
Sebelum hari semakin siang, Laju memutuskan untuk pergi ke gang kumuh
yang memiliki bau tidak masuk akal dan dipenuhi oleh gelandangan yang tidur
sembarangan.
Laju akan pergi ke tempat Bos Alex.
Dia berharap masih bisa bertemu Adrian untuk membantunya mempersiapkan
rencana terburuknya kalau dia tetap harus berurusan dengan dunia dan
perdagangan pasar gelap dan semua hal yang bersifat illegal.
Seperti biasa, ketika Laju datang orang-orang yang tinggal disini justru
ketakutan sendiri, takut Laju akan kembali menjadi normal dan ‘bermain-main’
bersama mereka dengan tidak menyenangkan. Namun, karena tujuan kepergian Laju
bukanlah menghabiskan waktu dengan mereka, Laju hanya berjalan saja melewati
orang-orang ini dengan tidak acuh.
Sekali lagi, para gelandangan ini bersyukur bahwa hari-hari mereka tidak
dipersulit. Mereka bisa tidur dengan nyenyak dan nyaman, tanpa khawatir harus
berurusan dengan usilan orang-orang yang tidak bisa dilawan.
Setelah Laju melewati pintu besi kedua, dia langsung berjalan pelan
menuju sebuah gedung yang terlihat ditinggalkan, mengetuk dengan melodi yang
sudah diingat di luar kepala dan bertemu lagi dengan pria kekar dengan kepala
botak mengkilat. “Selamat datang kembali, Laju!” Ucapnya dengan riang, membuat
suasana hati Laju sedikit membaik.
Memasuki rumah tersebut, Laju kembali merasakan suasana tempat yang
memang sangat menakutkan untuk didekati, sebagaimana para gelandangan yang
menjauhi kawasan ini. Tapi, karena Laju sudah terbiasa dan bahkan sering bermain
dengan mereka, hal ini bisa diatasi oleh Laju dengan mudah. Lagipula, sejak
awal Bos Alex memang bukanlah orang baik-baik. Bahkan Adrian, bawahannya pun
bekerja di pasar gelap, pekerjaan yang mengharuskannya bekerja pada bidang illegal.
Mungkin kemarin memang sedang sepi ditinggalkan orang-orang yang sedang
mengurusi pekerjaannya. Sekarang, sofa di ruang tengah dipenuhi orang-orang
yang tampaknya lebih mengerikan dari pria kekar asisten Bos Alex dengan kepala
botak licinnya yang selalu membukakan pintu untuk tamu.
Aktivitas yang mereka lakukan tidak pernah terlewati antara bermain
dengan pisau, berkelahi, dan aktivitas-aktivitas tidak normal dan tidak aman
lainnya. Pernah ada satu pikiran yang memelesat dalam pikiran Laju, mengapa dia
memutuskan untuk bergaul dengan mereka. Tapi, pada akhirnya dia tidak ingin
repot memikirkan itu. Urusan teman dan pergaulan ditentukan oleh hati kecilnya.
Hati kecilnya berkata, dia sudah merasa nyaman bermain dengan orang-orang ini.
Salah satunya dengan seorang pria besar dengan gigi yang tanggal, bekas
luka yang membekas menutupi separuh wajahnya, yang sedang memainkan pisau di
tangannya sembari menonton acara televisi yang membosankan. Perlahan, dia
menyadari kehadiran Laju dan menyerunya untuk menonton bersama.
“Yah, gimana sih? Ayo tonton ini lucu, loh!” ajaknya sekali lagi.
Laju hanya memberikan senyuman tipis andalannya kepada pria tersebut. Dia
tetap menolak ajakan untuk menonton acara yang tidak penting di televisi,
karena harus bertemu Adrian mengurusi masa depannya. Setelahnya, terdengar
suara yang kecewa dari mulut pria tersebut.
“Hahaha, yasudah. Tapi jangan lupa kita punya banyak janji bermain loh!
Seperti yang INI!” serunya dengan penekanan pada akhir kata, sambil melempar
pisau dengan sangat cepat ke arah Laju.
Laju hanya berdecak kecewa dengan permainan melempar pisau yang sudah
jadul ini. Jangankan bola basket yang memelesat cepat dari luar pengelihatan Laju,
sekarang benda ini – meskipun pisau, malah datang dari depannya yang bisa
dilihat Laju dengan mudah.
DUG!
Pisau yang dilempar menancap pintu depan.
“Atau mungkin berburu rusa, atau beruang! Kita masih banyak kegiatan
yang menarik, loh!” Ajak pria tersebut, menghiraukan asisten Bos Alex yang
memarahinya karena merusak properti lagi.
Laju tidak merespon kecuali senyuman lainnya. Setelahnya, dia pergi
berkeliling gedung mencari dimana gerangan Adrian berada.
Sampai pada akhirnya Laju kembali dengan rencana awal, untuk langsung
pergi ke ruangan Bos Alex di lantai dua, di akhir lorong, dengan gagang pintu
berwarna emas. Setelah mengetuk pintunya beberapa kali, Laju sempat khawatir
bahwa Bos Alex sedang pergi lagi seperti terakhir kali dia pergi berkunjung.
Tapi nyatanya tidak. “Silahkan,” seru seseorang dari dalam yang memperbolehkan
Laju untuk masuk.
Belum sudah Laju ingin bertanya dimana Adrian berada, jawabannya sudah
terlebih dahulu dijawab oleh kondisi ruangan yang sedang terlihat santai
meskipun tetap fokus dan produktif mengurusi banyak hal dan dokumen. Adrian ada
disana, mengurusi beberapa hal membantu Bos Alex.
“Oh, Laju. Ada perlu apa?” Tanya Bos Alex, disusul Adrian yang
menyerunya dengan lambaian tangan.
Laju tidak lagi memberikan senyum tipis, senyum yang palsu. Senyum ini
sekarang mewakili perasaanya yang benar-benar bahagia, bahwa rencananya bisa
dilaksanakan sesuai yang diharapkannya. Dan dengan begitu, Laju mulai
menjelaskan dan mempresentasikan rencana-rencananya, idenya, juga harapannya
kepada Adrian, juga Bos Alex.
Laju juga tidak lupa memberikan alasan dan cerita yang mengawali semua
rencana ini, tentang surat akademi, tentang masa depannya, tentang rencana
untuk mulai berurusan dengan hal yang illegal jika mendesak, meskipun tidak perlu menceritakan semuanya dengan rinci.
Memang, Laju kepada Bos Alex dan Adrian sudah saling percaya satu sama lain.
Tapi, Laju masih harus berhati-hati terhadap mereka.
Tentu saja karena mereka bukan orang baik-baik.
Mereka bekerja di dunia gelap, dunia yang sangat dibenci ayahnya.
Atau iya? Benarkah? Apakah ayahnya membencinya? Laju tidak tahu pasti.
Laju hanya bisa memperkirakan bahwa ayahnya akan kecewa jika mengetahui fakta
ini.
Laju tidak begitu tahu dan paham tentang ayahnya.
Laju tidak sempat memikirkannya.
“Hahahaha!” Tawa Bos Alex yang menggema ke seluruh gedung. Untuk anggota
yang sudah tinggal disini cukup lama, mereka cukup senang dengan tawa tersebut.
Itu artinya Bos Alex sedang memiliki suasana hati yang gembira.
Tapi hal ini tidak direspon oleh Laju sama positifnya seperti yang lain.
Baru saja Laju menjelaskan bagaimana persiapan dan informasi yang dia harus persiapkan
tentang kota terlarang, pekerjaan di pasar gelap Adrian, dan serba serbi hal illegal yang diurusi jika ingin
mendapatkan kembali surat undangan akademi. Bos Alex malah tertawa lepas
menganggap itu hanya lelucon belaka.
“Kamu ingin pergi ke dunia gelap ini hanya karena urusan sekolah?
Seberapa putus asanya kamu Laju? Hahaha! Apakah kamu sehat, Laju? Bocah gila
sepertimu? Putus asa terhadap urusan sekolah? Ini lelucon paling lucu yang aku
dengarkan! Iya kan, Adrian? Hahahaha!” Tambah Bos Alex lagi, yang terus mengomentari
dan menertawai ide-ide Laju.
Adrian tertawa kecil meladeni Bos Alex. Dia menjawab Laju dengan sepenuh
hati tentang bagaimana harus mengawasi diri, menjaga diri, mngetahui banyak
hal-hal yang harus dihindari, juga yang dilakukan jika mulai ingin berurusan
dengan hal-hal yang illegal. Satu hal
yang pasti, kamu harus menyiapkan mental untuk selalu berbohong dan berurusan
dengan polisi.
Laju meneguk ludah mendengar banyak saran dari Adrian, selaku orang yang
bekerja di bidang yang sedang ditanyai oleh Laju.
Meskipun memang dia sudah mengira satu dua hal yang akan dikatakan oleh
Adrian mengenai seberapa bahayanya dunia gelap. Mendengarnya langsung dari
mulut orang yang memang bekerja di bidang tersebut memberikan kesan tersendiri
baginya.
Satu hal yang membuat Laju berdecak kagum adalah bagaimana di antara
orang-orang yang suka usil, selalu bekerja mempertaruhkan kematian, yang jahat,
yang mengerikan, yang memang sangat keras, Adrian masih bisa memberikan bahasa
yang lembut.
Adrian adalah orang yang selalu tahu, selalu mengerti tentang semua hal,
karena itu pekerjaannya. Karena Adrian lah Laju juga bisa menikmati banyak hal,
salah satunya teori konspirasi mengenai keberadaan alien dan monster tersebut.
Sejak awal Laju mengagumi Adrian karena banyak aspek. Tapi baru kali ini Laju
berbicara empat mata dan semakin menaruh hormat kepadanya.
“Aku ingin menjadi seperti orang ini, seperti Adrian!” seru Laju dalam
hati, sembari menatapnya penuh hormat ketika masih terus berbicara satu dua
hal.
Selain mengenai dunia gelap, Laju juga tidak lupa bertanya tentang
tempat bimbingan yang diberitahukan oleh Pak Ahmad. Siapatau, memang ada hal
yang mencurigakan di baliknya. Adrian sempat kebingungan, karena instusi
pendidikan sangatlah bertolak belakang dengan apa yang dia kerjakanya.
Adrian sempat mengulik terlebih dahulu tempat bimbingan yang
diberitahukan oleh Laju, sampai dia berkesimpulan dengan yakin bahwa tidak ada
yang mencurigakan kecuali tempat les untuk murid yang ingin masuk universitas.
“Baiklah,” ucap Laju kecewa.
Setelah puas dengan pembicaraan dengan Adrian, Laju pamitan dan turun
kebawah. Dia mungkin tidak akan kembali ke gedung ini untuk waktu yang lama,
karena harus mengurusi banyak hal tentang akademi.
Begitu turun dari tangga, teman-temannya datang dan mengomentari
kekecewannya pada Laju. “Loh!? Kamu disini ternyata, Ju. Kami tunggu di warung
biasa tidak muncul-muncul.” Seru sang kacamata
Seperti biasa, Laju tidak merespon.
“Makan, yok!” Ajak satunya. “Kita lapar nih. Atau makan daging asap saja
seperti teman basketmu itu? Di mal sebelah ada, kan?”
“Loh? Memangnya ada? Perasaan kalau di sebelah bukan daging asap yang dikunjungi oleh Laju dan tim
basketnya deh.”
“Ya terserah sih. Aku lapar saja ingin segera makan siang.”
“Dasar rakus,” sang kacamata kembali memandang Laju. “Apakah kamu ikut,
Ju?”
Laju menggeleng.
“Yasudah. Minta uang, dong. Berapa kisaran harga restoran-restoran di
mal itu, ya?”
“Sekitar ratusan ribu per orang? Mungkin bisa lebih. Entahlah.”
“Standar, ya.”
Tapi, ketika kedua temannya sedang asik membicarakan makan siang mereka,
Laju hiraukan saja seakan tidak peduli. Laju melewati mereka, seperti tidak
__ADS_1
mengenal mereka sejak awal. Pergi ke luar, langsung mengurusi urusan
berikutnya.
“Loh, Laju? Uangnya? Uang makan?” tanya temannya sembari melihat Laju
yang sudah menghilang dari pandangannya. “Bagaimana… aku makan siang?”
“Ada apa lagi dengan Laju?” tanya sang kacamata.
Mereka berdua terheran-heran melihat Laju yang lebih aneh dari
sebelumnya. Tidak seperti biasanya Laju menghiraukan mereka. Memberikan uang
makan siang sebenarnya bukan masalah untuk Laju. Mengeluarkan uang kepada mereka
sudah seperti membuang sampah yang mengganjal di saku bajunya. Bukannya
merepotkanya, justru sebaliknya. membuatnya lebih nyaman dan bersih, dari
rengekan temannya yang selalu meminta uang.
Ketika kedua temannya masih diam menatap pintu yang sudah ditutup,
kebetulan Bos Alex turun karena ingin menghentikan tawanya dari lelucon yang
diucapkan oleh Laju.
“Ahahaha. A…ada apa? Kenapa kalian berlagak bodoh seperti itu? Laju, ya?”
tanyanya sambil mengusap air mata.
“Entahlah,” seru teman Laju yang sama-sama tidak mengerti apa yang
sebenarnya sedang terjadi.
“Laju bilang dia siap pergi ke kota terlarang, sekalian ikut-ikutan
kerja mengikuti jejak Adrian. Dia melakukan itu semua tahu karena apa? Karena
gagal masuk akademi! AHAHAHAHA!” Meskipun Bos Alex berencana turun ke lantai
dasar untuk mendapatkan atmosfir dan suasana baru dengan tujuan bisa meredakan
tawanya, ketika dia bahas lagi tentang rencana Laju tadi di ruangan tawanya
malah semakin meledak, semakin menjadi-jadi.
Kedua teman Laju yang mendengar berita tersebut hanya bisa menelah
ludah. Laju yang seperti itu akan mulai berurusan dengan hal yang lebih
berbahaya? Mereka saling pandang satu sama lain. Keduanya khawatir, juga
ketakutan. Apakah hubungan mereka akan selesai sampai disini? Sekalipun ingin dipaksakan
untuk terus saling berhubungan, apakah mereka siap mengikuti Laju sampai kota
terlarang, sampai neraka? Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.
Mereka sempat berpikir sejenak. Mereka belum siap untuk mengakhiri
kehidupan nyaman, nikmat, dan mudahnya bersama Laju. Apa yang harus mereka
lakukan sekarang jika hubungan tersebut putus begitu saja. Masalahnya, yang
memutuskannya adalah Laju sendiri.
Kenapa dia harus repot hanya karena gagal masuk sekolah, sih?
Mereka kebingungan. Tapi mereka bisa apa?
Laju sekarang sudah berada pergi, keluar melewati pintu yang sudah
ditutupnya dengan keras. Laju sudah pergi, meninggalkan mereka berdua di gedung
tersebut, di tempat tersebut. Laju sudah melangkahkan kakinya untuk memulai
sesuatu yang baru, sedangkan kedua temannya masih kecewa bahwa bank berjalannya
sudah pergi meninggalkan mereka.
“Aaah, aku tidak menyangka akan secepat ini,” sesal temannya yang
sekarnag ikut duduk di sofa, bermain pisau, menghirup udara yang pekat, sembari
menonton acara bodoh di televisi.
***
Apakah Laju harus merasa kecewa dengan perilaku temannya yang sangat
merugikannya? Seperti parasit? Laju tidak ingin memikirkannya sekarang.
Sebenarnya itu sudah hal biasa, bahwa temannya akan datang untuk meminta
uang makan, dengan embel-embel mengajaknya makan siang. Laju pun sebenarnya membutuhkan
kehadiran mereka untuk setidaknya mengoceh dan bercanda ria. Menurut Laju, ini
merupakan hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Kalau begitu, tidak perlu berpikir lagi. Sudahi saja simpulkan bahwa ini
memang hubungan yang saling menguntungkan, daripada dia harus direpotkan dengan
perilaku kedua temannya itu. Sebenarnya, bisa saja dia berikan uang kepada
temannya itu. Tapi, setelahnya mereka pasti akan merengek terhadap hal-hal
lainnya.
Masalahnya, Laju membutuhkan waktu sendiri untuknya bisa mengurusi
berbagai hal permasalahan bimbingan eksklusif dan kemungkinan terburuk untuk
melakukan hal illegal dibawah
pengawasan Adrian. Sebenarnya Laju bisa saja mengurungkan niatnya dan mengeliminasi
rencana terburuk tersebut. Namun, tidak ada salahnya jika Laju lebih
berhati-hati, mengingat hari-hari yang dia jalani akan lebih sulit karena harus
keluar dari zona nyamannya.
Beruntung, dia menemukan restoran yang terlihat cukup baik dan mapan
untuk dikunjungi. Laju bisa pergi kesana, diam merenung, fokus, memikirkan
rencana-rencana dan setiap kemungkinan yang bisa dia ambil untuk bagaimana
melangkah kedepannya.
Yang bisa dia lakukan sekarang tentunya mempertimbangkan tempat
bimbingan yang diinformasikan oleh Pak Ahmad. Laju sempat ingat oleh perkataan
orang tuanya bagaimana anak-anak lain rela mengeluarkan uang yang banyak demi
diterimanya mereka ke dalam akademi. Laju harus menyayangkan jika memang itulah
yang akan terjadi kepada dirinya.
Sebenarnya, uang bukan masalah. Laju yakin orang tuanya tidak akan
kerepotan jika uang dihamburkan oleh Laju. Karena bukan uang yang menjadi
tujuan baik Laju maupun kedua orang tuanya. Tapi, Laju hanya berharap uang yang
dikeluarkan ke dalam bimbingan tidak terlalu besar yang akan membuat kedua
orang tuanya curiga. Apakah mungkin Laju bisa mendapatkan keringanan jika
mempresentasikan kebolehannya dalam menjawab soal dengan hasil sempurna?
mereka memang sebuah institusi yang dapat dipercaya. Tapi apakah Laju bisa
mempercayakannya? Untuk beberapa saat, Laju sempat meragukan setiap apa yang
Pak Ahmad lakukan. Padahal, Laju ingin sekali membuat Pak Ahmad sebagai
sekutunya yang bisa dipercaya. Tapi darimana rasa ketidakpercayaan ini muncul?
Laju masih memutar kepalanya, berpikir bagaimana harus menanggapi setiap
informasi yang didapatnya. Hari masih panjang, Laju masih bisa berpikir
mengatur rencana. Laju hanya harus segera menemukan pengumuman tanggal
pertemuan orang tua agar kedua orang tuanya tidak akan menaruh rasa curiga pada
dirinya.
Bagaimana dia bisa mendapatkannya?
Setahu yang Laju ingat, situs resmi dari akademi tidak akan menampilkan
tanggal penting seperti itu di dalamnya. Ini merupakan acara yang hanya bisa
diketahui oleh orang dalam karena merupakan acara pribadi. Untuk apa orang luar
mengetahuinya?
Sementara pikiran Laju masih berkecamuk memikirkan banyak hal tentang
masa depannya, sesosok perempuan yang dikenalinya datang dengan kaku dan duduk
di hadapannya. Masih di meja yang sama, tanpa bertanya persetujuan Laju sang
pemilik meja.
Laju mengangkat kepalanya.
Itu Delphia.
Mau apa dia kesini?
Tidak. Yang lebih penting, kenapa dia bisa tahu Laju ada disini?
Apakah ini kebetulan? Atau memang Delphia tahu keberadaan Laju?
Tidakkah itu mengerikan?
Apakah Delphia penguntit?
“Hah?” Dan tentu saja, yang ditanyakan oleh Laju pertama kali adalah
tentang keheranannya. Dia mengerutkan alis, dia kebingungan.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut merusak konsentrasi Laju untuk fokus
merancang rencana tentang masa depannya. Ada apa dengan perempuan berambut
coklat ini, pikirnya. Apakah dia hanya ingin berkunjung? Atau ada sesuatu yang
ingin disampaikannya?
Tapi seperti biasa, Delphia masih tutup mulut, tidak berbicara.
Apakah dia merasa bersalah dengan pertemuan mereka terakhir kali? Laju
masih berusaha menerka-nerka apa yang ingin disampaikan oleh Delphia kepadanya
dengan kehadirannya ini. Tapi, Laju tidak bisa memberikan suasana yang lebih
nyaman seperti sebelumnya karena dia sudah tidak peduli lagi dengan gadis ini.
Meskipun Delphia terlihat sangat gugup, terlihat sangat takut, juga
bimbang. Laju tidak berencana untuk melakukan sesuatu terhadap hal tersebut. Delphia
bukan lagi orang yang harus dipikirkannya. Meskipun beberapa kali Delphia
terlintas di pikirannya, pada akhirnya Laju memutuskan bahwa Delphia bukanlah
orang yang penting.
Terserahlah gadis ini mau apa. Yang bisa Laju berikan hanyalah waktu.
Meskipun begitu, selang beberapa waktu yang Laju berikan kepada Delphia
untuk menenangkan dirinya, Delphia masih belum ada tanda-tanda untuk membuka
mulutnya, untuk berbicara menjawab pertanyaan Laju.
Haruskah Laju memberikan makanan atau pesanan apapun yang diinginkan
Delphia?
Tentu saja tidak.
Laju sudah kenyang, pun benar-benar tidak membutuhkan Delphia.
“Tetap tidak akan bicara?” Tanya Laju, dengan kesal. “Mau apa kamu
kesini?”
Jawaban yang Delpihia berikan hanya suara-suara gugup yang tidak
bermakna, yang tidak bisa dipahami oleh Laju.
Laju mulai menarik napas dalam yang berat dan panjang, berusaha
menghiraukan perempuan asing yang tidak jelas kehadirannya ini. Berusaha untuk
kembali mengurusi masa depannya, berpikir bagaimana dia harus menutupi
kebohongannya kepada ayahnya, tanpa harus ditutupi dengan kebohongan lain.
Menjalani kehidupan penuh dusta dan kebohongan ternyata sangatlah
merepotkan.
Satu kebohongan sudahlah cukup untuk membuat hidupnya harus berubah 180
derajat. Padahal, jika dipikir-pikir lagi kebohongan ini bukanlah salahnya.
Laju tidak berbohong untuk menutupi sebuah kesalahan agar dirinya tetap suci
dan bisa terlihat benar. Bukan sama sekali. Dari awal, dia memang berhak mendapatkan
surat undangan akademi.
Laju meyakinkan diri sendiri, bahwa dirinya masihlah orang yang benar,
dan akan selalu benar.
Ketika coretan pulpen lain Laju berikan kepada kertasnya untuk menulis
dan mengumpulkan pikiran dan gagasannya kembali, barulah Delphia bertindak
meskipun bukan dengan kata-kata. Dia gunakan tangannya untuk mendorong pulpen
dan kertas, juga tangan Laju, yang merusak aktivitasnya, dan menjatuhkan alat
tulisnya.
Laju sontak mengangkat tangannya untuk melindungi diri, juga karena
kaget atas tindakan yang Delphia lakukan. Apa maksudnya itu?
Datang tak diundang untuk membuat mimpinya menjadi kacau balau. Tidak
bisa diajak berbicara untuk meminta kejelasan tentang semua hal yang dia
lakukan. Dan sekarang datang tetap tidak akan berbicara, menjawab pertanyaan
__ADS_1
Laju, selain mengganggu aktivitasnya, mengganggu kehidupannya.
“Apa, sih!?” Laju naik darah.
Siapa yang tidak? Ketika kalian sedang asik menulis dan fokus pada suatu
aktivitas, lalu tiba-tiba saja seorang perempuan asing datang mengganggu
merusak semuanya. Apakah ini perundungan? Penindasan? Apakah Delphia ingin balas
dendam terhadap semua ejekan teman-temannya kepada Laju? Apa yang Laju lakukan
sehingga berhak mendapatkan perilaku ini?
Beruntung, untuk yang satu ini Delphia sedikit berbaik hati, membuka
hatinya untuk merespon. Ada alasan dia mengganggu aktivitas Laju. Dia
menggelengkan kepalanya, juga menggerakkan tangannya, memberikan simbol untuk
menghentikan semua aktivitas yang Laju lakukan.
Delphia masih belum berbahasa.
Dia hanya memberikan isyarat untuk berhenti, jangan melanjutkan lagi.
Laju paham, sekaligus tidak paham dengan isyarat tersebut.
Meskipun Delphia ingin Laju mengehentikan aktivitasnya, Laju tidak
paham. Kenapa Delphia peduli? Lagipula, apakah Delphia sadar apa yang sedang
dikerjakan Laju? MENGURUSI MASA DEPANNYA!
Kenapa Laju tidak boleh mengurusi masa depannya?
Apa maksudnya?
“Kalau kamu kesini hanya ingin mengganggu, sudah pergi saja!” Darah laju
semakin naik, sampai ke kepalanya, membuatnya sangat panas. “Enyahlah!!!”
Laju mengusir Delphia, mendorongnya hingga terlempar ke sandaran
kursinya.
“Ngh!” Erangan sakit Delphia, satu-satunya suara yang akhirnya keluar.
Meskipun Delphia lagi-lagi mendapatkan perilaku yang tidak menyenangkan,
dia tidak akan tetap diam seperti di sekolahan. Murid-murid sekolah tidak
berarti apa-apa padanya, sehingga ejekan mereka pun bisa dianggap angin lalu –
meskipun tentu saja Delphia sangat sangat tidak menyukai itu. Hatinya sakit,
hatinya terkikis.
Delphia kembali duduk dengan mantap, duduk menyerong ke depan, berusaha
menggapai tangan dan alat tulis yang Laju miliki. Sekarang, Laju yang kembali
menulis benar-benar geram, benar-benar marah atas perilaku Delphia. Pulpen yang
dipegang dan sedang digunakannya, diambil, dan dicuri oleh Delphia. Awalnya,
Delphia berusaha untuk mematahkannya, menghancurkannya. Tapi tentu saja Delphia
tidak bisa melakukan itu. Pulpen ini terlalu kuat untuk dirinya yang tidak
pernah melatih tubuh dan ototnya.
Pada akhirnya, pulpen hanya bisa dilempar dan dibuang oleh Delphia, pada
tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Laju.
Laju menoleh melihat pulpennya terlempar, menyisakan mukanya yang
keheranan, tidak bisa berkata-kata. Ekspresinya, perasaanya, hatinya, sangat tidak
bisa dijelaskan. Satu-satunya yang bisa dilakukan oleh Laju hanya membuka
mulutnya, tanda kekagetannya pada aksi tidak masuk akal yang dilakukan oleh
Delphia.
Laju sudah tidak perlu lagi untuk marah, untuk mengeluarkan, dan
mengumbar-umbar emosinya. Ketika dia lihat lagi Delphia di depannya, yang dia
lakukan hanya menggeleng-geleng kepalanya, dengan ekspresi yang sedikit marah
yang menandakan komitmennya.
Dengan ekspresi dan tangan terlipat yang dilakukan oleh Delphia, Laju
mengerti kode dan isyarat yang ingin Delphia sampaikan kepadanya. Tapi Laju
benar-benar tidak membutuhkan ini. Dia tidak butuh untuk mengerti apa yang
Delphia lakukan karena tidak memiliki pesan dan informasi yang penting.
Kenapa tidak dia lakukan ketika pertemuan pertama mereka saja?
Yang penting, sekarang Delphia benar-benar sangat melarang Laju menulis
apapun, memikirkan apapun.
Laju memegang kepalanya yang ditundukkan, menarik napas dalam,
melemaskan otot dan tubuhnya untuk memberikan tanda menyerah kepada Delphia,
kepada kondisi yang sedang dia alami ini.
Baru setelahnya, Laju siap untuk berbicara setelah hatinya mulai tenang.
Dimulai dengan meja yang dipukul dengan keras, dengan gigi yang
digertakkan, Laju mulai bertanya. “Kenapa!?” Tanyanya dengan halus.
DUG!!!
Laju memukul lagi meja dengan keras dan bertanya lagi lebih lengkap. “Ke-kenapa,
kenapa kamu lakukan itu? A-apa masalahmu, sih!?” seru laju dengan gagap.
Delphia menurunkan tangannya dengan gugup, dengan gemetar. Sambil menggerakkan
jarinya dengan gelagapan, dia perlahan memberikan respon. Perlahan, tangan Laju
dia sentuh, dia pegang, dia eratkan di antara dua tangannya yang disandarkan
pada meja.
Lagi-lagi Laju merasakan perasaan dingin yang menusuk yang sangat ia
kenali. Ini perasaan dingin yang ia rasakan pada malam kemarin, ketika bertemu
Delphia di taman dekat rumahnya. Salah satunya yang menjadi perbedaan adalah
bagaimana Delphia masih memiliki rambut coklatnya yang sama sekali tidak
menunjukkan akan melakukan perubahan menjadi warna putih, seperti yang diingat
oleh Laju – meskipun jika Laju perhatikan, mata yang Delphia sipitkan memang
berubah menjadi berlian yang bersinar sangat indah.
Awalnya Laju terkesima dengan keindahan tersebut. Karena memang, mata
tersebut benar-benar memanjakan indra pengelihatan Laju, benar-benar membuatnya
terhiponotis. Tapi, setelahnya Laju diserang perasaan panik. Dia lihat ke kiri
dan kanan, ke sekelilingnya, apakah orang-orang menyadari perubahan yang
Delphia lakukan.
Beruntung, yang Laju temukan hanya dehaman tidak peduli karena mereka
hanya melihat Laju dan Delphia seperti pasangan anak muda yang sedang
bertengkar.
Laju menghembuskan napas bersyukur bahwa orang-orang tidak peduli dengan
Delphia – meskipun setelahnya Laju pun heran mengapa dia harus peduli dengan
perempuan aneh satu ini. Ketika Laju ingin kembali menatap Delphia dan bertanya
apa yang sedang dilakukannya, matanya berputar ke atas, dan kesadarannya
menghilang.
Dia ingat perasaan ini, perasaan yang hampa ini, perasaan di kegelapan
ini.
Laju merasakan lagi dirinya sedang melayang, sedang terbang pada sebuah
ruangan serba hitam. Dia tidak bernapas, tidak merasakan apapun, kecuali
melihat sebuah skenario di depannya yang diperankan oleh dirinya sendiri.
Tidak seperti skenario sebelumnya, sekarang Laju melihat tempat yang
benar-benar asing dari memorinya. Tempat yang sangat pengap, sangat berantakan,
dengan langit yang bahkan bukan lagi berwarna biru muda, melainkan warna hijau
kecoklatan yang kotor.
Tempat ini, kota ini, juga bukan dipenuhi oleh orang-orang yang dikenalinya.
Apakah ini di luar negeri? Di luar kota? Dimana tempat ini?
Tunggu. Ini bukan orang. Makhluk ini sama sekali tidak memiliki bentuk
fisik seperti manusia pada umumnya. Ada yang berwarna merah dan bertanduk,
berwarna hijau dan bersisik, dan banyak lagi makhluk-makhluk aneh yang lebih
besar, sangat besar, juga sangat kecil. Laju sangat kebingungan, tidak bisa
menerka tempat yang sedang ditontonnya ini. Namun, entah bagaimana dia memiliki
perasaan bahwa dia pernah melihat tempat ini di suatu tempat. Tapi dimana? Dia
tidak bisa mengingatnya.
Delphia? Dimana perempuan itu? Apakah dia bisa menjelaskan ini?
Laju menoleh kesana kemari, mencari perempuan berambut coklat bergelombang,
atau putih sehalus sutra tersebut. Tapi, dia tidak bisa mencarinya kemana-mana.
Yang ada di sampingnya hanya ruangan kosong tak berujung, dan sebuah proyeksi
yang menampilkan film tentang dirinya.
Tunggu. Laju bisa tahu bahwa ini memang skenario tentang dirinya, kan?
Tapi, Laju tidak bisa mencari dimana tubuhnya berada.
Apakah dia berubah menjadi makhluk-makhluk aneh itu?
Dia mulai masuk menembus film tersebut, melayang dan terbang mengitari
tempat yang tidak dikenalinya tersebut, mencari keberadaan dirinya sendiri di
antara kota yang dipenuhi oleh lampu neon, dengan gedung yang tidak terawat,
mobil yang melayang, gang-gang kotor, dan monster-monster aneh.
Sampai pada akhirnya dia berhenti di suatu tempat yang terlihat hancur
dan porak-poranda, Laju berdiam diri menonton tempat tersebut. Dikelilingi oleh
makhluk-makhluk yang terlihat sedang mengorek puing-puing, juga banyak makhluk
yang terlihat terkapar tak bernyawa, tertimpa puing-puing tersebut. Ada alasan
mengapa Laju berdiam di tempat ini, tidak kembali melayang mencari ke tempat
lain.
Di antara makhluk yang tertimpa puing, disana Laju melihat dirinya
sendiri.
Sedang terkapar, mengucurkan darah dari banyak tempat, tak bernyawa.
Mati? Laju mati?
Mulut Laju masih terbuka menganga, menandakan rasa heran yang tidak
terbendung.
Laju berusaha untuk mendekati puing-puing tersebut, mencari dan melihat
lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi di sekeliling gedung yang sudah hancur
ini. Tapi, ketika Laju ingin turun mendekati tanah, yang dia rasakan justru
rasa tarikan dari langit oleh seseorang yang tidak terlihat. Menjauhinya dari
tempat kejadian, mengembalikannya pada ruang hitam kosong yang tidak memiliki
ujung.
Sampai Laju kembali tidak bisa merasakan panca indranya, Laju terbangun
dari mimpinya, kembali ke meja restoran, dengan tangan yang masih dipegang oleh
Delphia. Sangat erat, sangat hangat. Tidak lagi rasa dingin yang menusuk
indranya
Butuh beberapa waktu untuk Laju kembali sadar pada kenyataan, bahwa
dirinya sedang berada di meja restoran, sedang berada pada sebuah kota yang
sangat ia kenalinya. Ditemani oleh Delphia, yang sekarang sudah melepas
genggamannya pada Laju.
Laju menoleh kesana kemari, memastikan indranya bekerja dengan baik,
memastikan semuanya sudah kembali dengan normal. Lalu setelahnya dia duduk
sedikit bungkuk, fokus, mengeratkakan kedua telapak tangannya untuk kembali
berpikir tentang masa depan.
Di depannya, Delphia kembali duduk dengan kaku, gugup, dan sangat
tertutup.
Apa itu?
Apa barusan?
Aku… mati?
Ternyata, jawabannya ada di depan matanya, di sebuah secarik kertas yang
sedang disodorkan oleh Delphia dengan sebuah tulisan yang berkata; ‘Itulah Masa Depan’.
__ADS_1