Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 31


__ADS_3

Setelahnya, mereka kembali ke terminal. Berbicara satu dua hal dengan petugas yang kemarin mereka temui, memasuki mobil yang siap terbang, mengatur navigasi kepada sistem di dalamnya, meninggalkan Gloria, dan kembali ke Kannaris.


Pada saat perjalanan yang mereka lalui pun tidak banyak yang mereka lakukan. Kecuali Laju yang masih kegirangan menatap kartu nama, Audy yang menatap lingkungan sekitar, dan Delphia yang gelisah karena beberapa hal yang tidak bisa begitu dia utarakan.


Sampai pada akhirnya mereka sadar dua jam sudah berlalu begitu saja, ada banyak suara-suara yang mengindikasikan kericuhan sedang terjadi di bawah mereka. Sekarang, tidak hanya Laju dan Delphia yang tetap penasaran dengan kericuhan yang terjadi, Audy pun sedikit melirik membandingkan kericuhan yang terjadi sejak tiga hari terakhir.


Sebenarnya percuma saja.


Meskipun suara-suara kecil bisa terdengar, dari atas awan mereka tidak bisa melihat dengan jelas kejadian-kejadian yang terjadi di bawah sana, di setiap penjuru kota.


Barulah setelah mereka turun dari mobil, keluar dari terminal, kembali datang ke kota yang ‘kotor’ ini, suara-suara yang mereka dengar di atas mobil menjadi lebih jelas dan masuk akal. Audy cukup kaget bahwa gerakan para manusia ini lebih cepat dari yang diperkirakannya. Tapi, itu tidak begitu mempengaruhinya, kecuali untuk berjalan lebih cepat untuk bertanya kepada Parker apa yang sudah mereka lewati selama berdiam di Gloria.


Dimulai dari lebih sedikitnya warga sipil yang berjalan di trotoar, lebih sedikit juga kendaraan yang berlalu lalang di jalan raya, namun lebih banyak ditemukan kerusakan dan kehancuran di sana-sini.


Sepertinya, para komplotan ******* ini lebih aktif berusaha untuk menguasai kota.


Beberapa gedung dengan kaca yang hancur, pedagang kaki lima dengan gerobak yang tergeletak berceceran, banyak vandalisme di beberapa gedung hingga fasilitas kota, lebih banyak kelompok yang mencurigakan menampilkan diri berusaha untuk mengintimidasi warga sipil yang berkeliaran, sampai pada akhirnya lebih banyak perkelahian yang terjadi tanpa alasan yang jelas.


Sebenarnya, meskipun polisi di Kannaris bisa Audy kategorikan sebagai polisi yang tidak kompeten, mereka tetap berusaha untuk mengendalikan keadaan pada kelompok mencurigakan di penjuru kota.


Tapi, kebanyakan dari mereka malah gagal dan langsung terkena serangan balasan dari para kelompok mencurigakan ini, memukul mundur aksi mereka, seakan para penjahat sudah mulai benar-benar menguasai Kannaris.


Satu hal yang bisa Laju pahami dari kondisi ini adalah bahwa kelompok-kelompok ini didominasi oleh manusia. Bukan monster atau semacamnya dengan fisik yang tidak jelas, melainkan manusia asli, manusia normal, dengan perawakan yang Laju kenali betul mereka adalah manusia sejati.


Semakin mereka bertiga berjalan mengitari Kannaris, Laju semakin merasakan bahwa mereka seperti sudah kembali ke dunia manusia.


Dunia manusia?


Kembali?


Laju sempat memikirkan sesuatu tentang topik tersebut.


Dia seperti melupakan sesuatu yang penting.


Tapi, sebelum pikirannya bisa bebas untuk memikirkan banyak hal berusaha mencari solusi dari masalah yang tiba-tiba datang menabrak mengganggu harinya, lebih dahulu sebuah teriakan berangsur mendatangi posisinya.


Karena tidak merasa dirinya terancam, Laju hanya berhenti mendadak saja mencoba mengoptimalkan gerakan minim yang efektif untuk mengatasi teriakan tersebut.


Memang, Laju tidak terkena dampak dari efek teriakan tersebut yang ternyata seorang monster kecil terlempar ke arah mereka. Tapi, Audy yang berada di depannya malah jatuh terbanting bersamaan dengan monster kecil yang babak belur tersebut.


Delphia panik tentu saja. Ketika mereka sedang berjalan santai berusaha kembali ke kantor Parker, tidak ada hujan tidak ada angin, tiba-tiba mereka terbanting oleh seorang monster kecil yang terlempar terjatuh, yang nampaknya seorang dwarf yang sedang mengenakan pakaian formal seperti sedang pulang dari kantornya.


Tanpa basa-basi, Laju dan Delphia langsung menolong Audy untuk kembali berdiri menyeimbangkan tubuhnya, juga seorang dwarf dengan rambut hitamnya yang diikat ekor kuda, yang banyak memar lebam dan luka di seluruh tubuhnya..


“Ugh, apakah kalian baik-baik saja? Maafkan aku. Tapi, manusia itu–”


Sebelum sang dwarf itu menyelesaikan permintaan maafnya, dia lebih dahulu terperanjat kepada Laju yang membantunya. Dwarf yang baru saja terjatuh dan babak belur itu langsung kembali bersujud meminta maaf sekaligus berusaha melindungi dirinya begitu menatap perawakan dan bentuk fisik Laju.


“Ma-manusia!? Ma-maafkan aku! Aku hanya pria normal yang bekerja di kantor saja! A-ampunilah aku!!” Seru sang dwarf yang terbata-bata meminta ampunan kepada Laju.


“Sepertinya para manusia itu sudah berlebihan.”

__ADS_1


“…” Laju tidak berkomentar


“Aku khawatir pekerjaan Parker seratus kali lebih sulit. Kita harus segera kembali.”


“Ng!”


Dan dengan begitu, Audy langsung mengajak Delphia yang sedang berlutut kembali membantu sang dwarf untuk mengangkat kepalanya, kembali berjalan pulang ke rumahnya.


Tapi, sebelum mereka bisa kembali berjalan dengan santai, muncul suara dari samping kanan mereka yang terdengar arogan, sombong, juga mengejek. Mereka terlalu fokus dengan dwarf di depan mereka yang ketakutan, sampai lupa pada alasan terlemparnya dwarf yang malang ini.


“Oho, lihat!? Apakah kita baru saja melihat seorang pahlawan kebenaran?”


“Ahaha! Si kerdil itu sudah jatuh, malah jatuh lagi! Aku tidak bisa membedakannya karena ukurannya yang sangat kecil!”


“Lucu sekali. Dia kerdil tapi berlagak memakai jas. Bodoh sekali tampangnya!”


“Dia lebih cocok berpakaian seperti badut, bekerja di sirkus! Hahaha!”


“Aku penasaran bagaimana dia akan melompati lingkaran api.”


Muncul beberapa manusia yang datang dengan angkuh, dengan fisik yang sedikit abnormal, tertawa haha-hihi berpakaian seperti preman.


Sebenarnya, Audy berencana untuk mengabaikan saja urusan itu. Berusaha melupakannya, karena tidak secuil pun masalah ini pantas untuk diladeni. Mereka hanya melempar umpan, huru-hara di beberapa tempat, hanya mencari perhatian.


Orang semacam ini benar-benar menjijikkan, benar-benar menjengkelkan.


“Oh!? Apakah aku tidak salah lihat? Ternyata pahlawan kita adalah gadis kucing ini?”


“Wahhhh… punya mainan baru, nih!”


“Lalu? Kamu siapa? Manusia? Apa yang kamu lakukan? Ayo cepat terkam monster itu! Tidakkah kalian merasa najis?” Tanya sang manusia dengan luka yang melintasi matanya, dengan tato di tangan kanannya.


Mereka sekilas menatap Laju.


Merasa pertanyaanya tidak diugah, mereka kembali fokus pada urusan mereka yang berada di depan mata, untuk menerkam menyerang Audy, sang gadis kucing ini.


Audy yang merasa ditargetkan langsung bersiaga. Baik telinga maupun ekornya sudah terangkat mengembang tanda berada dalam bahaya dan siap menerkam sang manusia dengan sekejap jika dia berani berbuat macam-macam.


Tapi, karena sang manusia ini merasa dirinya sudah diperkuat, dia yang memiliki tato di tangan kanannya yang terlihat seperti ketua ini tanpa ragu-ragu langsung berusaha untuk mendekati dan menerkam Audy, berusaha untuk mengintimidasinya.


Ternyata, usahanya berhasil, seperti baru saja melakukan sihir. Audy tiba-tiba membatu, tidak merasa bisa untuk melawan tangan bertato yang datang padanya tersebut. Audy yang gemetaran karena terhipnotis, hanya bisa berharap dirinya bisa melakukan pertahanan terakhir dengan mengandalkan instingnya.


Tapi, pertahanan terakhir Audy tidak muncul juga. Kecuali, tangan kiri Laju dengan refleks yang lebih baik dan cepat, yang sudah lebih dahulu menahan gerakan tangan manusia bertato ini dengan menerkam mencengkeramnya dengan kuat.


“Bisakah kalian tinggalkan kami sendiri saja?” Tanya Laju baik-baik.


Tapi, apa yang ditampilkan oleh ekspresi dan matanya malah berbalikan.


Terpampang dengan keji mata yang kejam yang berusaha mengintimidasi kelompok di depannya. Sebenarnya, justru itu tujuan Laju. Untuk mengusir, untuk mengenyahkan kelompok yang merepotkan tersebut.


Sebelum terjadi sebuah kesepakatan antara kedua belah pihak, cairan merah darah yang keluar dari tangan ketua mereka yang bertato sudah merupakan tanda bagi yang lain untuk bergerak, meskipun tidak ada bahasa yang keluar dari mulut mereka.

__ADS_1


Laju padahal sudah berbaik hati untuk mengusir.


Kalau memang mereka ingin mencari gara-gara, dengan senang hati Laju ladeni.


Dari punggung korban pertama yang tangannya ditato yang sedang berlutut kesakitan, muncul sebuah hantaman angin yang mengindikasikan sebuah pukulan keras akan terjadi.


Dengan gesit, Laju langsung melepaskan cengkeraman tangan kirinya, membungkuk sedikit berusaha mendapatkan momentum yang tepat, lalu menyelonong memberikan pukulan siku yang mematikan sebelum hantaman angin tadi berhasil dilepas.


“Ugh!” Seru manusia yang langsung terpingkal terjatuh akibat serangan Laju.


Tidak berhenti di situ saja, Laju yang belum puas langsung melanjutkan serangannya dengan memberikan hantaman lain dengan telak pada tengah mukanya, dengan telapak tangan terbuka, sekaligus energi angin yang begitu dahsyat untuk menghempaskannya


Passhhh!


Seketika, manusia kedua tadi langsung terpental terhantam jauh akibat serangan Laju.


Audy dan Delphia sebenarnya sudah berencana untuk ambil ancang-ancang begitu tangan bertato tadi berusaha untuk menerkam gadis kucing ini. Tapi, sang nenek dari Gloria, dokter Vignette kemarin, benar-benar melakukan tugasnya dengan sangat baik.


Satu kedipan ketika Laju berhasil mencengkeram manusia pertama, kedipan berikutnya sudah ada pria lain yang menjadi korban setelah terpental jauh berkat hantaman dahsyat yang dihempaskan oleh Laju.


Refleks dan serangan balasan yang Laju berikan sangatlah diluar nalar. Tapi, itu tidak membuat dua gadis ini berdiam diri begitu saja. Audy dan Delphia tetap berusaha untuk membantu Laju mengalahkan manusia arogan ini dengan mengoptimalkan perubahan tubuh mereka. Audy yang mulai mengeluarkan kuku tajamnya, juga Delphia yang perlahan berubah menjadi tuan putri salju.


Tapi, ketika mereka baru saja berniat untuk melakukan perubahan tersebut, sudah ada hempasan angin lain di depan mata mereka.


Satu kedipan lain, Laju sudah menghilang, berpindah tempat lima meter ke depannya.


Apa yang terjadi?


Apakah baru saja Laju melakukan teleportasi?


Itu tidak mungkin. Apa yang Nek Vignette lakukan tidak begitu berlebihan.


Atau Laju hanya melakukan lompatan saja?


Sejauh itu?


Secepat itu?


Itu tidak masalah.


Karena yang terjadi berikutnya, Laju sudah lebih dahulu menumbangkan lebih banyak manusia lain yang bertanggung jawab atas terlemparnya pria dwarf tadi, dan semua kerusakan dan kehancuran di Kannaris ini.


Yang Laju lakukan sebenarnya bukan menghantam memukul dengan terang-terangan pada korban. Ketika dia berhasil memotong jarak pada musuhnya, dia membiarkan musuh yang mendapatkan momentum untuk melakukan serangan padanya. Barulah pada saat musuh sudah siap melakukan serangan, Laju salurkan energi yang datang padanya untuk dia gunakan sebagai serangan pada musuhnya.


Sederhananya, Laju menggunakan serangan musuh untuk mengalahkan musuh.


Baik menjadi pukulan pada perut, pada dagu, pukulan dengan siku, pada gendang telinga, atau juga pada tengkuk. Satu pukulan yang efektif Laju berikan dengan maksimal pada setiap musuhnya. Sehingga, setelah empat menit sekian berlalu, sudah ada total delapan manusia – yang sedikit abnormal, yang tumbang oleh Laju.


Sampai pada akhirnya Laju kembali pada manusia bertato di tangan kanannya yang sudah berusaha bangkit berdiri melakukan balas dendam.


“Jadi, bisakah kita bicara sebentar?” Tanya Laju masih dengan mata yang sama.

__ADS_1


Manusia bertato ini tidak hanya bergidik takut dan gelisah begitu melihat Laju, dia juga langsung mengompol menunjukkan rasa gemetarnya. Meninggalkan Audy dan Delphia yang membatu begitu menyaksikan aksi Laju dengan tubuh barunya.


Satu hal yang Audy pahami, tidak aneh memang dia berhasil menyelesaikan misi di hutannya hanya kurun waktu dua minggu saja.


__ADS_2