akademi. Bos Alex malah tertawa lepas


menganggap itu hanya lelucon belaka.


“Kamu ingin pergi ke dunia gelap ini hanya karena urusan sekolah?


Seberapa putus asanya kamu Laju? Hahaha! Apakah kamu sehat, Laju? Bocah gila


sepertimu? Putus asa terhadap urusan sekolah? Ini lelucon paling lucu yang aku


dengarkan! Iya kan, Adrian? Hahahaha!” Tambah Bos Alex lagi, yang terus mengomentari


dan menertawai ide-ide Laju.


Adrian tertawa kecil meladeni Bos Alex. Dia menjawab Laju dengan sepenuh


hati tentang bagaimana harus mengawasi diri, menjaga diri, mngetahui banyak


hal-hal yang harus dihindari, juga yang dilakukan jika mulai ingin berurusan


dengan hal-hal yang illegal. Satu hal


yang pasti, kamu harus menyiapkan mental untuk selalu berbohong dan berurusan


dengan polisi.


Laju meneguk ludah mendengar banyak saran dari Adrian, selaku orang yang


bekerja di bidang yang sedang ditanyai oleh Laju.


Meskipun memang dia sudah mengira satu dua hal yang akan dikatakan oleh


Adrian mengenai seberapa bahayanya dunia gelap. Mendengarnya langsung dari


mulut orang yang memang bekerja di bidang tersebut memberikan kesan tersendiri


baginya.


Satu hal yang membuat Laju berdecak kagum adalah bagaimana di antara


orang-orang yang suka usil, selalu bekerja mempertaruhkan kematian, yang jahat,


yang mengerikan, yang memang sangat keras, Adrian masih bisa memberikan bahasa


yang lembut.


Adrian adalah orang yang selalu tahu, selalu mengerti tentang semua hal,


karena itu pekerjaannya. Karena Adrian lah Laju juga bisa menikmati banyak hal,


salah satunya teori konspirasi mengenai keberadaan alien dan monster tersebut.


Sejak awal Laju mengagumi Adrian karena banyak aspek. Tapi baru kali ini Laju


berbicara empat mata dan semakin menaruh hormat kepadanya.


“Aku ingin menjadi seperti orang ini, seperti Adrian!” seru Laju dalam


hati, sembari menatapnya penuh hormat ketika masih terus berbicara satu dua


hal.


Selain mengenai dunia gelap, Laju juga tidak lupa bertanya tentang


tempat bimbingan yang diberitahukan oleh Pak Ahmad. Siapatau, memang ada hal


yang mencurigakan di baliknya. Adrian sempat kebingungan, karena instusi


pendidikan sangatlah bertolak belakang dengan apa yang dia kerjakanya.


Adrian sempat mengulik terlebih dahulu tempat bimbingan yang


diberitahukan oleh Laju, sampai dia berkesimpulan dengan yakin bahwa tidak ada


yang mencurigakan kecuali tempat les untuk murid yang ingin masuk universitas.


“Baiklah,” ucap Laju kecewa.


Setelah puas dengan pembicaraan dengan Adrian, Laju pamitan dan turun


kebawah. Dia mungkin tidak akan kembali ke gedung ini untuk waktu yang lama,


karena harus mengurusi banyak hal tentang akademi.


Begitu turun dari tangga, teman-temannya datang dan mengomentari


kekecewannya pada Laju. “Loh!? Kamu disini ternyata, Ju. Kami tunggu di warung


biasa tidak muncul-muncul.” Seru sang kacamata


Seperti biasa, Laju tidak merespon.


“Makan, yok!” Ajak satunya. “Kita lapar nih. Atau makan daging asap saja


seperti teman basketmu itu? Di mal sebelah ada, kan?”


“Loh? Memangnya ada? Perasaan kalau di sebelah bukan daging asap yang dikunjungi oleh Laju dan tim


basketnya deh.”


“Ya terserah sih. Aku lapar saja ingin segera makan siang.”


“Dasar rakus,” sang kacamata kembali memandang Laju. “Apakah kamu ikut,


Ju?”


Laju menggeleng.


“Yasudah. Minta uang, dong. Berapa kisaran harga restoran-restoran di


mal itu, ya?”


“Sekitar ratusan ribu per orang? Mungkin bisa lebih. Entahlah.”


“Standar, ya.”


Tapi, ketika kedua temannya sedang asik membicarakan makan siang mereka,


Laju hiraukan saja seakan tidak peduli. Laju melewati mereka, seperti tidak

__ADS_1


mengenal mereka sejak awal. Pergi ke luar, langsung mengurusi urusan


berikutnya.


“Loh, Laju? Uangnya? Uang makan?” tanya temannya sembari melihat Laju


yang sudah menghilang dari pandangannya. “Bagaimana… aku makan siang?”


“Ada apa lagi dengan Laju?” tanya sang kacamata.


Mereka berdua terheran-heran melihat Laju yang lebih aneh dari


sebelumnya. Tidak seperti biasanya Laju menghiraukan mereka. Memberikan uang


makan siang sebenarnya bukan masalah untuk Laju. Mengeluarkan uang kepada mereka


sudah seperti membuang sampah yang mengganjal di saku bajunya. Bukannya


merepotkanya, justru sebaliknya. membuatnya lebih nyaman dan bersih, dari


rengekan temannya yang selalu meminta uang.


Ketika kedua temannya masih diam menatap pintu yang sudah ditutup,


kebetulan Bos Alex turun karena ingin menghentikan tawanya dari lelucon yang


diucapkan oleh Laju.


“Ahahaha. A…ada apa? Kenapa kalian berlagak bodoh seperti itu? Laju, ya?”


tanyanya sambil mengusap air mata.


“Entahlah,” seru teman Laju yang sama-sama tidak mengerti apa yang


sebenarnya sedang terjadi.


“Laju bilang dia siap pergi ke kota terlarang, sekalian ikut-ikutan


kerja mengikuti jejak Adrian. Dia melakukan itu semua tahu karena apa? Karena


gagal masuk akademi! AHAHAHAHA!” Meskipun Bos Alex berencana turun ke lantai


dasar untuk mendapatkan atmosfir dan suasana baru dengan tujuan bisa meredakan


tawanya, ketika dia bahas lagi tentang rencana Laju tadi di ruangan tawanya


malah semakin meledak, semakin menjadi-jadi.


Kedua teman Laju yang mendengar berita tersebut hanya bisa menelah


ludah. Laju yang seperti itu akan mulai berurusan dengan hal yang lebih


berbahaya? Mereka saling pandang satu sama lain. Keduanya khawatir, juga


ketakutan. Apakah hubungan mereka akan selesai sampai disini? Sekalipun ingin dipaksakan


untuk terus saling berhubungan, apakah mereka siap mengikuti Laju sampai kota


terlarang, sampai neraka? Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.


Mereka sempat berpikir sejenak. Mereka belum siap untuk mengakhiri


kehidupan nyaman, nikmat, dan mudahnya bersama Laju. Apa yang harus mereka


lakukan sekarang jika hubungan tersebut putus begitu saja. Masalahnya, yang


memutuskannya adalah Laju sendiri.


Kenapa dia harus repot hanya karena gagal masuk sekolah, sih?


Mereka kebingungan. Tapi mereka bisa apa?


Laju sekarang sudah berada pergi, keluar melewati pintu yang sudah


ditutupnya dengan keras. Laju sudah pergi, meninggalkan mereka berdua di gedung


tersebut, di tempat tersebut. Laju sudah melangkahkan kakinya untuk memulai


sesuatu yang baru, sedangkan kedua temannya masih kecewa bahwa bank berjalannya


sudah pergi meninggalkan mereka.


“Aaah, aku tidak menyangka akan secepat ini,” sesal temannya yang


sekarnag ikut duduk di sofa, bermain pisau, menghirup udara yang pekat, sembari


menonton acara bodoh di televisi.


***


Apakah Laju harus merasa kecewa dengan perilaku temannya yang sangat


merugikannya? Seperti parasit? Laju tidak ingin memikirkannya sekarang.


Sebenarnya itu sudah hal biasa, bahwa temannya akan datang untuk meminta


uang makan, dengan embel-embel mengajaknya makan siang. Laju pun sebenarnya membutuhkan


kehadiran mereka untuk setidaknya mengoceh dan bercanda ria. Menurut Laju, ini


merupakan hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.


Kalau begitu, tidak perlu berpikir lagi. Sudahi saja simpulkan bahwa ini


memang hubungan yang saling menguntungkan, daripada dia harus direpotkan dengan


perilaku kedua temannya itu. Sebenarnya, bisa saja dia berikan uang kepada


temannya itu. Tapi, setelahnya mereka pasti akan merengek terhadap hal-hal


lainnya.


Masalahnya, Laju membutuhkan waktu sendiri untuknya bisa mengurusi


berbagai hal permasalahan bimbingan eksklusif dan kemungkinan terburuk untuk


melakukan hal illegal dibawah


pengawasan Adrian. Sebenarnya Laju bisa saja mengurungkan niatnya dan mengeliminasi


rencana terburuk tersebut. Namun, tidak ada salahnya jika Laju lebih


berhati-hati, mengingat hari-hari yang dia jalani akan lebih sulit karena harus


keluar dari zona nyamannya.


Beruntung, dia menemukan restoran yang terlihat cukup baik dan mapan


untuk dikunjungi. Laju bisa pergi kesana, diam merenung, fokus, memikirkan


rencana-rencana dan setiap kemungkinan yang bisa dia ambil untuk bagaimana


melangkah kedepannya.


Yang bisa dia lakukan sekarang tentunya mempertimbangkan tempat


bimbingan yang diinformasikan oleh Pak Ahmad. Laju sempat ingat oleh perkataan


orang tuanya bagaimana anak-anak lain rela mengeluarkan uang yang banyak demi


diterimanya mereka ke dalam akademi. Laju harus menyayangkan jika memang itulah


yang akan terjadi kepada dirinya.


Sebenarnya, uang bukan masalah. Laju yakin orang tuanya tidak akan


kerepotan jika uang dihamburkan oleh Laju. Karena bukan uang yang menjadi


tujuan baik Laju maupun kedua orang tuanya. Tapi, Laju hanya berharap uang yang


dikeluarkan ke dalam bimbingan tidak terlalu besar yang akan membuat kedua


orang tuanya curiga. Apakah mungkin Laju bisa mendapatkan keringanan jika


mempresentasikan kebolehannya dalam menjawab soal dengan hasil sempurna?


mereka memang sebuah institusi yang dapat dipercaya. Tapi apakah Laju bisa


mempercayakannya? Untuk beberapa saat, Laju sempat meragukan setiap apa yang


Pak Ahmad lakukan. Padahal, Laju ingin sekali membuat Pak Ahmad sebagai


sekutunya yang bisa dipercaya. Tapi darimana rasa ketidakpercayaan ini muncul?


Laju masih memutar kepalanya, berpikir bagaimana harus menanggapi setiap


informasi yang didapatnya. Hari masih panjang, Laju masih bisa berpikir


mengatur rencana. Laju hanya harus segera menemukan pengumuman tanggal


pertemuan orang tua agar kedua orang tuanya tidak akan menaruh rasa curiga pada


dirinya.


Bagaimana dia bisa mendapatkannya?


Setahu yang Laju ingat, situs resmi dari akademi tidak akan menampilkan


tanggal penting seperti itu di dalamnya. Ini merupakan acara yang hanya bisa


diketahui oleh orang dalam karena merupakan acara pribadi. Untuk apa orang luar


mengetahuinya?


Sementara pikiran Laju masih berkecamuk memikirkan banyak hal tentang


masa depannya, sesosok perempuan yang dikenalinya datang dengan kaku dan duduk


di hadapannya. Masih di meja yang sama, tanpa bertanya persetujuan Laju sang


pemilik meja.


Laju mengangkat kepalanya.


Itu Delphia.


Mau apa dia kesini?


Tidak. Yang lebih penting, kenapa dia bisa tahu Laju ada disini?


Apakah ini kebetulan? Atau memang Delphia tahu keberadaan Laju?


Tidakkah itu mengerikan?


Apakah Delphia penguntit?


“Hah?” Dan tentu saja, yang ditanyakan oleh Laju pertama kali adalah


tentang keheranannya. Dia mengerutkan alis, dia kebingungan.


Pertanyaan-pertanyaan tersebut merusak konsentrasi Laju untuk fokus


merancang rencana tentang masa depannya. Ada apa dengan perempuan berambut


coklat ini, pikirnya. Apakah dia hanya ingin berkunjung? Atau ada sesuatu yang


ingin disampaikannya?


Tapi seperti biasa, Delphia masih tutup mulut, tidak berbicara.


Apakah dia merasa bersalah dengan pertemuan mereka terakhir kali? Laju


masih berusaha menerka-nerka apa yang ingin disampaikan oleh Delphia kepadanya


dengan kehadirannya ini. Tapi, Laju tidak bisa memberikan suasana yang lebih


nyaman seperti sebelumnya karena dia sudah tidak peduli lagi dengan gadis ini.


Meskipun Delphia terlihat sangat gugup, terlihat sangat takut, juga


bimbang. Laju tidak berencana untuk melakukan sesuatu terhadap hal tersebut. Delphia


bukan lagi orang yang harus dipikirkannya. Meskipun beberapa kali Delphia


terlintas di pikirannya, pada akhirnya Laju memutuskan bahwa Delphia bukanlah


orang yang penting.


Terserahlah gadis ini mau apa. Yang bisa Laju berikan hanyalah waktu.


Meskipun begitu, selang beberapa waktu yang Laju berikan kepada Delphia


untuk menenangkan dirinya, Delphia masih belum ada tanda-tanda untuk membuka


mulutnya, untuk berbicara menjawab pertanyaan Laju.


Haruskah Laju memberikan makanan atau pesanan apapun yang diinginkan


Delphia?


Tentu saja tidak.


Laju sudah kenyang, pun benar-benar tidak membutuhkan Delphia.


“Tetap tidak akan bicara?” Tanya Laju, dengan kesal. “Mau apa kamu


kesini?”


Jawaban yang Delpihia berikan hanya suara-suara gugup yang tidak


bermakna, yang tidak bisa dipahami oleh Laju.


Laju mulai menarik napas dalam yang berat dan panjang, berusaha


menghiraukan perempuan asing yang tidak jelas kehadirannya ini. Berusaha untuk


kembali mengurusi masa depannya, berpikir bagaimana dia harus menutupi


kebohongannya kepada ayahnya, tanpa harus ditutupi dengan kebohongan lain.


Menjalani kehidupan penuh dusta dan kebohongan ternyata sangatlah


merepotkan.


Satu kebohongan sudahlah cukup untuk membuat hidupnya harus berubah 180


derajat. Padahal, jika dipikir-pikir lagi kebohongan ini bukanlah salahnya.


Laju tidak berbohong untuk menutupi sebuah kesalahan agar dirinya tetap suci


dan bisa terlihat benar. Bukan sama sekali. Dari awal, dia memang berhak mendapatkan


surat undangan akademi.


Laju meyakinkan diri sendiri, bahwa dirinya masihlah orang yang benar,


dan akan selalu benar.


Ketika coretan pulpen lain Laju berikan kepada kertasnya untuk menulis


dan mengumpulkan pikiran dan gagasannya kembali, barulah Delphia bertindak


meskipun bukan dengan kata-kata. Dia gunakan tangannya untuk mendorong pulpen


dan kertas, juga tangan Laju, yang merusak aktivitasnya, dan menjatuhkan alat


tulisnya.


Laju sontak mengangkat tangannya untuk melindungi diri, juga karena


kaget atas tindakan yang Delphia lakukan. Apa maksudnya itu?


Datang tak diundang untuk membuat mimpinya menjadi kacau balau. Tidak


bisa diajak berbicara untuk meminta kejelasan tentang semua hal yang dia


lakukan. Dan sekarang datang tetap tidak akan berbicara, menjawab pertanyaan

__ADS_1


Laju, selain mengganggu aktivitasnya, mengganggu kehidupannya.


“Apa, sih!?” Laju naik darah.


Siapa yang tidak? Ketika kalian sedang asik menulis dan fokus pada suatu


aktivitas, lalu tiba-tiba saja seorang perempuan asing datang mengganggu


merusak semuanya. Apakah ini perundungan? Penindasan? Apakah Delphia ingin balas


dendam terhadap semua ejekan teman-temannya kepada Laju? Apa yang Laju lakukan


sehingga berhak mendapatkan perilaku ini?


Beruntung, untuk yang satu ini Delphia sedikit berbaik hati, membuka


hatinya untuk merespon. Ada alasan dia mengganggu aktivitas Laju. Dia


menggelengkan kepalanya, juga menggerakkan tangannya, memberikan simbol untuk


menghentikan semua aktivitas yang Laju lakukan.


Delphia masih belum berbahasa.


Dia hanya memberikan isyarat untuk berhenti, jangan melanjutkan lagi.


Laju paham, sekaligus tidak paham dengan isyarat tersebut.


Meskipun Delphia ingin Laju mengehentikan aktivitasnya, Laju tidak


paham. Kenapa Delphia peduli? Lagipula, apakah Delphia sadar apa yang sedang


dikerjakan Laju? MENGURUSI MASA DEPANNYA!


Kenapa Laju tidak boleh mengurusi masa depannya?


Apa maksudnya?


“Kalau kamu kesini hanya ingin mengganggu, sudah pergi saja!” Darah laju


semakin naik, sampai ke kepalanya, membuatnya sangat panas. “Enyahlah!!!”


Laju mengusir Delphia, mendorongnya hingga terlempar ke sandaran


kursinya.


“Ngh!” Erangan sakit Delphia, satu-satunya suara yang akhirnya keluar.


Meskipun Delphia lagi-lagi mendapatkan perilaku yang tidak menyenangkan,


dia tidak akan tetap diam seperti di sekolahan. Murid-murid sekolah tidak


berarti apa-apa padanya, sehingga ejekan mereka pun bisa dianggap angin lalu –


meskipun tentu saja Delphia sangat sangat tidak menyukai itu. Hatinya sakit,


hatinya terkikis.


Delphia kembali duduk dengan mantap, duduk menyerong ke depan, berusaha


menggapai tangan dan alat tulis yang Laju miliki. Sekarang, Laju yang kembali


menulis benar-benar geram, benar-benar marah atas perilaku Delphia. Pulpen yang


dipegang dan sedang digunakannya, diambil, dan dicuri oleh Delphia. Awalnya,


Delphia berusaha untuk mematahkannya, menghancurkannya. Tapi tentu saja Delphia


tidak bisa melakukan itu. Pulpen ini terlalu kuat untuk dirinya yang tidak


pernah melatih tubuh dan ototnya.


Pada akhirnya, pulpen hanya bisa dilempar dan dibuang oleh Delphia, pada


tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Laju.


Laju menoleh melihat pulpennya terlempar, menyisakan mukanya yang


keheranan, tidak bisa berkata-kata. Ekspresinya, perasaanya, hatinya, sangat tidak


bisa dijelaskan. Satu-satunya yang bisa dilakukan oleh Laju hanya membuka


mulutnya, tanda kekagetannya pada aksi tidak masuk akal yang dilakukan oleh


Delphia.


Laju sudah tidak perlu lagi untuk marah, untuk mengeluarkan, dan


mengumbar-umbar emosinya. Ketika dia lihat lagi Delphia di depannya, yang dia


lakukan hanya menggeleng-geleng kepalanya, dengan ekspresi yang sedikit marah


yang menandakan komitmennya.


Dengan ekspresi dan tangan terlipat yang dilakukan oleh Delphia, Laju


mengerti kode dan isyarat yang ingin Delphia sampaikan kepadanya. Tapi Laju


benar-benar tidak membutuhkan ini. Dia tidak butuh untuk mengerti apa yang


Delphia lakukan karena tidak memiliki pesan dan informasi yang penting.


Kenapa tidak dia lakukan ketika pertemuan pertama mereka saja?


Yang penting, sekarang Delphia benar-benar sangat melarang Laju menulis


apapun, memikirkan apapun.


Laju memegang kepalanya yang ditundukkan, menarik napas dalam,


melemaskan otot dan tubuhnya untuk memberikan tanda menyerah kepada Delphia,


kepada kondisi yang sedang dia alami ini.


Baru setelahnya, Laju siap untuk berbicara setelah hatinya mulai tenang.


Dimulai dengan meja yang dipukul dengan keras, dengan gigi yang


digertakkan, Laju mulai bertanya. “Kenapa!?” Tanyanya dengan halus.


DUG!!!


Laju memukul lagi meja dengan keras dan bertanya lagi lebih lengkap. “Ke-kenapa,


kenapa kamu lakukan itu? A-apa masalahmu, sih!?” seru laju dengan gagap.


Delphia menurunkan tangannya dengan gugup, dengan gemetar. Sambil menggerakkan


jarinya dengan gelagapan, dia perlahan memberikan respon. Perlahan, tangan Laju


dia sentuh, dia pegang, dia eratkan di antara dua tangannya yang disandarkan


pada meja.


Lagi-lagi Laju merasakan perasaan dingin yang menusuk yang sangat ia


kenali. Ini perasaan dingin yang ia rasakan pada malam kemarin, ketika bertemu


Delphia di taman dekat rumahnya. Salah satunya yang menjadi perbedaan adalah


bagaimana Delphia masih memiliki rambut coklatnya yang sama sekali tidak


menunjukkan akan melakukan perubahan menjadi warna putih, seperti yang diingat


oleh Laju – meskipun jika Laju perhatikan, mata yang Delphia sipitkan memang


berubah menjadi berlian yang bersinar sangat indah.


Awalnya Laju terkesima dengan keindahan tersebut. Karena memang, mata


tersebut benar-benar memanjakan indra pengelihatan Laju, benar-benar membuatnya


terhiponotis. Tapi, setelahnya Laju diserang perasaan panik. Dia lihat ke kiri


dan kanan, ke sekelilingnya, apakah orang-orang menyadari perubahan yang


Delphia lakukan.


Beruntung, yang Laju temukan hanya dehaman tidak peduli karena mereka


hanya melihat Laju dan Delphia seperti pasangan anak muda yang sedang


bertengkar.


Laju menghembuskan napas bersyukur bahwa orang-orang tidak peduli dengan


Delphia – meskipun setelahnya Laju pun heran mengapa dia harus peduli dengan


perempuan aneh satu ini. Ketika Laju ingin kembali menatap Delphia dan bertanya


apa yang sedang dilakukannya, matanya berputar ke atas, dan kesadarannya


menghilang.


Dia ingat perasaan ini, perasaan yang hampa ini, perasaan di kegelapan


ini.


Laju merasakan lagi dirinya sedang melayang, sedang terbang pada sebuah


ruangan serba hitam. Dia tidak bernapas, tidak merasakan apapun, kecuali


melihat sebuah skenario di depannya yang diperankan oleh dirinya sendiri.


Tidak seperti skenario sebelumnya, sekarang Laju melihat tempat yang


benar-benar asing dari memorinya. Tempat yang sangat pengap, sangat berantakan,


dengan langit yang bahkan bukan lagi berwarna biru muda, melainkan warna hijau


kecoklatan yang kotor.


Tempat ini, kota ini, juga bukan dipenuhi oleh orang-orang yang dikenalinya.


Apakah ini di luar negeri? Di luar kota? Dimana tempat ini?


Tunggu. Ini bukan orang. Makhluk ini sama sekali tidak memiliki bentuk


fisik seperti manusia pada umumnya. Ada yang berwarna merah dan bertanduk,


berwarna hijau dan bersisik, dan banyak lagi makhluk-makhluk aneh yang lebih


besar, sangat besar, juga sangat kecil. Laju sangat kebingungan, tidak bisa


menerka tempat yang sedang ditontonnya ini. Namun, entah bagaimana dia memiliki


perasaan bahwa dia pernah melihat tempat ini di suatu tempat. Tapi dimana? Dia


tidak bisa mengingatnya.


Delphia? Dimana perempuan itu? Apakah dia bisa menjelaskan ini?


Laju menoleh kesana kemari, mencari perempuan berambut coklat bergelombang,


atau putih sehalus sutra tersebut. Tapi, dia tidak bisa mencarinya kemana-mana.


Yang ada di sampingnya hanya ruangan kosong tak berujung, dan sebuah proyeksi


yang menampilkan film tentang dirinya.


Tunggu. Laju bisa tahu bahwa ini memang skenario tentang dirinya, kan?


Tapi, Laju tidak bisa mencari dimana tubuhnya berada.


Apakah dia berubah menjadi makhluk-makhluk aneh itu?


Dia mulai masuk menembus film tersebut, melayang dan terbang mengitari


tempat yang tidak dikenalinya tersebut, mencari keberadaan dirinya sendiri di


antara kota yang dipenuhi oleh lampu neon, dengan gedung yang tidak terawat,


mobil yang melayang, gang-gang kotor, dan monster-monster aneh.


Sampai pada akhirnya dia berhenti di suatu tempat yang terlihat hancur


dan porak-poranda, Laju berdiam diri menonton tempat tersebut. Dikelilingi oleh


makhluk-makhluk yang terlihat sedang mengorek puing-puing, juga banyak makhluk


yang terlihat terkapar tak bernyawa, tertimpa puing-puing tersebut. Ada alasan


mengapa Laju berdiam di tempat ini, tidak kembali melayang mencari ke tempat


lain.


Di antara makhluk yang tertimpa puing, disana Laju melihat dirinya


sendiri.


Sedang terkapar, mengucurkan darah dari banyak tempat, tak bernyawa.


Mati? Laju mati?


Mulut Laju masih terbuka menganga, menandakan rasa heran yang tidak


terbendung.


Laju berusaha untuk mendekati puing-puing tersebut, mencari dan melihat


lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi di sekeliling gedung yang sudah hancur


ini. Tapi, ketika Laju ingin turun mendekati tanah, yang dia rasakan justru


rasa tarikan dari langit oleh seseorang yang tidak terlihat. Menjauhinya dari


tempat kejadian, mengembalikannya pada ruang hitam kosong yang tidak memiliki


ujung.


Sampai Laju kembali tidak bisa merasakan panca indranya, Laju terbangun


dari mimpinya, kembali ke meja restoran, dengan tangan yang masih dipegang oleh


Delphia. Sangat erat, sangat hangat. Tidak lagi rasa dingin yang menusuk


indranya


Butuh beberapa waktu untuk Laju kembali sadar pada kenyataan, bahwa


dirinya sedang berada di meja restoran, sedang berada pada sebuah kota yang


sangat ia kenalinya. Ditemani oleh Delphia, yang sekarang sudah melepas


genggamannya pada Laju.


Laju menoleh kesana kemari, memastikan indranya bekerja dengan baik,


memastikan semuanya sudah kembali dengan normal. Lalu setelahnya dia duduk


sedikit bungkuk, fokus, mengeratkakan kedua telapak tangannya untuk kembali


berpikir tentang masa depan.


Di depannya, Delphia kembali duduk dengan kaku, gugup, dan sangat


tertutup.


Apa itu?


Apa barusan?


Aku… mati?


Ternyata, jawabannya ada di depan matanya, di sebuah secarik kertas yang


sedang disodorkan oleh Delphia dengan sebuah tulisan yang berkata; ‘Itulah Masa Depan’.

__ADS_1


__ADS_2