Pencurian Masa Depan

Pencurian Masa Depan
Bab 30


__ADS_3

Tidak banyak yang bisa Laju ingat setelah kepalanya pusing dan pengelihatannya yang hitam. Kecuali, aroma yang sangat nikmat dan menyenangkan, yang membuat seluruh tubuhnya tidak berdaya, jatuh begitu saja, membuat kesadarannya perlahan menghilang.


Sebelum semuanya menjadi jelas, dia lebih dahulu melihat langit-langit dengan cahaya yang sangat terang, beralaskan kasur dan bantal yang sangat empuk di punggungnya.


Mungkin, kepalanya masih sedikit pusing di beberapa titik. Tapi, itu tidak menghentikannya untuk bangun dan melihat keadaan sekitar untuk bertanya dimana gerangan dia berada. Dan, yang bisa dia simpulkan adalah ruangan ini jelas-jelas berbeda dengan ruangan kerja sang Nenek Vignette yang dia kunjungi sebelumnya.


Ruangan ini adalah definisi dari ruang perawatan pasien sesungguhnya, dimana tidak ada meja kerja atau komputer yang bekerja, kecuali kasur pasien, sofa, meja kecil, dan sebuah televisi yang menyala.


Ya, ini memang ruangan perawatan. Hanya saja, sedikit lebih mewah dan eksklusif jika dibandingkan dengan ruang perawatan biasa lainnya.


Ketika Laju berusaha untuk melirik ke kanan kiri, berusaha mencari sisa-sisa kehidupan yang bisa ditanya tentang apa yang sebetulnya terjadi padanya, tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan tersebut kecuali suara televisi yang menyedihkan.


“Oh, sudah sadar?” tanya sebuah siluet yang muncul seenaknya dan duduk bersandar di sofa, membawa kotak makanan, dan menonton televisi.


Itu Audy.


“Tenang saja, semuanya baik-baik saja. Kamu bisa beristirahat lagi jika perlu,” ucapnya tidak peduli sambil memakan camilan di tangannnya.


Laju yang masih berusaha mengembalikan kesadarannya belum siap untuk bertutur kata menjawab apapun yang Audy katakan. Dia hanya berusaha meminum segelas air mineral di sampingnya, berharap dirinya bisa segar dengan tegukan-tegukan tersebut.


Tapi, ketika dia berusaha menggapai gelas tersebut, dia menyadari dirinya telah disuntik infus yang praktis mengagetkannya. Sontak, traumanya perlahan menghantuinya lagi, sampai dia sadari bahwa tidak ada rasa sakit apapun pada tangan yang diinfus. Laju hanya melebih-lebihkannya saja?


Nit Nit!


Beberapa saat setelahnya, muncul suara seperti alarm yang berasal dari sofa tempat Audy duduk sedang menonton televisi. Audy langsung bergerak melakukan sesuatu yang tidak bisa begitu Laju ikuti.


Yang bisa dia lihat dengan jelas adalah bagaimana Audy mengganti saluran televisi untuk menampilkan banyak layar kecil yang menjelaskan siaran tersebut merupakan hasil transimisi dari kamera pengawas.


Dan di salah satu layar yang kemudian dibesarkan oleh Audy, terlihat sebuah tabung besar seperti CT scan yang mengeluarkan asap, juga seorang gadis yang perlahan ditarik keluar oleh para perawat.


“Dia sudah selesai? Bagaimana kondisinya?” Audy bertanya pada telepon.


“Sebenarnya masih dalam kontrol dan stabil. Tapi, mungkin gadis ini memiliki masa lalu yang membuat kekuatannya meledak begitu saja. Di tengah proses, gadis ini membuat pertahanan pada organ tubuhnya dengan tiba-tiba, seperti salah satu upaya perlindugngan dirinya. Dia sedang tidak sadarkan diri, loh?”


“Hahaha! Nenek tua itu akhirnya kerepotan?”


“Tidak. Tenang saja, semuanya masih normal. Dia hanya mimisan saja.”


Laju berusaha untuk mengikuti perbincangan yang dilakukan oleh Audy. Tapi, karena kondisinya yang masih lemah tak bertenaga, dia tidak bisa begitu paham tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Kecuali, ketika dia mulai merasa khawatir karena pandangannya yang semakin jelas, yang bisa melihat televisi di depannya yang sedang menunjukkan kumpulan perawat sedang melakukan sesuatu terhadap gadis yang dia kenali betul.


Laju pikir rasa khawatirnya sia-sia saja. Tapi, semuanya menjadi lebih gawat ketika kemudian dia bisa melihat separuh tangan gadis yang sedang ditarik keluar itu ternyata Delphia, yang sudah membeku berwarna menjadi perak biru, juga rambutnya yang sempurna berubah menjadi warna putih.


Apa yang sebenarnya orang-orang ini lakukan kepada mereka?


Apakah Laju juga mendapatkan perlakuan seperti itu? Masuk ke dalam sebuah tabung besar aneh dan menyiksanya?


Meskipun sebenarnya para perawat yang mengeluarkan Delphia betul-betul mengurusi dan membersihkannya dengan penuh perhatian dan hati-hati, Laju memilih untuk menolak fakta tersebut, karena pikiran dan memorinya yang masih amburadul.


Tapi, kekhawatirannya itu tidak membuahkan apapun.


Laju malah merasakan sesuatu yang aneh, terutama setelah dia teguk lagi air mineral di sampingnya. Apa yang terjadi?

__ADS_1


Entahlah. Kepalanya sedikit berputar, matanya pun kembali berat.


Dari awal, dia memang tidak dalam kondisi yang bugar untuk bergerak kesana kemari. Dia hanya kebetulan terbangun dan melakukan berbagai aktivitas lain secara tidak sengaja, hanya atas dasar instingnya saja.


Padahal, Laju sedang khawatir dan heran terhadap banyak hal.


Dia harus tetap terjaga, untuk menjawab permasalahan dari pikirannya tersebut. Tapi, itu semua sia-sia. Pengelihatannya perlahan memudar, begitu juga kesadarannya.


Laju kembali tertidur.


***


Baru setelah kurun waktu beberapa jam setelahnya, Laju benar-benar bisa bangun dengan kondisi yang segar bugar.


Meskipun beberapa hal masih seperti sebelumnya, dimana dia terbaring di ruang perawatan yang cukup mewah, dan Audy yang masih menonton televisi dengan santai.


Tidak. Semuanya tidak lagi seperti itu. Televisi memang masih menyala dan seseorang terlihat sedang menontonnya. Tapi, itu bukanlah Audy. Audy memang masih berada di sofa, tapi dia sedang beristirahat tidur dan mendengkur di atas pangkuan seorang gadis lain yang sedang memberikan elusan di kepalanya.


Itu Delphia.


Kedua gadis itu sedang bersantai menonton televisi dengan santai seperti sebelumnya tidak terjadi apapun.


Laju pun melangkah perlahan mendekati mereka, sembari berusaha menyeimbangkan badan dan pikirannya yang masih campur aduk.


“Ngh-h?!” Delphia yang menyadari kehadiran Laju pun langsung menoleh, menyambut kehadirannya, berusaha membantunya.


Tapi, begitu Audy menyadari elusannya berhenti, dia malah meraung protes. Delphia pun memutuskan untuk kembali duduk berusaha untuk tidak membangunkan gadis kucing ini. Karenanya, Delphia terpaksa untuk menyambut Laju dengan lambaian tangan dan senyum manisnya saja.


Laju berusaha bertanya, sambil berusaha mengatur pertanyaan yang ingin ditanyakannya. Tidak menunggu jawaban yang tidak akan muncul dari mulut Delphia, dia ikut duduk di sofa, menyandarkan diri, masih kebingungan pada keberadaan Delphia yang asing baginya. Lalu, dia putuskan saja untuk meminum segelas air yang entahlah punya siapa.


Delphia hanya memiringkan kepalanya saja, merasa heran dengan pertanyaan Laju yang tidak dipahaminya. Delphia heran Laju bertanya apa, pun Laju yang heran dengan semua kegilaan ini yang terjadi pada mereka lagi.


“Urrrkhhhh-ngghhh!”


Dan keheningan yang canggung tersebut dipecah oleh erangan Audy yang baru saja bangun. Tapi, keduanya tahu bahwa bangunnya Audy lebih seperti kekesalan karena elusan Delphia yang berhenti.


“Tenang saja, tidak ada yang spesial yang terjadi. Kalian hanya dibantu dengan sebuah alat untuk melonggarkan dan melancarkan organ-organ tubuh kalian, otot kalian, untuk membuat kekuatan kalian lebih bisa dimaksimalkan dengan mudah,” jelas Audy sambil menggeliat.


“Mungkin, tadi pagi kamu masih kebingungan. Tapi, Delphia memang keluar dari alat tersebut sambil mimisan. Tapi, tenang saja karena tidak ada yang serius yang terjadi. Buktinya, gadis ini masih bisa tenang seperti ini, kan?” Tambah Audy.


Berikutnya, Audy menjelaskan dengan singkat apa yang sebenarnya terjadi selama Laju hilang kesadaran sejak di ruang kerja sang Nenek Vignette kemarin. Laju diambil darahnya untuk diperiksa dan memastikan apa yang harus sang nenek kerjakan untuk melonggarkan organ tubuh, juga kepada Delphia. Setelahnya, kalian dipindahkan ke ruangan khusus tabung tersebut untuk melakukan pengecekan dan konfigurasi lainnya, hingga proses pelonggaran organ itu sendiri.


Sembari Audy menjelaskan, seorang perawat masuk memberikan makan siang yang dibawanya dengan troli.


Dengan energi dan tenaga yang perlahan kembali mengisi tubuh Laju, dia pun kembali kedalam kondisi bugarnya untuk lebih lanjut menyimak penjelasan Audy tentang semua yang terjadi, juga rencana kedepannya.


“Pokoknya, kita kesini untuk membuat tubuh kalian lebih familiar dengan kekuatan-kekuatan kalian sendiri. Nanti, Parker mungkin bisa mengajak kalian untuk latihan bersama atau semacamnya. Tubuhmu terasa semakin ringan kan, Ju?”


Laju tidak bisa begitu merasakannya. Dia hanya merasa sangat lapar, juga sangat haus. Beruntung, dia bisa memakan dengan lahap dan nikmat makanan yang diberikan dari rumah sakit ini.


Lalu, setelah penjelasan Audy selesai, mereka pun memutuskan untuk langsung pulang dan kembali menemui Parker, melaporkan semua yang terjadi di rumah sakit ini.

__ADS_1


Dimulai dari pamitan kepada Nenek Vignette yang masih membuat Delphia tidak nyaman – apalagi karena tindakan berlebihan sang nenek yang tidak rela melepas tuan putrinya, lalu turun ke lantai bawah dan melaporkan sesuatu tentang administrasi kepada petugas wanita di meja depan, sampai pada akhirnya mereka keluar dari rumah sakit, siap kembali ke terminal.


Berbicara pertanyaan Audy tadi tentang badan Laju yang lebih ringan. Mungkin, memang ada suatu hal yang berbeda darinya. Salah satunya adalah bagaimana dia bisa berjalan dengan lebih mudah, hingga bisa mengikuti dan mengimbangi kecepatan Audy yang dari kemarin selalu mendahuluinya dan merepotkannya.


Laju tidak bisa begitu mengerti apa yang sebetulnya terjadi pada tubuhnya. Tapi, sembari melihat kedua tangannya, dia tersenyum bahagia.


Tapi, yang harus Laju ketahui adalah bahwa dia seharusnya berjalan dengan fokus, melihat lurus ke depan, bukannya menunduk menyengir sendiri seperti orang gila.


Dug.


Laju menabrak seseorang di depannya yang juga sedang berjalan ke arah berlawanan.


“Oh…?”


Kedua belah pihak awalnya siap untuk bertengkar, sampai mereka saling menatap satu sama lain, menyadari siapa yang sedang ditabraknya ini.


Laju baru saja menabrak Adrian!


“Eh…Ah, Adr-Adrian!?”


“Eh? Laju? Kamu disini?”


“Eh-aah, eheh i-iya nih…”


“Hahaha! Rupanaya rencanamu untuk ikut-ikutan masuk ke kota terlarang betulan terjadi, ya. Tidak sia-sia kita banyak berdiskusi di kediaman Bos Alex. Kalau kita pulang dan melaporkan ini semua kepadanya, dia bisa-bisa ngompol!” Adrian langsung merangkul Laju yang masih gelagapan bingung harus apa.


“Eh, iya ya. Hahaha!”


“Kenapa? Loh? Aku pikir-pikir sifatmu sedikit berubah, ya? Apa yang terjadi?”


“Yah banyak, lah. Haha! Oh, ya… aku ingin–”


Ketika Laju ingin memulai banyak nostalgia bersama Adrian, kenalannya, temannya yang begitu dihormatinya. Seseorang menyela memanggil Adrian. Mungkin, waktu ini pun masih belum tepat untuk mereka banyak mengobrol.


“Adrian! Kita tidak bisa berlama-lama! Banyak yang menunggu!” teriak temannya dari kejauhan, menyadari Adrian terhambat oleh seorang bocah asing.


“Ah, ya! Aku datang!” Jawab Adrian. “Mungkin kita bisa mengobrol banyak nanti lagi. Nih! Kalau kamu ingin bertemu, datang saja kesini. Itu tempatku disini,” sebut Adrian sambil memberikan sebuah kartu nama dengan sejuta informasi yang bisa Laju gunakan.


“Eh? Iya, terima kasih!”


“Terima kasih!? Kamu betulan berterima kasih? Hahahah! Yasudahlah, kita bisa banyak mengobrol nanti lagi. Aku duluan, ya?” Ucap Adrian yang terheran-heran sambil meninggalkan Laju yang berdiri diam kegirangan.


Sambil menatap kartu nama bertuliskan ‘Adrian’ di atasnya, Laju hanya bisa gemetaran tidak menyangka bahwa hari ini akan datang juga. Hari dimana dia bisa mengobati rasa rindunya, setelah lama terperangkap di kota yang begitu asing tanpa satu kenalan pun.


Audy yang menyadari langkah Laju yang terhenti hanya memanggilnya tidak peduli terhadap apa yang baru saja Laju lalui. Kecuali Delphia, yang memberikan ekspresi cemas dan khawatirnya kepada Laju yang girang sembari lanjut berjalan mengikuti Audy.


Sebenarnya, langkah Delphia masih bisa menyamai keduanya.


Tapi, pikirannya sedang terbang kesana kemari diliputi banyak hal. Terutama, tentang kegelisahan tentang pertemuan Laju dan Adrian barusan, seakan dia baru saja melihat masa depan tentang mereka berdua.


Dan Delphia tahu, dia tidak menyukai perasaan gelisahnya ini.

__ADS_1


__ADS_2