Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 17


__ADS_3

“Lama sekali mereka datangnya,” keluh Laju bukan pada siapapun.


“Harusnya kejadian gila ini masuk berita, kan? Pemerintah tidak bergerak apa?


Dimana tim evakuasinya!?” Lanjutnya.


Masih seperti biasa, Delphia tidak merespon apapun.


“Aarrghhh!” Laju mendengus.


Tangannya kembali dilipat di depan dada, dilanjutkan untuk melihat


suasana sekitar yang tidak ada indah-indahnya sama sekali, selain tanah yang


gersang dan air yang kotor.


Laju masih duduk diam di gerbong sebelas.


Tidak. Laju tidak duduk dengan diam dan tenang. Kakinya bergerak-gerak,


menghentakkannya ke lantai kereta berkali-kali. Wajar saja. Waktu sudah berlalu


dua jam lebih sejak ledakan terjadi. Harusnya sudah ada gerakan dari pemerintah,


kan? Kenapa kondektur tidak bergerak cepat? Kenapa tidak ada bantuan yang


datang? Kenapa tidak ada yang menhubungi pihak berwajib?


Jangan tanya Laju. Dia tidak bisa menghubungi mereka dengan apapun.


Laju geram. Dia bosan, tidak bisa menikmati waktunya untuk menunggu.


Telepon genggamnya hilang dicuri entah oleh siapa, Delphia bukan orang yang


bisa diajak bicara, dan pemandangan sekitar hanya membuatnya mual. Dia tidak


bisa menghabiskan waktunya dengan tenang dan nyaman.


Setelahnya, karena rasa sabar yang tidak dapat terbendung lagi, Laju


memutuskan untuk berdiri tegak, mengeratkan genggamannya, menguatkan


komitmennya, dan memutuskan untuk pergi mencari pertolongan sendiri.


Laju sempat menoleh Delphia. Entahlah apa yang diharapkan oleh Laju.


Apakah persetujuannya – persetujuan seorang gadis asing yang kebetulan menjadi


pemandunya karena bisa melihat masa depan? Entahlah. Apakah dia benar-benar


melihat masa depan atau ada kekuatan aneh lainnya. Jangan lupa kalau Delphia


bukanlah manusia.


Delphia balas menoleh. Tapi, dia langsung menunduk lagi seperti


ketakutan. Delphia masih terlihat ragu-ragu, menutup diri, dan yang paling


penting adalah dia masih tidak berbicara.


Laju juga heran sendiri untuk apa dia menoleh Delphia. Dia tidak ingin


membahasnya, tidak ingin memikirkannya. Bukannya Laju butuh Delphia juga untuk


semua aktivitas yang akan dilakukannya. Selama ini, selama dia hidup, dia bisa


hidup dengan mudah karena dirinya sendiri juga, kan?


Laju buka pintu kereta, melangkah dengan pasti, melewati puing-puing


yang tersisa yang mengganggu, melompat keluar dari kereta yang tidak berbentuk


itu.


Di depannya, dengan jarak yang cukup jauh sekitar 500-600 meter,


samar-samar terlihat sisa gerbong yang juga telah berubah menjadi puing. Sudah berhenti,


tidak ada tanda-tanda akan bergerak lagi. Itu gerbong dua yang separuhnya


terpotong juga. Laju tahu jika pergi mendekatinya, itu bukanlah jalan pulang.


Itu berlawanan dari arah dia datang.


Tapi tidak ada salahnya untuk jalan sebentar.


Bisa jadi dia bisa mendapatkan informasi, atau mungkin makanan.


Baru melangkah sebentar, terdengar suara besi yang terinjak di


belakangnya. Laju menoleh dengan sinis dan tidak peduli, itu Delphia. Dia


mengikutinya. Itu memang sudah Laju kira. Tapi melihatnya langsung bahwa gadis


aneh itu pergi mengikutinya sangat mengesalkan.


Sekarang, Laju dan Delphia berjalan pelan menuju sisa gerbong dua dengan


pelan. Meskipun konteksnya bahwa mereka berjalan bersama, nyatanya terdapat


jarak antara Laju dan Delphia. Mereka tidak benar-benar jalan bergandengan


karena Laju berada 4 meter di depan Delphia dan tidak ada niatan untuk


menurunkan tempo dan kecepatan jalannya.


Untuk apa?


Laju hanya mendengus saja.


Tapi, sebelum mereka bisa mendapatkan apapun untuk menyelamatkan mereka


baik dari kelaparan atau dari bencana ini, Laju mendapati sesosok yang lebih


aneh dan lebih tidak masuk akal lainnya setelah gadis di belakangnya.


Delphia, hanyalah seorang gadis biasa yang terlihat benar-benar seperti


manusia, dengan rambut coklat, kulit sawo matang, dengan tinggi sekitar 160


senti, dan sebagainya. Pokoknya, Delphia masih bisa Laju kategorikan sebagai


manusia jika melihat dari perawakannya, melupakan mata berliannya dan


kemampuannya apapun itu.


Di depan Laju sekarang, itu sudah bukan manusia lagi.


Laju tidak mengenalnya, karena memang tidak melihatnya secara langsung


sebelumnya. Dia bertemu penjahat yang sebelumnya dipanggil sang kakak ketika dia


sedang terikat di gerbong sepuluh.


Laju memasang kuda-kuda posisi bertahan dan siap bertengkar, ketika


melihat monster aneh di depannya. Monster besar dengan tinggi tiga meter lebih,


yang sedang mengangkut enam orang di bahunya, dengan badan berotot yang tidak


masuk akal, dan kaki yang juga sama tidak masuk akalnya karena seperti kaki


binatang dengan persendian anehnya, dengan telapak kaki datarnya, dan dua kuku


besar di depannya.


Siapa dia? Laju hanya bisa mengingat perawakan banteng yang cocok


dengannya.


Kenapa ada seorang monster yang sangat besar di depannya ini?


Mau apa dia?


Sang kakak yang sedang sibuk dan lelah sangat terganggu dengan kehadiran

__ADS_1


Laju dan Delphia yang menyusul di belakangnya. Keduanya terlihat seperti


binatang  dan serangga kecil tidak


penting yang mengganggu jalannya.


Awalnya, sang kakak berpikir ini akan merepotkan. Sampai dia mengingat


ide yang cemerlang begitu muatannya diturunkan. “Ayo kita tes sebarapa kuat


serum ini, bocah!” ajaknya kepada Laju yang masih melongo melihat perawakan


sang kakak yang terlihat tiga kali lebih besarnya itu.


Woosh!


Tanpa basa-basi, setelah kawan-kawannya diturunkan semua, sang kakak


langsung memberikan pukulan yang sangat cepat.


Jika dia melawan manusia biasa, mereka pasti sudah terpental jauh dan


tidak sadarkan diri. Tapi jangan salah, yang kakak lawan ini adalah Laju,


seorang manusia super spesial yang sama sekali tidak normal.


Meskipun dengan kondisi yang tidak benar-benar prima karena masih


terpukau dengan kekagetannya pada tubuh sang kakak, pukulan yang besar dan kuat


itu bisa dihindari dengan mudah. Laju bisa melihatnya dengan jelas seakan waktu


sedang berhenti, lalu menghindarinya dengan cepat.


Dengan refleksnya yang luar biasa tersebut, tanpa sadar tangan Laju pun


langsung melindungi dan menyingkirkan Delphia yang berada di belakangnya untuk


ikut menghindari pukulan sang kakak.


“Heh,” Laju tersenyum mengejek kepada sang kakak.


Dengan Delphia yang sudah mengevakuasi diri di tempat yang lebih aman,


Laju melanjutkan perkelahian yang didominasi satu sisi tersebut – tentu saja


didominasi oleh Laju. Sebenarnya, Laju tidak memiliki banyak pengalaman jika


harus melawan lawannya dengan tangan kosong. Oleh karena itu, yang Laju lakukan


sekarang hanya menghindari saja banyak pukulan dari sang kakak.


Hup! Hup!


Pukulan-pukulan lain dilancarkan lagi oleh sang kakak. Tapi, lagi-lagi


Laju selalu saja bisa menghindari pukulan yang dirasa semakin lambat tersebut.


Karena ceroboh, kesal, dan kelelahan, sang kakak akhirnya mulai


memberikan celah untuk Laju melakukan serangan balasan. Dengan nyali dan rasa


percaya dirinya yang besar, Laju mencoba untuk memberikan pukulan balasan


kepada tubuh sang kakak terbuka tanpa pertahanan tersebut.


Ketika sang kakak memukul dengan tangan kanannya, Laju yang menyadari


pertahanan terbuka lebar di tubuh bagian kiri sang kakak mulai masuk dengan


cepat dan gesit untuk memberikan pukulan uppercut dengan mantap pada bagian dagu sang kakak.


BUG!!!


Pukulan tersebut telak mengenai sang kakak.


Dengan tubuhnya yang besar tersebut, dia terkejut karena bisa dipukul


mundur oleh serangan Laju yang berat badannya bahkan jauh dibawahnya. Apa


Sebelum dia berpikir lebih jauh, pukulan lain sudah diberikan tanpa


ancang-ancang yang baik. Pukulan itu kurang lebih hanya berlandaskan emosi,


tanpa ada tujuan di belakangnya. “Aaaarrrggggghhhh!” Teriak sang kakak sambil


berlari menuju Laju.


Melihat larinya yang ceroboh itu, Laju hanya bisa tertawa.


Dengan kondisinya yang masih prima, Laju bisa berpikir dengan jernih


bahwa ada solusi yang mudah untuk memberikan serangan balik kepada sang kakak. Setelah


menunggu waktu yang tepat, Laju memutuskan untuk bergeser berpindah tempat


sedikit untuk bisa menjulurkan kakinya pada laju lari sang kakak.


BUGH!!!


Dan betul saja, sang kakak langsung tersandung kaki Laju sampai terjatuh


dan terbanting ke atas tanah dengan memalukan.


Dengan kesempatan yang sangat terbuka lebar tersebut, Laju langsung


menaiki punggung sang kakak untuk memberikan pukulan balasan, dan mengakhiri


pertarungan tersebut dengan menargetkan tengkuk sang kakak.


BUK!


Seketika, sang kakak langsung tak sadarkan diri.


Delphia yang melihat pertarungan telah selesai memutuskan melihat ke


kanan dan kiri untuk memastikan bahwa kondisi sudah aman. Dia melihat Laju yang


bangkit dari punggung sang kakak untuk berdiri tegak, menghembuskan napas


lelah, dan membersihkan debu-debu di bajunya. Dengan ragu-ragu, dengan takut, juga


senyum yang canggung, Delphia memberikan jempol pada Laju, seakan memuji dan


berkata kepadanya ‘kerja bagus’.


Laju tidak butuh itu. Pujian dari orang asing tidak berarti apa-apa


padanya. Dia sudah terlalu sering mendapat pujian di seluruh hidupnya. Tapi,


dia tetap kaget dan terkejut dengan jempol yang Delphia berikan.


“Heh,” Laju hanya menjawabnya dengan dengusan andalannya.


Ketika mereka berpikir bahwa semuanya sudah selesai dan kembali normal,


sehingga mereka bisa melanjutkan perjalanan mereka menuju gerbong dua untuk


mencari informasi. Di atas muatan yang barusan dibawa oleh sang kakak, terlihat


seorang wanita yang sedang bermain-main, menyentuh, dan menjamah keenam orang


yang tidak sadarkan diri tersebut.


“Hng?” Laju heran. Sejak kapan wanita tersebut berada di depannya?


Bajunya terlihat sangat formal karena menggunakan jas. Apakah wanita


tersebut berasal dari pemerintahan? Apakah dia adalah bagian dari tim evakuasi?


Laju melihat sekeliling. Harusnya tim evakuasi tidak datang sendirian, kan?


Kemana yang lainnya?


“Kamu hebat juga, dik. Terima kasih ya sudah mengurusi penjahat-penjahat

__ADS_1


ini,” ucap wanita tersebut, dengan suara yang indah, dan senyum yang lebar.


Laju ber-oh sebentar. Entah kenapa, pujian dari sang wanita terdengar


berbeda dari kebanyakan pujian orang-orang pada umumnya. Lebih terasa tulus, lebih


menyentuh hati terdalam Laju dengan lembut. Laju pun tersenyum.


“Heh! Itu mudah saja. Saya memang punya banyak kelebihan dari orang


biasa,” ucap Laju dengan sombong, berbusung dada, memamerkan kehebatannya.


“Oh, iya? Hebat juga kamu, dik! Memangnya seberapa banyak kelebihanmu


itu?” Tanya sang wanita, sambil memajukan badannya, terlihat penasaran.


“Haha! Saya itu manusia spesial! Kalau masalah refleks sih buk-” belum


sempat Laju menyelesaikan ucapannya, sudah terlihat serangan dari sang wanita.


SYUT!


Lebih cepat dan gesit dari sang kakak, pukulan sang wanita lebih


terkesan menikam dengan runcing daripada menghantam dengan kuat seperti sang


kakak. Tapi, seperti yang baru saja Laju bilang, refleksnya tidak main-main. Karena


memiliki pola serangan yang serupa dengan sang kakak, serangan wanita yang


meluncur ini bisa Laju hindari dengan mudah.


Tapi, yang tidak diketahui Laju adalah bahwa ketika dirinya sedang berusaha


untuk memiringkan tubuhnya, ketika dia sedang berusaha menghindari serangan yang


meluncur dengan cepat tersebut. Ada suara aneh, ada aura aneh, ada perasaan


aneh yang tepat berada di depan tubuh dan mukanya.


ITU PUKULAN SANG WANITA!


Apa yang terjadi? Bukankah pukulannya baru saja Laju hindari?


BUGH!


Beruntung, pukulan yang diluncurkan sang wanita tidak setajam yang Laju


kira, meskipun ada perasaan kejut yang aneh seperti baru saja disengat listrik.


Pukulan ini kurang lebih hanya pukulan biasa dan normal tanpa ada niatan untuk


menikam atau menghancurkan organ dalam dari sang musuh.


MESKIPUN BEGITU, LAJU TETAP SAJA TERPENTAL!!!


Kekuatan yang wanita berikan itu hampir saja mematahkan tulang hidung


Laju, juga tengkorak Laju. Dia sebenarnya bisa merasakan retakan, tapi


entahlah. Apakah tulang-tulang tersebut benar patah atau tidak, Laju tidak


ambil pusing.


Pentalan tersebut menyeret Laju lebih jauh dari posisi sang kakak yang


sudah tersungkur, bahkan lebih jauh dari posisi Delphia yang sedang bersembunyi


tadi.


Delphia panik. Dia terkejut, dia kaget. Laju baru saja terpental jauh akibat


pukulan sang wanita yang dikira Laju bagian dari tim evakuasi yang akan


menyelamatkan mereka dari bencana ledakan kereta ini.


“APA YANG KAKAK LAKUKAN!? BUKANKAH KAKAK HARUSNYA MENYELAMATKAN KITA!?


DIMANA TIM EVAKUASINYA, SIH?” Teriak Laju yang langsung bangun, sambil


mengerang, dengan hidung yang berdarah, mimsan. “ARRKKH!”


Wanita tersebut rupanya masih tersenyum. Ketika mendengar keluhan Laju,


dia perlahan mendekatinya dengan senyum yang justru malah mengerikan. Laju yang


baru separuh bangun belum siap untuk melawan balik. Dia hanya perlahan mundur,


berusaha menjaga jarak dengan sang wanita.


“Loh? Siapa yang bilang bahwa saya akan menyelamatkan kalian?” Tanya


sang wanita sambil membungkuk pada Laju, sekaligus praktis membuat Delphia langsung


gemetaran ketakutan, juga terjatuh berusaha melindungi diri.


Sementara itu, Laju hanya berusaha menguatkan dan mengeratkan genggaman


tangannya saja, bersiap pada skenario terburuknya.


Wanita tersebut sekarang berdiri dan mengambil pistol dari balik jasnya


yang diarahkan kepada Laju. Meskipun kehidupan Bos Alex dan kelompoknya


sangatlah berbahaya, rasanya ditodongkan pistol seperti ini tetap memberikan perasaan


campur aduk yang aneh. Tentu saja Laju ketakutan, tapi ada juga rasa girang


yang membuatnya menggertakkan gignya, tersenyum menghadapi sang wanita.


DOR!!


Peluru ditembakkan tanpa basa-basi, tanpa pandang bulu.


Laju sebenarnya masih bisa membuka matanya, berusaha untuk mengelak, dan


menghindari tembakan tersebut. Kemarin saja dia bisa menghindari pisau yang dilempar


kepadanya dengan cepat. Harusnya itu tidak ada bedanya dengan pistol ini, kan?


Tapi rupanya Laju tidak perlu melakukannya.


“Hahaha!” Tawa sang wanita dengen menjengkelkan. “Maaf, maaf! Aku hanya


usil saja. Tapi, tekad kamu boleh juga dik,” ucap sang wanita setelahnya, sembari


menyimpan pistol ke dalam sakunya. Peluru tersebut ternyata hanya ditembakkan


pada tanah. Tapi, dengan akurasi yang sangat baik, peluru tersebut berhasil


mengikis sedikit pipi Laju.


“Tapi, yang lebih membuat saya takjub adalah gadis kecil ini,” lanjut


sang wanita kembali membungkuk, mendekati Delphia.


DINGIN!!


Tunggu, sejak kapan!?


Laju menoleh perlahan. Gadis di sampingnya yang berusaha melindunginya


ini sekarang sudah berubah. Berubah menjadi mata berliannya, dengan rambut


sutra putihnya, dengan tangannya yang diliputi es, juga tanah di sekitarnya,


membuat udara dan suhu sekitar menjadi sangat dingin.


Wanita tersebut mendekati Delphia. Dia menatap dengan penasaran es yang


berada di sekitarnya, dilanjut dengan sekujur tubuhnya, mukanya, lalu mata


berliannya.


“Tuan Putri,” Ucap sang wanita sambil menunduk hormat kepada Delphia.

__ADS_1


“Maukah tua-… kalian ikut bersamaku?” Tanyanya kemudian.


__ADS_2