
Laju pun pergi ke sekolah.
Dia memutuskan untuk mempercayakan nasibnya pada Pak Ahmad, guru di
sekolahan yang katanya akan memberikan kabar terbaru mengenai surat undangan
akademi.
Tanpa pikir panjang lagi, Laju langsung memelesat untuk pergi masuk ke
gedung sekolah, melewati lorong pajangan, pergi ke ruang guru, mencari
kemanapun, bahkan hingga ruang kepala sekolah untuk mencari Pak Ahmad. Dia
sedikit kesal tidak bertanya dimana mereka akan bertemu di dalam sekolah ini.
Ujian akhir semester sudah selesai. Beberapa murid ada yang tetap
bersekolah, bercengkrama bermain bersama teman. Beberapa juga ada yang diam di
rumah. Untuk apa lagi? Keadaan sekolah hanya sedang menunggu pemasukan nilai
para murid, siapatau ada yang nilainya dibawah rata-rata untuk melakukan
remedial.
Jika semua keanehan ini tidak terjadi, tentu saja Laju akan tetap pergi
ke sekolah. Tentu saja bukan untuk menunggu nilai yang mungkin berada di bawah
rata-rata dan melakukan remedial. Nilainya sudah pasti sempurna. Laju sudah
yakin dia akan tetap mempertahankan posisinya sebagai murid terpintar nomor
satu. Dia pergi ke sekolah untuk alasan yang lain, yakni bermain dan
bercengkrama dengan teman-temannya.
Hal ini karena di rumahnya Laju selalu sendirian. Tidak ada teman untuk
bermain menghabiskan waktu bersama. Contohnya, seperti yang terjadi saat
latihan basket minggu kemarin, atau yang lain-lainnya. Tapi karena insiden
surat undangan itu terjadi, dia merasa pergi ke sekolah merepotkan dan tidak
ada manfaatnya lagi. Dia harus mencari jalan untuk mendapatkan surat undangan
masuk ke akademi.
Oleh karena itu, dia berharap dengan datangnya ia ke sekolah karena
ajakan Pak Ahmad, waktu ini tidak akan terbuang sia-sia. Kecuali waktu
pencarian dan menunggu kedatangan Pak Ahmad yang tidak diketahui oleh semua
petugas dan guru, selain pergi ke luar mengurus sesuatu.
Seperti biasa, Laju berdiam diri
saja duduk di pohon rindang di taman kecil sekolahnya – yang ternyata masih
bersemi, sangat indah dan menyejukkan. Dia memilih tempat ini karena menjadi
tempat favoritnya untuk nongkrong berdiam diri di sekolahan. Biasanya, dia akan
menghabiskan waktu bercanda ria dengan teman kelasnya, dengan penggemarnya,
dengan siapapun, sampai murid yang tidak dikenalinya sekalipun.
Sekarang, dia tidak bisa begitu tenang, tidak bisa senang. Hidupnya
dalam bahaya, di antara hidup dan mati. Dia sudah terlalu terlanjur berbohong
kepada ayahnya, yang artinya semakin besar tekanan bagi Laju untuk tidak boleh
mengecewakannya.
“Aku harap Pak Ahmad adalah orang yang bisa aku percaya, orang yang bisa
menjadi sekutuku. Aku berharap dia bukanlah orang yang berada di pihak kepala
sekolah, yang bersekongkol untuk mencurangi surat undangan akademi itu. Ayolah
Pak Ahmad, jangan kecewakan semua rasa hormat ini selama mengajar di kelas!”
Harap Laju dalam hatinya.
Setelah menunggu kurang lebih satu jam sekian, mulai ada mobilitas yang
mencurigakan di ruang guru. Seperti terdapat perubahan, seperti ada sesuatu
yang baru. Karena bosan, Laju pun pergi menghampirinya dan mendapati bahwa Pak
Ahmad sudah pulang ke sekolah untuk mengurusi banyak hal lainnya.
Sebelum Laju yang menghampirinya, Pak Ahmad yang pertama menyadari
kehadiran Laju untuk disapa dan basa-basi memberikan salam. Setelahnya, Laju
menunggu di luar ruangan sementara Pak Ahmad bernegosiasi kepada guru-guru dan
petugas lain untuk memberikannya sedikit kelonggaran mengenai tugasnya untuk memasukan
__ADS_1
nilai murid, karena harus mengurusi Laju.
Setelah mendengar nama bocah itu, Pak Ahmad langsung diberikan kebebasan
dan kompensasi, karena mereka sadar bahwa pekerjaan yang dilakukan Pak Ahmad
sudah setara melakukan pekerjaan suci atas dasar loyalitasnya kepada dunia
pendidikan.
Pak Ahmad sedikit lega bahwa mereka langsung bisa memahami kondisinya.
“Maafkan bapak. Ada beberapa masalah yang harus diurusi terlebih dahulu.
Padahal tadi pagi Bapak yang telepon, ya? Hahaha!” Pak Ahmad keluar dari ruang
guru, mulai menemui dan menepuk Laju, berusaha menghiburnya dari semua
kebosanan yang harus Laju alami. “Maaf ya harus menuggu lama. Urusan-urusan
pekerjaan ini memang merepotkan,” lanjutnya mulai mengajak Laju untuk berjalan,
pergi dari ruang guru.
Laju memang kesal, sangat kesal. Tapi toh tidak ada lagi yang bisa dia
lakukan untuk mempercepat kedatangan dan informasi yang Pak Ahmad berikan. Bisa
jadi Pak Ahmad memang berusaha keras untuk memberikan informasi yang bisa
diandalkan untuk Laju.
“Bagaimana kalau kita pergi makan dulu? Hitung-hitung sebagai ucapan
maaf bapak,” tanya Pak Ahmad yang ternyata membawa Laju berjalan ke luar gedung
sekolah, siap pergi ke luar gerbang.
Ini yang Laju justru sesali. Dia tidak terlalu ingin basa-basi yang
merepotkan.
“Hah?” Laju kaget, juga heran. Dia berpikir, dan siap menjawab. “Yasudah
terserah, pak.” Ucapnya mengalihkan pandangan, dan sedikit decakan lidah.
“Ahahaha! Ayo-ayo!” Ajak Pak Ahmad, dengan senyum yang tidak tulus lagi.
Seperti yang diperkirakan oleh Laju, semua kekesalannya menjadi nyata.
Sesampainya di restoran yang biasa-biasa saja, Pak Ahmad mulai melakukan
basa-basi yang tidak disenangi oleh Laju. Beruntung makanannya lumayan normal,
fokus. Tapi, tentu saja Laju tetap merespon dengan anggukan atau apapun yang
bisa memuaskan hati Pak Ahmad dengan cerita-ceritanya.
Baru ketika makanan sudah habis menyisakan piring kotor, Pak Ahmad
terlihat akan menginisiasi obrolan tentang surat undangan, disusul dengan
suasana dan atmosfir yang sedikit serius. Kondisi ini sudah diduga oleh Laju,
sebagaimana dia pun sering melakukan hal ini kepada semua orang, juga Delphia.
Pergi ke restoran, membayarkan makanan untuk mereka agar bisa
mendapatkan hatinya, baru mulai melakukan pembicaraan serius.
“Oke baiklah, untuk surat undangan akademi itu akan bapak jelaskan
sekarang juga,” ucap Pak Ahmad dengan tatapan seriusnya.
Laju tidak perlu mengubah apapun dalam pose maupun fokusnya. Inilah
alasan dia datang, untuk mendapatkan informasi yang berharga terebut. Dia sudah
fokus sejak pergi dari rumah, mendinginkan kepalanya agar bisa berpikir dengan
optimal lagi.
Informasi yang diberikan Pak Ahmad nampaknya memang memberikan sedikit
kelegaan bagi Laju. Meskipun memang pihak sekolah belum bisa berbuat banyak
terhadap surat undangan tersebut – seperti yang Laju kira. Pak Ahmad memiliki
koneksi dari luar, tanpa ada hubungannya dengan sekolah, yang mungkin bisa
membantu Laju untuk tetap menjadi murid resmi akademi.
Laju memang tidak ingin mengurusi semua kemungkinan yang bisa ditawarkan
sekolah. Bahkan, tidak ada kemungkinan sama sekali yang bisa diberikan oleh
sekolah, kalau sang kepala sekolah yang dibencinya masih menjabat. Mungkin Laju
memang harus berurusan dengan banyak institusi di luar sekolahan untuk
membantunya tetap masuk ke akademi.
“Itu tidak masalah. selagi itu legal dan merupakan jalan yang aman,
__ADS_1
tidak ada salahnya melakukan kunjungan ke beberapa institusi di luar sekolah,”
jawab Laju terhadap ajuan yang Pak Ahmad berikan.
Selanjutnya, Pak Ahmad menghembuskan napas lega. “Baguslah kalau begitu.
Ini bapak berikan kartu namanya, kamu pergi saja langsung kesana,” ucap Pak
Ahmad sembari memberikan sebuah kartu dari dalam tasnya.
Laju menerimanya dan memerhatikannya perlahan.
Tidak ada yang aneh, tidak ada yang mencurigakan.
“Maaf sekali lagi bapak tidak bisa menemanimu. Seperti yang kamu lihat
sendiri di ruang guru, sedang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Bapak
pun tidak bisa selamanya bersikap tidak acuh terhadap pekerjaan itu. Ini sudah
jadi tanggung jawab bapak,” ucapnya memelas.
Dan sekali lagi, Pak Ahmad akan pergi meninggakan Laju untuk mengurusi
semuanya sendiri. Laju sebenarnya tidak begitu peduli bahwa Pak Ahmad tidak
bisa menemaninya. Tapi, alasan itu tampak berlebihan. Seperti Pak Ahmad
mengada-ngada, hanya berusaha menjauh dari Laju dan semua urusannya.
“Itu hanya sebuah kursus les biasa, atau mungkin tempat bimbingan
belajar. Tapi memang tidak semua orang tahu, karena begitu eksklusif dan mahal.
Total bimbingan siswa per tahun bahkan bisa dihitung dengan jari. Tapi Bapak
yakin untuk seseorang yang seperti kamu pasti bisa dengan mudah masuk dan
diterima jadi siswa bimbingan di sana.”
“Apakah pemilik tempat ini teman atau kenalan bapak?”
“Tidak. Bapak tidak tahu menahu tentang siapapun yang berada di balik bimbingan
belajar tersebut. Bapak hanya mencari dan mengeruk informasi dari siapapun yang
bisa dipercaya,” sangkal Pak Ahmad.
“Lalu… bisakah aku percaya-”
“Oh tenang saja! Bapak sudah melakukan banyak riset dan studi tentang
testimoni lulusan dari bimbingan belajar tersebut. Bahkan bapak pergi langsung
menemui siswa tersebut. Makanya bapak baru bisa pulang ke sekolah barusan.
Pagi-pagi harus mengejar siswa yang sudah jadi alumnus sebelum sibuk dengan
sekolah barunya.”
Laju memerhatikan kartu nama lebih seksama.
“Kalau untuk masalah akademi, pasti itu sudah menjadi makanan
sehari-hari bagi mereka. Kamu juga tidak perlu khawatir dengan urusan daftar
hitam dan segala macam yang diberikan akademi kepada sekolah. Itu urusan para
guru.”
“Baiklah.”
“Tenanglah, Ju. Kami benar-benar mendukung kamu sepenuhnya untuk sukses
dan bisa masuk ke sekolah impian. Untuk masalah kecurangan itu memang mungkin
ada kesalahan teknis atau segala macam. Kita juga sama-sama geram. Tapi ya
mungkin harus kita maklumi karena kita sama-sama manusia yang berbuat salah,”
Pak Ahmad mulai menepuk pundak Laju, memberikan kepastian bahwa dirinya berada
di pihak Laju.
Laju mengangguk memberikan respon.
Dan setelahnya, Laju terus mengeruk dan mencari informasi apa saja yang
Pak Ahmad dapatkan dari tempat bimbingan yang super eksklusif ini. Mungkin ini
juga sebagai pembalasan bagi Laju karena dikecewakan dengan Delphia. Dia
bertanya banyak dan sangat rinci terhadap semua hal yang berurusan dengan surat
undangan akademi, tentang masa depannya.
Tentu saja. ketika masa depanmu dipertaruhkan, tidak mungkin
dipercayakan kepada orang yang tidak bisa dipercaya, kan?
Beruntung Pak Ahmad masih memiliki waktu untuk berbicara, untuk
mengatkaan semua informasi yang Laju ingingkan dengan lancar.
__ADS_1
Laju semakin percaya diri.