Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 10


__ADS_3

Laju pun pergi ke sekolah.


Dia memutuskan untuk mempercayakan nasibnya pada Pak Ahmad, guru di


sekolahan yang katanya akan memberikan kabar terbaru mengenai surat undangan


akademi.


Tanpa pikir panjang lagi, Laju langsung memelesat untuk pergi masuk ke


gedung sekolah, melewati lorong pajangan, pergi ke ruang guru, mencari


kemanapun, bahkan hingga ruang kepala sekolah untuk mencari Pak Ahmad. Dia


sedikit kesal tidak bertanya dimana mereka akan bertemu di dalam sekolah ini.


Ujian akhir semester sudah selesai. Beberapa murid ada yang tetap


bersekolah, bercengkrama bermain bersama teman. Beberapa juga ada yang diam di


rumah. Untuk apa lagi? Keadaan sekolah hanya sedang menunggu pemasukan nilai


para murid, siapatau ada yang nilainya dibawah rata-rata untuk melakukan


remedial.


Jika semua keanehan ini tidak terjadi, tentu saja Laju akan tetap pergi


ke sekolah. Tentu saja bukan untuk menunggu nilai yang mungkin berada di bawah


rata-rata dan melakukan remedial. Nilainya sudah pasti sempurna. Laju sudah


yakin dia akan tetap mempertahankan posisinya sebagai murid terpintar nomor


satu. Dia pergi ke sekolah untuk alasan yang lain, yakni bermain dan


bercengkrama dengan teman-temannya.


Hal ini karena di rumahnya Laju selalu sendirian. Tidak ada teman untuk


bermain menghabiskan waktu bersama. Contohnya, seperti yang terjadi saat


latihan basket minggu kemarin, atau yang lain-lainnya. Tapi karena insiden


surat undangan itu terjadi, dia merasa pergi ke sekolah merepotkan dan tidak


ada manfaatnya lagi. Dia harus mencari jalan untuk mendapatkan surat undangan


masuk ke akademi.


Oleh karena itu, dia berharap dengan datangnya ia ke sekolah karena


ajakan Pak Ahmad, waktu ini tidak akan terbuang sia-sia. Kecuali waktu


pencarian dan menunggu kedatangan Pak Ahmad yang tidak diketahui oleh semua


petugas dan guru, selain pergi ke luar mengurus sesuatu.


Seperti biasa,   Laju berdiam diri


saja duduk di pohon rindang di taman kecil sekolahnya – yang ternyata masih


bersemi, sangat indah dan menyejukkan. Dia memilih tempat ini karena menjadi


tempat favoritnya untuk nongkrong berdiam diri di sekolahan. Biasanya, dia akan


menghabiskan waktu bercanda ria dengan teman kelasnya, dengan penggemarnya,


dengan siapapun, sampai murid yang tidak dikenalinya sekalipun.


Sekarang, dia tidak bisa begitu tenang, tidak bisa senang. Hidupnya


dalam bahaya, di antara hidup dan mati. Dia sudah terlalu terlanjur berbohong


kepada ayahnya, yang artinya semakin besar tekanan bagi Laju untuk tidak boleh


mengecewakannya.


“Aku harap Pak Ahmad adalah orang yang bisa aku percaya, orang yang bisa


menjadi sekutuku. Aku berharap dia bukanlah orang yang berada di pihak kepala


sekolah, yang bersekongkol untuk mencurangi surat undangan akademi itu. Ayolah


Pak Ahmad, jangan kecewakan semua rasa hormat ini selama mengajar di kelas!”


Harap Laju dalam hatinya.


Setelah menunggu kurang lebih satu jam sekian, mulai ada mobilitas yang


mencurigakan di ruang guru. Seperti terdapat perubahan, seperti ada sesuatu


yang baru. Karena bosan, Laju pun pergi menghampirinya dan mendapati bahwa Pak


Ahmad sudah pulang ke sekolah untuk mengurusi banyak hal lainnya.


Sebelum Laju yang menghampirinya, Pak Ahmad yang pertama menyadari


kehadiran Laju untuk disapa dan basa-basi memberikan salam. Setelahnya, Laju


menunggu di luar ruangan sementara Pak Ahmad bernegosiasi kepada guru-guru dan


petugas lain untuk memberikannya sedikit kelonggaran mengenai tugasnya untuk memasukan

__ADS_1


nilai murid, karena harus mengurusi Laju.


Setelah mendengar nama bocah itu, Pak Ahmad langsung diberikan kebebasan


dan kompensasi, karena mereka sadar bahwa pekerjaan yang dilakukan Pak Ahmad


sudah setara melakukan pekerjaan suci atas dasar loyalitasnya kepada dunia


pendidikan.


Pak Ahmad sedikit lega bahwa mereka langsung bisa memahami kondisinya.


“Maafkan bapak. Ada beberapa masalah yang harus diurusi terlebih dahulu.


Padahal tadi pagi Bapak yang telepon, ya? Hahaha!” Pak Ahmad keluar dari ruang


guru, mulai menemui dan menepuk Laju, berusaha menghiburnya dari semua


kebosanan yang harus Laju alami. “Maaf ya harus menuggu lama. Urusan-urusan


pekerjaan ini memang merepotkan,” lanjutnya mulai mengajak Laju untuk berjalan,


pergi dari ruang guru.


Laju memang kesal, sangat kesal. Tapi toh tidak ada lagi yang bisa dia


lakukan untuk mempercepat kedatangan dan informasi yang Pak Ahmad berikan. Bisa


jadi Pak Ahmad memang berusaha keras untuk memberikan informasi yang bisa


diandalkan untuk Laju.


“Bagaimana kalau kita pergi makan dulu? Hitung-hitung sebagai ucapan


maaf bapak,” tanya Pak Ahmad yang ternyata membawa Laju berjalan ke luar gedung


sekolah, siap pergi ke luar gerbang.


Ini yang Laju justru sesali. Dia tidak terlalu ingin basa-basi yang


merepotkan.


“Hah?” Laju kaget, juga heran. Dia berpikir, dan siap menjawab. “Yasudah


terserah, pak.” Ucapnya mengalihkan pandangan, dan sedikit decakan lidah.


“Ahahaha! Ayo-ayo!” Ajak Pak Ahmad, dengan senyum yang tidak tulus lagi.


Seperti yang diperkirakan oleh Laju, semua kekesalannya menjadi nyata.


Sesampainya di restoran yang biasa-biasa saja, Pak Ahmad mulai melakukan


basa-basi yang tidak disenangi oleh Laju. Beruntung makanannya lumayan normal,


fokus. Tapi, tentu saja Laju tetap merespon dengan anggukan atau apapun yang


bisa memuaskan hati Pak Ahmad dengan cerita-ceritanya.


Baru ketika makanan sudah habis menyisakan piring kotor, Pak Ahmad


terlihat akan menginisiasi obrolan tentang surat undangan, disusul dengan


suasana dan atmosfir yang sedikit serius. Kondisi ini sudah diduga oleh Laju,


sebagaimana dia pun sering melakukan hal ini kepada semua orang, juga Delphia.


Pergi ke restoran, membayarkan makanan untuk mereka agar bisa


mendapatkan hatinya, baru mulai melakukan pembicaraan serius.


“Oke baiklah, untuk surat undangan akademi itu akan bapak jelaskan


sekarang juga,” ucap Pak Ahmad dengan tatapan seriusnya.


Laju tidak perlu mengubah apapun dalam pose maupun fokusnya. Inilah


alasan dia datang, untuk mendapatkan informasi yang berharga terebut. Dia sudah


fokus sejak pergi dari rumah, mendinginkan kepalanya agar bisa berpikir dengan


optimal lagi.


Informasi yang diberikan Pak Ahmad nampaknya memang memberikan sedikit


kelegaan bagi Laju. Meskipun memang pihak sekolah belum bisa berbuat banyak


terhadap surat undangan tersebut – seperti yang Laju kira. Pak Ahmad memiliki


koneksi dari luar, tanpa ada hubungannya dengan sekolah, yang mungkin bisa


membantu Laju untuk tetap menjadi murid resmi akademi.


Laju memang tidak ingin mengurusi semua kemungkinan yang bisa ditawarkan


sekolah. Bahkan, tidak ada kemungkinan sama sekali yang bisa diberikan oleh


sekolah, kalau sang kepala sekolah yang dibencinya masih menjabat. Mungkin Laju


memang harus berurusan dengan banyak institusi di luar sekolahan untuk


membantunya tetap masuk ke akademi.


“Itu tidak masalah. selagi itu legal dan merupakan jalan yang aman,

__ADS_1


tidak ada salahnya melakukan kunjungan ke beberapa institusi di luar sekolah,”


jawab Laju terhadap ajuan yang Pak Ahmad berikan.


Selanjutnya, Pak Ahmad menghembuskan napas lega. “Baguslah kalau begitu.


Ini bapak berikan kartu namanya, kamu pergi saja langsung kesana,” ucap Pak


Ahmad sembari memberikan sebuah kartu dari dalam tasnya.


Laju menerimanya dan memerhatikannya perlahan.


Tidak ada yang aneh, tidak ada yang mencurigakan.


“Maaf sekali lagi bapak tidak bisa menemanimu. Seperti yang kamu lihat


sendiri di ruang guru, sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Bapak


pun tidak bisa selamanya bersikap tidak acuh terhadap pekerjaan itu. Ini sudah


jadi tanggung jawab bapak,” ucapnya memelas.


Dan sekali lagi, Pak Ahmad akan pergi meninggakan Laju untuk mengurusi


semuanya sendiri. Laju sebenarnya tidak begitu peduli bahwa Pak Ahmad tidak


bisa menemaninya. Tapi, alasan itu tampak berlebihan. Seperti Pak Ahmad


mengada-ngada, hanya berusaha menjauh dari Laju dan semua urusannya.


“Itu hanya sebuah kursus les biasa, atau mungkin tempat bimbingan


belajar. Tapi memang tidak semua orang tahu, karena begitu eksklusif dan mahal.


Total bimbingan siswa per tahun bahkan bisa dihitung dengan jari. Tapi Bapak


yakin untuk seseorang yang seperti kamu pasti bisa dengan mudah masuk dan


diterima jadi siswa bimbingan di sana.”


“Apakah pemilik tempat ini teman atau kenalan bapak?”


“Tidak. Bapak tidak tahu menahu tentang siapapun yang berada di balik bimbingan


belajar tersebut. Bapak hanya mencari dan mengeruk informasi dari siapapun yang


bisa dipercaya,” sangkal Pak Ahmad.


“Lalu… bisakah aku percaya-”


“Oh tenang saja! Bapak sudah melakukan banyak riset dan studi tentang


testimoni lulusan dari bimbingan belajar tersebut. Bahkan bapak pergi langsung


menemui siswa tersebut. Makanya bapak baru bisa pulang ke sekolah barusan.


Pagi-pagi harus mengejar siswa yang sudah jadi alumnus sebelum sibuk dengan


sekolah barunya.”


Laju memerhatikan kartu nama lebih seksama.


“Kalau untuk masalah akademi, pasti itu sudah menjadi makanan


sehari-hari bagi mereka. Kamu juga tidak perlu khawatir dengan urusan daftar


hitam dan segala macam yang diberikan akademi kepada sekolah. Itu urusan para


guru.”


“Baiklah.”


“Tenanglah, Ju. Kami benar-benar mendukung kamu sepenuhnya untuk sukses


dan bisa masuk ke sekolah impian. Untuk masalah kecurangan itu memang mungkin


ada kesalahan teknis atau segala macam. Kita juga sama-sama geram. Tapi ya


mungkin harus kita maklumi karena kita sama-sama manusia yang berbuat salah,”


Pak Ahmad mulai menepuk pundak Laju, memberikan kepastian bahwa dirinya berada


di pihak Laju.


Laju mengangguk memberikan respon.


Dan setelahnya, Laju terus mengeruk dan mencari informasi apa saja yang


Pak Ahmad dapatkan dari tempat bimbingan yang super eksklusif ini. Mungkin ini


juga sebagai pembalasan bagi Laju karena dikecewakan dengan Delphia. Dia


bertanya banyak dan sangat rinci terhadap semua hal yang berurusan dengan surat


undangan akademi, tentang masa depannya.


Tentu saja. ketika masa depanmu dipertaruhkan, tidak mungkin


dipercayakan kepada orang yang tidak bisa dipercaya, kan?


Beruntung Pak Ahmad masih memiliki waktu untuk berbicara, untuk


mengatkaan semua informasi yang Laju ingingkan dengan lancar.

__ADS_1


Laju semakin percaya diri.


__ADS_2