
“Lama sekali mereka datangnya,” keluh Laju bukan pada siapapun.
“Harusnya kejadian gila ini masuk berita, kan? Pemerintah tidak bergerak apa?
Dimana tim evakuasinya!?” Lanjutnya.
Masih seperti biasa, Delphia tidak merespon apapun.
“Aarrghhh!” Laju mendengus.
Tangannya kembali dilipat di depan dada, dilanjutkan untuk melihat
suasana sekitar yang tidak ada indah-indahnya sama sekali, selain tanah yang
gersang dan air yang kotor.
Laju masih duduk diam di gerbong sebelas.
Tidak. Laju tidak duduk dengan diam dan tenang. Kakinya bergerak-gerak,
menghentakkannya ke lantai kereta berkali-kali. Wajar saja. Waktu sudah berlalu
dua jam lebih sejak ledakan terjadi. Harusnya sudah ada gerakan dari pemerintah,
kan? Kenapa kondektur tidak bergerak cepat? Kenapa tidak ada bantuan yang
datang? Kenapa tidak ada yang menhubungi pihak berwajib?
Jangan tanya Laju. Dia tidak bisa menghubungi mereka dengan apapun.
Laju geram. Dia bosan, tidak bisa menikmati waktunya untuk menunggu.
Telepon genggamnya hilang dicuri entah oleh siapa, Delphia bukan orang yang
bisa diajak bicara, dan pemandangan sekitar hanya membuatnya mual. Dia tidak
bisa menghabiskan waktunya dengan tenang dan nyaman.
Setelahnya, karena rasa sabar yang tidak dapat terbendung lagi, Laju
memutuskan untuk berdiri tegak, mengeratkan genggamannya, menguatkan
komitmennya, dan memutuskan untuk pergi mencari pertolongan sendiri.
Laju sempat menoleh Delphia. Entahlah apa yang diharapkan oleh Laju.
Apakah persetujuannya – persetujuan seorang gadis asing yang kebetulan menjadi
pemandunya karena bisa melihat masa depan? Entahlah. Apakah dia benar-benar
melihat masa depan atau ada kekuatan aneh lainnya. Jangan lupa kalau Delphia
bukanlah manusia.
Delphia balas menoleh. Tapi, dia langsung menunduk lagi seperti
ketakutan. Delphia masih terlihat ragu-ragu, menutup diri, dan yang paling
penting adalah dia masih tidak berbicara.
Laju juga heran sendiri untuk apa dia menoleh Delphia. Dia tidak ingin
membahasnya, tidak ingin memikirkannya. Bukannya Laju butuh Delphia juga untuk
semua aktivitas yang akan dilakukannya. Selama ini, selama dia hidup, dia bisa
hidup dengan mudah karena dirinya sendiri juga, kan?
Laju buka pintu kereta, melangkah dengan pasti, melewati puing-puing
yang tersisa yang mengganggu, melompat keluar dari kereta yang tidak berbentuk
itu.
Di depannya, dengan jarak yang cukup jauh sekitar 500-600 meter,
samar-samar terlihat sisa gerbong yang juga telah berubah menjadi puing. Sudah berhenti,
tidak ada tanda-tanda akan bergerak lagi. Itu gerbong dua yang separuhnya
terpotong juga. Laju tahu jika pergi mendekatinya, itu bukanlah jalan pulang.
Itu berlawanan dari arah dia datang.
Tapi tidak ada salahnya untuk jalan sebentar.
Bisa jadi dia bisa mendapatkan informasi, atau mungkin makanan.
Baru melangkah sebentar, terdengar suara besi yang terinjak di
belakangnya. Laju menoleh dengan sinis dan tidak peduli, itu Delphia. Dia
mengikutinya. Itu memang sudah Laju kira. Tapi melihatnya langsung bahwa gadis
aneh itu pergi mengikutinya sangat mengesalkan.
Sekarang, Laju dan Delphia berjalan pelan menuju sisa gerbong dua dengan
pelan. Meskipun konteksnya bahwa mereka berjalan bersama, nyatanya terdapat
jarak antara Laju dan Delphia. Mereka tidak benar-benar jalan bergandengan
karena Laju berada 4 meter di depan Delphia dan tidak ada niatan untuk
menurunkan tempo dan kecepatan jalannya.
Untuk apa?
Laju hanya mendengus saja.
Tapi, sebelum mereka bisa mendapatkan apapun untuk menyelamatkan mereka
baik dari kelaparan atau dari bencana ini, Laju mendapati sesosok yang lebih
aneh dan lebih tidak masuk akal lainnya setelah gadis di belakangnya.
Delphia, hanyalah seorang gadis biasa yang terlihat benar-benar seperti
manusia, dengan rambut coklat, kulit sawo matang, dengan tinggi sekitar 160
senti, dan sebagainya. Pokoknya, Delphia masih bisa Laju kategorikan sebagai
manusia jika melihat dari perawakannya, melupakan mata berliannya dan
kemampuannya apapun itu.
Di depan Laju sekarang, itu sudah bukan manusia lagi.
Laju tidak mengenalnya, karena memang tidak melihatnya secara langsung
sebelumnya. Dia bertemu penjahat yang sebelumnya dipanggil sang kakak ketika dia
sedang terikat di gerbong sepuluh.
Laju memasang kuda-kuda posisi bertahan dan siap bertengkar, ketika
melihat monster aneh di depannya. Monster besar dengan tinggi tiga meter lebih,
yang sedang mengangkut enam orang di bahunya, dengan badan berotot yang tidak
masuk akal, dan kaki yang juga sama tidak masuk akalnya karena seperti kaki
binatang dengan persendian anehnya, dengan telapak kaki datarnya, dan dua kuku
besar di depannya.
Siapa dia? Laju hanya bisa mengingat perawakan banteng yang cocok
dengannya.
Kenapa ada seorang monster yang sangat besar di depannya ini?
Mau apa dia?
Sang kakak yang sedang sibuk dan lelah sangat terganggu dengan kehadiran
__ADS_1
Laju dan Delphia yang menyusul di belakangnya. Keduanya terlihat seperti
binatang dan serangga kecil tidak
penting yang mengganggu jalannya.
Awalnya, sang kakak berpikir ini akan merepotkan. Sampai dia mengingat
ide yang cemerlang begitu muatannya diturunkan. “Ayo kita tes sebarapa kuat
serum ini, bocah!” ajaknya kepada Laju yang masih melongo melihat perawakan
sang kakak yang terlihat tiga kali lebih besarnya itu.
Woosh!
Tanpa basa-basi, setelah kawan-kawannya diturunkan semua, sang kakak
langsung memberikan pukulan yang sangat cepat.
Jika dia melawan manusia biasa, mereka pasti sudah terpental jauh dan
tidak sadarkan diri. Tapi jangan salah, yang kakak lawan ini adalah Laju,
seorang manusia super spesial yang sama sekali tidak normal.
Meskipun dengan kondisi yang tidak benar-benar prima karena masih
terpukau dengan kekagetannya pada tubuh sang kakak, pukulan yang besar dan kuat
itu bisa dihindari dengan mudah. Laju bisa melihatnya dengan jelas seakan waktu
sedang berhenti, lalu menghindarinya dengan cepat.
Dengan refleksnya yang luar biasa tersebut, tanpa sadar tangan Laju pun
langsung melindungi dan menyingkirkan Delphia yang berada di belakangnya untuk
ikut menghindari pukulan sang kakak.
“Heh,” Laju tersenyum mengejek kepada sang kakak.
Dengan Delphia yang sudah mengevakuasi diri di tempat yang lebih aman,
Laju melanjutkan perkelahian yang didominasi satu sisi tersebut – tentu saja
didominasi oleh Laju. Sebenarnya, Laju tidak memiliki banyak pengalaman jika
harus melawan lawannya dengan tangan kosong. Oleh karena itu, yang Laju lakukan
sekarang hanya menghindari saja banyak pukulan dari sang kakak.
Hup! Hup!
Pukulan-pukulan lain dilancarkan lagi oleh sang kakak. Tapi, lagi-lagi
Laju selalu saja bisa menghindari pukulan yang dirasa semakin lambat tersebut.
Karena ceroboh, kesal, dan kelelahan, sang kakak akhirnya mulai
memberikan celah untuk Laju melakukan serangan balasan. Dengan nyali dan rasa
percaya dirinya yang besar, Laju mencoba untuk memberikan pukulan balasan
kepada tubuh sang kakak terbuka tanpa pertahanan tersebut.
Ketika sang kakak memukul dengan tangan kanannya, Laju yang menyadari
pertahanan terbuka lebar di tubuh bagian kiri sang kakak mulai masuk dengan
cepat dan gesit untuk memberikan pukulan uppercut dengan mantap pada bagian dagu sang kakak.
BUG!!!
Pukulan tersebut telak mengenai sang kakak.
Dengan tubuhnya yang besar tersebut, dia terkejut karena bisa dipukul
mundur oleh serangan Laju yang berat badannya bahkan jauh dibawahnya. Apa
Sebelum dia berpikir lebih jauh, pukulan lain sudah diberikan tanpa
ancang-ancang yang baik. Pukulan itu kurang lebih hanya berlandaskan emosi,
tanpa ada tujuan di belakangnya. “Aaaarrrggggghhhh!” Teriak sang kakak sambil
berlari menuju Laju.
Melihat larinya yang ceroboh itu, Laju hanya bisa tertawa.
Dengan kondisinya yang masih prima, Laju bisa berpikir dengan jernih
bahwa ada solusi yang mudah untuk memberikan serangan balik kepada sang kakak. Setelah
menunggu waktu yang tepat, Laju memutuskan untuk bergeser berpindah tempat
sedikit untuk bisa menjulurkan kakinya pada laju lari sang kakak.
BUGH!!!
Dan betul saja, sang kakak langsung tersandung kaki Laju sampai terjatuh
dan terbanting ke atas tanah dengan memalukan.
Dengan kesempatan yang sangat terbuka lebar tersebut, Laju langsung
menaiki punggung sang kakak untuk memberikan pukulan balasan, dan mengakhiri
pertarungan tersebut dengan menargetkan tengkuk sang kakak.
BUK!
Seketika, sang kakak langsung tak sadarkan diri.
Delphia yang melihat pertarungan telah selesai memutuskan melihat ke
kanan dan kiri untuk memastikan bahwa kondisi sudah aman. Dia melihat Laju yang
bangkit dari punggung sang kakak untuk berdiri tegak, menghembuskan napas
lelah, dan membersihkan debu-debu di bajunya. Dengan ragu-ragu, dengan takut, juga
senyum yang canggung, Delphia memberikan jempol pada Laju, seakan memuji dan
berkata kepadanya ‘kerja bagus’.
Laju tidak butuh itu. Pujian dari orang asing tidak berarti apa-apa
padanya. Dia sudah terlalu sering mendapat pujian di seluruh hidupnya. Tapi,
dia tetap kaget dan terkejut dengan jempol yang Delphia berikan.
“Heh,” Laju hanya menjawabnya dengan dengusan andalannya.
Ketika mereka berpikir bahwa semuanya sudah selesai dan kembali normal,
sehingga mereka bisa melanjutkan perjalanan mereka menuju gerbong dua untuk
mencari informasi. Di atas muatan yang barusan dibawa oleh sang kakak, terlihat
seorang wanita yang sedang bermain-main, menyentuh, dan menjamah keenam orang
yang tidak sadarkan diri tersebut.
“Hng?” Laju heran. Sejak kapan wanita tersebut berada di depannya?
Bajunya terlihat sangat formal karena menggunakan jas. Apakah wanita
tersebut berasal dari pemerintahan? Apakah dia adalah bagian dari tim evakuasi?
Laju melihat sekeliling. Harusnya tim evakuasi tidak datang sendirian, kan?
Kemana yang lainnya?
“Kamu hebat juga, dik. Terima kasih ya sudah mengurusi penjahat-penjahat
__ADS_1
ini,” ucap wanita tersebut, dengan suara yang indah, dan senyum yang lebar.
Laju ber-oh sebentar. Entah kenapa, pujian dari sang wanita terdengar
berbeda dari kebanyakan pujian orang-orang pada umumnya. Lebih terasa tulus, lebih
menyentuh hati terdalam Laju dengan lembut. Laju pun tersenyum.
“Heh! Itu mudah saja. Saya memang punya banyak kelebihan dari orang
biasa,” ucap Laju dengan sombong, berbusung dada, memamerkan kehebatannya.
“Oh, iya? Hebat juga kamu, dik! Memangnya seberapa banyak kelebihanmu
itu?” Tanya sang wanita, sambil memajukan badannya, terlihat penasaran.
“Haha! Saya itu manusia spesial! Kalau masalah refleks sih buk-” belum
sempat Laju menyelesaikan ucapannya, sudah terlihat serangan dari sang wanita.
SYUT!
Lebih cepat dan gesit dari sang kakak, pukulan sang wanita lebih
terkesan menikam dengan runcing daripada menghantam dengan kuat seperti sang
kakak. Tapi, seperti yang baru saja Laju bilang, refleksnya tidak main-main. Karena
memiliki pola serangan yang serupa dengan sang kakak, serangan wanita yang
meluncur ini bisa Laju hindari dengan mudah.
Tapi, yang tidak diketahui Laju adalah bahwa ketika dirinya sedang berusaha
untuk memiringkan tubuhnya, ketika dia sedang berusaha menghindari serangan yang
meluncur dengan cepat tersebut. Ada suara aneh, ada aura aneh, ada perasaan
aneh yang tepat berada di depan tubuh dan mukanya.
ITU PUKULAN SANG WANITA!
Apa yang terjadi? Bukankah pukulannya baru saja Laju hindari?
BUGH!
Beruntung, pukulan yang diluncurkan sang wanita tidak setajam yang Laju
kira, meskipun ada perasaan kejut yang aneh seperti baru saja disengat listrik.
Pukulan ini kurang lebih hanya pukulan biasa dan normal tanpa ada niatan untuk
menikam atau menghancurkan organ dalam dari sang musuh.
MESKIPUN BEGITU, LAJU TETAP SAJA TERPENTAL!!!
Kekuatan yang wanita berikan itu hampir saja mematahkan tulang hidung
Laju, juga tengkorak Laju. Dia sebenarnya bisa merasakan retakan, tapi
entahlah. Apakah tulang-tulang tersebut benar patah atau tidak, Laju tidak
ambil pusing.
Pentalan tersebut menyeret Laju lebih jauh dari posisi sang kakak yang
sudah tersungkur, bahkan lebih jauh dari posisi Delphia yang sedang bersembunyi
tadi.
Delphia panik. Dia terkejut, dia kaget. Laju baru saja terpental jauh akibat
pukulan sang wanita yang dikira Laju bagian dari tim evakuasi yang akan
menyelamatkan mereka dari bencana ledakan kereta ini.
“APA YANG KAKAK LAKUKAN!? BUKANKAH KAKAK HARUSNYA MENYELAMATKAN KITA!?
DIMANA TIM EVAKUASINYA, SIH?” Teriak Laju yang langsung bangun, sambil
mengerang, dengan hidung yang berdarah, mimsan. “ARRKKH!”
Wanita tersebut rupanya masih tersenyum. Ketika mendengar keluhan Laju,
dia perlahan mendekatinya dengan senyum yang justru malah mengerikan. Laju yang
baru separuh bangun belum siap untuk melawan balik. Dia hanya perlahan mundur,
berusaha menjaga jarak dengan sang wanita.
“Loh? Siapa yang bilang bahwa saya akan menyelamatkan kalian?” Tanya
sang wanita sambil membungkuk pada Laju, sekaligus praktis membuat Delphia langsung
gemetaran ketakutan, juga terjatuh berusaha melindungi diri.
Sementara itu, Laju hanya berusaha menguatkan dan mengeratkan genggaman
tangannya saja, bersiap pada skenario terburuknya.
Wanita tersebut sekarang berdiri dan mengambil pistol dari balik jasnya
yang diarahkan kepada Laju. Meskipun kehidupan Bos Alex dan kelompoknya
sangatlah berbahaya, rasanya ditodongkan pistol seperti ini tetap memberikan perasaan
campur aduk yang aneh. Tentu saja Laju ketakutan, tapi ada juga rasa girang
yang membuatnya menggertakkan gignya, tersenyum menghadapi sang wanita.
DOR!!
Peluru ditembakkan tanpa basa-basi, tanpa pandang bulu.
Laju sebenarnya masih bisa membuka matanya, berusaha untuk mengelak, dan
menghindari tembakan tersebut. Kemarin saja dia bisa menghindari pisau yang dilempar
kepadanya dengan cepat. Harusnya itu tidak ada bedanya dengan pistol ini, kan?
Tapi rupanya Laju tidak perlu melakukannya.
“Hahaha!” Tawa sang wanita dengen menjengkelkan. “Maaf, maaf! Aku hanya
usil saja. Tapi, tekad kamu boleh juga dik,” ucap sang wanita setelahnya, sembari
menyimpan pistol ke dalam sakunya. Peluru tersebut ternyata hanya ditembakkan
pada tanah. Tapi, dengan akurasi yang sangat baik, peluru tersebut berhasil
mengikis sedikit pipi Laju.
“Tapi, yang lebih membuat saya takjub adalah gadis kecil ini,” lanjut
sang wanita kembali membungkuk, mendekati Delphia.
DINGIN!!
Tunggu, sejak kapan!?
Laju menoleh perlahan. Gadis di sampingnya yang berusaha melindunginya
ini sekarang sudah berubah. Berubah menjadi mata berliannya, dengan rambut
sutra putihnya, dengan tangannya yang diliputi es, juga tanah di sekitarnya,
membuat udara dan suhu sekitar menjadi sangat dingin.
Wanita tersebut mendekati Delphia. Dia menatap dengan penasaran es yang
berada di sekitarnya, dilanjut dengan sekujur tubuhnya, mukanya, lalu mata
berliannya.
“Tuan Putri,” Ucap sang wanita sambil menunduk hormat kepada Delphia.
__ADS_1
“Maukah tua-… kalian ikut bersamaku?” Tanyanya kemudian.